[FILE #2] 'Hermione Nott'

[Important! Flashback Chapter]

3k words

Catatan: Hermione Nott (italic/miring) berbeda dengan 'Hermione' yang ditulis dengan huruf biasa.


HERMIONE memang terlihat koma. Tapi sebenarnya dia mengalami mimpi yang sangat panjang.


Hermione mendapati dirinya berada di Greengrass Manor. Dan menyadari dengan kaget saat mendapati dirinya berumur 1 tahun kala itu.

Dia mengedarkan pandangan dan mendapati bahwa semua yang ada disana sama dengan terakhir kali kenangannya.

"Ini Hermione Nott, kembaranku," Aidos meremas bahunya pelan.

Hermione merasa dirinya tersenyum kecil pada sosok Alice dan Violina yang menatapnya.

"Kau tidak sakit tenggorokan, kan? Kurasa membiarkan kembaranmu memperkenalkanmu itu tidak sopan, Hermione," Hidung kecil Violina mengerut. Sebelum kembali sibuk dengan boneka-nya.

Sama sekali tidak menawari mereka main, tidak seperti di ingatan terakhirnya.

Hermione sangat ingin membalas dengan sinis, namun anehnya mulutnya tetap bungkam.

"Lebih tidak sopan bicara begitu pada sepupumu, kurasa," Aidos membalas lugas. "Hermione tidak suka bicara dengan orang asing, maaf saja Violina."

Alice tetap se-imut yang diingat Hermione. Bahkan dia masih menjabat tangan Hermione dengan kedua tangannya. Tapi Hermione tidak bisa melewatkan tatapan judgement dari Alice.

Tatapan yang tidak pernah dia peroleh selama ini.

Tatapan yang menganggap seolah dia itu aneh.

Mendadak Hermione sadar kalau kilasan kejadian ini adalah potongan memori dari Hermione Nott yang asli.


"Ayah."

Tanggal disana menunjukkan bahwa itu adalah malam setelah Hermione dan Aidos menerima tongkat sihir.

"Maafkan aku."

Thoros menatap kosong dirinya yang terisak. Sementara Hermione yang menyaksikan itu merasa hatinya mencelos, karena Thoros tidak pernah punya tatapan seperti itu.

Ayahnya selalu menatap si kembar dengan tatapan tegas dan terkadang diselingi dirty humor (yang benar-benar tidak lucu).

Tak disangka, Thoros memeluknya dengan kaku.

"Itu... bukan salahmu. Nott tidak pernah salah, Hermione."

"Mungkin aku tidak cukup pantas menjadi seorang Nott," Dia menggigit bibir, menahan isakan mati-matian.

Hermione mencoba mengetahui apa yang mereka bicarakan dan mengerti saat melirik sebuah tongkat di atas meja Thoros.

Berbeda dengan Hermione yang mendapat kombinasi tongkat dengan kayu holly dan bulu burung phoenix sebagai inti, Hermione Nott ternyata tidak seberuntung itu.

Dalam sekali lihat, Hermione tau bahwa tongkat Hermione Nott terbuat dari kayu yew dengan inti rambut banshee.

Kombinasi yang sangat buruk.

Kombinasi tongkat yang menjanjikan kematian buruk bagi pemegangnya.

Dengan kata lain, akhir hidup Hermione Nott sudah ditentukan.

Begitu tangisan Hermione Nott mereda, Thoros menyuruhnya untuk segera tidur dan mengatakan padanya tidak perlu mengkhawatirkan apapun.

Thoros kembali menatap pada perkamen di depannya.

Tidak sadar kalau Hermione Nott masih berdiri di depan pintu, menatap ayahnya dari celah pintu dengan ragu.

Penasaran, Hermione mencoba mengintip dengan salahsatu mantra Makhluk Hidup.

Tak lama penglihatannya berganti dengan penglihatan cicak di ujung dinding. Dengan segenap kemampuannya, Hermione menggerakkan cicak menuju Thoros.

Dan kaget saat tahu itu adalah undangan 'istimewa' untuk bergabung dengan Pelahap Maut.

Tanpa diduga, Thoros malah membuangnya ke perapian dan meminum anggurnya sembari menatap kertas itu dilahap api.

Walau tidak ada kata yang terucap, Hermione mengerti kalau Thoros menolak undangan bergabung dengan Pelahap Maut karena ingin memperkecil kemungkinan putrinya mati dengan 'buruk'.

Berurusan dengan Pelahap Maut berarti siap menyerahkan jiwa dan raga pada Penguasa Kegelapan. Dan kelihatannya Thoros belum menginginkan itu terjadi.

Hermione tidak pernah tau kalau dibalik topeng Darah Murni-nya, ternyata Thoros sangat mempedulikan kedua anaknya.

Dia merasa Hermione Nott yang menyaksikan semua itu menggigit bibir, sebelum menutup pintu dan pergi perlahan.


Kilasan berikutnya ternyata di Hogwarts, dan Hermione mendapati dirinya duduk bersama Pandora.

Dia punya firasat Hermione Nott tidak akrab dengan James, Sirius, Remus, Lily, Marlene, Dorcas, dan Mia saat itu.

Bahkan Evan dan Aidos tidak terlihat dimanapun.

"Aneh sekali melihatmu tanpa Aidos dan Evan," ucap Pandora dengan nada bosan khas Luna.

"Aku tidak bisa mengekor mereka terus-menerus. Mereka juga butuh bersosialisasi di asramanya."

"Tapi kau tidak, Mione."

"Yeah, kau juga. Kita sama."

Lalu hening.

Sampai seseorang tanpa sengaja terantuk meja di depan mereka. Sosok gadis dengan rambut sebahu itu meminta maaf dengan datar. Sebelum kemudian pergi dengan langkah terhuyung.

"Siapa itu?" Hermione Nott terdengar hanya bertanya iseng, tidak berharap Pandora tahu karena gadis itu tidak kalah ansos darinya.

"Mia Carlisle."

Hermione membelalak karena baru sadar itu adalah Mia. Dia nyaris tidak mengenali karena sosoknya sangat pucat. Lebih pucat daripada yang dia tahu di akhir tahun pertama.

"Tumben kau mengenal seseorang selain teman Derrius."

"Walau tidak bermaksud mengenal, tapi Carlisle mencolok," Pandora menjawab dengan nada membosankan. "Kau tahu aku punya bakat observasi di atas rata-rata."

"Kenapa mencolok? Kelihatannya dia sebisa mungkin tidak menarik perhatian di kelas," seperti aku.

Hermione bisa merasakan Hermione Nott menambahkan kalimat itu dalam hati.

"Auranya sangat aneh," Mata Pandora terlihat menerawang. "Aku tidak terganggu, tapi tahun depan aku merasa aura itu akan menghilang."

"Apa maksudnya?" Hermione Nott mengernyit dengan perkataan sobatnya yang terkadang berbelit-belit.

"Singkatnya, dia tidak akan ada disini."

"?"

"Dan kau juga, Hermione."

Kentara sekali Hermione Nott ingin mengajukan pertanyaan atas ucapan ngawur Pandora, tapi dia mendadak menutup mulut.

"Oh, aku akan sedih sekali," Pandora masih bermonolog dengan nada datar.

Tak perlu dijelaskan, tapi tubuh Hermione Nott menggigil saat itu.


"Ayolah! Ayah? Ibu?"

Kilasan selanjutnya bertempat di Nott Estate, dengan Aidos yang merengek sambil menggenggam tangan Hermione Nott.

"Jarang sekali Hermione kita menginginkan sesuatu, dan aku tahu kalian tidak se-benci itu dengan muggleborn dan muggle!"

Langka sekali melihat Aidos merengek. Cowok itu beranggapan bahwa permintaan adik kembarnya itu seolah sesuatu yang luar biasa dan harus diwujudkan.

Gelombang informasi menghantam Hermione dan gadis itu menghela napas.

Dia ingat ini adalah kejadian sehari sebelum insiden. Walau tidak persis. Bedanya, Hermione adalah orang yang sesungguhnya merengek sementara Aidos dan ayahnya malah bertaruh apakah Caitlyn akan mengizinkannya pergi atau tidak.

Caitlyn menghela napas dengan rengekan Aidos lalu menoleh ke suaminya yang berekspresi keras. Ibu dua anak itu tidak masalah jika harus membiarkan anaknya pergi ke lingkungan muggle, karena dia sendiri sering ke sana dan merasa bisa melindungi kedua anaknya nanti.

Masalahnya, Thoros punya pengalaman tidak menyenangkan setiap berkunjung ke lingkungan muggle.

"Lingkungan muggle tidak se-aman itu, Aidos, Hermione," ucap Thoros dengan nada berat.

"Ay—"

Rengekan Aidos diinterupsi oleh suara kecil Hermione Nott yang mengatakan, "Kita tidak perlu pergi jika ayah tidak mengizinkan, Aidos."

"Tapi kau sangat ingin kesana!" protes Aidos. Tahu bahwa kembarannya itu ingin melihat dunia lebih luas.

Aidos menganggap permintaannya itu brilian. Seorang introvert seperti kembarannya tumben sekali meminta hal seperti itu.

"Kalian—"

"Aku berjanji akan mempelajari seluk beluk Wizengamot, Ayah," sela Aidos, yang walau menyela tidak sopan, namun dimaafkan Caitlyn karena wajah penuh harap yang dipasangnya.

Thoros terlihat menahan seringai, sebelum bicara, "Baik. Kau harus menepati janji itu."

Hermione menghela napas saat tahu ayahnya yang MUNGKIN tadinya bermaksud membolehkan tanpa syarat, malah mengambil keuntungan itu.

Hhh, kakaknya ternyata memang tidak pernah connect dengan humor ayahnya.

Apa jadinya bila Hermione tidak ada selama ini.


Kilasan lagi dan Hermione berada di persimpangan dekat museum kuno.

Dia ingat sekali karena tidak jauh dari gang di sana, adalah tempat kejadian.

Ujung matanya menangkap sosok familiar di ujung lorong, membuat Hermione Nott —dengan dalih mencari toilet— akhirnya sendirian menghampiri sosok itu dengan hati-hati.

Hermione membelalak melihat Mia yang bahkan kulitnya bersinar di keremangan (saking pucatnya) sedang berdebat dengan seorang pemuda berambut coklat terang (nyaris identik dengan Mia sendiri), yang sayangnya memunggunginya sehingga wajahnya tidak terlihat.

Apakah sosok yang terakhir kali dia lihat benar-benar Mia?

Namun, ini aneh. Mia yang dia kenal selalu menjaga jarak dengan laki-laki. Bahkan cenderung jutek. Ketampanan Evan saja tidak mempan untuknya.

Jadi siapa pemuda itu? Apakah teman Mahoutokoro-nya?

Hermione mencoba fokus mendengarkan pembicaraan disana.

"Kau harus pergi denganku jika tidak menginginkan Abei mengejarmu."

Suara cowok di depan Mia terdengar agung. Hampir mirip seperti aksen bangsawan Thoros dan Aidos. Namun suara itu lebih terkontrol dengan intonasi yang sangat tepat.

Dan siapa Abei?!

Demi Merlin! Saat Hermione bangun nanti, dia akan menginterogasi Mia.

Tapi itu nanti. Pertama-tama dia harus tau kenapa alam bawah sadarnya mendadak menampilkan kilasan ini.

"Aku belum siap meninggalkan ayah dan ibu," Suara datar Mia terdengar, walau sedikit bergetar. Entah sahabatnya itu sedang lelah atau takut. Mia tidak pernah ekspresif, selalu menjaga wajahnya tetap datar selama ini.

"Dia sudah punya liontin-nya," ucap Mia. "Itu akan membantunya dalam legilimensi dan strategi setidaknya 20 tahun yang akan datang. Aku... gagal melindungi pusaka keluarga."

Tunggu.

Apakah kekuatan legilimensi Voldemort yang katanya luar biasa di zamannya itu berkat liontin keluarga Mia?!

Dan strategi... apakah itu membantu pengambilan keputusan Voldemort di masa depan?

Kalau begitu pantas saja Voldemort berubah sangat kuat selama 10 tahun ke depan.

Untung saja tahun ini liontin itu berhasil diamankan.

"Aku tidak perlu mengerti sihir sialan kalian, Penyihir," Cowok di depan Mia terdengar tidak sabar. "Yang aku perlukan adalah konfirmasimu untuk ikut denganku. Siapa yang tahu kapan kau akan berubah?!"

Cara cowok itu berbicara seolah dia sendiri bukan penyihir.

Lalu Hermione tersentak.

Apa... dia sebenarnya memang bukan?

"Tapi ini salahmu juga," Walau datar, tapi Hermione merasa geli bisa membaca bahwa Mia bermaksud menuduh cowok di depannya.

Cowok itu keliatan mengacak rambut, serba salah. "Aku tidak tahu kau kerabat, sialan."

"Berhenti mengumpat," Mia mendengus. "Pertama, aku harus mengabari Abei. Siapa yang tahu dia akan mengacak-acak Inggris dalam upaya menemukanku? Sementara aku tahu Inggris sedang tidak aman, ada Penyihir Gelap yang songong—"

Dia tahu Hermione Nott merasa tegang menyaksikan ini, tapi Hermione mau tidak mau terkekeh dengan sikap kurang ajar Mia yang ternyata masih sama.

"—Jadi, aku perlu waktu, Ruv."

Namanya Ruv. Hermione mencatat.

Ruv mendengus. "Terakhir kulihat sepertinya Abei jauh lebih unggul di Ilmu Hitam dibanding siapapun. Kurasa berlaku untuk Penyihir Gelap Songong ini juga."

"Justru itu. Dunia tidak akan bisa menghadapi dua penyihir gelap terampil yang bertemu. Apalagi jika mereka satu tujuan."

Hermione merasa Ruv bergidik, dari getaran pundak dan punggungnya.

"Itu tidak akan bagus. Tapi tentu saja kau tidak bisa kembali ke sekolah sihir itu."

Apa maksud Pandora tentang aura Mia yang menghilang adalah karena gadis itu akan meninggalkan sekolah?

"Aku memang berencana tidak kembali. Lagipula tidak ada yang akan menyadari aku pergi sama sekali," Mia mengedikkan bahu.

"Intinya, kau harus cepat karena walau kau masih terlihat normal saat ini, kau membutuhkanku."

...Ada apa ini?

"Sepertinya kau harus ingat karena kita setara, kau tidak bisa memerintahkanku, Ruv," Mia bergumam pelan. "Lagipula bukankah kau yang akan mati jika tidak ada aku?"

"Aku—tunggu," Ruv membeku sebelum berbalik. Memperlihatkan wajah dengan ketampanan yang mustahil. "Ada... penyihir lain disini."

Dengan cepat, dia merasa Hermione Nott berbalik.

Oke, time's up.

Hermione Nott berlari sekuat tenaga menjauhi tempat itu.

Splash!

Mata Hermione membelalak saat melihat wajah tampan Ruv di depannya.

Dia merasakan Hermione Nott mundur. Jantungnya berdebar kencang dan pikirannya campur aduk.

Sayangnya, sepasang lengan memegang pundaknya, menahannya untuk mundur lebih jauh.

Hermione Nott tidak berani melirik siapa yang menahan bahunya, namun dari ujung mata, Hermione tahu bahwa itu adalah Mia.

Mia sedikit mengernyit. "Kau?"

"Kau mengenalnya?" Ruv berjalan mendekat pada Hermione Nott. Aura cowok itu luar biasa, ditambah visual-nya yang seolah menegaskan bahwa dia bukan manusia biasa. Mata cowok itu membelalak saat memperhatikan sejenak, sebelum kemudian berjalan cepat menuju dirinya.

Mia bisa menebak suasana hati Ruv yang berubah. "...Kau merasakannya?"

"Hm," Mata Ruv menyipit, tangannya menyingkap poni yang menghalangi.

Hermione Nott bergidik begitu merasakan tangan Ruv yang sedingin es.

"Manusia dengan aura kematian. Menarik."

Apa maksudnya itu?

Hermione berpikir keras. Sayangnya, Hermione Nott terlalu takut dengan aura mengintimidasi dari Mia dan Ruv sehingga tidak menanyakan apapun.

Mia menghela napas dan melepas tangannya dari bahu Hermione. "Sudahlah."

Ruv menyambut tangan Mia dengan senang hati. Menoleh perlahan ke arah Hermione Nott yang masih menunduk.

"Aku harap kamu bisa bahagia."

Lalu Ruv dan Mia meninggalkannya sendirian.

Kalimat yang diucapkan Ruv secara datar bergaung dalam pikiran Hermione Nott.

Sebenarnya, apa maksudnya itu? Kenapa dia selalu merasa dia hanyalah beban dalam keluarganya? Apa sebenarnya... seharusnya dirinya tidak ada?


Setelah adegan itu, kesadaran Hermione meluncur jatuh. Dia merasa sesak, seolah berada di kedalaman laut.

Hermione berusaha membuka matanya, walau agak sulit karena cahaya yang dirasanya terlalu terang.

"Hermione?"

Bisikan familiar itu membuat Hermione menoleh linglung.

"...Ai?"

Aidos memeluk kembarannya begitu erat. Walaupun Hermione tidak mendengar isakan, dia merasa punggungnya basah.

"Terima kasih sudah bangun."

Bisikan Aidos membuat hati Hermione menghangat dan air matanya ikut jatuh tanpa terasa.


- to be continue -


~Session Talkshow~

Hermione: (menghela napas lelah)

Mia: Mione...

Aidos: Jangan panggil-panggil adikku (melotot). Bagaimana bisa di update-an pertama setelah setahun dan tiba-tiba Lucius Bajingan Malfoy mengirim kontrak pertunangan padanya?!

Mia: Maafkan tangan isengku :(

Aidos: Minta maaf juga sama readers karena telat update! (judes)

Mia: Halooo, adakah yang masih membaca fic ini? :((( Maaf karena telat update setahun lebih, teman-teman, huhuuuu! TT ternyata setelah menjadi mahasiswa, aku disibukkan sama organisasi, tugas esai seabrek, dll. Sebenarnya mau update sejak bulan kemarin tapi aku sakit, huhuuu.

Hermione: Pas SBMPTN aja, minta doanya getol bangettt! Pas udah lewat waktunya, malah lostcontact.

Mia: HUHUUUU, MAAF YAH, TEMAN-TEMAN. Just fyi aja nih, aku keterima di PTN yang terkenal sama almet kuningnya itu loh, hohoho XD Makasih guys, mungkin aja ini berkat doa kalian juga (sungkem).

Aidos: Yaudah jangan minta maaf mulu, tar readers riweuh dengernya. Mending kita BALES REVIEW deh.

Mia: Untuk Maknunah, yeoname, Valerie Unknown, dan sunburn, ini sudah update yaaaa, maaf dan semoga suka! TT)/

Aidos: Tuh kan, cahyuuu sampe kangen sama aku karena Mia gak update-update. MIA EMANG PARAH SIH, MARAHIN AJAAAA (ikut gondok).

Hermione: Mia bukannya out of the box sih, archellov. Doi emang banyak maunya terus gak ada cerita yang pas sama kemauannya, makanya dia bikin sendiri, deh XD

Mia: Hehehe, iya, makanya kalian gak usah khawatir. Aku suka bikin cerita ini, jadi aku gak bakal hiatus sih. Palingan update lama aja kayak gini (ini gak bisa dihindari, maafff TT)

Aidos: Bisa-bisanya love you lose you dukung Mia?! Nih anak padahal author mager...

Mia: Bukannya mager sih, aku cuma... ya gitu :(((( Tapi makasih dukungannya, that's means a lot to me (tears). Aku bakal mencoba menghargai semua dukungan yang masuk dengan bikin plotline sebaik-baiknya!

Hermione: Bisa-bisanya YuukiAsuna41 suka sama Regulus yang kelakuannya kayak sesepuh, wkwkwkw. Keluarga kita memang lovable sih, jadi aku tidak kaget XD wah, pusing punya teman senarsis Evan Rosier, jangan mau deeeehhh. Eung, Regulus emang Bocah Tua sih, tapi dia sebenernya masuk Hogwarts tahun depan, kok! Jadi Evan kakak kelasnya Regulus.

Mia: Halo, Reminaisce! IYA GAPAPA, MAAF JUGA AKU BARU UPDATE! MAKASIH UDAH BACA, HUHUHUUU.

Hermione: Oh iya, Mia punya beberapa INFORMASI terkait fic ini. Tapi tenaaaang, bukan pengumuman hiatus, kok!

Mia: Karena tahun pertama dan masalah eksistensi 'Hermione Nott' udah mulai ada titik terang (hayooo, nemu clue-nya gak?), untuk tahun kedua dan seterusnya, aku bakal mencoba eksplor cerita dari sudut pandang karakter lain di sekitar tokoh utama (Hermione), bukan cuma Hermione. Sekalian, aku mau memberi kepastian kalau aku gak akan mengabaikan fic ini! Aku suka dan menikmati nulis ini, kok! (Pssst, bahkan aku udah nyiapin gimana epilog-nya, plisssss.) Tapi dikarenakan kegiatan di real life, mungkin aja aku bakalan update jaraaaaanggg banget! Maaf, huhuuu TT

Aidos: Aku intip sih, Mia lagi ngerjain plotline untuk tahun kedua. Mungkin awal-awal tahun kedua nanti bakal di-update gak lama lagi. Atau sekitar beberapa bulan dari sekarang.

Hermione: Plus, Mia sendiri keliatannya ada proyek fic Harry Potter baru juga. Dia emang bandel sih, yang ini aja belum beres, sok-sokan bikin fic baru! (ngomel)

Mia: Hehe, efek stres kali ya. Jadi aku kepikiran ide-ide baru mulu. TAPI, tenang aja, kayaknya aku bakal bikin fic baru setelah tahun kedua atau ketiga disini selesai ditulis, kok. Jadi, masih lama.

Hermione: Oke, kayaknya segitu aja sih. Berikut ini Mia menampilkan cuplikan untuk tahun kedua yang membagongkan!

Aidos: Membagongkan itu apa?

Mia Hermione: (mengabaikan Aidos) Oke, sampai jumpa di chapter selanjutnya! Ada extra chapter terkait liburan dari Hermione and the gank, kok. Baru setelah itu kita cuss masuk ke tahun kedua! Semoga urusan real life kalian juga lancarrr


CUPLIKAN TAHUN KEDUA


"Aku punya penawaran."

"Kau sangat licik dan... tua."

"Apa yang bisa kulakukan? Kurasa aku hanya lahir terlambat."

"Wajahmu tidak sepucat sebelumnya..."

"Wah, ini gila."

"Jadilah pacarku!"

"Kupikir kita teman."

"Satu kali."