Divided: Hidden

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Adventure, Fantasy (Mungkin akan bertambah seiring berjalannya cerita)

Sinopsis: Sebelum semua ini terjadi, Naruto menganggap dunia ini begitu membosankan. Ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Pada malam yang merupakan takdir atau hanya kebetulan, ia mengetahui hal yang selama ini dianggap mitos belaka, adalah nyata. Dari sinilah perjalanan-pilihan dan keinginan-Naruto dimulai.

.

.

.

Chapter 2: Rekan

Aku merogoh kantung celanaku dan menemukan benda yang kucari. Kuputar kunci itu dan membawa—lebih tepatnya membopong gadis misterius ini ke dalam. Aku membawanya ke kamar tidurku lalu menidurkannya di kasur dengan hati-hati.

Sepertinya aku harus tidur di luar. Ngg

"Ugh ..."

Tiba-tiba kepalaku terasa sangat berdenyut. Mataku terasa berat. Kesadaranku perlahan-lahan menghilang.

Sebuah gerakan yang mengganggu kepala membuat kesadaranku terkumpul. Aku berusaha membuka mataku yang masih terasa berat. Berbanding terbalik dengan gerakan yang dibuatnya, tekstur lembut benda ini membuatku ingin melanjutkan perjalanan di alam mimpi.

...

Lembut?

...

Bergerak?

...

Aku membuka mataku sepenuhnya. Sepasang mata hitam menatapku dengan pipi yang memerah. Aku tersentak dan langsung menjauh. Apa semalaman ini aku tertidur d-di pahanya?!

Apakah bantal paha itu adalah sesuatu yang 'mungkin' di dunia nyata ini?!

Kepalaku terasa panas.

Aku menggosok jari jempol ke jari telunjuk untuk menghilangkan gugup lalu mendekatinya.

Tarik nafas, buang. Kumpulkan oksigen ke kepala. Aku harus mencairkan suasana terlebih dahulu.

Aku menunjuk diriku. "Na ... ru ... to." Lalu menunjukknya. "Namamu?"

Ia diam. Tak lama kemudian ia mencondongkan tubuhnya. Jari telunjuk dan tengah kanannya menyentuh dahiku. Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Dia menggumamkan sesuatu, lalu pjjar kecil cahaya keluar dari jarinya dan ia menarik tangannya.

Aku tersentak, lagi. "Ap-apa yang kau lakukan kepadaku?"

Ia memiringkan kepalanya dan tersenyum. "Aku tidak melakukan apa-apa kok."

Aku membulatkan mataku. "K-kau ... bagaimana bisa?"

Tunggu, apakah yang barusan ia lakukan adalah untuk ini? Ini sihir?

"Naruto ..." Aku tersadar dari pemikiranku. Barusan, ia memanggil namaku, 'kan? "Aku lapar."

"Eh?"

Aku keluar dari restoran cepat saji dengan menenteng beberapa plastik berisi makanan. Aku tidak pernah merasa seboros ini sebelumnya, haha.

Gadis itu, sebenarnya siapa dia?

Apakah tindakanku ini sudah benar? Apakah aku harus melindungi dan menjaganya?

Dia kan jauh lebih kuat dariku, memoriku berputar mengingat kekuatan-kekuatan di luar nalar kemarin.

Tapi, tetap saja ...

Guh ... Aku menggaruk kepala belakangku.

Tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang. Sebaiknya aku cepat kembali, dia pasti sudah sangat kelaparan.

Aku membuka pintu dengan pelan.

Gadis itu duduk dengan tenang di lantai sebelum ia menyadari kehadiranku. Ia menatapku dengan ekspresi kesal.

"Naruto, lama banget!"

A-anak ini!

Aku menghela nafas lalu menyiapkan semua makanan yang aku beli tadi di atas meja pendek. "Nih, makanlah sepuasmu." Aku duduk di seberangnya.

Matanya berbinar melihat makanan yang terhidang di meja. Aku memangku wajahku, memerhatikan ia makan dengan lahap. Haha, apa sih yang sudah kupikirkan, ternyata dia hanya gadis biasa.

Tetapi ... tetap saja, apa ia tidak kelewat santai terhadap orang yang baru ia temui?

Aku menyadari bahwa ia hanya memakai kaus hitam ketat dengan lengan yang cukup pendek. Sepertinya ia melepas rompi, ya? Pandanganku tidak sengaja turun ke dadanya. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku.

"Oh iya, aku belum tahu namamu."

Ia berhenti melahap untuk sejenak, dan kenapa eksresinya seperti orang kaget begitu? Tak lama kemudian ia tersenyum tipis sembari menutup mata.

"Sasuke, namaku Sasuke Uchiha."

"Sasuke, ya?" Namanya terdengar seperti orang Jepang. "Jadi, sebenarnya kau siapa?"

"Aku ... aku ..." Ia menggeleng kepalanya. "Siapa aku tidaklah penting, hanya saja, aku memiliki misi yang harus kuselesaikan."

Aku menatapnya dengan serius.

"Tunggu, sebelum itu, bisa kau jelaskan kekuatan apa yang gunakan itu?"

Ia menghela nafas. "Baiklah, sebagai balasan telah menyelamatkanku, akan kujelaskan semuanya dari dasar."

Jarinya membentuk gestur angka satu.

"Hal pertama yang perlu kau ketahui, sihir itu nyata."

Entah kenapa, aku tidak begitu terkejut, mungkin karena aku telah melihatnya secara langsung.

"Sihir adalah teknik pemanipulasian mana. Mana sendiri adalah energi alam yang berada di sekitar kita, dan merupakan salah satu unsur pembentuk dunia ini."

Aku memerhatikan dengan seksama penjelasannya. Aku benar-benar tertarik dengan sihir.

Sesaat aku dapat melihat bayangan di matanya.

"Dunia ini, tidaklah sedamai yang terlihat."

Apa ini, kenapa suasananya menjadi suram begini. Sesaat kemudian ia tersenyum.

"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menakutimu."

"Tenang saja, aku tidak takut kok."

Kenapa aku merasa seperti harga diriku sebagai lelaki jatuh, ya?

"Intinya, banyak orang yang menyalahgunakan sihir dan merugikan banyak orang, dan orang yang kulawan kemarin itu merupakan salah satu dari mereka."

"Hmm, begitu."

Biar kutebak pasti misinya—

"Misiku adalah menghentikan penyihir jahat yang telah mencuri suatu benda sihir berbahaya."

Sudah kuduga. Baik menghentikan Jahat, huh? Klise sekali.

"Apakah kau sendiri yang menjalankan misi ini?"

"Sebenarnya, aku tidak berasal dari dunia ini."

"..."

"..."

"Ap-Apa?!" Aku terlonjak kaget.

"Sebelum aku terlempar ke dunia ini, aku dan rekan-rekanku mengalami pertempuran dengan mereka, kami unggul dan membuat sisa-sisa dari mereka melarikan diri."

Aku tidak tau harus merespon bagaimana. Tadi sihir, sekarang dunia lain. Aku terduduk lemas dan menghela napas berat. Benar-benar banyak hal yang tidak kuduga.

"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?"

"Orang yang kemarin kulawan tidak memiliki benda sihir itu, kemungkinan ia memiliki beberapa rekan yang juga kabur ke dunia ini. Aku harus membersihkan mereka semua, dan mengambil benda sihir itu sebelum mereka berbuat sesuatu yang berbahaya."

Aku bisa merasakan bulir keringat dingin mengalir dari pelipisku. Ini tidak main-main, aku tidak bisa membayangkan berapa banyak orang yang akan menjadi korban.

"Se-sebenarnya benda sihir apa dan akan mereka gunakan untuk apa, sampai-sampai itu terlihat begitu berbahaya?"

"Namanya ... Kristal Permulaan. Sifat alami kristal itu ialah mengisap mana alam di sekitarnya, oleh karena itu, melakukan kontak fisik dengan kristal itu saja bisa membuatmu mendapat aliran mana yang tak terhingga. Akan tetapi ... bukan hal itu masalah utamanya. Dahulu, di dunia kami, ada suatu sihir kuno yang pernah membuat dunia hampir mengalami hancur. Tidak banyak yang diketahui mengenai sihir itu. Hanya saja ada satu hal yang diketahui mengenai metode pelaksanaan sihir itu. Sihir kuno yang namanya pun tidak diketahui itu, membutuhkan Kristal Permulaan sebagai salah satu syarat utamanya."

Aku menelan ludah dengan kasar.

"J-jangan bilang ..."

"Ya, jika mereka bertujuan untuk mengaktifkan sihir itu sekali lagi, aku tidak tahu bagaimana akan bagaimana nasib dunia ini."

Dadaku berdegup sangat kencang. Nafasku terasa sesak. Kepalaku terasa berputar. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat ketakutan tercetak begitu dalam.

"Dan kau berencana akan menghentikannya sendirian?"

Ia menundukkan kepalanya. "Aku tidak tahu, rekan-rekanku saja tidak jelas entah berada di mana sekarang. Tetapi yang jelas, aku mempunyai kewajiban untuk melindungi banyak orang."

Kewajiban, ya? Aku berusaha membulatkan tekadku. Kalau begitu ...

Aku berdiri seraya menatapnya dengan serius.

"Aku akan membantumu!"

Matanya melebar lalu ikut berdiri.

"Tidak, aku tidak ingin melibatkan orang asing," tolaknya dengan memalingkan muka.

"Orang asing, katamu? Kau berhutang makanan kepadaku, lho!"

Lagi-lagi ia menatapku dengan mimik kaget. Aku memberikan senyuman kepadanya.

"Oleh karena itu, biarkan aku menolongmu. Kewajiban lelaki adalah melindungi wanita, bukan?"

Ia menatapku seolah tidak percaya. Matanya berkilat. Sesaat kemudian tangannya menutup mulutnya.

"Pff ... hahaha ... hahahahahahahahaha ..."

Ia tertawa dengan lepas. Sesaat waktu seakan berhenti, aku terpana melihatnya.

Tetapi sesaat kemudian aku menyadari apa yang tengah terjadi, kepalaku terasa panas lalu menatapnya kesal.

"Ap-apa yang lucu?!"

Ia menyeka air mata diujung matanya. Apa yang lucu sih sampai-sampai tertawa seperti itu.

"M-maaf, hanya saja, aku berpikir betapa bodohnya aku berusaha menghentikan keinginan orang berkepala batu sepertimu."

Aku mengepalkan tanganku sesaat, lalu menarik nafas dalam-dalam. "Haaa ... huuuuh, sabar-sabar." Aku mengelus dadaku untuk menghilangkan kekesalan ini.

"Hei ... jangan mengatai seperti kau sudah kenal lama denganku!"

"Pff ... hahahahahahaha ..."

"Lagi-lagi kau tertawa ..."

Aku sekarang sudah yakin seratus persen, gadis ini, Sasuke, hanya manusia biasa seperti orang-orang lainnya. Karena itu, aku akan berusaha menolongnya sekuat yang aku bisa!

"Maaf-maaf, tingkahmu lucu, sih!" Ia memasang senyuman seperti sebelumnya.

Kepalaku terasa semakin panas. Aku membuang muka ke samping.

"Heii, Naruu, jangan marah dong, aku hanya bercanda."

Deg

Perasaan apa ini?

Aku merasa seperti ...

Sial

Dadaku seperti ingin meledak.

Ia berjalan mendekatiku, kemudian muncul dari arah aku membuang muka.

"E-eh, kenapa sampai menangis?"

"H-hah, apa yang kau katakan, aku tidak mena-"

Aku memegang wajahku.

Apa yang terjadi? Mengapa?

Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Perasaan apa ini. Aku benar-benar tidak dapat menahannya.

Aku kembali membuang muka ke arah berbeda.

Ia kembali muncul di depanku dan memegang kedua pipiku.

"Hei, jangan menangis dong, aku kan jadi merasa bersalah."

Senyum tipis itu ...

"Aku janji tidak akan memakan semua makanannya oke."

Benar-benar ...

"A-aku tidak peduli dengan itu, bodoh!"

Ia masih memasang senyumannya. Aku menyadari sikapnya, ia, berusaha menghiburku, 'kan?

"Kha-Hahahahahaha ... bicara apa kau, mataku hanya kemasukan debu kok, jangan khawatir!"

Aku berusaha tersenyum selebar mungkin.

"Naruto, sebelumnya aku minta maaf ... tetapi, tolong bantu aku dengan segenap kekuatanmu." Ia menunduk kepadaku.

"H-hei tidak perlu sampai seperti itu. Tidak apa-apa kok, aku melakukan ini atas keinginanku sendiri, jadi, tak perlu merasa sungkan, oke?"

Ia mengangkat tubuhnya kembali. "Terimakasih, Naruto, mulai saat ini, tolong jaga punggungku ya!" Ia kembali memasang senyum menawannya.

Jika ia terus-terusan memberiku senyuman seperti itu, aku tidak bisa menjamin aku tidak akan jatuh.

To Be Continued

.

.

.

Maaf baru update sekarang, author pemalas dan tidak konsisten ini tiba-tiba mendapat semangat entah darimana, baru bisa menyelesaikan chapter 2.

Silahkan reviewnya (Kumohon(?))