Has Ended

Disclaimer:Naruto dan DXD bukan milik saya

Warning:Author new, Typo betebaran, bahasa Terlalu kaku.

Genre:Horror, Thriller, Tragedy, Mystery, Drama, Romance, Ecchi, Harem (mungkin?)

Rate : M (buat Jaga-jaga)

Author: Shiraki

Pairing : ...?

Summary: Dunia yang lama sudah berakhir, kini Manusia hidup di jaman yang lebih keras dari jaman batu, dengan kondisi seperti ini. Ribuan nyawa hilang karena sebuah wabah, wabah yang memberikan kesengsaraan dan menjadikan Manusia sebagai mahluk yang terancam punah.


20xx, Titik akhir.

Di sebuah gedung tua dengan banyak perangkap, terlihat di dalam gedung itu ada seorang ilmuwan tua yang sedang mengerjakan sesuatu dengan telaten, tapi tiba-tiba sensor yang terpasang di gedung itu memberi sinyal bahwa ada sesuatu mendekati gedung itu. Ilmuwan itu lalu bergegas menyelesaikan apa yang sedang dia buat.

"Tenanglah, Professor. Jangan panik, kami disini untuk melindungi dirimu!" kata seseorang yang tidak jauh dari Professor itu, ternyata Ilmuwan itu tidak berada sendiri karena dia bersama seorang tentara pria berambut kuning dan dua tentara wanita berambut kuning dan hitam.

"Deer, bisa kau jelaskan apa yang mendekati kami?" kata pria itu sambil memegangi sebuah alat di telinganya.

"Dari yang terlihat, ada sekitar 50 dari mahluk itu. Jika aku boleh usul, kau ledakan tempat itu dengan para mahluk itu di dalamnya, kami akan mengcovermu dari sini, Kitsune." jawab seseorang bernama Deer kepada pria berambut kuning yang dipanggil Kitsune, pria itu lalu mendekati Professor itu.

"Professor, apa kau masih membutuhkan lab ini?" tanya pria itu kepada Professor itu, dua orang teman wanita si Kitsune itu langsung mengalihkan perhatiannya pada Kitsune, Professor itu awalnya sedikit kaget tapi.

"Tidak, lagipula Lab ini sudah tidak diperlukan lagi," kata Professor itu kepada Kitsune.

"Baiklah! Neko! Tenshi! kalian ambil semua persediaan disini, kita akan menghancurkan Lab ini ketika selesai!" perintah Kitsune kepada dua wanita yang dipanggil Neko dan Tenshi.

"Yokai!" balas dua wanita itu, mereka langsung bergegas mengambil semua persediaan yang berada di Lab itu, mereka mengambil Obat-obatan, makanan dan amunisi.

"Deer! bisakah kau perhitungkan kapan mereka sampai?" tanya Kitsune kembali.

Terlihat di sebuah gedung tinggi di sana, terlihat seorang tentara berambut hitam yang sedang melakukan pengintaian dengan sniper untuk melihat gedung tua itu dari jauh, pria itu adalah Deer yang sedari tadi berbicara dengan Kitsune.

"Entahlah, perkiraan waktu yang tercepat adalah 20 menit! tapi jika aku memanggil Helikopter penyelamat, kemungkinan mereka datang dalam waktu yang sama dengan para mahluk itu, Mendokusai!" balas pria itu diakhiri dengan sebuah gerutuan, Kitsune yang mendengar ucapan Deer hanya bisa tersenyum canggung.

"Kalo begitu, hubungi dia saja, minta dia mengirimkan Helikopter untuk berjaga-jaga," ucap Kitsune yang kepada Deer yang langsung dibalas gerutuan, Kitsune memutuskan hubungan komunikasi mereka dan melihat bahwa Neko dan Tenshi sudah mengambil semua persediaan di sana.

"Nyaa? kita akan menghancurkan tempat ini dengan apa? Kitsune-kun?" tanya wanita bernama Neko kepada Kitsune yang sekarang mengambil sesuatu di kotak belakangnya.

"Dengan ini, kita akan menempelkannya sekarang dengan waktu 25 menit, kalian berdua bantu aku," kata Kitsune sambil menunjukkan isi kotak itu, ternyata di dalamsana penuh dengan Bom C4.

"Baiklah!" balas kedua wanita itu, Kitsune hanya tersenyum kecil.

"Sekarang, kita akan melakukan sesuatu seperti dulu lagi, tapi kali ini manusia yang menang!" kata Kitsune sambil menatap Bom C4 ditangannya.

"Tentu saja Nyaa~" balas Neko dengan suara seperti kucing sungguhan.

"Uhmm! sama seperti dulu juga, kau selalu melindungi kami, Kitsune-kun!" kata Tenshi dengan suara yang merdu.

"Ini kita lakukan untuk mengembalikan umat manusia, dan itu pasti," kata Kitsune dengan tangan yang mengepal, sepertinya sesuatu yang buruk pernah terjadi.

Setelah semua Bom terpasang di Lab ini, Kitsune pun sedang melihat keadaan di luar Lab melalui ventilasi di sana. Dia melihat gerombolan Zombie makin mendekat dan ini sudah 15 menit berlalu dan Helikopter belum datang sama sekali, tapi tiba-tiba ia mendapat pesan.

"Kitsune! Helikopter akan datang, tapi Helikopter tidur bisa mendarat! mereka akan terbang di ketinggian 15 meter di atas lab! terlalu berbahaya jika mendarat! jadi cepatlah naik ke atas!" kata Deer dengan sedikit nafas memburu, Kitsune yang mendengar itu langsung membuka jalan menuju atap Lab itu. Disana dia melihat Helikopter sedang menuju ke arah mereka.

"Neko!Tenshi! kalian segera naik Helikopter, Professor! anda juga!" teriak Kitsune.

Brakk!

Lalu tak lama kemudian tembok Lab hancur berkeping-keping seperti di hantam sesuatu yang keras, Kitsune langsung mengalihkan perhatiannya ke arah itu.

Di sana, sebuah mahkluk yang tidak pernah tertulis dalam legenda dan sejarah, mahluk yang dianggap mitos dan karangan. Tapi kini mahluk yang dianggap tidak ada itu sedang berdiri menatap mereka dengan pandangan seorang Predator, mahluk itu adalah... Zombie!

"Sial! ada Zombie Mutant tingkat 4! yang benar saja!" rutuk Kitsune sambil mencari sesuatu di belakang tubuhnya. Neko dan Tenshi yang melihat itu cukup terkejut karena yang datang bukanlah sesuatu yang remeh.

"Neko! cepat evakuasi Professor itu sekarang juga! Tenshi! kita lakukan seperti biasa!" perintah Kitsune dan langsung dituruti oleh dua wanita itu, Neko langsung begerak menuju atap dengan Professor di sampingnya, sedangkan Tenshi dia terlihat menundukkan kepalanya hingga.

"Sekarang!" teriak Kitsune sambil mengeluarkan Flasbang ke arah Zombie itu, sedangkan Tenshi langsung melesat ke Zombie itu dengan cepat. Tenshi langsung mencakar Zombie itu tepat di matanya dengan kuku yang tiba-tiba menjadi tajam, tak cukup di sana Tenshi langsung mencoba menusuk leher belakang Zombie itu.

Bang! Crassh! Tranng!

'Apa itu?!' batin Kitsune yang mendengar suara seperti besi bertabrakan, Tenshi langsung melompat mejauh dari tubuh Zombie itu dan mendarat di sebelah Kitsune.

"Ada apa Tenshi?! " tanya Kitsune sambil melirik Tenshi di sampingnya.

"Entahlah Kitsune-kun, saat aku ingin menusuk lehernya dan mengambil benda itu, tiba-tiba lehernya menjadi keras seperti besi," balas Tenshi dengan sedikit memburu karena tidak bisa bernafas dengan normal.

"Sial! apa jenis baru?!"

"Mungkin saja, lalu kita harus bagaimana?"

"Kita tidak tau apa yang sedang kita hadapi, jadi kita harus mundur atau kita akan mati konyol disini," kata Kitsune. Tenshi hanya menganggukan kepalanya setuju bahwa kabur adalah pilihan yang baik.

"Kitsune-nyaa! cepatlah kemari, Zombie semakin banyak atau kalian akan tertinggal!" kata Neko di sambungan komunikasi mereka. Kitsune tidak menjawabnya melainkan langsung berlari ke atap dengan Tenshi di sampingnya.

Mereka naik ke atap dan melihat bahwa Neko dan Professor sudah berada di dalam Helikopter, Kitsune melihat tanga tali yang mengantung di sana langsung meraihnya, tapi tiba-tiba Zombie tadi sudah berada dibelakang mereka dengan mata yang awalnya sudah buta kini terlihat pulih.

"Sial! regenerasi macam apa itu?!" rutuk Kitsune sambil mengambil pistolnya.

Dor! Dor! Dor!

Tiga tembakan di lepaskan Kitsune, dua diantaranya mengenai kepala dan kaki Zombie itu, melihat sebuah kesempatan Kitsune langsung berlari menuju Zombie itu dengan sebuah Bom C4 di tangan kirinya.

Cepp! Klik! Tit! Tit!

Kitsune berhasil menaruh Bom C4 itu di dada Zombie itu dengan timer waktu 30 detik, terlihat Zombie itu kini berfokus dengan Bom yang dipasang Kitsune hingga membuat sebuah kesempatan untuk kabur.

Kitsune berlari dan langsung memeluk tubuh mungil Tenshi dan langsung meraih tali di Helikopter itu, Helikopter itu langsung terbang begitu Kitsune sudah berpegangan.

"Deer! kau lihat target itu bukan? tembak tepat di dadanya!" suruh Kitsune kepada Deer yang sudah bersiap untuk menembak dari jarak 300 meter dari tempatnya.

"Berhenti berbicara seperti Bos!"

"Cepatlah!"

"Yare yare~"

Dor! Swuushh!

Tembakan Deer dengan cepat melesat dengan kecepatan tinggi, peluru itu melewati bangunan-bangunan di sekitar dan memotong angin yang membatasi gerakannya.

Blaarr!

Akhirnya tembakan Deer tepat mengenai bom C4 yang tertempel di tubuh Zombie itu, ledakannya membuat ledakan beruntun hingga akhirnya menghancurkan gedung atau Lab itu membuat para Zombie yang berada di sekitarnya terbakar dan hancur.

"Kitsune-kun?" panggil Tenshi pelan.

"Hmm? ada apa?"

"Tidak, hanya..., apa ini akan berakhir?"

"Tentu saja, semuanya kini. Telah Berakhir."

(Has Ended)


20xx, Titik awal.

Kriinggg!

Bunyi jam weker terdengar keras di sebuah kamar, tapi meskipun jam itu bersuara dengan keras terlihat di sana bahwa sang penghuni masih tertidur dengan lelapnya seolah-olah suara jam weker itu hanya sebuah suara yang tidak menganggu sama sekali.

Brakk!

"Naru-kun! bangun Nyaa!" ucap seseorang dan langsung mendorong pintu tempat tinggal Naruto dengan lancang.

"Kuroka! jangan seperti itu!" ucap orang lainnya di belakang sang pendobrak yang bernama Kuroka.

"Tapi, jika tidak seperti ini. Naru-kun tidak akan bangun Akeno!" balas perempuan bernama Kuroka kepada orang itu yang bernama Akeno.

"Tapi kau mengganggu tetangga Naruto-kun! itu malah membuat masalah untuk Naruto-kun!" balas perempuan bernama Akeno tidak mau kalah, sedangkan Kuroka bukannya merasa bersalah malah langsung berlari menuju tempat tidur orang yang tidak bisa di bangunkan oleh jam weker bernama Naruto.

Ghookk!

"Naru-kun! banggun~ iyeyyyyyy!" Kuroka langsung berlari dan melompat ke atas kasur Naruto dan jatuh menimpa Naruto tepat di perutnya.

"Ku-ku-kuroka?" kata Naruto terbata-bata karena sepertinya dia kesakitan karena ulah Kuroka, Akeno yang melihat itu hanya menepuk jidatnya karena kelakuan Kuroka.

Naruto yang ditindih Kuroka hanya bisa menahan sakit di perutnya, Kuroka sendiri masih beta menduduki Naruto dan tidak berniat untuk menyingkir dari atas tubuh Naruto.

"Kuroka? bisakah kau turun? aku harus ke kamar mandi," kata Naruto dengan berusaha untuk duduk meskipun Kuroka sedang di atasnya, tapi karena Kuroka yang belum siap akhirnya membuat dirinya meluncur turun dan kini Kuroka duduk dipangkuan Naruto.

Naruto yang melihat Kuroka duduk dipangkuannya langsung panik, karena kini 'itu' Naruto sedang mengalami hal yang biasanya terjadi di pagi hari, Kuroka yang merasakan 'itu' Naruto juga ikut memerah karena benda 'itu' menekan perutnya dan akhirnya membuat Kuroka turun dengan raut wajah yang merah.

Akeno yang melihat itu sedikit heran, karena perempuan seperti Kuroka tidak mudah untuk bersemu dan akhirnya dia melihat Naruto yang kini juga memerah dan menutupi area intimnya dan berlari menuju kamar mandi, entah kenapa dia kini kesal dan juga malu karena tau apa alasan yang sebenarnya.

"B-besar," gumam Kuroka dengan muka memerah, Akeno yang mendengar itu juga ikut memerah.


Skip Time

Kini terlihat Naruto di kamar mandi yang sudah siap dengan seragam sekolahnya, dia sedang menata rambutnya untuk menimbulkan kesan lebih rapi. Tiba-tiba muka Naruto memerah saat mengingat kejadian tadi, sungguh tidak bisa Naruto percayai bahwa dia akan mendapatkan kejadian itu dengan salah satu teman masa kecilnya itu.

"Haahh~ sial! aku harus melupakan itu!" kata Naruto sambil melihat refleksi dirinya di cermin, tapi tiba-tiba dia melihat gambaran wajah merah Kuroka dan rasa yang tertinggal itu membuatnya bersemu dengan cepat.

Naruto keluar dari kamar mandi miliknya dan menemukan Akeno yang sedang menata tempat tidurnya, ia melihat Akeno dengan telaten menata tempat tidurnya yang terlihat seperti seorang istri.

Entah kenapa Naruto tiba-tiba memerah saat membayangkan Akeno menjadi seorang istri, Akeno salah satu teman masa kecilnya juga, berbeda dengan Kuroka yang ceria dan genit. Akeno lebih ke tipe seorang kakak yang tenang dan kalem.

"Akeno? kemana Kuroka?" tanya Naruto sambil menata isi tas miliknya, Akeno yang mendengar itu menghentikan pekerjaannya sejenak.

"Kuroka? dia sedang pergi ke supermarket untuk memberi onigiri," balas Akeno dan kembali menata tempat tidur Naruto, akhirnya setelah butuh beberapa waktu untuk menata tempat tidur Naruto Akeno langsung mengambil tas nya dan berjalan kearah Naruto.

"Mari kita pergi, kita akan terlambat," kata Akeno sambil menggandeng tangan Naruto, Naruto hanya mengikuti tarikan teman semasa kecilnya ini tanpa ada niatan untuk berontak.

Naruto menutup apartemen peninggalan orang tuanya itu, Akeno sudah jalan terlebih dahulu untuk menuju ke bawah. Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa Naruto tinggal sendiri dan kenapa dia dibangunkan kedua temannya, karena orang tua Naruto itu sudah meninggal saat dia berumur 9 tahun, dan dia terpaksa tinggal sendiri, dan untuk 2 teman semasa kecilnya itu, mereka berdua tinggal di apartemen yang sama tapi berbeda lantai dan juga mereka tinggal sendiri karena ingin mandiri di umur mereka yang akan segera lulus.

Sampai segitu saja perkenalannya, karena kini mereka berangkat ke Sekolah Kuoh Gakuen, sebuah Sekolah bergensi yang kebetulan saja Naruto masuk melalui Beasiswa sehingga dia tidak perlu memikirkan biayanya.

"Akeno!" panggil Naruto.

"Ara? ada apa?" balas Akeno sambil memiringkan kepalanya imut.

"Aku hanya ingin, kalian tidak perlu mampir setiap pagi, jangan terlalu merepotkan diri sendiri," balas Naruto pelan, Akeno yang mendengar itu langsung berhenti seketika membuat Naruto kaget.

"Kenapa? apa kami menganggu mu?" tanya Akeno dengan lirih, Naruto tentu saja langsung panik karena jika Akeno marah itu adalah hal buruk baginya.

"Ti-tidak hanya saja, kalian pasti juga memiliki banyak pekerjaan, dan cukup memalukan jika aku terus bergantung pada kalian," balas Naruto cepat.

"Tapi kau tidak bergantung pada kami! malah kami yang bergantung padamu!" balas Akeno tidak mau kalah.

"Tidak, kalian tidak pernah bergantung pada pengecut seperti diriku ini," balas Naruto sambil membuang mukanya ke arah lain, tapi nada yang Naruto keluarkan terdengar sedih.

"Kau memikirkan itu? kau tidak salah Naruto! aku yakin dia akan marah melihat dirimu yang sekarang!" kata Akeno sambil mengigit bibir bawahnya, mengingat sebuah kejadian masa kecil mereka yang sedikit tragis.

Naruto tidak membalas ucapan Akeno melainkan langsung berjalan meninggalkan Akeno di belakangnya, Akeno hanya melihat punggung Naruto dengan pandangan yang tidak bisa di jelaskan.

"Kau harus tau Naruto-kun, dia akan lebih marah jika kau tetap bersalah seperti ini," gumam Akeno pelan, selang beberapa detik Akeno berjalan kembali untuk menuju ke Sekolahnya.


"Nyaa! kalian terlalu lama," teriak Kuroka yang sudah berdiri di depan minimarket dengan kantong plastik, Akeno sendiri kini masuk ke minimarket untuk membeli sesuatu.

Naruto sendiri menuju ke Kuroka dengan senyuman tipis, Kuroka langsung menyodorkan kantong plastik itu ke arah Naruto yang tentu saja diterimanya dengan senang hati.

"Sankyuu," kata Naruto sambil membuka kantong plastik itu, Naruto mengambil sebuah onigiri isian sapi dan sebuah minuman.

"Doitashimashite!" balas Kuroka dengan senyuman manisnya, kini mereka berdua menikmati sarapan pagi mereka sembari menunggu Akeno yang membeli sesuatu.

Tak lama kemudian Akeno keluar dari minimarket dengan satu kantong plastik yang berisi barang kebutuhan pribadinya, mereka mengobrol beberapa saat hingga Naruto melirik jam di tangannya yang hampir menunjukkan angka 8 yang tentunya mereka akan terlambat.

Naruto langsung mengajak dua gadis ini untuk pergi menuju Sekolah yang jaraknya cukup jauh, tapi saat mereka ingin berangkat mereka melihat sebuah kecelakaan mobil yang sudah dikerumuni banyak orang. Sebenarnya Naruto penasaran untuk melihat itu, entah kenapa rasanya bahwa itu sangat penting. Tapi karena waktu yang mepet membuat Naruto menghiraukan itu dan lebih memilih untuk pergi ke Sekolahnya.

"Entah kenapa itu sangat menarik perhatianku, seperti bahwa itu akan berdampak besar bagiku," gumam Naruto sambil berjalan menuju ke Sekolahnya.

"Kenapa Naru?/Naru?" tanya kedua perempuan itu bersamaan, Naruto yang mendengar itu hanya tersenyum kecil sebagai jawaban.

"Tidak ada apa-apa, hehe." ucap Naruto diakhiri dengan cengengesan miliknya.


Sekolah, sebuah tempat yang dikhususkan untuk para remaja agar memiliki ilmu yang cukup nanti, ya meskipun sebagian tidak terlalu penting jika hanya materi saja, nyatanya dunia kerja itu lebih mementingkan fisik dan kepintaran sudah tidak terlalu dianggap lagi sebagai hal pokok. Lupakan tentang dunia kerja terlebih dahulu dan mari kita nikmati kehidupan Sekolah yang menyenangkan bersama.

Naruto sang pemeran utama cerita ini dengan santai duduk sambil melihat kearah jendela, di sebelahnya ada seorang remaja berambut hitam dengan dikuncir gaya nanas yang sedang tertidur dengan lelap. Begitupula dengan suasana kelas yang berisik oleh suara murid-murid lainnya, alasan kenapa kelas bisa menjadi seperti ini adalah karena tidak datangnya seorang guru mereka yang tentu saja membuat pelajaran kosong yang sangat digemari.

"Hahh~ rasanya sangat damai, kuharap hari-hari seperti ini tidak cepat berakhir," kata Naruto sambil menghela nafas panjang, tapi sepertinya suara Naruto terlalu kencang hingga membuat teman satu bangkunya terbangun.

"Mendokusai, Naruto bisakah kau pelan kan suara mu? disini aku mencoba untuk tidur dan menghemat energi kau tau?" kata teman sebangku Naruto dengan gumaman malasnya, bukannya memperhatikan teman sebangkunya. Naruto malah masih dengan santai melihat kearah jendela, entah kenapa teman sebangku Naruto kini terlihat kesal karena tidak di dengarkan oleh Naruto.

"Woi! tai kuning! bisakah kau menghormati orang yang sedang bicara?" marah teman Naruto dengan menjitak kepala kuning Naruto, Naruto yang merasakan pukulan di kepalanya langsung menoleh untuk melihat ke arah sang pelaku.

"Ittai! bisakah kau tidak memukul ku? lagipula kau bisa tidur di keadaan kelas yang kacau dan terbangun karena gumaman seseorang? siapa yang lebih aneh hah? Shikamaru?" balas Naruto nyolot, orang yang memukul Naruto bernama Shikamaru. Teman Naruto yang di kategorikan jenius tapi juga suka tidur, sungguh tidak cocok melihat kepintaran Shikamaru dan sifat pemalas miliknya.

"Berisik! kau tidak tau penderitaan ku di rumah!" balas Shikamaru yang kini sedang meregangkan tubuhnya untuk tidak terlalu kaku, Naruto tidak menghiraukan ucapan Shikamaru melainkan menlanjutkan kegiatannya untuk melihat jendela luar.

"Terserah lah, tapi sekarang emang hari penghancuran sedunia kah?"

"Hah? hari penghancuran sedunia? hal konyol apa yang sedang berada di kepala kuning mu itu?" balas Shikamaru dengan santai.

"Kampret! liatlah sendiri bego!" balas Naruto sambil menunjuk ke arah area luar Sekolah.

Shikamaru melihat arah yang Naruto tunjuk dengan raut wajah malas, tapi raut wajah itu kini berubah menjadi heran.

"Hmm? ini aneh sekali, seharusnya orang bodoh hanya kau seorang, Naruto." kata Shikamaru sembari mengejek Naruto tanpa berdosa, Naruto yang mendengar itu tiba-tiba muncul perempatan di dahinya yang menujukan bahwa Naruto sedang kesal.

"Bisakah kau serius? atau kau ingin kepala jenius milikmu itu berada di lantai?" balas Naruto sambil mengepalkan tangannya untuk mencegah emosi miliknya yang siap meledak saat ini juga, Shikamaru memilih mengabaikan itu dan fokus ke arah kerumunan itu dengan tatapan yang semakin tajam.

Naruto memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah kecil ini dan kini juga ikut melihat ke arah luar Sekolah mereka yang terlihat kacau, tapi tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi. Ada beberapa orang yang berusaha menerobos Sekolah mereka, tapi tampilan mereka layaknya Zombie dengan perut yang sobek, darah keluar dari mana-mana, bahkan ada yang hanya memiliki satu tangan sedang berjalan masuk menuju gedung Sekolah mereka. Naruto yang merasakan hal aneh pun ingin langsung pergi untuk memastikan bahwa Kuroka dan Akeno aman, tapi sebelum Naruto pergi dia bertemu pandang dengan salah satu orang itu dan saling memandang dalam kurun waktu beberapa detik, pandangan mereka terputus karena tiba-tiba Zombie itu berlari memasuki gedung Sekolah mereka.

"Sial! kurasa ada masalah serius, Shikamaru!" kata Naruto yang langsung di balas anggukkan oleh Shikamaru yang kini sedang berkeringat dingin, Naruto langsung melihat ke arah Kuroka dan Akeno yang masih bercanda ria bersama teman wanita mereka.

"Kuroka! Akeno! kemarilah! dan jangan banyak bertanya," kata Naruto yang tentunya menarik perhatian teman mereka, tapi Naruto lebih memilih untuk menyelamatkan dua gadis teman semasa kecilnya ini.

Brakk!

Tiba-tiba pintu kelas mereka terbuka dan menampilkan guru mereka yang terlihat kecapean karena nafasnya yang memburu, Naruto dan Shikamaru yang melihat itu saling berpandangan sebentar lalu mengangguk pelan.

"Hosh~ hosh~ ka-kalian, ce-cepat berlindung dan cari tempat yang aman sekarang!" kata Guru itu yang kini terlihat berlari kembali yang sepertinya sedang berusaha memberi tahu ke semua orang, Naruto dan Shikamaru langsung keluar dari tempat itu dengan Naruto yang menyeret Kuroka dan Akeno dengan paksa. Tapi sebelum mereka benar-benar keluar dari kelas, Shikamaru mengambil sapu dan kayu yang berada di kelasnya yang ditatap aneh oleh teman-teman mereka.

"Oi! liat lah! kota sedang kacau!"

"Yang benar saja?!"

"Gua serius Bego! noh liat sendiri!"

"A-apa-apan dengan adegan ini? kita tidak sedang melihat film Thriller kan!?"

Mereka melihat sebuah peristiwa yang dimana menjadi titik awal musnahnya manusia karena pemangsa yang hanya dianggap karangan kini menunjukkan eksistensinya pada Manusia, sebuah peristiwa yang akan masuk lembar hitam kehidupan manusia dan tidak akan pernah terlupakan. Segera...,

Dimulai...,

Karena semuanya kini telah berakhir. (Has Ended)


Terlihat kini Naruto, Shikamaru, Akeno dan Kuroka sedang berlari menuju ke suatu tempat, tapi tampak jelas wajah kebingungan dari Kuroka dan Akeno yang tidak tau alasan kenapa mereka diseret ke sini oleh Naruto, mereka ingin bertanya tapi mereka menahan itu dan lebih memilih mengikuti Naruto yang menyeret mereka karena mereka berdua tau, bahwa Naruto pasti melakukan ini untuk kebaikan mereka semua.

"Kita akan kemana? Shika?" tanya Naruto dengan menarik Kuroka dan Akeno tanpa harus melukai mereka, Shikamaru yang mendengar pertanyaan Naruto hanya menolehkan kepalanya dan tersenyum kecil.

"Tentu saja, bertahan hidup!" balas Shikamaru dengan senyuman miliknya, Naruto yang mendengar itu langsung tersenyum juga menandakan bahwa Naruto tau kemana mereka sekarang bergerak.

Kuroka dan Akeno yang mendengar pembicaraan Naruto dan Shikamaru semakin bingung karena mereka tidak tau akan hal itu, lalu mereka secara tidak sengaja melihat ke arah jendela yang jelas menunjukkan bagaimana keadaan kota.

Kota kini menjadi semakin ramai, tapi bukan tawa dan kebahagiaan yang terdengar. Melainkan teriakan ketakutan, histeris dan putus asa yang menghiasi kota tempat mereka.

"A-a-apa ya-yang ter-terjadi?" tanya Akeno dengan suara bergetar, sungguh pemandangan ini adalah pemandangan paling buruk di ingatannya dan mungkin akan membekas dengan permanen di otaknya. Tak lama kemudian Akeno akhirnya pingsan.

Brukk!

"Naruto! apa yang terjadi?!" tanya Kuroka dengan raut muka yang ketakutan, tapi dia masih bisa menahan itu dan mencegah dirinya untuk pingsan seperti Akeno.

Naruto tidak menjawab pertanyaan Kuroka melainkan langsung mengangkat Akeno dari lantai, Naruto membawa Akeno dengan gaya layaknya pengantin.

"Akan aku beritahu nanti, untuk sekarang ikuti aku saja," balas Naruto tanpa menjawab pertanyaan Kuroka.

"Apa maksudmu!? kau ingin membawa kami? tapi kau tidak memberi tau kami apa yang sedang terjadi di luar!" teriak Kuroka kesal karena sikap Naruto.

"Aku sendiri juga tidak tau! tapi kita harus menyelamatkan diri terlebih dahulu! karena aku tidak ingin kehilangan lagi!" bentak Naruto dengan nada tinggi sambil menundukkan kepalanya, itu membuat Kuroka sedikit takut karena jarang sekali Naruto membentak dirinya semenjak kejadian 'itu' yang membuat Naruto menjadi orang yang sedikit emosional.

Shikamaru langsung menepuk pundak Naruto berniat untuk menyadarkan pirang ini, Naruto yang merasakan tepukan Shikamaru mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Shikamaru yang kini sedang menggelengkan kepalanya lalu menunjuk Kuroka.

Naruto melihat ke arah yang ditunjuk Shikamaru yang terlihat Kuroka sedang menangis, Naruto yang melihat itu tiba-tiba merasa bersalah ingin rasanya dia memeluk Kuroka untuk meredakan tangisan gadis itu yang sangat pilu.

"Ma-maaf...," menyadari kesalahannya, Naruto meminta maaf kepada Kuroka karena telah membuatnya menangis.

"Hiks~ hiks~" Kuroka tidak menjawab pertanyaan Naruto, tapi kini dia berusaha untuk meredakan suara tangisnya.


Di sisi lain Sekolah, terdapat empat orang yang kini berlari dengan tergesa-gesa sambil membawa tongkat baseball yang sudah bercucuran darah, keringat menetes dari tubuh mereka, dua orang remaja laki-laki berambut hitam dan coklat yang sedang menggandeng dua gadis remaja yang sedang bergerak entah kemana.

"Hah~ hah~ sial! aku masih tidak percaya ini!?" teriak frustasi laki-laki remaja coklat itu, dia menggosok kepalanya dengan kasar yang menandakan bahwa dia benar-benar frustasi.

"Kau pikir hanya kau saja? Issei? kita sedang dalam kondisi yang sama sekarang," balas laki-laki berambut hitam kepada remaja berambut coklat yang kita ketahui sebagai Issei.

"Hah~ aku juga tau, Sasuke." balas Issei kepada remaja berambut hitam itu yang bernama Sasuke. "Tapi, apa ini hal yang bisa terjadi dengan mudah?!" tanya Issei sambil tetap berlari.

"Entahlah, mungkin pemerintah sedang mengerjakan senjata biologis. Dan karena kesalahan kecil senjata itu bocor dan berbalik, mungkin saja?" balas Sasuke tanpa menoleh, tapi hipotesis itu sepertinya salah karena bukan hanya Jepang tapi satu dunia sedang mengalami krisis yang sama.

"Begitukah? tapi kenapa aku merasa bahwa ini sedang terjadi dalam satu dunia," ucap Issei, ia merasa bahwa ini tidak hanya terjadi di Jepang tapi seluruh dunia.

"Aku tidak tau, tapi kemungkinan akan pengumuman tingkat nasional nanti jika firasatmu benar, Issei," kata Sasuke dengan melirik ke luar Sekolah.

"Nee..., kita akan kemana?" tanya gadis berambut merah di gandengan Issei, Sasuke yang mendengar itu tidak langsung menjawab.

"Tenanglah Rias, kita akan terus berlari jika itu membuat kita hidup," kata Issei menenangkan gadis bernama Rias.

"Hn, Issei benar, kita harus mencari mereka," kata Sasuke dengan datar, sebenarnya mereka saat ini sedang mencari seseorang teman yang pasti sudah bertindak sekarang.

"Ahh..., mereka kah? pasti dengan kepintaran si rusa dan kemampuan kepemimpinan si kuning itu, mereka mungkin masih selamat. Karena jika orang yang dapat bertahan yang harus ku pilih, itu pasti mereka." kata Issei lega, karena kemungkinan ke-dua temannya itu sudah bertindak terlebih dahulu.

"Ya, kita harus segera bersama mereka," jawab Sasuke dengan datar.

"Yosh! mari kita cari Rusa pemalas dan Durian kuning itu!" Issei kini sedang bersemangat karena mereka semua akan selamat jika bersama teman mereka itu.

"Sasuke-kun, apa kita tidak ke UKS terlebih dahulu? karena obat akan menjadi langka di situasi seperti ini," kata gadis berambut pink yang bersama Sasuke yang dari tadi hanya diam.

"Hn, kau benar. Kita harus mengambil persediaan, kemungkinan mereka tidak mengambil itu karena terlalu terburu-buru menyelamatkan diri," kata Sasuke.

"Ya, kemungkinan itu kecil, tapi untung saja kita punya paramedis di sini! terima kasih, Sakura-san!" jawab Issei yang senang dengan adanya gadis itu.

"Baiklah! mari kita mampir ke kantin juga untuk ambil gorengan! mumpung gratis, hehe!" usul Issei dengan senyuman bodoh miliknya. Ucapan Issei tiba-tiba membuat semua orang yang mendengarnya langsung Sweatdrop.

Sepertinya kisah mereka semua akan dimulai, meskipun dalam keadaan seperti ini mereka masih bisa tertawa. Itu cukup bagus karena artinya mereka tidak stress lagi karena masalah ini, hal seperti ini yang harusnya mereka lakukan agar tetap waras dalam dunia yang baru ini.

TBC :v


Author note : Yoo! sepertinya kalian terkejut ya? hahaha maaf ane terpaksa meremake cerita ini karena sepertinya cerita Has Ended yang awal sangat sedikit konfliknya dan beberapa genre yang saya cantumkan tidak terpakai, akhirnya saya memutuskan untuk merombak ulang cerita ini agar lebih banyak memiliki konflik, di awal sebelum Remake, musuhnya hanya Zombie, tapi disini akan muncul musuh manusia yang mencari keuntungan di wabah ini.

Mungkin kalian akan kecewa, tapi ini adalah keputusan bulat. jika kalian tidak menyukai ini lagi makan kalian boleh pergi meninggalkan cerita ini. dan untuk yang bertahan membaca cerita ini, saya ber terimakasih.

Kalian boleh bertanya kepada saya, di Review maupun PM pribadi, tapi untuk PM saya tidak jamin Fast Respon karena kesibukan saya di Real life.

Shiraki~

Adiue~