6 September 1782,
Hari itu kelabu.

Martha berbaring di ranjangnya, kondisinya makin melemah seiring berjalannya waktu. Tangan yang dulunya sering bertautan dengan Thomas, yang dulunya digunakan untuk membelainya dalam pangkuannya, tak mampu lagi membalas genggaman tangan suaminya dengan erat. Cahaya yang dulu kerap menyinari hidupnya dengan sinarnya, kini meredup. Terlalu menyakitkan. Terlalu menyakitkan bagi dirinya untuk melihat Martha dalam kondisi seperti ini.

Di antara menit-menit yang mereka habiskan dalam kesunyian, Martha yang beruntungnya masih memiliki secercah tenaga berusaha duduk untuk meraih kertas dan pena yang berada di meja di samping ranjang. Ia mulai menulis. Thomas yang penasaran akan apa yang Martha tulis melongok untuk melihatnya, hingga memorinya tiba-tiba muncul dalam permukaan, mengingat kalimat itu sebagai bagian dalam sebuah novel yang sering mereka baca, 'The Life and Opinions About Tristram Shandy, Gentlemen'. Sebelum Martha dapat menyelesaikan keseluruhannya, tangannya berhenti menulis, menunjukkan ketidakmampuannya untuk melanjutkan. Mata hazelnya menatap lekat mata hazel Thomas, seolah mengisyaratkannya untuk meneruskan bagiannya.

Time wastes too fast, every letter
I trace tells with what rapidity
Life follows my pen. The days and hours
Of it are flying over our heads like
Clouds of windy day never to return-
More every thing presses on

Thomas menarik napas dalam-dalam sebelum mengambil pena dari Martha, berdoa agar ia tak bergetar saat menulis.

And every time I kiss thy hand to bid adieu
Every absence which follow it
Are preludes to that eternal separation
Which we are shortly to make!

Usai Thomas menyelesaikan bagiannya, yang sebenarnya belum selesai karena ia sudah tak mampu lagi melanjutkan, terdengar ketukan di pintu. Putri pertama mereka, Patsy, datang bersama adiknya, Polly, untuk menjenguk Martha. Patsy dan Polly duduk tanpa suara di samping kanan Martha, menemani sang ibu di ranjang kematiannya hingga ajal menjemput. Hati Thomas makin hancur tatkala ia memikirkan bagaimana mereka akan tumbuh dewasa tanpa figur seorang ibu. Bagaimanapun, hanya ayah takkan cukup, apalagi ia adalah pria yang sibuk. Patsy dan Polly akan merasakan tumbuh tanpa kasih sayang dari Martha. Martha yang ia kasihi, Martha yang ia cintai sepenuh hati.

Situasi kembali hening untuk beberapa waktu, semuanya kembali larut dalam pikiran masing-masing. Martha mulai menangis. Thomas membelai wajahnya dengan lembut, menghapus air matanya yang menetes bagai rintik hujan, menahan air matanya sendiri yang siap menetes kapan saja. Tangan Martha menggenggam tangan Thomas yang berada di pipinya.

"Thomas... bila aku memberimu janji, apa kau akan memenuhinya?"

"Ya! Tentu, Patty. Janji macam apa?"

"Ingat bagaimana ibu tiriku memperlakukanku?"

Thomas mengangguk.

"Berjanjilah untuk takkan menikah lagi, Thomas."

"Aku berjanji, Martha. Aku berjanji dengan sepenuh hidupku."

Thomas menggenggam tangan Martha erat sebelum mencium tangannya untuk yang terakhir kalinya. Otaknya mengukir janji yang diberi Martha dalam memorinya. Tentu ia takkan menikah lagi. Tiada wanita sesempurna Martha Wayles Skelton Jefferson dalam hidupnya. Tak akan ada yang dapat menggantikannya.

Pukul 11:45, Martha menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya. Martha Jefferson, Martha-nya, diambil paksa darinya oleh kematian. Thomas Jefferson tak pernah merasakan rasa sakit yang begitu hebat selama ini. Tak ada lagi yang akan mendekapnya erat di kala senyapnya malam. Tak ada lagi yang akan membacakannya untaian kalimat dari novelnya dengan suara malaikatnya. Tak ada lagi yang akan memadukan suara piano dengan alunan biolanya. Tak ada lagi yang akan menikmati masa tua bersamanya, duduk berdua di kala senja, menikmati jerih payah dari negara yang telah mereka bangun, setelah ia pensiun dari segala kegiatan politiknya.

Separuh jiwanya pergi bersama dengan kepergian Martha.

To the memory of Martha Jefferson,
Daughter of John Wayles and Martha Eppes
Born October 19th, 1748, O.S.
Intermarried with Thomas Jefferson
January 1st, 1772
Torn from him by death
September 6th, 1782
This monument of his love is inscribed