Has Ended

Disclaimer:Naruto dan DXD bukan milik saya

Warning:Author new, Typo betebaran, bahasa Terlalu kaku.

Genre:Horror, Thriller, Tragedy, Mystery, Drama, Romance, Ecchi, Harem (mungkin?)

Rate : M (buat Jaga-jaga)

Author: Shiraki

Pairing : ...?

Summary: Dunia yang lama sudah berakhir, kini Manusia hidup di jaman yang lebih keras dari jaman batu, dengan kondisi seperti ini. Ribuan nyawa hilang karena sebuah wabah, wabah yang memberikan kesengsaraan dan menjadikan Manusia sebagai mahluk yang terancam punah.


Naruto dan Shikamaru kini terus berlari ke tempat yang bisa mereka pakai berlindung, Kuroka dan Akeno juga mengikuti mereka dari belakang dengan sekuat tenaga agar tidak tertinggal.

"Jadi Naruto? apa kau punya ide?" tanya Shikamaru yang kini mereka sudah berada di lantai satu sekolah, mereka dapat melihat bahwa lorong sekolah mereka sudah dipenuhi mayat hidup.

"Terobos sampe mampus?" balas Naruto ngawur.

"Eh si bego!" balas Shikamaru kesal.

"Ya mana ku tau! kau pikir kita bisa berpikir sekarang?" balas Naruto yang sepertinya juga kesal karena pertanyaan Shikamaru untuk menyuruhnya berpikir, padahal yang memiliki otak paling pintar di sini adalah dia.

"Ano..., bagaimana jika kita ke kantin? kita bisa mengambil makanan untuk bertahan hidup, karena makanan dan obat-obatan yang dibutuhkan sekarang." kata Akeno memberi usul.

Naruto dan Shikamaru yang melihat dan mendengarkan usul Akeno itu hanya diam, lalu Naruto dan Shikamaru saling menatap satu sama lain lalu kembali menatap Akeno sambil tersenyum.

"Khekhekhe, akhirnya kita bisa ambil 5 tanpa harus bayar." kata Naruto dengan senyuman yang terlihat seperti penjahat kelamin.

"Kau benar, kita jarah kantin sekarang!" balas Shikamaru sambil menunjuk ke arah kantin.

"Ahh, entah kenapa sepertinya mereka menikmatinya?" tanya Akeno dengan pelan.

"Itu kebiasaan anak cowok, mereka kadang makan 5 tapi bayarnya cuma 1 Akeno, kau tidak tau?" balas Kuroka yang tau kebiasaan murid laki-laki saat di kantin sekolah mereka.

"Begitu ya?" balas Akeno setelah mendengar jawaban Kuroka.

Kuroka tidak menjawab Akeno melainkan mengambil cermin di sakunya, lalu Kuroka menggunakan cermin itu untuk melihat para Zombie dari pantulan cermin. Karena mereka sedang bersembunyi di tembok untuk tidak terlihat para Zombie itu.

"Baiklah kita putuskan ke Kantin! ayo Kuroka! Akeno!" kata Naruto yang langsung menggenggam tangan keduanya.

"Sekarang apa yang bisa mengalihkan perhatian Zombie itu?" gumam Shikamaru sambil mengintip Zombie yang hanya diam di lorong.

"Naruto kau ada ide?"

"Aku? bukannya sudah kuberitahu tadi hah?"

"Ayolah berpikir kuning!"

"Cih! aku hanya punya ini." kata Naruto sambil mengambil sesuatu di jaketnya, Shikamaru yang melihat apa yang Naruto pegang langsung mendapatkan sebuah ide.

Shikamaru mengambil benda itu lalu menyeting benda yang tidak lain adalah smartphone, Naruto hanya cuek karena benda itu tidak akan terlalu berguna sekarang jadi dia tidak peduli jika Shikamaru ingin smartphone itu.

"Kuharap HP mu tidak memiliki video, Naruto." ucap Shikamaru yang langsung mengarahkan HP itu ke arah lain, karena ia menyeting alarm di HP Naruto untuk pengalihan.

"Hoi!"

Kriinnggg!

HP Naruto berbunyi beberapa saat kemudian yang benar saja menarik perhatian para Zombie, Shikamaru yang melihat itu langsung memberikan tanda untuk Naruto yang sudah lari duluan bersama Kuroka dan Akeno meninggalkan dirinya.

"Kuning sialan!"

Shikamaru langsung berlari mengikuti Naruto yang sudah berjalan terlebih dahulu sambil mengerutu, mereka terus berlari hingga mereka melihat salah satu siswa disana yang dalam keadaan sekarat.

Naruto langsung berhenti diikuti Shikamaru di sampingnya, Naruto berdiri di depan Akeno dan Kuroka untuk melindungi mereka. Shikamaru melihat orang itu terkena gigitan di tangan dan lehernya.

"Na-naruto-san? Sh-shikamaru-san?" tanya orang itu yang melihat Naruto dan Shikamaru, mereka semua terkejut karena dia tau nama mereka.

"Takumo? kau Takumo kan?!" kata Naruto langsung mendekati orang bernama Takumo (OC) itu, Shikamaru yang mendengar panggilan Naruto terkejut karena itu Takumo, salah satu teman dekat mereka di sekolah.

"Takumo-kun!/Taku-Nyaa!" ucap kedua gadis itu yang mengenal orang itu.

"Bagaimana kau bisa seperti ini!?" tanya Naruto yang menahan tubuh Takumo untuk tidak menyentuh lantai yang dingin.

Takumo hanya tersenyum lemah diwajahnya yang mulai kehilangan rona sehat.

"Naruto-san, bisakah kau menolong ku? anggap ini permintaan terakhirku." kata Takumo memegang tangan Naruto yang menahan tubuhnya.

"Apa yang kau bicarakan!? kau akan baik-baik saja!" kata Naruto mencoba meyakinkan temannya untuk terus bertahan, Naruto merasakan sebuah tangan dibahunya, ia melihat Shikamaru yang menggelengkan kepalanya.

"Tidak Naruto, kita tidak bisa berbuat apapun. Takumo, ia sudah terinfeksi dan sekarang hanya menunggu waktu untuk ia menjadi salah satu dari mayat hidup itu." kata Shikamaru mencoba memberitahu Naruto.

"Shikamaru-san benar, aku sudah menyaksikan sendiri, Yuna-chan berubah tepat di hadapanku dan langsung menyerangku." jelas Takumo membuat mereka semua terkejut, pasalnya Yuna adalah kekasih Takumo dan dia sudah tewas sekarang.

"Yuna-chan..., tewas?" kejut Akeno yang mengingat bahwa tadi pagi ia masih sempat berbicara dengan Yuna.

"Bisakah kau mengakhiri penderitaanku ini? aku yakin Yuna-chan sedang menungguku di sana." ucap Takumo dengan senyuman lemah, mereka semua hanya bisa menangis karena mendengar kabar kematian teman mereka.

"Baiklah, aku akan mengurus Takumo. Naruto kau jaga para gadis." kata Shikamaru yang membawa Takumo ke tempat yang tidak bisa diliat, tapi Shikamaru merasakan sebuah tangan menahan dirinya.

"Biar aku yang mengurus Takumo..., kau jaga mereka saja." kata Naruto dengan rambut yang menutupi matanya hingga ekspresi mukanya tidak terlihat.

Naruto langsung memapah tubuh Takumo meninggalkan Shikamaru yang hanya menatap diam mereka, Akeno dan Kuroka juga hanya melihat dari belakang tapi ia melihat sebuah getaran kecil dibahu Naruto.

Naruto sampai dikelas yang sudah kosong melompong, ia menaruh tubuh lemah Takumo di salah satu kursi di sana. Naruto menutup pintu kelas lalu ia kembali ke Takumo yang sudah mulai pucat.

"Takumo, karena kau adalah temanku, maka akan kuberikan kematian yang tidak menyakitkan untukmu." kata Naruto dengan membawa penggaris besi yang berada dikelas itu, Takumo tidak menjawab melainkan hanya tersenyum lemah seolah mengijinkan Naruto melakukan itu.

"Kau lahir sebagai Manusia, orang tua mu pasti bangga memilikimu. Yuna juga beruntung memilikimu, Sekarang aku akan membebaskan dirimu dari penderitaan ini. Matilah sebagai Manusia, Takumo."

Jleebb!

"Terima kasih, Naruto." ucap Takumo di akhir hidupnya tepat di sebelah Naruto, darah mengucur dari dada Takumo membasahi baju Naruto dengan noda darah.

Naruto hanya bisa diam berlutut didepan jasat Takumo yang terlihat bahagia, Naruto menundukkan kepalanya tapi dengan jelas bahwa ia sangat sedih dengan kematian temannya.


Shikamaru, Akeno dan Kuroka hanya bisa menunggu dengan tenang, sepertinya mereka juga dalam keadaan terpukul. Mereka kini sedang memikirkan semua temannya yang masih hidup atau sudah menjadi bagian dari mayat hidup itu.

Brtt! Brtt!

Shikamaru merasakan getaran dicelana miliknya, ia merogoh dan menemukan bahwa ponselnya sedang ditelpon oleh Temari, kekasihnya.

"Halo? Temari?"

"Shika! kau ada dimana? tolong aku, aku ketakutan disini." balas suara di sebrang dengan nada ketakutan, Shikamaru yang mendengar suara kekasihnya yang ketakutan pun sedikit panik.

"Tenanglah Temari, tetaplah diam disana dan jangan buat suara bising. Kami akan menyusul mu." ucap Shikamaru dengan nada menenangkan.

"Baiklah aku menunggumu di ruang klub sastra." balas Temari yang sedikit tenang karena Shikamaru akan menjemputnya, tiba-tiba sambugan terputus tanpa peringatan.

"Cih! sepertinya satelit umum sudah hancur." gumam Shikamaru yang melihat ponselnya sudah tidak memiliki sinyal, Shikamaru langsung memasukkan ponselnya siapa tau akan berguna nanti.

Sesaat kemudian Naruto keluar dari kelas dengan keadaan yang cukup mengerikan dengan darah yang menempel ditubuhnya, Akeno langsung berjalan kearah Naruto yang langsung ia dekap dipelukannya.

Akeno merasakan getaran kecil dibahu Naruto hanya bisa mengelus surai pirang itu, Shikamaru yang melihat itu mengintip ke dalam kelas yang terdapat jasad Takumo dengan penggaris besi yang menancap tepat didadanya. Ia melihat ekpresi Takumo yang tersenyum menandakan penderitanya sudah berakhir, Shikamaru langsung menutup pintu itu dan berdoa sesaat untuk arwah Takumo.

"Naruto. aku tau ini sulit, tapi kita harus melakukannya." ucap Shikamaru sambil melihat Naruto, Akeno yang merasakan sepertinya Naruto sudah tenang perlahan melepaskan pelukannya, dia melihat mata Biru Sapphire yang biasanya indah dengan kelembutan dan misterinya itu kini memiliki pancaran yang jauh dari sebelumnya.

"Tentu, sekarang aku tidak akan gentar!" balas Naruto yang langsung tersenyum lebar dengan sisa air mata diujung matanya, Shikamaru yang melihat itu tersenyum kecil.

"Kau masih menangis tuh, seperti bayi saja." ledek Shikamaru mencoba untuk menurunkan tensi ditempat itu.

"Hehe, Berisik!" balas Naruto sambil menghapus air matanya.

Shikamaru memberikan sebuah brofist kepada Naruto yang tentunya dibalas Naruto, Akeno dan Kuroka yang melihat itu hanya tersenyum lembut.

"Sekarang kita akan lanjut ke kantin kan?" tanya Naruto untuk mengetahui bahwa tujuan mereka masih sama, Shikamaru menggelengkan kepalanya sebagai jawaban yang hanya bisa ditatap bingung Naruto.

"Kenapa?"

"Temari, kita harus ke ruang klub sastra untuk menjemputnya." balas Shikamaru dengan pelan, Naruto yang mendengarnya hanya diam hingga akhirnya...,

"Baiklah! ayo kita selamatkan dia!" balas Naruto dengan senyuman andalannya, sepertinya Naruto sudah pulih atau hanya berusaha terlihat baik-baik saja?


Drap! Drap! Drap!

"Sial! kenapa mereka semua bodoh!?" rutuk Issei sambil terus berlari menghindari kumpulan Zombie dibelakang mereka.

"Diamlah! lari saja!" balas Sasuke dengan kesal, Issei hanya bisa menggerutu dengan menarik tangan Rias yang sepertinya kesusahan mengikuti langkahnya.

Mereka terus berlari dari kumpulan Zombie yang ganas itu, tapi Zombie itu makin banyak membuat mereka semakin kewalahan. Apalagi kini mereka mulai lelah karena terus berlari.

"Sial! kenapa mereka tidak berhenti!? apa mereka tidak memiliki rasa capek!?" teriak Issei yang semakin kesal karena Zombie masih mengejar mereka dan kini mereka sudah kelelahan.

"Issei! aku ada satu rencana, tapi apa kau ingin mengikutinya?!" tanya Sasuke dengan melirik sekumpulan Zombie itu lalu melirik Issei.

"Jika itu bisa mengeluarkan kita dari situasi ini, katakan!" balas Issei dengan nada kesal, Sasuke yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.

"Baiklah ini rencananya...,"

Sasuke dan Issei berbicara sambil berlari, Rias dan Sakura hanya mendengarkan rencana mereka.

"Baiklah, kau pergi ke UKS dan aku akan ke kantin!" kata Issei dengan semangat, mereka bertiga hanya bisa sweatdrop mendengar perkataan Issei.

Sasuke melemparkan tongkat Baseball itu ke arah Issei, dengan refleks Issei menangkap itu dengan tepat.

"Gunakan itu, dan jangan tolong siapapun yang tergigit!" kata Sasuke yang langsung memisahkan diri dengan Sakura dari Issei, remaja berambut coklat itu hanya tersenyum dengan tipis. "Jangan sampe mati." gumam Sasuke pelan.

"Tidak akan, karena aku akan tetap menjadi manusia!"

Akhirnya mereka memisahkan diri di saat melihat perempatan lorong sekolah mereka, dimana Sasuke yang tetap lurus sementara Issei ke arah kanan dengan tetap menggandeng Rias.

Kini kita beralih ke Issei terlebih dahulu, ia tetap berlari dengan sesekali menjatuhkan barang apapun di lorong untuk menghentikan para Zombie yang ganas itu.

"Issei-kun! bagaimana ini?! mereka memang berkurang sebentar, tapi para Zombie lainnya berdatangan karena kegaduhan yang kita buat!" tanya Rias yang melihat beberapa kumpulan Zombie yang awalnya tidak mengikuti mereka kini ikut mengejar mereka.

"Tidak ada cara lain, kita masuk di salah satu ruang klub disini!" kata Issei yang melihat ruang klub sastra, ia menghampiri ruang klub itu dan mencoba untuk membukanya. Tapi Issei tidak bisa membukanya karena...,

"Sial ini dikunci dari dalam! Hei buka pintunya! atau kuhancurkan pintu ini!" teriak Issei sambil memukul-mukul pintu itu dengan keras, para Zombie mulai mendekat membuat Issei semakin panik, tapi tiba-tiba ia mendengar suara kunci yang diputar.

Lalu pintu terbuka dan terlihat seorang perempuan berambut pirang dengan kuncir empat, itu Temari! kekasih Shikamaru yang membukanya, tanpa menunggu lama Issei langsung masuk ke dalam dengan Rias.

Issei langsung berusaha menutup pintu itu tapi ada salah satu Zombie yang menahannya dengan kepalanya Temari, Rias dan Issei berusaha menutup pintu dengan keras hingga Zombie itu terlihat kesakitan, Issei yang melihat itu langsung menghampiri Zombie itu dengan tangan yang siap memukul Zombie itu.

Duakh! Duakh! Brukkh!

Karena pukulan Issei yang mengincar kepala itu dan Rias juga Temari yang terus mendorong pintu membuat kepala Zombie itu lepas, kepala tanpa badan itu mengelinding dengan bebas di lantai. Issei langsung mengunci pintu dengan sedikit kesusahan karena para Zombie yang terus mendorong apalagi lubang kunci yang menjadi sedikit licin karena darah, tapi akhirnya Issei berhasil menguncinya.

"Hah~ hah~ kukira kita akan mati!" kata Issei dengan nafas yang tak beraturan, Rias dan Temari jatuh terduduk karena mereka merasakan lutut mereka kehilangan tenaga.

"Kau benar Issei-kun, itu menegangkan sekali!" balas Rias sambil mengatur nafasnya.

"Kukira tadi kalian Shikamaru, ternyata hanya Issei." kata Temari yang terlihat kecewa, Issei yang mendengar ucapan kekasih Shikamaru ini tiba-tiba merasa kesal, itu bisa dilihat dari perempatan dikepala Issei. Apalagi ucapan Temari tadi sangat menghina dirinya.

"Maaf saja! jika aku bukan Shikamaru!" teriak Issei dengan lantang, Rias hanya terkikik geli melihat itu, tapi Rias melihat ke sebelah Issei langsung pucat.

Issei yang melihat raut wajah Rias yang pucat hanya memiringkan kepalanya bingung, Rias menunjuk ke arah Issei yang hanya ditatap bingung. Temari yang mengikuti arah yang ditunjuk Rias juga mulai pucat, Issei kini melihat Temari juga melakukan hal yang sama dengan Rias membuat dirinya meraba dirinya sendiri, dia merasa tidak ada yang aneh lalu ia coba melihat sekitarnya hingga dia melihat rambut disamping kirinya.

'Rambut?' tanya Issei heran, ia melihat itu dan dapat ia lihat ternyata itu...,

"Kamprett! kenapa kepala ini disini!" teriak Issei sambil melompat menjauh dari sana.

Mereka melihat kepala Zombie itu dengan pandangan ngerihorror, bagaimana tidak kepala manusia dengan darah yang menetes ditambah dengan raut muka yang kesakitan membuat mereka serasa ingin memuntahkan isi perutnya.

"Issei-kun, tolong buang kepala itu, aku serasa ing-hueek!" Rias tidak bisa melanjutkan ucapannya karena ia merasakan sarapannya tadi akan keluar.

"Kenapa aku!?"

"Sudah lakukan saja! Issei!" bentak Temari dengan wajah yang hijau, Issei yang mendengar itu melihat kepala itu lalu menoleh ke arah Temari dan Rias yang memberinya anggukan semangat.

'Cih! memanfaatkan gender untuk hal ini!' batin Issei yang langsung mendekati kepala itu, ia menyentuh pelan kepala itu memastikan bahwa itu tidak akan kembali hidup dan menyerangnya. Setelah mengamati beberapa waktu membuat Issei yakin bahwa itu sudah mati.

"Maafkan aku karena memegang kepalamu, Oji-san. Tapi kau membuat masalah untuk kami!" kata Issei yang mengambil kepala itu dan berjalan ke arah jendela yang terbuka, ia kini berada di lantai dua yang tidak memungkinkan untuk Zombie masuk dari jendela. "Jadi! nikmati penerbanganmu!" lanjut Issei yang langsung melempar kepala itu sekuat tenaga, kepala itu terlempar keluar dan kebetulan mengenai salah satu Zombie yang berada di halaman itu.

"Rias. Aku bingung kenapa kau bisa jatuh cinta dengan pria seperti itu." kata Temari disamping Rias yang menatap Issei dengan pandangan datar.

"Entahlah, sekarang aku meragukan kenapa aku bisa menyukainya." balas Rias dengan keringat di belakang kepalanya, Issei kini menyatukan kedua tangannya seolah berdoa kepada Tuhan.

"Semoga arwah mu tenang...," kata Issei dengan ekpresi serius diwajahnya. "dan juga Strikeee!" tapi lanjutannya malah membuat Rias dan Temari ingin memukul kepala coklat itu.

Ya seperti itulah sisi Issei yang bisa dikatakan menegangkan tapi juga konyol.


"Sakura. Apa kau masih kuat?" tanya Sasuke melihat wajah Sakura yang terlihat lelah, sebenarnya Sasuke sendiri sudah mulai kelelahan dan jika mereka terus meneruskan kejar-kejaran ini akan membuat mereka tertangkap karena kelelahan.

"Hah~ hah~ aku masih kuat, UKS tinggal sedikit lagi!" balas Sakura dengan nafas terengah-engah, terlihat wajah putih itu dibanjiri peluh yang lumayan banyak.

"Baiklah, kalo begitu bertahanlah!" kata Sasuke menyemangati Sakura, mereka terus berlari hingga melihat sebuah pertigaan. Mereka harus ke arah kiri untuk ke UKS.

Sasuke dan Sakura memacu langkah mereka secepat mungkin, hingga akhirnya Sasuke berbelok ke kiri dan para Zombie yang bergerombol tidak bisa menghentikan langkah mereka hingga menabrak jendela yang disana sampai pecah dan menjatuhkan beberapa Zombie itu terlempar keluar.

"Dasar sekumpulan mahluk bodoh." kata Sasuke melirik para Zombie yang saling tumpang tindih itu.

Sasuke langsung meneruskan langkahnya untuk menjauh dari kumpulan mayat hidup itu, terlihat mereka sudah tidak dikejar karena para Zombie itu yang saling tumpang tindih menutupi jalan.

Mereka terus berlari hingga mereka sampai ke UKS, Sakura berusaha membukanya tapi nihil karena pintu terkunci dari dalam. Sasuke tau bahwa mungkin ada salah satu guru di dalam, karena yang membawa kunci UKS hanya para guru.

"Sensei! tolong buka pintu ini! kami masih selamat!" teriak Sasuke sambil menggedor pintu.

"E-eh? a-apa kalian benar-benar masih belum terinfeksi?" terdengar balasan gugup dari sebrang, Sakura yang mendengar suara dan nada gugup itu tau siapa guru yang berada di dalam.

"Rossweise-Sensei! ini aku Sakura! kami masih belum terinfeksi!" kata Sakura yang sepertinya berhasil menyakinkan guru itu.

"Sakura-san? apa benar itu kau?" tanya Guru bernama Rossweise itu terkejut.

"Ya! tolong buka pintu ini atau kami akan mati, Sensei!"

Ckleek!

Suara kunci dibuka terdengar jelas, disana muncul guru berambut putih mengenakannya seragam dokter yang menutupi asetnya yang besar itu, wajah guru itu terlihat gugup dan berkeringat entah karena apa.

Sasuke langsung masuk bersama Sakura, mereka langsung menutup pintu itu kembali dan akhirnya duduk dengan nafas terengah-engah. Guru itupun hanya bisa panik melihat keadaan muridnya.

"Tenanglah Sensei, kami hanya kelelahan." kata Sasuke berusaha menenangkan guru kikuk itu, Sakura hanya menyenderkan tubuhnya di samping Sasuke, tenaga mereka benar-benar terkuras habis karena terus berlari menghindari mahluk-mahluk itu.

Sasuke melihat ke sekitar dalam UKS dan ia melihat hanya ada Guru itu dan beberapa kantong mayat, Sasuke melihat Guru itu lebih seksama dan ia mendapati di jas dokter Gurunya terdapat noda darah.

"Sensei? apa Sensei mencoba menyembuhkan mereka!?" tanya Sasuke sambil bangkit menuju salah satu kantong mayat, ia melihat kantong itu dengan seksama hingga...,

Huarrrgghhh!

Kantong mayat yang berisi mayat itu seperti bangun dan meronta-ronta, Sasuke cukup terkejut hingga membuat semua yang berada di ruangan terkejut.

"Sial!" rutuk Sasuke yang melihat bahwa mayat itu sudah menjadi Zombie dan mencoba untuk merusak kantong mayat dari dalam, Sasuke melihat ke sekitarnya dia tidak menemukan apapun selain peralatan medis disana.

"Sasuke-san! coba tusuk leher belakang mereka! tadi aku menusuk salah satu leher dari mereka dan mereka langsung mati." jelas Rossweise dengan nada panik, Sasuke yang mendengar itu melihat sebuah gunting perak yang biasanya dipakai untuk operasi. Ia mengambil benda itu lalu berjalan dengan cepat menuju belakang Zombie itu, Sasuke langsung menahan Zombie itu untuk tidak berontak dan banyak bergerak.

Arrrhhggghh

Raung nyaring Zombie itu dengan terus bergerak, Sasuke yang menahan Zombie itu sedikit kewalahan karena tenaganya yang kalah besar dari mahluk itu.

"Siall! kenapa mereka punya tenaga sebesar ini!" rutuk Sasuke berusaha menahan Zombie itu.

Jllebbb! Arrrggghhh!

Sasuke yang tidak kuat langsung menusuk Zombie itu tepat di lehernya, tapi sepertinya itu masih belum cukup karena Zombie itu masih terus berontak.

Jllebbb! Jllebbb! Jllebbb!

Arrrggghhh!

Sasuke menusuk lagi sebanyak tiga kali dan sepertinya itu berhasil, terlihat bahwa Zombie itu sudah mulai melemah dan tidak memberontak. Sakura dan Rossweise yang melihat itu langsung menghela nafas lega, Sakura langsung berlari ke arah Sasuke untuk mengecek keadaannya.

"Sensei? apa kau tau penyebab dari bencana ini?" tanya Sasuke kepada Gurunya, karena dari yang Sasuke lihat di UKS dan banyaknya jumlah mayat membuat dia berspekulasi bahwa gurunya sedang melakukan otopsi untuk mencari sumber awal dari bencana ini.

"Tidak, aku mencoba menyelamatkan beberapa orang, tapi mereka tetap mati dan menjadi Zombie." balas Rossweise dengan kepala menunduk, Sasuke yang mendengar itu hanya diam karena dirinya juga tidak tau apa yang terjadi. "Aku tidak menemukan hal aneh, tapi gejala-gejala mereka muncul disaat mereka mau mati." lanjut Rossweise.

Sasuke yang mendengar itu hanya diam, ia mencoba bepikir bahwa tidak ada yang aneh di tubuh mereka yang masih hidup, tapi hal aneh terjadi saat mereka mulai menjadi Zombie. Itu seperti bahwa sumber itu mulai karena mereka yang sudah menjadi Zom-

Tunggu! itu artinya mereka tidak akan menemukan apapun ditubuh orang yang masih sehat, karena masalah mereka ada di Zombie itu. Berarti mereka harus melihat mayat para Zombie untuk mengetahuinya!

"Sensei! apa Sensei masih bisa melakukan Otopsi!?" tanya Sasuke dengan menatap Gurunya.

"E-eh!? untuk apa?" tanya Rossweise dengan nada bingung.

"Kita mungkin akan menemukan sesuatu kali ini." kata Sasuke dengan nada yakin.

Rossweise yang mendengar keyakinan muridnya itu sedikit tergerak, ia melihat ke arah Sakura yang menganggukkan kepalanya.

"Baiklah! Sakura-san kau bisa bantu aku?!" kata Rossweise serius, Sakura yang mendengar itu menganggukkan kepalanya yakin.

"Tentu! Ross-Sensei!"


Kini Naruto, Shikamaru, Akeno dan Kuroka sedang menghadapi masalah baru, Naruto dan Shikamaru saling memandang satu sama lain dengan pandangan datar.

"Kampret!" maki Naruto dengan memandang sesuatu didepannya, mereka kini berada dekat dengan klub sastra.

Tapi alasan Naruto mengumpat tadi karena melihat banyaknya Zombie di depan pintu klub sastra, Naruto dan Shikamaru tiba-tiba merasa bahwa mereka tidak mungkin menerobos kumpulan itu.

"Shikamaru, kenapa banyak kumpulan Zombie disana! bagaimana kita menyelamatkan Temari jika begini!?" tanya Naruto dengan nada kesal.

"Mana aku tau! aku memang mengira bahwa ada Zombie di klu klub itu, tapi aku tidak tau bahwa jumlah mereka melebihi perkiraankku!" balas Shikamaru yang kesal kepada Naruto.

Akhirnya mereka berdua berdebat yang cukup kekanak-kanakan, Akeno dan Kuroka hanya menggelengkan kepalanya.

"Akeno, sekarang bagaimana kita bisa mengatasi para Zombie itu? kita tidak bisa mengandalkan dua pria tolol itu sekarang." kata Kuroka yang melihat para Zombie itu yang terus mendorong pintu dengan tubuh mereka, Akeno yang mendengar ucapan Kuroka hanya diam dan melihat para Zombie itu.

Akeno melihat kearah sekitar mereka, Kuroka yang dari tadi melihat kearah kerumunan Zombie itu.

"Cih! gunakan otak pintar mu itu Rusa pemalas!"

"Berisik Duren!"

Akeno dan Kuroka yang melihat itu memandang satu sama lain, lalu tiba-tiba mereka tersenyum dengan senyuman yang terlihat aneh.

"Ehh?" kejut Naruto dan Shikamaru, pasalnya mereka yang tadi bersembunyi sambil berdebat untuk menyelamatkan Temari malah didorong keluar. Naruto dan Shikamaru melihat ke arah belakang mereka.

Sedangkan yang mendorong mereka hanya tersenyum tipis.

Naruto dan Shikamaru yang melihat senyuman itu sweatdrop, tapi mereka lebih terkejut dengan para Zombie yang kini melihat mereka.

"Alihkan perhatian mereka nee Naruto-kun, Shikamaru-san." kata Akeno dengan senyuman kecil.

'Iblis!/seram!' batin Shikamaru dan Naruto dengan pandangan suram.

Drapp! Drapp!Shikamaru dan Naruto mendengar langkah kaki langsung mengalihkan pandangannya pada para Zombie yang kini datang pada mereka, Akeno dan Kuroka langsung bersembunyi dibalik lemari yang ada disitu.

"Kampret!" rutuk Naruto yang langsung lari menjauh dengan Shikamaru.

Mereka terus berlari hingga entah sampai kapan.

Akeno dan Kuroka yang bersembunyi tadi langsung melihat ke arah klub sastra yang sudah tidak ada Zombie, mereka lalu menghampiri klub sastra tapi mereka harus terhenti karena melihat mayat di depan klub sastra.

Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah mayat itu tidak mempunyai kepala, Kuroka dan Akeno langsung mundur karena merasa bahwa akan ada yang keluar dari mulut mereka.

Sedangkan di dalam ruang klub sastra, Issei tidak mendengar suara Zombie lagi dan ingin mengintip.

"Jangan Issei! tunggulah beberapa menit untuk kepastian." halang Temari kepada Issei yang awalnya enggan, tapi akhirnya Issei mengikuti sarannya.

"Entah mengapa aku merasakan ingin tertawa." kata Issei sambil mencubit dagunya.

Sedangkan Naruto dan Shikamaru mereka terus berlari hingga mereka menemukan sebuah tali, Shikamaru langsung mengambil tali itu dan membawanya ikut berlari.

"Naruto! sebentar lagi ada perempatan! kau tarik ujung ini dan kita bisa menjatuhkan mereka semua!" kata Shikamaru yang langsung melemparkan tali itu, Naruto menangkapnya dengan cekatan.

Mereka berlari terus hingga akhirnya mereka melihat perempatan, Naruto langsung ke arah kiri sedangkan Shikamaru ke kanan.

"Sekarang!" teriak Shikamaru dengan menarik talinya, Naruto juga menariknya.

Sreettt! Dukh! Brukkh!

Para Zombie yang tidak bisa menghentikan langkah mereka, Naruto dan Shikamaru yang sudah merasa cukup langsung memandang satu sama lain dan menganggukkan kepalanya.

"Tidak buruk, Shika." ucap Naruto dengan melewati para Zombie itu.

"Kheh, mereka tidak memiliki refleks lagi." ucap Shikamaru yang melirik tumpukan Zombie itu.


"Heh~ jadi sekarang si Rusa dan Duren itu sedang dikejar-kejar?" tanya Issei kepada Akeno dan Kuroka, Akeno hanya menganggukkan kepalanya.

"Terima kasih sudah melakukan itu, kadang dua orang idiot itu harus dibuat seperti itu." kata Temari dengan senyuman kepada Akeno dan Kuroka.

Kuroka kini lebih memilih untuk melihat ke arah pintu ruang klub, ia melihat bahwa Naruto dan Shikamaru sudah kembali dengan langkah santai. Kuroka yang melihat bahwa mereka selamat hanya tersenyum tipis.

"Hei Shikamaru, menurutmu berapa orang yang masih selamat di sekitar Sekolah?" tanya Naruto sambil berjalan kearah ruang klub sastra, Shikamaru yang mendengar itu menaikan alisnya bingung dengan pertanyaan Naruto.

"Memang kenapa?" balas Shikamaru sambil melirik Naruto disebelahnya.

"Tidak ada, hanya saja mungkin kita bisa menyelamatkan mereka." kata Naruto dengan nada pelan, Shikamaru memandang Naruto yang terus berjalan.

"Kita tidak bisa, dengan banyaknya jumlah itu juga akan meningkatkan bahaya." balas Shikamaru sambil melirik Naruto yang tiba-tiba berhenti, Naruto berdiri diam di tempatnya dengan kepala yang menunduk. Apalagi mata Naruto yang tertutup bayangan rambutnya membuat ekpresinya tidak terbaca.

"...jadi kita tidak bisa ya?" kata Naruto pelan, tangannya mengepal dengan erat hingga kuku jarinya memutih. Shikamaru melihat itu dengan datar tanpa ingin menjawabnya.

"Lupakanlah Naruto, kita hanya mampu menyelamatkan yang bisa kita selamatkan." ucap Shikamaru meninggalkan Naruto sendirian, Shikamaru tidak ingin berbicara dengan Naruto saat ini karena dia butuh waktu.

Setelah kepergian Shikamaru, ia melihat teman-temannya yang sedang bercanda, Akeno dan Kuroka yang tidak melihat Naruto memutuskan untuk menghampirinya, tapi mereka dihalangi oleh Shikamaru dan membiarkan Naruto untuk menenangkan diri.

Naruto kini sedang berdiri dengan pandangan yang menatap lantai, entah apa yang sedang terjadi pada Naruto, tapi mungkin ia sedang mengalami pergejolakan batin yang mendalam.

"Jadi sekarang apa?" tanya Naruto sambil melihat ke arah jendela luar, matahari mulai turun yang mungkin sebentar lagi sore.


Sasuke kini melihat dua perempuan paramedis itu, sedang melakukan otopsi serius itu terlihat dengan keringat yang keluar dari tubuh mereka yang membasahi pakaian mereka.

Sasuke yang tidak bisa membantu apa-apa hanya melihat ke sekitar ruangan, ia melihat-lihat isi UKS siapa tau ada makanan atau minuman yang bisa di makan.

Setelah melihat-lihat akhirnya Sasuke mendapatkan sebuah kantong plastik, ia melihat isinya yang ada tiga Onigiri dan dua Sandwich dengan satu botol minuman.

"Sepertinya ini milik Sensei, ah lebih baik menunggu persetujuan dari yang punya." kata Sasuke yang langsung menarun kembali kantong itu ke tempatnya.

Sasuke langsung kembali ke arah Rossweise dan Sakura, tapi ia melihat bahwa Rossweise-Sensei mengangkat sesuatu mirip batu berakar berwarna hijau.

"A-apa ini?" kejut Rossweise sambil melihat-lihat batu itu, Sakura dan Sasuke juga terkejut dan tidak tau menahu tentang itu.

Rossweise langsung membawa batu itu ke mikroskop disana, Rossweise mengaturnya untuk melihat apa benda itu.

Ia menaruh itu tepat ditengah, Sasuke langsung menuju ke arah Rossweise sedangkan Sakura menutup kantong jenazah itu.

"I-ini kan...," kata Rossweise dengan nada tidak percaya, ia mencoba untuk melihat itu lebih jelas.

Sasuke yang tidak tahu hanya bisa menunggu dengan sabar hingga Gurunya menjelaskan apa yang dia temukan, Sakura yang sudah mengurusi kantong jenazah itu sudah berada disamping Sasuke, ia ikut menunggu Gurunya.

Rossweise Sensei terlihat sudah mengamati benda itu, lalu ia mengambil sebuah plastik tipis di salah satu laci yang disana dan memasukkan benda itu ke dalamnya. Ia langsung melihat ke arah dua muridnya dengan pandangan serius.

"Ada yang ingin ku katakan pada kalian, tapi aku akan menceritakannya sambil makan." ucap Rossweise berjalan mengambil bungkusan yang ditemukan Sasuke tadi.

"Baiklah, Sensei..., "


Naruto, Shikamaru, Issei dan para perempuan kini berlindung didalam ruang klub sastra. Mereka memutuskan untuk menghabiskan malam disini karena akan sangat berbahaya untuk keluar di malam hari.

"Jadi kita akan disini sampai besok?" tanya Issei kepada Shikamaru yang dibalas anggukan oleh laki-laki berkuncir nanas itu, Naruto hanya diam dan menatap Akeno dan Kuroka yang sedang berbicara di depannya.

"Karena kemungkinan kita akan mati nanti banyak Issei, jadi saat malam mereka lebih menguasai." ucap Shikamaru sambil melihat keluar jendela, hari menjelang sore yang artinya sebentar lagi adalah malam hari.

Mereka hanya bisa duduk ditempat sana, karena tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk saat ini.

Kruyuukk!

"Ah..., maaf aku lapar hehe." ucap Issei dengan senyuman kaku, Temari yang melihat itu langsung berdiri dan berjalan ke belakang. Beberapa saat kemudian Temari kembali dengan beberapa makanan yang cukup banyak, Shikamaru yang melihat itu sedikit bingung bagaimana kekasihnya itu mendapatkan makanan sebanyak itu, sedangkan Issei malah menatap Temari atau makanan yang dibawanya dengan tatapan bersemangat.

"Temari? bukannya itu?" tanya Shikamaru ambigu.

"Ya, tapi daripada mubazir lebih baik kita makan saja hehe." ucap Temari yang sudah meletakkan makanan itu, Issei langsung menyambar salah satu keripik kentang disana, tapi sebelum ia bisa memakan itu ia dipukul dengan kuat oleh Rias.

"Itte-te! kenapa sih Rias?" tanya Issei sambil mengelus kepalanya, Rias langsung menunjuk ke arah Shikamaru dan Temari, Issei mengikuti arah tunjuk kekasihnya dan dapat ia lihat bahwa ada lelehan air mata di pinggir mata Temari.

"Sudahlah, lepaskan saja. Temari." ucap Shikamaru dengan menyentuh tangannya, Temari yang sedari tadi menahan apa yang ia rasakan akhirnya runtuh juga.

"Hiks~ hiks~" Temari menangis sambil memeluk Shikamaru di sampingnya, Shikamaru hanya bisa diam dan membiarkan kekasihnya menggunakan bahunya untuk digunakan kekasihnya.

"Hiks~ padahal hiks~ kami akan mengadakan camp, ta-tapi itu tidak akan terjadi hiks~" ucap Temari yang masih menangis, Issei dan yang lainnya yang mendengar itu hanya menundukkan karena mereka kini kehilangan semua teman mereka.

Naruto yang sedari tadi diam hanya melirik Temari dengan pandangan datar, Naruto berdiri lalu berjalan mengambil Onigiri disana dan langsung kembali ke tempatnya. Kelakuan Naruto itu langsung membuat mereka memandang dirinya dengan pandangan heran, Naruto tidak menghiraukan itu dan langsung membuka plastik Onigiri itu dan memakannya.

Naruto memakan Onigiri itu sambil ditatap oleh semua orang, Naruto memakannya hingga habis dan langsung mengucapkan syukur.

"Terima kasih atas makanannya." ucap Naruto yang langsung melihat mereka yang sedang melihatnya, Naruto menaikan alisnya bingung karena mereka masih belum memakan makanan itu.

"Apa? kenapa kalian tidak makan?"

"I-itu...,"

"Jika kalian merasa tidak enak, maka kalian harus berpikir bahwa itu adalah hadiah dari mereka yang sudah tiada untuk kita." ucap Naruto dengan nada pelan, lalu Naruto menatap mereka semua dengan senyuman tipis. "Lagipula harapan mereka kini pada kita, mereka sudah memberikan operan untuk kita. Jadi kita harus gunakan sebaik mungkin dan jangan disia-siakan." lanjut Naruto yang membuat semua orang tertegun atas ucapannya.

Shikamaru dan yang lainnya terdiam sebentar hingga...,

"Ya! kita harus memanfaatkan apa yang mereka tinggalkan! lagipula pasti mereka tidak keberatan atau anggap saja ini adalah bayaran untuk meneruskan harapan mereka!" ucap Issei dengan lantang, Naruto yang mendengar ucapan Issei hanya tersenyum sambil menatap mereka yang kini ingin mengambil makanan itu, meskipun awalnya mereka ragu tapi mereka berhasil melakukannya.

Temari yang mendengar itu langsung teringat semua teman-teman di klubnya, ia melihat mereka semua tersenyum dengan lebar kepada dirinya.

"Lakukan Temari-chan!"

"Makan saja itu! anggap itu bayaran untuk harapan yang kami titipkan pada kalian!"

"Ya itu benar!"

"Jangan ragu!"

"Bertahan lah!"

"Jangan menyusul kami terlalu cepat."

Temari yang mendengar itu langsung mengangkat kepalanya dengan senyuman yang terukir.

Di dunia nyata Temari mengangkat kepalanya, ia tersenyum ke arah Naruto dan yang lainnya.

"Ya! kita harus hidup!" ucap Temari dengan percaya diri.

Mereka semua yang mendengar itu hanya tersenyum, sepertinya harapan Manusia akan berlanjut terus. Sekarang kita lihat bagaimana mereka menghadapinya.

TBC :v


Author Note : Yoo apa kabar? kuharap kalian semua sehat-sehat saja, oke disini saya sudah mengupdate cerita ini.

Sekarang orang yang bertahan bertambah, dan karakter Takumo itu adalah karakter OC yang ane pake untuk pelengkap, untuk kematian Issei pasti masih ada tapi ane akan buat lebih lama tidak seperti versi sebelumnya.

Disini mungkin akan sedikit berbeda dari yang awal, tapi mungkin tidak banyak. Disini Naruto menjadi karakter yang emosional dan sensitif, tapi sifatnya akan berubah menjadi apa yang diawal cerita, intinya perkembangan semua karakter akan saya tunjukkan daripada versi sebelumnya yang terasa monoton.

Banyak yang bilang saya kehabisan ide? saya bukan kehabisan ide hanya saja saya sudah berpikir matang untuk me remake cerita yang terasa monoton, terserah kalian ingin berbicara apa tentang ini, tapi saya hanya melakukan apa yang menurut saya baik.

Mungkin kalian akan bertanya kok Gabriel belum muncul? jawabannya dichapter besok karena disini saya fokus ke Naruto dkk. Romance? sungguh saya tidak merasa membuat romance yang banyak disini tapi akan kuusahakan untuk ada Romance.

Oke sekian dulu.

See You Next Time!

Adiue!