23/September/2022


The Genius Magic Student—

By: Abidin Ren

Summary: Memiliki sihir yang tidak terlalu dikenal oleh banyak orang, selalu membuatnya dipandang remeh oleh orang lain. Tapi meskipun begitu, Naruto tidak pernah peduli bagaimana orang-orang menganggap lemah sihirnya. Hanya dia yang tahu tentang potensi sebenarnya dari sihir miliknya ini. Dan sihirnya itu bernama … [Magic Maker].

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto | [Tate no Yuusha no Nariagari] © Aneko Yusagi | [High School DxD] © Ichie Ishibumi | [Fate Series & Fate/Grand Order] © TYPE-MOON | [Fairy Tail] © Hiro Mashima | Dan Semua Karakter Milik Pengarangnya Masing-masing.

Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul di dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak mana pun.

This Story Created by Me

Genre: Fantasy — Adventure — School Life — Romance(?) — Harem

Pair: [Naruto & ?]

Rated: T+ (M untuk Kekerasan dan Kata-kata Kasar)

Warning: Alternate Universe! (AU!), Magic World! Martial Arts, Harem, Kata-kata Kasar (Mungkin), OOC(?), OC(?), Alur Perlu Dipertanyakan, And Many More.

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy It~

Please Favorite, Follow, and Review!

.


[Arc I]: Akademi Konoha


[Chapter 9]: Kekuatan yang Besar, Terkadang akan Memberikan Tanggung Jawab yang Sama Beratnya pula!


Opening: Yuuka Iguchi — Hey World (Opening Song dari Anime DanMachi Season 1)


Trank! Trank …!

Percikan bunga api terlihat muncul dimana pun ketika senjata mereka berdua saling berbenturan. Satu orang memakai pedang silver, sementara orang yang lain memakai cakar hitamnya.

TRAAANK!

Sepasang iris safir itu menajam, melihat seringaian kepuasan musuhnya. Serangannya lagi-lagi ditahan oleh lengan kanan Burks yang sudah berubah. Naruto menambah dorongan pedangnya pada cakar raksasa di depannya, membuat pria itu mengambil langkah mundur.

"Menarik!"

Itulah yang diteriakkan Burks. Dia menghentakkan tangan kirinya ke tanah, menciptakan lingkaran sihir besar. Tanah di depannya bergetar aneh, kemudian mencuat dengan ujung yang tajam, bergerak secara teratur menuju Naruto.

Dia tentu tidak tinggal diam. Kedua tangannya memegang pedang silvernya, dan dengan gerakan yang pasti menebas setiap tanah tajam yang ingin menusuknya.

Sraash! Crash!

"Apa?!" Naruto terkejut. Ternyata sihir tadi hanyalah pengalihan.

Burks telah muncul di sampingnya dengan tendangan siap mengincar kepala kuningnya. Serangannya tepat mengenai targetnya dikarenakan Naruto tidak sempat menghindar maupun menghalaunya.

Tubuh pemuda itu terlempar cukup jauh. Tapi, sebelum punggungnya menyentuh tanah, dia dihentikan oleh tangan seseorang. Itu adalah Burks!

'Kecepatannya meningkat dibanding sebelumnya!' batin Naruto terkejut.

Burks menarik ujung kaos belakang Naruto, lalu membanting tubuh pemuda itu ke tanah.

"Ghh!"

Rasa asin memenuhi mulut Naruto. Sepertinya itu adalah darah.

Serangannya tidak berhenti sampai di situ. Burks sudah mengangkat tinggi-tinggi lengan kanannya yang mirip tubuh binatang—akibat sebelumnya pria itu mengaktifkan sihir aslinya.

Naruto melebarkan kedua matanya. Cakar tajam itu akan menusuk perutnya jika ia tidak segera bangun. 'Tidak akan sempat!' pikirnya.

Naruto pun berniat menahannya menggunakan pedangnya. Ia dengan kekuatan yang masih ada, mengayunkan silver sword-nya tanpa ragu.

Krak! Blaaaar!

Ledakan kecil terjadi di tempat mereka berdua bertarung.

Kepulan debu muncul disana, menutupi pandangan Raphtalia dan yang lain. Ketiganya jadi tidak bisa tahu apa yang terjadi pada Naruto. Mereka hanya berharap agar ia baik-baik saja.

Dari balik kepulan debu, Naruto melompat keluar dengan bekas luka di bahu kirinya. Sepertinya ia berhasil membelokkan serangan lawannya sebelum itu mengenai bagian tubuh vitalnya. Dia mendarat cukup jauh dari sana.

Mata safirnya melirik tangan kanannya, pedang silvernya patah dan hanya tersisa sepertiga bagian tubuhnya.

"Lagi …?!" teriaknya tak percaya.

Pemuda itu langsung melemparnya asal ke samping. Tak lama kemudian, pedang tadi menghilang di tanah, seolah tak pernah tercipta.

Itu tadi adalah pedang ketiganya yang dirusak Burks, yang mana padahal mereka baru lima menit bertarung setelah pria itu menggunakan Sihir Bawaan-nya. Sejak musuhnya mengaktifkan sihirnya, dia mendapat peningkatan kekuatan yang tidak main-main.

"Dia datang lagi, Master!"

Menanggapi kata-kata Ophis, Naruto sudah selesai menciptakan dua magic circle berwarna putih di sampingnya—tanpa rapalan mantra. Ia menarik dua short sword dari sana yang kemudian ia silangkan di depan tubuhnya.

Traank!

Cakar tajam itu berhasil ia tahan.

"Apa itu sihir penyimpanan yang sedang kau gunakan, Bocah? Tidak, aku rasa sihirmu sedikit lebih unik."

"Kenapa kau peduli dengan sihirku, huh?" Naruto dengan susah payah tetap mempertahankan kekuatan dorongannya.

Burks mendecih karena tahu jika Naruto tak akan menjawab pertanyaannya. "Heh, tidak peduli seberapa cepat kau menyelesaikan sihirmu, semua itu percuma kalau kau tidak melantunkan mantra-mu, Dasar Bodoh!"

Itu benar. Kebanyakan sihir selalu memerlukan nyanyian mantra untuk mengaktifkannya. Dan juga, semakin banyak mantra yang dilantunkan, maka semakin kuat pula sihir yang dikeluarkan. Memang ada juga sebagian sihir yang tak butuh pelafalan mantra, contohnya seperti [Basic Magic]. Tapi, itu pun si pengguna masih harus untuk mengucapkan nama sihirnya, agar sihirnya berhasil.

—Sementara Naruto? Pemuda itu bahkan tidak melakukan keduanya!

Dalam sudut pandang Burks, Naruto yang sejak tadi tak pernah membaca mantra sihirnya, ia menganggap jika pemuda ini tak begitu mengerti esensi sebenarnya dari sebuah sihir.

Naruto mengabaikan perkataan lawannya. "Berhentilah bicara seolah kau mengenal baik sihir yang kugunakan."

Sihir penyimpanan, katanya? Yang benar saja. Naruto tidak terima jika sihirnya dianggap seremeh Sihir Dasar.

Pembicaraan mereka selesai. Burks kembali melancarkan serangan. Ia mengangkat kaki kirinya untuk menendang sisi kepala Naruto.

Namun, Naruto sudah siap menghindar. Dia melancarkan serangan balik dengan tusukan pedang di tangan kanannya. Sayang sekali meleset, Burks baru saja melompat salto hingga melewati tubuh pemuda itu, dan mendarat dengan sempurna.

"Tidak ada gunanya, Bocah!"

Belum sempat Naruto mengambil napas, dia sudah dikagetkan dengan adanya lesatan cepat sebuah kaki yang mengarah ke punggungnya.

Ia tak sempat menghindar. Tubuhnya terlempar dan masih saja berguling-guling di tanah beberapa kali. Naruto bangkit berlutut, menatap tajam Burks Blaumohn di depannya yang telah berubah karena Sihir Bawaannya.

Tangan kanan pria botak itu kini membesar dua kali lipat dari ukuran tangan manusia normal. Bulu-bulu tebal berwarna emas tumbuh di seluruh lengan kanannya itu. Cakarnya yang tajam bahkan terlihat mampu mengoyak tubuh Naruto hanya dalam sekali serangan.

"Dia benar-benar menjadi monster, ya?"

Naruto tidak bisa untuk tidak terkejut. Kejadiannya ini di luar perkiraannya. Dia pikir Burks memiliki [Origin: Affinity Element] karena selalu menyerangnya menggunakan sihir alam, jadi ia ingin melihat terlebih dulu elemen apa saja yang Burks miliki. Barulah setelah itu, Naruto akan menyusun rencana untuk mengalahkannya.

—Namun, apa ini …?! Burks sekarang juga memakai [Body Magic], begitu?

"Taboo …, itulah yang sebelumnya dia katakan mengenai Origin-nya. Sepertinya, Sihir Bawaan-nya itu berkaitan erat dengan hal terlarang, Master." Buku hitam kecil, atau Grimoire, di dada Naruto berkedip-kedip sebentar. Ophis tetap berbicara lewat telepati.

Naruto mendengarkan seksama penjelasan Ophis. "Jadi, sihirnya berbeda dengan sihir yang digunakan Jirobo waktu itu?"

"Benar. Aku yakin—"

Ia meminta Ophis menghentikan sebentar bicaranya karena Burks sudah datang lagi kepadanya.

"Apa yang kau lamunkan, hah?! Kemarilah dan lawan aku!" Ia tertawa dengan gila. Burks mengayunkan lengannya ke kepala bagian kiri lawannya.

'Dia sejak tadi mengincar kepalaku,' batinnya.

Naruto menahannya menggunakan kedua pedang di tangannya. Suara gesekan besi menusuk gendang telinga mereka masing-masing. Akibat kekuatan pria itu kini meningkat dibanding sebelumnya, Naruto tidak sanggup menahan dorongannya hingga tubuhnya terseret ke kanan beberapa centimeter, sebelum akhirnya dia terlempar jauh.

"Ouch! Akh! Gah, sial!"

Dia menancapkan kedua pedangnya ke tanah untuk menghentikan dirinya berguling-guling. Naruto memandang kebingungan ke depan karena tak melihat Burks.

"Di atas Anda, Master!"

Ternyata benar, Burks melompat sangat tinggi. Ia juga sepertinya sudah selesai dengan rapalan mantra sihirnya. Dari lingkaran sihir ungu di tangan kirinya, keluarlah percikan petir memanjang yang melesat ke bawah menuju Naruto.

"[Shock Bolt]!" teriaknya lantang.

Burks sempat melihat jika serangannya gagal. Ia mendarat, kemudian dengan otot-otot kakinya yang kuat, pria itu melontarkan dirinya ke depan.

Suara ledakan tercipta di tempat Naruto berdiri. Beruntung sekali Ophis memperingatinya, jadi ia masih sempat menghindar ke belakang. Ia mendecih karena pandangannya tertutupi oleh debu tebal hasil serangan Burks.

Baru saja Naruto akan beranjak dari tempatnya, ia dikagetkan dengan kemunculan musuhnya. Debu di depannya terbelah setelah Burks menerobosnya dari depan begitu saja! Sepasang safir itu terbelalak.

'Gerakannya sangat cepat!' batinnya.

Traank!

Cakar dan pedang tajam mereka masing-masing kembali bertemu. Jika refleksnya terlambat sedikit saja, mungkin dada Naruto sudah berlubang saat ini.

"—Khhh!" Naruto tidak sanggup menahan kekuatan fisik Burks. Seperti yang Naruto kira, sihirnya itu pasti sangat memengaruhi segala aspek pada diri Burks. Saat ini, terdapat perbedaan kekuatan yang signifikan di antara mereka.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala kuningnya.

Pemuda itu dengan sengaja mengurangi kekuatan di kedua tangannya. Hal itu akan membuat energi tekanan yang dikeluarkan lawannya menurun, dikarenakan tubuhnya tidak siap dengan perubahan tiba-tiba dari sesuatu yang mendorongnya. Burks hampir saja kehilangan keseimbangan dari pijakannya.

Naruto sendiri sudah memutar tubuhnya searah jarum jam dengan kaki kirinya sebagai porosnya, itu ia lakukan untuk menghindari tusukan cakar lawannya. Masih dalam keadaan berputar, dia menyejajarkan kedua short sword-nya, lalu menyabetkan sayatan ganda horizontal ke lengan besar Burks. Darah tampak sedikit merembes di bulu-bulunya yang tebal.

Lagi, satu serangan cepat pemuda itu berikan. Kali ini ia mengayunkan pedang pendek di tangan kirinya dari bawah ke atas, menyayat lengan besar berbulu itu, hingga darah menetes jatuh ke tanah dari luka yang tercipta.

"Gekh! Awas saja kau, Bocah!"

Murid akademi itu melompat mundur karena melihat musuhnya mengayunkan lengan berbulunya secara brutal. Dia mengaktifkan lagi sihir Accel dan Boost-nya, kemudian ia menghilang dan muncul di belakang tubuh Burks. Naruto baru saja akan menusuk punggung lawannya kalau saja ia tidak dikejutkan dengan hantaman lengan raksasa Burks dari arah kanannya.

Buaagh! Tubuh pemuda berusia 15 tahun itu kembali terlempar jauh.

"Percuma! Sudah kubilang, aku bisa merasakan gerakan mana-mu, Bodoh. Selain itu, insting tubuhku kali ini tak akan kalah dari kecepatanmu," ujar Burks menyombongkan diri.

'Sial. Ternyata aku memang harus lebih sering mempelajari sihir Accel maupun Boost. Cukup susah membuat tubuhku terbiasa dengan sihir-sihir ini,' batin Naruto. Mau bagaimana lagi, dia bahkan tidak pernah belajar sihir sampai dia masuk ke Akademi Konoha.

Naruto bangkit dengan kepala sedikit pusing. Seluruh tubuhnya sangat kesakitan. Memang benar, gelang kuno di tangan kanannya itu memberikan perlindungan fisik kepada Naruto, tetapi jika ia terus menerima serangan begini … maka lama-kelamaan dampaknya akan dapat dia rasakan.

"Insting? Memangnya kau ini hewan atau semacamnya?" cemoohnya. Ia tak mengerti kata-kata pria botak itu.

Mendengar itu, Burks menyeringai lebar. "Ya, itu tepat sekali."

Naruto menaikkan sebelah alisnya.

"Dia sepertinya tidak bohong, Master. Jika Anda ingat baik-baik, saat orang itu mengaktifkan sihirnya, bukankah lengan kanannya itu berubah dengan cara yang aneh?"

Setelah Ophis mengatakan itu, Naruto akhirnya paham. Dia ingat betul beberapa menit sebelumnya, ketika Burks menggunakan sihirnya, tangannya pada awalnya terlihat seperti meleleh. Dan kemudian, ia membentuk ulang bagian tubuhnya itu dengan tampilan yang sedikit berbeda. Benar, dibanding tangan manusia normal, tangannya itu kini malah seperti bagian tubuh binatang, lebih tepatnya singa.

"—Transmutasi Tubuh, aku yakin itulah yang dia lakukan, Master." Ophis mengakhiri penjelasannya yang sempat tertunda.

Transmutasi Tubuh ….

Satu-satunya pemikiran yang terlintas di kepala Naruto ketika dia mendengar dua kata itu adalah—

"Jadi begitu, kau mengubah lenganmu menggunakan semacam [Sihir Alkimia]," ujar Naruto pada akhirnya.

Ia sedikit mengetahui Alkimia, itu adalah sihir tentang proses; [Pemahaman, Dekonstruksi, lalu Rekonstruksi]. Sementara konsep dasar mengenai Alkimia adalah [Pertukaran Setara]. Itu berarti untuk mendapatkan lengan hewan dan peningkatan fisiknya, Burks perlu mengorbankan sesuatu yang lain dari dirinya dengan tingkat yang sama.

Meski begitu, Naruto masih belum mengerti bagaimana cara Burks melakukannya. "[Transmutasi Tubuh] adalah sesuatu yang terlarang. Bagaimana kau berhasil melakukannya, hah?!"

Seringaian Burks melebar tatkala mendengar ucapan bocah di depannya. "Kau cukup teliti. Kapan kau menyadari ini hm, Bocah?"

"Itu bukan hal yang penting. Jawab saja pertanyaanku!"

Entah karena apa, Burks tiba-tiba terkekeh dengan suara aneh. Naruto makin mempertajam pandangannya.

"Kau sangat pintar. Aku jadi makin tertarik padamu."

—Sepertinya Burks tak punya keinginan untuk menjawab pertanyaan Naruto tadi. Dia malah mengatakan sesuatu yang ngelantur.

"Maaf, tapi aku masih menyukai perempuan," balas Naruto cepat. Dia mendecih karena menyadari Burks mengalihkan pembicaraan. Pria itu sengaja meyembunyikan rahasia sihirnya dari Naruto.

Burks sudah menduga kalau perkataan itu akan keluar dari mulut Naruto. Kata-katanya memang menyebalkan. Tapi, kali ini Burks berusaha menahan emosinya, ia tak akan mudah terpancing seperti sebelumnya. "Perlu kau ketahui, Bocah, yang kumaksud tertarik padamu bukanlah sesuatu yang sedang kau pikirkan, melainkan … aku tertarik untuk meneliti apa saja yang ada di dalam kepalamu itu. Cara berpikirmu sangat menakjubkan sekali, meski kau masihlah muda. Sangat disayangkan kelemahanmu ini menjadi penghalang bagi kepintaranmu." Bicaranya sangat tenang.

Itu benar. Setelah ia menyelesaikan pekerjaannya mengirim Kyuubi ke markas organisasinya, maka ia berencana membawa Naruto ke Lab Penelitiannya. Burks akan membedah isi tubuh, kepala, dan hal lainnya dari bocah itu. Ia tak sabar melakukannya.

"Siapa juga yang mau," katanya tidak peduli. Naruto merasa, jika orang di depannya ini sangat besar kepala, seolah apa yang dikatakannya bisa ia wujudkan dengan mudahnya.

"Kalau begitu aku akan membawamu dengan paksa. Satu atau dua bagian tubuhmu yang patah … bagiku tidaklah masalah, asalkan kau masih hidup sampai aku selesai meneliti seluruh bagian tubuhmu."

Setelah musuhnya mengetahui Sihir Bawaan-nya, maka tak ada lagi alasan bagi Burks menyembunyikannya. Dia mulai merapalkan mantra sihirnya dengan cepat, membuat Naruto terkejut.

'Itu … adalah sihir dengan dua baris mantra! Dia bisa melafalkannya dalam waktu singkat?!' batin si Namikaze tidak percaya.

Setelahnya, Burks pun berlutut, sementara telapak tangan kirinya ia hentakkan di tanah.

Seketika saja, lingkaran sihir besar tercipta di tanah, dengan tubuh Naruto sebagai pusatnya. Di saat yang bersamaan itulah, tanah yang dipijak Naruto bergetar. Tiba-tiba saja tanah itu meleleh seolah menjadi air, kemudian berubah menjadi sesuatu yang berkilauan. Itu bergerak menaiki tubuh Naruto setinggi dadanya. Tak lama kemudian, benda berkilauan itu mengeras, membuat pergerakan Naruto terkunci disana.

Tentu saja ia terkejut! Kejadiannya sangat cepat sekali, bahkan Ophis sendiri tidak sempat memperingatkannya.

"Apa-apaan ini?!" Ia menarik-narik tangannya, mencoba melepaskan diri. Tapi mau sekeras apapun ia berusaha, Naruto tidak sanggup bergerak barang hanya seinci pun.

—Tadi adalah perbuatan Burks. Dengan menggunakan [Sihir Alkimia]-nya, ia mengubah tanah yang dipijak Naruto menjadi kristal, lalu memerangkap tubuhnya disana.

Burks berjalan mendekatinya dengan santai. Naruto bersikap waspada pada pria berkepala botak itu.

Tangan kirinya yang terkepal sangat kuat itu ia aliri magical energy. Kemudian, ia menonjok wajah Naruto sampai membuatnya menunduk lemas. "Bagaimana rasanya, hm?"

Memar tercipta di pipi berhiaskan tiga kumis kucingnya. Ia menegakkan kepalanya. "Hanya itu yang kau punya?" tanya Naruto dengan senyum mengejek.

"Haaah …?! Akan kupastikan kau menyesal karena selalu menyulut emosiku!"

Buagh! Buagh! Buagh!

Tiga pukulan tangan kirinya itu ia luncurkan berturut-turut. Terlebih lagi, semua serangannya berisi dengan mana, jadi penghalang tipis yang menyelubungi tubuh Naruto mana mungkin bisa menahannya! Darah segar tampak mengalir keluar dari hidungnya.

'Sial. Itu menyakitkan.' Jika seandainya ketahanan fisiknya tidaklah cukup kuat, mungkin Naruto sudah pingsan sejak tadi karena mendapat serangan terus-menerus.

"Bah! Memukulimu bahkan tidak membuat kekesalanku hilang, kau tahu?!" teriaknya sambil mendongak.

Ah, dia baru menyadari jika Blood Eclipse hampir berada di ketinggian sempurna.

"Waktu main-main denganmu selesai, Bocah. Sekarang saatnya membuat Kyuubi bangun," katanya.

Mendengar itu, Naruto jadi panik. Ia harus segera keluar dari perangkap ini, kalau tidak … berarti semua rencana mereka akan gagal. Terlebih lagi, Grandeeney akan kecewa padanya. Dia tak akan menyerah!

"Raaaah! Heengh!"

—Memikirkan semua itu saja berhasil membuat semangatnya kembali. Naruto mengerahkan semua kekuatan di tubuhnya agar bisa menghancurkan kristal yang mengunci badan bawah hingga kedua lengannya setinggi dada.

"Tidak, tidak, lebih baik kau tidur saja untuk sementara waktu. Aku tak ingin ada gangguan lagi saat mengurus Kyuubi."

Mendengar perkataannya, Naruto berhenti berontak. Kedua safirnya membelalak kala melihat Burks kembali menggunakan sihirnya, mengubah lengannya menjadi sesuatu yang lain.

Lengan sampai bahu kanannya, sekarang terlihat sangat berotot. Bulu emas tebalnya sebelumnya juga telah digantikan oleh bulu hitam tipis. Sepertinya, itu mirip dengan lengan gorila?

Dia mulai memusatkan energi sihirnya ke tangan raksasanya.

"Kau tadi bertanya, bagaimana aku berhasil melakukan Transmutasi Tubuh, 'kan? Jawabannya mudah, yaitu jiwa."

Naruto hanya bergeming ketika Burks tiba-tiba mengatakan itu. Ekspresi kebingungan tercetak jelas di wajahnya.

"Alkimia adalah tentang menciptakan sesuatu yang baru menggunakan sesuatu yang sudah ada, tentu saja dengan pertukaran yang setara," lanjut Burks.

Maksudnya seperti ini. Contohnya jika kalian ingin mengubah logam menjadi emas seberat satu kilogram, maka dibutuhkan juga logam merah sebanyak berat dari emas satu kilogram tadi. Selain itu, kalian tidak akan pernah bisa mencapai sesuatu menggunakan Sihir Alkimia, jika bahan dasar dan benda yang ingin kalian buat, memiliki unsur yang berbeda. Itu adalah syarat mutlak berhasilnya Alkimia.

"Transmutasi Tubuh dilarang karena untuk mencapainya … kau harus siap meninggalkan segala norma dan nilai moral yang ada. Berdasarkan hasil penelitianku, jiwa adalah syarat penting agar sihir ini berhasil." Burks melirik lengan kanannya yang seperti hewan. Energi sihirnya sudah terkumpul cukup banyak di kepalan tangannya.

Kedua mata Naruto melebar. 'Jadi begitu, dia tidak mengubah bentuk fisiknya, melainkan mengubah jiwanya sendiri. Dengan begitu, tubuh fisiknya akan menyesuaikan bentuk apa yang ada pada jiwanya. Itu tindakan gila!'

Burks menyeringai senang karena menyadari perubahan ekspresi Naruto. Bocah di depannya ini … langsung paham, bahkan sebelum ia selesai menjelaskan.

"Dengan mengubah sedikit saja jiwa manusiaku menjadi jiwa binatang, aku mendapat perubahan tubuh serta peningkatan kekuatan yang signifikan. Seperti yang kau lihat sekarang. Sihirku hebat, 'kan? Bwahaha!"

Naruto tak pernah membayangkan akan bertemu orang seperti ini. Bisa dikatakan kalau Sihir Alkimia milik Burks telah berada di luar akal sehat. Mengubah jiwanya sendiri pastinya akan memiliki efek samping yang tidak murah.

"[Alchemical Magic: Soul Binding], jika kau penasaran mengenai sihirku … maka kuberitahu itu kepadamu, Bocah. Lagipula, kau tidak bisa apa-apa lagi, jadi itu tidak merugikanku sama sekali."

Burks mengakhiri perkataannya, bersamaan dengan selesainya ia mengumpulkan mana-nya dalam jumlah banyak di kepalan tangan. Ia siap memukul Naruto kapan saja.

Si Namikaze muda bisa mengetahui seberapa fatalnya luka yang akan ia miliki, jika ia menerima serangan dengan mana berkepadatan tinggi itu secara langsung. Perisai tipis yang diciptakan gelang kunonya, tak akan bisa menahan serangan sihir! Ini sangat gawat!

"Jangan sampai mati, ya." Seringaian kesenangan menghiasi wajah pria itu.

Burks pun tanpa menunggu lagi, langsung melancarkan pukulannya. Itu melaju lurus tepat ke dada Naruto, menghujam dirinya tanpa ampun!

Duagh! Krak!

"Gakh!"

BLAAAARR …!

Ledakan keras yang tercipta itu bahkan sampai memecahkan kristal yang membelenggu Naruto. Tubuh pemuda itu sendiri terlempar sangat jauh, sampai ke tepi tanah lapang, sisi kanan dari [Pohon Dewa].

"…"

Naruto jatuh telentang, darah menyembur membasahi pakaian di dadanya. Kini, hanya warna putih lah yang memenuhi bidang penglihatannya. Ia juga kesusahan untuk bernapas.

"Master! Master! Bertahanlah, tetap jaga kesadaran Anda!" Ophis berteriak panik.

Sayang sekali Naruto tidak begitu mendengarnya cukup jelas. Kesadarannya makin berkurang setiap detiknya berlalu.

'—Meski begitu, setelah menerima serangan berbahaya tadi, mana mungkin aku tidak kenapa-napa, Ophis? Jujur saja, aku hampir tidak sanggup bangkit. Pukulannya itu benar-benar … seperti monster ….'

Itulah yang dipikirkan Naruto, sebelum akhirnya dia pingsan.

Burks tertawa singkat setelah melihat bocah itu dalam waktu lama, tidak kunjung berdiri. Pria itu menduga jika Naruto pingsan. Ia pun beranjak mendekati bagian tengah [The God Tree].

Tidak butuh waktu lama berjalan, Burks akhirnya berdiri di depan Kyuubi yang masih tertidur. Monster itu tak akan bangun sebelum semua segelnya terbuka—atau lebih tepatnya, hanya tinggal rantai emas ini.

Pria itu menarik rantai di depannya dan menggenggamnya kuat-kuat, berusaha menghancurkannya … tetapi tidak berhasil.

"Sekuat yang dikatakan mereka, huh? Yah, masih ada sedikit waktu sebelum gerhananya sempurna," ujarnya pada dirinya sendiri. Pria itu mendongak. Langit malam benar-benar berwarna merah karena diterangi cahaya dari gerhana bulan. "Menunggu memang membosankan …."

Raphtalia, Wendy, dan Carla yang menyaksikan dengan tenang pertarungan mereka berdua sejak tadi, kini berubah panik. Baru 9 menit berlalu, dan Naruto sudah dikalahkan?! Meski yah, mereka tahu betul kalau keadaan mulai tidak menguntungkan sejak Burks mengaktifkan Sihir Bawaan-nya itu.

Raphtalia meminta mereka berdua untuk pergi menolong Naruto menggunakan [Sihir Penyembuh] yang Wendy miliki, sementara dirinya sendiri bermaksud untuk menghentikan Burks. Gadis rakun itu akan mengulur waktu sampai Naruto siuman dari pingsannya.

Wendy dan Carla mengangguk. "Tolong jangan memaksakan dirimu ya, Raphtalia-san?"

Raphtalia tersenyum ke arah gadis berambut biru itu. Ia menghargai kekhawatirannya. "Tenanglah, aku akan baik-baik saja, kok."

Setelahnya, mereka bertiga pun berpisah ke arah tujuan masing-masing. Wendy dengan Carla menuju Naruto secepat mungkin.

Sesampainya disana, mereka terkejut dengan luka yang diderita Naruto sangatlah parah. Itu di luar perkiraan mereka.

"Cepat, Wendy, gunakan sihirmu!"

Gadis itu tersadar ketika tangannya ditarik Carla. "A-Aku mengerti!"

Dia duduk bersimpuh di samping tubuh Naruto. Tangannya terulur ke depan, dan setelah satu baris mantra ia ucapkan,

"[Lingkupilah Mereka yang Sedang Lemah, dan Hapuslah Segala Bentuk Kejahatan. Heal: Wind]," katanya pelan. Lingkaran sihir muncul di depannya. Setelahnya, angin bergerak berkumpul di sekitar luka bagian dada Naruto.

Itu adalah sihir penyembuhan khusus para Naga yang dia pelajari dari ibunya, Grandeeney. Tidak seperti sihir penyembuhan yang biasanya dengan cara mengirimkan magical energy ke targetnya, sihir yang dipakai Wendy ini akan memanipulasi udara bersih di sekitarnya untuk mengobati luka kemudian menutupnya.

"Ini … lebih lama dari yang aku perkirakan," katanya khawatir. Sepertinya butuh beberapa menit sebelum Naruto sembuh total.

"Gunakan saja semua waktu yang kau punya, Wendy. Jangan menyerah!" Carla memberi dukungan emosional kepada temannya itu agar semangat. Wendy mengangguk paham.

Sementara itu, Raphtalia bergerak mendekati Burks.

Raphtalia berlari dengan gestur tubuh siap menghunus Iron Sword miliknya. Gadis itu sudah bertekad dan siap melawan Burks, apapun risiko yang ia dapat nanti.

Saat jaraknya dengan Burks tinggal lima meter, Raphtalia melompat cukup tinggi. Dalam keadaan melayang itulah, ia menarik pedangnya dan dipegang menggunakan kedua tangan di atas kepalanya. Ia akan melakukan gerakan menebas!

Trank!

Burks berbalik dan menahan serangan Raphtalia menggunakan cakar besarnya. Pria botak itu ternyata sudah mengubah lagi lengan kanannya menjadi bagian tubuh singa. Ia tahu kalau Raphtalia mendekatinya, sebab Burks merasakan tekanan magical energy si gadis. Makanya, ia sudah bersiap-siap.

"Seharusnya kau tetap duduk diam saja, dasar Setengah-Manusia!"

"Dan membiarkan rencanamu berjalan mulus? Tidak, terima kasih," desis Raphtalia. "Lagipula, untuk apa kamu dan organisasimu itu ingin mengambil Kyuubi, hah?"

"Kalian semua memang suka sekali ikut campur. Tidak ada alasan bagiku untuk memberitahumu!" Dia mendorong Raphtalia, membuat si gadis mundur beberapa langkah.

Raphtalia menggenggam erat pedangnya. "Kalau begitu, aku akan menghentikanmu!"

"Kalian masih saja tidak mengerti, dasar Bocah."

Raphtalia memandang kebingungan Burks. Ia menoleh ke arah yang ditunjuk si pria botak, yaitu gerbang raksasa di belakangnya yang sebelumnya dipanggil Burks menggunakan summon magic.

"…. Itulah alasan kenapa gerbangnya di sini. Setelah kuhancurkan rantai Kyuubi, maka akan kugunakan gerbangnya untuk mengirim Rubah Iblis ini ke tempat Organisasiku. Tentu saja, dalam waktu singkat. Heh heh."

Kedua mata Raphtalia melebar. "Maksudmu, itu adalah gerbang teleportasi?!"

"Tepat sekali! Jika kau terlambat sedikit saja mencegahku menghancurkan rantai emas ini, maka semuanya selesai. Kyuubi akan langsung lenyap dari tempat ini."

Raphtalia menelan ludahnya dengan susah payah. Ini seperti pertaruhan saja.

"Sejak awal sudah kukatakan, kalian hanya berjuang untuk hal yang sia-sia. Kau tidak punya kekuatan untuk mengalahkanku, jadi menyerahlah!"

Ia tak akan membiarkan kata-kata musuhnya mengganggu pikirannya, jadi Raphtalia berusaha mengabaikannya. Ia jelas tahu betul, sampai mana batas kekuatan dirinya sendiri. Raphtalia akan berusaha mengeluarkan segala kemampuannya!

Swuuush!

Ia maju dan melakukan tebasan ganda. Burks tetap memilih untuk bertahan. Dia menahan segala serangan Raphtalia menggunakan kelima cakarnya itu.

Raphtalia melakukan gerakan menusuk menggunakan iron sword-nya, tetapi Burks sanggup menghindarinya tanpa susah payah. Gadis itu menarik tubuhnya mundur, lalu dengan tenaga otot di kakinya, ia melesatkan kembali tubuhnya ke depan. Kali ini ia berniat memberikan serangan combo empat kali.

Slash!

Pertama adalah tebasan lurus dari atas ke bawah, diikuti sayatan dari kanan, lalu dari kiri. Raphtalia mengakhiri itu dengan memutar tubuhnya ke arah yang berlawanan putaran jarum jam, dan menebas secara diagonal.

—Tetapi, itu semua berhasil ditahan lawannya.

'Seberapa keras kuku-kukunya itu sebenarnya, sih?' Itulah yang dipikirkan Raphtalia. Setelah semua serangan yang ia berikan, tak ada tanda-tanda sama sekali jika cakar singa milik Burks seperti akan patah! Itu membuatnya frustasi.

"Kau sudah selesai?" tanya pria itu tidak minat.

Raphtalia merasa terhina karena Burks bahkan tidak serius melawannya. Ia mengeratkan pegangan kedua tangannya pada pedangnya. "Jangan bercanda!"

Energi sihir meluap keluar dari tubuh si gadis. Ia mulai merapalkan mantra sihirnya. Setelah selesai, dia meneriakkan nama sihirnya, "[Hide Mirage]!"

Raphtalia memiliki dua elemen sihir, yaitu cahaya dan kegelapan. Untuk elemen kegelapannya, itu lebih terspesialisasi dalam penggunaan ilusi.

Seperti sekarang, dengan menggunakan [Hide Mirage], maka Raphtalia akan terlihat tembus pandang di mata lawannya. Ia bisa mendekati Burks dengan mudah—

Hanya saja … si Demi-Human lupa jika sihir ilusi tak berguna melawan pria botak itu.

"Dasar bodoh."

Burks menggumamkan itu. Dia dengan gerakan cepat berusaha meraih sesuatu di sampingnya menggunakan tangan kiri.

"Khhh!"

Tak lama kemudian, terlihatlah tubuh Raphtalia melayang di atas kiri Burks, tak bergerak sedikit pun di atas tanah. Bahkan tangannya tak sanggup mengayun ke bawah, tenaganya mulai berkurang karena dirinya kesusahan untuk bernapas.

Tepat sekali, Burks berhasil mencekiknya sebelum Raphtalia selesai menyerangnya.

Dia menambah kekuatan cengkraman jari-jarinya. Tubuh Raphtalia semakin lemas karena kekurangan pasokan oksigen. Pedangnya bahkan terjatuh dari genggamannya. Burks segera menurunkannya hingga wajah gadis itu sejajar dengan dirinya.

"Kau lemah, seharusnya kau menyadari itu. Siang tadi saat di desa, sudah kukatakan padamu untuk jangan ikut campur lebih jauh lagi mengenai masalah di sini. Kau menyia-nyiakan nyawamu sendiri."

Dengan tanpa perasaan, Burks mendorong tubuh Raphtalia hingga membentur akar raksasa dari Pohon Dewa di belakangnya. Itu sakit sekali! Punggungnya terasa akan remuk! Raphtalia mungkin akan berteriak kencang kalau saja lehernya tidak dalam keadaan dicekik jari-jari milik pria di depannya.

Burks melepaskan cekikannya. Ia mengumpulkan energi sihirnya ke kepalan tangan kirinya. Setelah merasa cukup, pria itu memukul tepat ke arah perut Raphtalia.

Akibat masih syok dari perbuatan Burks tadi, Raphtalia bahkan tidak bisa berpikir untuk menghindari serangan yang akan datang.

Buaaagh!

Pukulan itu dengan mulus mengenainya, memaksa punggung rapuh si gadis untuk berbenturan lagi dengan akar raksasa di belakangnya. Cekungan besar tercipta disana.

Tak ada teriakan. Otaknya bahkan tidak membiarkan pikiran itu untuk terlintas, keterkejutan telah membuat fungsi di seluruh tubuh Raphtalia berhenti untuk sesaat.

Kaki gadis itu bergetar. Lututnya jatuh karena tak sanggup lagi berdiri, dia pun terduduk dengan kedua mata terbelalak.

"Uhuk!" Seteguk darah baru saja dia muntahkan.

Ia tak menyangka jika perbedaan kekuatannya dengan Burks akan terpisahkan jurang sejauh ini. Bahkan, Naruto saja bisa berjuang lebih lama ketimbang dirinya! Tapi … kenapa ia tak bisa berdiri cukup lama menghadapi pria ini?!

Burks mendengus. "Diamlah disana. Kuberikan tempat duduk terbaik untukmu menyaksikan kebangkitan Kyuubi."

Burks berjalan mendekati tubuh besar Kyuubi. Matanya menatap panjangnya [Chain of Heaven] di depannya. Dengan Blood Eclipse telah mencapai gerhana sempurna, maka seharusnya sinarnya itu akan melemahkan segala bentuk sosok maupun benda yang memiliki atribut [Divine].

Burks mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, energi sihir mulai terkumpul disana. Setelah itu, ia pun menghantamkan cakarnya pada rantai emas yang membelenggu Kyuubi.

.

..

o0o—

..

.

"Astaga, apa yang terjadi dengan tempat ini?"

Hatake Kakashi baru saja tiba di depan gerbang desa Cait Shelter. Ia begitu terkejut melihat keadaan desa ini bisa dikatakan cukup berantakan. Beberapa rumah tampak habis terbakar. Selain itu di pusat desa ada sebuah lubang besar dengan bekas warna hitam di tanahnya, seolah habis dijatuhi bom.

—Setelah sebelumnya dirinya dipanggil Tsunade dan diceritakan mengenai berbagai hal, ia langsung saja bergegas pergi ke tempat ini, sesuai intruksi yang ia terima. Kakashi hanya butuh waktu satu jam untuk sampai ke Soul Forest karena ia menaiki kereta sihir. Dia berhenti menumpang di tengah perjalanan, dan keluar dengan cara melompat begitu saja dari kereta yang melaju cepat. Nekat? Mau bagaimana lagi, hal itu lakukan karena keadaannya sangat mendesak. Lagipula, keretanya tak akan berhenti sebelum mencapai stasiun.

Kakashi kini berjalan memasuki area desa. Banyak beberapa warga di sini yang terluka, Guru Akademi itu cukup prihatin melihatnya. Ia mendekati seorang kakek tua yang seluruh wajahnya tertutupi rambut putih.

"Roubaul-sama!"

"Oh, Kakashi, kah? Ada keperluan apa kau kesini?"

Tidak begitu mengherankan, keduanya memang sudah saling kenal. Ketika Naruto masih kecil dan berkunjung untuk bermain ke desa ini, Kakashi lah yang sering mengantar dan menjemputnya karena itu perintah dari guru sekaligus ayah Naruto, yaitu Namikaze Minato.

"Tsunade-sama mengirim saya kemari karena Yasaka-sama merasakan ada yang tidak beres pada segel Kyuubi di Pohon Dewa. Jadi, saya berniat meminta Anda membuka Sihir Ilusi disana agar saya bisa pergi mengeceknya."

Roubaul mendongak, melihat gerhana bulan di langit. Warna merah sudah sepenuhnya menutupi Sang Ratu Malam. Blood Eclipse telah berada di ketinggian sempurna. "Nebula. Kau tidak butuh itu, lagipula sihir yang kupasang sudah rusak."

"Eh?"

Kakashi tidak tahu harus berkata apa sekarang.

"Sepertinya kekhawatiran Yasaka-sama benar. Tadi siang ada sekelompok orang yang datang ke sini berbuat onar dan menculik Wendy. Kau lihat saja bagaimana keadaan desa ini, Kakashi, itu sudah menjadi buktinya. Mereka memang berniat melepaskan Kyuubi dari segelnya—Nebula."

Guru bermasker itu diam tanpa bisa membalasnya. Keadaannya ternyata jauh berbahaya daripada yang ia kira. "Oh ya, di mana Naruto dan temannya itu … kalau tidak salah, namanya … Raphtalia? Saya ke sini juga berniat membawa dua murid itu kembali ke Akademi Konoha atas perintah Tsunade-sama."

"Ah, mereka sangat keras kepala. Aku sudah melarangnya, tetapi mereka tetap saja pergi menyusul Grandeeney untuk menyelamatkan Wendy," kata sang tetua desa, kemudian meneguk sake di botolnya.

"Maksud Anda, mereka pergi ke area Pohon Dewa, tempat Kyuubi disegel?!"

"Benar."

Kakashi membelalakkan kedua matanya. Ini sangat mengejutkannya.

Kalau ia ingat, Tsunade cuma memintanya untuk mengecek segel Kyuubi dan membawa pulang kedua murid mereka. Dia sudah mendapat jawaban dari Roubaul bahwa memang ada sekelompok orang yang ingin melepaskan Kyuubi, jadi seharusnya Kakashi segera kembali dan melaporkan ini pada atasannya agar mendapat intruksi lebih lanjut. Tapi, jika ia pulang sekarang, bagaimana dengan Naruto dan Raphtalia? Mana mungkin Kakashi meninggalkan mereka begitu saja.

"Aku bertanya-tanya kenapa Minato-sama belum juga sampai ke sini? Padahal sudah cukup lama Naruto mengirimkan pesannya lewat si Katak Merah Kecil itu." Tetua itu memasang ekspresi berpikir cukup keras.

Kakashi terbangun dari lamunannya karena kata-kata Roubaul. Dia rasa, yang dimaksud Roubaul adalah Gamakichi. Kakashi sudah lama tahu kalau Naruto mempunyai hewan pemanggilannya sendiri. Naruto sudah mengambil keputusan yang bagus dengan memanggil Ayahnya.

"Ah mengenai itu, Tsunade-sama mengatakan kalau Minato-sama sedang berada di kerajaan tetangga sejak minggu kemarin. Sepertinya beliau baru bisa kembali satu bulan lagi, karena urusannya disana sangat penting," jawab Kakashi.

Kakek itu terkejut, bahkan membuat sake di mulutnya tumpah secara menjijikkan. Kakashi menatapnya dengan mata yang berkedut-kedut.

"Bahkan di saat genting begini?! Tidak bisa diharapkan!"

Jika Naruto ada di sini, mungkin dia akan mengatakan seperti;

Telan dulu minumanmu itu sebelum berbicara, Kakek!

… atau semacamnya.

Selain itu, Kakashi ingin sekali mengatakan padanya bahwa Roubaul sudah mengatakan sesuatu yang tidak sopan tentang pemimpin Kota Renais …, namun ia tidak jadi melakukannya. Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.

"Jadi, bagaimana denganmu? Kau akan pergi?"

Kakashi hanya bergeming mendengar pertanyaan Roubaul.

Swuuush!

"…?!"

Tiba-tiba saja, Roubaul dan Kakashi merasakan aura kuat melewati tubuh mereka. Tidak hanya mereka, warga desa yang lain juga mengalaminya. Sensasi tidak mengenakkan tadi membuat bulu kuduk mereka berdiri. Itu adalah suatu perasaan yang dinamakan ketakutan.

Keringat dingin mengalir turun ke dagunya. Dengan suara bergetar, Roubaul berkata, "Ga-wat sekali. Se-Sepertinya, Grandeeney dan yang lain … gagal melindungi segelnya."

Kakashi bahkan sampai lupa bernapas sesaat karena masih terkejut dengan aura jahat yang ia rasakan.

"Nebula. Jika kau menunggu datangnya bantuan, maka sepertinya itu sudah terlambat, Kakashi. Waktunya sangat sempit. Jika kelompok penjahat itu tidak dihentikan segera, maka sudah dipastikan Kyuubi akan mereka dapatkan. Entah akan ada orang yang sanggup menyegel Kyuubi lagi atau tidak, aku tidak bisa menjaminnya." Wajah tuanya sangat serius kala dia mengatakan untaian kalimat tadi.

Seolah perkataan Kakek itu mengetuk isi kepalanya, Kakashi akhirnya memutuskan, "Anda benar. Setidaknya, saya harus memastikan bahwa murid-murid saya selamat tanpa mengalami cedera yang serius," ujar si Guru Bermasker. Napasnya tampak berat.

Roubaul tersenyum kecil mendengarnya. Dia cukup percaya dengan kemampuan pria berambut silver itu.

Kakashi pun pamit kepada Roubaul untuk pergi menyusul Grandeeney dan yang lain. Di bawah sinar bulan yang berwarna merah, Penyihir dari Akademi Konoha itu berlari sangat cepat menuju lokasi [Pohon Dewa]!

.

.

The Genius Magic Student—

.

.

Naruto membuka matanya dengan perlahan. "Engh! Kepalaku sakit sekali."

"Ah, akhirnya Anda siuman juga, Master!"

Tiba-tiba sebuah suara terdengar di dalam kepalanya. Itu pasti Ophis yang berbicara lewat telepati.

Ia baru saja akan bangkit duduk jika Naruto tak merasakan ada sesuatu yang membebani dadanya. Ternyata itu adalah Wendy. Gadis itu tertidur, mungkin?

Naruto duduk dan berusaha sebisa mungkin agar tidak membangunkannya. Ia membiarkan kepala Wendy berada di pangkuannya.

"Maaf, aku sedikit lengah sebelumnya. Apa kau terluka, Ophis?" tanyanya cemas. Ophis dalam bentuk Grimoire menggantung di lehernya, dan Burks memukulnya tepat di dadanya, jadi pastilah Ophis juga kena serangan gila tadi.

"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja, malahan serangan seperti itu tidaklah seberapa bagiku. Jika saja aku sedikit terlambat menahan serangan tadi, mungkin beberapa tulang Anda sudah patah, Master."

Seperti yang diharapkan dari Buku Sihir ciptaan sang King of Magic, Solomon, Ophis tidak bisa diremehkan meski dia masih dalam bentuknya yang sekarang.

Naruto tertawa tidak nyaman. Bahkan Ophis masih bisa berbicara dengan nada biasa begitu, sementara kalimatnya berisikan sesuatu yang mengerikan?!

"Oh iya, sudah berapa lama sejak aku kena serangan tadi?"

"Sangat lama, Anda mungkin pingsan sekitar 10 menit lebih? Pokoknya, nanti Anda harus berterima kasih pada gadis berambut biru itu, dia lah yang sepanjang waktu berusaha mengobati luka Anda menggunakan sihirnya. Dia baru saja tidur 3 menit yang lalu."

Naruto tersenyum kecil. Ia mengelus rambut Wendy. "Dia terlalu memaksakan dirinya. Dia padahal tahu betul, menggunakan Sihir Penyembuhan milik Naga sangatlah menguras banyak mana-nya."

Itulah alasannya Wendy sangat kelelahan. Lebih baik ia membiarkan gadis itu untuk tetap istirahat. Naruto pun mengangkat tubuh Wendy ke dekat pohon di belakangnya.

"Ah …, Bibi Grandeeney?"

Naruto baru sadar kalau tubuh Grandeeney ada disana. Wanita itu masih pingsan, dan sekarang tengah bersandar pada pohon di belakangnya. Apa saja yang sudah terjadi sejak aku pingsan? Begitulah kira-kira yang kini memenuhi isi kepala pemuda itu.

"Kucing dari ras Exceed itulah yang membawanya ke tempat ini setelah sulur hitam yang membelenggu Naga wanita itu lepas. Energi sihirnya belum pulih sepenuhnya, Master, jadi dia tidak akan bangun untuk sementara waktu," kata Ophis, karena dia menyadari kebingungan Tuannya.

Naruto mengangguk mengerti. Ia beranjak meninggalkan mereka, kemudian lanjut bertanya pada Ophis, "Dan bagaimana keadaan sekarang?"

Ophis terdiam sesaat. Dia tidak yakin untuk memberitahu kelanjutannya kepada Naruto. Tapi, jika ia hanya memberi informasi setengah-setengah pada Tuannya, ia merasa itu adalah perbuatan yang tidak benar.

"Ah, sebelum itu, ada satu hal yang mengganggu pikiranku sejak tadi, Master."

"Tentang apa?"

"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan gelang Anda. Setelah Wendy selesai mengobati luka Anda, batu sapphire di gelang itu terus berkedip-kedip. Itu tidak akan … meledak, bukan?" tanya Ophis khawatir.

Naruto melirik gelang kuno di pergelangan tangan kanannya. Yang dikatakan Ophis benar. Butuh beberapa saat sebelum Naruto akhirnya paham dengan kejadian itu. Ia tersenyum karena mengingat kejadian beberapa tahun silam.

"Sepertinya, hari ini adalah waktunya, ya? Itu membuatku merasa sedikit lebih aman. Sudah lama sekali berlalu sejak itu …."

Ophis tidak mengerti kata-kata ambigu Tuannya.

"Tenang saja, Ophis. Tidak lama lagi, kau akan mengerti setelah dia bangun," jawabnya santai. Naruto melanjutkan, "Lalu, bagaimana dengan pertanyaanku sebelumnya?"

Naruto berjalan mendekati Pohon Dewa sembari menunggu perkataan Ophis. Tempat ini sungguh kacau.

"Mengenai itu, kondisi sekarang … sangat buruk. Segel Kyuubi rusak sepenuhnya, dan monster itu berhasil bangkit."

Naruto memasang ekspresi yang sulit diartikan ketika menatap Pohon Dewa di depannya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Jadi … kita gagal, ya?"

Di bawah Pohon Dewa hanya tersisa pecahan kristal dan rantai emas, yang pemuda itu yakini merupakan dua segel milik si Monster Rubah. Tak ada tanda-tanda Kyuubi disana. Lalu, Naruto dapat melihat gerbang hitam raksasa yang dipanggil Burks masih berdiri di tempat awalnya. Selain itu, ia tak menemukan keberadaan musuhnya. Sepertinya, Burks sudah kabur membawa Kyuubi kembali ke markas organisasinya, yang entah apa namanya—karena dia tidak pernah menyebutkannya.

Ophis kembali bersuara karena Naruto telah salah mengambil kesimpulan. "Bukan begitu, Master. Kyuubi memang bangkit, tapi orang bernama Burks itu belum sepenuhnya berhasil membawanya keluar dari area Soul Forest ini."

"Apa maksudmu, Ophis?"

"Coba Anda lihat ke atas sana, di depan gerbang yang terbuka itu. Ada sesuatu yang bersinar berwarna oranye, Anda melihatnya?"

Naruto mengikuti arahan Ophis. Memang benar, ada semacam bola berukuran satu meter melayang disana, yang memiliki ciri sama seperti yang dikatakan sang Buku Ketidakbatasan. Naruto bahkan tak menyadari keberadaan benda itu sampai saat ini!

"Itulah Kyuubi."

Naruto melebarkan kedua matanya. Itu …? Benda seperti bola itu … adalah Kyuubi?! Ophis pasti bercanda!

Naruto mendongak dengan mulut terbuka lebar. Ia masih belum bisa memercayai apa yang dilihatnya.

"Sejujurnya, aku tidak begitu memahaminya, tapi dari apa yang kulihat sejak kejadian dimana segel rantai pada Kyuubi dihancurkan … ada banyak sulur hitam mulai keluar dari gerbang ini, dan kemudian mengikatnya."

Ophis pun mulai menjelaskan secara rinci kepada Tuannya.

Pada awalnya, Kyuubi juga memberontak karena tak ingin ditangkap lagi setelah hari kebangkitannya. Namun, rubah itu tak berdaya, ia tidak sanggup melawannya. Kyuubi mulai tertarik ke dalam gerbang tadi, dan kian menyusut hingga seukuran bola seperti sekarang. Di saat yang bersamaan dengan itu, sulur yang membelenggu Grandeeney lepas. Selanjutnya, semuanya berakhir persis seperti yang diceritakan Ophis sebelumnya.

"Jadi, Kyuubi diserap, sama seperti ketika Burks mengalahkan Bibi Grandeeney?" tanya Naruto setelah ia mengendalikan keterkejutannya.

"Mungkin," balas Ophis datar.

Ophis memang menyaksikan ketika Burks dan Raphtalia berbincang mengenai banyak hal. Hanya saja, ia tidak tahu apa itu karena ia tidak bisa mendengarnya dikarenakan jarak mereka sangat berjauhan.

"Sekarang, apa yang akan Anda lakukan, Master?"

Naruto bergeming. Ia tidak tahu harus berbuat apa di saat seperti ini. Lagipula, sudah lewat cukup lama sejak Kyuubi diserap gerbang itu, ini berarti mereka kalah, 'kan?

"Ngomong-ngomong, dimana Raphtalia?"

Sejak tadi, Naruto ingin sekali menanyakan itu, namun tidak menemukan waktu yang pas. Ia tak melihat keberadaan Raphtalia, Carla juga menghilang.

"Kucing Exceed itu pergi membawa teman Anda terbang masuk ke dalam hutan, dan Burks mengejar mereka berdua. Aku tidak tahu dimana mereka sekarang."

Ketika pikiran Naruto dipenuhi oleh berbagai hal, ia dikagetkan dengan adanya sesuatu yang jatuh ke arah dirinya. Dia menyipitkan matanya. Setelah sesuatu itu terlihat cukup jelas di matanya, ia pun terkejut,

"Raphtalia …?!"

Naruto tidak salah lihat. Sesuatu yang jatuh itu … adalah teman akademinya!

Dia jatuh cukup cepat! Naruto berusaha sebisa mungkin untuk menangkap tubuh si Demi-Human atau dia akan terbunuh dengan tubuh hancur tercerai-berai. Pemuda itu pun melompat tinggi, dan dengan momentum yang pas untuk mengurangi dampak tabrakannya, ia mendekap tubuh Raphtalia dengan gaya bridal style.

Grep!

Tap!

"Raphtalia …?! Apa yang sudah terjadi?! Tubuhmu … semua penuh dengan luka, astaga!"

Naruto benar-benar panik. Luka sayatan dan tusukan menghiasi pakaian Raphtalia. Debu dan juga darah mengotori wajahnya, begitu pula dengan seluruh tubuhnya.

Merasa mendengar suara yang dikenalinya, Raphtalia pun membuka matanya dengan pelan. Di depan bidang pandangnya, ada wajah tan berhiaskan kumis kucing.

"Hah, agh! Na-Naruto-kun, tolong cepat hancurkan gerbang itu!" Dia berbicara dengan tergesa-gesa. Bahkan, tangannya ikut menarik ujung kerah dari kaos hitam Naruto.

"Whoa, whoa, tanangkan dirimu, Raphtalia! Coba bicaralah dengan pelan."

Apa dia tidak memikirkan luka di sekujur tubuhnya itu? Raphtalia sangat ceroboh.

Tapi, Raphtalia tidak memedulikannya. Ia tetap bersikeras melanjutkan perkataannya. "Sihir apapun itu yang kamu kuasai …, apa saja tidak masalah! Ki-Kita masih punya kesempatan agar orang-orang itu tidak … mendapatkan Kyuubi! Argh."

Naruto memasang ekspresi bingung. "Huh? Aku tidak mengerti, bukankah kita sudah terlambat?"

Raphtalia dengan kesusahan menggeleng. "Belum. Itu … adalah gerbang teleportasi, dia berencana mengirim roh Kyuubi ke markas mereka yang memiliki alat penyegel lebih bagus. Itulah yang … aku dengar sebelumnya."

Gerbang teleportasi? Roh? Apa maksudnya ini? Naruto tidak paham sama sekali.

"Tidak ada waktu menjelaskan semuanya. Naruto-kun, cepat … lah!" Napas Raphtalia menjadi berat. Ia kehabisan tenaga untuk berbicara. Yang bisa dia lakukan sekarang, adalah memberikan tatapan penuh harap kepada Namikaze muda di depannya.

Naruto terdiam sesaat, kemudian mengangguk. "Baiklah. Aku hanya harus menghancurkannya, 'kan?"

Raphtalia "mengiyakan" dengan sebuah isyarat.

Wuuussh! Tap!

"Jadi … kau sudah bangun, huh? Kelihatannya, lukamu sudah sembuh berkat si Penyihir Langit itu."

Suara barusan menginterupsi pembicaraan Naruto dan Raphtalia. Keduanya seketika saja mendongak. Di atas gerbang setinggi lima meter di depannya, berdiri Burks dengan sayap seperti kelelawar di punggungnya. Lengan kanannya masih seperti tubuh singa. Seringaian itu tidak pernah lepas dari wajah menyebalkannya.

"Kau yang melakukan ini?!" tanya Naruto geram. Ia tak akan memaafkan Burks karena sudah berani melukai Raphtalia.

"Ya. Hanya bermain kejar-kejaran sebentar untuk mengisi waktu luang." Setelahnya, pria itu melemparkan sesuatu ke bawah.

Itu adalah … Carla?!

Naruto meletakkan tubuh Raphtalia ke tanah. Kemudian, dia sedikit berlari ke depan dan menangkap Carla dengan lembut. Tubuh kucing putih itu juga memiliki banyak luka.

Sebelah matanya sedikit terbuka. "Ma-Maafkan aku, Naruto-san, karena … aku ti-dak bisa melindungi … Ra-Raphtalia-san." Dia berkata dengan susah payah.

Naruto menggeleng. "Tidak apa-apa, kau sudah berusaha, Carla. Terima kasih. Sekarang, kau istirahatlah."

Tak ada balasan yang Naruto dapat, itu karena Carla sudah pingsan lebih dulu. Dia kembali mengambil langkah mendekati tempat Raphtalia.

Kreeeeek ….

Gerbang hitam itu tiba-tiba tertutup. Bola oranye, yang dikatakan Ophis … merupakan Kyuubi, juga tidak ada. Sepertinya itu sudah terserap sepenuhnya ke dalam sana.

"Yah, akhirnya selesai, sekarang tinggal pengirimannya." Burks melompat turun, berdiri di depan gerbang. Sayap itu belum hilang dari punggungnya.

Sementara itu, sesuatu seperti lingkaran di atas gerbang mulai bercahaya merah. Itu adalah tanda penghitungan mundur sebelum [Sihir Ruang-Waktu] di dalam sana bekerja. Kalau Burks tidak salah ingat, temannya mengatakan jika ini membutuhkan waktu sekitar dua menit.

—Sejujurnya, kemunculan Sky Dragon itu di luar perhitungan organisasinya. Menyerap mana Grandeeney memerlukan banyak tenaga. Jadi, itu membuat penyerapan Kyuubi sedikit lebih lama dari yang seharusnya, karena energi di gerbang ini sudah lebih dulu digunakan. Tentu saja mereka tak berpikir untuk menyiapkan energi cadangan.

Kalau ia tak mengambil tindakan seperti tadi, mungkin penyerapan Kyuubi harusnya berakhir kurang dari lima menit. Burks akui itu adalah kesalahannya. Bahkan tadi dia sempat mendapat panggilan sekaligus teguran dari anggotanya yang lain karena terlalu lama menyelesaikan tugas mudah ini.

Naruto sendiri hanya bergeming melihat itu. Sepertinya yang dikatakan Raphtalia barusan memang benar, Burks berniat menggunakan sihir teleportasi di dalam gerbang raksasa itu.

Dia menoleh ke belakang karena merasakan ujung celana panjangnya ditarik-tarik. Ternyata yang melakukannya adalah si Demi-Human.

"Jangan, Raphtalia, kau harus tetap tidur atau lukamu akan terbuka!" Dia berjongkok di depan Raphtalia.

Tapi gadis itu tetap bersikeras untuk duduk. Dan benar saja, pakaian bagian perutnya menjadi basah, luka disana pasti terbuka lagi.

"Kita tidak punya … waktu lagi, cepatlah hancurk—! Uhuk!"

Naruto menatapnya khawatir karena Raphtalia memuntahkan banyak darah. Dia pun menyerahkan Carla ke gendongan Raphtalia, lalu berucap, "Ya, aku akan mengurus sisanya, percayalah. Sebaiknya kau jangan terlalu banyak bergerak lagi."

Dia berdiri, memutar tubuhnya untuk menghadap Burks.

Sebelumnya, Burks juga mendengar percakapan singkat dua remaja itu. Ia merasa geli sekarang. "Heh heh heh! Kau ingin menghancurkannya? Percuma, percuma saja. Kau sebelumnya lihat sendiri, 'kan? Benda ini masih berdiri meski mendapat pukulan super si wanita Naga itu. Memangnya, kau bisa apa, Bocah?"

"Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya, bukan?" ujarnya.

Burks menatapnya tidak suka. "Seolah aku hanya akan diam, dan membiarkanmu bertindak semaumu," katanya sinis.

Blaaar!

Burks kembali mengobarkan energi sihirnya. Angin berembus kencang menjauhi tubuhnya.

"Yah, kau tahu, Bocah? Beberapa menit yang lalu, Pemimpinku mengirim pesan agar aku menghapus segala saksi mata di sini. Jadi, rencanaku untuk membawamu ke Lab Penelitianku … sepertinya akan berubah."

"…"

Naruto tidak membalas perkataannya. Tidak perlu mendengar kelanjutannya, ia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Burks.

Begitulah alasannya, ia akhirnya mengerti kenapa sebelumnya Burks sampai mau repot-repot mengejar Raphtalia dan Carla ke dalam hutan. Pria itu sepertinya berpikir akan mudah membunuh Naruto, Grandeeney, dan Wendy, yang tidak sedang terjaga. Jadi, Burks akan menyingkirkan mereka bertiga terakhir kali, setelah ia menghabisi Raphtalia dan Carla.

Burks tidak ingin membuang waktunya di sini, dan membuat mereka menunggunya lebih lama lagi. Bisa-bisa nyawanya akan melayang, karena beberapa teman di organisasinya itu sangat tidak sabaran. Lebih baik, ia menyingkirkan bocah-bocah ini dalam sekejap untuk memangkas waktu.

Dia mengangkat kedua tangannya. Mulutnya bergerak, Burks mulai merapalkan mantra sihirnya,

"[Nyala Api akan Segera Dilepaskan! Sekarang, dari Kedalaman Dunia Bawah, Naiklah Menuju Dataran Manusia. Ayo, Api Merah, Neraka yang Kejam. Bakar, Bakar, Bakar Mereka, Ratakan Semua hingga Tidak Ada yang Tersisa!]"

Itu … mantra yang sangat panjang.

Setelahnya, tercipta lingkaran sihir raksasa berwarna merah di atas kepala pria itu. Dari dalamnya, keluarlah sebuah cincin besar yang diselimuti api.

Raphtalia bahkan sampai membelalakkan matanya. "Sihir dengan e-empat baris ma-mantra …?" ujarnya terbata. Itu berarti, sihir ini lebih kuat … dibanding dengan sihir yang dikeluarkan Burks tadi siang saat di desa!

"Naruto-kun! Kamu harus pergi, cepatlah menghindar! Tinggalkan saja aku!" Raphtalia tidak begitu yakin bisa bergerak, dan ia tak mau merepotkan Naruto lebih dari ini, karena itulah ia berkata demikian. Seluruh tubuhnya sangat kesakitan.

"—Aku tidak akan meninggalkanmu, Raphtalia."

Dia berdiri dengan punggung tegak, membelakanginya, membuat si gadis tak tahu ekspresi apa yang sedang dipakai Naruto. Raphtalia tidak mengerti, apa yang sebenarnya dipikirkan laki-laki itu. 'Kamu harusnya memprioritaskan keselamatan hidupmu sendiri!' teriak batin Raphtalia sangat sedih.

Sementara itu. Ophis yang berada di dunianya, menggigit ujung ibu jarinya penuh dengan rasa kekhawatiran. Ia tahu betul kalau Tuannya, Namikaze Naruto, mana mungkin bisa menahan sihir ini! Terlebih lagi, rasa khawatir Ophis semakin dipertambah karena menyadari batu sapphire di gelang Naruto berkedip-kedip semakin cepat.

'Itu tidak akan meledak, 'kan? Itu tidak akan meledak, 'kan?'

Ophis terus saja mengulangi pertanyaan itu di dalam kepalanya. Meski Tuannya sudah berkata kalau Ophis tidak perlu memikirkannya, tetap saja ia masih cemas. Mau bagaimana lagi?! Ia merasakan jika energi dari gelang ituterus melonjak naik sejak beberapa menit yang lalu, dan sampai sekarang pun terus bertambah!

"Heh, meleleh lah kalian sampai tak ada satu pun tulang kalian yang tersisa!"

Lamunan Ophis pecah karena mendengar suara Burks di luar sana. Ia melihat layar mengambang di depannya.

Pria botak itu menggerakkan lengan kanannya—yang masih berwujud tubuh singa—turun, menuju ketiga makhluk di depannya.

"[Hellfire Ray]!"

Cincin api di atasnya mulai berputar, semakin cepat di setiap detiknya berlalu. Kemudian, cincin itu menembakkan semacam sinar putih panas yang siap membakar apa saja yang dilaluinya.

Raphtalia menutup matanya, putus asa. Kedua tangannya memeluk erat tubuh kecil Carla. Kucing itu masih pingsan.

Inilah akhir mereka ….

.

..

o0o—

..

.

Sraaaassshh!

Sihir yang dikeluarkan Burks benar-benar membakar semuanya, bahkan tanah di sepanjang jalurnya terlihat memerah. Uap-uap panas memenuhi area di depan Pohon Dewa.

Suara seperti meleleh menjadi alunan musik yang memenuhi gendang telinga Burks. Ia tak akan berharap ada sesuatu yang masih tersisa dari bocah-bocah itu. Ia berbalik, mendongak untuk melihat waktu yang tersisa sebelum sihir teleportasinya aktif.

"60 detik, ya? Masih ada waktu." Ia menoleh ke tempat Grandeeney dan Wendy terbaring.

Perintah adalah perintah, jika pemimpinnya ingin agar semua saksi mata rencana mereka ini dibunuh, maka tidak ada bantahan yang bisa Burks katakan. Dan sekarang, giliran wanita Naga itu dan si Penyihir Langit untuk mati.

Ia merasa bodoh. Dia menghabiskan banyak mana hanya untuk meladeni bocah-bocah itu. Burks menertawai dirinya sendiri.

"…?!"

Ketika ia baru berjalan belasan langkah melewati sisi gerbang besar itu, kedua kaki Burks terhenti. Ia berbalik, menatap tempat yang ia kira sebagai makam Naruto dan temannya. Ekspresinya menunjukkan ketidakpercayaan. Kenapa …? Kenapa dia masih bisa merasakan tekanan energi sihir milik bocah-bocah itu?! Mereka seharusnya mati!

"Maaf, sepertinya aku sudah membuatmu menunggu sangat lama, Senpai."

Itu tadi suara perempuan, tetapi milik siapa? Jelas sekali Burks belum pernah mendengar suara ini! Itu bukan suara si Demi-Human, maupun si kucing Exceed! Grandeeney dan Wendy pun masih belum bangun, jadi tidak mungkin mereka berdua yang barusan berbicara!

Burks jelas sekali sangat kebingungan. Dan rasa bingungnya itu semakin dipertambah karena ia melihat Naruto dan temannya, ternyata … baik-baik saja. Tak ada luka bakar di tubuh mereka!

"Mustahil," gumam Burks .

Sihir tingkat tingginya … berhasil ditahan?! Burks tidak bisa memercayai apa yang dilihatnya saat ini!

Raphtalia yang tidak kunjung merasakan sakit, pun kini membuka matanya secara pelan. Ia kebingungan kenapa serangan sihir Burks tidak mengenainya, padahal tanah di kedua sisinya habis terbakar. Lalu, tatkala dirinya menoleh pada Naruto, Raphtalia terkejut dengan sesuatu yang ada di depan mereka.

"Dinding apa itu …?" Kalimat itu meluncur begitu saja keluar dari bibirnya.

Ada semacam dinding berwarna putih setinggi tiga meter, yang mana itu terdiri dari tumpukan batu bata yang terlihat hampir tembus pandang. Itu sepertinya terbentuk dari konsentrasi mana yang sangat bagus. Dinding itulah yang melindungi mereka, bahkan kalau diperhatikan lagi … di sepanjang jalur yang ada di belakang dinding ini, serangan Burks tidak ada sedikitpun yang berhasil lewat.

'Tapi, siapa yang membuatnya?' lanjut Raphtalia dalam batinnya.

"—Tidak, kau bangun di saat yang tepat." Naruto berkata seperti dengan pose lengan kanannya terangkat lurus ke depan. Jari-jemarinya pun terbuka lebar.

Naruto mengatakan itu tiba-tiba, membuat Raphtalia memiringkan kepalanya.

"Begitu, ya? Syukurlah, kamu juga terlihat sehat."

Lagi-lagi suara seperti perempuan itu muncul, suara yang didengar Burks sebelumnya.

Kali ini, Raphtalia juga menyadarinya. Apa jangan-jangan suara inilah yang sedang diajak Naruto berbincang? Tapi itu aneh, tak ada lagi kehadiran sosok selain mereka yang ada di sini.

Naruto menurunkan lengan kanannya. Tak lama kemudian, dinding berwarna putih tersebut, kini menghilang. "Maaf jika ini merepotkanmu, padahal kau baru saja bangun setelah sekian lama. Tapi, bisakah kau menolongku?"

"Ya, tidak apa-apa. Justru, aku senang jika aku masih berguna untukmu."

"Apa yang kau bicarakan? Tentu saja, lah." Naruto kemudian tertawa pelan.

Ternyata dugaan Raphtalia benar. Suara perempuan itu memang sedang berbincang dengan Naruto! Meski ia menoleh ke segalah arah, Raphtalia masih belum bisa melihat sosok yang diajak bicara oleh Namikaze itu.

"Jadi, apa yang kita lakukan di sini?" tanya suara perempuan. Itu lebih terdengar seperti milik seorang remaja. Jadi, sudah pasti bukanlah Ophis yang sedang berbicara, karena suara Ophis lebih mirip seperti suara anak kecil.

—Benar, suara itu berasal dari gelang kuno Naruto, yaitu Mystic Code-nya!

Lalu bagaimana dengan Ophis? Dia bergeming di dunianya, tak ingin menginterupsi Tuannya. Walau Naruto memiliki banyak waktu sejak tadi, tetapi anehnya ia tidak membicarakannya lebih dulu dengan buku Grimoire-nya. Ophis hanya bisa percaya, bahwa Tuannya ini memiliki rencananya sendiri.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Langsung saja …" Naruto melihat ke atas bagian gerbang. Tersisa 40 detik sebelum sihir teleportasi di dalamnya aktif, "… kita akan menghancurkan benda besar itu."

"Dimengerti!"

Setelah mendengar jawabannya, Naruto pun mengangkat lengan kanannya lurus ke atas, memperlihatkan gelang kuno miliknya. Butiran-butiran energi sihir bagaikan debu berwarna putih muncul, dan bergerak berputar mengelilingi gelangnya.

[Membatalkan Pengekang Tahap Pertama!]

Suara asing laki-laki dengan nada datar muncul, mengatakan satu kalimat tadi. Baik Naruto, Raphtalia, hingga Burks, semuanya bisa mendengarnya.

Tak lama setelah itu, gelang miliknya pun bergerak memisah sedikit demi sedikit. Suara mekanik menjadi pengiring perubahan benda, yang Naruto pernah sebut sebagai Mystic Code-nya itu. Pecahan dari gelang Naruto, kini mulai menempel pada keseluruhan lengannya dan menyatu untuk membentuk sesuatu yang lain. Ada satu bentuk yang mirip laras panjang hingga 1 meter disana.

"[Cannon Form], siap."

Mystic Code-nya menutupi lengan kanannya. Sekarang itu bukan lagi sebuah gelang, melainkan meriam. Ukiran-ukiran kuno pun tak lepas dari tampilan di tubuh meriamnya. Tangan kiri Naruto menggenggam satu pegangan yang mengarah horizontal di depannya, membuatnya seolah sedang mengangkat meriam itu menggunakan dua tangan.

Ia menyunggingkan senyum kecil. Dia jadi teringat dengan kejadian di masa lalu. Sudah lama sejak terakhir kali Naruto bertarung menggunakan Mystic Code-nya ini.

"Kau tuli, Bocah? Bukankah sudah kubilang percuma saja, jika kau berniat menghancurkan benda ini?"

Naruto melirik ke tempat Burks. "Kau lihat saja bagaimana ini akan berakhir, Ossan."

Burks mendengus. Ia menganggap Naruto hanya menggertak. Bagaimana pun, gerbang ini diciptakan menggunakan salah satu dari [Sacred Gear] tingkat atas, yaitu [Dimension Lost]. Ketahanan yang dimilikinya tentu sangatlah tinggi, dan hampir tidak mungkin bisa ditembus.

—Dan Naruto yang cuma penyihir peringkat [Steel: I] ingin menghancurkannya? Burks yakin kalau itu adalah sesuatu yang mustahil dapat ia lakukan.

Kembali ke sisi Naruto. Dia sedang "berbicara" dengan Mystic Code-nya itu.

"Begitu, ya. Bagaimana jika gunakan saja seluruh mana-ku yang tersisa? Harusnya itu cukup."

"Tapi apa kamu yakin? Kurasa itu sedikit berbahaya untuk tubuhmu."

Naruto berterimakasih karena sudah diingatkan terlebih dulu. "Tidak ada waktu untuk ragu, jadi mari kita segera selesaikan ini!"

"… Dimengerti!"

Blaaar!

Setelah itu, energi sihir Naruto meledak dengan ganas, mengagetkan Raphtalia maupun Burks.

'Apa-apaan itu?!'

'Naruto-kun …, bagaimana bisa energi sihirmu sebanyak ini …?'

Mana Naruto dengan pelan bergerak memasuki lubang kecil meriam di bagian belakang. Mystic Code-nya tampak mengeluarkan pendar tipis berwarna putih yang mengelilinginya. Naruto hanya butuh beberapa detik mengumpulkan energi sihirnya untuk dijadikan peluru.

'Tersisa 20 detik sebelum sihir teleportasinya aktif. Ini masih sempat,' batin si Namikaze muda.

Ujung moncong meriamnya pun bersinar, siap untuk memuntahkan serangannya. Dan—

Dhuaaarh!

Cahaya putih memanjang ditembakkan Naruto, melesat sangat cepat menuju gerbang hitam raksasa di depannya. Serangannya menghantam bagian depan gerbang … dan terhenti, tidak sanggup menerjangnya.

Burks melihat itu dengan senyum meremehkan. Tadi itu sungguh mengejutkannya, dia bahkan sempat panik. Tapi sepertinya perasaannya tadi hanya sia-sia belaka. Padahal dia sudah bilang kalau—

Krak!

"Huh?!" Burks tidak percaya melihat ada retakan tercipta di pintu gerbang raksasa tersebut.

Tembakan Naruto masih belum berhenti keluar. Itu terus mendorong benda yang menghalanginya dan akhirnya … menembusnya.

Sepertinya karena rusak, gerbang itu menjadi tidak stabil sekarang. Listrik statis tampak mencuat-mencuat dari seluruh bagian gerbangnya. Ledakan pun terjadi tidak lama setelah itu, menciptakan debu yang membumbung tinggi ke langit malam. Guncangan tanah bahkan dapat mereka semua rasakan.

"APAAA …?!"

Burks melototkan kedua matanya. Ia tak menduga jika benda ciptaan Sacred Gear: Dimension Lost itu benar-benar sanggup dihancurkan. Dan lagi, dari mana datangnya energi sihir Naruto beserta kekuatan penghancur itu?!

'Rank-nya padahal cuma [Steel: I], kenapa bocah itu bisa sekuat ini?! Bukankah dia menggunakan Basic Magic selama pertarungan kami tadi?! Harusnya dia telah kehabisan mana!'

Burks sangat marah. Ia tidak bisa memikirkan apapun selain tugasnya yang gagal. Kalau begini, dengan hancurnya gerbang teleportasi itu, ia tidak bisa mengirim roh Kyuubi itu ke markas organisasinya. Dan lebih buruknya, pasti roh monster itu akan kabur untuk mencari tubuhnya di luar sana!

"Na … ruto-kun?"

Naruto menoleh ke belakang, memandang Raphtalia yang kebingungan. Meriam berukiran kuno di lengan kanannya sudah kembali ke bentuk semula, yaitu gelang.

"A-Apa yang barusan itu? Dan, benda di tangan kananmu …?"

Naruto terkekeh. "Apa maksudmu? Bukankah kau sudah pernah menanyakan itu, Raphtalia?"

Benar juga. Dua hari sebelumnya, ketika mereka sedang di halaman belakang asrama, Naruto telah menjawab pertanyaannya itu. Kalau Raphtalia tidak salah ingat, Naruto berkata jika gelangnya itu merupakan [Mystic Code: Logos React Replica], dan itu ia dapatkan dari pemberian gurunya.

"Bagaimana dengan lonjakan energi sihir tadi? Kukira, kamu ada di peringkat [Steel: I], seperti kata rumor di akademi." Raphtalia terbatuk beberapa kali karena luka yang dideritanya.

"Yah, kita bicarakan itu nanti. Lebih baik kau simpan tenagamu itu."

Raphtalia berpikir untuk sejenak, kemudian mengangguk atas perkataan si Namikaze. Naruto berbalik, beranjak mendekati Burks.

"Maaf, sepertinya … aku belum pulih sepenuhnya. Jadi, aku akan istirahat lagi untuk sementara waktu." Batu blue sapphire di Mystic Code-nya berkedip-kedip. "Oh iya, aku juga mengembalikan sisa mana-mu yang kuambil sebelumnya."

Naruto melirik gelangnya, mengangguk. "Tenang saja, aku bisa mengatasi ini. Dan … terima kasih, Dominus."

—Itu tadi adalah nama panggilan Mystic Code miliknya.

"Iya. Aku percaya kamu pasti menang kok, Senpai." Kata-katanya penuh dengan rasa suka cita. Setelahnya, cahaya di batu sapphire itu meredup.

Naruto terus berjalan, dan berhenti tepat sepuluh meter di depan pria botak itu. "Nah sekarang, mari kita selesaikan apa yang sudah tertunda sebelumnya," ujarnya.

Dia mengambil oksigen dalam jumlah banyak, bernapas dengan ritme yang selaras. Ia memasuki mode ketenangan berkat Teknik Pernapasannya telah aktif. "[Total Concentration … Breathing]," gumamnya dengan suara sepelan mungkin.

Naruto memasang kuda-kudanya. Ia siap kapan pun musuhnya akan datang.

Burks berdiri penuh amarah. Giginya saling bergertakan. "Dasar Bocah Sialan! Kau membuat hasil kerjaku tiga bulan di sini menjadi sia-sia!"

Yang benar saja. Kalau begini, mana mungkin dirinya akan mendapat hadiah dari Pemimpinnya. Justru yang ada, kematianlah yang sedang menantinya karena ia telah gagal membawa pulang Kyuubi! Bocah-bocah ini menjadi pengganggu saja dalam hidupnya!

Sebelumnya Burks memang hanya main-main, tetapi sekarang … ia sungguh serius ingin membunuh mereka semua! Killing Intens yang dikeluarkannya sangatlah pekat.

Setelah Burks selesai melapisi lengan singanya dengan energi sihir, ia tanpa aba-aba langsung melesatkan tubuhnya ke depan. "Kali ini kau harus mati!"

Naruto sendiri masih diam di tempatnya sambil menunduk, membuat poni rambutnya menutupi kedua mata safirnya. Seluruh tubuhnya juga bergetar. Si Namikaze itu ketakutan …?

—Tidak, itu bukanlah rasa takut! Naruto hanya tidak sabar saja untuk segera menghajar bajingan di depannya!

"Hei, jangan kira kau saja yang sedang marah …."

Naruto mengangkat wajahnya, menampakkan kilatan mata yang berbahaya.

Kelima cakar tajam Burks melaju cepat ke titik jantung Naruto. Namun, meski begitu, Naruto masih dapat melihat gerakan musuhnya sedikit melambat berkat menggunakan Pernapasan Konsentrasi Penuh-nya.

Dalam gerakan slowmotion, Naruto menarik tubuh kirinya sedikit memutar-mundur, membuat tusukan itu melewati tubuhnya. Masih seperti itu, tangan kanannya sudah siap terkepal erat. Ketika wajah Burks tepat berada di depannya, Naruto pun melesatkan pukulannya ke wajah pria botak itu—

"Ini … karena kau sudah menghina temanku," kata Naruto sarat akan emosi.

Buagh!

Burks terpental dengan ekspresi terkejut. Apa-apaan pukulannya itu?! Dan refleksnya sangatlah tidak masuk akal! Begitulah yang dipikirkannya setelah dia berhenti berguling-guling.

Ketika ia melihat ke depan, Burks tidak melihat keberadaan lawannya. Dia kehilangan Naruto.

"Dimana boc—gahk!"

Naruto tiba-tiba saja muncul di atasnya, bahkan menginjak punggungnya. Itu salah Burks karena tidak segera bangun.

'Bagaimana bisa?! Aku bahkan tidak merasakan energi sihirnya mendekat!'

Banyak pertanyaan terus berputar di kepala botaknya.

"Sialan!"

Naruto melompat mundur agar tidak terkena cakaran musuhnya. Ia masih mempertahankan pernapasannya secara teratur.

[Total Concentration Breathing] adalah teknik pernapasan yang Naruto kembangkan ketika masih latihan bersama Grandeeney. Itu adalah teknik di mana ia menghirup oksigen dalam jumlah maksimum ke paru-parunya dengan pola napas tertentu, dan dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan fisik serta mentalnya hingga ke batas maksimal.

Efek teknik pernapasan ini mencakup sejumlah besar peningkatan kemampuan fisik dan mental. Untuk fisiknya yaitu; kekuatan, kecepatan, stamina, daya tahan, bahkan kelincahan Naruto, semua itu meningkat sangat drastis. Sementara untuk mental, Naruto akan lebih bisa memaksimalkan konsentrasinya. Pemrosesan informasi yang berlebihan dan proses berpikirnya untuk mengambil keputusan yang tepat, pun menjadi lebih sempurna.

Satu hal lagi. Karena teknik ini tidak ada sangkut pautnya dengan energi sihir, maka Burks tidak bisa memprediksi arah datangnya Naruto, seperti sebelumnya. Kemampuan sensornya menjadi tidak berguna di saat ini.

Naruto menyesuaikan lagi Teknik Pernapasannya. Kali ini, ia akan menaikkan sedikit ritme serangannya. Pemuda itu maju ke depan dengan langkah sangat cepat!

Burks melebarkan matanya. Naruto sudah muncul di depannya, siap untuk memukulnya.

Brassh! Sret.

Sedikit sayatan tercipta di pipinya, luka itu mengeluarkan darah segar. Untung saja Burks sempat menggeser sedikit kepalanya, kalau tidak …—ia bahkan tak mau membayangkan akibatnya. Ia cukup tahu bahwa pukulannya tadi sangatlah berbahaya.

Naruto tidak berhenti sampai disana. Ia melesatkan pukulan tangan kirinya hingga mengenai perut Burks. Setelahnya, tubuhnya menghilang dan tiba-tiba sudah berada di belakang lawannya. Ia menendang punggung Burks.

Burks menggertakkan gigi-giginya. Mana mungkin dia akan kalah dari bocah ini! Ia pun mulai memberikan berbagai serangan balasan menggunakan pukulan tangan kiri serta cakaran tangan kanannya. Naruto berhasil menghindarinya tanpa usaha lebih.

Si Namikaze itu menangkap kepalan kiri Burks. Ia menariknya agar mendekatinya, lalu menendang dagu musuhnya, membuatnya kehilangan keseimbangan. Dua pukulan cepat langsung saja Naruto berikan.

Buagh! Buagh!

Dadanya terasa sesak. Burks terbatuk beberapa kali akibat serangan barusan.

Naruto tidak ingin berhenti, ia tak akan menyia-nyiakan waktunya. Ulu hati menjadi sasarannya kali ini, dan pukulannya sukses mengenainya dikarenakan lawannya kehilangan fokusnya.

"Gahk!" Darah segar tampak sedikit keluar dari mulut pria itu.

Lagi, Naruto menjegal kaki Burks hingga membuatnya berlutut dengan satu kaki. Pukulan berturut-turut ia layangkan ke wajah di depannya.

Burks tidak melihat kesempatan untuk keluar dari keadaan menyedihkannya ini. Ia mengakui, setiap gerakan yang bocah ini lakukan tak ada percuma. Naruto … sangat hebat dalam gaya bertarung tangan-ke-tangan.

Ini adalah serangan terakhir dari kombo milik Naruto. Ia berada di depan lawannya dan memberikan tendangan memutar, mengincar kepala lawannya. Tapi, Burks kali ini melihat arah serangannya. Ia dengan percaya dirinya memilih untuk menahannya menggunakan lengan kirinya. Namun sayang sekali, itu adalah pilihan yang salah.

Krak!

Ada terdengar seperti retakan tulang. Dan tidak hanya itu, tubuh Burks jatuh menghantam tanah setelah ia menerima tendangan Naruto. Pria itu melotot tidak percaya.

'Oi, oi, oi! Tadi itu aku menggunakan energi sihir untuk menyelimuti tanganku! Lalu sekarang, bagaimana ini bisa sampai patah, Sialan?!'

Itulah yang ia pikirkan. Dia memandang ngeri Naruto yang tidak berkedip sekali pun sejak tadi. 'Dan apa-apaan tatapannya itu? Itu seolah dia dalam kondisi konsentrasi sempurna.'

Bagaimana mungkin bocah di depannya ini bisa sekuat ini dalam sekejap?

—Burks memang tidak tahu-menahu kalau Naruto memiliki Teknik Pernapasan karena di awal pertarungan mereka tadi, Naruto tak memakainya.

Burks bangkit berdiri. Dia akan mengaktifkan Sihir Bawaan-nya dalam keadaan kekuatan penuh. "Jangan meremehkanku, Bocah!"

Setelah teriakan itu, energi sihirnya berkobar dengan ganas. Lingkaran sihir besar tercipta di tanah tempatnya berdiri. Cahaya terang pun mengiringi perubahannya itu.

"Roaaaaagh!"

Kini, di depan Naruto berdiri seekor monster besar, dua kali ukuran monster normal. Dia memiliki penampakan gabungan dari tiga binatang; tubuh serta kepala singa, sayap kelelawar, dan ekor ular. Siapa saja pasti dapat mengenalinya dalam sekali lihat—itulah yang dinamakan Chimera!

"Sepertinya, dia mengubah seluruh jiwanya agar bisa menjadi monster ini, Master." Ophis yang sedari tadi diam, kini menyuarakan pendapatnya. Naruto juga setuju atas perkataan Ophis.

Burks menggunakan [Alchemical Magic: Soul Binding] miliknya untuk berubah menjadi hewan mitos itu. Para ilmuan, terutama Alkemis, memang berniat menciptakan makhluk Chimera sejak dulu lewat Transmutasi Tubuh, tetapi hampir jarang dari mereka yang berhasil melakukannya.

—Dan sekarang, Naruto berdiri di hadapan makhluk yang dikatakan telah punah itu sejak berakhirnya Zaman Dewa.

"Pasti ada bayaran mahal yang harus diberikan setiap mendapat kekuatan yang besar. Aku yakin itu berlaku padamu, Ossan."

"Memang kenapa?! Aku jamin akan membunuhmu dalam tiga menit, Bocah!" Burks yang dalam bentuk Chimera, menatap buas mangsanya. Ia berdiri menggunakan empat kakinya, seperti hewan.

'Aku jarang mengubah seluruh jiwaku karena ini sangat berbahaya. Kurang dari lima menit sihirku ini harus segera kulepaskan, kalau tidak …' Burks maju ingin menerjang Naruto,

'… jiwa manusiaku akan selamanya menghilang, dan digantikan jiwa monster ini!'

Naruto menyipitkan matanya. Dia melompat dan berguling ke sisi kiri untuk menghindarinya. "Tiga menit, ya? Kalau begitu, aku akan menyelesaikan ini kurang dari dua menit."

Sepasang mata buas itu melebar. Lagi-lagi, musuhnya menghilang.

Naruto muncul di atas punggung Chimera tersebut. Ia menarik sebuah pedang tipis melengkung dari dalam lingkaran sihirnya. Namanya adalah katana, dan itu ia ciptakan menggunakan [Magic Maker]-nya. Dia menarik bilahnya dari sarung katana-nya.

Naruto kembali menyesuaikan pernapasannya. Tanpa basa-basi lagi, ia menebaskannya ke punggung monster itu, menciptakan luka yang dalam. Burks mengaum sangat keras.

Naruto mengambil satu langkah, dan tiba-tiba saja ia sudah ada di kaki kiri-belakang Chimera. Pertama-tama, menghentikan pergerakan musuh adalah yang paling utama dia lakukan. Namikaze itu pun melakukan tebasan mendatar.

Jraaash!

Burks menggeram marah. Ia menggerakkan ekor ularnya untuk menyerang Naruto, tetapi pemuda itu sudah menghilang lagi. Naruto muncul di kaki kanan-depan si Chimera, dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.

Naruto terus mengulangi itu beberapa kali; muncul dan menghilang dalam waktu singkat di sekitar tubuh Chimera-Burks sambil meninggalkan satu sayatan, mengurung lawannya agar tidak bisa kabur. Penyihir Alkemis itu menjadi bulan-bulanan seorang murid akademi tahun pertama.

Memang sekarang terlihat seolah Naruto bergerak menggunakan sihir Accel, tetapi sebenarnya bukan. Ketika ia memasuki mode Total Concentration Breathing-nya, maka kecepatannya meningkat. Dalam sekali langkah saja, ia bisa mencapai jarak tertentu—hampir sama ketika seorang penyihir menggunakan Accel. Naruto memberi nama tekniknya itu dengan sebutan [Flash Step]. Teknik ini murni dari peningkatan fisiknya, tanpa adanya tambahan sihir.

Burks pun mengepakkan sayap kelelawarnya untuk terbang, membuat tebasan Naruto hanya mengenai udara kosong. Paling tidak, ia sudah berhasil keluar dari keadaan genting tadi.

Naruto mendongak, matanya sedikit menyipit. Pandangannya mengikuti pergerakan musuhnya.

Burks mendarat ke tengah tanah lapang luas ini.

"Jangan pikir kau bisa menang, Bocah. Rasakan ini!" Mulut Chimera itu terbuka lebar, dari dalam sana keluarlah bola api besar.

Melihat serangan itu, Naruto menyiapkan kuda-kudanya. Punggungnya tegak, ia memegang katana-nya di atas kepala dengan dua tangan. Sesaat api itu akan mengenainya, ia dengan gerakan pasti menarik turun katana-nya.

"[Second Form: Cascade]."

—Bola api itu terbelah menjadi dua di kedua sisinya.

Setelahnya, Naruto segera mendekati lawannya menggunakan teknik [Langkah Kilat].

Menyadari itu, Burks yang dalam bentuk Chimera-nya menghentakkan kaki depannya, membuat tanah di depannya mencuat dengan ujung tajam. Itu adalah akibat Sihir Alkimia-nya. Meski tidak sedang dalam tubuh manusianya, dia masih bisa menggunakan sihir itu.

Naruto menghirup udara bersih dalam jumlah banyak. Ia harus tetap tenang bagaimana pun kondisi yang sedang dihadapinya, atau … Teknik Pernapasan-nya bisa terganggu. "[First Form: Unknowing Slash]," gumamnya.

Dengan melakukan gerakan yang sangat cepat, itu membuat gesekan di antara bilah katana-nya dengan udara di sekitarnya. Hasilnya? Tebasan horizontal jarak jauh tak kasat mata, itulah jawabannya.

Tanah runcing itu terpotong dengan sempurna.

"Kau akan membayar … atas semua hal yang telah kau lakukan!" kata Naruto. Ia semakin mendekati Burks, melompat cukup tinggi.

"Jangan sombong!" Burks mengaum keras. Ekor ularnya bergerak maju, siap dengan gigitannya.

Naruto menahan gigi tajam itu menggunakan katana-nya. Dengan kuat ia menepisnya ke bawah, lalu berlari di ekor ular tersebut. Tidak butuh waktu lama hingga ia sampai di depan wajah si Chimera.

Masih dalam keadaan melayang di udara, ia melakukan tebasan cepat. Itu mengenai mata kanan si Chimera, meninggalkan luka vertikal dan efek kebutaan. Raungan keras terdengar di telinga Naruto setelah kejadian itu.

Tap.

Chimera itu mengayunkan kaki kanan depannya, memberikan serangan kejutan pada lawannya yang baru saja mendarat di tanah. Tapi Naruto sanggup menahan kelima cakar itu menggunakan katana di tangannya. Dia mendorongnya, dan memberikan tiga tebasan beruntun ke kaki besar itu.

'Sialan! Bagaimana mungkin aku dipojokkan oleh bocah ini?!'

Naruto selesai dengan posisi kuda-kudanya yang kelihatan kuat. Ia menyiapkan serangan selanjutnya. Suara pernapasan Naruto bahkan terdengar keras di telinga mereka berdua.

"[Secret Technique: Turning Swallow Strike]!" teriak Naruto.

Satu tebasan melengkung terlihat dari arah kirinya, jadi Burks dalam bentuk Chimera-nya segera memblokirnya menggunakan kaki depannya.

Jraash! Jrassh!

"Apa—?!" Satu-satunya mata miliknya yang masih berfungsi, melebar kaget.

'Itu, bukanlah tebasan tunggal! Dia bisa … melakukan tiga tebasan sekaligus dalam satu gerakan?!' batin Burks penuh keterkejutan. Ia bisa merasakan luka cukup dalam di bagian kaki kanan dan wajahnya.

Turning Swallow Strike, adalah teknik di mana Naruto menciptakan tiga tebasan melengkung dalam satu waktu. Itu membutuhkan konsentrasi, ketangkasan, kecepatan, serta pijakan tanah yang bagus agar serangannya sempurna.

Tiga tebasan itu dimaksudkan untuk menutup musuh dari semua sisi seolah membuat penjara, tidak memungkinkan kesempatan lawannya untuk melakukan pertahanan maupun penghindaran.

Serangan pertama datang pada lawan dengan kecepatan luar biasa, menciptakan busur melingkar secara horizontal untuk mengelilingi mereka. Itu tidak terlalu merepotkan untuk bisa dilihat lawannya. Tapi, serangan kedua dalam bentuk vertikal yang sedikit lebih lambat dimaksudkan untuk memblokir pelarian ke atas, dan serangan ketiga berbentuk horizontal untuk menjaga lawan agar tidak melarikan diri ke samping.

Jika salah satu tebasan diblokir, dua lainnya akan mengenainya. Karena jarak dekat, jika lawan mencoba mundur, bilah panjang katana akan dengan cepat menebasnya. Benar-benar serangan yang menguasai keadaan lawan.

Secret Technique: Turning Swallow Strike, membutuhkan fondasi tanah yang rata agar dapat dieksekusi dengan sempurna. Jika dia tidak memiliki pijakan yang tepat, ia hanya akan dapat membuat dua tebasan pertama. Karena teknik ini terlahir berkat keterampilan luar biasa Naruto, itu tidak memerlukan energi sihir tambahan sedikit pun.

Naruto sangat menyadari bahwa Teknik Pernapasannya itu sangat cocok dengan ilmu gaya berpedang, jadi ia telah menciptakan beberapa gerakan yang lain sejak berumur 9 tahun. Pada umur yang ke-12, barulah semua gerakan itu berhasil ia sempurnakan. Membutuhkan waktu yang cukup lama, bukan?

Naruto menatap dingin Burks yang mundur perlahan dengan darah mengecer di bawahnya. Tubuh Chimera-nya mendapat luka yang sangat parah dari serangan terakhir Naruto.

"Yang itu tadi … karena kau sudah melukai Raphtalia." Naruto mengangkat katana-nya menuju Burks.

"Keh! Kau memiliki teknik berpedang sehebat ini, tapi … kau tidak menggunakannya sejak awal. Juga, aku padahal tahu kau punya [Full Control] atas mana-mu, namun aku tidak pernah berpikir jika kau akan mengelabuiku dengan menunjukkan tekanan mana serendah itu."

Burks masih ingat ketika dimana bocah itu menggunakan energi sihirnya sendiri sebagai peluru meriamnya. Tekanan mana-nya yang meledak, itu bukan lagi di [Rank: Steel] … namun sudah setingkat [Rank: Bronze] atau bahkan lebih? Burks tidak begitu yakin itu berada di level berapa.

Naruto hanya diam mendengarkan pernyataan Chimera di depannya.

"Siapa namamu, Bocah?!"

"Namikaze … Naruto."

Namikaze? Itukah yang barusan bocah ini katakan? Kalau tidak salah Burks ingat, itu adalah nama klan yang memegang kota Renais di seberang Soul Forest ini.

"Grrr, aku meremehkanmu, Naruto. Kau bukanlah Penyihir maupun Pendekar Pedang sembarangan ternyata. Jujur saja, aku tertipu."

Naruto tidak senang sekalipun meski mendapat pujian itu. "Berhentilah mengoceh. Ada satu hal yang ingin kutanyakan sebelum aku menghabisimu. Dimana … orang-orang yang sudah kau culik, sekarang berada?"

Maksud Naruto adalah orang-orang yang menghilang ketika melewati area Soul Forest sejak tiga bulan ini. Burks bilang kalau itu adalah perbuatannya.

"Ah, mereka? Setengah dari mereka kujadikan eksperimen untuk menghancurkan segel Kyuubi dengan menggunakan jiwa mereka, tapi itu tidak bekerja. Dan untuk setengah dari mereka yang lain, aku mengirimnya ke Lab Penelitianku untuk kebutuhan eksperimenku yang lain."

Naruto merasakan jika kedua matanya memanas. Memang benar, jika dirinya tidak menyukai Burks. Berani sekali orang ini menganggap nyawa orang lain, seolah itu adalah sesuatu yang tidak berharga! "Terima kasih atas jawabannya, maka dengan ini … aku tidak perlu menahan diri."

Cara bicaranya sungguh dingin. Burks bisa melihat adanya perubahan aura di sekeliling tubuh Naruto.

"Aku akan mengakhirimu dengan serangan berikutnya." Dia berlari mendekati lawannya.

Sebenarnya, meski berguna untuk memangkas jarak, menggunakan teknik Flash Step juga cepat membuatnya kelelahan. Jadi karena itulah, Naruto tidak terlalu sering memakainya dalam pertarungan.

"[Ninth Form: Dra—]"

Sayang sekali Burks sudah lebih dulu terbang sebelum tebasan pertama Naruto mengenainya. Dia menghentikan serangannya pada saat itu juga, dan mendongak. "Turun ke sini, Pengecut!"

Burks cukup tahu kalau Naruto tidak mungkin bisa menyerangnya ketika di udara. "Heh, aku akui ini kekalahanku, tapi …! Tapi ingatlah … saat kita bertemu lagi, akan kupastikan kepalamu itu hancur hingga keluargamu tidak ada yang bisa mengenalimu!"

Naruto menggertakkan gigi-giginya. "Kau mau kabur?!"

"Terserah. Aku tak 'kan terpancing lagi dengan provokasi murahanmu itu!"

Kabur? Yang benar saja. Burks menganggap kata-kata Naruto sungguh lucu. Ada kalanya kita mundur dari pertarungan yang tidak mungkin dimenangkan. Kalau saja keempat kakinya tidak mendapat luka seberat ini, Burks cukup yakin untuk meladeninya bermain lebih lama lagi. Selain itu, energi sihirnya sudah menipis karena menggunakan tiga sihir tingkat tingginya dalam satu hari.

"BWAHAHA! Tidurlah dengan dipenuhi mimpi ketakutan di setiap malammu, Bocah! Saat aku mendatangimu lagi, hari itulah akan menjadi peringatan tanggal kemati—huh?!"

Swuuush! BLAAAR!

"…?!"

Tiba-tiba saja ada sesuatu yang turun dari langit dan menimpa tubuh Chimera-Burks, hingga menghantam tanah sangat keras.

Naruto juga mempertanyakan apa itu tadi.

Ketika debu-debu itu menghilang, tampaklah siluet seorang perempuan dewasa berambut putih tergerai berdiri di atas punggung sang Chimera. Dia mengangkat tangan kanannya, kuku-kuku tajamnya mencuat keluar.

Chimera itu memuntahkan banyak darah akibat luka yang diterimanya.

"Ka-Kau! Apa yang—"

Jraaasssh!

Nada bergetar penuh ketakutan milik Burks segera berhenti tatkala ada sesuatu yang menembus punggung bagian kirinya.

Grandeeney—nama siluet orang tadi—tanpa ampun menarik tangannya dari sana, mengeluarkan jantung makhluk di bawahnya. Ia pun meremasnya hingga hancur, semakin mengotori tangan putihnya dengan cairan merah kental.

Melihat jika itu adalah perbuatan orang yang dikenalinya, Naruto bisa segera menurunkan rasa waspadanya. Itu membuat tugasnya sedikit berkurang. "Syukurlah, Bibi sepertinya baik-baik saja."

Naruto teringat dengan Raphtalia. Ia segera mendekat ke tempat gadis itu berada. Carla sepertinya belum siuman.

Grandeeney memutar kepalanya ke segala arah. Tatapannya menajam kala punggung Naruto terlihat di bidang pandangnya. Ia berjalan turun, menjauhi "bangkai" Chimera hasil perubahan Burks menggunakan Sihir Alkimia-nya.

Naruto berhenti, berjongkok di depan si Demi-Human. "Bagaimana kondisimu?"

Raphtalia menggeleng. "Tidak usah mencemaskanku, aku baik-baik saja. Daripada itu …" ia menunjuk gerbang hitam disana yang telah rusak, "… kita harus bilang apa nanti kepada Roubaul-sama?"

Naruto mengikuti arah yang dilihat teman perempuannya. "Aku ingat, jika kau mengatakan tentang roh Kyuubi atau semacamnya. Apa maksudnya itu?"

Raphtalia terdiam sebentar, kemudian mulai bercerita setelah mengambil napas panjang. Dia mengatakan kalau dirinya tidak sengaja mendengar perbincangan Burks dengan anggotanya lewat Lachrima Phone-nya. Dan di antaranya, ia mengetahui fakta bahwa Kyuubi yang ada di sini hanyalah rohnya saja yang disegel.

Ratusan tahun yang lalu, ternyata penyihir yang mengalahkan Kyuubi sengaja memisahkan antara tubuh dan rohnya. Roh Kyuubi disegel di dalam hutan ini, sementara tubuhnya disegel di tempat yang lain. Tidak ada yang tahu lokasi tubuh Kyuubi yang asli.

Karena Burks gagal mengirimkan Kyuubi ke markas organisasinya, apalagi Naruto sampai meledakkan gerbang teleportasi itu, sudah pasti roh Kyuubi akan lepas ke dunia. Mungkin saat ini, roh monster itu sudah pergi untuk mencari lokasi tubuhnya tersegel agar bisa bangkit sepenuhnya.

"Sepertinya, Kakek Roubaul tidak tahu mengenai ini, ya?" Begitulah yang Naruto dapat simpulkan.

"Aku rasa begitu." Raphtalia kembali terbatuk. Lukanya sepertinya cukup parah.

Tap!

Grandeeney sudah berdiri di samping kedua remaja itu.

Naruto tersenyum senang melihat kehadirannya. Ia berdiri dan berucap, "Ah, kebetulan sekali, bisa Bibi sembuhkan Raph—"

Grep!

"…?!"

Baik Naruto, Raphtalia, bahkan Ophis yang ada di dunianya, semuanya terkejut. Mereka tidak mengerti kenapa Grandeeney tiba-tiba saja mencekik Naruto.

"Grandeeney-san! Apa yang kamu—"

Deg!

Brugh.

Raphtalia secara tiba-tiba saja jatuh pingsan setelah merasakan intimidasi yang sangat kuat terarah kepadanya. Naruto seketika saja berubah cemas melihat keadaan temannya.

"Khh! Bibi, apa maksudnya ini?!"

Naruto berusaha melepaskan cekikan di lehernya, tetapi sangat susah. Kekuatan wanita ini … sangatlah luar biasa!

"Ternyata memang benar. Setelah dari dekat, aku bisa merasakannya cukup jelas. Sihir ini …, tidak salah lagi!"

"…?!"

Itu tadi suara laki-laki! Itu bukanlah suara milik Grandeeney!

Naruto mencengkeram pergelangan tangan Grandeeney(?).

"Siapa kau, hah?!"

"Siapa aku? Itu pertanyaan bodoh."

Seringaian lebar yang ditampilkannya bahkan sanggup membuat kedua mata Naruto bergetar ketakutan. Itu adalah seringaian orang gila, bahkan lebih gila dari Burks! Selain itu, jika diperhatikan lagi, Naruto baru sadar jika iris mata Grandeeney terlihat berbeda dari biasanya.

"Kalian semua yang di sini, bukankah sebelumnya kalian sedang memperebutkanku?" tanyanya dengan suara berat khas laki-laki.

Kedua safir itu melebar. Naruto tidak bisa mempercayai ini! Satu-satunya yang terlintas di kepalanya adalah—

"Kau … Kyuubi?"

Wanita di depannya kembali menampilkan seringaian kejamnya, tanpa berniat menjelaskan lebih lanjut.

"Sepertinya, roh Kyuubi merasuki tubuh wanita Naga itu yang dalam keadaan pingsan, Master."

Naruto juga berpikiran begitu. Itu berarti … keadaan ini sangatlah gawat. Mereka benar-benar kurang waspada tentang adanya kemungkinan seperti ini.

"Apa yang kau inginkan dengan tubuh Bibi?!"

Naruto masih berusaha melonggarkan cekikan pada lehernya, tetapi sepertinya itu percuma saja.

"Karena kau menanyakannya, biar kupikirkan. Hmm, hm! Hmm …."

Swuuush!

Kyuubi yang merasuki Grandeeney, secara tiba-tiba saja melempar tubuh Naruto sekuat tenaga. Dia melesat cepat hingga punggungnya berciuman dengan batang Pohon Dewa.

BRAAK!

"Guhk!" Sedikit darah mengalir keluar dari sudut bibirnya. Naruto sangat tidak menduga dengan perlakuan mengejutkan itu.

"TENTU SAJA MEMBUNUHMU …!"

Si Namikaze itu bisa mendengar teriakan Kyuubi cukup jelas. Dia hanya bingung. Membunuhnya? Memangnya dia sudah punya salah apa kepada monster itu?!

Ia jatuh berlutut. Naruto merasa jika punggungnya seolah remuk. Walau pun hanya roh saja, Kyuubi tidak bisa diremehkan karena masih memiliki kekuatan sebesar itu, buktinya dia sanggup mengendalikan tubuh Grandeeney. Dan sekarang, ia mendapatkan wadah yang bagus, yaitu seekor Naga!—Meski yah, itu masih belum bisa dikatakan setara dengan tubuh aslinya.

"Ini gawat, Master, dia sungguh-sungguh dengan perkataannya."

Ya, Naruto tahu itu. Ia bisa merasakan niat membunuh yang sangat kental berasal dari wanita berambut putih itu.

"Anda harus kabur, Master! Cepatlah!"

Naruto bergeming setelah mendengar itu. Tatapannya beralih ke tempat Raphtalia terbaring, lalu ke tempat Wendy.

Ka … bur, tadi Ophis bilang? Naruto mana mungkin sanggup meninggalkan teman-temannya!

"Aku menolak itu."

Ophis sudah menduga jika Tuannya ini tidak akan setuju dengan usulannya. Jadi, apa yang harus mereka lakukan? Apa lebih baik dirinya yang menghentikan Kyuubi? Itu adalah pilihan terakhir yang akan Ophis gunakan ketika situasinya benar-benar mengharuskannya.

Klink.

Naruto kaget dengan sesuatu yang tersenggol oleh jari kelingkingnya. Itu adalah pecahan rantai yang mengeluarkan cahaya emas, rantai yang menjadi penyegel Kyuubi, yaitu [Chain of Heaven].

"Kalau tidak salah, ini 'kan …?" Naruto tiba-tiba saja mendapat ide.

Ophis yang mengerti isi pemikiran Tuannya pun berniat menghentikannya. "Percuma, Master, tidak mungkin Anda bisa membuat sesuatu yang merupakan benda ciptaan para Dewa, bahkan jika itu menggunakan Magic Maker milik Anda sekali pun!"

"Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya, Ophis!" Naruto masih kekeh pada idenya.

Asalkan ia berhasil mengetahui struktur dari benda yang ingin dia buat, apapun bisa ia ciptakan menggunakan sihirnya. Itulah konsep dasar sihirnya, seperti yang dikatakan Gurunya.

Ia baru saja selesai melakukan pengecekan pada [Rantai Surgawi] di genggamannya. Kebetulan sekali Kyuubi yang merasuki Grandeeney sudah ada beberapa meter di depannya. Ia bersyukur karena Kyuubi memilih berjalan santai ketika mendekatinya—

"Kenapa kau senyum-senyum begitu, hah?!"

"Ap—?!"

Buagh!

Naruto melotot tidak percaya. Dalam sekejap mata, Kyuubi tiba-tiba sudah ada di depannya, bahkan menendangnya hingga membentur pohon di belakangnya.

Duagh!

Satu pukulan mengenai pipi kanannya.

Bugh!

Kali ini tepat di perutnya.

'Sial, kekuatan ini … tidaklah normal! Bahkan, perisai tipis ciptaan Dominus tidak berguna menghalau serangan fisik darinya!'

"Master!" Ophis sangat khawatir sekali. Kekuatan Naruto pasti sudah terkuras habis setelah ia menghancurkan gerbang itu, serta bertarung melawan Burks dua kali.

"Sudah kukatakan kalau aku akan membunuhmu, jadi aku tak 'kan bersikap lembut."

Naruto berdiri dengan sempoyongan. "Benarkah? Kalau begitu, aku tidak perlu ragu melakukan … ini!"

Energi sihir Naruto melonjak cukup tinggi. Di bawah kaki Grandeeney, tercipta sebuah lingkaran sihir berwarna putih. Keluarlah banyak rantai bercahaya emas yang mengikat tangan, kaki, bahkan tubuh wanita di depannya.

Kyuubi yang mendiami tubuh Grandeeney pun terkejut. 'Chain of Heaven …?! Jadi, sihir miliknya sudah sampai ke tingkat ini?' batinnya tidak percaya. Ia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Ikatan Rantai Surgawi memang tidak bisa diremehkan.

Ophis yang di dunianya pun tak kalah terkejut. Tidak mungkin sihir Naruto bisa menciptakan benda dengan peringkat [Divine]. Apakah dia salah mengira, jika sihir Tuannya ini bukanlah [Projection Magic] biasa? Kira-kira, itulah yang dipikirkan sang Buku Ketidakbatasan.

Naruto menampakkan ekspresi suka cita. "Bagus, berhasil! Kau bisa diam di sini sampai kami menemukan cara menyegelmu kembali, Kyuubi."

Ia cukup yakin kalau Rantai Surgawi itu tak akan bisa dihancurkan Kyuubi, jadi Naruto bisa dengan tenang berjalan melewatinya. Ia ingin mengecek keadaan Raphtalia karena lukanya yang paling parah di antara mereka semua.

Deg!

Baru lima langkah ia menjauhi tubuh Grandeeney, tiba-tiba saja Naruto merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya. 'Mana-ku … habis …?'

Apa itu akibat dia menciptakan Chain of Heaven? Mustahil. Padahal Dominus sudah mengembalikan sisa mana-nya dari menembakkan peluru meriam sebelumnya. Naruto yakin, itu harusnya cukup untuk dia gunakan membuat belasan pedang menggunakan Magic Maker-nya. Si Namikaze tak menyangka kalau menciptakan Rantai Surgawi akan menguras energi sihirnya sebanyak ini!

Naruto jatuh, kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya. Gawat, kesadarannya semakin menipis karena dirinya kehabisan energi sihir. Dan akhirnya, ia pingsan lagi, tapi kali ini dalam keadaan terduduk.

Krak … Pyar!

Rantai Surgawi ciptaan Naruto hancur. Sekarang, Kyuubi jadi bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Ia berbalik, mendekati bocah itu.

"Heh, Mind Zero, kah?" ujar suara Kyuubi, menyeringai penuh kesenangan.

Sihir menggunakan pikiran untuk dilepaskan dan dikendalikan. Penggunaan sihir yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang pingsan, itulah kondisi yang dikenal sebagai Mind Down atau Mind Zero.

Dia sepertinya terlalu berharap pada bocah ini tentang sihir yang dimilikinya. Tapi … terserahlah, dengan begini ia merasa jadi lebih mudah untuk membunuhnya—

"Cukup sampai disana, Kyuubi!"

Saat cakar tajam itu akan membelah kepala Naruto, gerakannya terhenti begitu saja. Kyuubi penasaran, milik siapa suara khas anak kecil barusan yang berani menginterupsinya.

Grimoire hitam di dada Naruto bersinar, melesat terbang sebelum jatuh di samping pemuda itu. Kyuubi melompat mundur untuk menjaga jarak. Setelah cahayanya meredup, tampaklah seorang gadis kecil dengan pakaian gothic lolita berwarna hitam pekat. Ophis kini berubah ke bentuk humanoid-nya.

Kyuubi menatapnya waspada. Ia bisa merasakan kekuatan besar berasal darinya. "Sebutkan namamu!"

"Tidak sopan sekali," kata Ophis dengan nada datar. Walaupun tidak menyukai cara Kyuubi menyapanya, ia tetap memperkenalkan dirinya, "Namaku Ophis, salah satu buku ciptaan [King of Magic] Solomon."

"Keh! Begitu, ya. Sampai akhir, aku bahkan tidak tahu kalau eksistensi sepertimu ternyata bersama anak ini."

Dulu, ratusan tahun silam saat Kyuubi masih bebas berkeliaran, nama seperti Ophis tidaklah begitu asing terdengar olehnya. Meski ini pertama kalinya bagi dia bertemu secara langsung dengan Ophis, ia langsung memercayai kata-katanya.

"Aku peringatkan ini sekali padamu, jangan berani kau menyakiti Tuanku lagi, atau kau akan menerima akibatnya." Nada bicara Ophis selalu terdengar monoton. "Kau sekarang sudah bebas, jadi kenapa kau tidak pergi saja mencari tubuh aslimu di luar sana? Aku tak ada niat menghalangimu."

Kyuubi yang masih mengendalikan tubuh Grandeeney, menggeram marah. "Kau mungkin berpikir begitu, tapi bagaimana dengan manusia di sampingmu?! Kau dengar sendiri jika dia berniat mencari cara menyegelku lagi, 'kan?!"

Ophis pernah merasakan bagaimana kesendirian di Perpustakaan itu, tersegel dalam waktu yang lama. Jadi, ia bisa sedikit mengerti bagaimana perasaan Kyuubi. Setelah Naruto membebaskannya, Ophis sungguh bahagia, seolah dunianya telah berubah begitu saja.

"Kau benar. Tapi, jika kau tidak membuat kekacauan seperti di masa lalu, mungkin tidak akan ada yang mengusikmu atau bahkan menyegelmu lagi, Kyuubi."

"Aku tidak percaya! Selama manusia di sampingmu itu belum mati, aku mana mungkin bisa tenang di luar sana?!" Dia mengatakan itu sambil menyibakkan sebelah tangannya ke samping. Suara bernada berat itu bergetar penuh kemarahan.

Ophis melirik sejenak tubuh Tuannya, lalu kembali fokus ke Kyuubi. "Apa yang membuatmu begitu ingin membunuh Tuanku saat ini? Jika kau mengatakan alasan yang tidak masuk akal, maka akan kuanggap kau sebagai eksistensi yang tidak ada gunanya di dunia ini. Kau harus mati saat itu juga."

Itu bagaikan ultimatum dari Ophis. Sejujurnya, Kyuubi tak punya niat melakukan konfrontasi dengan eksistensi setingkat Ophis. Itu hanya akan memberikan dampak buruk bagi mereka berdua.

"Kenapa kau masih menanyakannya? Kau sudah bersamanya dalam waktu lama, 'kan? Harusnya kau tahu seberapa berbahayanya sihir milik manusia ini, Ophis."

"Maaf jika ini mengecewakanmu, namun … banyak dari ingatanku yang hilang, begitu pula dengan pengetahuan sihirku. Aku tidak mengerti sihir apa yang kamu maksud."

Ophis menyipitkan matanya karena Kyuubi terkekeh keras. Apa itu adalah ejekan untuknya? Ophis tidak mau memikirkan itu lebih lanjut.

"Heh heh heh. Ehem! Maafkan kelancanganku. Karena kau berkata begitu, baiklah akan kujawab …" Kyuubi mengangkat tangannya, menunjuk punggung Naruto. Kata-kata selanjutnya yang diucapkannya pun sungguh di luar perkiraan Ophis—

"… Aku ingin membunuh manusia ini, karena dia mempunyai sihir yang sama, dengan sihir milik Penyihir yang telah menyegelku ratusan tahun yang lalu!"

Ophis terdiam, tidak tahu harus membalasnya apa.

"Ketahuilah, Ophis, kekuatan yang besar bisa menenggelamkan seseorang dalam kegelapan. Seperti itulah orang-orang kuat yang kulihat di masa lalu, dan … begitu jugalah yang sudah terjadi padaku."

Kyuubi mengangkat tangan kanannya, kuku tajam itu mencuat. "Setidaknya, biarkan aku membunuhnya. Itu bisa mengurangi dosa yang akan manusia ini perbuat di masa yang akan datang."

Ophis menajamkan matanya. Ia meledakkan energi sihirnya, membuat langkah Kyuubi terhenti. "Aku tidak akan membiarkanmu. Aku sudah bersumpah untuk melindungi siapa saja yang membebaskanku dari segel itu, dan manusia bernama Namikaze Naruto … dialah Tuanku yang sekarang!"

"Kenapa kau begitu membelanya? Tidak ada jaminan kalau manusia ini tidak akan memperalatmu nantinya!" Kyuubi benar-benar ingin mencemooh jalan pikiran sang Buku Ketidakbatasan.

"Aku hanya percaya padanya." Itu sungguh perkataan yang tulus. Tatapan Ophis yang biasanya selalu kosong itu, entah kenapa ada setitik kehidupan tatkala mengucapkan kalimat tadi.

Kyuubi mendengus. "Tidak masuk akal."

"Terserah kau bicara apa, Kyuubi."

"Kalau begitu, mau buat kesepatakan denganku?"

Ophis terdiam sesaat. "Tentang apa?"

"Hanya ingin membicarakan sesuatu bersamamu … yang mungkin cukup panjang. Jadi, kenapa kita tidak duduk?"

Kyuubi di dalam tubuh Grandeeney, pun mendudukkan dirinya ke tsnah setelah melihat anggukan Ophis.

Bersambung


[A/N]:

Ya-hallooooo!

Ehem. Selamat pagi, siang, sore, malam, dan waktu kapan pun bagi kalian membaca chapter ini. Aku meng-update lagi Fic ini dengan jeda waktu lebih cepet dari yang kuduga. Jadi, mungkin kalian yang gak ngeh dan ngelewatin chapter sebelumnya, monggo bisa di cek dulu.

Yah, aku gak mau banyak omong lagi di note kali ini. Untuk review yang nanya, apa chapter sebelum-sebelumnya diubah? Ya, sebenernya 4 bulan ke belakang aku lagi baca-baca ulang fic ini, dan beberapa bagian sengaja kuganti untuk menyesuaikan alur ke depannya nanti. Lalu pertanyaan selanjutnya, akun Facebook? Aku ada sih, sama kayak nama akun FFn-ku. Cuma kalo kalian mau add, pastiin kirim pesan ke Massanger-ku dulu, soalnya aku udah jarang nerima pertemanan orang random sejak banyak kasus akun FB mengenang dari tahun kemaren. Jaga-jaga aja ama koboy gaje.

Hmm, sekarang balik lagi ke chapter ini. Aku sengaja pengin tuntasin permasalahan, sekaligus lengkapin plot hole di chapter-chapter sebelumnya—semuanya kujabarin di chapter ini. Jadi kayaknya banyak yang aku tulis segala macemnya sampe akhirnya malah membengkak di atas 14k+, wkwk. Beberapa plot hole baru sengaja aku taruh disana-sini pas nulis chapter kali ini, seperti organisasi Burks serta tujuan mereka tuh apa sih? Aku di atas sengaja gak jelasin. Itu rencananya bakal kubahas lebih lanjut pas Arc 4 atau Arc 5, nanti Naruto bakal ketemu lagi ama salah satu anggota mereka. Yah, masih lama sih.

Oh iya, chapter depan balik nyeritain Naruto dan Raphtalia di kehidupan akademi. Beberapa karakter baru akan muncul, juga mungkin putri dari kerajaan Ivalice akan kutunjukin, jadi nantikan aja chapter depan—oh iya, aku sebenernya mau rehatin dulu Fic ini, jadi kayaknya butuh waktu lama buat update lagi. Aku mau mikirin Fic-ku yang lain juga soalnya sih.

Yah, itu aja dariku kali ini, sekian dan terima kasih. Sampai jumpa lagi, Brother and Sister!

.

.

.

Tertanda, [Abidin Ren]. (23/September/2022).