Adalah malam hari ketika festival itu semakin menggila. Semua menari-nari mengelilingi api unggun ditengab dinginnya malam, kecuali dia. Si Merah, Corporal Giroro. Ia hanya duduk dengan menikmati segelas mocktail yang terdapat banyak sekali isinya. Ia tidak memesan tambahan rum untuk mocktailnya, jadi itu murni tanpa alkohol. Giroro tidak ingin belum ingin mabuk.

Desiran angin, dan guliran ombak yang bergemuruh satu sama lain memberikan kesenangan tersendiri, mengesampingkan keramaian dihadapannya. Tak dapat dilewatkan begitu saja, tetapi dalam menyambut pesta tahun baru, Hicksville Beach di Tokyo adalah sala satu destinasi yang tak dapat dilewatkan.

Festival pantai merupakan yang paling ditunggu-tunggu. Dimana saat malam menjelang tahun baru, semua penduduk dan wisatawan yang datang dari berbagai wilayah dunia berkumpul. Ini tidak terkecuali para alien juga, yang menggunakan Anti-Alias. Mereka menari-nari, ditambah festival kostum yang begitu ramai, diarak berkeliling kota. Pada malam ini, ketika bulan hampir berada di penglihatan manusia, tak membuat malam ini makin sepi. Mungkin beberapa orang memilih untuk berdiam di pantai, menikmati suasana malam pantai. Bisa pula sebagian yang lain mengikuti dan menyaksikan festival kostum yang besar. Dan, hanya segelintir orang saja yang tak melakukan apapun selain bersantai.

Giroro berada disana, di dekat pantai. Satu-satunya alasannya datang ke pantai hanyalah untuk mengikuti ide konyol pemimpinnya, Sergeant Keroro. Giroro berencana kembali ke rumah, ia hanya harus mencari waktu yang pas untuk menyelinap pergi. Jadi ia hanya berjalan-jalan dengan gelas di tangannya. Kali ini ia menggigit kiwi yang tak sengaja masuk kedalam mulutnya.

Tahun ini terasa berbeda. Tidak hanya bagi Giroro, tetapi juga bagi seluruh keluarga Hinata dan pleton Keroro. Natsumi telah meninggalkan rumah untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi di kota. Tak ada lagi omelan-omelan dan pertengkaran antara gadis berambut pink itu dengan si katak hijau. Tak ada lagi sosok yang ia ajak berbagi ubi bakar buatannya.

Giroro merindukan Natsumi. Selalu.

Giroro merindukan setiap saat yang ia miliki bersama Natsumi. Tak banyak, jika harus dikatakan demikian. Tetapi ada beberapa kenangan yang begitu melekat dan membuatnya merasa hangat meski dalam dinginnya pekat malam.

"Natsumi..." Ia menatap langit dan memandang bintang-bintang. "...aku merindukanmu, Natsumi."

Giroro terus memandang kearah langit. Bayang-bayang Natsumi tersenyum hangat padanya, membuat dadanya berdesir. Ia menyentuh sabuk yang melintang secara diagonal di dadanya. Kopral itu menarik nafas dalam, lalu ia hembuskan. Ia mencoba melepaskan beban dalam dadanya.

"Giroro," panggil seseorang.

Giroro tak menoleh. Ia tahu siapa yang memanggilnya. "Oi," sapanya balik.

"Tidakkah menyenangkan melihat orang-orang menari bahagia," Ia berkata. Giroro tak tahu itu pertanyaan atau pernyataan. Giroro hanya mendengus pelan sebelum si Ninja mengatakan perkataannya selanjutnya. "Kenapa kau tidak bergabung dengan mereka, Giroro?"

Giroro kembali mendengus. "Itu tak ada gunanya. Hanya membuang waktuku," katanya dengan sinis seperti biasa. Well, memang menari dan berdansa bukanlah gaya-nya. Dia tidak punya waktu untuk itu. Namun jika ada Natsumi disana, Giroro takkan berpikir dua kali untuk menari dan tertawa.

Hei! Ia mengutuk narasi di kepalanya.

Itu kebenaran, kan?

Tak ada jawaban lagi dari Giroro kepada narasi dikepalanya.

Lagi pula, kita ini penjajah. Bukan penari.

"Kau merindukan dia, kan, Giroro?" Dororo menembak pada pertanyaan yang tepat.

Giroro seakan disambar petir, matanya terbelalak tajam. Ia merasa seperti ada laser yang menembus dadanya. Ia menghantam gelasnya di meja, dan memegangi dadanya. Mulutnya terbuka, seakan menahan sakit.

"Kau baik-baik saja, Giroro?" Doror bertanya, terlihat khawatir.

Giroro tidak menjawab. Ia menarik nafas panjang dan kembali menegakkan punggungnya. Ia menatap langit.

"Apa aku salah, Dororo?"

"Untuk merindukan seseorang?" Dororo bertanya. Giroro mengangguk pelan. "Tidak. Tidak ada yang salah dengan itu," kata sang ninja dengan bijak.

"Kita sudah enam tahun kita di Pekopon, artinya enam tahun kau mencintai Lady Natsumi. Kenapa kau tidak mengatakan itu padanya secara langsung, Giroro?"

"Tck," decaknya. "Aku tidak ingin menghancurkan apa yang telah kita miliki. Ya, aku mencintai Natsumi. Tapi, aku tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dari teman. Baginya, aku-kita hanyalah katak bodoh yang menjajah Pekopon.

"Lagipula," ia terhenti. Ia membuang pandangannya dari api unggun. "Lagipula itu bukan tujuanku kemari. Sebagai seorang tentara, aku harus menyelesaikan misi dan menguasai Pekopon. Aku tidak ingin itu menjadi penghalang ambisiku," sambungnya dengan suara bergetar.

"Giroro..." Dororo memanggil, tak yakin harus merespon seperti apa.

Itu benar. Giroro datang dengan semua ambisi dalam jiwanya untuk menginvasi Pekopon. Ia harusnya bisa lebih bertanggungjawab pada misi dan tugas yang diberikan padanya. Tetapi segaanya telah berubah. Ia tidak bisa menginvasi Pekopon dengan segala kekuatan yang dimiliki selama masih ada Natsumi didalam hatinya. Ia tidak bisa bergerak dengan Natsumi didalan jiwanya. Memeluk dirinya ketika badai datang.

Ini bukan keinginanku.

Natsumi, kenapa kau datang dan menjungkir balikkan duniaku?

Kenapa aku harus jatuh cinta padamu, Natsumi?

Natsumi...

Kau memiliki segala kesempurnaan dari semua yang pernah ku lihat. Kau membuatku kalah, dan itu membuatku selalu mengalah. Kau membuatku lemah, dan kini aku tak berdaya. Kau tidak pernah mencintaiku. Kau mencintai dia. Kakak kelasmu, si pria bertopi aneh.

Natsumi, kenapa kau tidak mencintaiku?

Apa karena aku hanya alien katak yang bodoh?

Kau mencintai Saburo, bukan aku.

Ah, aku tak peduli. Jika Saburo bisa membuatmu bahagia, aku takkan keberatan mundur. Namun jika dia membuatmu menangis, akan ku hancurkan Saburo sampai ia tak tahu bagaimana cara untuk bernafas.

Aku takkan pernah pergi, Natsumi, my love.

Giroro bangkit dari duduknya. Suara musik yang nyaring mengganggu pikirannya dan hampir membuat telinganya seakan meledak. Tak ada ekspresi yang jelas di wajah Giroro, bahkan bisa dikatakan ia terlihat datar tak memberikan mimik yang jelas. Tangannya mengepal.

Ia melangkah meninggalkan Dororo tanpa sepatah kata.

"Giroro, kau mau kemana?"

"Mencari ketenangan," jawabnya.

Doror mengerti. Ia tak menghentikan Giroro lagi. Bahkan ketika katak berwarna merah itu mulai mengambil flyernya. Ia telah mengaktifkan mode siluman, lalu melayang tinggi sampai tak terlihat lagi dibalik awan. Dororo tahu kemana Giroro akan pergi, dan ia takkan menghentikannya.

Giroro telah melesat jauh diangkasa. Giroro ak peduli seberapa tinggi ia telah melesat, dan seberapa jauh ia telah pergi meninggalkan pantai dan teman-temannya. Yang ia butuhkan saat ini adalah pergi sejauh mungkin dari segala kebisingan. Lagipula, festival itu tak ada hubungannya dengan invasi ataupun Natsumi.

Giroro tidak tertarik.

Giroro berdiri diatas flyer berwarna merah miliknya. Ia melesat kencang seperti komet diangkasa. Tetapi pada radius seratus meter, ia melihat ada gumpalan awan hitam. Ia menghentikan flyernya tak jauh dari awan hitam itu. Sebuah firasat aneh menyelimuti pikirannya. Ini adalah akhir tahun, tak seharusnya ada awan hujan.

Kecuali ini pekerjaan seseorang. Sersan Mayor Kururu.

Pantas saja. Ia sama sekali tidak terlihat sejak meninggalkan mobil. Pagi tadi Kururu menciptakan alat Pemanggil Hujan. Itu adalah alat yang digunakan untuk memanggil hujan karena pada beberapa saat lalu, Keroro mengeluh jika kelembaban tubuhnya menurun dan butuh air alami. Keroro tidak bisa berendam dengan air dicuaca yang dingin ini. Oleh karena itu Kururu menciptakan alat pemanggil hujan.

Hujan itu hangat di cuaca yang dingin. Giroro semakin yakin jika itu ulah Kururu. Apalagi denga petir menyambar.

Tak ingin tersambar, Giroro memutuskan untuk mendarat disebuah taman kota. Flyernya ia parkiran dipinggir jalan. Giroro duduk disana, dibawah toko yang tutup dengan menyilangkan tangannya. Matanya terpejam, menikmati ritme rintik-rintik hujan.

"Why..."

Suara rintihan tangis seorang perempuan mengganggu Giroro. Ia membuka mata dan menajamkan telinganya. Ia pasti mendengar suara tangisan samar-samar tak jauh daru tempat ia berdiri.

"Please..."

Suara itu semakin kuat. Giroro tak tahan mendengarnya. Ia mungkin tak begitu menyukai makhluk Pekopon selain keluarga Hinata, tetapi bukan berarti hatinya sudah membatu dan menjadi acuh tak peduli. Giroro pun melangkahkan kakinya perlahan menuju sumber suara. Ia langsung mengeluarkan plasma riffle-nya, berjaga-jaga jika kekerasan memang dibutuhkan.

Ia berlari melewati beberapa semak yang lebih tinggi darinya. Kaki-kaki kecilnya menendang genangan-genangan air di atas tanah dan membuatmya kotor. Ia tak peduli dan terus melaju menenteng senjatanya setinggi kepala.

Giroro sampai tepat dihadapan sumber suara itu. Sungguh suatu keterkejutan yang ia dapatkan, dan Giroro tak tahu apakah matanya membohongi dirinya. Apa yang ia lihat, membuatnya terhenti mendadak. Raut wajah terkejut terlihat jelas disana. Tanpa sadar, Giroro menjatuhkan senjatanya diatas genangan air berlumpur.

Seorang gadis dengan sweater cokelat, memiliki rambut berwarna pink tengah menangis dibawah guyuran hujan. Giroro tak mampu berkata-kata. Perasaan campur aduk menguasai dirinya. Didalam hatinya, ia merasakan pedih yang tidak bisa ia jelaskan. Ia merasa seakan-akan ada belati tajam yang mengiris hatinya seperti semangka yang disajikan saat musim panas.

"Apakah dia...kenapa?"

Bagaimana tidak, gadis yang ia cintai tengah menangis seorang diri ditengah hujan lebat seperti ini.

Giroro berdiri disana. Membatu.

"N-Natsumi..." hatinya memanggil.