Judul : Home Sweet Home

Chapter : 2

Crossover : Naruto x Hibike Euphonium

Genre :Romance, Family, Slice of life, AU, parody, ooc, dll .

Pairing : Naruto Uzumaki x Kousaka Reina

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan dan di OOC-kan :v

Rating : T (Bisa berubah kapanpun)

A/N :

Gak usah bacot, langsung capcus ajha~

.

.

.

.

.

"Hajimemashite, aku putri Noboru Taki, nama saya Kousaka Reina.. dengan ini, mohon bantuannya, Okaasan.."

"Huh?!"

Ibuku mendekat padanya dan memegang tangannya seperti putrinya sendiri, "Tidak usah seformal itu, kita ini keluarga, 'kan? Sekarang, masuk dulu.. Putraku sudah memasak makanan lezat untuk kita.."

"Tunggu okaasan, jadi dia akan menjadi saudaraku?!" Aku berteriak pada Ibuku yang menuntun gadis bernama Reina itu masuk, aku masih tergeletak di lantai.

"Tentu saja, dia akan tinggal bersama dengan kita.."

Naruko tiba-tiba memegang tangan Reina dengan akrabnya, "Semoga kita cepat akrab, Oneechan.." ucapnya dengan nada imut seperti biasa ketika memanggilku Oniichan.

"Naruto juga, cepatlah akrab dengan Reina-chan.." ucap Ibuku yang kemudian ketiga perempuan itu pergi ke dalam, meninggalkanku yang masih syok dan kedinginan di sana.

"Kau mengerjakan pekerjaan OSIS sampai selarut ini? Hebat sekali, pasti kau sangat kelelahan~ setelah ini Okaasan siapkan air untuk mandi ya.." Aku memperhatikannya dari seberang meja, Ibuku berucap lembut padanya seakan memanjakannya.

Aku menggigit sendok memperhatikannya yang mendapat perhatian dari Ibu dan adik perempuanku, seumur-umur Naruko tidak pernah melayaniku dengan memotongkan ayam panggang seperti yang dia lakukan sekarang.

"Begitu tahu, Oneechan akan datang, aku langsung membelikan kue coklat ini, lho.. aku akan memotongnya untuk Oneechan.."

"Ah, tidak perlu, aku sudah cukup kenyang.." dia dengan sungkan menolak tawaran Naruko.

"Tapi sudah terlanjur kupotong.. aku akan menaruhnya di kulkas, jadi jika Oneechan ingin, tinggal makan saja.." Naruko kemudian menaruh sepotong kue itu di kulkas.

Aku menatapnya tajam dengan mengacak-ngacak makananku memakai sendok. Dia tersenyum dengan polosnya di hadapan Ibu dan Adikku, padahal sebelumnya dia bertingkah seperti penguasa di sekolah tadi.

"Reina-chan, tanggal berapa kamu lahir?" Tanya Ibuku.

"Tanggal 15 Mei.."

"Hoo~ berarti kau akan jadi kakaknya dan Naruto yang jadi adiknya, karena kau lahir lebih dulu.." mendengar itu aku langsung menatap ke arah lain pada jendela apartement yang memperlihat kelap-kelip kota di bawah sana.

"Kenapa aku jadi adiknya..?" Jawabku jutek kemudian aku merasakan aura menyeramkan dari sosok Ibuku.

Aku melihat rambutnya yang melayang-layang dengan tatapan mengerikan menatapku tajam, "Bukankah kau senang mendapatkan kakak perempuan yang cantik, Naruto..?" Tanya Ibuku yang berada di seberang meja membuatku bergidik ngeri.

"Ha-habisnya dia itu tadi di sekolah-" ucapanku terhenti ketika pandanganku berpindah pada Reina yang sedang memegang garpu dan pisau.

Sama saja dengan Ibuku tatapannya sangat tajam dengan aura kelam yang mengelilinginya, terlihat lebih menyeramkan karena dia tidak mengucapakan apapun. Aku kembali menatap pemandangan di jendela, pura-pura tak melihat mereka yang mengintimidasi keberadaanku.

Sepertinya lebih baik aku tutup mulut saja..

"Oneechan kelihatannya orang yang pemalu ya~" ucap Naruko yang tersenyum dengan wajah polosnya.

Naruko, dia itu bukan pemalu, dia itu perempuan gila! Sadarlah!

Naruko hanya tertawa dengan wajah bahagianya yang polos itu, percuma saja dia memang menuruni sifat polos ayah kami yang brengsek.

Seperti orang bodoh saja, aku tidak mempedulikan soal pesta penyambutan, lalu memakan makan malamku dengan rakus hingga mulutku di penuhi makanan sehingga nampak seperti tupai.

"Naruto.. Makannya pelan-pelan.." omelan Ibuku yang kuabaikan.

"Gomen nee, Reina-chan.. Naruto kurang sopan.." jelas Ibuku.

Okaasan, kau tidak perlu minta maaf.. gadis di sebelahmu tidak sebaik yang kau pikirkan.

"Omong-omong, Reina-chan kau tinggal bersama kakekmu selama ini kan?"

"Tidak, saya tinggal sendirian di mansion keluarga Kousaka.."

Wajah Ibuku berubah canggung ketika membicarakan hal pribadi, "Kau tinggal sendirian? Apa Taki-kun sering mengunjungimu di sana? dia memang sibuk berkeliling dunia dengan konsernya jadi kupikir-"

"Dia tidak pernah mengunjungiku.." Aku melirik Reina yang menatap pemandangan dari jendela kaca, "Sudah 7 tahun aku tidak bertemu dengan Ayahku.."

Ibuku terlihat terkejut dengan kenyataan itu, "Oh.. pasti sulit ya hidup sendirian.."

Huh? Itu sungguh kehidupan?

"Tidak, kakek selalu membantu soal keuanganku.."

Aku menggigit sendok menatapnya yang masih memandang keluar jendela dengan wajah datarnya itu seakan dia menghindari kontak mata dari Ibuku.

Jadi, selama ini dia hidup sendirian ya..? Apa dia tidak kesepian..?

"Ah.. kudengar kakekmu pemilik yayasan sekolahmu, 'kan? Dia memiliki apartement di sekitar Chiba.."

Uh, benar juga.. Kiba bilang dia cucu dari pemilik yayasan..

"Itu benar, tapi aku jarang mengunjungi kakekku.. Dia lebih sering tinggal di kediaman keluarga Kousaka dekat sekolah.."

Kalau dia jadi kakakku, itu berarti..

..Aku juga cucu dari pemilik yayasan, 'bukan? Mataku membesar ketika aku membayangkan kehidupan bagai selebritis yang sering kali kulihat di TV.

Aku bisa mendapatkan apapun dengan uang!

Wuoh! Aku orang elit dan kaya raya!

"Ehehehe-agh! Uhuk-uhuk-uhuk..!" Tiba-tiba aku tersedak potongan daging ayam ketika tertawa nista.

"Eh?! Oniichan! Kau baik-baik saja?" Naruko memberikanku air minum yang langsung aku tenggak hingga habis.

"Hah.. hah.. hah.. tadi itu bahaya banget.." ucapku dengan wajah berkeringat kemudian aku melihat pada Reina yang sedang membereskan alat makannya.

Dia menatapku juga dengan wajah dinginnya, "Baka.." ucapnya yang membuat perempatan amarah muncul di wajahku.

Apa masalahnya sih..?!

.

.

.

.

.

Aku masuk ke dalam bak berisi air panas setelah membilas diri, aku melihat ke langit-langit kamar mandi dan bersender pada bathtub. Aku menghela nafas begitu ingat ketika Ibuku bilang bahwa aku akan memiliki seorang kakak perempuan.

"Tiba-tiba bilang begitu, mana mungkin aku bisa menerimanya dengan mudah.." aku berkata pada diriku sendiri lalu menenggelamkan wajahku di air.

Mungkin jika saja dia orang lain, aku masih bisa menerimanya..

Dia bersikap seolah-olah tak terjadi apapun di hadapan oranglain, selalu menunjukkan wajah tenang itu. Aku kembali terngiang ketika Reina berciuman dengan Mizuki-sensei, aku terbangun mencari oksigen setelah menenggelamkan kepalaku ke dalam air. Dia bisa melakukan hal kotor juga sebagai perempuan terhormat.

Tapi dia terlihat mendorong Mizuki-sensei, jadi apa dia terpaksa melakukannya?

Aku jadi penasaran, sejauh mana mereka sudah melakukan itu?

aku mendengus dan tersenyum.

Wajahnya super memerah dengan tatapan mata yang melayu, bibir manisnya bergerak mengikuti gerakan sensei.

Dia bisa membuat ekspresi mesum seperti itu juga ya..

Gadis sombong seperinya terlihat manis juga saat melakukannya, kira-kira seperti apa rasanya ya.. apa sehebat itu?

Aku melihat pada bagian bawahku yang samar-samar karena air, ketika menyadari hal aneh saat melihat sesuatu menegang.

"Hm?" Mataku melebar begitu menyadari bahwa aku baru saja membangkitkan hasrat lelakiku ketika membayangkan Reina, "Wuah! Aaargh! Kenapa aku jadi membayangkan hal sexy tentangnya?! Aku harus memikirkan hal menjijikan!"

Aku langsung memikirkan hal menjijikan yang pernah terjadi dan terlintas pria berotot yang bercumbu saat aku ke bar bersama Deidara di Kanada. Hasrat kelakianku kembali turun, aku merasa lega.

"Pengalaman traumatis itu ternyata ada gunanya juga.."

Sepertinya ada hal yang salah denganku..

.

.

.

.

.

Aku menggosok rambutku dengan handuk begitu keluar dari kamar mandi, aku yang berjalan di lorong rumah melihat Naruko yang masuk ke kamar Reina. Aku melihat mereka dari depan pintu sambil mengusap rambutku.

"Oneechan, biar kubantu ya.." Naruko terlihat antusias membantu Reina yang sedang berbenah.

"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri.." mendekati orang seperti Reina memang sulit.

"Wahh! Boneka kucing yang lucu~" puji Naruko yang hendak mengambil boneka itu, tapi tiba-tiba Reina mengambilnya seakan tak memperbolehkan Naruko untuk menyentuhnya.

Naruko terkejut kemudian dia pindah ke sisi lain dari Reina dimana boneka kucing itu berada di dalam tas Reina, "Aku juga punya boneka kucing yang lucu-" ucapan Naruko terhenti ketika Reina menutup resleting tasnya, seperti tak ingin memperlihatkan keberadaan boneka kucing itu.

"Apa ada yang masih ingin kau bicarakan?" Tanya Reina menatap tajam Naruko yang terlihat ingin menangis.

Naruko menunduk dalam, "Ti-tidak ada.. gomen'nasai.." setelah mengucapkannya Naruko berlari ke kamarnya.

"Oy, Naruko.." aku memanggil Naruko yang hanya diabaikan, aku memandang kesal pada sesosok gadis di depanku.

Aku memukul pintu kamarnya untuk mendapat perhatiannya, "Oy, bersikaplah lebih baik pada Naruko.. dia hanya ingin dekat denganmu.."

Dia tidak mendengarkanku dan terlihat mengganti halaman dari buku yang sedang dibacanya.

Dia mengabaikanku!

Aku mencoba meredam amarahku, aku tidak ingin Ibuku mendengar pertengkaran antar saudara tiri karena saling membenci. Aku masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu, aku mendekat padanya.

"Aku tahu kau tidak bisa tiba-tiba menerima kami sebagai saudara, tapi orangtua kita sudah menikah, kau tidak ingin membuat mereka sedih, 'kan?" Aku mengulurkan tanganku padanya yang duduk bersimpuh di lantai, "Karena itu, kita bisa mencoba menjadi teman terlebih dahulu.. ayo berteman.." jelasku padanya meskipun aku belum bisa menerimanya.

Dia menatapku dengan wajah datarnya lalu bangkit dari posisinya, aku terkejut lalu langsung menghindarinya. Aku takut dia akan memelukku lagi seperti yang terjadi di sekolah tadi. Dia terlihat memindahkan tasnya di meja belajar lalu bergerak entah mencari apa di dalam tasnya.

Dia mengabaikanku lagi!

Kali ini aku benar-benar kesal kemudian aku tiduran di lantai dengan tanganku sebagai bantalan, salah satu kakiku terangkat lalu menggantung di lututku. Aku meliriknya yang sibuk entah melakukan apa.

"Omong-omong, aku tadi melihatmu berciuman dengan guru di sekolah.." setelah mendengarnya Reina berhenti bergerak, aku tersenyum lalu pandanganku berubah ke atas langit-langit kamar.

"Kau selalu berbicara soal peraturan ini-itu, tapi melakukan hal ecchi di sekolah itu lebih gawat, 'bukan? Gapapa tuh, Guru dan Ketua OSIS melakukannya? Kalian terlihat menikmatinya, apa ciuman seenak itu?"

Aku mendengus lalu menutup mata, masih menikmati untuk menjatuhkan harga diri gadis ini, "Oh, atau mungkin kau tipe cewek mesum yang melakukan itu di tempat umum untuk dilihat oranglain? buruk sekali~" Sementara itu aku mendengar suara langkahnya yang mendekat.

Aku mendengar langkahnya yang berhenti seperti melangkahiku, aku membuka mataku dan melihatnya yang berdiri di hadapanku dengan masih menggunakan seragam sekolahnya.

Dia mengurungku diantara kakinya, beberapa detik kemudian aku melihatnya turun ke bawah. Wajahnya mendekat pada wajahku, mataku melebar, ketika merasakan benda kenyal menyentuh bibirku seperti membungkamku untuk bicara.

"umm..! Nng.. mmmn..!" Aku mengerang agar dia menghentikan ciuman sepihak itu.

Dia duduk di perutku, menahanku agar tidak melarikan diri. Aku mulai memberontak ketika dia memperdalam ciuman itu. Aku mendorong pundaknya agar menjauh, aku berhasil lepas darinya dan berusaha bangun.

"Teme! apa yang kau-"

Tapi dia tak membiarkanku, tangannya menangkup wajahku. Dia mengambil kesempatan ketika mulutku terbuka, aku semakin terkejut ketika dia memasukan lidahnya. Lidahnya bergerak di dalam mulutku, deru nafas yang tergesa-gesa, erangannya yang sedikit terdengar membuat pikiranku tercampur aduk.

Meskipun begitu, aku laki-laki dan memiliki tenaga lebih kuat darinya. Aku mendorongnya hingga dia lepas terjatuh ke bawah, dan aku berada di atasnya. Aku memandangnya penuh amarah seiring tanganku yang menggenggam erat pergelangan tangannya, dia hanya terdiam seakan tak merasa bersalah.

"Apa menurutmu ciuman seperti itu terasa menyenangkan?" Dia menatapku dengan wajah datarnya, aku terkejut melihat matanya yang kosong itu.

"Reina-chan, apa kau tidak mandi? Nanti air panasnya keburu dingin!" Seruan Ibuku membuatku tersadar.

Aku melonggarkan pegangan tanganku dari pergelangan tangannya, lalu bangkit untuk berdiri. Setelah itu, aku membuka pintu kamarnya. Kulihat dia masih duduk menatapku di sana.

"Jangan melihatku dengan mata itu.." ucapku padanya lalu menutup pintu kamarnya.

Aku masuk ke dalam kamarku, aku mengusap bibirku dengan punggung tanganku. Aku memandang ke bawah lantai dengan gejolak yang terasa aneh.

Ciuman macam apa itu?

Sama sekali tidak ada manis-manisnya.

.

.

.

.

.

Aku memandang ketiga perempuan yang merupakan anggota keluargaku sedang berbincang di depanku, terlihat Ibuku membawa belanjaan yang banyak. Hari ini adalah hari sabtu weekend. Demi mengakrabkan diri dengan Reina, Ibuku mengajak kami berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan.

Kami berjalan begitu lampu menunjukkan warna hijau untuk pejalan kaki, aku melirik pada Reina yang sedang bicara dengan Ibuku. Wajahnya masih menunjukkan ketenangan setelah hal yang dia lakukan padaku kemarin.

"Ha~ Okaasan senang sekali, bisa belanja dengan ketiga anakku.. Reina, kalau kau menginginkan sesuatu, tidak usah segan bilang ya.."

Ibuku lagi-lagi memanjakannya, padahal dia anak orang kaya.

"Kita adalah keluarga, Okaasan ingin tahu apa yang kau sukai.. Naruko juga ingin tahu, 'kan?" Tanya Ibuku pada Naruko yang mengangguk senang, sepertinya Naruko sudah melupakan hal menyebalkan yang Reina lakukan padanya kemarin.

Adikku memang anak yang baik!

Sejak ciuman dadakan yang dilakukannya padaku, hari itu aku tidak bisa tidur sama sekali. Dia tak mengatakan apapun, dan keseharian kami berjalan seperti biasanya. Sebenarnya apa yang ada di pikirannya?

Tunggu, kenapa hanya aku memikirkannya?!

"Awas!" Aku melihat seseorang yang menaiki sepeda yang berjalan kencang ke arah Reina, dengan refleks aku menarik tangannya agar menyingkir dari sana.

Bodohnya sepeda itu malah menabrakku dan rodanya tepat mengenai kakiku yang tertahan. Bersamaan dengan itu aku terjatuh tapi reflek lagi aku memegang tangan Reina yang berada di dekatku.

Kami jatuh ke dalam kolam air mancur yang ada di belakang kami sehingga tubuh kami basah, orang yang ada di sepeda terjatuh dari sepedanya. Aku merasakan kaki kananku yang berbunyi karena tertahan oleh tindihan sepeda.

Krek!

Eh?

Tak berapa lama aku merasakan nyeri yang sangat menyakitkan. Wajahku membiru menyadari hal itu.

"Eh?! Naruto, kau baik-baik saja?!" Ibuku berucap memandangku dengan kekhawatiran.

.

.

"Katanya hanya keseleo biasa, dalam 2-3 hari akan sembuh.." ucap Ibuku saat kita berada di rumah, kaki dibalut perban yang melilit, hanya saja bajuku masih basah.

"Langsung mandi saja, nanti kamu bisa masuk angin.. Okaasan sudah menyiapkan ofuro untukmu.." ucap Ibuku yang kuturuti dengan berjalan ke arah kamar mandi dengan hati-hati.

Aku berjalan dengan susah payah sambil memegang tembok agar tidak terjatuh, begitu sampai aku masuk ke dalam. Aku membuka bajuku yang masih basah lalu menaruhnya di dalam mesin cuci. Oh sial, karena melindungi cewek itu, jadi aku yang kena getahnya.

Tidak salah lagi, dia pembawa sial dalam kehidupanku. Aku masuk ke dalam bilik shower sekaligus ofuro setelah membuka baju di ruang mencuci pakaian.

Aku mendengar pintu kamar mandi terbuka dengan seseorang yang masuk ke dalam, namun karena ruang mencuci dan tempat mandi terpisah oleh kaca yang di desain burem aku tak melihat siapa itu. Mungkin itu Naruko yang membawakan baju ganti untukku.

"Aku taruh di sini baju gantimu.." ucapnya yang kuyakini itu bukan suara Naruko, tapi cewek yang membuatku kesulitan berjalan.

"Oh yah, taruh saja di sana.." ucapku membalas omongannya.

Aku memutar keran air untuk membasuh tubuhku, aku kesulitan untuk berdiri jadi berinisiatif mengambil bangku kecil untuk duduk.

Sayangnya, bangku itu berada di ruang mencuci sehingga aku harus keluar untuk mengambilnya. Ketika aku akan membuka pintu bilik shower, pintunya sudah terbuka duluan oleh seseorang. Aku melihat Reina yang mendongak menatapku, perhatianku beralih semakin ke bawah.

Aku melihatnya tak menggunakan apapun, tubuhnya polos tanpa menggunakan apapun, dia telanjang bulat di depanku, membuatku teringat aku juga sedang tidak menggunakan apapun.

"Gyaaaaa!" Teriakku yang langsung membelakanginya, dan menyembunyikan kemaluanku darinya, "Ke-kenapa kau tidak memakai bajumu?! Tunggu, kau masih ada di sini?!"

"Okaasan, menyuruhku untuk mandi juga.." jelasnya yang sama sekali tak kumengerti, Ibuku pasti menyuruhnya mandi setelahku, 'kan?!

"Maksudnya apa itu?! Kau seharusnya mandi setelahku, 'kan?"

"Kupikir aku akan membantumu, lagian karena menyelamatkanku kau jadi kesulitan berjalan bukan?" Ucapnya yang menaruh bangku kecil untuk ku duduk, tangannya mempersilakanku untuk duduk di sana, "Silahkan.."

"Sebelum itu lebih baik kau pakai bajumu dulu.."

"Bajuku juga basah.."

"Ambil saja baju ganti dulu.."

"Aku tidak mau membuat baju bersihku basah juga.."

Aku memandangnya kesal padanya yang kemudian duduk di bangku kecil itu, aku meletakkan handuk kecil untuk menutupi daerah kemaluanku. Air shower yang sudah membasahiku dimatikan oleh Reina. Dia menggunakan busa untuk menggosok bagian belakang tubuhku.

"Tidak apa melakukan ini? Kalau ketahuan Okaasan akan berpikiran yang bukan-bukan, 'lho.." jelasku membuatnya berhenti menggosok dan aku menggunakan busa itu untuk membersihkan bagian depanku, sementara Reina sedang menggosok kepalaku dengan shampo.

"Okaasan sedang pergi belanja untuk makan malam dengan Naruko.."

Tunggu, kita hanya berduaan?!

Setelah selesai menggosok kepalaku Reina terlihat berdiri, "Aku akan nyalakan showernya.." setelah itu aku merasakan air shower yang menyiramku, aku menggosok tubuhku sendiri agar bekas sabun menghilang.

"Aku akan membopong ke ofuro" Dia membopongku ke shower meskipun sebenarnya aku bisa sendiri.

Kali ini aku sudah berada di dalam ofuro, aku memperhatikannya yang sedang menyabuni tubuhnya dengan sabun. Dia punya tubuh yang ramping, kulitnya terlihat putih dan sepertinya dia rawat dengan baik. Aku melihatnya yang menutup mata ketika membasuh tubuhnya dengan air.

Air itu menuruni dari leher, dada, hingga bagian bawahnya. Aku memperhatikan setiap sudut dari tubuhnya yang nyaris sempurna. Aku menenggak ludahku ketika membayangkan menyentuh tubuhnya. Kemudian aku tersadar dengan hal kotor yang baru saja kupikirkan. Aku mengusap wajahku dengan air untuk menahan pikiran aneh itu.

Tidak aneh juga, jika cowok dan cewek mandi bersama pasti akan memikirkan hal kotor seperti itu. Meskipun begitu, perempuan di depanku ini adalah anggota keluarga sekarang. Mana bisa aku mikirin hal kotor begitu. Dia terlihat berdiri menghadapku lalu berjalan ke arahku.

Aku tahu, dia ingin masuk ke dalam ofuro. Dengan kakiku yang terasa ngilu aku mencoba bangun dari ofuro. Jika aku berendam dengannya akan terjadi hal paling awkwar. Aku tidak ingin mengalaminya. Aku akan selesai mandi lebih dulu.

"Aku keluar duluan.." ucapku.

Tapi tiba-tiba Reina mendorongku untuk kembali masuk ke dalam ofuro. Aku merasakan ngilu yang teramat sakit di pergelangan kakiku ketika aku kembali terjatuh.

Dengan emosi aku menatapnya, "Apa yang kau lakukan, dasar bo-" omonganku terhenti ketika dia memelukku, mataku melebar dengan wajah memerah ketika merasakan dada D cupnya menempel di depanku. Aku merasakan hembusan nafasnya tepat di telingahku.

Lupakan soal hal yang akan awkwar, ini bahkan lebih gila.

Dia mulai bergerak sehingga menimbulkan pergesekkan pada tubuh kami, kurasakan hembusan nafasnya pada leherku juga jari lentik yang menggelitik pundakku. Aku merasakan lidah hangatnya yang menjilat leherku, membuatku tersentak lalu mendorong tubuhnya untuk menjauh.

Aku memandang nanar padanya sambil memegang leherku yang dijilatnya. Hal yang perempuan ini lakukan, benar-benar membuatku tak mengerti.

"Berhenti melakukan hal seperti itu.." ucapku padanya yang perlahan wajahnya mendongak menatapku dengan wajah datarnya.

"Meskipun kau terlihat ingin sekali kusentuh?" Ucapannya membuatku terdiam karena dia berhasil menebak pikiran kotorku.

Aku berada di situasi yang serba salah, kemudian aku berdiri tanpa peduli dengan sakit pada pergelangan kakiku. Aku menatapnya yang masih berada di dalam ofuro, kami saling bertatapan dengan aura yang tak mengenakkan.

"Aku ini laki-laki, jika kau melakukan itu, bisa saja aku yang akan langsung menyerangmu.. kau sudah punya tunangan, berhentilah memperlakukanku seperti itu.. Okaasan bisa sedih.." ucapku yang keluar dari ofuro dengan tertatih menuju ruang mencuci, aku melihat pakaianku di atas mesin cuci.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya aku hanya terbaring memandang acara TV serial luar dengan bosan, posisiku berada di sofa tiduran sambil memakan keripik kentang. Kakiku masih sakit jadi aku tidak masuk sekolah untuk sehari. Luang banget, ini membuatku bosan. Seharian ini kerjaanku hanya tiduran sambil nonton TV atau main internet.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, tapi belum ada yang pulang. Kudengar Naruko melakukan pertemuan klub di sekolahnya jadi akan pulang terlambat. Sedangkan Ibuku bekerja sebagai guru les Piano, biasanya dia sampai rumah jam 8.

Aku mendengar bunyi bip dari pintu yang terbuka, "Tadaima.." setelahnya mendengar ucapan salam darinya. Langkahnya terdengar melangkah ke dalam yang kuyakini itu adalah kakak tiriku.

"Oh, Okaeri.." aku yang masih rebahan mengangkat kaki kiriku ke badan sofa dengan lalu memasukan tiga buah keripik ke dalam mulutku, saat itu muncul Reina dengan wajah dinginnya menatapku seakan-akan aku ini sampah.

Mungkin yang ada dalam pikirannya kali ini adalah aku nampak seperti orang kampung atau sejenisnya. Memang tatapannya itu sangat membuat risih, terutama ketika aku sedang bersantai seperti sekarang. Aku balas menatapnya ketika selesai mengunyah.

"Apa?"

Aku bertanya padanya yang mengalihkan matanya ke depan.

"Tidak ada.." hanya itu yang dia katakan, lalu langkahnya menuju sudut ruang dapur yang masih terhubung dengan ruang tempatku menonton TV.

Dia meletakkan tasnya di meja makan, lalu entah bagaimana dia bertanya mengenai keadaanku.

"Bagaimana kakimu?"

"Hm, sama saja.. gatau kapan sembuhnya sih.." ucapku yang bangkit lalu duduk di sofa dan mengganti acara TV.

"Apa kau lapar? Mau kubuatkan sesuatu?" Dia menawariku yang hanya kujawab pasrah saja.

"Oh? Kau mau memasak?" Meskipun aku agak terkejut bahwa dia sampai repot-repot ingin membuat sarapan untukku.

Aku melihatnya yang membuka kulkas lalu mengeluarkan satu bulatan kol yang masih utuh, dia menatapku dengan wajah bertanya.

"Bagaimana dengan oseng sayur?"

"Seterah, asal itu bisa di makan.." ucapku yang kembali melihat acara TV.

DOK!DOK!DOK!DOK!DOK!DOK!DOK!

Suara pisau yang memotong dengan kasar membuatku berbalik ke belakang, aku panik melihat cara memotong Reina yang sangat mengerikan saat memotong kol dengan wajah dinginnya.

"Wah! Apa yang kau lakukan?!" Aku memegang kepalaku histeris melihat dari balik badan sofa dengan cara memotong psikopat yang sedang dilakukannya.

Potongan kasar itu cepat sekali selesai lalu dia langsung memasukkan potongan kol itu ke dalam wajan, memberi bumbu perasa seadanya, lalu mengosengnya dengan berantakan. Tidak hanya itu, setelah ini dia menuangkan wine dari botolnya ke dalam wajan yang menyebabkan api keluar dari wajannya.

Tunggu! Itu bukan pasta!

"Wahh! Oke, sudah-sudah! Sudah cukup!" Aku langsung berteriak hingga bangkit dari sofa untuk menghentikan tindakan memasaknya yang aneh itu.

13 menit kemudian..

Aku duduk di meja makan dengan disajikan kol oseng yang hangus dan gosong. Aku tersenyum canggung memandang makanan di depanku dengan aneh. Tidak aku sangka, saudara tiriku yang murid teladan tidak bisa memasak padahal ini hanya oseng sayur. Bahkan, aku bisa membuat ini jauh lebih baik darinya. Dan lagi kol yang kematengan itu menghilangkan nilai gizinya, lebih baik di makan mentah saja.

"Gomen, aku akan memesan makanan lain saja.." aku perhatikan wajahnya yang datar itu berubah menjadi menyesal dengan masakan yang dibuatnya, dia mengambil ponselnya untuk memesan makanan.

Aah, ini membuatku ingat.. ini sama ketika pertama kali aku memasak untuk Ibu dan Naruko, setelah Ayah pergi dari kehidupan kami dan Ibu sibuk bekerja. Saat itu aku mulai berinisiatif untuk memasak. Masakan buatanku saat itu gagal tapi Ibuku tetap memujiku dan memakannya..

Wajahku berubah masam saat melihat oseng kol di depanku.

Yah.. tapi saat itu hasil gagalku tidak seburuk ini..

"Sudahlah, tidak perlu memesan makanan lain.. kurasa jika ini dimakan dengan nasi tidak akan seburuk itu.." ucapku yang memakan oseng kol itu dan memaksa diriku untuk menelannya.

Reina menatapku dengan mimik wajah tak percaya, kemudian lengkung bibirnya naik ke atas. Saat itu untuk pertama kalinya aku melihat bibirnya tersenyum. Meskipun hanya senyum tipis entah bagaimana itu menggetarkan hatiku. Aku langsung menengok ke arah jendela melihat kelap-kelip kota di sana.

"Sudahlah, sekarang bisa kau ambilkan aku nasi?" Ucapku yang menyuruhnya untuk segera memberikan semangkuk nasi padaku.

Apa ini? Pasti ada yang salah denganku..

.

.

.

.

.

TBC itu menyenangkan :v