Judul : Home Sweet Home

Chapter : 3

Crossover : Naruto x Hibike Euphonium

Genre : Romance, Family, Slice of life, AU, parody, ooc, dll .

Pairing : Naruto x Reina

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Hibike Euphonium milik Ayano Takeda, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan dan di OOC-kan

Rating : T (bisa merubah ke apa ajha)

A/N :

Hmm..?

.

.

.

.

.

Sudah empat hari berlalu sejak kakiku kembali membaik, aku pergi ke sekolah seperti biasa dengan penampilan berandalku yang sama sekali tidak berubah. Aku tersenyum ganteng sembari menyisir rambutku ke belakang mencoba menebar karisma, meskipun banyak orang malah menatap jijik padaku.

Tentu saja, untuk apa aku takut dengan peraturan membosankan dari sekolah lagi? Aku sudah menjadi salah satu cucu dari pemilik yayasan di sekolahku. Sekarang, orang-orang tak berani berkutik denganku lagi, jika mereka tahu aku bagian keluarga dari pemilik yayasan. Heh, aku orang berkuasa.

AHAHAHAHAHAHA!

Aku tertawa dalam benak dengan penuh kegelapan hati.

Aku merasakan tangan seseorang menyentuh pundakku yang membuatku berbalik untuk melihat siapa yang mengusik khayalan indahku, aku melihat Kiba yang berpakaian rapih seperti biasa. Kemudian kami berjalan berdampingan menuju perjalanan sekolah.

"Yo, Naruto, bagaimana dengan kakimu?"

"Hoo~ Kiba, 'kah? Tentu saja, itu masalah kecil bagi oresama sepertiku.." ucapku dengan nada sombong.

Dia menatapku aneh, "Oresama?" Ucapnya penuh pertanyaan.

Kami berbelok menuju gerbang sekolah yang terbuka, di sana terdapat anggota OSIS yang lagi-lagi berdiri dan mencari kesalahan murid yang melanggar peraturan. Setelah diperhatikan, ternyata tidak hanya anggota OSIS. Terdapat guru-guru dan seorang pria tua entah siapa yang sepertinya sangat dihormati oleh mereka.

Kiba menghentikan langkahku, "Tunggu Naruto, itu kepala yayasan sekolah kita.. dia adalah orang yang membuat peraturan mengerikan sekolah kita, Kousaka Madara!" Ucap Kiba dengan panik melihat Pria tua itu.

"Lalu?"

Kiba melihat penampilanku dari bawah hingga atas, "Penampilanmu itu gawat banget! Hoodie dibalik gakuran, lengan gakuran yang dilipat, handband, terlebih lagi rambut pirangmu! Lebih baik, balik ke rumah saja sana..!"

"Meskipun rambut pirangku itu asli?" Kiba mendorongku untuk kembali pulang.

"Kalau kau bertemu dengannya, kau bisa dikuliti!" Aku menghindar dari Kiba.

"Oy-oy, tenanglah~" aku menunjuk diriku sendiri, "Kau lihat saja, aku bisa menangani ini.." aku menggosok hidungku lalu berjalan santai menuju Pak tua dengan tatapan dingin itu.

Tanganku melambai padanya dengan akrab, "Yo~ Ojiisan.." lalu mendekat padanya dengan senyuman sombong ketika orang-orang melihat-lihat ke arahku.

Pak tua langsung terkejut menatapku lalu ekspresinya berubah garang ketika menatapku, "Siapa kau seenaknya memanggilku Ojiisan?"

"Ayolah Ojiisan~ apa kau lupa? Sekarang aku ini cucumu juga.." jelasku padanya agar dia mengingat soal pernikahan anaknya.

"Apa aku mengenalmu? Aku bahkan tak ingat sama sekali.." ucapnya menatapku yang kemudian menilik penampilanku dari bawah hingga atas, "Dan penampilan tak beradat macam apa itu?! Apa kau memang murid dari sekolah ini?" Suaranya terdengar keras saat membentak penampilanku.

Yabee! Apa kabar pernikahan itu belum sampai padanya?!

"Bisa kau jelaskan ini, Reina?!" Dia menunjukku lalu menengok ke arah Reina dengan geram.

Reina hanya menunduk ketika dimintai jawaban, lalu dia membungkuk padanya seakan merasa bersalah soal diriku, "Makoto ni gozaimasen, Ojii-sama.. telah melihat kegagalanku mendisiplinkan satu siswa.."

"Kau tahu aku paling tidak suka melihat kesalahan! Aku tidak mau tahu, aku tidak ingin melihat penampilan anak ini lagi..!" Ucapnya memandang Reina dan aku dengan tatapan sinisnya.

"Hai, ojii-sama.." Reina tak berhenti menunduk hingga pak tua itu pergi.

Apa ini? Ini sama sekali tidak terlihat seperti hubungan keluarga yang baik..

"Oy, Kuso Jiji!" Aku memanggil Pak tua itu dengan bahasa kasar membuatnya berhenti dan menoleh padaku, "Kalau ingin marah jangan melimpahkannya pada Ketua OSIS, lagipula ini semua kemauanku melanggar peraturan sekolah.. kau tidak punya hak membentaknya seperti itu..!" Aku membela Reina yang menatapku terkejut ketika dia bangkit dari posisi membungkuknya.

"Na-naruto bodoh! Apa yang kau katakan?! Kau bisa kena masalah..!" Kiba mencoba memperingatkanku.

"Asal kau tahu saja, sekolah ini membosankan.. aku juga terpaksa dengan peraturan itu.." dia menatapku dengan garang dari kejauhan.

"Terserah, kalau ingin menginjak tempat ini perbaiki dulu sikap anak kampungmu itu.." dia terlihat tak ingin mencari masalah denganku, langkahnya kembali menuju gedung sekolah.

"Ahaha! Kau terlihat pengecut mengabaikanku, Jiji..! Baka..! baka!" Aku mengejeknya dengan kantung mata yang kutarik sedikit ke bawah dan menjulurkan lidahku

"Anak kurang ajar!" Seru salah satu guru yang menjegalku untuk bertingkah laku sopan.

.

.

.

.

.

Aku melompat ke tembok pagar sekolah lalu memanjatnya, aku langsung melompat turun dari atas pagar ke dalam parkiran mobil di bagian belakang sekolah. Aku melihat Kiba yang juga mengikutiku memanjat pagar lalu melompat.

Singkat cerita dia membantuku melarikan diri dari seorang guru yang menjegalku tadi, kami melarikan diri di luar sekolah. Lalu kembali di saat sudah mulai sepi karena pelajaran akan dimulai. Kiba tiba-tiba tertawa ketika kita mengendap-ngendap di balik mobil.

"Ahahahahaha! Kau benar-benar Naruto, mengaku sebagai cucu pemilik yayasan.. seperti orang halusinasi saja.." ejek Kiba membuatku masam ketika mengingat kejadian tadi.

"Tapi itu benar, aku kaget sekali jiji itu tidak tahu apa-apa.." ucapku yang berpikir tentang hal yang terjadi tadi.

Aneh sekali, kalau dipikir-pikir nama belakangku dengan Reina berbeda. Tapi, dia anak kandung Ayahku. Sepertinya Ibuku menikah dengan pria yang memiliki hubungan buruk dengan keluarganya. Mungkin saat pulang nanti kutanyakan saja.

"Jadi, kau benar memang cucunya? Ah, apa kau anak gelap dari keluarga Kousaka?" Kiba mengubah mimik wajahnya yang jadi membiru.

"Tentu saja bukan, ceritanya bakal panjang kalau aku ceritakan sekarang.." ucapku yang berbelok melewati mobil hitam untuk keluar dari daerah parkiran.

"Kau menanyakan pertanyaan itu lagi.."

Suara seseorang membuatku dan Kiba berhenti di balik mobil berwarna abu-abu, kami melihat Mizuki-sensei keluar dari pintu sebelah kiri mobil. Kami menunduk agar tidak ketahuan olehnya dari sisi kanan mobilnya. Dia terlihat tengah menelpon seseorang.

"Aku sudah merencanakannya.. setelah aku berhasil menikahi putri pemilik yayasan itu, semuanya beres.. aku akan mendapatkan warisan yang kuinginkan dari kakek bodoh itu.." ucapnya dengan tersenyum jahat, membuatku yang mendengarnya tercengang dengan kenyataan pahit yang menimpa Reina.

"Kakek bodoh itu benar-benar menyukaiku, dia berpikir bahwa aku orang yang tepat untuk menikahi cucunya dan mewarisi pekerjaannya.." wajah Mizuki-sensei tersenyum puas ketika mengatakan hal tersebut, "Jadi sampai saat itu terjadi, kau cukup bersikap manis saja, 'oke?" Lanjutnya yang mematikan panggilan lalu dia berjalan ke arah gedung sekolah.

Aku menunduk dengan perasaan bercampur aduk setelah mendengar bahwa Mizuki-sensei hanya memanfaatkan Reina, tanganku terkepal erat ingin sekali memukul pria licik sepertinya. Dia mempermainkan hati perempuan untuk mendapatkan harta, bahkan kebrengsekannya lebih buruk dariku.

"Kasian sekali, Ketua OSIS.. Setelah dibentak oleh kakeknya, lalu sekarang dia dikhianati oleh tunangannya.." jelas Kiba yang berdiri sembari bersender di mobil yang berada di belakangnya.

Aku semakin geram ketika Kiba mengatakan hal itu, namun aku tak bisa melakukan apapun. Tanganku yang mengepal erat melemas. Aku memandang Mizuki-sensei dengan tenang, melakukan hal sembrono dan emosi hanya akan membuang waktu dan menyulut api yang lebih besar.

Cara terbaik adalah aku harus memberitahu hal itu pada Reina terlebih dahulu.

.

.

.

.

.

Aku mengelap piring yang basah setelah Ibuku mencucinya, dia bersenandung di sampingku terlihat menikmati pekerjaan rumah tangganya.

Sekarang aku sudah berada di rumah dan membantu Ibuku mencuci piring, meskipun begitu sebenarnya ada hal yang sangat membuatku penasaran. Hal ini menyangkut nama keluarga kami. Ibuku setuju mengubah namanya dengan nama Ayah baru kami. Sehingga nama belakangku berubah, tapi berbeda dengan Reina. Namanya sangat berbeda dengan Ayah baru kami.

"Kaa-san, ada hal yang membuatku penasaran.." aku memulai pembicaraan lebih dulu.

"Hm? Apa itu?"

"Etto.. ini mungkin hal sensitif, tapi kenapa nama belakang Reina berbeda dengan Ayah baru kita? Dia anak kandungnya, 'kan?"

Mendengar ucapanku membuat Ibuku menghentikan kegiatannya, dia terdiam beberapa saat. Lalu dia menatapku dengan raut wajah terkejut, matanya kemudian beralih ke arah lain menampakkan kesedihan. Dia tersenyum hambar sebelum menjawab pertanyaanku.

"Sebenarnya Taki-kun memisahkan diri dari keluarganya, dia harusnya jadi pewaris tapi setelah kematian istrinya dia bilang dia ingin hidup bebas dan menggapai impiannya untuk menjadi konduktor musik klasik.. karena itu dia tidak diakui, lalu dia memutuskan menghapus namanya dari kartu keluarga Kousaka.."

Aku terkejut mendengar cerita Ibuku mengenai ayah baru kami, "..Hal itu membuat Reina-chan menanggung beban sebagai pewaris, sebenarnya aku terkejut dia bersedia tinggal dengan kita.. berbeda denganmu, Reina-chan kehilangan kasih sayang seorang Ibu karena kematian Ibunya, Ibu harap kau lebih baik padanya.." lanjut Ibuku yang tersenyum padaku.

Apa itu? Jadi dia mengalami semua hal itu karena ayahnya melarikan diri dari kewajibannya. Karena itu dia menanggung beban seperti itu, juga dengan perjodohan itu. Reina akan mengalami hal yang lebih buruk jika dia masih berhubungan dengan Mizuki-sensei. Aku melirik pada Ibuku, aku tidak bisa bilang tentang hal ini.

Setelah selesai membantu Ibuku, aku bergegas menuju kamar Reina. Tanpa permisi, aku langsung membuka pintu kamarnya lalu mendapatinya sedang belajar di meja belajarnya. Merasakan keberadaanku dia menengok ke arahku dengan wajah datar namun tatapannya sangat menusuk.

"Kau tidak tahu tata kramah, ada yang bilang kau harus mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar seorang gadis.."

"Iya-iya.." aku mengabaikan ceramahnya lalu masuk ke dalam dan menempatkan diriku duduk di pinggir kasurnya, dia nampak tak peduli padaku terlihat kembali fokus dengan tugas sekolah untuk besok.

Aku memulai pembicaraan, "Oy, aku rasa Mizuki-sensei bukan pria yang baik.. sebaiknya kau membatalkan pertunangan dengannya.."

"Kenapa?"

Mendengar pertanyaan untuk alasanku membuatku tak enak untuk mengutarakannya, aku menggaruk kepalaku meskipun tak terasa gatal.

"Yah, sebenarnya aku mendengarnya berbicara ketika menelpon, sepertinya dia sudah pacar yang lain.." aku menatap punggungnya, "Intinya dia punya niat buruk padamu, dia hanya ingin mengambil apa yang kau punya lalu membuangmu kurasa.. jadi aku beritahu padamu untuk-"

"Kalau itu, aku sudah tahu.." Reina berucap membuatku menatap punggungnya, aku tidak melihat wajahnya-tapi perkataannya membuat kesal.

"Apa maksudnya kau sudah tahu..?" Aku bertanya padanya mengenai hal itu, dia tak menjawab dan hanya diam saja.

Aku semakin geram dengannya lalu mendekat padanya, aku memaksanya untuk memutar bangkunya. Mata kami bertemu yang kulihat hanya mata yang tampak redup. Aku memegang pundaknya dengan tatapan tajam.

"Kalau kau sudah tahu.. harusnya kau batalkan pertunangan itu, bodoh!" Aku mulai berucap kasar padanya.

"Kenapa kau peduli? Bukannya kau membenciku..?" Matanya menatap datar padaku, aku memegang lebih kencang.

"Kenapa.. soalnya a-aku adikmu.. jadi.."

Kenapa? Aku kehilangan kata-kata di saat seperti ini. Benar juga, untuk apa aku peduli padanya. Kita juga tidak sedarah. Apa yang kulakukan ini terlihat seperti plinplan. Kenapa dia melihatku dengan sorot mata seperti itu? Aku tidak salah!

Tangannya menyentuh tanganku yang melemas, "..Kalau begitu, adik kecil sepertimu tak perlu bersikap sok tahu soal masalah kakakmu.." dia melepaskan tanganku darinya.

"Hah..? Kau bersikap sok dewasa, asal kau tahu saja ya.. aku begini hanya untuk memperingatkanmu..!"

Tiba-tiba dia berdiri dari posisi duduknya membuatku langsung melangkah mundur, dia menundukkan wajahnya sehingga aku tak dapat melihat jelas bagaimana ekspresinya. Dia mengangkat kepalanya melihatku dengan ekspresi datarnya, matanya terasa kosong. Kami terdiam untuk beberapa saat, dia langsung melangkah pergi untuk keluar dari kamarnya.

"Oy.." aku memanggilnya yang sama sekali tak mendapat respon ketika dia menutup pintu kamarnya.

Lagi.. dia terlihat seperti itu. Ekspresi kesakitan yang sama ketika kami pertama kali bertemu, di malam itu. Aku hanya tak bisa mengabaikan seberapa banyak penderitaan yang dia rasakan. Aku aneh, aku membencinya tapi aku tak bisa mengabaikannya. Aku mengepalkan tanganku sendiri mengingat betapa bodohnya diriku.

Aku menatap langit-langit kamarku yang sudah gelap karena lampunya yang sudah kumatikan untuk tidur. Aku menjadikan tanganku sebagai bantalan. Aku sudah berada di posisi ini selama 2 jam dan aku belum merasa mengantuk sama sekali.

Kenapa aku terus memikirkannya? Ah sial, kenapa aku harus merasakan perasaan menyesakkan seperti ini?!

Aku mengacak-ngacak rambutku sendiri seperti orang frustasi.

Aku seperti orang bodoh sungguhan!

Setelah lelah menyalahkan diri, aku terdiam lalu menghela nafas. Aku terbangun lalu duduk di pinggir kasur. Setelah berpikir terlalu banyak, hal ini membuatku merasa haus. Aku akhirnya melangkah keluar kamar lalu menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin. Aku meminum segelas air, setelah berencana untuk kembali tidur.

Pandanganku beralih pada ruang tamu yang gelap, aku melihat Reina yang terbaring di sofa dengan tertidur lelap. Kenapa dia di sini? Kalau kau tidur di sini, kau akan terkena demam, lho. Aku mendekat padanya lalu berjongkok untuk menyamakan tinggiku dengan keberadaannya. Matanya tertutup dengan bibir yang agak terbuka. Aku melihat wajahnya yang terlihat tenang ketika tertidur.

Padahal dia terlihat imut banget waktu tidur. Tapi, kalau sudah bangun tingkahnya menjadi sangat menyebalkan. Tanganku bergerak menggapai pundaknya lalu menggoyangkannya agar dia bangun, bagaimana pun aku tidak bisa membiarkannya tidur di tempat seperti ini.

"Oy, bangun.. kalau kau tidur di sini, kau akan kedinginan.."

Dia tidak terbangun sama sekali. Sepulas itukah tidurnya, aku menggunakan tanganku yang satu lagi untuk mengguncangnya.

"Ku bilang bangun.. oy-" aku berhenti berkata ketika dia berpindah posisi menyamping sehingga tanganku terperangkap oleh tangannya yang menimpa tanganku.

Mataku melebar ketika melihat wajah cantiknya yang tenang itu bergemuruh saat bernafas. Poni rambutnya ikut turun menyamping. Gaun tidurnya agak melorot di pundaknya sehingga aku melihat dadanya yang hampir terekspos. Aku memperhatikannya cukup lama paras cantiknya yang entah mengapa terlihat manis untuk saat ini. Bau shamponya dapat tercium melalui hidungku membuat jantungku berdebar.

Ah sial, gadis ini manis sekali malam ini. Aku mulai bergerak menundukkan kepalaku, aku melihat bibirnya yang agak terbuka itu sesaat. Tanpa pikir panjang aku mulai mendekatkan wajahku pada wajahnya. Mataku hanya terpaku pada bibirnya, ketika bibirku mulai mendekat pada bibirnya-

"Jangan.."

Mendengar suaranya aku langsung menjauh darinya karena terkejut, "Ma-maaf!" Tapi ternyata tak ada respon sama sekali darinya, justru aku merasakan tanganku di peluk erat olehnya.

Aku langsung memperhatikannya lebih jeli, "Eh? Dia hanya mengigau ya.." matanya masih tertutup hanya saja wajahnya menunjukkan kegelisahan, tak berapa lama aku melihat air matanya jatuh dari sudut matanya.

"..Jangan pergi.." aku terkejut ketika dia kembali mengigau, "..Otou-san.." mataku langsung melebar mendengar apa yang dia katakan, aku hanya melihat wajahnya yang terlihat gelisah dengan mimpi buruknya.

.

.

.

.

.

Normal pov*

"Ingat terus untuk menjaga etika dan sopan santun adalah bagian mawas diri.. sekian dan terima kasih.." begitulah yang terdengar dari wawancara di istirahat siang yang di siarkan di penjuru sekolah oleh klub penyiar.

"Baiklah.. setelah ini adalah lagu penutup yang di bawakan.. eh-kyaaa!" Kedua pemuda menarik seorang gadis berkacamata dengan surai hitam bergelombang yang membawakan acara siaran sekolah saat istirahat siang.

Pemuda itu adalah Naruto yang mengambil mikrofon yang digunakannya untuk tersambung pada semua speaker di sekolah. Naruto berdehem sedikit memastikan suaranya. Dia mulai memberanikan diri membicarakan hal ini di depan publik. Naruto melihat Kiba yang terlihat membantunya untuk mengencangkan volumenya sedikit.

"Ah.. gomen.. gomen.. apa aku mengganggu? Aku ini siapa ya? Tak perlu diberitahu kalian juga tahu~"

Dari luar Naruto dapat mendengar gemuruh orang-orang yang mulai bertanya-tanya, sepertinya ini akan menjadi hal yang menarik. Naruto berpikir sejenak untuk mengatakan hal ini pada publik di sekolah ini. Reina mengabaikan peringatan mengenai niat jahat Mizuki-sensei, maka dari itu Naruto berpikir untuk melakukan ini. Jika dia tidak ingin menghadapinya maka biarkan semua orang yang akan membantunya.

"Aku melihat Mizuki-sensei dan Ketua OSIS berciuman di lingkungan sekolah!" Jelas Naruto membuat gemuruh publik di sekolah yang melonjak kaget.

Reina yang sedang memakan bekalnya di kelas merasa terkejut menatap speaker, mendengar saudara tirinya itu membeberkan aibnya yang sudah lama disembunyikan demi citra baik keluarganya. Sementara di Kantor guru, Mizuki-sensei langsung terbangun dari kursinya karena syok, semua guru menatap tak percaya ke arahnya.

"Aku tahu ini mengejutkan, tapi dari apa yang kulihat Ketua OSIS yang dipaksa oleh Mizuki-sensei.. bukan begitu, sensei?" Tanya Naruto yang diakhiri pertanyaan pada Mizuki yang melebarkan matanya, sekarang reputasinya sebagai guru menjadi hancur berkat murid baru di kelasnya.

"Karena itu, kau tahu kan apa yang harus dilakukan sebagai keluarganya, Madara-Jiji?" Tanya Naruto dengan nada serius.

Madara yang yang duduk di ruangannya hanya menunjukkan wajah datar. Tentu saja, mendengar aib jelek dari cucu dan orang terpercayanya membuat dia kesal. Pria yang sudah dipercayainya untuk menikahi cucunya melakukan hal tak senonoh sebelum benar-benar resmi menikah.

Di tambah dia semakin marah dengan murid baru yang bernama Naruto, anak itu malah menyebarkan aib yang mencoreng nama baik keluarga dan reputasi sekolah yang sudah dibangunnya bertahun-tahun.

...

Alih-alih memikirkan konsekuensi yang ditanggungnya, kini Naruto malah pergi ke game center bersama Kiba setelah pulang sekolah. Naruto sibuk memencet tombol untuk menjatuhkan bola pada lubang dengan poin yang besar agar mendapatkan hadiah. Kiba hanya menatap Naruto sambil menyesap segelas cappucino yang dibelinya. Kiba takjub karena Naruto sama sekali tidak memikirkan apa yang akan di lakukan oleh pemilik yayasan.

"Hey, Naruto.. bukankah sebaiknya kau pulang untuk melihat keadaan Ketua OSIS?" Jelas Kiba yang berjalan mendekati Naruto.

"Hah..? Ini belum waktunya makan malam, jadi aku ingin main sebentar.." jelas Naruto yang masih fokus bermain.

"Aku sudah memperingatimu, 'lho.. jika sesuatu terjadi pada Ketua OSIS, aku harap kau tidak akan terkejut.." jelas Kiba yang membuang gelas cappucinonya ke tong sampah.

Setelah lebih selama sejam sejak bermain di game center. Naruto akhirnya berjalan pulang menuju gedung mansionnya. Di tangannya dia membawa belanjaan untuk makan malam.

Naruto kemudian memasuki kawasan apartement dimana di depannya terdapat bilik front office, dengan pegawai yang berjaga di sana. Naruto langsung berjalan menuju lift dan memencet tombol untuk membuka pintu lift yang terbuka otomatis. Naruto memasuki pintu itu dan naik menuju lantai 72. Naruto sampai pada tujuannya di depan pintu apartement mewah, tempatnya tinggal.

"Tadaima.." salam Naruto begitu memasuki lorong apartementnya yang suasananya tak biasa.

Lampu apartementnya tidak dinyalakan semua, sehingga membuat ruangan menjadi redup. Naruto masuk lebih dalam pada ruang lebih besar di rumahnya. Langkahnya menuju dapur yang terdapat meja makan dan kaca jendela yang besar di samping ruangan tersebut. Alisnya mengernyit melihat Ibu dan Adiknya yang terdiam di meja makan.

Suasananya terasa sendu dan tak enak. Naruto merasa aneh dengan situasi yang tidak biasa ini. Naruto kemudian mendekat pada Ibu dan Adiknya yang menunjukkan ekspresi sedihnya. Naruto meletakkan belanjaannya di atas meja. Dia menunduk melihat Kushina yang diam saja.

"Ada apa? Kenapa kalian terlihat sedih seperti ini?" Tanya Naruto pada mereka yang malah menyebabkan adiknya yang malah menangis tanpa tahu sebabnya, "Na-naruko..?"

"Tadi Tuan Madara dan orang dengan pakaian berjas datang, mereka mengambil semua barang Reina-chan. Mereka juga memaksa Reina-chan untuk ikut dengan mereka.." jelas Kushina yang mengepalkan kedua tangannya di atas meja makan, "Reina-chan terlihat pasrah saja, jadi aku tak bisa protes. Pandangan dari Tuan Madara sangat dingin pada kami, dia bilang Reina-chan tidak memiliki tata krama sejak tinggal bersama kita.." jelas Kushina yang membuat Naruto terenyuh.

Sekarang akhirnya Naruto mengerti dengan apa yang dimaksud Kiba tadi. Naruto mulai mengerti semua kejadian ini adalah salahnya sehingga Reina dipaksa kembali tinggal dengan kakeknya. Semua itu karena Naruto membuat pengumuman bodoh itu pada publik. Tentu bagi keluarga terhormat itu akan mempermalukan nama baik keluarga.

Bodoh sekali, Naruto tidak memikirkan hal itu sama sekali.

Kushina menatap Naruto dengan ekspresi yang kacau, "Apa benar semua ini karena kita? Apa aku buruk untuk mendidik anak-anakku? Ini semua salah Okaasan sehingga Reina-chan pergi.." jelas Kushina menyalahkan dirinya.

Bukan, ini semua salahku..

"Aku tidak bisa menjaganya, aku menjadi Ibu yang buruk untuknya.. Apa yang harus aku katakan pada Taki-kun?" Jelas Kushina dengan nafasnya yang menjadi pendek-pendek yang membuat Naruto tak tega melihat Ibunya yang mulai menyalahkan dirinya, mirip seperti ketika Ayahnya pergi meninggalkan mereka.

Naruto langsung menurunkan tubuhnya duduk bersimpuh di hadapan Kushina yang masih terdiam, "Tidak, ini bukan salah Kaa-san! Berhenti menyalahkan dirimu seperti itu..! Ini salahku, aku yang melakukan hal bodoh yang tidak perlu..!" Naruto berujar lalu menggenggam tangan Kushina erat, pandangannya memohon pada Ibunya agar tidak bersedih lagi.

"Aku akan membawa dia kembali lagi, aku janji.." Naruto tidak ingin hal ini menyebabkan asma Kushina kambuh karena bersedih, "Jadi kumohon, jangan bersedih lagi, Kaa-san.." lanjut Naruto yang menunduk di lutut Kushina agar wanita yang merupakan Ibunya kembali tenang.

Sejujurnya, Naruto melakukan semua itu hanya untuk membantu Reina agar terhindar dari niat jahat Mizuki-sensei. Guru yang menjadi tunangan Reina berniat jahat padanya, Naruto merasa tidak tahan melihat semua itu. Reina terlihat tak mau membatalkan perjodohan itu demi menyenangkan kakeknya. Meskipun gadis itu tak menginginkannya.

Naruto berpikir jika semua orang tahu kebejatan Mizuki-sensei, maka perjodohan itu akan dibatalkan dan mendapat dukungan motivasi dari banyak orang. Namun, ternyata yang di lakukannya seperti bom yang membuat orang-orang yang disayanginya bersedih. Madara terlihat tak mengerti maksud Naruto tentang mengerti perasaan cucunya. Pria tua itu hanya memikirkan reputasi keluarganya. Naruto menggeretakkan giginya kesal dengan hal itu.

.

.

.

.

.

TBC itu menyedihkan..