Chapter 11. Pulang


Dalam beberapa hari selanjutnya, Akira bulak-balik mengunjungi rumah sakit tempat Cye dirawat. Untungnya, ia sedang tidak ada jadwal seminar, shidougo, atau pertandingan yang mengharuskannya keluar Tokyo selama setidaknya sebulan ke depan. Alhasil, setiap hari, tak peduli jika hari itu ada pertandingan hingga sore, ia menyempatkan diri untuk datang, bahkan jika itu hanya untuk sekadar melihat Cye dari balik jendela.

Mungkin untung baginya, karena setelah pembicaraan itu (yang lebih tepat dikatakan sebagai 'pertengkaran'), Hikaru bersikap sedikit lebih lunak padanya. Alih-alih mengajak ribut, wanita itu memilih untuk bersikap tidak peduli dan menghindarinya sebisa mungkin. Jika ia berkunjung, Hikaru selalu mencari alasan untuk meninggalkan ruangan. Ini bukan situasi ideal, tentu, dan terus terang agak aneh, kalau melihat betapa besar ketidaksukaan Hikaru jika Akira dekat-dekat dengan Cye. Tetapi bagi Akira, itu jauh lebih baik daripada diusir terang-terangan. Lagipula, jika itu berarti ia bisa menghabiskan waktu dengan Cye, kenapa ia tidak memanfaatkan sebaik-baiknya? Ini bukan berarti ia secara aktif mengabaikan persyaratan Hikaru, jika Hikaru sendiri yang memberi kesempatan, bukan?

Hal yang Akira lakukan saat berdua dengan Cye sebenarnya tidak banyak. Rata-rata ia hanya duduk mendengarkan Cye bercerita kesana-kemari, atau mendorong kursi rodanya menapaki jalan setapak kala mereka berjalan-jalan di taman. Setelah berkonsultasi dengan dokter, ia pun menambahkan agenda baru untuk mengisi kebersamaan mereka. Apa lagi jika bukan bermain go?

Untuk hal ini, awalnya Akira sempat ketar-ketir. Bagaimanapun kepala Cye sempat terbentur cukup hebat pada saat kecelakaan. Ditambah lagi, pada awal-awal mereka mulai bermain, Cye kelihatan berjuang keras untuk mengambil biji go. Tak hanya itu, ia pun sering mengeluh pusing dan muntah di tengah permainan (yang membuat Akira ketakutan jika benturan itu menyebabkan gangguan permanen). Untungnya, perlahan kondisinya membaik. Dokternya kelihatan puas; menjepit dan memindahkan biji go rupanya baik untuk memperbaiki kemampuan motorik halusnya, demikian katanya. Melihat perkembangan ini, tentu saja Akira makin semangat. Seringkali, mereka bermain go hingga malam, sebelum perawat datang untuk mengabarkan bahwa jam besuk sudah habis.

Begitu seringnya Akira bertandang, hingga wajahnya dikenal oleh para staf rumah sakit. Para staf pada umumnya menganggapnya kerabat pasien. Tapi beberapa di antaranya—sayangnya—adalah pecinta dan pemerhati dunia go, sehingga tentu saja kehadirannya mengundang perhatian. Dengan statusnya sebagai Meijin, orang kebanyakan seringkali merasa terlalu segan bahkan untuk meminta shidougo atau tanda tangan, tetapi beberapa yang cukup berani mendekatinya dengan alasan yang sama.

Bagi Akira, itu tidak masalah, tentu, selama mereka tidak lantas memperbesar masalah dan membuat pers datang berkunjung. Beberapa kali, ia meminta agar kehadirannya di situ (juga kasus Cye) tidak dibesar-besarkan. Hal terakhir yang ia inginkan adalah rombongan wartawan yang berkumpul layaknya sekawanan gagak dan mengganggu proses pemulihan Cye secara keseluruhan. Karena itu, bayangkan terkejutnya ia, ketika suatu hari ia datang berkunjung dan menemukan sang wartawan senior, Kosemura, tengah duduk di ruang tunggu rumah sakit.

Dengan agak panik, ia menengok kanan-kiri, mencari-cari seandainya ada wartawan lain yang juga menunggu kedatangannya. Untungnya, tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Berusaha tidak mengundang perhatian, ia pun berbalik diam-diam, hendak mencari jalan lain menuju kamar Cye. Sayangnya, ketika ia berbalik itulah, Kosemura menangkap sosoknya.

"Touya Meijin?"

Sadar tak bisa meghindar, Akira berbalik, mengusahakan ekspresi dan nada suaranya senormal mungkin. "Kosemura-san," salamnya balik.

Pria itu setengah mendekatinya dan memberi hormat. "Selamat sore, Touya Meijin. Kebetulan sekali bertemu. Anda sedang apa di sini?"

"Ah," entah mengapa, rasanya ia tak bisa begitu saja mengakui bahwa ia hendak menjenguk muridnya. "Ada … um, urusan sedikit."

"Oh?" rona khawatir tampak di wajah sang wartawan. "Apa Anda sedang mengantar Touya-sensei check-up? Oh ya, bagaimana keadaan beliau?"

"Ayahku … um, seperti biasa," Akira sengaja tidak mengonfirmasi pertanyaan pertama. Rasanya kakinya sudah gatal ingin pergi dari situ. "Um, terima kasih atas perhatian Anda. Maaf jika saya terkesan kurang sopan, tapi saya…" ia memberi kode ingin segera pergi.

"Oh ya, ya. Maaf jika saya menahan Anda. Silakan, Touya Meijin…"

Sekali lagi Akira membungkuk memberi hormat. Seharusnya ia bisa dengan mudah melarikan diri dari situ tanpa masalah berarti, jika saja pada saat itu, Morishita dan Isumi kebetulan memasuki pintu rumah sakit. Melihatnya yang sedang berdiri di sana, Morishita yang tidak tahu urusan itu berseru, "Oh, itu Touya! Touya!"

Ingin rasanya Akira membenamkan wajah ke balik telapak tangannya. Mati-matian ia berusaha bersikap tenang, sementara Morishita dan Isumi mendekati mereka.

"Isumi Ouza, Morishita-sensei," Kosemura menghormat. "Kebetulan sekali bertemu Anda berdua."

"Ah ya, memang kebetulan. Sedang apa di sini, Kosemura-san?" Morishita berbasa-basi.

"Menemani istri," ia tersenyum lebar. "Istri saya mau periksa ke dokter kandungan, kebetulan tadi ingin ke toilet dulu," ia menunjuk pintu toilet tak jauh dari mereka.

"Oh? Kalau tidak salah, anak kedua, ya? Selamat, ya!"

"Terima kasih," pria itu sedikit menggaruk kepalanya. "Oh, Anda sendiri … kalau saya boleh tahu, ada urusan apa, ya?"

"Sama seperti Touya," Morishita menunjuknya dengan gaya kasual. "Biasalah … gantian jaga."

"Gantian jaga?" sang wartawan melirik ke arah Touya. Kerung dalam tampak di dahinya.

"Ah, anu…" Sayangnya, Akira agak panik hingga tidak bisa berpikir jernih. Sebelum ia sempat mengarang alasan, Morishita sudah angkat suara lagi.

"Kau tidak tahu, Kosemura? Putra Shindou kan kecelakaan, dan dirawat di sini. Eh, omong-omong soal itu…," Morishita menoleh padanya, kelihatannya tidak menyadari walaupun Isumi menarik-narik ujung bajunya. "Shindou bilang, gips Cye sudah dibuka. Kurasa ia akan diperbolehkan keluar, mungkin dalam waktu dekat. Sayangnya, aku dan Isumi ada acara keluar kota. Apa kau ada waktu untuk menjemputnya atau…"

"Ah, Waya," Isumi menyelanya. "Aku baru ingat kalau dompetku sepertinya ketinggalan di kedai yang tadi. Tapi aku tidak ingat jalannya."

"Eh, benarkah? Waduh. Mungkin kita bisa telpon dulu…"

"Terlalu lama. Nanti keburu diambil orang. Maaf, Kosemura-san, sepertinya kami harus segera pergi."

Dengan itu, tanpa banyak bicara, Isumi menggerek Morishita (dan Akira) menjauh dari Kosemura. Agak sedikit terburu-buru dan kasar untuk ukuran Isumi, memang. Tapi kali itu, Akira bersyukur.

"Apa sih, Isumi?" protes Morishita, untungnya setelah mereka aman di dalam elevator yang membawa mereka ke lantai tempat Cye dirawat.

Isumi melepaskannya. "Kau itu kebanyakan bicara," tegurnya.

"Ish. Memangnya kenapa? Toh ini bukan rahasia atau skandal…"

Akira tidak terlalu memperhatikan apapun yang mereka bicarakan setelahnya. Elevator berhenti dengan bunyi 'ding', dan ia (dengan dua orang yang masih berdebat di belakang) pun melangkah keluar. Ketika berbelok di lorong, ia bisa melihat sosok Hikaru yang sedang bicara dengan seorang dokter di depan pintu kamar Cye. Apapun yang mereka bicarakan, sepertinya adalah sesuatu yang ditutupi dari Cye, karena kenapa juga mereka harus bicara di luar?

Sayangnya, pembicaraan itu sepertinya telah selesai bahkan sebelum ia berada dalam jarak yang cukup untuk bisa mendengar isinya. Sang dokter undur diri, meninggalkan Hikaru yang tercenung sendirian.

Mungkin melihat apa yang ia lihat, Isumi dan Morishita menghentikan apapun yang sedang mereka bicarakan dan bergegas mendekat. Menyadari kedatangan mereka, Hikaru menoleh dan memberikan sekilas senyum. Yang tentu saja langsung berubah masam ketika menyadari kehadirannya.

Merasa asing di tengah ketiga sahabat itu, Akira membuka pintu kamar Cye. Hikaru, ia tahu, menoleh padanya. Tapi karena ia tidak bicara apapun, Akira menganggapnya sebagai persetujuan dan meneruskan langkahnya memasuki kamar.

Cye tampak sangat sumringah melihat kedatangannya. Benar kata Morishita, gips yang membalut kakinya sudah dilepas, meski kakinya masih dibalut perban. Bocah itu tengah bersandar di kepala tempat tidur, dengan meja portabel terpasang melintang di atas pangkuannya. Papan go dengan permainan separuh jalan terhampar di atasnya.

"Shishou," salamnya ceria.

Akira tersenyum dan mendekat. Ia bisa melihat sebuah tabloid terbuka di ranjang di sisi pemuda itu. "Rekonstruksi babak perempat Jyudan?" tanyanya, mengenali susunan biji-biji di atas goban.

"Benar," angguk Cye. "Ah, kata artikel ini, Anda menang melawan Kurata-sensei? Selamat, Shishou!"

Pertandingan yang ia maksud berlangsung baru-baru ini, dan berita mengenainya baru diturunkan dalam edisi terbaru. Pertandingan yang sangat ketat, patut ia akui. Kurata terus memojokkannya hingga nyaris membuatnya tak bisa berkutik. Ia hanya berhasil menang tipis setengah moku, itu pun gara-gara Kurata membuat kesalahan di yose yang membuatnya kehilangan nyaris 20 moku.

Bisa dikatakan, kondisi mental maupun fisiknya belakangan tidak prima. Semenjak Cye dirawat di rumah sakit, ia nyaris tidak bisa tidur nyenyak. Ditambah, ia harus bulak-balik dari rumah ke Ki-In dan rumah sakit setiap hari, kadang sampai larut. Ia memang menaiki taksi, dan jarak Ki-In ke rumah sakit tidak terlalu jauh. Tetap saja, semua itu … ditambah beban stress, lama-lama berpengaruh juga pada performanya di atas goban.

Segalanya mungkin akan lebih baik jika ia bisa menunggui Cye di rumah sakit. Sayangnya, ia jelas harus pulang jika tak ingin keluarganya khawatir dan bertanya macam-macam ke Ki-In, terlebih karena ia tak pernah mengatakan pada Hanako ke mana ia dalam … um, hampir dua minggu terakhir.

"Omong-omong, Shishou … ah, ada bagian yang saya tidak mengerti…"

"Yang mana?" Akira menarik kursi dan duduk di sampingnya, memperhatikan Cye membongkar beberapa langkah dan menunjukkan bagian yang jadi masalah. Hm, memang langkah yang problematik. Terus terang ia agak kesulitan saat itu, Kurata terus mendesak tanpa kenal ampun. Ia terjebak dalam pertarungan ko, hingga akhirnya terpaksa menyerahkan hampir seluruh teritorinya di kuadran kanan atas.

Tak lama, mereka terlibat dalam diskusi panjang mengenai alasan di balik keputusan beberapa langkah (yang menurut Cye bermasalah), beserta kemungkinan langkah alternatif dan prospeknya untuk membalikkan keadaan. Beberapa alternatif yang diajukan Cye memang prematur untuk ukuran pertandingan Jyudan—beberapa sangat terburu-buru dan menciptakan masalah baru—tetapi ia juga mengutarakan solusi yang terlihat sangat potensial. Tak urung, ia merasakan semburat rasa bangga karenanya.

Seandainya saja ia bisa mengukuhkan status mereka, pikirnya. Sama sekali tidak sulit, sebetulnya. Mereka sedang di rumah sakit, amat mudah baginya mengambil sedikit sample. Ia tahu Cye takkan keberatan jika ia meminta beberapa lembar rambutnya atau ujung kukunya, misalnya. Tidak pun, jika ia bisa cukup jeli dan mencari rambut yang rontok…

Tapi masalahnya, Cye masih di bawah umur. Akira tidak memiliki hubungan legal dengan Cye (setidaknya saat ini), yang berarti ia tak bisa mengajukan tes DNA tanpa persetujuan Hikaru. Cara satu-satunya adalah meminta pengadilan untuk mengajukan tes, tetapi itu sama saja seperti membuka kaleng tuna dengan buldozer: membuka masalah baru dan menciptakan kerumitan yang tidak perlu.

Jadi untuk saat ini, ia hanya bisa puas dengan tempat apapun di sisi Cye yang diberikan Hikaru. Memang sama sekali tidak ideal, tetapi ini adalah sebuah permulaan yang baik. Jika ia bisa bersabar dan memberi sedikit waktu, mungkin segalanya akan bergerak ke arah yang lebih baik.

Akira bukan seorang yang penyabar. Akan tetapi, untuk sebuah kemenangan yang pasti akan hadir di depan mata, apalah yang tak bisa ia lakukan?

.


.

Gips yang membalut kaki Cye memang sudah dibuka, tetapi itu tidak berarti ia boleh meninggalkan rumah sakit semudah itu. Bagaimanapun, ia perlu kontrol dan terapi untuk memulihkan kemampuan motoriknya. Bagian ini terlihat lebih berat daripada seharusnya, karena walaupun motorik halusnya sudah jauh berkembang, tidak demikian dengan motorik kasarnya. Pada suatu hari, ketika Akira terlambat berkunjung karena urusan Ki-In (dan Cye mungkin mengira ia tidak bisa datang), ia sempat tak sengaja menguping sesi terapinya dari balik pintu. Anak itu berteriak dan menangis, frustrasi karena berkali-kali jatuh. Hanya karena Cye bersikukuh memasang topeng ceria dan optimis di depannya, Akira menahan nyeri di dadanya dan berusaha tersenyum di depan Cye.

Melihat kondisi Cye, sepertinya ia butuh setidaknya beberapa minggu hingga benar-benar pulih. Akan tetapi, Hikaru bersikukuh agar ia segera dapat keluar rumah sakit. Akira mengatakan bahwa jika masalah keuangan yang menjadi kekhawatiran Hikaru, ia tak perlu memikirkan soal itu karena Akira akan menanggungnya. Namun Hikaru menampiknya, bahkan ia terus memaksa sang dokter untuk segera melepaskan Cye. Akhirnya, setelah dua minggu dirawat, sang dokter pun membolehkannya rawat jalan.

Jelas, rencana kepulangan itu membuat Cye berbinar-binar. Antusiasme pemuda itu jelas terpancar di wajahnya, kala ia dengan penuh semangat menggulingkan kursi rodanya di ruangan untuk memasukkan barang-barangnya ke kopor. Lebih senang lagi, ketika mereka turun, dan Akira tidak hanya menyetop taksi, tetapi juga ikut mengantar. Hal yang ditentang Hikaru, tentu, tetapi ia bisa bilang apa, ketika Akira menyatakan (dengan nada memaksa) bahwa ia yang akan membayar?

"Kita akan ke mana?" tanyanya dari bangku belakang, ketika Akira menyelinap ke kursi depan.

"Tidak usah tanya-tanya, pokoknya kau tahu sampai," demikian kata Hikaru, dan dengan itu ia merebut kendali navigasi dari Akira.

Mungkin efek obat, atau memang kebiasaan, Cye tertidur sepanjang perjalanan. Karenanya, bayangkan bagaimana rona wajahnya yang berseri-seri langsung lenyap, ketika nyata bahwa taksi yang mereka tumpangi tidak mengantarnya menuju Murasakizui, melainkan sebuah apartemen kecil di lingkungan rumah Hikaru dulu.

"Tempat ini dekat dengan Haze. Katamu kau mau sekolah, kan?" begitu alasan Hikaru, kala ia menurunkan jendela mobil untuk memperlihatkan perhentian terakhir mereka.

"Tapi ini jauh dari Ki-In ataupun Murasakizui. Dengan keadaanku sekarang, bagaimana aku bisa kerja, Mom?" erang Cye.

"Persis. Kau memang harus fokus dulu pada pemulihanmu, tak usah memikirkan go ataupun pekerjaan."

"Um, Hikaru...," setelah melihat apartemen pilihan Hikaru dari balik jendela, Akira menengok ke belakang dan mencoba menyumbang suara. Walau terlambat, mungkin. "Aku tahu kau telah mengatakan akan mencarikan apartemen untuk Cye. Tapi kurasa Cye ada benarnya. Tempat ini terlalu jauh dari rumah sakit…"

"Itu juga bukan masalah. Aku sudah tanya sana-sini, di dekat sini ada klinik fisioterapi."

"Tapi akan sangat menyulitkan, jika ia harus memulai terapi dari awal. Cye harus beradaptasi lagi. Sebaiknya kita mencari apartemen yang dekat rumah sakit saja, supaya segalanya mudah. Lagipula, bukankah kau akan kembali ke US? Aku bisa membantumu mengawasi Cye…"

"Oh, jadi kau punya ide lain?"

"Aku bisa kembali ke Murasakizui," saran Cye, meskipun pertanyaan sinis Hikaru jelas ditujukan pada Akira. "Di sana ada kamar belakang yang bisa kutempati."

Tentu saja, ia langsung mendapatkan pelototan Hikaru.

"Murasakizui terletak di lantai tiga, tidak tepat untuk kondisimu sekarang," tukasnya.

"Kan ada lift untuk barang," sanggah Cye.

"Kaupikir aku akan membiarkanmu naik lift barang yang reyot itu? Yang ada nanti kau kenapa-kenapa."

"Tidak reyot, kok. Serius. Ashiwara-san bilang liftnya bekerja dengan baik, kafe di bawah juga sering menggunakannya."

"Cih, ini bukan masalah lift. Apartemen ini bukan hanya untuk sementara, tahu. Aku sengaja memilih yang dekat Haze, supaya setelah kau pulih nanti, kau bisa fokus sekolah. Di sini ada ibu kos yang bisa mengawasi dan memenuhi kebutuhanmu. Ada jam malam juga. Aku tidak perlu khawatir kau berbuat macam-macam selagi aku tidak ada."

"Berbuat macam-macam apa?"

"Membawa pulang pacar ke kamar, misalnya."

"Mom!" protes Cye. "Aku takkan melakukan yang seperti itu! Lagipula, aku kan tidak punya pacar!"

"Sekarang tidak, nanti belum tentu."

"Apa Mom sungguh tidak percaya padaku? Selama ini, kapan aku pernah mengecewakan Mom?"

Jawaban dari pertanyaan itu cukup mata Hikaru yang menyipit. Kelihatannya Cye juga sadar akan kesalahannya, sehingga ia memutuskan mencari jalan lain.

"Kalau Mom sebegitu khawatirnya soal pengawasan, tadi Shishou bilang…"

Ia nyaris bisa melihat tanduk keluar dari kepala Hikaru dan api membara dari matanya, kala ia mendesis, "Shishou-mu itu sehari-hari juga tidak tinggal di salonnya, tahu! Dia juga punya rumah dan keluarga yang harus ia urus," ia menekankan pada kalimat terakhir sembari memelototi Akira, hingga membuatnya menelan ludah.

"Tapi, Mom..."

"Tidak ada tapi-tapian. Kalau kau tidak mau menurut, aku akan cabut kembali izinku dan membawamu pulang ke US."

"Mom...," ia kembali merengek.

"Ya sudah," Akira mengambil jalan tengah. Lebih karena ia merasa malu bertengkar di dalam taksi, sebenarnya. Ia bisa melihat sang supir taksi mengetuk-ngetuk kemudinya dengan gelisah, seolah tidak ingin berada di situ. "Sekarang turuti saja ibumu. Tempat ini tidak buruk; nyaman dan aksesnya pun mudah..."

"Saya akan sulit ke mana-mana...," sesal Cye, menunduk. "Ditambah saya akan vakum dari pertandingan pro selama setahun. Selama itu, semua orang pasti sudah melejit meninggalkan saya..."

"Tidak juga," senyum Akira. "Aku akan sering-sering datang, bagaimana? Kau bisa berlatih melawanku. Kalau kau ada jadwal terapi, aku juga bisa menjemputmu."

Mata Cye langsung berbinar. "Benarkah itu, Shishou?"

"Heh!" sambar Hikaru. "Siapa bilang kau boleh datang?"

"Tidak apa-apa, kan?" balas Akira tenang. "Kau bilang kau butuh orang yang mengawasi Cye."

"Di sini sudah ada induk semang..."

"Dia takkan bisa mengawasi secara penuh, kan?"

"Seolah-olah kau bisa! Kau itu punya keluarga! Kalau istrimu tahu pulang dari Ki-In, kau malah keluyuran mengurusi anak orang, dan bukannya langsung pulang ke rumah mengurusi anakmu sendiri..."

Akira berusaha tidak memedulikan rentetan kalimat tersebut.

"Aku mengunjungi muridku, bagian mana yang salah?" tukasnya.

"Tapi Shishou," kelihatannya Cye berpikir dua kali, "tempat ini lumayan jauh... Saya tak ingin merepotkan..."

"Kata siapa merepotkan? Hanya berjarak beberapa stasiun dari Ichigaya. Lagipula, setiap Sabtu aku ke Setagaya. Aku bisa mampir sepulang dari sana. Ah, mungkin aku juga bisa mengajak Cye membantuku di kelas, jika aku mengajar atau memberi workshop. Ini akan menjadi pembelajaran yang bagus."

Hikaru berdecih. "Aku tidak tanggung jawab ya, kalau kau kena masalah dengan istrimu gara-gara ini."

Itu artinya ia menyerah. Akira menganggap itu sebagai sebuah kemenangan.

Tanpa banyak bicara, Hikaru turun dari mobil lantas membuka bagasi untuk mengambil kursi roda Cye. Akira sendiri memutuskan untuk membantu menurunkan kopor dan tas Cye dari bagasi mobil. Ketika ia menutup kap bagasi, dilihatnya Hikaru sudah melenggang mendorong kursi roda Cye menuju kamarnya yang terletak di lantai satu.

Kamar bertipe studio itu cukup luas, meskipun sederhana. Hanya ada lemari dinding, yang mungkin juga menyimpan futon. Akira meletakkan kopor dan tas Cye di pojok dekat lemari, lantas menyusul Cye dan Hikaru yang tengah menginspeksi kamar mandi dan dapur kecil yang ada di ruangan itu.

Setidaknya di sana sudah tersedia kompor dan kulkas, pikir Akira, sementara batinnya mendaftar kebutuhan yang bisa ia beli untuk melengkapi kamar. Goban, sudah barang tentu. Mungkin juga pemanas dan microwave oven? Mungkin ia harus mengecek daya listrik di sini, barangkali ia bisa membelikan air fryer. Ia ingat Hanako pernah mengatakan ingin membeli barang itu, berhubung katanya itu bisa mempermudah memasak dan menghangatkan berbagai macam masakan...

Selagi mereka sedang menginspeksi kamar, tahu-tahu terdengar ketukan di pintu yang sebenarnya mrmang terbuka lebar. Hikaru langsung berteriak riang melihat siapa yang datang, lantas berlari menyambut dan memeluk sosok di ambang pintu, yang membalas dengan tak kalah antusiasnya.

"Oh, Cye," akhirnya setelah beberapa saat saling berteriak-teriak histeris, ia ingat juga pada sang anak dan memperkenalkan ... siapapun ia. "Kenalkan, ini Fujisaki Akari, temanku semasa SD sampai SMP. Ia juga pemilik apartemen ini, yang berarti akan menjadi induk semangmu."

"Mitani Akari," wanita itu mengoreksi. Melihat ekspresi Hikaru, ia menambahkan, "Kau lupa? Aku sudah menikah dengan Yuuki beberapa tahun lalu."

Mata Hikaru langsung membulat dengan begitu ekspresif. "Yuuki? Mitani Yuuki?" tanyanya, seolah itu belum jelas.

"Yep. Kami bahkan sudah punya dua anak."

Meninggalkan Hikaru yang masih menganga, wanita itu mendekati Cye dan memamerkan senyumnya yang indah. "Kau pasti Cye-kun, ya?" katanya. "Ibumu banyak cerita tentangmu... Oh ya, kalau tak salah, baru-baru ini kau menjadi go pro? Selamat ya…"

Dalam kepala Akira, bermain memori ketika Hikaru mengatakan bahwa ia mendapat kabar mengenai kelulusan Cye dalam ujian pro dari salah satu temannya. Apakah ini 'teman' yang dimaksud?

Tunggu. Apakah ini berarti Hikaru tetap menjalin kontak dengan salah satu sahabat lamanya ketika ia menghilang? Ataukah mereka baru berhubungan kembali setelah sekian lama berpisah?

Akira ingat bahwa ia pernah berusaha menghubungi teman-teman Hikaru, sesaat setelah Hikaru mendadak menghilang. Ia bahkan memberikan nomornya, berjaga-jaga jika satu saat Hikaru menghubungi mereka. Namun, tak ada satu pun yang menghubunginya balik.

Jika wanita yang saat ini ada di hadapannya mengetahui keberadaan Hikaru selama ini, mengapa ia tak pernah menghubunginya? Tidak, bukan cuma itu. Taruhlah Hikaru saat itu memang sudah di Amerika sehingga tidak tahu-menahu berita di Jepang, tetapi wanita ini tinggal di Jepang, yang berarti ia tahu bagaimana kusutnya Akira saat itu. Tidak mungkin tidak, jika berita mengenai upaya bunuh diri dan kondisi kejiwaannya kerap menghiasi halaman depan nyaris semua surat kabar selama berbulan-bulan. Bukan berarti Akira bangga mengenai hal itu, tetapi setidaknya, jika ia tahu ... jika ia menyampaikannya pada Hikaru ... maka seharusnya, seharusnya...

Mungkin ia terlalu larut pada pikirannya sendiri, karena ketika sampai giliran wanita itu mengalihkan perhatian padanya, seketika ia sedikit tergagap.

"Anda ... um, Touya Akira, bukan?" tanyanya dengan kerung dalam terpatri jelas di wajahnya. Lantas, menoleh pada Hikaru, ia bertanya, "Apa kau ... dan Touya Akira..."

"Tidak!" sergah Hikaru cepat, walau ia tak bisa menangkap apa pertanyaan sang sahabat lama—atau mengapa Hikaru langsung menegasi. "Touya Akira adalah guru putraku, dia ada di sini sebagai ... um..."

"Aku akan menjadi wali Cye selama Shindou tidak ada," Akira membungkuk hormat. "Mohon kerjasama Anda."

"Wali?" ia masih mengerung, dan memandang bergantian antara ia dan Hikaru. "Um, apakah kalian…"

"Tidak," sergah Hikaru sekali lagi. "Sudah kukatakan, ia hanya guru Cye. Ia cuma mengantar, dan akan segera pulang. Benar kan, Touya?"

Diusir terang-terangan seperti itu, apalagi di depan induk semang Cye, Akira jelas tidak bisa mengelak. Lagipula, sepertinya tidak banyak urusan yang bisa ia kerjakan di sini.

"Kalau begitu, saya permisi," ia membungkuk. "Lain kali saya akan berkunjung lagi. Senang berjumpa dengan Anda, Mitani-san. Cye," ia beralih pada si bocah. "Kabari aku jika sudah waktumu melakukan terapi, aku akan menjemput."

Cye kelihatan kecewa, tapi ia mengangguk. Namun ketika ia hendak mengundurkan diri, tiba-tiba Cye memanggilnya seakan teringat sesuatu. "Ah, Shishou," katanya. "Bagaimana dengan surat perwalian dan sebagainya?"

"Eh?"

"Jika Anda akan menjadi wali saya, berarti harus ada surat pemindahtanganan perwalian atau semacamnya, bukan? Bukankah ini sebaiknya diurus selagi ibu saya masih di sini?"

"Siapa bilang?" tukas Hikaru. "Ia tidak punya hubungan darah denganmu, jadi ia tak berhak menjadi wali. Aku akan menunjuk Akari sebagai walimu."

Jangan kata Cye, bahkan Mitani-san pun sepertinya tidak pernah mendengar hal ini, karena ia menampakkan wajah bingung.

"Tak perlu khawatir," senyum Akira, hanya untuk menghapus wajah bingung (dan panik) wanita itu. "Masalah perwalian dan hal legal lain menyangkut Cye akan diurus oleh Ki-In," janjinya.

"Huh. Asal mereka betulan tahu duduk persoalannya saja...," ia mendengar gerutuan Hikaru, tapi ia terlalu malas untuk membalas. Tidak enak juga, terlebih di depan temannya.

Ia berpamitan pada Hikaru dan Mitani-san. Yang disebut belakangan membalas salamnya, tapi Hikaru membuang muka. Di titik ini, ia sudah terbiasa dengan sikap keras Hikaru, jadi walaupun ia merasakan sedikit rasa sakit dalam dadanya, ia bisa menganggapnya angin lalu.

Ketika ia keluar, dilihatnya si supir taksi masih menunggu. Terlambat baginya untuk sadar bahwa ia belum membayar, dan kemungkinan besar argonya masih jalan. Mungkin Hikaru juga tidak sadar untuk mengingatkannya—atau bisa jadi ia malah sengaja. Berusaha tak memedulikan tagihan yang harus ia bayarkan—atau pertanyaan Hanako, berhubung manajemen keuangan keluarga Touya dipegang olehnya, dan pasti akan ada laporan untuk setiap pengeluaran Akira—ia pun kembali ke taksi dan memintanya meluncur menuju Murasakizui.

.


.

Murasakizui begitu sepi ketika hanya ada ia dan Harumi-san di sana. Aneh; padahal baru sebentar Cye bekerja di situ, tapi kehadirannya membawa nuansa baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tanpa adanya Cye, hari-hari terakhir rasanya berjalan begitu lambat dan hambar. Tidak ada salam yang menyambutnya ketika ia memasuki salon. Tidak ada keriangan yang menemaninya kala si bocah mengelap konter atau gelas sambil bersenandung. Tak ada seruannya yang penuh semangat, kala ia menawarkan jasa shidougo sama seperti ia menawarkan jus untuk para pelanggan. Tak ada teriakannya yang sekilas terdengar asal-asalan, tetapi sesungguhnya penuh pertimbangan, kala ia menanggapi langkah para pelanggan. Terutama tidak ada tawanya, tak ada senyumnya, tak ada tatapan kekaguman nan sarat harapan yang selalu ia berikan pada Akira.

Akira merindukan semua itu.

Ini adalah hari ketiga sejak Akira mengantar Cye ke apartemen. Ia sudah berjanji akan mengantar Cye ke rumah sakit, namun hingga detik ini, tidak ada kabar berarti. Mungkin ia sudah mendapatkan tempat terapi yang nyaman, mungkin juga sang ibu tak membolehkannya menghubungi Akira.

Menghela napas berat, ia meletakkan biji putih di atas goban, lantas menolehkan kepalanya ke jendela. Cahaya lampu kota tampak berpendar berlatar belakang biru gelap. Sudah larut rupanya, yang sangat tidak aneh mengingat salon telah tutup dan Harumi-san sudah pergi sejak sekitar dua jam lalu. Ruangan salon tampak remang-remang—sudah kebiasaan Harumi untuk mematikan seluruh lampu ketika menutup salon, hanya menyisakan satu lampu latar di belakang bonsai di pojok ruangan tempat Akira biasa bermain.

Sendirian dalam kegelapan tidak pernah menjadi masalah bagi Akira—ia justru menganggap hal itu membuatnya lebih mampu berkonsentrasi, atau begitu yang ia katakan pada Harumi-san. Setelah sekian tahun mengawasi perkembangan Akira dan merasa yakin bahwa ia bisa meninggalkan putra bosnya itu sendirian tanpa pengawasan, akhirnya Harumi bisa juga percaya bahwa kesukaan Akira pada kegelapan itu bukanlah tanda bahaya, dan membiarkannya. Tapi entah mengapa, saat itu, Akira tidak ingin sendiri.

.

Sudah lewat tengah malam, bahkan mungkin hampir dini hari, ketika akhirnya ia kembali ke rumah. Semua penghuni rumah sudah tidur, atau begitu pikirnya, ketika ia membuka gerbang dan melintasi taman menuju rumah induk. Namun ternyata, begitu ia memasuki ruang depan, dilihatnya sang istri tengah berdiri menyambutnya.

"Kau masih terjaga? Apa kau habis dari luar?" tanya Akira, melihat sang istri masih mengenakan busana bepergian, lengkap dengan stoking. Bahkan wajahnya pun tampak mengenakan riasan tipis, dan rambutnya tersanggul dengan rapi.

"Tidak," jawab Hanako, membantu melepaskan coat Akira dan menggantungnya. Ia bahkan tidak bertanya mengapa Akira baru pulang, atau dari mana saja ia. "Aku menunggu kedatanganmu, Anata."

Mendengar kata-kata itu, rasa bersalah mendadak menyelinap di benak Akira.

"Maaf, aku lupa mengabarkan," ujarnya.

"Tidak apa," sang istri menampakkan seulas senyum lembut. "Ah, Anata, apa kau ingin makan malam? Aku sudah menyiapkan air mandi, tetapi kelihatannya sudah dingin. Aku akan memanaskannya selagi kau makan."

"Tidak perlu, aku sudah makan," jawab Akira berbohong. "Kelihatannya juga sudah terlalu larut untuk mandi."

Sang istri hanya mengiyakan, dan menuruti Akira melewati koridor panjang yang mengantar menuju kamar mereka.

Ada sesuatu yang lain dari sang istri, namun Akira tidak dapat menunjuk dengan jelas. Sesuatu yang bukan masalah busana ... atau make-up. Mungkinkah itu ... matanya yang merah? Tetapi itu wajar, bukan? Ia pulang begitu larut, wajar jika sang istri sudah mengantuk. Tapi, apakah hidung orang yang mengantuk juga biasanya berwarna merah?

Pertanyaan yang ia ingin ajukan, bagaimanapun, terhenti ketika ia membuka pintu kamar. Didapatinya kamarnya penuh dihiasi rangkaian bunga. Lilin-lilin putih tampak di beberapa titik strategis, dalam keadaan mati. Di tengah-tengah ruangan, sudah terbentang sepasang futon dengan hiasan sepasang burung dari kain, penuh taburan kelopak mawar merah.

"Maaf, seharusnya lilin-lilinnya menyala, supaya suasananya lebih romantis...," ujar sang istri tanpa ditanya, tampak malu seakan-akan itu adalah hal paling aneh dari semua ini. "Tetapi aku tidak yakin kapan kau akan datang, Anata, jadi..."

Mengerjap dua kali, Akira menengok padanya. "Apa ini?" tanyanya, masih terpana.

Tersenyum, sang istri mendekat padanya. Tangannya yang mungil bergerak menjangkau, mengurai dasi yang mengikat lehernya.

"Aku tahu kau takkan menyadarinya. Hari ini adalah hari Valentine," ujarnya.

Hanako mengangkat kepala, sepasang mata menatapnya penuh permohonan.

"Karena itu...," perlahan, ia menyandarkan kepalanya di dada Akira. "Malam ini, aku ingin bersamamu..."