Judul : Home Sweet Home

Chapter : 6

Crossover : Naruto x Hibike Euphonium

Genre : Romance, Family, Slice of life, AU, parody, ooc, dll .

Pairing : Naruto x Reina

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Hibike Euphonium milik Ayano Takeda, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan dan di OOC-kan

Rating : T (bisa merubah ke apa ajha)

A/N :

Maaf erocc lama update, karena mager ngetik wkwk.. (lagi)
.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Normal pov*

Sudah 5 hari sejak Naruto di D.O oleh kepala yayasan sekolahnya, sekarang dia menganggur selama 2 hari ini. Naruto belum memberitahu Kushina maupun Naruko perihal di DOnya dia dari sekolah. Setiap berangkat dengan memakai baju sekolah, diam-diam saat diluar dia mengganti pakaiannya di toilet umum. Selama itu yang dilakukannya hanya berkeliling kota untuk menghabiskan waktu.

Seperti saat ini, Naruto mengambil keripik kentang lalu memakannya sambil melihat komputer di depannya yang terpampang game tembak-tembakan. Wajahnya tampak serius bermain tembak-tembakan, dimana dia perperan sebagai pengelana yang masuk isekai dan menuntaskan misi untuk membunuh monster. Naruto sekarang dengan santainya menyewa rental internet, dan yang dia sewa adalah ruang kubikal sehingga bisa bersantai tanpa di ganggu siapapun di ruangan kecil tersebut.

Beberapa saat kemudian tokoh game diserang oleh monster hingga mati dan Naruto mendecih, dia kemudian bersandar di badan bangku empuknya dengan wajah jengkel, terutama teman bermain onlinenya mengatakan hal yang menyebalkan tentang dia yang tak biasanya payah dalam bermain game. Naruto kemudian mengambil beberapa manga yang dia sewa juga di tempat rental tersebut, dia merasa bosan karena sudah tahu ceritanya lalu menaruh komik itu di wajahnya.

Naruto sendiri sadar dia melakukan hal yang sama untuk melarikan diri lagi dari tanggung jawabnya. Dikeluarkan dari sekolah bukan masalah kecil bagi siswa sepertinya, dia lelah memikirkan nasib hidupnya sekarang. Meskipun, dia menyelamatkan seorang gadis yang hidupnya terkutuk, justru malah dia yang dikutuk oleh raja iblis yang jahat. Sepertinya hidupnya akan game over sekarang.

Naruto menurunkan manga di wajah hingga menatap lampu di langit ruangan kecil tersebut. Benaknya kembali di saat Yamato memintanya untuk menolong Reina yang hidupnya terjerat oleh aturan, atau hubungan buruk dengan Ayahnya. Naruto menutup matanya lagi, dia sudah menduga seharusnya dia tak berjanji sesuatu yang tidak mungkin bisa dia lakukan. Bukankah dia terlalu ikut campur urusan gadis yang bahkan tak memiliki hubungan darah dengannya?

Tapi apa yang pemuda ini lakukan? Dia hanya bersantai di rental internet tanpa melakukan apapun. Hidupnya seperti seorang NEET sekarang. Berantakan dan menyedihkan.

Naruto melihat jamnya sudah menunjukkan pukul 3 sore, dia harus segera pulang sebelum Naruko lebih dulu pulang darinya. Setelah itu, Naruto membayar rental internetnya. Dia keluar dari gedung rental tersebut, lalu berjalan melewati toko-toko di pinggir jalan, tepat sebelum menyeberang di samping lampu merah, dirinya melihat perawakan yang familiar di seberang. Orang di seberang juga melihat dirinya dengan tampang bodoh.

.

.

"Apa?! Kau di D.O?!" Kiba sangat terkejut mendengar penjelasan Naruto, awalnya Kiba pikir Naruto hanya bolos saja karena bosan.

Orang yang dilihat oleh Naruto sebelumnya ternyata Kiba, mereka memutuskan bicara karena Kiba mengajaknya untuk mengobrol sebentar. Kiba bertanya kemana saja Naruto selama dua hari karena menghilang dari sekolah, ditambah sangat sulit dihubungi. Kiba sebagai teman pertama Naruto di sekolah tentu saja khawatir pada pemuda di depannya karena beberapa kali membuat masalah.

"Iya, sepertinya Jiji itu benar-benar membenciku.." jelas Naruto yang menangkup kepalanya dengan sebelah telapak tangannya, dia memandang orang-orang yang berlalu lalang di luar jendela dengan wajah jengkel mengingat tentang kepala yayasan.

"Ini buruk sekali, makanya aku bilang untuk lebih berhati-hati di hadapan Kepala Yayasan. Tapi, kau tidak mau dengar. Lalu bagaimana reaksi keluargamu?" Tanya Kiba lagi sambil memakan bakpau yang dibelinya di konbini.

"Aku belum bilang, aku mengkhawatirkan kesehatan Ibuku jika dia tahu.." lanjut Naruto.

"Tapi aku sangat terkejut lho, aku tidak tahu kau tinggal satu atap dengan Ketua OSIS. Belum lagi, Kepala Yayasan sangat tak menyukai hal tersebut karena kau. Yah, aku mengerti sih, soalnya kau ini cuma bikin kesal saja.." ucapan Kiba malah membuat Naruto makin terpuruk, "Ahahaha~ maaf, maaf.. bukannya aku menyinggungmu lho~"

Detik berikutnya Kiba memandang kasian pada Naruto lalu menepuk pundak temannya yang sedang dalam kesulitan, "Yang sabar ya, kawan.. jika kau butuh bantuan, kau bisa panggil aku!" Jelas Kiba yang kemudian menunjuk dirinya sendiri dengan jempol tangannya seraya tersenyum menghibur Naruto.

Beberapa saat bicara, Naruto dan Kiba memutuskan untuk pulang, mereka berpisah di depan konbini.

.

.

.

.

.

"Hm? Pertunjukan musik klasik..?" Naruto bertanya sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya, sekarang dia sedang makan malam bersama Kushina dan Naruko.

Lalu Kushina bercerita bahwa tempat les dimana dia bekerja akan mengadakan pertunjukan musik. Naruko terlihat antusias dengan hal ini, karena dia juga akan muncul di konser tersebut bermain piano sebagai pengiring.

Berbeda dengan Naruto, dia tidak memiliki minat pada musik klasik hanya diam saja. Pernah sebelumnya dia diajari bermain piano oleh Kushina, tapi baru mendengar tuts yang berbunyi sedetik kemudian Naruto langsung tertidur. Musik bukanlah bidang Naruto, dia lebih suka menekuni dunia permen. Rasanya sangat lucu karena posisi Naruto dan Naruko seperti terbalik.

Makanya setiap Kushina mengajaknya menonton orkestra musik klasik Naruto selalu menghindar, dia sangat yakin saat ini Kushina bersikeras untuk mengajaknya menghadiri acara tersebut. Pasti Ibunya ingin memamerkan hasil didikan bermusiknya pada Naruto, karena yang tampil di sana adalah buah kerja keras Kushina dengan para guru dan staff di tempat les tersebut.

"Karena itu Okaa-san menyisakan satu tiket untukmu, Naruto. Ini pertunjukan berharga untuk Naruko, jadi sebagai Oniichannya tentu saja kau harus datang, 'bukan?"

Sudah Naruto duga Kushina pasti akan memaksanya untuk datang di konser tersebut, Naruko memandang dengan penuh harapan pada Naruto yang berkeringat.

"Oniichan, kau akan datang bukan?" Tanya Naruko dengan tatapan berbinar.

Sialan, Kushina sangat tahu akan kelemahan Naruto yang tak bisa menolak keinginan Naruko. Dengan berkeringat Naruto akhirnya mengambil tiket tersebut dari tangan Kushina. Naruko bersorak sangat senang karena oniichannya akan datang menonton konser pertamanya.

"Yey! Naruko akan berjuang keras! Ini adalah konser pertamaku, Naruko tidak akan buat Papa malu karena kegagalan~" jelas Naruko yang membuat Naruto memandang terkejut Ibu dan Adik Perempuannya.

"Papa?"

"Oh, Taki-kun besok akan pulang dan menjadi konduktor untuk konser orkestra anak-anak. Semua ini berkatnya sehingga acara ini banyak didatangi pecinta musik klasik. Dia mungkin akan tinggal di sini beberapa hari, Okaasan berpikir ini waktu yang tepat untuk kalian bertemu dengannya." Jelas Kushina yang tiba-tiba sekali untuk Naruto, tapi entah bagaimana ini adalah kesempatannya untuk bertemu pada pria itu dan bertanya alasannya meninggalkan Reina.

Naruto menatap lekat tiket di tangannya, akhirnya tiba saat dimana dia melihat Ayah tirinya.

.

.

.

.

.

Naruto pov*

Kemudian hari ini tiba, hari Sabtu tanggal 25 April, pukul 1 siang, konser orkestra yang akan dimainkan oleh bocah-bocah yang Ibuku banggakan akan dimulai.

Sekarang dengan pakaian kasual seadanya, kaos putih dibalut jaket biru dan celana jeans hitam, sepatu sneakers berwarna hitam. Aku berjalan melewati trotoar menuju stasiun Shibuya di hari weekend ini, dengan sebelah tanganku yang membawa buket bunga baby rose untuk kuberikan pada Naruko nanti.

Aku melihat pada ponselku yang menunjukkan maps menuju stasiun karena aku belum terlalu tahu daerah sini, mau bagaimana lagi? Aku tinggal di Kanada, aku sama sekali tidak tahu tentang Jepang selain dari film.

Setelah mengikuti arahan dari maps yang berputar-putar akhirnya aku menemukan stasiun Shibuya dengan plang anime di atasnya serta orang yang berlalu lalang dengan ramainya, tak butuh waktu lama aku masuk ke dalam. Aku ingat belum mengisi saldo tapcashku, jadi aku memutuskan untuk mengisinya di mesin loket.

Aku berjalan santai menuju mesin loket yang diantri oleh beberapa orang. Aku mengantri di mesin paling pojok, saat mengantri wajahku menengok ke samping pada antrian di mesin loket yang lain. Lalu aku merasa kakiku membeku saat melihat orang di sampingku.

Wajah tegas yang nampak tampan meski diusia 60 tahun ke atas, pakaiannya yang rapih dengan jas hitam, sorot mata yang tajam menatap lekat padaku. Orangtua yang kulihat ini adalah Kousaka Madara, kakek Reina sekaligus kakek tiriku. Memori buruk tentangnya muncul tiba-tiba membuat suasananya menjadi mengerikan. Aku langsung mengalihkan wajahku ke depan, begitupun dengan pria tua itu. Berpura-pura tidak saling mengenal.

Apa ini sangat mengerikan! Kenapa dia di sini?!

Orang yang mengisi saldo di depanku telah selesai, aku langsung berjalan cepat ke depan lalu memencet layar sendu di mesin tersebut untuk mengisi saldo tapcashku beserta memasukan uang sesuai saldo. Sementara Jiji disebelahku akhirnya sudah berada di depan mesin loket sambil melihat-lihat layar proyektornya. Tanpa mempedulikannya, dengan cepat aku dapat menyelesai mengisi saldo lalu berbalik berjalan menjauh dari dekat Orangtua mengerikan itu.

Namun, baru setengah jalan aku berbalik lagi untuk memperhatikan keberadaannya. Aku melihatnya untuk beberapa detik, lalu menyadari suatu keanehan. Jiji tua itu hanya terdiam tak bergerak memandangi layar proyektor, aku memandang aneh padanya, apa dia tidak mengerti cara memakainya dan menunggu bantuan?

"Oy, Ojii-san, apa kau ingin mengisi saldo atau sesuatu?" Tanyaku berjalan kembali mendekat padanya lalu dia menengok ke arahku dengan wajah galaknya seakan menyumpahiku untuk enyah dan mati saja, menyebalkan sekali~

Dia mendengus, "Heh, Aku tak butuh bantuan dari anak kecil sepertimu, lagipula aku hanya ingin memakai kartu sekali perjalanan, ini mudah untukku.." ungkapnya dengan nada menyombongkan dirinya, "..aku tahu, aku hanya perlu memasukan uang 2000 yen ke lubang panjang ini.." jelasnya yang mengeluarkan uang dari dompetnya, lalu berusaha memasukan uang ke dalam lubangnya, tapi tak terjadi apapun.

"Ada apa ini? Mesin ini aneh, pasti ada yang rusak.." lanjut Jiji tua ini memandang penuh pertanyaan pada mesin di depannya.

Satu-satunya yang aneh adalah kau, dasar orangtua gaptek! Ingin sekali kukatakan tapi dia akan menghinaku anak yang tidak diajari sopan santun oleh Ibuku.

Aku kemudian mendekat pada sampingnya, "Ojiisan salah, pertama kau harus operasikan dulu mesinnya, dan gambar ini harusnya kau tekan.." lalu dengan sabar aku menunjukkan padanya sebuah layar sentuh pada proyektor untuk menekan sebuah gambar seperti tapcash, lalu saat kusentuh muncul sebuah pilihan mau sekali perjalanan atau pulang-pergi.

Dia menatap terperangah padaku, aku tersenyum untuk menikmati kejadian ini.

"Kau bilang hanya sekali perjalanan jadi aku pilih yang ini.." aku menekan pilihan sekali perjalanan lalu muncul rute stasiun yang ingin ditempuh, "Jadi, kemana kau akan pergi Ojiisan?" Tanyaku padanya.

"Stasiun Ropponggi.." Jawabnya yang seketika membuatku terkejut karena tujuanku dengannya sama, tanpa bertanya lagi aku kemudian mencari stasiun Ropponggi lalu menekannya.

.

.

Setelah melewati mesin check in, aku langsung berlari menuju peron kereta. Ada pemberitahuan bahwa keretanya akan segera tiba, karena membantu Jiji itu aku jadi hampir terlambat. Ini menyebalkan. Aku menengok ke belakang padanya yang berlari juga dengan lambat karena usia lanjutnya. Aku berhenti menunggunya hingga berada di dekatku lalu langsung menarik lengannya untuk berlari lebih cepat.

"Lebih cepatlah Ojiisan, keretanya sudah tiba!" Teriakku padanya yang melihat dari kejauhan kereta yang pintunya telah terbuka lalu sedikit lagi akan menutup, "Uwa! Gawat, pintunya akan tertutup.." aku meningkatkan kecepatan berlariku, lalu berhasil masuk pada salah satu gerbong kereta yang pintunya hampir saja tertutup.

Kebetulan ada dua bangku kosong aku dan Ojiisan duduk di sana karena kelelahan berlari. Tak berapa lama kemudian kereta bergerak untuk berangkat, selama duduk di sebelahnya aku hanya diam saja sambil memandang ke depan. Perasaanku seperti gundah gulana karena keheningan aneh di antara kami, kenapa dia harus duduk di sebelahku?! Kenapa dia tidak pergi ke gerbong lain saja? Duduk di sebelah Orangtua yang membencimu itu tidak normal!

Untungnya ketika kereta berhenti di sebuah stasiun Aku melihat Ibu Hamil yang nampak malang karena tak ada kursi kosong, dengan penuh empati Aku terbangun dari kursi lalu mempersilahkan kursi tersebut pada Ibu Hamil yang berterima kasih padaku.

Ibu Hamil itu menempati kursi tersebut dengan senang hati, dalam hati Aku merasa lega untuk berdiri dari pada duduk di sebelah Madara-Ojiisan. Terasa kaku dan mengerikan duduk bersama dengannya yang bermartabat tinggi. Aku yang biasanya hidup di kalangan manusia sederhana merasa tak nyaman.

Namun, setelah itu muncul wanita tua rentan yang nampak kelelahan, Ojiisan pun berdiri dan mempersilahkan wanita tua yang terpesona padanya untuk duduk di kursinya. Sambil bergumam sungguh pria yang baik wanita itu duduk di kursi tersebut. Sekarang dia berdiri di sampingku sambil memegang handle grip yang tersedia bagi penumpang yang berdiri, Aku melirik dengan senyum aneh yang terpaksa padanya.

"K-kau tak perlu ikut berdiri Ojiisan, aku tahu kau sangat lelah setelah berlari tadi.." jelasku padanya yang mendapati dia menatap tajam dan tersenyum meremehkan padaku.

Pria tua ini mendengus, "Huh, aku tidak ingin kalah dengan bocah nakal sepertimu! Kau pikir aku melakukannya untuk menemanimu berdiri? Yang benar saja.." jelasnya dengan ketus menambah urat kekesalanku akan kesombongan orangtua di sebelahku yang sok kuat, daripada naik darah karena Jiji di sebelahku ini, lebih baik kuputuskan mengabaikannya dan memandang keluar jendela.

"Asal kau tahu saja, hari ini ada acara penting yang ingin kulihat. Tapi, di tengah perjalanan ban mobilku pecah, jalanan yang macet tidak memungkinkan untuk naik taksi. Jadi, supirku menyarankan untuk naik kereta saja. Akhirnya, aku mendengarkan sarannya. Sialnya, ada anak bodoh yang menggangguku. Tanpa bantuanmu pun, aku bisa menggunakan mesin itu.." jelasnya ngedumel soal diriku yang mengganggunya ketika sedang mempelajari cara mendapatkan kartu sekali perjalanan di mesin loket, daripada itu Aku berpikir Orangtua ini hanya gengsi saja untuk mengakui bantuanku.

"Lagipula mesin itu berbeda sekali saat jamanku masih muda, setelah memiliki mobil pribadi aku tidak pernah naik kereta lagi, dan lingkungan tiba-tiba berubah menjadi lebih rumit.." dia masih ngedumel, orangtua ini ternyata banyak bicara juga.

Aku hanya memandang jengkel dengan alis berkedut menahan emosi, atas ucapannya. Baiklah, sekarang siapa yang kurang dewasa dan bermartabat? Images Si Jiji ini seketika berubah dari Kepala Yayasan Sekolah yang tegas, keras, dan disiplin tinggi menjadi kakek keras kepala yang ngeyel bagiku. Dia hanya orangtua keras kepala seperti lansia emosian yang dulu tinggal di sebelah rumahku saat di Kanada.

Apa kau anak-anak?!

"Omong-omong, apa kau ingin menjenguk seseorang?" Dia bertanya membuatku merasa aneh, lalu menatap buket bunga yang kubawa.

"Ini untuk adikku, lagipula untuk apa Ojiisan bertanya?" Jawabku lalu disambung pertanyaan dengan nada jengkel.

"Tentu saja, setelah apa yang kau lakukan pada Reina, aku tidak bisa terima jika kau seenaknya berkencan dengan mudahnya.." jelas pria tua ini yang masih salah paham.

"Sudah kubilang, aku tidak melakukan apapun padanya.."

"Huh, kau kira aku akan percaya omongan anak berandal sepertimu?"

Menyebalkan!

Sebandelnya diriku, aku nggak pernah mainin cewek tahu!

Kereta akhirnya berhenti di sebuah stasiun dengan pemberitahuan otomatis yang mengatakan sudah sampai di stasiun Ropponggi. Aku melangkah keluar bersamaan dengan Ojiisan yang berjalan di belakangku, saat keluar di pintu stasiun bagian Barat, Aku melihat jam di smartphoneku yang menunjukkan waktu konser orkestranya akan dimulai. Oh sial, Naruko akan kecewa jika Aku datang terlambat.

Aku menatap Ojiisan di belakangku, "Baiklah, Ojiisan aku sudah terlambat! Kau jalan sendiri ya!" Jelasku yang langsung berlari menuju gedung mengikuti maps di smartphoneku, sedangkan Ojiisan nampak memanggil taksi.

Aku berlari hingga sampai di gedung Opera Concert Hall yang cukup besar dengan terengah, Aku masuk dan tanda tangan untuk data daftar tamu di resepsionis.

Dengan masih terengah aku berjalan lemas ke depan lift, saat menunduk lemas Aku melihat pria di sebelahku dan kembali membatu. Wajah kami berdua berpandangan dengan aneh, wajah tegas yang nampak tampan meski diusia 60 tahun ke atas, pakaiannya yang rapih dengan jas hitam, sorot mata yang tajam menatap lekat padaku.

Apa-apaan ini?! De'javu?!

Baru kali ini Aku mengalami de'javu dalam hidupku, dan hal itu adalah bertemu pria tua ini?! Menyebalkan!

"Ke-kenapa kau ada di sini? Kau mengikutiku, huh?! Dasar anak nakal!" Bentaknya padaku yang seketika membuatku tersinggung.

"Hah?! Untuk apa aku mengikuti pria tua sepertimu? Lebih baik aku mengikuti neechan cantik dan mengajaknya berkencan!" Jelasku dengan jengkel pada pria tua di sebelahku, kami saling memandang dengan geram.

Saat melihat nomor lantai lift kami berebutan untuk lebih dulu memasukinya seperti bocah, saat pintu lift terbuka terdapat oneechan muda, terlihat seperti staff yang bekerja di gedung opera ini, dia melihat kami dengan pandangan aneh karena pertengkaran kami.

Dilihat orang lain membuat kami langsung terdiam, merapihkan pakaian kami lalu melangkah masuk dengan staycool, oneechan tersebut hanya tertawa kecil keluar dari lift. Pintu lift kembali tertutup, kami kembali ribut berebutan untuk menekan tombol lift.

"Berhenti menyerobotku, Jiji! Kau sudah terlalu tua, jadi mengalah saja pada yang lebih muda!"

"Apa?! Anak yang tidak tahu sopan santun! Di usia remaja seharusnya kau mendengarkan omongan orangtua, dasar anak nakal tidak tahu diri!" Bentaknya padaku.

Kami masih tidak mau mengalah lalu saling mendorong untuk lebih dulu memencet tombol yang anehnya kami memencet tombol untuk naik ke lantai yang sama. Kami kemudian terdiam setelah mengetahui tujuan kami yang sama, ini sangat aneh, apa mungkin dia ingin menonton konsernya juga?

Oh, Taki-kun besok akan pulang dan menjadi konduktor untuk konser orkestra anak-anak..

Perkataan Ibuku kembali terlintas, lift kembali terbuka ketika Ojiisan lebih dulu berjalan, aku menatap punggungnya dalam diam. Benar, ini bukan suatu kebetulan. Pria tua ini datang karena keinginannya sendiri, dia hanya ingin menemui anaknya. Begitu menyadarinya, perasaanku berubah menjadi campur aduk. Bagaimanapun dia hanya sosok seorang Ayah yang menyedihkan.

Apa kau ingin menemui anakmu? Meskipun, kau yang memutuskan hubungan dengannya? Dan berakhir membuat semuanya menderita? Lalu berharap semua kembali normal?

Kau memang orangtua yang egois..

Pintu aula terbuka saat kami datang, terlihat nampak anak-anak kecil yang bermain biola secara solo, orang-orang nampak tertarik pada bocah jenius tersebut. Bagiku itu terlihat membosankan, aku melihat Ojiisan turun ke bawah mencari tempat duduk yang nyaman.

Aku melangkah juga di belakangnya, dia terlihat berhenti dan duduk di bangku bagian tengah. Melihat bangku di sampingnya kosong aku pun berinisiatif duduk di sana dengan satu bangku kosong diantara kami. Sembari meletakkan buket bunga di sampingku, dia terlihat tak tersinggung dengan keberadaanku kali ini. Matanya tertuju pada konser anak kecil yang manis bermain biola di panggung besar di bawah sana.

Setelah pertunjukkan kecil tersebut akhirnya konser utama di mulai, semua pemain berbaris masuk ke panggung dengan duduk di kursi yang di depannya terdapat alat musik yang mereka kuasai. Semua orang tiba-tiba bangun dari kursinya dan bertepuk tangan bersama, mataku teralihkan pada pria berkacamata yang cukup tampan yang muncul dari pinggir panggung. Dialah Ayah tiriku sekarang, Noboru Taki. Aku melirik pada Ojiisan yang nampak terperangah.

Bahkan, dia hanya menatap tanpa bertepuk tangan seakan dia membeku sendirian, Ayah tiriku itu nampak tersenyum pada anak-anak yang akan dipimpinnya seraya menepuk kepala mereka lembut. Sekilas dia seperti pria tampan yang baik. Dari jauh aku melihat Naruko yang matanya berbinar menatap Ayah tiri kami, mereka terlihat akrab ketika saling bicara. Kelihatannya sebelum ini mereka pernah bertemu.

Tepuk tangan penonton berhenti, lalu kembali pada kursinya untuk duduk kembali dan menikmati pertunjukan tersebut. Permainan akan dimulai ketika suara lembut biola mulai terdengar, aku memperhatikan pertunjukan ini dengan serius untuk pertama kalinya, tepatnya memperhatikan gerakan Ayah tiriku yang luwes memimpin kelompok pemusik kecil tersebut. Meskipun nada Beethoven No. 9 tetap terdengar membosan di telingahku.

Setelah beberapa menit orang mulai terperangah akan kejeniusan anak-anak yang bermain musik di panggungnya, tidak ada yang bergerak dari bangkunya dan fokus menatap ke depan. Aku melihat Ojiisan di sebelahku yang nampak tersenyum haru melihat ke depan, terlihat jelas dia begitu merindukan putranya, saat itu aku ikut tersenyum bagaimanapun manusia memiliki perasaan seperti ini. Mungkinkah ini yang dirasakan para orangtua? Ah sial, pikiranku menjadi kuno seperti orangtua.

Konser sudah berjalan 20 menit lamanya, Aku melihat Ojiisan yang tiba-tiba berdiri dia tak mengatakan apapun langsung melewatiku, menimbulkan pertanyaan di otakku yang penasaran.

"Ojiisan, kau mau kemana? Pertunjukannya belum selesai.." ucapku padanya, dia terdiam di tangga ketika beranjak naik ke pintu keluar.

"Bagiku sudah cukup hanya melihatnya, syukurlah dia nampak lebih baik.." ungkapnya yang lanjut beranjak menaiki tangga, tentu saja aku tahu apa yang dia maksud.

Aku menatapnya sampai dia tak terlihat ketika keluar dari Aula besar ini, sebagian diriku tak bisa menerimanya. Jika memang kau menyayanginya, bukankah seharusnya kau menemuinya? Kuso Jiji, kau Orangtua egois yang pengecut. Bahkan untuk bersikap pada anaknu sendiri.

Aku membawa buket bunga di tanganku, lalu beranjak dari sana, langkah menaiki tangga hingga keluar Aula. Kulihat pria tua itu hendak masuk ke dalam lift, aku langsung menekan tombol untuk menutup lift sehingga dia tak jadi masuk. Dia menatap terkejut padaku yang menunduk di sampingnya.

"Kau lagi! Masalah apa lagi yang ingin kau lakukan?! Apa mengeluarkan dari sekolah belum cukup?" Bentaknya padaku, entah bagaimana aku tidak bisa menganggapnya menyebalkan sekarang, dia hanya orangtua yang bergengsi tinggi dan tidak mau mengakui perasaannya.

"Hey, Ojiisan.. kau ini sangat pengecut.. pembohong yang bermulut besar.. kau benar-benar payah!" Jelasku menatap tajam padanya, dia melotot padaku setelah mengatainya dengan kata-kata kejam.

"Apa?! Beraninya kau bilang begitu pada Orangtua?! Anak yang tidak tahu diri!" Dia terlihat geram padaku.

Dia mendekat dan menarik bajuku hingga membuatku tertarik ke atas, aku memegang tangannya yang menarik bajuku erat, membalas tatapan beringasnya.

"Ojiisan yang tidak tahu diri! Kau menuruti egomu yang kekanakan, berbohong pada diri sendiri, kau bahkan tidak tahu akan dirimu sendiri.." dia semakin geram padaku, emosi sepertinya mulai menguasainya dia melancarkan tinjunya pada wajahku, saat marah dia benar-benar tak segan memukul orang lain.

Dia melepas bajuku dengan mendorong hingga aku terpojok di tembok, "Apa yang kau tahu?! Aku tidak membohongi diriku sendiri, ini semua sudah terjadi atas keinginanku! Percuma saja menyesalinya!" Jelasnya yang kembali berbohong, "Aku tidak ingin melukaimu, pergilah.." tangan terlihat terkepal kuat menahan emosi.

Aku mengusap sudut bibirku yang berdarah karena pukulannya, "Seharusnya kau perbaiki masalahmu dengan anakmu jika kau masih menyayanginya, aku membenci Ayahku karena dia mengkhianati Ibuku, tapi mengingat betapa baiknya dia aku tetap tidak mempercayainya. Aku hanya ingin dia jujur tapi dia pernah datang, rasanya kebencianku seperti sebuah bualan. Apa kau ingin merasakan itu selamanya?!" Tanyaku padanya yang terdiam.

"Bahkan, karena itu, Reina menderita! Kau yang membuatnya menderita, dan kau pura-pura tidak tahu?! Aku yakin kau yang paling tahu!" Perkataanku membuatnya terperangah dan terkejut.

Tiba-tiba dia menampakkan ekspresi kesakitan, tangannya meremas dadanya, nafasnya terlihat sesak. Hingga Ojiisan terjatuh ke bawah, aku terkejut melihatnya yang nampak kesakitan. Aku langsung mendekat padanya ketika dia mulai mengeluarkan keringat dingin.

"Ojiisan, kau tidak apa-apa?!" Aku bertanya yang sama sekali tidak di jawab olehnya yang meringis ke sakitan, apa mungkin dia memiliki penyakit jantung? Oh sial, aku melakukan kesalahan lagi.

Smartphone Ojiisan berbunyi di jasnya yang langsung kuangkat, ternyata itu supirnya yang sudah ada di depan gedung opera menjemputnya. Aku langsung memintanya untuk membawa Ojiisan ke rumah sakit dengan panik. Aku kemudian merangkul Ojiisan dan menenangkannya, aku menekan lift untuk turun ke bawah. Karena pertengkaran tadi, dia kena serangan jantung. Aku harus cepat, atau dia bisa mati.

.

.

.

.

.

TBC

Ck.. ck.. Naruto bikin onar lagi njay~