Judul : Home Sweet Home

Chapter : 4

Crossover : Naruto x Hibike Euphonium

Genre : Romance, Family, Slice of life, AU, parody, ooc, dll .

Pairing : Naruto x Reina

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Hibike Euphonium milik Ayano Takeda, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan dan di OOC-kan

Rating : T (bisa merubah ke apa ajha)

A/N :

Yosh! Sepertinya banyak yang menunggu ff ini, yg nebak alurnya mirip citrus yups author memakai alurnya.. tapi di tengah-tengah author akan buat berbeda dengan konflik yg beda kok.. jadi erocc bkn PLAGIAT..! Tapi terinspirasi!

.

.

.

.

.

Normal pov*

Naruto berjalan di lorong sekolah yang megah dekat taman bunga yang berada di tengah sekolah sebagai hiasan. Dia melihat Reina yang sedang duduk di pinggir air pancur sambil makan bekalnya sendirian di sana dengan nikmat. Naruto dengan berani berjalan mendekat pada Reina, tentunya dengan membawa roti yakisoba dan susu vanilla yang dibelinya saat berada di kantin.

Tanpa meminta izin, Naruto langsung duduk di sebelah Reina dengan jarak 1 meter. Matanya melirik gadis di sampingnya yang tenang memasukan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Naruto kemudian membuka bungkus roti yang dibelinya dan menusuk sedotan pada kotak susunya. Mereka makan dalam keheningan yang membuat Naruto yang biasanya makan sambil mengobrol menjadi sesak.

"Hey, aku tahu aku penyebab masalah ini.. tapi, bisakah kau kembali ke rumah?" Jelas Naruto memulai pembicaraan yang hanya diabaikan oleh Reina yang memakan bekalnya sambil membaca novel. Merasa diabaikan hingga memunculkan perempatan amarah di dahinya, Naruto menatap jengkel pada Reina.

"Oi, saat orang berbicara setidaknya berikan jawabanmu..!" Bentak Naruto dengan suara keras.

"Mudah untuk kau mengatakan ini, tapi Ojiisama tidak membiarkan hal itu, kau tahu.." jelas Reina yang bergenti makan untuk menjawab Naruto.

"A-aku tahu.. tapi, Kaa-san dan Naruko sangat mengkhawatirkanmu.. apa kau tidak memikirkan perasaan mereka? Naruko menangis dan asma Okaa-san kambuh.." Naruto mengepalkan tangannya, mengingat kejadian tang membuat keluarganya tersakiti.

Reina terdiam sebentar, tentu saja dia memiliki perasaan tak enak pada Ibu dan Saudara tirinya yang begitu baik padanya. Sejujurnya Reina pindah ke sana hanya untuk bertemu ayahnya, dia tak memiliki perasaan mengikat apapun pada keluarga barunya.

Baginya, mereka hanya orang asing. Lalu apa mereka mengerti perasaan Reina ketika Ayahnya mengirim surat untuk memberitahunya bahwa dia telah menikah lagi dan memintanya untuk tinggal bersama atas permintaan dari istri barunya? Tentu saja, bagi anak perempuan hal seperti itu sangatlah sensitif. Apalagi, Reina tak bertemu dengan Ayahnya untuk waktu yang lama.

"Benarkah..? Kalau begitu, aku minta maaf karena membuat kalian khawatir.." jelas Reina yang entah mengapa jadi kehilangan nafsu makan karena Naruto yang mengatakan hal tersebut, lalu dia memutuskan menutup kotak bekalnya.

Dengan lihat tangan Reina kembali menutup bekalnya di dalam furoshiki, "Tapi, kau bisa katakan pada mereka untuk tak perlu mengkhawatirkanku.. aku baik-baik saja, ojiisan selalu menunjang kebutuhanku, tidak perlu ada yang dikhawatirkan tentangku.." Jelas Reina yang selesai mengikat furoshiki pada kotak bekalnya, dia kemudian berniat bangkit dari sana sambil mengangkat kotak bekalnya di tangan.

"Tunggu, apa maksudmu tadi?" Tanya Naruto yang membuat Reina menoleh padanya, "Aku tahu, keluarga kami tidak sekaya Jiji tua itu.. tapi, ini bukan masalah uang, Okaasan dan Naruko menganggapmu sebagai bagian keluarga.. mereka ingin kau kembali karena kau bagian dari mereka.." jelas Naruto yang menatap tajam pada Reina.

"Selama ini, aku sudah hidup sendirian.. aku tidak mengerti arti keluarga yang kau maksud.." Reina berjalan mendekat hingga berdiri di depan Naruto, "Membawaku pulang kembali tak akan semudah itu, Ojiisan tak akan melepaskanku.. lalu apa yang akan kau lakukan?" Reina menatap datar Naruto yang mendongak karena berada di posisi duduk.

Naruto tak bisa menjawab Reina, itu benar, dia tak memiliki wewenang apapun untuk memaksa Reina kembali. Naruto terus menatap wajah serius Reina, suasana menjadi hening seketika. Reina tersenyum tipis pada Naruto, dia menunduk hingga wajahnya sangat dekat di depan wajah Naruto.

"Kalau begitu, bisakah kau menculikku dari istana megah itu? Dan melawan perintah dari raja?" Tanya Reina pada Naruto yang memalingkan wajahnya dan mengepal erat tangannya, Naruto kesal pada dirinya yang tidak berdaya untuk membalas perkataan Reina untuk melawan kakek tirinya.

Reina kembali menegakkan tubuhnya, dia akhirnya lega telah mengatakan semua itu pada Naruto. Seperti yang dikatakan Madara dia tidak boleh mendekati Ayahnya atau keluarga barunya.

Meskipun, dalam hatinya Reina merasa sedih ketika Madara bilang Ayahnya sudah bukan bagian keluarga mereka. Reina yang sudah ditakdirkan akan mengembangkan usaha keluarga Kousaka, tentu tak bisa melakukan apapun. Karena selama ini, kakeknya yang hanya dia miliki, merawat, dan menjaganya sedari kecil. Hutang itu harus dibayar bagaimana pun caranya.

Mata Reina melihat Naruto yang menunduk hingga Reina tak dapat melihat wajah pemuda di depannya dengan jelas, "Kau tak bisa melakukannya, 'bukan? Kalau tidak bisa lebih baik diam saja, bukankah sebaiknya kau sadar diri sekarang?" Jelas Reina yang akhirnya berjalan meninggalkan Naruto hendak menuju lobi.

"Tunggu!" Teriak Naruto yang langsung berdiri dari posisi duduknya, lalu Naruto menunjuk pada Reina yang sama sekali tidak berbalik untuk menatapnya, "Meski kau bilang begitu, aku tidak akan menyerah! Aku pasti akan membawamu kembali! Ingat itu, ya!" Naruto berteriak hingga membuat beberapa murid yang berlalu di sana memandang mereka berdua.

Reina hanya menghela nafas atas perbuatan Naruto yang tidak terkontrol di tempat umum, Reina memutuskan untuk mengabaikan Naruto dan kembali berjalan tanpa mempedulikan pria kuning itu yang kini misuh-misuh karena merasa diabaikan.

"Hey, sialan! Kau dengar aku tidak..?"

-OOOO-

5 hari sejak Naruto yang meminta Reina untuk kembali, di pagi hari senin yang cerah, seperti biasa Reina datang lebih pagi untuk tugas ketua OSIS yang memeriksa kerapihan murid di pagi hari dan persiapan apel pagi.

Reina masuk ke dalam gedung sekolah yang terdapat loker sepatu yang berjejer sesuai urutan kelas. Reina berjalan di dampingin dengan teman baiknya yang merupakan anggota OSIS juga, Kumiko Oumae. Mereka berniat mengganti sepatu mereka dengan uwabaki. Ketika membuka loker sepatunya Reina terkejut mendapati sebuah surat di atas uwabakinya.

Kumiko yang sudah selesai memakai uwabakinya terheran dengan Reina yang masih diam saja. Pandangannya tertuju ke dalam loker sepatu Reina yang terdapat surat. Mata Kumiko terkesan melihat hal itu.

"Ah, Reina..! A-apa itu surat cinta?" Tanya Kumiko yang mengatupkan kedua tangannya.

"Kurasa bukan, ini hanya akal-akalan seseorang yang kekanakan.." jelas Reina dengan wajah datar.

"He..? Kenapa?" Tanya Kumiko.

"Karena aku sudah menerima benda ini sejak 5 hari yang lalu.." jelas Reina yang sudah kesal dibalik ekspresi datarnya.

Sejak 5 hari yang lalu Reina sudah menerima surat spam di lokernya yang hanya tertulis kata-kata agar dia kembali pulang. Tentu saja, Reina tahu siapa orang yang melakukan omong kosong ini. Nampaknya perkataan pemuda kuning itu memang bukan main-main. Dia terus mengganggu Reina. Dari mulai mengirim surat spam di loker, berulang kali menelpon, menguntit, menyapa dan mengajaknya bicara. Tentu saja, semua itu diabaikan oleh Reina.

.

.

TING TONG TING TONG

Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi, Naruto berjalan melewati lorong bersama Kiba menuju loker sepatu untuk menukar uwabakinya. Naruto dan Kiba tertawa entah membahas apa hingga tanda sadar Naruto membuka tutup lokernya, lalu berjatuhan tumpukan surat dari lokernya yang membuat Naruto dan Kiba terkejut. Surat-surat itu menumpuk di lantai yang juga membuat orang-orang di sana memandang aneh Naruto.

Kiba terkejut lalu berjongkok untuk melihat tumpukan surat itu sambil tertawa tak percaya jika Naruto populer dan mendapat surat cinta. Tentu saja, Naruto tahu siapa yang menaruh surat-surat itu. Toh, yang membuat surat itu Naruto sendiri. Naruto mengabaikan candaan Kiba dan tumpukan surat itu hanya terpaku dengan catatan kecil yang menempel di dalam lokernya.

Berhentilah memberiku sampah, Bakamono..

Itulah yang Naruto baca dari catatan kecil, dia sangat kesal pada Reina yang menyepelekan suratnya. Tidak tahukah, Naruto menulis surat itu dengan setulus hati ketika dia mulai menerima bahwa Reina akan menjadi kakak tirinya.

Apa?! Siapa yang kau bilang bodoh, huh?! Jerit batin Naruto yang mengepalkan tangannya.

-OOOO-

Naruto pov*

"Wahahaha! Mati kalian semua, kau juga teman tidak berguna!" Aku memencet pelatuk pada pistol mainan dengan layar yang menunjukkan aksi seseorang menghadapi teroris.

"Okaachan, niisan itu gila.." ucap bocah kecil tak jauh dariku

Bocah kecil itu menunjuk padaku yang langsung aku tatap tajam, lalu bocah kecil yang kupelototi itu langsung menangis dan berlari pada Ibunya untuk mengadu habis melihat iblis. Sekarang situasi berbalik padaku yang dipelototi oleh Ibu bocah tersebut yang terlihat seperti iblis, aku langsung membuang muka pura-pura tidak tahu.

Benar, sekarang aku bermain di game center. Aku sudah mengajak Kiba tapi dia bilang dia ada urusan dengan menjaga toko petshop keluarganya. Aku pun berakhir bermain sendirian di game center. Aku kemudian menaruh pistol mainan dari game 3D itu kembali pada tempatnya yang tergantung di tengah mesin game tersebut.

Aku memutuskan duduk sejenak di bench yang tersedia di tempat itu. Aku menyenderkan tubuhku di bangku itu sambil melihat sederetan orang-orang yang bermain pachinko dengan serius. Aku kembali teringat ketika meminta Reina untuk kembali di hari itu.

Kalau begitu, bisakah kau menculikku dari istana megah itu?

Aku teringat lagi bagaimana dia menatapku hari itu, dia tidak memiliki pandangan mata yang membuatnya terlihat bahagia dengan itu. Dia gadis yang merepotkan, kenapa aku harus mengurus dan memikirkannya? Perlahan Naruko sudah kembali ceria, Okaasan juga kembali ke rutinitas biasanya tanpa harus kepikiran masalah itu lagi.

Bukankah ini lebih baik?

Menjalani kehidupan masing-masing seperti yang diinginkan Reina. Aku tidak perlu berusaha untuk membawanya kembali. Aku jadi bisa lebih leluasa di rumah, bermain sepuasnya di luar tanpa memikirkan makan malam, dan menikmati masa remajaku semestinya.

Baiklah, aku akan menyerah.

Akh! Aku tahu, aku berjanji pada kaa-san dan Naruko untuk membawanya kembali. Tapi, memaksanya terus tak ada gunanya jika Reina bersikeras tak mau kembali!

Lagipula, kalau dipikirkan kembali wajar saja dia tidak mau kembali. Reina itu sangat menggangguku, ditambah dia seorang ojou-sama yang kaya raya! Dia bisa mendapatkan apapun, 'bukan? Kehidupannya sudah enak dari sananya tanpa dia harus bersusah payah. Tentu saja, karena dia pewaris dari usaha keluarganya. Untuk apa dia kembali pada kehidupan sederhana bersama orang asing baginya?

Aku mendengus kemudian bergurau akan kehidupan megah yang dirasakan gadis itu, baiklah biar kutebak seperti apa lingkungan di sekitarnya.

Aku yakin dia pulang ke rumahnya yang bergaya eropa dengan berbariskan maid yang menunggu di pintu masuk untuk segera melayaninya, memelihara dua peliharaan lucu yaitu seekor kucing berjenis munchkin yang dinamai tama-chan, dan anjing besar dengan bulu panjang lurus indah berjenis afghan hound yang dinamai Alexander.

Lalu, setelah kematian ibunya hubungannya dengan ayahnya memburuk dan dia menjadi penyendiri yang hanya menulis perasaannya di dalam buku diari sambil memandang anak-anak yang bermain bersama temannya di luar gerbang rumahnya. Dia pun menempuh hidupnya menggantikan posisi ayahnya yang melarikan diri dari tanggung jawab hidupnya.

"Buh.. AHAHAHHAAHAHA!"

Aku pun mendengus lalu tertawa terpingkal membayang kehidupannya yang seperti drama TV yang ceritanya sangat klise. Semua orang disana menatapku risih tapi aku tak memedulikannya.

Akhirnya, saat itu aku memutuskan untuk menyerah dan melakukan hal yang kuinginkan sebagai siswa SMA di Tokyo.

-OOOO-

Tanpa sadar 2 minggu sudah terlewati begitu saja, aku keluar dari lift lalu berjalan pada apartement yang tersemat nama Noboru pada papan nama yang tertempel di dekat pagar kecil pintu apartement. Aku bersenandung senang sampai akhirnya membuka pintu rumahku. Aku pulang cukup malam hari ini, sekitar jam 9 malam karena Kiba mengajakku goukon dengan siswi SMA lain. Hal ini sudah biasa terjadi saat di Kanada jadi Ibu atau Naruko tak pernah khawatir.

"Tadaima~"

Tak ada yang menjawab salamku yang membuatku langsung masuk ke dalam, ruangannya terasa gelap entah karena apa, aku langsung menyalakan sakral lampu di pojok ruangan. Pemandangan suram kembali terlihat pada Ibuku yang terbaring di atas meja dengan sekaleng bir yang diminumnya.

Aku kembali menghela nafas melihatnya minum-minum lagi, aku hanya mengkhawatirkan kesehatannya karena belakangan ini dia sering minum. Aku berjalan mendekat pada Ibuku lalu menepuk punggungnya.

"Okaa-san, bangun.. kau bisa masuk angin.." ucapku padanya yang menggeliat bangun dan memandangku dengan senyuman.

"Hn..? Naruto, kau sudah pulang.." jelasnya yang terlihat lemas sekali.

"Okaa-san, kau baik-baik saja?" Tanyaku padanya yang hanya mengangguk, aku khawatir dengannya.

Dia malah tertawa lalu bangun dari kursi, "Okaa-san baik-baik saja kok, kau tak perlu-" Okaa-san berhenti bicara lalu dia langsung ambruk tiba-tiba, aku dengan refleks langsung menangkap tubuhnya yang lemas untuk sekedar bangun.

"Hah.. hah.." nafasnya terengah dengan wajah memerah dan berkeringat banyak, aku langsung memegang keningnya yang benar saja terasa panas sekali.

Aku langsung panik kemudian menggendongnya dan membawanya ke dalam kamarnya, begitu sampai aku langsung merebahkannya di atas kasur lalu aku pergi keluar dan menelpon teman Ibuku yang seorang dokter. Aku menunggunya menjawab telpon dariku begitu aku mendengar suaranya dari seberang sana.

"Tsunade-baachan!"

"Sudah berapa kali aku bilang, Naruto?! Panggil aku sensei!" Aku langsung mendapat omelan dari teman Ibuku itu, karena memanggilnya bibi.

"Ah, sumimasen.. bukan saatnya untuk itu! bisa kau datang kemari, Okaasan.."

.

.

"Dia hanya demam karena kelelahan, hanya butuh istirahat 2 atau 3 hari akan membuatnya sembuh.." jelas Bibi Tsunade yang datang ke rumah untuk memeriksa keadaan Ibuku.

"Begitu ya? Syukurlah.." aku langsung bernafas lega mendengar penuturan Bibi Tsunade, aku sangat khawatir Ibuku akan mengalami stress yang sama seperti ketika dia pertama kali mendengar Ayah yang berkata untuk mengakhiri pernikahan mereka.

"Mama.." aku melihat Naruko yang terduduk di pinggir kasur sambil memandang Ibuku dengan guratan khawatir, tangannya dengan erat terus menggenggam tangan Ibuku, Bibi Tsunade tersenyum lalu menepuk kepala Naruko dengan lembut.

"Tenang saja Naruko, Mama akan baik-baik saja.." jelas Bibi Tsunade yang kemudian menatapku, "Naruto, bisa bicara denganku sebentar?"

Aku mengikuti Bibi Tsunade yang keluar dari kamar Ibuku meninggalkan Naruko yang masih duduk di samping Ibuku, kami duduk di meja makan dekat dapur. Dia duduk sambil menyesap kopi yang kubuatkan sebelumnya. Dia menatapku tajam sebelum masuk ke pembicaraan.

"Apa ada masalah sebelumnya?" Tanya Bibi Tsunade yang membuatku hanya bisa terdiam dengan menunduk karena bersalah, "Aku sangat lega ketika Kushina lepas dari depresinya, paska perceraian dengan Minato, dia berada di kondisi yang sangat buruk saat itu.." jelas Bibi Tsunade yang membuatku teringat hari dimana aku menemukan Ibuku sengaja overdosis untuk bunuh diri.

Aku mengepalkan tanganku mengingat bagaimana Ibuku yang berkali-kali mencoba bunuh diri, bersikap dingin padaku dan Naruko, dan berulang kali meminum obat depresi. Bahkan, aku teringat bagaimana dia mengamuk karena depresinya saat itu. Aku sangat ketakutan hanya bisa melarikan diri, hingga menelantarkan Naruko saat dia masih kecil.

Bibi Tsunade menghela nafas lalu mengatupkan kedua tanganya di depan wajahnya, "Aku senang saat dia kembali normal, dan apa kau tahu siapa yang membuatnya bisa bangkit lagi?" Tanya Bibi Tsunade.

Aku langsung menatapnya yang ada di depanku, "Dia adalah Ayah kalian sekarang.." aku melebarkan mataku begitu tahu hal itu, "Pria yang bernama Noboru Taki juga mengalami hal yang sama, dia merasa kehilangan atas kematian istrinya dan sering datang ke rumah sakit untuk konseling.. Ketika aku menceritakan tentang Kushina, dia langsung ingin menemuinya.. Setiap hari dia datang untuk menemui Kushina dan menghiburnya, kupikir mereka menjadi cocok karena memiliki kesamaan.."

Ayah tiri kami melakukan itu? Aku tidak pernah tahu itu..

"Aku sangat terkejut ketika mereka memutuskan untuk menikah dan sepertinya mereka merahasiakan hubungan dekat itu untuk tahun-tahun lamanya.. "mendengarnya membuatku kembali teringat ketika Ibuku kembali ke rumah dan memasak makanan enak untukku dan Naruko, dia tidak memandang kami dengan pandangan dingin lagi setelah setahun kami tidak bertemu.

Itu adalah awal ketika aku mencoba untuk melindungi senyuman Ibuku dan mencoba mandiri ketika kami memutuskan hidup bersama lagi. Kami meninggalkan kediaman seorang tetangga yang menampungku dan Naruko saat itu.

"Aku sangat lega ketika mereka melangkah maju dan melupakan luka lama, kau tahu? Perpisahan terkadang membuat trauma yang dalam untuk berani menikah lagi, aku sangat iri karena aku belum menikah sampai sekarang karena punya pandangan tinggi tentang pernikahan.." Bibi Tsunade lalu memandangku dengan tersenyum.

"Keluarga sangat berarti, 'bukan? Naruto, tolong jaga hubungan itu tetap baik.." jelasnya yang membuatku terpukau, tak lama setelah itu Bibi Tsunade pergi.

.

.

Aku berjalan ke dalam kamar yang penghuninya sudah tak ada di sana, aku tak menyalakan lampu kamarnya dan masuk ke dalam. Aku membuka jendela kamar yang nampak kelap-kelip kota di luar sana. Aku kemudian merebahkan diriku di kasur bekas kakak tiriku itu.

Aku meletakkan tanganku di belakang kepala lalu menatap langit-langit kamar itu. Aku merasa perasaan aneh berkat Bibi Tsunade yang berkata tentang bagaimana Ibuku bangkit kembali dari depresinya, jatuh cinta pada pria yang menemaninya, dan orang itu menjadi Ayah tiriku.

Tapi, apa yang aku lakukan? Saat Ibuku membutuhkan teman, aku malah ikut balap liar dan bermain-main dengan lingkungan buruk, bahkan aku tidak peduli dengan Naruko yang memintaku mengunjungi sekolahnya saat pentas seni. Jika mengingatnya lagi, aku sangatlah jahat.

Lalu, bagaimana dengan Reina?

Aku terusan mengeluh tentang penderitaan, tapi bagaimana dengannya? Dia selalu dipaksa untuk tidak mengeluh akan keinginannya. Bukankah saat ini dia sebenarnya kesepian?

Sekarang Okaasan dan Naruko menganggapnya sebagai keluarga, tapi sama seperti dulu aku melarikan diri. Aku bodoh sekali, jelas-jelas aku yang membuat masalah lalu aku mengabaikannya. Aku terbayang sosok Reina, aku mengubah posisiku menjadi tengkurap.

Selama ini, aku sudah hidup sendirian.. aku tidak mengerti arti keluarga yang kau maksud..

Aku pembual, aku sendiri bahkan belum mengerti arti keluarga. Meskipun, berbeda darah dan orangtua, ketika mereka tercatat di kartu keluarga mereka akan jadi keluarga, 'bukan? Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini, aku menghirup wangi di bantalnya, bahkan baunya masih belum hilang. Apa baunya seenak ini? Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan bau dan sosoknya.

-OOOO-

"Onii-chan, kau sedang apa? Ini masih jam 5 pagi.." Aku mendengar suara Naruko yang berjalan mendekat menuju dapur, aku mengeluar loyang dari oven yang memperlihat kue kering yang ingin kutambahkan topping.

Begitu melihatku yang sedang membuat kue kering Naruko langsung mendekat dengan wajah berbinar, "Wah~ Onii-chan, ini banyak sekali.." dia menatapku tiba-tiba-

"Tapi, untuk apa kau membuatnya?"

Aku langsung gelagapan mendengar pertanyaan Naruko, rasanya manis sekali jika aku bilang ini aku buat untuk merayu kakek tua agar rela cucunya aku bawa pulang. Meskipun aku tidak yakin dapat meluluhkan hati besinya dengan sebuah kue kering. Tapi, hanya ini keahlian yang aku miliki sebagai pria yang bercita-cita jadi patissier. Dan lagi, aku tidak mau membahas masalah Reina di saat suasana yang keruh ini.

"Ehh.. Nii-chan membuatnya hanya untuk senang-senang saja, kok.."

"Sepagi ini? Tidak seperti biasanya.."

"I-iya.." lalu aku menunjukkan satu toples penuh kue kering yang sudah kubuat untuk Naruko, "Oh, Nii-chan juga buat untuk Naruko satu toples penuh, kau bisa membaginya pada temanmu di sekolah.."

"Wah~ benarkah? Senangnya~" Dia melihat setoples kue kering itu dengan bahagia lalu memeluknya, "Arigatou, Onii-chan!" Ucapnya di pagi hari dengan senyuman termanisnya, ah adikku memang maji tenshi.

Aku tersenyum melihatnya kembali tertawa, "Baguslah, kalau kau senang.." aku kemudian lanjut memberikan coklat di atas kue kering itu, "Nii-chan juga akan buat bubur untuk Okaa-san, pastikan dia memakannya ya.." lanjutku yang mendapat anggukan antusias Naruko, aku tersenyum lalu mengusap puncak kepala Naruko.

.

.

"Kalau tidak salah, alamatnya di sekitar sini.." aku memastikan melewati jalan yang benar, saat sekolah tadi aku mengintrograsi teman dekat Reina yang bernama Kumiko Oumae di jam istirahat dengan memojokkannya di tembok hingga dia menatapku ketakutan, aku tidak tahu apa yang gadis itu akan pikirkan mengingat dia juga anak penurut yang hidup di lingkungan hirarki.

Aku melewati perkomplekan yang terlihat berbeda dengan komplek rumah biasa, tempat ini dikelilingi oleh rumah-rumah besar. Benar-benar lingkungan orang elit, seketika aku merasa kecil berada di tempat ini. Aku terus berjalan mencari blok rumah dari keluarga Kousaka.

Tak butuh waktu lama hingga aku menemukan papan nama kecil di pagar mansion keluarga Kousaka yang terlihat jelas perbedaannya, aku memandang tak percaya dari balik gerbang besi. Aku melihat hamparan halaman yang begitu luas dengan pohon rindang bahkan rumahnya berada di tengah sana yang tak begitu terlihat karena saking luasnya.

"BE-BESAR SEKALI..!"

Sekarang aku mengerti, Ibuku telah menikahi seorang Obocchama sungguhan. Seandainya Ayah tiriku belum memutuskan hubungan dengan keluarganya, aku pasti sudah menjadi selebriti. Aku mendengar sebuah suara mobil yang mendekat lalu menoleh dan melihat mobil hitam di dekatku. Aku lantas minggir dari depan gerbang, namun aku melihat seseorang keluar dari sana.

Gadis yang dapat kukenali itu menatap datar ke arahku, "Kenapa kau kemari?" Tanyanya yang langsung aku dekati.

"Aku ingin kau kembali.."

"Setelah 2 minggu lamanya, kau memintaku untuk kembali lagi.. kupikir kau sudah menyerah.."

"Awalnya begitu, tapi.." aku menatap serius pada Reina, "..aku benar-benar membutuhkanmu untuk kembali.." jelasku yang membuatnya terkejut, aku mengingat kembali pada Ibuku yang sakit karena masalah ini.

Aku kemudian membungkuk padanya, "Aku akan meminta maaf pada Ojiisan karena mempermalukan nama baik keluarga kalian di depan umum, dan aku ingin bicara padanya tentang hal ini.." jelasku yang biasanya arogan menjadi begitu sopan pada Reina.

"Percuma saja, dia tak akan mendengarkanmu.. pulanglah.." aku terhenyak mendengarnya, menutup mata lalu menunduk lebih dalam.

"Kumohon..!" Aku terus kukuh untuk menemui kakek tua itu, meskipun akan berakhir dengan penolakan.

"Angkat kepalamu.."

"Kumohon..!"

Reina terlihat terdiam beberapa saat hingga dia menghela nafas lelah, "baiklah.."

Aku langsung menoleh ke atas melihat wajah Reina yang menatapku kesal, "Benarkah?" Aku kembali memastikan.

"Hanya untuk berkunjung sebentar hingga Ojii-sama datang, lagipula kau sudah susah payah datang kemari.." Reina kemudian berbalik ke arah pintu mobilnya lalu melihat tajam ke arahku, "Tunggu apa lagi? Cepat, masuk.."

Mataku langsung memperlihatkan kilat kebahagiaan lalu tersenyum lebar, aku langsung berhamburan memasuki mobil di bangku belakang yang bersebelahan dengan Reina. Dia terlihat jengkel dengan paksaanku, tapi dia tetap membiarkanku untuk membicarakannya. Akan aku pastikan kakek tua itu untuk mempercayaiku.

.

.

.

.

.

TBC

Uhuy..

Selesai akhirnya nih chapter, sebelum Erocc UTS :'v