Chapter 4. Jika Hampa Terucap

Ditolak.

Itu jawaban Ki-In terkait dengan surat pengunduran dirinya, dan sungguh emosi Akira naik ke ubun-ubun mendengarnya. Sudah jelas Shindou ada andil dalam hal ini, entah bagaimana, karena apa sesungguhnya hak Ki-In untuk menolaknya?

"Maaf Touya-sensei, uhm, maksud saya Fujisaki-sensei. Anda belum sepuluh tahun menjadi pro, jadi kami tidak bisa meluluskan permintaan Anda."

"Saya tidak melihat ada pasal mengenai batas minimal rentang waktu bekerja dalam kontrak yang saya tanda tangani," tukas Akira, dipersenjatai dengan lembar-lembar kontrak di tangannya. Berbeda dengan para pro lain—Shindou, contohnya—ia sudah terlebih dahulu mempelajari kontrak itu sebelum menandatanganinya. Dihadapkan pada rencana pengunduran diri, ia menghabiskan waktu dua hari mempelajarinya ulang sekadar untuk berjaga-jaga.

"Ini adalah kebijakan baru, terkait dengan asuransi dan uang pensiun."

Kebijakan baru macam apa, kalau tidak disosialisasikan pada para anggota lama? Sungguh Akira ingin menuntut balik, menunjukkan beberapa pasal hukum ketenagakerjaan jika perlu, tapi untungnya ia bisa menahan diri. Hanya agar permainan ini cepat selesai, ia tak peduli jika ia harus kehilangan beberapa moku.

"Saya sudah mengatakan, tidak masalah jika uang pensiun saya tidak dibayar penuh."

"Mohon maaf sekali lagi, Fujisaki-sensei, tapi ini adalah keputusan final dari pihak manajerial. Di luar hal itu, sebenarnya kami sangat menyayangkan jika Anda harus keluar. Jepang masih sangat membutuhkan Anda..."

Alasan tidak jelas macam apa itu? Tapi Akira sedang malas berdebat di sini, ketika ia tahu pasti siapa dalang di balik penolakan Ki-In. Ini saatnya menempuh jalan lain.

"Kalau begitu, bisa saya meminta nomor Shindou Meijin?"

"Eh?" terdengar suara kaget di ujung sana, tampaknya sama sekali tak menduga arah pembicaraan ini. "Uh, maaf, Fujisaki-sensei, tapi nomor telepon anggota Ki-In bersifat rahasia, kami tak bisa memberikannya pada siapapun."

Siapapun kecuali Shindou, maksudnya?

"Saya mohon. Um, Shindou Meijin meninggalkan sesuatu sewaktu berkunjung ke sini kemarin lusa. Sayangnya, saya tidak tahu nomor beliau, jadi..."

Pihak sana tidak langsung menjawab, tapi ada sedikit suara berkeresak yang jujur saja membuat Akira curiga sebenarnya ada Shindou di sisi sana, menguping dan mengatur jalannya pembicaraan. Ia bisa merasakan urat-urat bermunculan di dahinya, tapi ia menarik napas panjang diam-diam.

"Um, baik...," akhirnya terdengar jawaban, disusul rangkaian angka yang terlantun dari ujung sana. Akira lekas mencatat, dan setelah menutup sambungan telepon dengan Ki-In, tak membuang waktu untuk menelepon Shindou.

"Fujisaki!" terdengar sapaan riang dari ujung sana. "Tumben menelepon. Ada apa?"

Ah, baru Akira ingat bahwa Shindou mengetahui nomornya. Bodoh benar, ia sama sekali lupa Shindou pernah meneleponnya, dan kemungkinan besar memang menyimpan kontaknya. Ia begitu kesal dengan Shindou, sehingga waktu ia menelepon tempo lalu, jangan kata menyimpan nomornya di kontak, ia bahkan menghapus nomor itu.

Yang artinya jebakannya untuk mengkonfirmasi keberadaan Shindou di Ki-In gagal. Tidak masalah.

"Kau pasti tahu kenapa aku menelepon," katanya dingin.

"Tidak juga," orang itu menghindar tanpa tahu malu. "Ada apa ya?"

Bukan Akira namanya kalau ia sampai merendahkan diri dengan mengatakan alasan yang sudah pasti Shindou tahu. "Tidak masalah kalau kau merasa tak ada apa-apa. Kututup."

"Aaaaaa, jangan, jangan...," ia terdengar panik. Ha, ini terlalu mudah. "Ummmm... Iya, iya... Baik, baik..." ia kedengaran bicara sendiri dengan batas jeda antarkata walau Akira tidak bicara apa-apa. Sudah jelas, ada seseorang bersamanya. Dugaan Akira bisa dibilang 90% terbukti. "Um, bagaimana kalau kau yang datang ke sini?" katanya akhirnya.

"Tidak ada urusan aku mau ke tempatmu," jawab Akira.

"Ah, kalau begitu aku yang ke tempatmu, ya?" ia terdengar berharap.

"Biaya dry cleaning karpet mahal. Aku tidak mau kau menginjakkan kaki kotormu di apartemenku," jawabnya. Ia bisa mendengar keluhan Shindou yang mengatainya kejam di ujung sana, tapi ia sungguh tak peduli. "Restoran Mi Pasta di Chiyoda, jam 1 siang ini. Jika kau telat sepuluh menit atau berani-beraninya tidak datang, aku akan bilang pada pers kalau kau punya anak dari salah satu mantanmu."

"Touya!" saking terperangahnya bahwa ia bisa membuat langkah licik seperti itu, Shindou sampai lupa bagaimana seharusnya ia memanggilnya. "Kau takkan melakukan cara serendah itu!"

"Oh, kata siapa? Aku sudah bukan Touya yang kaukenal. Bukannya kau sendiri yang bilang begitu, dua setengah tahun lalu?"

"Ta-tapi... Ka-kau juga tidak kenal mantan-mantanku! I-iya kan?" Kata terakhir dengan lantang menyatakan insekuritasnya.

"Aku punya caraku sendiri," lantun Akira seraya memperhatikan kuku-kukunya, berusaha mengeluarkan serpihan kulit wortel yang menyempil di sana. "Serius, dengan banyaknya mantanmu, aku yakin setidaknya sekali saja kau pernah selip. Aku yakin pasti ada saksi yang pernah melihatmu masuk klinik dokter kandungan—atau lebih parah: klinik aborsi. Tidak pun, pasti ada saja cewek yang sakit hati padamu. Tidak sulit sama sekali mencari hal yang bisa dieksploitasi. Ah, aku tahu. Apa kau yakin kau atau salah satu dari mantan-mantanmu tidak pernah membuat rekaman atau foto adegan panas, Shindou? Aku punya teman hacker, lho. Bagaimana menurutmu soal karir baru sebagai sensasi internet?"

"Oke, oke, aku mengerti!" ia menyerah. "Uhm, daripada restoran, bagaimana kalau kita ketemu di salon go? Aku ingin main denganmu, rasanya sudah lama sekali..."

"Belum sampai seminggu kan?"

"Iya, tapi itu seperti setahun... Sumpah aku benar-benar kangen..."

"Supaya kau bisa mempermalukanku lagi di depan publik? Kurasa tidak, Shindou!"

"Tidak! Jangan curiga begitu, dong, Fujisaki... Aku ini benar-benar tulus ingin berbaikan, tahu! Eh, kau tahu tidak? Aku, Waya, dan Isumi join membuka salon go dengan konsep baru... Mau, ya?"

Salon go dengan konsep baru? Huh, tahu Shindou, paling-paling dia menggabungkan salon go dengan pub atau malah kafe yang menjurus ke prostitusi. Entah bagaimana, hal itu membuat darah Akira mendidih.

"Aku tidak mau datang ke daerah lampu merah!" geramnya.

"Kok lampu merah? Jahat betul! Salonku tempat terhormat, kok. Banyak anak insei yang main di sana, jadi lumayan ramah anak. Kau bahkan bisa membawa Hikari, di bawah ada kafe dan tempat penitipan bayi, lho. Dari tempatmu mungkin sekitar duapuluh menit?"

Shindou bisa sangat keras kepala jika ada maunya, dan Akira sudah tak ingin memperpanjang perdebatan. Mendengar suara Shindou yang sama sekali tidak tahu diri sungguh membuatnya ingin menonjok sesuatu. Mungkin aura membunuhnya menguar menembus dinding, karena dari kamar, ia mendengar Hikari terbangun.

"Oke, jam 1," katanya. "Kalau kau berusaha mempermalukanku lagi, aku akan langsung bicara pada pers, tak peduli itu benar atau tidak."

"Iya, iya... Ya ampun...," di sisi sana, Shindou mendesah. "Kukirim alamatnya ke nomormu, ya? Sampai ketemu, Fujisaki!" salamnya ceria.

Tak hendak menjawab, Akira menutup telepon dan bergegas ke kamar untuk mengangkat Hikari. Sekarang sudah jam 10.30. Dua setengah jam lagi sebelum ia membuat perhitungan dengan si setan bermuka dua itu. Sebaiknya ia segera bersiap-siap.

.


.

Salon go yang ia sebutkan berada di pusat kota, tak begitu jauh dari Ki-In, dan yang jelas jauh dari kawasan lampu merah. Kelihatannya salon itu belum lama buka, terlihat dari masih ditempelnya spanduk besar promosi tiket masuk 50% yang terpampang di pintu masuk. Seperti juga kebanyakan salon go yang pernah ia dan Shindou datangi (termasuk salon ayahnya), salon itu menempati salah satu lantai dari bangunan ruko yang menjamur. Dan benar kata Shindou: di lantai bawah memang ada kafe kecil dan tempat penitipan anak.

Biaya penitipan di sana lumayan terjangkau. Entah karena kasihan melihat ada ayah muda membawa anak siang-siang, atau memang sedang jam promosi, Akira mendapat diskon 25%, jadi ia menitipkan Hikari di sana dengan janji akan kembali barang sejam lagi. Shindou memang bilang salon go-nya ramah anak, tapi siapa yang tahu apa yang ia definisikan sebagai 'ramah anak', secara masa kecilnya dihabiskan melompat dari salon ke salon yang terbilang kurang bermartabat. Pertama kali Akira mengikuti Shindou ke salon go, ia batuk-batuk dengan pekatnya asap rokok, dan Shindou bilang itu sudah biasa.

Namun kali ini Shindou memang tidak berbohong. Begitu masuk ke ruangan dengan plang super-norak "Go! Go! Igo!"—nama macam apa itu?—ia langsung disuguhi pemandangan yang jarang ia temukan di salon go manapun. Berhubung sudah empat hari setelah Natal, ruangan itu tidak dibanjiri oleh warna merah-hijau seperti yang ia lihat di apartemen Shindou. Masih ada sebatang pohon di pojok, polos tanpa hiasan, entah Shindou masih belum menyingkirkannya atau memutuskan pohon itu cocok menjadi dekorasi permanen di salonnya. Tapi bahkan tanpa nuansa Natal, ruangan itu sudah terlihat sangat mencolok dalam interior bergaya Pop Art. Meski keseluruhan dekorasi mengambil tema go—ia bisa melihat elemen estetis berupa susunan formasi batu hitam dan putih di dinding yang jelas-jelas diambil dari pertandingan Shuusaku—ia juga bisa melihat sentuhan warna-warni yang bertabrakan dalam bentuk-bentuk geometris menghiasi berbagai sudut ruangan, mulai dari pilar, kap lampu, konter resepsionis di pintu masuk (yang tak ada penjaganya), hingga kursi.

Hanya ada satu kata untuk menggambarkan semuanya: norak. Paling tidak, mungkin itu merepresentasikan Shindou. Bahkan Akira, yang di masa remajanya selalu dibilang buta warna, pun tak pernah memilih paduan warna seperti itu.

Ditambah, desain interior seperti ini dipakai untuk sebuah salon go?

Ruangan itu tak bisa dibilang sepi, dan tak juga bisa dibilang ramai. Seperti kesan yang ia dapat dari nama dan dekorasi ruangan, sepertinya memang Shindou menjadikan anak-anak sebagai target pasarnya. Terlihat beberapa bocah usia belasan—atau mungkin kurang—tengah mengisi meja-meja yang tersedia. Kelihatannya mereka insei—atau murid Shindou, karena makhluk itu ada di antara mereka, tengah menjelaskan sesuatu sembari menunjuk-nunjuk beberapa titik di goban dengan kipasnya.

Shindou tampaknya menyadari kedatangannya, karena ia mengangkat kepalanya dari goban dan melambai pada Akira. Melihat Akira tak membalas, ia lekas menggeser kursinya dan menghampiri Akira dengan tangan terkembang.

"Fujisaki! Aku sudah menunggumu!" serunya ceria, dengan sok akrab merangkul bahu Akira dan mengajaknya masuk. Ia bahkan tak peduli ketika Akira menunjukkan roman terganggu dan berusaha melepaskan tangan Shindou dari bahunya. "Omong-omong, mana Hika-chan?"

"Di bawah," jawab Akira pendek.

Detik itu Akira tahu alasan Shindou si licik itu mengajaknya bertemu di salonnya. Bukan masalah ia ingin privasi, sebaliknya bahkan. Di situ ada begitu banyak murid Shindou, yang kelihatannya di bawah umur pula. Meski hari ini Senin, anak-anak ini tengah dalam masa liburan akhir tahun, jadi wajar mereka malah berkumpul di sini, pikir Akira muram. Tentunya itu adalah strategi Shindou untuk mengantisipasi tindakan ekstrem apapun yang mungkin dilakukan Akira. Dengan banyaknya saksi mata tak bersalah seperti ini, jangan kata membunuhnya, bahkan Akira pun takkan punya kesempatan bertengkar dengannya.

Murid-murid sang Meijin langsung ribut begitu mendengar Shindou menyebut namanya. Tentu saja, siapa yang tak pernah mendengar legenda mengenai sang malaikat go yang terpotong sayapnya dan terjerembap ke bumi? Akira yakin di titik ini, ia sudah jadi studi kasus contoh buruk gaya hidup go-pro muda dalam wejangan yang dilantunkan setiap orangtua dan guru go yang hendak melepas anak atau muridnya memasuki dunia profesional.

"Sebagian besar go-pro yunior memang ABG dan masih sangat labil, tapi kau harus fokus pada go dan jangan sampai terjebak pergaulan bebas. Jangan sampai kau jadi seperti Touya Akira."

"Bagaimana salonku?" tanya Shindou, berputar seolah mempersembahkan seluruh isi ruangan. "Keren kan?"

Akira ingin bilang, "Norak!" tapi ia hanya menjawab, "Tidak tahu apa yang membuatmu berpikir konsep Kitsch begini cocok diterapkan untuk salon go."

"Kitsch? Ini gaya Memphis Design, tahu! Postmodern! Postmodern!"

Dalam hati Akira mendesah. Apa pula yang Shindou tahu mengenai Postmodern? Lagipula ini sudah tahun 2007. Apa selera Shindou entah bagaimana masih terjebak di tahun 60-an?

"Aku ingat dulu ibuku selalu khawatir setiap aku pergi ke salon go, karena pulangnya aku bau rokok. Ia pikir aku nongkrong sama geng berandalan," Shindou tertawa, sedikit menggaruk pipinya. "Makanya aku bikin salon go dengan sasaran anak-anak hingga dewasa muda. Tidak boleh merokok di sini, kami juga tidak jual minuman keras. Supaya seru, kami buat konsep one-stop service. Di lantai bawah ada kafe, di lantai ini ada salon go dan perpustakaan, " ia menunjuk satu pojok yang dipenuhi deretan rak buku—kemungkinan besar kifu, tapi tahu Shindou, bukan tak mungkin di sana juga ada manga. Ruang kosong di hadapannya dihampari karpet tebal, lengkap dengan bantal warna-warni.

"Bahkan di lantai atas ada kafe internet dan game konsol lengkap dengan soundproof, lho!" sambungnya. "Kau tahu, Yang Hai mengembangkan game konsol go berbasis RPG. Seru lho, anak-anak yang tidak suka main go juga suka mampir untuk main. Sekarang masih terbatas, tapi nanti rencananya mau dikembangkan jadi game online, supaya bisa dimainkan di mana saja," ia pamer dengan bangga.

Sebenarnya Shindou ini mengelola salon go atau TK, sih?

Ah, tapi patut diakui, ide itu lumayan, setidaknya ia melakukan diferensiasi dari salon lain yang biasanya menyasar orang tua. Siapa sangka selain go, Shindou juga merambah bidang bisnis?

Shindou mengajaknya ke salah satu meja di pojok yang dihuni oleh satu set goban, dan tentu saja para muridnya langsung berbondong-bondong mengerumuni mereka bak ikan menyambar pakan. Dalam hati Akira mendesah. Rupanya Shindou tak merasa puas mempermalukannya di depan gengnya, kali ini ia juga ingin menghinanya di hadapan murid-muridnya?

Huh, bahkan keledai pun tak terperosok ke lubang yang sama dua kali. Tapi ia, Fujisaki Akira, ternyata lebih bodoh daripada keledai. Apa yang membuatnya termakan bujuk rayu Shindou dan mengiyakan ketika si licik itu mengganti lokasi pertemuan dari restoran ke salon go-nya?

Wajah Shindou menatapnya penuh harap, seperti juga wajah-wajah lain di sekitarnya. Disudutkan seperti itu, apalah daya Akira selain mengiyakan? Menarik kursi di hadapan Shindou, Akira memusatkan energi kemarahannya untuk menghadirkan tatapan mengancam. Awas saja kalau kau berniat mempermalukanku, ia mengalirkan ancaman itu lewat matanya, berharap entah bagaimana telepatinya sampai pada Shindou. Akan kubongkar aibmu ke seisi jagat dunia maya!

Ini mungkin bukan hari keberuntungan Akira, karena hasil nigiri menghadiahi Shindou dengan batu hitam. Ia menempatkan batu pertamanya di titik 5-5, si sinting itu. Shindou nyaris tak pernah kalah jika memegang batu hitam—ia nyaris tak pernah kalah jika memegang batu apapun—tapi bukan berarti Akira akan mundur begitu saja dari tantangan.