Judul : Home Sweet Home

Chapter : 5

Crossover : Naruto x Hibike Euphonium

Genre : Romance, Family, Slice of life, AU, parody, ooc, dll .

Pairing : Naruto x Reina

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Hibike Euphonium milik Ayano Takeda, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan dan di OOC-kan

Rating : T (bisa merubah ke apa ajha)

A/N :

Maaf erocc lama update, karena kehabisan bahan bakar..
.

.

.

.

.

Naruto pov*

Aku melihat halaman penuh pepohonan di kediaman keluarga Ayah tiriku melalui kaca mobil, bahkan jarak halaman dengan gedung rumah utamanya membutuhkan jarak yang sangat jauh. Bahkan, aku yakin cukup melelahkan jika dilalui dengan jalan kaki. Dari pintu gerbang untuk sampai di rumah utama kira-kira berjarak 150 meter.

Mobil berhenti tepat di depan gedung rumah bergaya eropa di depanku dengan dua pria berseragam seperti satpam yang membukakan pintu mobil. A-apakah ini benar-benar di Jepang? Hebat, ini benar-benar seperti kehidupan seorang selebriti. Sekarang aku bertanya-tanya seberapa kaya keluarga Kousaka ini.

"Guah! Sudah kuduga rumahmu benar-benar bergaya eropa, aku tidak menyangka..!" Hebohku yang dipandang rendah oleh Reina.

"Kenapa kau bisa menebak itu?" Tanyanya padaku yang masih tak percaya bahwa tebakanku benar.

Aku keluar dari pintu mobil lalu mengikuti Reina dari belakang, ketika dibukakan pintu rumah itu aku semakin terkejut dengan isi rumah besar itu. Aku melihat lorong rumah yang lantainya terlihat berasal dari keramik karena kilatannya, dindingnya dari beton keras yang di desain membentuk ukiran dan dipajang lukisan serta di pojok lorong yang terbelah dua lorong terdapat ukiran patung Napoleon yang tengah menaiki kudanya.

Yang membuatku semakin terkejut adalah..

"Bahkan maidnya juga berbaris, aku tahu ini akan terjadi..!" Hebohku lagi setelah melihat barisan maid yang berjejer di depanku dengan menunduk hormat.

"Kau sudah tahu itu?" Reina bertanya padaku lagi dengan wajah datarnya, namun mataku teralihkan lagi pada buntelan bulu halus yang berjalan dari lorong sebelah kanan.

"Guk! Guk!" Dan buntelan berjenis afghan hound itu menggonggong.

"Alexander?!"

"Meong~" mataku teralihkan pada lorong sebelah kiri yang memperlihatkan kucing kecil berjenis munchkin yang tengah berguling.

"T-tama-chan?!"

"Bagaimana kau tahu nama mereka?" Tanya Reina.

Itu benar-benar nama mereka?!

Kemudian dua orang maid melangkah maju dan menunduk di hadapanku dan Reina, "Biarkan kami membawakan tasnya, Ojou-sama.." ucap mereka yang mengambil tas Reina dan aku lalu kembali pada barisan mereka.

Aku tersenyum canggung begitu menyadari tebakanku tentang lingkungan kehidupan Reina yang mewah memang nyata, bagaimana bisa?! Apa aku berbakat meramal?!

Kemudian muncul seorang pria yang memakai baju seperti butler dan tatanan rambut yang rapih menghadapku, dia menunduk sopan dan hendak memperkenalkan dirinya, "Selamat datang di kediaman Kousaka, perkenalkan saya kepala pelayan di sini, nama saya-"

"Tunggu! Aku tahu siapa kau.." aku langsung menyelak pembicaraannya lalu berpikirkan bak detektif dengan tanganku mengetuk-ngetuk dagu, Di pikiranku terlintas anime yang menceritakan butler iblis yang melayani obocchama phantomhive, lalu menunjuknya dengan yakin.

"Kau pasti Sebastian!" Jelasku yang menatap yakin padanya yang menatapku datar.

"Maaf, tapi nama saya Yamato.." jelasnya yang langsung membuatku terdiam karena salah menebak.

"Ah, begitu ya.."

"Mari, biar saya antar anda ke ruang minum teh.." jelasnya.

.

.

.

.

.

Aku duduk sambil melihat ruangan luas dengan meja bundar kecil di hadapanku, jendela putih besar yang memperlihatkan taman bunga berada di depanku. Kemanapun aku melihat hanya terdapat barang-barang mewah, di tembok terpasang lukisan besar kepala yayasan dengan pakaian formal dengan menampakkan wajah tegasnya, dan lampu gantung dengan hiasan yang besar. Untuk ruangan minum teh ini terlalu besar. Rumah ini benar-benar rumah bagi sultan. Ayah dan saudara tiriku lahir dari keluarga yang menakjubkan.

Aku melihat kepala pelayan yang berdiri di sampingku, dia menuangkan teh hangat pada gelas yang terdapat gambar ukiran bunga-bunga, merasa sangat sepi kuputuskan untuk mengajaknya bicara.

"Ruangan ini besar sekali ya, hanya duduk di tengahnya saja, sudah membuatku merasa kecil.." jelasku yang merasa miskin.

Aku malah mendapati pria butler bernama Yamato itu tersenyum. Dia menatapku lalu memberikan segelas teh hangat tersebut. Aku menatap warna kecoklatan teh tersebut, menyesapnya sedikit hingga rasa manisnya sampai pada tenggorokanku.

Pelayan yang dikenal bernama Yamato tersebut tertawa kecil, "Banyak tanggapan seperti itu, rumah ini dibangun pada era Meiji oleh seorang pengusaha Amerika. Keluarga Kousaka membeli rumah ini sejak perang dunia kedua berakhir di era Showa.." jelasnya menceritakan sejarah rumah mewah ini.

"Ceritanya sudah lama sekali~" aku bersandar di bangku sambil menatap langit-langit.

Suasana kembali hening.

"Ano.."

"Eh..?" Aku menengok kembali menatap Yamato yang berdiri di samping tempatku duduk.

Yamato tersenyum dengan ekspresi yang terlihat sedih, "Reina-sama jarang sekali membawa tamu untuk berkunjung, saya sangat senang melihat anda.. Maaf, kalau boleh saya lancang, apa anda temannya?"

Mendengar pelayan di sampingku bertanya, aku yakin dia belum mendengar pernikahan Ayah tiriku. Aku berpikir sejenak lalu meletakkan secangkir teh ke meja.

"Oh, bukan begitu. Ini situasi yang rumit, aku pikir kau terlihat belum mendengar kabarnya.." aku mengetuk-ngetuk cangkir teh dengan jari telunjukku, "..Belum lama ini, Ibuku menikah dengan Ayah Rei-.. maksudku Kousaka-san, jadi aku tinggal serumah dengannya untuk beberapa minggu terakhir.." jelasku mengenai pernikahan antara Ibuku dengan pria itu.

Justru aku mendapati wajah terkejut dari kepala pelayan tersebut yang seperti baru mendengar berita besar, wajah seperti itu lagi, sepertinya orang di rumah ini benar-benar memutuskan hubungan dengan Ayah tiriku. Memang ada masalah apa dengan mereka semua, aku tidak mengerti dengan kondisi orang-orang ini.

"..etto, Ibuku tampaknya mulai dekat dengan Taki-san saat berada di Kanada.." lanjutku sambil menggaruk kepalaku, meskipun begitu Kepala Pelayan Yamato terlihat masih sangat syok, "Ehh.. ano.. Selama tinggal dengan Kousaka-san, Ibuku dan adikku benar-benar menyukainya, lho.. mereka sangat akur!" Jelasku padanya agar dia berpikir bahwa kami benar-benar menyayangi Ojou-sama di keluarga ini.

"Tidak, maafkan saya. Sudah 7 tahun saya tidak mendengar berita tentang Taki-sama. Mendengar dia mulai berkeluarga kembali tentu membuat saya terkejut, namun saya juga senang. Semenjak kematian istrinya dia nampak tidak bersemangat, saya sangat senang mendengar bahwa dia sehat-sehat saja.." jelas Yamato tersenyum terharu, "Tapi.. ah, tidak.. lupakan, rasanya kurang pantas jika saya membicarakan hal ini.." dia kembali terdiam dengan wajah tegas, hal ini malah memancing rasa penasaranku.

"Apa Kousaka-san tidak kesepian hidup sendirian?" Tanyaku pada Yamato yang terdiam sejenak, dia menunduk dengan ekspresi sedih kembali.

"Sebelumnya di bawah pengawasan saya, Reina-sama anak yang penuh semangat dan ceria, bahkan dia tidak menunjukkan kesedihan saat pemakaman Ibunya. Tapi, semenjak kepergian Taki-sama dia menjadi pendiam. Dia nampak bersemangat saat bermain dengan teman sekolahnya, tapi begitu pulang dia kembali menjadi pendiam.." Dari wajahnya Yamato terlihat nampak sedih juga.

Aku mendengar cerita masalalunya hanya menunduk dengan perasaan campur aduk, aku bisa membayangkan kehidupan keras yang dia jalani selama ini.

"Dia sering duduk di ruang musik di lantai dua, memandang keluar jendela seperti menunggu seseorang akan muncul. Saya yakin Reina-sama selalu menunggu Taki-sama di sana, ruangan itu dulu adalah tempat dia dan kedua orangtuanya bermain musik bersama.." aku merasakan kepahitan yang mendalam dari cerita yang Yamato katakan.

Kesepian karena ditinggal kedua orangtua, tentu aku tahu betul bagaimana rasanya. Berharap ada kesempatan mereka kembali bersama, tinggal bersama dengan penuh cinta seperti sedia kala. Tapi, keadaan yang berlalu tak akan berubah dengan begitu mudah. Hanya menunggu saja di dalam rumah besar dengan udara dingin, itu jelas menyedihkan.

Aku ingat betul kesendirian itu, mungkin sedikit berbeda, tapi aku mengerti keadaannya sekarang. Kenapa dia memilih tinggal bersama kami, pasti banyak pertanyaan yang dia ingin tanyakan pada Ayahnya. Alasan sebenarnya kenapa Ayahnya meninggalkannya.

"Dia nampak baik-baik saja. Saat kami tinggal bersama, dia membantu pekerjaan rumah tanpa mengeluh, membantu adikku mengerjakan PRnya, pergi berbelanja bersama Ibuku, saat kakiku sakit dia merawatku, bahkan memasak untukku.. dia anak baik.." aku ikut menceritakan bagaimana keadaan Reina saat kami tinggal bersama.

"Reina-sama melakukan semua itu? Begitu ya. Sepertinya dia cukup terbuka dengan kalian, anda pasti sangat dekat dengan Reina-sama.." Yamato nampak bersemangat mendengarnya, mungkin baginya semua itu terdengar lancar, tapi aku selalu berkata kasar pada Reina.

Aku menunduk karena tak enak begitu mengingat bagaimana aku memperlakukan Ojou-sama mereka, yang kami lakukan saat dia membantuku mandi, dan bagaimana kami berciuman karena pertengkaran.

"Eh, ya.. mungkin sedikit.. ahaha.." aku hanya tertawa canggung, "Tapi, Taki-san terlihat tidak dekat dengan keluarga Kousaka, ya?" Tanyaku lagi yang mendapati Yamato yang terlihat kaku, dia mengalihkan pandangannya pada pintu masuk ruangan ini dengan takut-takut.

"Maaf, mungkin akan lancang jika saya membicarakan hal ini. Ketika Taki-san pergi dia memutuskan hubungan dengan keluarga Kousaka, dia benar-benar tak ingin menjadi penerus pada bisnis keluarga, maka dari itu dia membuang semuanya tanpa membawa apapun.."

Yamato terdiam sebelum melanjutkan kata-katanya, "..bahkan putrinya sendiri.."

Aku terkejut, itu artinya dia mengorbankan anaknya sendiri hanya untuk keegoisannya, 'bukan? Aku merasa benar-benar kesal, dia menikahi Ibuku setelah menelantarkan anaknya.

Bagaimana bisa orang seperti itu disebut Ayah?!

"Apa yang kalian bicarakan?" Tiba-tiba, Reina muncul dari balik pintu dengan gaun putih yang dia pakai, matanya menatap tajam pada Yamato yang langsung menunduk, "Ingat posisimu, jangan lancang membicarakan masalah pribadi oranglain.." jelas Reina yang sangat marah dengan Yamato yang hanya bisa menunduk lebih dalam.

"Mo-moshiwake gozaimasen, saya telah lancang.." Reina menghela nafas, dia mengalihkan pandangannya, "Sudahlah, tapi lain kali aku tidak akan memaafkanmu.."

Reina kemudian beralih memandangku, "Dan kau ikut aku, kita bicarakan di kamarku.." jelas Reina seakan seperti perintah, dia langsung berbalik dan memintaku untuk mengikutinya.

Aku langsung berdiri dari posisi dudukku, lalu mengikutinya dari belakang. Selama menuju kamarnya kami hanya berjalan dengan terdiam di lorong besar rumah mewah ini. Kami sampai di lantai 2, lalu aku mengikutinya menuju sebuah ruangan. Begitu dia membuka pintu ruangan, aku melihat ke dalam dan terpukau dengan kamar besarnya. Bahkan, ini dua kali lipat ukuran kamarku.

"Duduk saja dimanapun yang kau suka.." ucap Reina.

"Wuah! Kamarmu besar sekali~" jelasku yang duduk di kasur berukuran king sizenya, aku masih terkagum-kagum dengan tempat tinggalnya.

Reina duduk di sebuah bangku di depanku, kakinya bersila dengan angkuh. Dia memasang wajah serius padaku yang berada di depannya.

"Tak perlu basa-basi, kita langsung bahas saja. Untuk permintaanmu sebelumnya, aku menolak untuk kembali ke rumah.." Aku terkejut dengan ucapannya, dia bahkan tak membiarkanku untuk membicarakannya, dan langsung menolak.

"T-tunggu! Aku bahkan belum mengatakan apapun. Aku sudah bilang akan membicarakannya dengan jiji."

"Tak perlu menjelaskan apapun lagi, sekeras apapun kau mengatakannya, dia tak akan mendengarkanmu. Aku lebih tahu, orang seperti apa ojii-sama." Jelasnya yang membuatku hanya menunduk dengan menahan perasaan gundah.

"Kenapa? Apa semua itu karena aku? Karena aku mempermalukanmu karena dilecehkan oleh Mizuki-sensei?" Aku tetap menunduk.

"Itu benar, nama baik keluarga adalah segalanya bagi keluarga Kousaka. Lalu apa kata orang jika cucu dari keluarga terhormat mendapat penipuan dan pelecehan?" Reina terdiam sebentar dengan pertanyaannya, "Tentu label buruk akan terus melekat, pandangan semua orang akan berubah hanya dengan satu skandal.." lanjutnya yang kulirik Reina yang memandang keluar jendela.

"Aku hanya membantumu, Mizuki-sensei berniat buruk pada kalian. Maksudku sebagai saudara, tentu saja sudah wajar jika ingin melindungi, 'bukan?" Aku kembali bertanya dan mendongak untuk melihat wajahnya di depanku, aku hanya melihat dia yang masih memandang keluar jendela.

"Aku tak ingin kembali bukan hanya karena alasan itu, aku hanya tidak tahu harus bagaimana jika bertemu Otou-san.." Aku terkejut menatapnya, tapi dari wajahnya dia terlihat masih tenang lalu dia kembali menatap padaku, meski begitu aku bisa merasakan kesedihan darinya.

"Aku selalu mengagumi Otou-san, dia sangat hebat menjadi guru musik dan kepala yayasan di sekolah, meski lelah dia tetap menyempatkan diri mengurus Okaa-san. Kami punya janji pada Okaasan, kami akan membuat lagu ketika operasinya selesai. Tapi, baru selesai setengah, dia sudah tiada. Tanpa alasan yang jelas dia tiba-tiba pergi, sambil mengelus kepalaku dia bilang akan kembali. Aku selalu mempercayainya." Reina kemudian menunduk dan kulihat dia meremas gaun putih yang dikenakannya.

"..Tapi, dia berbohong. Dia tidak pernah kembali. Dan aku mendengar dari Ojii-sama dia bukan bagian dari keluarga lagi, dan aku harus melupakannya. Ketika menelpon padaku bahwa dia sudah menikah, memintaku untuk tinggal bersamanya, aku benar-benar tidak mengerti bagaimana perasaanku saat itu. Aku hanya ingin melihatnya, bertanya alasan kenapa dia meninggalkanku, dan berhenti mencintai Ibuku.." lanjutnya yang membuatku terdiam, aku tak tahu untuk mengatakan apalagi, nyatanya aku tak mengetahui apapun tentangnya.

"Lalu apa kau ingin tetap melarikan diri? Kalau kau ingin bertemu dan bertanya padanya, harusnya kau lakukan!" Tanyaku.

"Aku tidak bisa. Ojii-sama tak ingin aku berdekatan denganmu atau lainnya lagi.."

Ouh, ternyata ini semua karena Jiji tua itu.

"Meski Ojii-sama terlihat keras, dia benar-benar menyayangiku. Aku tidak melawannya karena sejak kecil dia selalu merawatku. Aku tak peduli harus mempertaruhkan semuanya, jika itu untuk nama baik keluarga." Reina berhenti seketika setelah mengucapkannya.

"Apa itu menyenangkan? Berdiam diri saja dan tidak melakukan apapun? Ternyata kau orang pengecut seperti ini.." aku tersenyum miris padanya, aku berdiri lalu melangkah mendekatinya, dia mendongak tepat padaku.

"..diam" dia berucap lirih.

Kami saling bertukar pandangan, "Menghabiskan waktu sendirian tanpa mengandalkan siapapun, kau hanya orang yang merasa sok kuat saja! Tapi.." aku menarik lengannya hingga dia berdiri di hadapanku, "Aku tidak akan menyerah hanya untuk alasan seperti itu, aku pasti akan membawamu kembali!" Aku memandang wajahnya yang nampak terkejut menatapku, tapi dia kemudian menunduk seakan menghindari kontak mata dariku, aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutupi oleh rambutnya yang menjuntai ke bawah.

"..diam.." terus berucap lirih memerintahkanku untuk diam, aku tak mempedulikannya.

"Apa kau ingin menderita sendirian selamanya? Kau hanya perlu bangkit dari luka lamamu!" Tegasku padanya, aku terkejut ketika salah satu tangannya memegang kerah bajuku.

"..Aku bilang untuk diam!" Dia berteriak keras ketika aku melihat wajahnya yang terlihat kesal menatapku.

Aku merasa dia menarikku dengan tangannya sehingga aku tertarik ke bawah padanya yang berjinjit, seketika aku merasakan bibir lembutnya menempel dengan bibirku dengan sangat tiba-tiba. Aku hanya melebarkan mataku begitu sadar dia melakukan hal bodoh yang sama seperti sebelumnya. Aku langsung mendorong tubuhnya untuk menjauh lalu menggosok bibirku yang terasa basah karena ciumannya. Aku memandang garang padanya.

"Apa yang kau pikir telah kau lakukan, sialan?!" Aku tanpa sadar langsung berteriak membentaknya, tapi justru dia melangkah mendekat padaku dengan cepat dan menabrak tubuhku.

Hantaman keras darinya membuat kakiku sampai melangkah ke belakang karena dorongan, tapi tetap saja tubuhku tak bisa menahannya hingga terjatuh di atas kasurnya. Reina tak tinggal diam, dia menindih tubuhku agar aku sulit lepas darinya. Aku melihat tangannya di atas lalu menampar wajahku dengan sangat keras, dan itu benar-benar menyakitkan.

"Kau tidak mengerti apapun, kau bahkan belum mengenalku! Memang apa yang kau tahu?!" Dia berteriak sendiri dengan emosi.

Dia terus menyerang untuk menampar atau memukulku dengan serius, aku yakin pukulannya akan menyebabkan lebam pada wajah dan tubuhku. Aku hanya bisa meringis menahan pukulannya, seandainya Reina laki-laki, aku pasti sudah pukul balik. Masalahnya dia ini perempuan, rasanya tidak akan etis jika aku membalas pukulan perempuan.

"Tentang Ayahku atau beban keluarga, kau tidak akan mengerti apapun! Kau tidak merasakannya! Aku bisa mengatasinya sendirian, aku tidak butuh siapapun!"

Sembari terus memukul dan membentakku, dia memperlihatkan wajahnya yang terluka padaku, aku merasakan setitik air matanya yang menetes mengenai pipiku. Aku terkejut ketika dia menarik-narik switer di balik gakuran yang aku kenakan dengan kuat. Aku hanya terdiam melihat wajahnya yang menangis di hadapanku. Mendengar suaranya yang sesenggukkan membuatku merasa sakit juga.

Aku berusaha terbangun meski tangan Reina masih gencar memukulku, dengan cepat aku menggenggam kedua tangannya. Aku langsung bangun dari posisi dimana aku terbaring di atasnya, sekarang Reina berada di pangkuanku, aku menarik kedua pergelangan tangannya hingga wajah kami berpandangan dengan jarak yang sangat dekat. Aku langsung mengubah posisi kami dimana aku memutar tubuh kami sehingga Reina yang sekarang terbaring di bawahku.

"Tak apa! Kau tidak sendirian lagi! Karena ada aku di sini!" Aku menahan kedua tangannya di samping tubuhnya.

Reina memandangku dengan wajah kebingungan, dia berhenti menangis meskipun wajahnya terlihat sembab akibat mengeluarkan air mata. Tangannya yang masih melawan seketika melemas seakan dia sudah menyerah untuk memberontak. Kami hanya bertukar pandangan, aku melihatnya dengan wajah serius agar dia tidak berpikir aku hanya membual.

"Karena ada aku sekarang, aku akan melindungimu.." jelasku yang membuatnya seketika tenang, "Kita sudah menjadi saudara, aku akan selalu ada untuk membantumu.." lanjutku.

Namun, dari luar ruangan aku mendengar suara langkah kaki menuju kemari dengan sangat cepat. Aku terkejut ketika pintu kamar terbuka tiba-tiba.

"Reina! Ada apa? Kenapa berisik sekali?!" Omel dari seorang pria tua yang membuka pintu kamar tersebut yang tidak lain adalah Madara-Jiji.

Guratan wajahnya terkejut ketika melihatku yang berada di atas Reina yang terbaring di kasur. Belum lagi, gaun putih yang dikenakan Reina berantakan dengan roknya yang tersingkap ke atas memperlihatkan paha mulusnya. Wajahku langsung membiru karena posisi ini membuatku terlihat seperti penjahatnya. Aku langsung bangun dan melepaskan Reina, tanganku terangkat seperti tertangkap polisi.

"O-ojii-san! Tidak, ini bukan seperti yang kau pikirkan.. aku.."

"Sudah kuduga, kau hanya membawa pengaruh buruk padanya..!"

Dia sama sekali tak mendengarkan penjelasanku, lalu melangkah mendekat dan langsung memukul wajahku hingga aku langsung tersungkur di lantai. Sialan, ini benar-benar menyakitkan~ aku memegang wajahku dan meringis sakit, aku merasakan sesuatu mengalir dari hidungku. Ketika aku seka dengan punggung tangan, aku melihat darah. Dia memukulku sampai mimisan.

Para pelayan di luar hanya berkerumun di dekat pintu tanpa membantu, mereka memandang rendah padaku seakan memang aku penjahatnya. Madara-jiji masih belum puas memukulku, dia menarikku dan mendorongku pada dua pria berjas yang menemaninya. Kedua pria berjas itu memegang kedua tanganku agar tak bisa bergerak. Aku merasa tidak terima diperlakukan seperti ini.

"Hey! Apa-apaan kau, jiji?! Apa itu yang ketua yayasan pendidikan lakukan pada anak muridnya?! Aku bahkan belum menjelaskan apapun! Aku sudah bilang ini salah paham!" Aku berteriak padanya yang memandangku dingin, dia terlihat sangat membenciku.

"Anak sepertimu tak tahu sopan santun! Melihat apa yang coba kau lakukan pada cucuku, jelas ini keputusan yang tepat!" Dia menatap beringas padaku, "Bawa dia keluar dari sini!" Kedua pria tersebut memaksa menarikku keluar, namun aku tetap memberontak.

"Apa?! Aku benar-benar tidak terima diperlakukan seperti ini! Sial, lepaskan aku!" Aku mencoba memberontak dari mereka.

"Kau anak tidak tahu diri, aku ingin bersikap sabar denganmu karena permintaan cucuku. Tapi aku salah, aku sudah putuskan.." Madara-jiji mendelik padaku, "..Kau akan dikeluarkan dari sekolah mulai besok!" Tegasnya yang langsung membuatku lemas karena ucapannya tersebut.

"Aku dikeluarkan?" Aku kembali bertanya.

"Mulai besok, kau tak perlu datang ke sekolah lagi.."

.

.

Setelah itu, aku menunduk sambil memeluk tasku di dalam mobil dimana di sampingku terdapat Yamato yang menyetir untuk mengantarku hingga gerbang depan, aku hanya terdiam tapi dapat merasakan beberapa kali Yamato melirik padaku dengan pandangan kasihan. Tak berapa lama aku sampai di gerbang, aku keluar dari mobil yang pintunya terbuka otomatis.

"Naruto-sama.." sesaat setelah keluar dari mobil aku mendengar Yamato memanggilku membuatku kembali berbalik menatap padanya yang berdiri di depanku, "..Saya tahu ini berat untuk Anda, dikeluarkan dari sekolah bukanlah akhir dari segalanya.. Saya harap anda tetap sehat.." jelasnya yang kemudian menunduk hormat padaku, entahlah, sepertinya dia hanya berusaha menghiburku.

"Hm.. Arigatou naa.." ucapku yang tersenyum hambar dan langsung berlalu darinya.

"Dan juga.." Yamato terlihat belum selesai bicara membuatku kembali berbalik memandangnya, dimana Yamato masih menunduk padaku.

"Saya selalu menjaga Reina-sama sejak kecil, dia seperti anak saya sendiri.. tapi, saya selalu tidak tahan melihatnya yang terus murung karena beban yang ditanggungnya, jadi saya mohon tolong selamatkan Reina-sama.." mohon Yamato yang masih menunduk padaku, langit sore menjadi saksi dari hal tersebut.

"O-oy.." aku merasa tak enak karena permintaannya.

"Saya tahu, sangat egois memaksa anda. Tapi, saya yakin anda bisa menolongnya.." jelas Yamato yang masih memaksaku.

"..aku belum menyerah, jadi angkatlah wajahmu!" Tegasku pada pelayan tersebut yang mengangkat wajahnya, aku memasang wajah tersenyum untuk meyakinkannya.

Tak lama setelah itu, Yamato kembali ke kediaman Kousaka. Aku kembali berjanji akan sesuatu yang belum tentu bisa kulakukan, aku menghela nafas pasrah. Maaf, Yamato-san~ karena itu kebohongan. Aku tersenyum hambar, hanya dengan minta maaf tidaklah cukup. Bodoh sekali diriku.

Di perjalanan aku mengeluarkan bungkusan kue kering yang kubuat, makanan ini sudah tidak ada gunanya. Aku langsung melemparnya ke tong sampah pinggir jalan tanpa pikir panjang. Tentu saja, aku sudah di D.O dari sekolah padahal aku korbannya. Ini membuatku kesal tapi aku tidak marah atau menyesalinya. Jika Ibuku tahu bahwa aku dikeluarkan karena hal ini, dia pasti akan sedih. Aku hanya mengacak rambut seperti orang bodoh sampai dilihat oleh orang-orang.

"CHIKUSO!" Aku mengumpat kembali merutuki kebodohanku.

.

.

.

.

.

TBC

Anjir~ Narutod bikin onar lagi wkowkokwok