Judul : Home Sweet Home

Chapter : 1

Crossover : Naruto x Hibike Euphonium

Genre :Romance, Family, Slice of life, AU, parody, ooc, dll .

Pairing : Naruto Uzumaki x Kousaka Reina

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan dan di OOC-kan :v

Rating : T (bisa merubah ke apa ajha)

A/N :

Judul gak nyambung dengan cerita, bodo amat~

.

.

.

.

.

Kemudian besoknya tahu-tahu sudah sekolah. Begitu bangun, aku tidak melihat Ibu atau Naruko. Sepertinya Ibu mengantar Naruko ke sekolah barunya lalu langsung bekerja di tempat barunya. Aku mengancing gakuran yang berwarna hitam hingga batas leher.

Aku melihat cerminan diriku di kaca, aku terkejut ini seperti bukan diriku. Maksudku aku tidak pernah memakai baju serapih ini sebelumnya. Sepertinya kata orang-orang Jepang itu negara yang kaku ada benarnya, ya?

Aku melepaskan gakuran yang aku pakai, lalu melepas kemeja putih di dalamnya. Aku memakai switer bertudung berwarna jingga, dan memakai gakuran dibagian luarnya seperti yang pernah kulihat di film jepang yang pernah ditonton adikku, aku pun melipat lengan bajuku hingga sebatas sikut. Aku mengacak rambutku di kaca. Good, gaya lamaku lebih baik!

Aku membuka buku pelajaran yang harus dibawa, semua tulisannya menggunakan huruf jepang. Aku bersyukur karena Ayah dan Ibu mengajariku membaca dulu. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak pernah mempelajari semua yang ada di buku ini. Dan aku kesulitan membaca kanji.

Aku menutup buku itu kemudian memasukannya ke dalam tas, kudengar semua anak di jepang memakai tas yang sama untuk sekolah. Aku berjalan keluar dari kamar lalu menuju ruang tengah apartement yang terdapat dapur dan meja makan. Aku melihat bekal makan juga peta yang sudah ditandai di meja, sepertinya Ibu mengkhawatirkanku soal ini. Arigatou naa, Kaasan..

Di depan pintu aku memakai sepatu sneaker putih dengan pola tiga garis hitam. Aku membuka pintu apartement, "Yosh!"

.

.

.

.

.

Sepanjang perjalanan aku melihat banyak siswa-siswi dengan seragam yang sama denganku. Mereka berbisik begitu melihatku entah apa maksudnya. Aku hanya mengabaikannya saja. Aku melihat pada ponselku, terpampang tidak ada yang aneh sama sekali pada wajahku. Aku sampai di gerbang sekolah, lalu melewati sekelompok orang yang berdiri di depan gerbang.

Sampai seorang pria yang mengenakan gakuran memanggilku dengan clip board dan pulpen di tangannya, "Hey, kau yang di sana.." Wajahnya menampakkan ekspresi dingin menatapku.

Dia menunjukku yang aku tatap bingung dirinya, "Cara memakai gakuranmu, switermu, lengan baju yang kau lipat, juga sepatu yang kau gunakan, semuanya melanggar peraturan.." ucap pria bersurai hitam dengan gaya emo tersebut sambil menulis sesuatu di atas kertas clip boardnya.

Aku terkejut mendengar perkataannya, "Hah?! Apanya yang melanggar peraturan? Aku berpakaian dengan normal!" Aku membela diriku.

Pria itu terlihat menghela nafas, "Hey, kau ini pelajar jadi bersikaplah seperti pelajar.. apa kau tidak diajari orangtuamu bagaimana cara berpakaian seragam yang sopan?"

"Apa salahnya? Aku hanya mengikuti tren.." belaku lagi, "..seperti yang kulihat di film.." lanjutku bergumam.

Pria itu mendengus seperti meremehkanku, "Film? Jangan samakan film dengan kenyataan, kau pikir sekolah untuk bermain drama?" Dia kembali menulis.

"Siapa namamu? Kau akan mendapat konseling di ruang BK.."

"Hah?! Tu-tunggu, kau tidak bisa melakukannya.. aku bahkan baru masuk sekolah ini.. aku juga baru tahu dengan peraturannya!"

Tentu saja, aku sama sekali tak bersalah di sini. Mereka bahkan tidak memberitahuku sama sekali tentang peraturan.

"Jelas sekali kau mencoba menghindar dari masalah ini, dan lagi peraturan di sekolah ini sangat ketat! Kami melarang siswa yang mewarnai rambutnya masuk ke dalam..!" Pria itu membentakku.

Aku merasa tersinggung, mewarnai rambut katanya. Rambut pirangku ini asli keturunan dari ayahku. Ayah sialan, kenapa kau menurunkan rambut pirang pada anak-anakmu..

"Asal kau tahu saja ya, aku tidak mengecat rambutku! Ini asli sejak aku lahir..!" Aku tidak mau kalah, karena dia baru saja mengolokku.

"Heh.." dia tersenyum meremehkanku lalu mendengus, perempatan muncul di keningku karena kesal.

Dia berlaga sombong dengan menyilangkan tangannya di depan dadanya, "Kalau begitu, bisa kau buktikan? Aku tidak percaya sama sekali dengan alasanmu.."

"Tentu saja, aku bisa!" Aku membuka album di ponselku dan mencari foto ayahku lalu menunjukkannya pada pria itu, "Lihat, bagaimana? Kau percaya sekarang.."

"Hoo.. jadi kau berdarah campuran, baiklah aku percaya.. tapi.." dia memotong ucapannya, lalu kembali mencatat sesuatu di kertas clip boardnya.

"..kau melanggar peraturan dengan membawa ponsel layar sentuh ke sekolah.." ucapnya dengan wajah datar, "Di sekolah ini murid-murid hanya diperkenankan membawa ponsel flip atau benda elektronik lainnya untuk belajar.. dilarang membawa tablet atau ponsel layar sentuh.." dia menadangkan tangannya di depanku, "Jadi, ponsel layar sentuhmu harus aku sita.."

"Hah?! Apa-apaan itu.. aku baru tahu ada peraturan seperti itu!" Aku dengan terburu-buru memasukan ponselku dalam saku celana di bagian belakang.

Pria itu terlihat berdecak kesal dengan tingkahku yang sulit di atur, dia perlahan maju untuk memojokkanku. Kami menjadi pusat perhatian oleh murid lain di pagi hari ini.

"Berikan sekarang juga!" Dia terlihat kesal dan memaksaku.

"Tidak akan aku berikan!"

"Kau keras kepala! Kau akan diskors jika terus membangkang!"

"Peduli amat, sejak awal aku tidak salah! Aku baru pertama kali masuk ke sekolah ini..!"

Pria itu tiba-tiba menarik bajuku, tidak mau kalah aku juga menarik bajunya. Kami berpandangan dengan tajam seakan menguliti satu sama lain. Kemudian tiba-tiba dia memukul wajahku sehingga membuatku emosi, aku kembali memukul perutnya. Semua orang yang melihat merasa panik, beberapa murid mulai berlarian mencari bantuan.

"Kehidupan sekolah macam apa itu? Sama sekali tidak menyenangkan!" Aku terjatuh ketika dia mendorongku.

"Hah?! Orang sepertimu itu dapat menyebarkan pengaruh buruk, apa kau tahu?!"

Pria ini terlihat sangat marah lalu menindihku seraya memukulku, aku yang tak mau kalah mengeluarkan segenap kekuatanku lalu memutar tubuh kita sehingga aku yang di atas.

"Lagian membawa ponsel dan cara berpakaian tidak akan mempengaruhi pelajaran, peraturan itu sama sekali tidak berguna!" Entah mengapa aku sangat emosi dan ingin melampiaskannya, aku hendak memukul wajah tampannya itu, tapi...

"Tentu saja ada.." aku berhenti dengan kerumunan orang-orang yang membuka jalan dan terlihat sesosok gadis yang berjalan ke arah kami dengan wajah datar, "Peraturan ada untuk mengatur tingkah laku manusia di dunia sosial, menjadi contoh yang baik adalah tujuan peraturan.."

Dia berjalan sedikit demi sedikit mendekati kami, aku terpana padanya, dan mengingat wajahnya yang pernah kulihat sebelumnya.

"Ketua OSIS.." Pria di bawahku berucap ketika melihatnya, "Menyingkir!" Pria itu mendorongku untuk melepaskan diri.

"Ketua, dia melanggar peraturan dan aku-" pria itu mencoba menjelaskannya pada gadis itu yang juga menatapnya tajam.

"Apa kau harus melakukan baku hantam untuk menyelesaikan masalah, Uchiha-san? Setelah ini, kau juga harus datang ke ruang BK.." ucap gadis itu yang membuat pria itu menyesal.

"Semua siswa di sekolah ini memegang prinsip yang sama dengan peraturan yang dibuat, lantas apa tujuanmu bersekolah di sini jika tidak mematuhi aturannya?" Dia mendekat dan berhenti di depanku, menatapku tajam dengan wajah dinginnya.

"Maka jika kau ingin tetap berada di sini, kau harus mematuhi peraturannya.."

Aku memandangnya dengan tajam juga lalu mendengus, "huh.. bukankah itu keterlaluan? Aku saja baru pindah hari ini.. jadi aku tidak tahu mengenai peraturan atau semacamnya.." jelasku.

Aku mendekat padanya yang berdiri angkuh di depanku, aku mendekatkan wajahku padanya yang lebih pendek dariku dan menatap tajam untuk mendominasinya, "Jadi menurutmu aku ini salah, ketua OSIS?"

Dia menatapku dengan wajah dinginnya, aku tersenyum meledeknya.

"Lihat,'kan? Kau bahkan tak bisa membalas-" ucapanku terhenti ketika tiba-tiba dia mendekapku dalam pelukannya, "Huh?!" Aku kaget bukan main ketika dia tiba-tiba meraba tubuhku dengan kedua tangannya, wajahku memerah atas perlakuannya.

Semua orang terkejut melihat perlakuannya padaku, beberapa laki-laki terlihat memerah melihat hal yang terlihat intim untuk orang yang bahkan tidak saling mengenal.

"O-oy! Apa yang kau laku- huah?!" Dia hanya diam saja ketika aku bertanya, ketika tangannya berhenti di dadaku dia mendorongku.

Aku langsung melindungi tubuhku yang merinding seperti perawan yang habis dilecehkan, "A.. a-apa-apaan itu?! Menjijikan!"

"Mulai besok patuhilah peraturan.." ucapnya yang berbalik berjalan menuju pintu masuk sekolah, "Dan juga, aku menyita ponselmu.." ucapnya dengan ponselku yang tiba-tiba berada di tangannya entah sejak kapan.

Aku tak percaya lalu memeriksa kantung celanaku, "Tidak ada.." aku langsung tersadar ketika dia merabaku tadi, dia mengambil ponselku.

Gadis itu benar-benar gila!

.

.

.

.

.

Aku mencuci wajahku setelah kejadian menyebalkan tadi di westafel lobi sekolah, aku memandang wajahku dari pantulan kaca jendela sekolah. Huh, benar-benar, ini pertama kalinya aku dipermalukan seperti ini.

Aku kembali mengingat ketika gadis itu meraba-raba tubuhku, sekilas hidungku menyentuh kepalanya. Wajahku memerah ketika mengingatnya, gadis itu baunya enak juga. Dia pakai shampo apa ya?

Tiba-tiba kepalaku dipukul dengan buku tebal hingga membuatku tersentak kaget, sambil mengelus kepalaku, aku melihat ke belakang. Aku menemukan pria bermata hijau dan bersurai baby blue. Hm, seorang pria yang cukup tampan.

"Noboru-kun, kau sama sekali tidak mendengarkan huh? Apa kau baik-baik saja, hm?" Ucapnya dengan aura blink-blink dan tersenyum tampan.

Aku merinding melihatnya, dia terlihat bingung dengan tingkahku.

"Ah gomen, sensei.. aku belum terbiasa dengan nama itu.. bisa panggil aku dengan Naruto saja?" ucapku jujur ketika di panggil dengan nama belakang yang baru, karena Ibuku menikah lagi dan menyetujui untuk mengganti namanya, akhirnya aku juga memakai nama itu.

Sekarang namaku menjadi Noboru Naruto, tapi itu terasa asing untukku.

"Baiklah Naruto-kun, Aku wali muridmu, panggil saja Mizuki-sensei.. sebentar lagi akan masuk kelas, kau harus ikut denganku.." ucapnya yang berjalan lebih dulu dariku.

"O-oh, okay.."

Aku mengikutinya melewati lorong demi lorong dari sekolah ini, aku melihat halaman di tengah sekolah ini yang terlihat di tumbuhi bunga-bunga. Aku melewati aula tengah yang luas, juga lift yang tersedia untuk sekolah ini, ini benaran sekolah untuk orang elit. Tidak cocok untukku, aku mulai khawatir untuk masuk di sekolah ini.

Sejujurnya, peraturannya memang menyebalkan tapi ku akui tempat ini memang luar biasa. Aku tersenyum ketika membayangkan gadis kaya, cantik, terhormat dan cerdas. Mungkin aku akan berusaha demi mendapatkan pacar ideal seperti itu.

Mizuki-sensei membuka pintu kelas 2-A yang akan menjadi kelas baruku, kami memasukinya lalu sensei menyuruhku untuk menulis namaku di papan tulis. Aku menulis namaku dengan huruf katakana yang besar. Aku tersenyum percaya diri ketika menulisnya, dengan ini aku akan mencari teman dan memulai kehidupanku di Jepang.

Selesai menulis aku meletakkan spidol di dekat papan tulis, lalu berbalik menatap teman sekelasku yang memperhatikan. Pandanganku tiba-tiba tertuju pada gadis bersurai hitam dengan bola mata ungu yang menatap tajam padaku dengan wajah dinginnya. Dia duduk paling depan sehingga membuatku hampir jantungan dengan tatapan intimidasinya.

Dia ketua OSIS yang menyita ponselku tadi, aku membeku seperti sedang berada di kutub utara.

Huaah~ jadi kita sekelas..

.

.

Kriiiing!

Bel sekolah akhirnya berdering setelah sekian lama aku menunggu dengan penderitaan intimidasi dari tatapan Ketua OSIS. Aku memasuki semua alat tulis yang dikeluarkan. Semua siswa terlihat mulai mengakhiri aktivitasnya masing-masing.

Sejak siang tadi sama sekali tidak ada yang mengajakku bicara, ini sungguh menyakitkan.

"Hari ini aku tidak ada kegiatan klub.."

"Wah! Bagaimana kalau kita main dulu?"

Aku melihat kedua siswa yang sedang berbincang soal pergi main, aku langsung tersenyum melihat mereka. Aku berjalan mendekat pada mereka, aku meletakkan tanganku di meja di antara mereka berdua lalu dengan antusias menatap mereka.

"Yo, apa yang kalian bicarakan? Apa kalian mau bermain ke suatu tempat?"

"Eh, itu.. kami ingin pergi main.."

"Ini pertama kalinya aku di Jepang, kalau bisa apa kalian mau memanduku.. ah, setelah ini kalian mau melakukan apa? Goukon? Karaoke? Itu biasa dilakukan orang jepang, 'kan? Kelihatannya menarik!" Ucapku antusias tapi kedua orang itu malah memandangku aneh dengan tatapan yang dingin sama seperti ketua OSIS.

"Bagaimana nih?"

"Kita diganggu preman sekolah.. kudengar orang yang dibesarkan di amerika itu kasar.."

H-huh? Nande? Mereka takut padaku?

"Yoho! Begitu ya, jadi kau dibesarkan di amerika, murid baru?" Tiba-tiba ada seorang siswa yang merangkulku, "Kalau boleh, bisa ceritakan sedikit tentang itu..?" Dia berucap lalu menyeretku untuk mengikutinya keluar kelas.

"Huh?! Tu-tunggu!"

Sekarang ini aku berada di lorong yang menghubungkan gedung-gedung sekolah yang terpisah. Tak ada siapapun di sini, aku menatap pria yang membawaku kemari yang sedang menatap murid-murid di bawah sana berlalu-lalang untuk pulang.

"Naa omae sa, cara bergaulmu itu tidak akan berhasil di tempat ini.." tiba-tiba dia menatapku seperti sedang mengguruiku.

"Huh? Tunggu dulu, siapa kau?"

"Teman sekelasmu, Inuzuka Kiba! Panggil aku Kiba!" Dia mulai memperkenalkan dirinya dengan tingkah sombong.

"Okay, jadi Kiba kenapa caraku tidak akan berhasil..?"

"Tentu saja, kau lihat.." dia kembali menatap murid-murid dibawah sana, "Semua orang di sini berjalan dalam sistem keras yang sama sejak mereka kecil, didikan yang kaku, cenderung membosankan.. sopan santun adalah nilai penting karena mereka berasal dari keluarga terpandang.."

"Huh.. aku tahu sih, tapi bahkan diluar sekolah seperti itu?"

"Benar sekali, cara bergaul serampangan dan liar itu tak akan membuat mereka mengerti soal sisi menyenangkannya.." jelasnya kemudian dia tersenyum sambil menunjukkan dirinya dengan ibujari, "Omong-omong, diam-diam aku juga badboy!"

"Oh begitu ya? Entah mengapa sekarang aku mengerti.."

"Karena itu lebih baik menyerah saja, semua siswa di tempat ini sudah terkungkung dengan peraturan sekolah dari yayasan yang menyeramkan.." jelasnya lalu dia menunjuk pada ketua OSIS di bawah sana yang sedang mendata murid-murid yang pulang sekolah, "Kecuali gadis itu.. Kousaka Reina.. dia cucu dari pemilik yayasan sekolah kita, dia sudah menjadi ketua OSIS sejak kelas satu, bahkan kudengar dia sudah bertunangan dengan salah satu guru di sekolah ini.."

"Huh?! Sudah bertunangan? Semuda itu sudah diatur.."

"Mau bagaimana lagi, dia pewaris tempat ini.."

Aku menatap gadis itu dari atas sini dengan pandangan kasian, "Huh.. pasti hidupnya membosankan sekali, tanpa pertemanan dan percintaan.."

"Jadi intinya menyerah saja.." aku menatap Kiba yang ada di sampingku.

"Kiba, kau tahu banyak hal ya.."

"Tentu saja, aku sudah pernah melakukan apa yang kau lakukan sebelumnya.. lagian aku dipaksa masuk ke sekolah ini, karena ibuku memergokiku merokok di klub kabaret.."

"Rasanya kau lebih nakal dariku.."

"Karena itu, ayo berteman.." aku melihat Kiba membuka resleting celananya langsung berpikir-pikir yang tidak-tidak, aku teringat masa-masa di amerika ketika temanku mengajakku ke bar.

Aku melihat dua laki-laki berotot bercumbu, sungguh cinta terlarang yang menjijikan.

"A-apa yang kau lakukan?! Aku masih pria normal!"

Dia memandangku kesal, "Apa maksudmu, ini tempat aku meletakkan ponselku.." dia memasukan tangannya ke dalam celana di bagian dalam, "Lihat.." dia menunjukkan ponselnya, "Aku memakai boxer yang ada kantungnya.. kau harus memiliki trik untuk bertahan di tempat ini.."

"Oh begitu ya.." aku memandang aneh padanya, "Omong-omong, ponselku bisa kembali gak ya?"

"Kalau kau ingin mengambilnya, mungkin di pegang Biwako? Ponselku juga pernah disita sih~" Kiba tertawa garing setelahnya, "Bisa kau beritahu IDLine dan sosmedmu, oh, apa kau pakai twitter?"

.

.

.

.

.

Kali ini aku sedang berada di neraka, dengan seorang ibu-ibu yang mengomel tentang bertingkah sopan. Dia menatapku tajam, aku tak peduli dengan omelannya dan bersikap masa bodo.

"Sudah mengerti?! Bersikap sopan itu penting untuk kebaikanmu, tidak hanya di sekolah tapi di rumah juga dan kepada siapapun juga, pada yang tua ataupun muda.." dia memegang harisen yang cukup tebal sambil mengibas-ngibaskannya, "Dan apa-apaan cara berpakaian yang tidak memiliki adat itu, orang terhormat harus memperhatikan pakaiannya.."

"Uh.. Okay.." Aku mengangguk dengan wajah malas setelah dia mengucapkan itu, aku ingin cepat mengakhirinya dan pergi.

"Cara merespon macam apa itu?!" Aku langsung bergidik ketika dia mengeraskan suaranya lalu aku pun duduk dengan sopan dengan wajah berkeringat, "Kau harusnya bilang hai wakarimasu sensei ketika orangtua menasehatimu, agar terlihat cerdas kau harus menghormati seniormu, itu akan mengkontribusi keseimbangan mental, kedewasaan, dan gaya hidup yang terhormat.. bahkan saat aku masih muda- hm?"

Dia melihat tajam padaku yang duduk bergidik di seberang sofa dari tempatnya duduk, "Apa kau mendengar apa yang aku katakan?!" Dia meletakan harisen dengan keras di meja.

"H-hai, sumimasen.."

Kemudian dia berlanjut mengomel lagi, "Sekolah ini berprinsip untuk mendidik siswanya untuk mematuhi peraturan yang ada, tapi tingkahmu yang bebal itu.. bla.. bla.. bla.."

Mou yamete..

.

.

"Kembali!"

Aku memandang ponsel di tanganku dengan bahagia, lalu mengelus ponsel itu di pipiku.

"Syukurlah, aku mendapatkanmu kembali.."

Biwako-sensei itu wanita tua mengerikan, kurasa aku harus berhati-hati agar tidak berurusan dengannya lagi. Wajahku memucat saat membayangkan omelan panjangnya itu. Baiklah, saatnya pulang dan membuat sarapan untuk Naruko.

Aku kemudian berlari di tangga menuju kelas untuk mengambil tasku yang masih kuletakkan di sana. Ketika aku berbelok untuk memasuki lorong kelas dua, aku berhenti tersenyum dengan pemandangan yang kulihat.

Terlihat dua insan sedang bercumbu di sana, yang kulihat bukanlah orang biasa. Itu adalah Ketua OSIS dengan Mizuki-sensei. Mataku terbelalak melihat adegan dimana Mizuki-sensei memasukan lidahnya ke dalam mulut Ketua OSIS. Aku langsung bersembunyi di belakang tembok.

Huh? Tunggu, jadi tunangannya itu.. huahh..

Aku menutup mulutku dengan tangan, aku masih syok dengan apa yang baru saja aku lihat. Aku kembali mengintip mereka yang masih bercumbu, terlihat Ketua OSIS mendorong Mizuki-sensei untuk melepaskan ciumannya. Dia terlihat terengah-engah dengan pernapasannya.

Mata Ketua OSIS bertemu dengan tatapanku yang kembali bersembunyi di belakang tembok.

Ketahuan..?!

"Sudah kubilang berhenti melakukannya di sekolah.." aku mendengar suara Ketua OSIS.

"Ahaha, aku hanya melakukan apa yang dilakukan seorang tunangan.." suara Mizuki-sensei.

"Aku serius.."

"Baiklah, jangan terlalu marah.. aku hanya memastikan kau tidak jatuh cinta pada laki-laki lain.." ucapnya yang terlihat berjalan menuju arah tempat aku bersembunyi, aku langsung ke bawah tangga agar dia tak melihatku.

Apa-apaan itu? Ketua OSIS dan Mizuki-sensei.. selain itu, gadis itu melihatku..

Aku kembali berjalan ke atas menuju lorong kelas dua ketika melihat tanda-tanda Mizuki-sensei tak ada, aku melihat Ketua OSIS masih berada di sana memandang keluar jendela dengan pandangan datar. Aku lanjut melangkah melewatinya ke dalam kelas, aku mengambil tasku lalu langsung pergi dari sana.

Tidak ada reaksi apapun diantara kami, kurasa yang harus kulakukan adalah diam seakan tak melihat apapun. Aku memakai lift untuk langsung turun ke lantai bawah. Setelahnya berjalan menuju pintu keluar gedung dan mendapati Kiba di sana yang sedang menyender di pintu keluar.

"Oh Naruto, bagaimana dengan ponsel.. uh? Naruto?"

Kiba menyapaku tapi aku mengabaikannya dan terus berjalan ke depan.

"Sepertinya Biwako terlalu keras padanya.." Ucapan Kiba yang masih dapat kudengar dan menyimpulkan hal yang salah tentang keadaanku.

.

.

.

.

.

Aku berjalan menuju gedung mansion mewah, tempat sekarang aku tinggal dengan ayah baruku. Aku membawa plastik belanjaan untuk makan malam. Aku menekan tombol ke lantai 72. Setelah sampai lift terbuka dengan terlihat satu pintu menuju apartementku.

Aku tinggal di apartement super highclass yang dibelikan ayah kami. Ibuku menikah dengan pria kaya dan terhormat kurasa, kudengar keluarganya memiliki banyak perusahaan tapi setelah itu ayah baruku memilih untuk menjadi konduktor musik klasik yang namanya sudah dikenal di seluruh dunia.

Aku belum bertemu dengannya, jadi kuharap Ibuku tidak menikah dengan orang aneh.

"Tadaima.." aku pulang dengan kemunculan sebuah tumpukan kardus, "Eh apa ini?"

"Oniichan! Okaeri.." lalu disambut dengan keberadaan adikku yang sudah berada di rumah.

"Oh Naruko, apa-apaan tumpukan kardus itu?" Aku bertanya pada adikku yang mengangkat tumpukan kardus itu dengan susah payah, lalu kubantu untuk mengangkatnya.

"Hari ini mama bilang anak perempuan dari papah akan tinggal di sini.."

"Oh, Anak perempuan.." aku yang mengangkat kardus itu langsung oleng begitu sadar ayah baruku punya anak, "Geh! Dia punya anak?!"

Naruko mengangguk, "Kudengar dia seumuran dengan Oniichan.." Naruko menyentuh pipinya senang, "Senangnya, Naruko akan punya kakak perempuan.."

Ini diluar dugaan aku akan punya saudara tiri..

Aku memotong daun bawang dengan perasaan bercampur aduk begitu mengetahui saudara tiriku akan datang, setelah itu aku memasukannya ke dalam sup. Pantas saja Ibuku bilang untuk memasak ayam panggang dan membeli kue untuk perayaan.

"Oniichan, aku bawakan kuenya di atas meja ya.."

"Okay, maaf merepotkan.."

Setelah selesai memasak aku dipaksa Naruko untuk menyambut kedatangan Ibuku dan kedatangan keluarga baru. Dan menyuruhku untuk memecahkan konfetti saat mereka tiba, biar surprise katanya.

Pintu ruangan mulai terbuka, begitu Ibu kami muncul kami langsung memecahkan konfettinya sehingga kertas warna-warni dan pita yang panjang keluar hingga mengagetkan Ibu kami. Ibu kami terlihat senang dengan hal itu dan memuji kami.

"Ah, hampir lupa.. Masuklah, kau pasti lelah.." Ibu terlihat berbicara dengan seseorang di luar, suara langkah sepatu terdengar dari luar.

Muncul sesosok gadis bersurai hitam dengan mata ungu indahnya yang berekspresi datar. Dia menggenggam tasnya dengan kedua tangan di depan tubuhnya.

"Ojamashimasu.." dia berucap dengan suaranya yang pernah kudengar, membuatku terbelalak dengan sosok dirinya di depanku.

Entah bagaimana aku malah terpeleset lalu menunjuk dirinya seakan melihat hantu, "Omae..!"

Gadis itu menatapku sekilas, lalu mengabaikanku.

"Hajimemashite, aku putri Noboru Taki, nama saya Kousaka Reina.. dengan ini, mohon bantuannya, Okaasan.."

"Huh?!"

Tunggu dulu, ini serius?! Kita akan menjadi saudara?

.

.

.

.

.

TBC

Yah, ini fict ketiga Erocc.. Kousaka Reina adalah waifu Erocc dari sekian banyak waifu.. tpi erocc ttp setia dengan jodoh masa depan..