Chapter 1. Putra Seorang Harimau


Januari 2019

.

"Shinshodan?" Akira menggosok matanya yang setengah mengantuk. Sekilas ia melirik jam yang tergantung di dinding dekat meja telepon. Baru jam 8 pagi, dan Ogata sudah meneleponnya hanya untuk masalah ini? Bukannya ia tahu Akira pulang larut sekali semalam, tak lain tak bukan karena Ogata memaksanya merayakan pesta tahun baru dengan minum-minum di pub? "Kenapa mendadak aku harus tampil di Shinshodan?" Jelas, efek hangover ditambah kurang tidur membuatnya kehilangan sedikit kedigdayaannya dan mulai mengeluh.

"Ini permintaannya langsung," jawab Ogata. Sama sekali tidak ada nada hangover pada suaranya. Dalam hati Akira mengutuk ambang batas ketahanannya pada alkohol yang begitu rendah. "Ia fans beratmu, kelihatannya."

"Sejak kapan shodan bisa meminta siapa yang akan jadi lawannya?" gerutu Akira. "Lagipula acaranya tidak sampai dua minggu lagi kan?"

"Yup, 11 Januari. Hari Jumat. Jangan sampai lupa."

Akira menghela napas. "Aku tidak bisa, aku harus menghadiri pertandingan Hikaru."

"Ayolah Akira, yakin kau takkan menyesal. Anak ini benar-benar jenius, lho. Dia lulus ujian pro dengan nilai sempurna. Dengar-dengar, IQ-nya 168."

Tidak aneh, sebenarnya. Tingkat IQ seseorang memang tidak menjamin kemampuannya dalam go, tapi banyak juga pemain go profesional, khususnya yang masih berusia muda, yang memang dianugerahi kemampuan otak yang mumpuni. Dalam beberapa belas tahun terakhir, ada saja beberapa shodan yang dikatakan jenius atau digadang-gadang akan menjadi harapan baru dunia go. Tapi sejauh ini, belum ada yang benar-benar menarik.

"Baik, aku akan pertimbangkan," sahut Akira. Lebih cepat ia menyudahi pembicaraan ini, lebih baik. Ia ingin kembali bergelung di dalam selimutnya dan tidur hingga besok pagi.

"Oke, kalau begitu akan kukirim file-nya ke email-mu, ya."

Baru sore hari ketika Akira benar-benar membuka file yang dikirimkan Ogata. Kifu ujian pro tidak tercatat sebagaimana kifu pada pertandingan profesional, sedangkan dengan statusnya sebagai peserta ujian yang datang dari luar, tidak ada pula catatan pertandingan yang dilakukan pemain pro baru ini pada tingkat insei. Kelihatannya juga ia tidak pernah mengikuti turnamen amatir apapun. Tapi dalam berkas itu terdapat tiga kifu. Meski masih agak mengantuk, Akira memusatkan perhatiannya untuk mengamati lembar pertama. Kelihatannya kifu ini adalah catatan pertandingan dari ujian pro (yang sepertinya didapat dari saingan sang shodan, pemain muda berbakat yang kebetulan adalah murid kesayangan Ogata). Benar kata Ogata, anak ini sangat berbakat. Gayanya bisa dikatakan sebagai kombinasi gaya klasik dengan gaya modern, yang ia gunakan dengan begitu efisien dan cerdik dengan perhitungan yang matang. Sasaki Ryuu, murid Ogata, mungkin adalah pemain berbakat yang pernah menjadi Meijin Cilik, tapi jelas ia bukan tandingan anak yang bernama ... mata Akira beranjak ke bagian atas kifu yang memuat identitas pemain. Cye Rayleigh? Huh? Apa dia orang asing?

Akira mengamati lembar kedua. Ini adalah pertandingan tidak resmi melawan Ogata, tanpa komi. Bagian ini Akira tidak mengerti, kemungkinan besar Ogata menantang anak ini setelah mengalahkan muridnya. Berbeda dengan pertandingan pertama, pertandingan ini begitu ketat dan intens. Yang menakjubkan, hasil pertandingan itu seri. Benar bahwa pertandingan tersebut dilangsungkan tanpa komi, yang berarti seharusnya Ogata menang 6,5 komi. Tapi itu tetap skor yang menakjubkan mengingat sang shodan melawan pemegang gelar Kisei, Jyudan, dan Ouza yang bisa dikatakan sebagai pemain terbaik Jepang.

Ia beranjak pada lembar ketiga, dan saat itu pula ia menahan napas.

Permainan kali ini begitu indah. Tidak seperti dua permainan sebelumnya, tidak ada nada ketergesaan seperti pada permainan pertama, atau pertarungan hingga titik darah penghabisan seperti pada permainan kedia. Permainan ketiga mengalir lembut, bak untaian puisi.

Nama sang lawan tidak tertera pada kifu tersebut, tapi ia bisa mengenal gaya itu di manapun. Setiap pemain selalu memiliki suatu gaya yang khas, bahkan walau dihadapkan pada situasi yang berbeda, bahkan walau waktu berjalan dan pemain tersebut berevolusi. Akira tak selalu dapat mengidentifikasi seseorang dari gaya bermainnya hanya lewat beberapa kifu saja, tapi lain halnya dengan kasus ini. Ia bahkan berani bertaruh. Ia mengenal gaya tersebut bak bagian belakang tangannya sendiri.

Ia sadari tangannya bergetar ketika mengambil ponsel yang tergeletak di sisi futon dan membuka kontak, mencari nama Ogata.

"Shindou," ia sadari suaranya bergetar ketika mengucapkan nama itu, segera setelah terdengar sapaan dari seberang sana. "Ia melawan Shindou! Ogata-san dapat ini dari mana?"

"Oh, selamat sore juga, Akira," ia bisa mendengar seringai Ogata di sisi sana. "Ah, sudah kuduga kau tertarik pada hal itu. Menjawab pertanyaanmu, tentu saja aku dapat dari berkas administratif pendaftaran ujian pro, dari mana lagi memang?" pria itu terkekeh. "Dia memberi tiga kifu, tentu, ketiganya anonim, tapi jelas ketiganya dimainkan melawan orang yang sama."

"Shindou..."

"Atau orang yang entah bagaimana memiliki karakter permainan menyerupai dia. Yang mungkin saja terjadi, kau tahu."

Bagian itu, Akira ingin membantah. Shindou memiliki gaya yang sangat khas, gaya licik penuh jebakan dan tipu muslihat yang diwarnai dengan sentuhan Shuusaku versi modern. Setelah Shindou naik daun, tentu saja gaya Shuusaku kembali diperbincangkan dan diulik, beberapa bahkan mencoba memodifikasinya untuk menjawab strategi modern. Tapi bagaimanapun, tak ada yang menggunakannya seperti Shindou...

"Daripada itu, kau tidak lihat gaya permainan anak ini?"

Meski sadar Ogata tak melihat ini, Akira mengangguk. "Ya, gayanya berbeda, tapi aku bisa melihat sentuhan Shuusaku." Sentuhan Shindou, maksudnya. "Apa menurutmu, anak ini adalah murid Shindou?"

Ogata tak melihat titik air mata yang mulai memburami matanya, tapi pastinya ia mendengar suaranya yang agak bergetar, karena ia berujar pelan, "Akira..."

"Ah, tidak, tidak," Akira menghapus air matanya. "Maksudku, kalau Shindou masih hidup, mungkin anak ini pantas menjadi muridnya..."

"Kita tidak tahu bagian itu..."

"Benar. Kita tidak tahu bagian itu," angguk Akira, tahu benar maksud kakak seperguruannya itu. Shindou mungkin sudah menghilang selama empatbelas tahun, tapi tidak pernah ada kabar yang mengatakan bahwa Shindou sudah tiada, yang berarti selalu ada harapan walau sekecil apapun, bahwa ia masih hidup dan baik-baik saja di suatu tempat entah di mana. Ini harapan yang terlalu muluk, mungkin, tetapi kemungkinan itu selalu ada.

Hening mengemuka sebelum akhirnya Ogata berujar, "Jadi bagaimana? Mau?"

Ini lebih dari sekadar demi kepentingan Akira, jika Ogata berbuat sejauh ini. Aneh, sebenarnya, karena kalau Ogata sedemikian penasarannya dengan anak ini, bukankah lebih baik jika ia sendiri yang menghadapinya?

Akira melirik lagi kifu di hadapannya. Akankah ini, seperti juga sekian banyak hal yang selama ini ia harapkan menjadi petunjuk keberadaan Shindou, akhirnya hanya akan menjadi harapan kosong belaka?

Berusaha menekan ekspektasinya serendah mungkin, ia pun menjawab, "Baik, aku menerima."

.


.

"Rayleigh-kun?" sapa Akira pada anak muda yang sedang duduk sendirian di ruang tunggu Ki-In.

"Ah, selamat pagi, Touya Meijin," pemuda itu langsung bangkit dari duduknya dengan sigap, membungkuk hormat dan bicara lancar dalam bahasa Jepang. "Senang sekali bertemu Anda. Anda dapat memanggil saya Cye."

"... Sai?"

"Nama saya dieja C-Y-E. Cye. Ah, saya tidak terbiasa dipanggil dengan nama keluarga, jadi..." ia mengangkat kepalanya dan menggaruk bagian belakang kepalanya dengan malu-malu.

Diam-diam Akira memperhatikan pemuda di hadapannya. Cye Rayleigh, tidak seperti namanya, ternyata sangat-Asia. Kecuali matanya yang besar dan berwarna hijau cemerlang, ia tampak oriental dengan rambut hitamnya dan garis wajahnya yang halus. Ia terbilang tinggi untuk anak seusianya, tingginya nyaris setelinga Akira. Wajar mungkin, mengingat kemungkinan bahwa ia berdarah campuran. Tapi ada sesuatu yang mengganggu. Wajah itu, entah bagaimana, terasa begitu familiar, tapi sekaligus juga tidak.

"Selamat atas kelulusanmu," Akira berbasa-basi. "Kudengar kau lulus dengan kemenangan sempurna."

"Terima kasih, Touya-sensei."

"Kudengar juga kau seri melawan Ogata-sensei?"

Akira bisa melihat semburat pink di wajah pemuda itu. "Ah, itu hanya sekadar keberuntungan, saya rasa. Kami hanya bermain-main menghabiskan waktu. Ogata Kisei pastilah menahan diri melawan saya."

Tidak begitu, kalau melihat kifu yang dikirimkan Ogata.

"Saya sangat menantikan pertandingan hari ini, Touya-sensei," pemuda itu melanjutkan dengan sangat antusias. "Saya sangat mengidolakan Anda. Saya mengikuti nyaris semua pertandingan Anda. Uhm, saya mulai belajar go karena membaca artikel kemenangan Anda secara berturut-turut untuk ketiga kalinya di Fujitsu Cup," ia menambahkan bagian terakhir dengan agak malu-malu.

Fujitsu Cup serasa bak kenangan yang jauh. Kalau tak salah kemenangan ketiganya pada Fujitsu Cup terjadi sekitar tiga atau empat tahun lalu. Artinya anak di depannya baru belajar go sekitar tiga tahun?

Tidak terlalu mengherankan, sebenarnya. Anak-anak jelas lebih mudah menginternalisasi suatu keahlian baru. Ia bahkan bisa mencontohkan satu anak yang baru belajar go selama dua tahun, tanpa guru—atau begitu klaimnya—dan langsung masuk ke jajaran elit pemain go profesional, bahkan disebut-sebut sebagai pemain jenius yang diharapkan akan mampu mencapai takhta puncak dunia go. Mengalahkan semua pemain lain, termasuk dirinya, Touya Akira, yang lahir dan dididik khusus untuk itu. Itu, sebelum ia raib bak ditelan bumi tanpa jejak sedikitpun, pada usia 17, empatbelas tahun lalu.

Dan kini di hadapannya muncul seorang pemuda jenius ... dengan kifu yang menyatakan bahwa ia pernah bermain melawan seorang Shindou Hikaru.

Bicara soal Fujitsu Cup...

"Oh, memangnya media di Amerika Serikat juga meliput go Jepang?"

"Ah, soal itu... Uhm, saya ... membaca di internet..."

Akira mengerung. Internet tidak seperti media lain, seseorang harus secara aktif mencari, atau setidaknya pernah mencari topik yang berkaitan, agar algoritma mesin pencari dapat merekomendasikan suatu tajuk berita. Ditambah komunitas go adalah komunitas kecil. Setinggi apapun prestise sebuah kejuaraan di kalangan peminat go, berita tentangnya mungkin takkan begitu saja menjangkau khalayak ramai. Lagipula Fujitsu Cup bukan kejuaraan multinasional. Yang berarti kemungkinan anak ini secara aktif mencari tentangnya atau tentang go, atau jika menimbang usianya, seseorang yang berhubungan dengannya melakukan hal itu.

Berlebihankah kiranya, jika ia berharap anak ini entah bagaimana akan membawa petunjuk yang bisa mengantarnya pada seseorang yang hilang dari hidupnya?

"Ah ya, Cye-kun, omong-omong..."

"Touya Meijin!" seruan seseorang memutus pertanyaan Akira. Menahan keluhannya dalam hati, Akira berpaling ke asal suara. Tampak reporter veteran Weekly Go, Kosemura, menghampiri mereka bersama dengan seorang fotografer yang tidak Akira kenal.

Akira langsung membalas sapaan dan membungkuk hormat. Di belakangnya, pemuda blasteran (?) itu juga menuruti jejaknya.

"Ah, Touya Meijin, selamat telah mempertahankan gelar Tengen untuk kelima kalinya," Kosemura memulai. "Ini tahun ketiga Anda memegang tiga gelar sekaligus. Apa ada niatan Anda untuk merebut gelar lain?"

"Ah, terima kasih, Kosemura-san. Tapi saya rasa, saya bukan bintang hari ini, bukan begitu? Jika Anda mau, nanti saya bisa mengalokasikan waktu untuk berbincang soal itu."

Kosemura kelihatannya malu, dan lekas membuat janji wawancara, yang segera Akira masukkan ke agenda di smartphone-nya. Sebagaimana seharusnya, reporter itu lekas mengalihkan perhatian pada pemuda di sisinya dan bicara terbata dalam bahasa Inggris dengan mencontek catatan di tangannya.

"Uhm, Mr. Rayleigh, would you be very kind to..."

Tawa pemuda di sampingnya terdengar bak gemerincing lonceng. "Tidak usah repot-repot, uhm ... Kosemura-san. Saya bisa bahasa Jepang. Saya mungkin memiliki nama asing, tapi ibu saya orang Jepang."

"Oh," Kosemura tampak memerah. "Uhm, bagus sekali kalau begitu. Ah, jika boleh saya ingin melakukan sedikit wawancara..."

Akira duduk bersandar di kursi ruang tunggu sementara Kosemura melakukan wawancara, dengan tenangnya mengambil selembar Weekly Go dan pura-pura membaca sementara menguping pembicaraan. Sejauh yang ia dengar, Kosemura mengajukan pertanyaan standar yang ia jawab dengan standar pula. Pemuda itu lahir di Michigan, katanya. Ia menghabiskan waktu hingga usia 7 tahun di lingkungan kampus berhubung ibunya kuliah di sana, sebelum pindah bersama ibunya yang mendapat pekerjaan di Manhattan, dan sejak saat itu berpindah-pindah, namun tidak memberitahukan detail pekerjaan ibunya. Kelihatannya ibunya adalah single mother; sempat ada saat-saat yang agak canggung ketika Kosemura menanyakan tentang ayahnya, dan Cye menjawab sambil tertawa, "Aku tidak tahu siapa ayahku. Ah, tidak apa, Kosemura-san, aku sudah biasa ditanya begitu. Tapi, kalau bisa off the record, ya..." dan pembicaraan mengalir ke topik selanjutnya.

Rupanya ibunya adalah peminat go, kemungkinan besar pemain amatir. Hal inilah yang membuatnya iseng menelusuri berita go dan membuatnya menjadi fans berat Touya Akira. Itu juga yang membuatnya serius menekuni go sejak usia 10 tahun. Sayangnya, ia tidak banyak ikut turnamen amatir, terutama karena katanya 'tidak begitu banyak kesempatan bermain go di Amerika, yang membuatnya sangat berharap bisa pergi ke Jepang untuk menjadi pemain go profesional'. Hobinya selain go adalah basket, main game, membaca manga, dan menonton anime. Makanan favoritnya sushi. Ia belum punya pacar. Ia bisa empat bahasa: Inggris, Jepang, Korea, dan Spanyol, meski dua yang terakhir katanya kurang lancar. Dan yang membuat Akira terperangah hingga tak sadar menurunkan koran di tangannya: salah satu alasannya ke Jepang selain go adalah karena "ingin merasakan atmosfer SMA di Jepang seperti yang ia lihat di manga dan anime'. Itu juga artinya ia sudah lulus SMP kan? Ia tahu sekolah dasar di Amerika hanya lima tahun, tidak seperti di Jepang, tapi bukankah karena masa ujian pro adalah sejak Juli tahun kemarin, artinya ia sudah lulus sejak usianya 13?

Akira melihat wajah Kosemura yang menganga mendengar jawaban itu, dan mati-matian berusaha untuk tidak menyusrukkan wajah ke telapak tangannya. Pemuda di depannya memang jenius, kelihatannya, tapi bagaimanapun ia memang masih anak-anak.

Wawancara tersebut, bagaimanapun, harus segera dihentikan karena rupanya matahari sudah mulai meninggi. Kosemura mengajak mereka ke depan Ki-In untuk berfoto sebelum pertandingan, dengan pose standar yang sepertinya sudah jadi template untuk setiap pertandingan Shinshodan. Pemuda di sampingnya, Akira memperhatikan, sama sekali tidak tampak gugup. Ia terlihat tenang, tapi Akira tahu bahwa ia berusaha keras mengendalikan antusiasmenya, hingga rasanya Akira bisa melihat pegas di bawah kakinya, membuatnya nyaris memantul bak bola bekel pada setiap langkah.

Selesai sesi foto, mereka memasuki Yugen no Ma. Beberapa aparatur pertandingan sudah ada di sana, dan Akira sama sekali tak merasa aneh bahwa sudah ada Amano, sang wartawan senior, bersama Ogata-san di sana.

Pertandingan shinshodan, seperti biasa, dilakukan dengan reverse komi 6,5. Walau sistem tersebut diterapkan untuk memberi keuntungan bagi shodan, agar permainan lebih adil, biasanya para shodan tetap kesulitan karena lawannya adalah pemegang gelar. Tapi kali ini, Akira merasa beban komi tersebut benar-benar melawannya.

Hitam bermain dengan solid sekaligus juga licin. Akira bisa melihat nuansa gaya Shuusaku tersirat di sana-sini. Ia jadi mengerti kecurigaan Ogata yang mengatakan bahwa kemungkinan anak ini adalah murid Shindou Hikaru—yang juga membuka kemungkinan bahwa dia, di manapun ia berada kini, masih hidup. Entah bagaimana, hal itu membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Darahnya bergolak untuk sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam empatbelas tahun terakhir.

Permainan berlangsung ketat dan intens. Sejauh ini Akira memimpin, tapi lawannya memberikan perlawanan yang sangat patut diapresiasi untuk seorang shodan. Itu, sebelum sang shodan menempatkan batunya di satu titik yang membuat Akira berhenti bernapas.

Langkah itu terlihat tidak strategis, bahkan bisa dibilang sebagai satu kesalahan. Itu jelas bukan jawaban dari langkah Akira, dan dilihat dari mana pun, tidak ada ceritanya langkah itu akan mungkin memberinya keuntungan. Tapi justru itu. Langkah ini terlalu mirip strategi seseorang untuk bisa disebut kebetulan. Tepatnya, terlalu mirip Shindou. Tidak, tepatnya versi lebih maju dari strategi ala Shindou.

Jika ia memang murid Shindou seperti dugaan Ogata, itu memang sangat mungkin. Nostalgia meluap memenuhi dada Akira, mengaktifkan produksi adrenalin yang membanjiri darahnya, membuat jantungnya berguruh oleh antusiasme dan antisipasi. Seulas senyum menjelma di bibir Akira kala menempatkan langkah berikutnya.

Permainan mendadak berkali lipat jauh lebih menarik dan menegangkan. Di ruang yang sepi itu, hanya terdengar suara serak batu di goke dan detak batu yang membentur goban, sementara seisi aparatur permainan mengawasi dengan wajah tegang dan mata tak berkedip sedikitpun. Tapi Akira tahu, di luar sana kehebohan melanda. Ia bisa membayangkan betapa panasnya perbincangan dan perdebatan di ruang tonton, spekulasi yang mungkin muncul setelah ini...

Anak ini jelas punya bakat, pikir Akira. Bahkan walau begitu sering dibahas dan dipereteli, tidak mudah untuk menerapkan cara berpikir dan strategi khas Shindou dalam pertandingan, khususnya melawan langkah metodis sekaligus agresif yang menjadi ciri khas Akira. Sayang sekali anak ini hadir setelah Shindou, karena Shindou akan menjadi bayangannya seperti Akira selalu dibayang-bayangi oleh ayahnya.

Tapi Akira sudah terlalu sering bermain melawan Shindou, sehingga sedikit banyak ia memiliki gambaran mengenai bagaimana strategi tersebut dapat memereteli teritori Akira—atau sebaliknya, bisa berbalik menyerang diri sang pemain sendiri. Meniru gaya Shindou saja takkan membawanya ke mana-mana. Mungkin ini saatnya ia memberi sedikit visi pada anak ini, agar ia bisa berkembang dan menemukan gayanya sendiri.

Keluar dari zona amannya, Akira mengambil pendekatan baru dalam menghadapi strategi Shindou. Pendekatan yang ia sebut metode anti-Shindou ini baru ditemukannya bertahun-tahun setelah Shindou menghilang, hasil dari kontemplasi dan upayanya mereproduksi berbagai permainan Shindou. Selama ini, ia tak pernah bisa mengujikan pendekatan itu secara maksimal, sehingga ia masih tidak bisa mengetahui efektivitasnya. Biasanya orang yang mencoba-coba menerapkan strategi Shindou akan langsung mengalami jalan buntu begitu ia menerapkan metode ini, tapi itu mungkin karena mereka hanya meng-copy gaya Shindou tanpa tahu esensinya, bahkan tanpa punya kompetensi yang cukup untuk itu. Tapi kalau anak ini...

Langkah anak itu mendadak berhenti, dan Akira sedikit mengangkat wajah memperhatikan reaksinya. Akira bisa melihat sedikit gurat shock di sana, dan terdengar suara denting kecil kala biji go yang semula sudah siap di tangannya kembali bersatu bersama teman-temannya di goke. Jemari yang semula memegang biji go itu tampak terangkat menyentuh dagunya, sementara si empunya berpikir.

Selang beberapa menit, sebelum pemuda itu kembali melangkah. Saat itu juga jantung Akira kembali berhenti berdetak, sebelum kemudian memompa lebih cepat dari sebelumnya. Darahnya yang mengalir kemudian terasa berdesir lebih cepat, sementara perasaan tegang penuh antisipasi membuat tangannya gemetar dan titik air mata membayang di ujung matanya.

Langkah itu tidak hanya brilian, tetapi juga sangat orisinal.

Ketika permainan berakhir dan nyata bahwa Akira kalah setengah moku, anehnya, dadanya diluapi oleh rasa bangga.

.


.

"Hebat sekali, Raylek-kun...," Kosemura langsung menghambur menghampirinya segera begitu dipersilahkan.

"Kosemura-san, tidak usah memanggilku pakai nama keluarga. Kesannya terlalu formal, aku tidak terbiasa," ujar pemuda itu, kelihatan benar meringis mendengar bagaimana reporter itu membabat cara pengucapan namanya.

"Eh iya, uhm ... Chiye-kun...," Kosemura merevisi, yang tidak malah lebih baik, sebenarnya.

"Sai..."

"Maaf?"

"Namaku dibaca Sai, Kosemura-san," pemuda itu tersenyum.

"Oh, Sai?" Kosemura tampak mengerjap. "Saya tidak tahu apa Anda tahu ini, tapi beberapa belas tahun lalu pernah ada sensasi internet yang melegenda, pemain go hebat yang juga bernama sama..."

"Iya, saya tahu," ia kembali menampakkan senyuman manis. "Ibu saya adalah fans beratnya, jadi saya dinamakan seperti itu."

"Wah, betulkah?"

"Ya, ibu saya mengumpulkan semua kifunya."

"Pantas permainan Anda menyiratkan nuansa gaya Shuusaku, kalau begitu. Oh, bicara tentang Shuusaku, dulu pernah ada pemain Ki-In yang cukup fenomenal, sayangnya ia mengundurkan diri tak lama setelah debutnya. Ia sempat menjadi Meijin Wanita, memenangkan Agon Kiriyama Cup, dan merebut Tengen, kalau tak salah. Ia dijuluki Harimau Betina Ki-In."

"Oh, aku tahu itu!" sambut Kosemura. "Bocah yang sangat hiperaktif, cewek super-tomboy yang selalu pakai jersey bola ke Ki-In sampai semua orang salah mengira dia sebagai cowok, kan?"

"Ya, ya, dia itu yang memproklamasikan diri sebagai rival Touya-sensei. Betul, kan? Namanya ... ummm, siapa yaaa?"

"Shindou Hikaru," sebelum Touya sempat menjawab, pemuda di hadapannya melontarkan nama itu di bawah senyum cerahnya. "Betul kan?"

Bukan cuma Kosemura dan Amano yang merasa terkejut, bahkan Akira pun merasa jantungnya berdegup dalam kata itu.

"Oh, Anda tahu Shindou Hikaru, Cye-kun?"

"Tentu!" baru Akira ingat pada apa, atau tepatnya pada siapa, senyum cerah itu mengingatkannya. "Ia ibuku."

.


.