6/April/2020


The Genius Magic Student—

By: Abidin Ren

Summary: Memiliki sihir yang tidak terlalu dikenal oleh banyak orang, selalu membuatnya dipandang remeh oleh orang lain. Tapi meskipun begitu, Naruto tidak pernah peduli bagaimana orang-orang menganggap lemah sihirnya. Hanya dia yang tahu tentang potensi sebenarnya dari sihir miliknya ini. Dan sihirnya itu bernama ... [Magic Maker].

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto | [Tate no Yuusha no Nariagari] © Aneko Yusagi | [High School DxD] © Ichie Ishibumi | [Fate Series] © Type-Moon | [Fairy Tail] © Hiro Mashima | Dan Semua Karakter Milik Pengarangnya Masing-masing.

Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul di dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak mana pun.

This Story Created by Me!

Genre: Fantasy — School Life — Adventure.

Pair: ... x ...

Rated: T+

Warning: ALTERNATE UNIVERSE! (AU!), MAGIC-WORLD! Harem (Mungkin), Kata-Kata Kasar (Mungkin), Alur Perlu Dipertanyakan, And Many More.

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy It~

Please Favorite, Follow, and Review!

.


[Prologue]


[Chapter 1]: Bertemu Seorang Gadis Demi-Human


Opening: Yuuka Iguchi — Hey World (Opening dari Anime DanMachi Season 1)


Di suatu tempat, di salah satu belahan dunia ini, terdapat empat benua besar dengan peradaban yang sangat berbeda. Salah satunya bernama [Benua Etruria], yaitu benua besar yang menghubungkan hampir seluruh daratan di benua tersebut. Meskipun begitu, terdapat juga beberapa pulau kecil di sekitarnya yang mengelilingi benua ini.

Sejak dahulu, keempat benua ini saling bertempur satu sama lain. Motifnya pun beragam. Ada yang berperang demi melindungi harga diri, ada yang bertempur demi memperluas wilayah, bahkan ada yang berpikir hanya untuk bersenang-senang saja.

Kehidupan manusia semakin maju. Banyak manusia yang mulai mendirikan sebuah desa, kota kecil, dan masih banyak lagi. Seiring berjalannya waktu, kota-kota kecil itu mulai bersatu untuk menciptakan sebuah kerajaan. Sampai sekarang, terdapat tiga kerajaan besar yang menguasai Benua Etruria, salah satunya bernama [Kerajaan Ivalice].

Tidak hanya di Benua Etruria saja, di tiga benua besar lainnya pun juga memiliki kerajaan besar mereka masing-masing, tentunya untuk mengatur jalannya pemerintahan, sekaligus sebagai pelindung wilayah mereka dari musuh yang tidak terduga.

Keempat benua ini terus berperang, mulai dari memakai kekuatan fisik mereka sendiri, bahkan sampai menggunakan senjata yang telah mereka kembangkan. Mereka berperang untuk melindungi diri mereka, melindungi apa yang mereka miliki. Semuanya terus berperang tiada henti—tidak peduli kalau hal itu bisa menghabiskan berbagai sumber daya, entah itu senjata ataupun hasil alam.

Waktu terus bergulir, dan semua ras mulai menyadari bahwa di dunia ini terdapat suatu energi spesial. Energi itu bersumber dari alam sekitar, dan mereka menyebutnya [Ethernano]. Selain itu, mereka juga menyadari bahwa di dalam tubuh semua ras pun memiliki energi yang sama seperti Ethernano.

Mereka terus melakukan percobaan untuk menggunakan energi yang mereka temukan. Berulang kali meneliti, sebanyak apa pun mereka berusaha, maka sebanyak itulah kegagalan mereka. Mereka terus bereksperimen, sampai akhirnya mendapat keberhasilan. Sihir, itulah sebutan dari manusia untuk segala sesuatu yang dihasilkan melalui energi misterius tadi. Di kemudian hari, [Magical Energy] mulai ditetapkan sebagai namanya.

Sejak menyadari kehebatannya, banyak orang meninggalkan senjata yang terkesan kuno dan beralih memakai sihir yang lebih praktis. Hal ini berimbas pada perang. Jumlah penyihir pasti akan lebih banyak daripada jumlah serdadu bersenjata.

Banyak manusia yang menggunakan sihir untuk berperang, memperebutkan daerah kekuasaan, menjadi yang terkuat! Penggunaan sihir pun juga tak hanya sebatas itu saja. Untuk bekerja, beraktivitas, hingga melakukan tindak kejahatan pun orang-orang tidak bisa lepas dari yang namanya sihir.

Sekian lama berperang, orang-orang mulai jenuh dengan kehilangan. Perjanjian damai antar-kerajaan dibuat. Peperangan keempat benua itu yang sudah berlangsung lama ... akhirnya usai.

Saat kegunaan sihir semakin berkembang, penyebutan energi sihir pun berubah menjadi "mana".

Beberapa tahun kemudian, semua kerajaan yang menguasai Empat Benua Besar mulai mendirikan sekolah khusus bagi magic user, yaitu sebutan bagi orang-orang yang selalu menggunakan sihir.

Kerajaan-kerajaan besar di keempat benua tersebut juga men-sahkan penggunaan sihir di depan umum. Namun, ada beberapa syarat yang harus mereka miliki. Maka dari itu, para pemimpin setiap kerajaan sepakat membuat perjanjian kembali. Salah satu isi perjanjian itu adalah memperketat aturan penggunaan sihir. Sihir hanya boleh digunakan bagi orang yang telah menempuh pendidikan di sekolah sihir yang resmi—inilah syarat yang dimaksud.

Demi mengasah bakat-bakat baru yang terus bermunculan, semua kerajaan yang berdiri di keempat benua itu mulai menggelar turnamen sihir akbar yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Pemenang turnamen itu berhak mendapat julukan [God of Magic], yaitu sebutan bagi penyihir terkuat di dunia!

Gelar [God of Magic], sampai saat ini—

"Ehm, p-permisi …? A-Apa kursi di sebelahmu kosong?"

Seorang remaja berambut kuning jabrik itu menghentikan acara membacanya karena mendapat teguran barusan. Buku bersampul merah dengan judul "Sejarah Dunia Sihir" itu dia tutup, dan diletakkan di pangkuannya.

Lehernya berputar sedikit ke samping kanan untuk melihat siapa pemilik suara lembut barusan. Di situ dapat dia lihat, seorang gadis yang (mungkin) seumuran dengan dirinya, berdiri canggung menatapnya.

Gadis itu memiliki rambut panjang oranye-kecokelatan, dengan dihiasi dua telinga hewan warna cokelat di atas kepalanya. Matanya berwarna merah muda, sedangkan bentuk wajah-dagunya lancip. Kulitnya terlihat sangat putih tanpa cacat sedikit pun. Dia mengenakan pakaian model blouse panjang, dengan rok yang menyambung dengan pakaian atasnya hingga sampai setengah paha. Bagian depan dan belakang pakaiannya berwarna merah ke-oranye-an, sedangkan bagian kedua sisi sampingnya berwarna hijau tua. Lalu, kedua lengan blouse-nya berwarna putih, garis-garis hitam panjang menjadi penghiasnya. Di belakang tubuhnya tampak sebuah ekor besar berwarna coklat. Juga tidak ketinggalan sepatu boot tinggi yang menutupi kaki sampai sedikit pahanya.

Sang pemuda menatap gadis itu dengan sebelah alis terangkat. Safirnya untuk sesaat menatap tertarik pada telinga hewan yang terlihat lucu baginya. Tak lama setelahnya, ia kemudian mengangguk pelan.

"Ya, silakan."

Dia menggeser pantatnya untuk memberikan ruang gadis itu untuk duduk.

"Perhatian! Kereta Sihir dengan tujuan pemberhentian selanjutnya: Ibukota Kerajaan Ivalice, Kota Konoha, akan segera berangkat. Dimohon para penumpang agar memeriksa kembali barang bawaan masing-masing."

Terdengar sebuah suara pemberitahuan keras lewat pengeras suara.

—Benar, pemuda itu sedang di dalam kereta yang menuju kota Konoha. Tujuannya untuk menanggapi undangan masuk akademi sihir yang ia terima, karena awal tahun ajaran baru akan segera dimulai.

Gadis tadi pun mulai mendudukkan pantatnya di kursi kereta. Barang bawaannya sudah ditata dengan rapi di atasnya.

"Haah~ benar-benar perjalanan yang melelahkan," gumamnya. Si gadis menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kereta. Mata merah muda itu terpejam, mencari kenyamanan.

Tak lama setelah itu, keretanya mulai bergerak, melaju di rel yang semestinya; menuju pemberhentian berikutnya yaitu ibukota Kerajaan Ivalice, [Kota Konoha].

Di dalam kereta, si pemuda berambut kuning jabrik memandang bosan melalui jendela kereta pada jalanan yang dilewati.

"Apa kamu juga akan pergi ke Kota Konoha?"

Dia menatap aneh gadis yang sedang duduk bersebelahan dengan dirinya itu. 'Ya iyalah aku mau ke Konoha, tujuan kereta ini kan memang ke sana. Nih cewek salah masuk kereta atau bagaimana, sih?!' batinnya merasa sweatdrop.

"Hmm, begitulah ...," jawabnya seadanya.

Pemuda itu tidak terlalu bodoh untuk mengungkapkan apa yang dia pikirkan tadi. Bisa-bisa, dia akan merusak suasana hati gadis di sampingnya.

"Aku juga ingin ke sana, tepatnya ke Akademi Konoha!" ucap si gadis dengan semangat. Senyum kecil terbentuk di bibir ranumnya.

Ia memandang tertarik pada si gadis. "Akademi Konoha? Kau juga akan ke sana?"

"Oh? Kamu juga?!" gadis itu terkejut. "Waah …! Aku tak menyangka akan bertemu dengan salah satu murid Akademi secepat ini!"

Si pemuda menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya, ini tahun pertamaku, sih," katanya singkat, yang kemudian disusul tawa canggung keluar dari mulutnya.

Gadis itu menutup mulutnya. "Oh, maaf. Kupikir ... kamu itu Senpai-ku." Gadis itu tiba-tiba tersentak karena teringat sesuatu.

"Benar juga. Maaf, aku lupa memperkenalkan diri."

Tangan gadis itu terjulur ke depan, "Namaku Raphtalia, seorang Demi-Human dari jenis rakun. Aku berasal dari Desa Lulorona, sebuah desa yang berada di kawasan pinggir pantai. Juga, kebanyakan penghuni desaku ini adalah Demi-Human."

'Seorang Demi-Human, huh?' Sekarang ia mengerti kenapa gadis di sampingnya ini memiliki dua telinga hewan di atas kepalanya serta sebuah ekor di belakang tubuhnya.

Demi-Human, mereka seperti kebanyakan manusia lainnya, hanya saja ... mereka ini juga memiliki beberapa ciri fisik hewan. Contohnya paling mudah seperti telinga dan ekor binatang.

Ia sendiri tidak terlalu terkejut, karena dia tahu bahwa dunia ini tidak hanya diisi oleh manusia. Ada juga Demi-Human, Beastman, Youkai, Elf, Dragon, dan masih banyak lagi ras yang hidup sampai sekarang.

"Hoo~ kau benar-benar melakukan perjalanan jauh, huh?"

"Begitulah, ahaha~"

Stasiun kereta sihir terdekat dari kota Konoha adalah stasiun tempat mereka sebelumnya, dan itu berada di kota Renais. Seingat dia, desa yang dimaksud tadi itu ada di wilayah bangsawan rendah Saeyette. Butuh waktu perjalanan satu hari penuh dari desa Lulorona agar sampai di kota Renais, itu jika ia berjalan kaki.

Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya Raphtalia ini bukanlah dari kalangan keluarga berada. Dan mendengarnya barusan mengeluh …, apa jangan-jangan dia beneran berjalan dari desa sampai ke kota tadi? Dia pasti bukanlah gadis lemah.

—Itulah yang pemuda itu simpulkan.

Si pemuda mengangguk singkat. "Ehem, tidak perlu minta maaf. Aku tadi juga lupa memperkenalkan diriku."

Tangan tan itu menyambut uluran tangan putih milik gadis yang dia ketahui bernama Raphtalia, "… Namaku Namikaze Naruto, seorang ras Human. Aku berasal dari Kota Renais, kota tadi kita berada sebelum kereta ini berangkat."

Raphtalia mengangguk mengerti. Tapi, dia langsung terdiam saat merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Tunggu dulu. Namikaze, hm ...? Namikaze? NAMIKAZE—?!

Mata merah muda itu menatap Naruto terkejut. "Ka-Kamu seorang N-Namikaze?! K-Klan Namikaze yang it-itu?! Benar ... ya-yang itu, kah?!" tanya Raphtalia sedikit gagap. Ya, dia sedikit terguncang akibat apa yang baru saja dia dengar.

Meski kebingungan melihat reaksi Raphtalia, pemuda yang kita ketahui bernama Naruto itu, mengangguk.

"K-Klan yang saat ini dipimpin oleh N-Namikaze Mi-Minato-sama?!"

Naruto mengangguk, lagi. "Ya, dia adalah ayahku."

"K-Kamu bahkan putranya Minato-sama?!" teriak Raphtalia tidak percaya.

Dengan cepat dia berdiri dari duduknya dan membungkukkan tubuhnya kepada Naruto. Hal itu pun sukses membuat perhatian beberapa penumpang menjadi ke arah mereka berdua.

Raphtalia memang berasal dari desa terpencil, tetapi dia cukup tahu siapa itu Namikaze Minato. Minato, merupakan seorang bangsawan dari klan Namikaze, sebuah klan yang terkenal akan kejeniusan otak mereka. Dia juga merupakan penguasa dari Kota Renais saat ini, yaitu salah satu kota termaju yang ada di dalam naungan Kerajaan Ivalice. Berterima kasihlah pada kejeniusan darah Namikaze-nya.

Naruto kembali memandang bingung ke arah Raphtalia. Dia tidak mengerti, kenapa gadis Demi-Human itu tiba-tiba membungkuk ke arah dirinya.

"Maaf, saya akan cari tempat duduk lain!"

"H-Huh?!"

Grep!

"Tunggu dulu!"

Naruto langsung menggapai pergelangan tangan kiri gadis rakun itu saat melihatnya akan mulai melangkah. Sedangkan Raphtalia? Ia terkejut pada pergelangan tangannya yang dipegang secara tiba-tiba.

"Tidak perlu! Sudahlah, cepat duduk kembali," ucap Naruto pelan karena malu menjadi pusat perhatian penumpang yang lain. Tangan kanannya masih setia mencengkeram pergelangan tangan Raphtalia.

"Ta-Tapi, s-saya tidak pantas untuk du-duduk di sebelah A-An-Anda!" Raphtalia berucap semakin gagap kala merasakan cengkeraman di pergelangan tangannya sedikit menguat. Seakan-akan, pemuda ini tidak akan membiarkan dirinya untuk pergi mencari tempat duduk yang lain.

"Sudahlah ..., ikuti saja perkataanku. Kau membuat kita menjadi pusat perhatian di sini," ucap Naruto dengan pandangan memohon.

Jujur saja, Naruto paling tidak suka jika harus menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.

Raphtalia melirik sekelilingnya, dan rasa malu pun langsung hinggap di hatinya. Ternyata benar, ada banyak penumpang kereta sedang memperhatikan dirinya dan pemuda itu.

"Uuhhh~ ... baikla—"

Drrrrttt!

"—Kyaaa!"

Tiba-tiba kereta bergetar dengan keras, membuat beberapa orang terkejut. Begitu pula dengan Naruto serta Raphtalia. Dan entah beruntung atau sial, Naruto yang saat itu masih memegangi pergelangan tangan gadis Demi-Human tersebut, karena merasa terkejut akibat guncangan, dia tidak sengaja menarik tangan si gadis hingga membuat Raphtalia jatuh ke arah dirinya, juga bahkan sampai—

Bruk. Cup~

—membuat kedua bibir itu bertemu ….

.

.

.

Canggung.

Itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh dua makhluk berbeda jenis tersebu; satu laki-laki dan satu perempuan; satu seorang Human dan satu yang lain seorang Demi-Human.

Setelah kejadian tadi, entah mengapa ..., keduanya hanya duduk diam dengan kepala yang menunduk. Bahkan wajah Raphtalia masih terlihat memerah sempurna.

"..."

"..."

"Maaf." / "Maaf!"

Keduanya saling bertatapan terkejut.

Naruto menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. Mata safir itu melirik ke luar jendela kereta. "Silakan, kau duluan saja," ujarnya dengan gugup.

Mata merah muda milik Raphtalia menatap Naruto yang sedang mengalihkan jalur pandangan matanya. Setelah beberapa saat, dia kembali menunduk. "Maaf. Gara-gara saya, Anda malah …."

Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Itu sangat memalukan! Semburat merah kembali muncul di kedua pipinya saat dia mengingat kejadian tadi.

Dengan cepat Naruto memandang Raphtalia. Secara samar, semburat merah juga muncul pada pipi remaja Namikaze itu. Salahkan ucapan dari gadis Demi-Human itu yang mengingatkannya kembali pada kejadian memalukan yang baru saja mereka alami!

"Tidak-tidak-tidak! Itu tadi murni kesalahanku." Naruto berkata dengan panik, "Kalau saja aku tadi tidak menarikmu, kau tidak akan—"

"Tidak …."

Raphtalia memotong ucapan Naruto dengan suara pelan. Kepala oranye-kecoklatan milik gadis itu bergerak pelan. Menggeleng. Semburat merah masih menempel dengan jelas di wajahnya, meskipun tidak semerah tadi.

"Kalau saja saya tadi mendengarkan Anda untuk langsung duduk, kita tidak mungkin b-b-be-ber-berci-uman. Ka-Karena itulah ..." kepala gadis itu semakin menunduk, kedua tangannya meremas ujung rok miliknya dengan kuat, "... jika Anda ingin memarahi saya, tidak apa-apa. Jika Anda ingin menghukum saya, akan saya lakukan apa pun hukuman dari Anda itu!"

Naruto menatapnya tak percaya. Ia mengurut pelipisnya pelan. 'Ya ampun ..., ini jadi merepotkan,' batinnya. Mata safirnya menatap gadis yang baru dia kenal beberapa saat yang lalu. Gadis rakun itu masih saja menunduk.

"Haah …! Begini saja, kita anggap ini selesai dengan kita yang sama-sama bersalah. Jadi kita impas, bagaimana?"

Raphtalia dengan cepat mengangkat kepalanya. Ekspresi wajahnya seolah mengatakan; Gak bisa gitu! Jelas-jelas itu salahku!

"Eh?! benarkah?" Dia menggeleng pelan, "Tidak, maksud saya ..., bagaimana dengan hukuman saya?"

Naruto terkekeh pelan. Dia memandang lembut Raphtalia. "Tidak perlu dipikirkan. Lagipula, itu hanya sebuah ciuman," kata Naruto dengan senyuman tipis yang menempel di wajahnya.

'Yaah, ... meskipun itu ciuman pertamaku, sih ...,' lanjut Naruto merasa drop dalam hati. Aura suram juga muncul secara samar di sekitarnya, meskipun hal itu tidak terlalu disadari oleh Raphtalia. Ia tidak pernah berpikir jika ciuman pertamanya akan direbut oleh gadis yang baru ditemuinya beberapa menit.

Sedangkan Raphtalia hanya diam terpaku, tatkala melihat senyuman—yang menurut Raphtalia pribadi, sangat menawan—milik si Namikaze muda. Entah mengapa ... hal itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan tanpa dia sadari, muncul semburat merah tipis di kedua pipinya.

Naruto mengangkat sebelah alisnya saat melihat wajah Raphtalia yang memerah. Dia menyentuh kening gadis itu, membuat pemiliknya langsung terjengit kaget. "Hmm ..., tidak panas. Apa kau tak apa-apa? Mukamu memerah, loh?"

"A-Ah!"

Raphtalia langsung menangkup kedua pipinya menggunakan telapak tangannya. Dia sungguh malu.

"Sa-Saya baik-baik saja! Anda tidak perlu cemas, Na-Naruto-sama!"

Naruto mengangguk singkat. Setelah itu, dia pun mulai menyandarkan tubuhnya pada kursi kereta. Mata safir-nya menatap ke luar kaca, pada pepohonan yang dilewati kereta. Itu adalah hutan besar yang terletak di antara kota Konoha dan kota Renais, yaitu Soul Forest.

Sementara itu, Raphtalia mencoba untuk mengatur detak jantungnya agar kembali normal seperti biasanya.

Setelah itu, keduanya pun mulai menikmati perjalanan mereka menuju kota Konoha dengan tenang.

.

.

The Genius Magic Student—

.

.

Kota Konoha, Ibukota Kerajaan Ivalice.

Saat ini, Naruto dan Raphtalia sedang berdiri di luar stasiun kota Konoha. Koper mereka terletak di samping kaki mereka masing-masing.

Naruto mendongak, menatap mentari yang sudah muncul, meski tidak terlalu tinggi. Tentu saja, kereta itu berangkat pagi-pagi sekali, jadi kemungkinan sekarang masih pukul 7 lebih.

Pandangannya lurus ke depan, beranjak menjauhi stasiun tersebut. Raphtalia mengikutinya di belakang. Hari ini adalah hari penyambutan murid baru akademi, jadi mereka harus cepat … atau ketinggalan.

"Kita sekarang menuju ke mana, Naruto-sama?" tanya Raphtalia. Sejujurnya, gadis itu tak begitu tahu arah Akademi Konoha, karena ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kota ini. Ia berharap jika pemuda di depannya mengetahuinya atau mereka bakal tersesat.

Mata milik gadis itu terus bergerak kesana kemari memperhatikan bangunan-bangunan besar yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Kakinya sendiri terus melangkah, mengikuti arah tujuan dari pemuda yang baru dia kenal beberapa saat yang lalu.

"Harusnya tidak jauh dari stasiun … kita akan bisa melihat gedung akademinya," kata Naruto. Dia berbelok ke kanan ketika sampai di persimpangan, Raphtalia kembali mengikutinya.

Dan benar saja, mereka bisa melihat jalanan lebar sekarang, dengan daun pohon sakura berguguran di sepanjang jalan—sekarang bulan April, awal tahun sekolah biasanya dimulai.

Tidak hanya itu, keduanya juga melihat banyak anak seumuran mereka di sekitar. Ada beberapa yang auranya terasa berbeda, mungkin kalian juga bisa menyadari siapa saja yang merupakan bangsawan di antara murid baru ini. Semuanya menuju ke tempat yang sama, yaitu bangunan besar di ujung jalan.

"Wow, banyak juga! Jadi, mereka semua adalah murid baru seperti kita?"

"Aku rasa begitu," balas Naruto. Ia tertawa karena ekspresi Raphtalia sungguh polos.

"Aku tidak sabar untuk mempelajari banyak hal di sini! Bagaimana denganmu, Naruto-sama?"

"Aku juga." Naruto sedikit menoleh ke belakang. "Oh iya, ngomong-ngomong …, Raphtalia?"

Gadis itu menoleh karena merasa dipanggil. "Ya …?"

Mereka tidak berhenti berjalan. Kedua matanya menatap lelah Raphtalia. "Bisakah kau berhenti memanggilku dengan embel-embel '-sama' begitu? Itu terdengar kurang cocok denganku, kurasa."

"Apa yang Anda bicarakan? Anda kan bangsawan, Naruto-sama. Tentu saja saya harus memanggil Anda dengan hormat." Raphtalia berucap dengan serius, meskipun hal itu malah membuat ekspresinya terlihat lucu di mata Naruto.

Kedua telinga rakunnya bahkan bergerak-gerak pelan, dan ekor gadis itu mengibas ke kiri dan ke kanan secara berulang kali, menunjukkan antusiasme-nya. Naruto sendiri berusaha menahan diri agar ia tidak pingsan akibat melihat keadaan Raphtalia saat ini yang benar-benar imut!

"Gaaah ...!"

Naruto mengacak-acak rambut jabriknya, frustasi. Merasa beberapa orang memperhatikan mereka, Naruto segera berdehem sekali untuk mengembalikan dirinya seperti semula.

Dia berucap, "Sudahlah, lupakan tentang bangsawan dan juga keformalan. Aku tidak begitu suka dipanggil seperti itu, kau paham?"

Naruto menatap wajah cantik Raphtalia, "Kita ini seumuran, jadi bicaralah seperti saat pertama kali kita bertemu. Oke?"

Raphtalia berhenti sesaat, membiarkan Naruto berjalan di depannya. "Etto, ba-baiklah kalau Anda—maksudku, kamu berkata begitu."

Naruto tersenyum miring mendengarnya.

Raphtalia memandang punggung tegap milik pemuda itu yang semakin bergerak menjauh. Jujur saja, kesan pertama Raphtalia pada saat bertemu Naruto adalah orang yang cuek, acuh tak acuh, dan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Tapi, setelah dirinya mengenal lebih dekat sosok itu, Raphtalia sadar, bahwa ... dia tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja.

Sudut bibir gadis Demi-Human itu melengkung ke atas. Membentuk senyum manis yang dimiliki oleh seorang Raphtalia. Entah mengapa, dia jadi ingin lebih mengenal sosok Namikaze muda yang saat ini sedang berjalan di depannya ini.

Raphtalia pun berjalan cepat untuk mengejar Naruto yang sudah berjalan cukup jauh darinya.

"Naruto-sama, tunggu saya!"

Naruto menoleh ke belakang, menatap jengkel Raphtalia. "Bukankah kau setuju untuk tidak menambah sufiks '-SAMA' di belakang namaku?" Intonasi bicaranya naik satu oktaf.

Gadis berambut oranye-kecokelatan itu melambatkan jalannya saat sudah di samping Naruto. Mata merah muda-nya mengerling ke arah lain, sementara lidahnya terjulur sedikit. "Tehee~ maaf, maaf. Aku keceplosan~"

Matanya memandang wajah Naruto yang masih terlihat kesal, "Etto, bagaimana kalau kupanggil, uhm ... Naruto ... -kun?"

Pemuda itu tampak berpikir sebentar, kemudian menghela napas. "Yah, kurasa itu lebih baik daripada yang tadi."

Raphtalia pun tersenyum senang; senyuman cerah yang menghiasi wajah cantiknya.

…. Setelah itu, keduanya pun terus melangkah sambil berbincang, bahkan sesekali tertawa bersama. Beberapa murid baru yang berjalan di sekitar mereka melakukan hal serupa dengan orang yang meski baru mereka temui. Bagaimana pun, ini adalah waktu yang tepat untuk saling berkenalan dan mencari teman.

Naruto dan Raphtalia akhirnya tiba di depan gerbang akademi. Di bagian atas gerbang yang kelewat besar itu tertulis "Akademi Konoha". Ada beberapa murid yang berjaga disana, mengarahkan calon murid baru untuk menuju gedung aula penyambutan.

"Aku rasa mereka adalah anggota Dewan Siswa di akademi?"

Raphtalia mengangguk setuju atas perkataan Naruto. Ada semacam lambang yang bertuliskan OSIS di pakaian mereka, siapa saja pasti bisa langsung mengenalinya.

"Jadi ini Akademi Konoha? Lebih besar dari yang pernah kulihat di gambar!" Raphtalia berekspresi kagum dengan mata yang berbinar-binar.

Naruto hanya memandang geli pada Raphtalia. Yah, dia tahu kalau gadis itu berasal dari desa, jadi dia akan memakluminya.

Mereka berdua segera menuju ke tempat yang telah ditunjukkan oleh anggota OSIS tadi. Gedung aula ini cukup besar, banyak kursi yang sudah tertata rapi di dalamnya.

Naruto dan Raphtalia segera mencari tempat duduk yang kosong. Mereka memilih bagian tengah.

"Capek~"

Naruto tertawa pelan menanggapi keluhan Raphtalia. Keduanya berbincang-bincang sampai akhirnya ada suara yang menginterupsi.

"Kalian terlihat cukup akrab. Apa kalian berasal dari tempat yang sama?"

Keduanya menoleh ke samping. Di sebelah kiri Naruto ada seorang remaja lelaki berambut coklat jabrik yang ujung belakangnya tampak dikuncir.

"Tidak, kok. Kebetulan saja kami tadi berkenalan di kereta dan punya tujuan yang sama," jawab Naruto.

Si lelaki itu mengangguk. "Aku mengerti, aku mengerti! Kau sungguh beruntung, Sobat! Kenapa gak ada satu pun gadis yang mau kuajak berkenalan ketika di jalanan akademi tadi?! Kusooooo!" Dia berkata sambil menepuk-nepuk keras pundak Naruto. Ada air mata konyol mengalir memenuhi pipinya.

Naruto merasa kurang nyaman karena mendapat perlakuan seperti itu. Tapi, bagaimana cara dia bilangnya? Tidak mungkin dia mengatakan hal kejam seperti: "Berhenti, jangan sok akrab denanku begitu!" 'kan …?

Pada akhirnya, mereka berdua hanya bisa tertawa kaku sebagai tanggapannya. "Mungkin kamu akan beruntung lain kali," kata Raphtalia. Dia tiba-tiba seolah mendapat ide agar pemuda itu berhenti menangis.

"Oh ya, bagaimana jika berkenalan dengan kami?"

Naruto mengangguk setuju. Sebelah tangannya terulur ke depan. "Benar. Kau bisa memanggilku Naruto."

"Namaku Raphtalia, semoga kita bisa berteman dengan baik ke depannya!" Gadis itu juga mengulurkan tangan kanannya.

Ia menatapnya tak percaya! Ada juga yang mau berteman dengannya?! Pemuda berambut coklat itu langsung menyambar uluran tangan Raphtalia, wajahnya cukup sumringah. "Namaku Hyoudou Issei! Salam kenal, Raphtalia-chaaaan!"

Tangannya bergerak ke atas dan ke bawah berulang kali, cukup erat dia mencengkeramnya sampai-sampai membuat Raphtalia sedikit kesakitan.

"Ehem."

Pemuda bernama Issei tetap menggoyangkan tangannya. Senyuman itu tidak luntur dari wajahnya.

"Ehem!"

Deheman Naruto bahkan tidak ia hiraukan. Sebuah perempatan tercipta di kening Naruto. "Mau sampai kapan kau berjabat tangan dengan Raphtalia, Baka?!"

Naruto menarik paksa agar tangan mereka terlepas. Issei memandangnya dengan wajah malas.

"Kau bahkan tidak menjabat tanganku," kata Naruto masih merasa kesal.

"Iya, iya. Nih, udah 'kan?"

Issei memegang tangan Naruto, lalu melepaskannya. Itu bahkan tidak ada satu detik, Sialan!

"Kau sepertinya tidak ikhlas berkenalan denganku?"

"Bukan maksudku begitu. Aku lebih suka memegang tangan perempuan, tolong pahami lah itu." Issei membalasnya dengan bosan.

'Dia sungguh menyebalkan,' batin Naruto. Ia sekarang tahu kenapa tidak ada cewek yang mau dekat-dekat dengan Issei. Tentu saja karena sifatnya ini!

"Kalian terlihat akrab, ya?" celetuk Raphtalia.

"Darimana nya?!" / "Dari sudut bagian mana …?"

Naruto dan Issei saling berpandangan, kemudian memalingkan wajahnya ke arah yang berbeda. Raphtalia menertawai kelakuan lucu mereka berdua. "Tuh kan, bener. Hihihi~"

Semua orang mulai diam karena acara penyambutannya akan dimulai. Sang pembawa acara meminta agar sang Kepala Akademi naik ke panggung, memberikan beberapa patah kata.

Seorang Wanita berambut pirang pucat muncul, berdiri sambil memegang kristal berwarna biru terang. Itu adalah sebuah lachrima pengeras suara.

"Pertama-tama, aku ucapkan selamat datang kepada kalian di Akademi ini! Namaku adalah Senju Tsunade, kepala Akademi sekaligus orang yang memiliki wewenang tertinggi di sini. Perkataanku adalah mutlak! Aku tidak menoleransi siapa saja yang melanggar peraturan akademi, jadi tanamkan itu baik-baik di kepala kalian!"

Wanita bernama Tsunade itu mengedarkan pandangannya dari kiri ke kanan. Melihat mereka tidak ada yang bersuara, ia pun melanjutkan,

"Satu hal yang perlu kalian tahu, usaha kerja keras adalah yang paling utama di akademi ini! Bakat …? Hal seperti itu percuma jika kalian tidak bisa mengembangkannya. Bangsawan ataupun bukan, siapa saja bisa menduduki puncak akademi asalkan kalian memunyai kualifikasi yang layak. Karena itulah, belajarlah dengan sungguh-sungguh, kembangkan segala sihir maupun kemampuan terpendam kalian—latih semua itu hingga sampai batas tertentu! Inilah akademi sihir Konoha!"

"Uryaaaa!"

"Wooaggh!"

"Sepertinya ini akan menyenangkan. Hehe."

Murid-murid baru menjadi berisik karena mendengar kalimat pematik semangat dari Tsunade. Mendengar bahwa siapa saja memiliki kemungkinan untuk mendapat posisi teratas Akademi, siapa yang tidak senang? Terutama mereka yang dari keluarga biasa-biasa saja.

Kekuatan adalah yang paling utama, dan akademi akan membantu anak didik mereka untuk mengasah apapun yang mereka miliki; entah itu sihir maupun senjata mistik mereka.

Akademi Konoha, adalah salah satu dari banyaknya Sekolah Sihir Lanjutan Tingkat Atas (setingkat SMA) yang terkenal ada di Benua Etruria. Sekolah ini terletak di kota Konoha. Selain itu, kota ini juga merupakan Ibu Kota dari [Kerajaan Ivalice], salah satu kerajaan besar yang berdiri di [Benua Etruria], yaitu sebuah benua besar yang kebanyakannya dihuni oleh ras Manusia.

Akademi Konoha terkenal karena selalu meluluskan murid-murid unggulan, yang di kemudian hari diharapkan agar bisa menjadi andalan bagi Kerajaan Ivalice. Meski termasuk sebagai sekolah sihir elite, kepala akademi ini tetap memperbolehkan tidak hanya bangsawan saja, tetapi juga masyarakat biasa yang memiliki kemampuan hebat untuk masuk ke akademi ini. Entah kemampuan murid kalangan rendah itu dari bakat sejak lahir ataupun usaha dari kerja keras mereka. Tidak hanya itu, akademi ini juga menerima mereka yang punya senjata-senjata kuat—tidak peduli meski mereka lemah di dalam bidang sihir.

Akademi Konoha akan memanfaatkan semua hal yang dimiliki murid mereka untuk menjadikan muridnya kuat. Bahkan, pihak sekolah juga bisa saja membuat pemegang Senjata Mistik sekali pun untuk dapat mengimbangi seorang pengguna sihir, tanpa memerlukan bantuan sihirnya. Ini adalah sistem yang sudah lama dijalankan sejak berdirinya akademi.

Tentu saja … semuanya akan kembali pada setiap individu masing-masing. Benar, tergantung dari usaha, tujuan, dan motivasi mereka dalam belajar.

Tapi akibat adanya sistem itu, hal ini malah membuat para pengguna [Sihir] yang hebat selalu memandang remeh pengguna [Senjata Mistik]. Di setiap angkatan pasti ada saja kesenjangan yang timbul di antara dua kelompok ini.

"Sekali lagi kuucapkan, selamat datang di akademi sihir!"

Tsunade mengakhiri penyambutannya. Dia turun dari panggung podium.

Banyak hal yang sebelumnya ia sampaikan, seperti contohnya setelah ini siswa baru bisa mengecek pembagian kelas mereka. Ada juga cek ulang kapasitas mana, tetapi ini akan menjadi data rahasia pihak akademi—ada waktu tersendiri bagi siswa untuk pamer tingginya energi sihir mereka, dan itu setalah berakhirnya semester pertama.

Selain itu, ternyata semua siswa baru ini akan dibagi ke dalam dua asrama yang berbeda, namanya [Asrama Matahari] dan [Asrama Bulan]. Pembagiannya ini didasarkan pada sifat terdalam di hati yang mereka miliki—cara menentukannya adalah menggunakan [Topi Seleksi] yang bisa berbicara. Topi itu adalah peninggalan oleh seorang penyihir bijak di masa lalu.

Asrama Matahari menandakan bahwa orang itu memiliki sisi penuh kharisma yang selalu ramah dan memberi senyuman, senang, gembira, dan sebagainya. Keyakinan bahwa setiap kerja keras pasti akan mencapai hasil dan tujuan yang diinginkan, itulah yang selalu dipegang teguh oleh murid di asrama ini.

Sementara Asrama Bulan adalah sebaliknya, berarti sisi gelap dari matahari. Mereka biasanya memiliki ambisi untuk menang, yang kadang membuat sifat buruk keluar. Nafsu, keserakahan, egoisme, dan sifat-sifat lainnya biasanya terlahir di dalam kehidupan murid yang ada di asrama ini.

Kedua asrama ini dibangun di dalam akademi, dan tempatnya berada di area yang berbeda. Asrama Matahari ada di bagian timur, sementara Asrama Bulan di wilayah barat.

"Syukurlah! Kita ada di asrama yang sama, Naruto-kun," Begitulah yang dikatakan Raphtalia.

Naruto ikutan tersenyum karena melihat ekspresi bahagia gadis itu. "Benar. Memiliki teman yang dikenal di akademi, itu membuatku lebih tenang."

Setelah murid-murid baru menyelesaikan tiga urusan tadi, mereka diperbolehkan untuk segera menuju asrama masing-masing. Seperti contohnya Naruto dan Raphtalia, mereka bersama-sama berjalan keluar dari gedung aula. Issei sendiri sudah keluar sejak tadi, mereka tak tahu dia masuk ke asrama yang mana.

Selain itu, Tsunade tadi bilang jika seragam murid baru sudah disiapkan di kamar asrama masing-masing, jadi mereka tidak perlu memikirkannya.

"Aku masih tidak percaya, aku diterima di akademi ini~"

"Kau benar. Aku sempat kaget karena mendapat surat undangan satu bulan yang lalu." Naruto membalas perkataan Raphtalia.

"Meski sihirmu biasa-biasa saja, tapi ilmu berpedangmu cukup hebat, maka dari itu kau diundang untuk masuk ke akademi. Itulah yang dikatakan si pengirim suratnya." Raphtalia menghembuskan napas lelah. Ia ingat betul seseorang yang mengaku sebagai guru akademi Konoha, mendatangi kediamannya di desa satu bulan yang lalu dengan sebuah surat.

"Mereka punya jangkauan informasi yang luas, ya? Aku sedikit merinding membayangkan mereka bisa menemukan banyak murid yang berkualitas sampai ke penjuru kerajaan ini," kata Naruto. Ia tidak melebih-lebihkan, karena memang begitulah adanya.

Raphtalia melirik pemuda di sampingnya, lalu berkata, "Kamu cukup tenang mengatakannya, Naruto-kun. Aku sejak awal, malahan tidak ingin menerima masuk ke akademi ini." Ia menunduk, entah apa maksud ekspresi rumit Raphtalia.

Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"

Ia jadi bingung karena tidak mendapat balasan dari lawan bicaranya. Raphtalia tiba-tiba tersenyum, tak ingin membuat Naruto khawatir. "Tidak apa-apa, tidak perlu dipikirkan~"

"Justru itu membuatku semakin penasaran, Raphtalia!"

"Haah~ kamu cukup memaksa, ya." Raphtalia tertawa renyah. "Aku hanya berpikir, mungkin aku tidak akan bisa bertahan sampai lulus di tahun ketiga."

"…"

Naruto tidak tahu harus membalas apa. Ia tak mengerti kenapa Raphtalia berkata seperti itu. Dia kan punya waktu panjang untuk berlatih ke depannya, mana mungkin dia akan dikeluarkan dengan mudahnya, 'kan?

"Oh, iya. Kamu punya sihir apa?" tanya Raphtalia secara tiba-tiba.

"Hmm? Sihir?"

"Iya. Aku punya Light Magic dan Dark Magic. Kalau kamu?" tanya Raphtalia. Matanya masih tetap setia melihat daerah sekitarnya.

"Aku ... ah, apa kau yakin ingin mengetahuinya?"

Raphtalia memandang heran Naruto. "Tentu saja, cepatlah!"

"Kau mungkin tidak akan kenal sihirku."

"Maka dari itu aku ingin mendengarnya lebih dulu! Kamu terlalu berbelit-belit, Naruto-kun!"

Naruto menghela napasnya setelah mengetahui kegigihan Raphtalia.

"Baiklah."

Safir itu memandang tenang ke arah depan. Sementara Raphtalia meliriknya penasaran.

"Sihirku bernama ... Magic Maker."

Raphtalia mengangkat sebelah alisnya. Dia belum pernah mendengar nama sihir itu. "Memangnya ada sihir yang semacam itu?" tanya gadis rakun tersebut.

Naruto kembali menghela napasnya. "Sudah kubilang 'kan, kalau kau tidak akan mengenali sihirku?"

Raphtalia memasang wajah cemberut. "Aku kan cuma bertanya."

"Nanti kau juga akan tahu sendiri tentang sihirku ini," ujarnya, yang langsung disusul oleh kekehannya. "Lagi pula, aku belum terlalu mahir menggunakan sihirku ini, tahu."

Gadis itu mengendikkan bahunya. "Tidak usah merendah, Naruto-kun, aku tahu kamu pasti sudah hebat," ujar Raphtalia seraya mengibas-ibaskan telapak tangannya. "Secara ..., kamu 'kan putra Namikaze Minato-sama."

Sedangkan Naruto hanya bisa tertawa canggung sambil menggaruk kepala kuningnya yang tidak gatal. "Ahaha, tentu saja tidak. Tolong jangan sangkut-pautkan segala tentangku dengan Ayahku, kalau tidak … kau mungkin akan sedikit kecewa."

"Apa maksudmu itu, coba?" Satu alis terangkat, menandakan kebingungan Raphtalia. Namun Naruto memilih untuk diam.

Tak ada pembicaraan lagi setelah itu.

Naruto melirik sekilas perempuan pemilik rambut oranye-kecokelatan yang berjalan di sampingnya itu. Gadis tersebut sedang memandang lurus ke depan. Secara diam-diam, Naruto menghela napas lega. Dia bersyukur karena Raphtalia tidak mengenali Magic Maker.

Dia tidak ingin ada orang lain mengetahui sihirnya ini. Seperti yang diperintahkan Sensei-nya, ia harus tetap menyembunyikan sihirnya!

Dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Karena akibat kecerobohannya itu, menunjukkan sihirnya secara terang-terangan pada lawannya, kini ia harus terus merasakan penyesalan di dalam dirinya.

Pokoknya, Naruto tidak mau semua hal di masa lalunya terulang kembali! Cukup satu kali saja dia merasakan itu semua!

"—Kamu tidak apa-apa, Naruto-kun? Wajahmu terlihat pucat?" Kata-kata dari Raphtalia membuat Naruto tersadar dari lamunannya.

"Ah! Bukan apa-apa. Kau gak usah khawatir, Raphtalia." Dia mengatakan itu sambil mengusap keringat dingin di wajahnya secara tergesa-gesa. Kedua safirnya melirik pada gelang di tangan kanannya.

Itu adalah sebuah gelang kuno dengan model aneh. Ada banyak ukiran-ukiran yang sulit dimengerti di sepanjang tubuh gelang. Selain itu, ada satu batu bola sapphire yang menghiasi bagian tengah gelang.

"Uhm, baiklah … kalau kamu bilang begitu."

Raphtalia mencoba untuk tidak bertanya lebih lanjut demi menjaga perasaan Naruto. Setiap orang punya satu atau dua rahasia yang tidak mungkin bisa dikatakan ke orang lain—Raphtalia sangat memahami itu, sama halnya seperti dirinya yang punya rahasia.

Mereka akhirnya sampai di depan bangunan [Sun Dorm], tempat yang akan mereka tinggali sampai tiga tahun ke depan nantinya. Keduanya pun membuka pintu depan, masuk ke dalam yang langsung disambut oleh keramaian murid baru. Sepertinya mereka harus mengantre untuk mendapatkan kunci kamar.

Yah ... inilah awal dari perjalanan, pengalaman, dan segala hal baru yang akan Naruto temui saat berada di sekolah sihir Akademi Konoha!

—Dan tak ada di antara mereka berdua yang saling menyadari, bahwa pertemuan ketidaksengajaan mereka ini, akan mengantarkan mereka pada segala masalah cerita yang tidak pernah dapat mereka bayangkan!

Bersambung


[Author Note]:

Hai, hai! Ini aku, sang penulis baru di FFn, Abidin Ren!

Ini adalah cerita kedua yang kubuat, semoga kalian suka meski ceritanya memiliki konsep yang hampir sama seperti Fic-fic lain yang sudah pernah di-publish di FFn.

Ngomong-omong, pemilihan asrama dan undangan masuknya sama persis seperti di seri buku maupun film Harry Potter. Aku sengaja make cara ini aja sih, wkwk.

Itu aja dulu. Jika ada sesuatu yang ingin kalian tanyakan, tulis di kotak review. Aku akan berusaha menjawabnya sebisa mungkin.

Terima kasih untuk kalian yang sudah meluangkan waktu sejenak untuk menulis review, karena bagaimana pun itu adalah sesuatu yang membuat kami, Author FFn, bisa bertahan di dunia penulisan ini. Satu review dari kalian akan memberikan semangat bagi kami untuk menulis kelanjutan cerita ini. Thanks for you all.

Tertanda. [Abidin Ren]. (6/April/2020).