Hujan turun begitu lebat. Awan-awan hitam menutup langit malam, menghalangi cahaya bulan. Tak ada kilau bintang. Tak ada pula suara nyanyian angin yang berhembus meniup telinga. Begitu sendiri, begitu sepi.

Natsumi menatap langit. Ia tahu hujan akan membuatnya terkena demam esok harinya. Akan tetapi ia telah kehilangan seluruh tenaga dan keinginan untuk pulang. Ia hanya akan ada disana, tanpa suara. Semua gerbong-gerbong berisi ingatan-ingatan, kembali melaju diatas rel pikiran.

Natsumi menunduk. Memeluk dirinya sendiri.

Ia ingin mengambil ponselnya, dan memanggil seseorang untuk menolongnya. Ia ingin ada seseorang yang membantunya berdiri, dan meyakinkan jika semua baik-baik saja. Akan tetapi, itu semua percuma. Ia tahu tak ada siapapun dirumah.

Ini adalah malam tahun baru. Nishigawa Peach Group mengadakan pesta besar di pantai Hicksville. Maka sangat besar kemungkinan tidak satu pun diantara orang-orang rumah membawa ponsel. Ini adalah tahun pertama ia merasakan kesendirian. Itu membuat sebagian dari diri Natsumi, merindukan kegaduhan alien-alien itu.

Tentu ia juga memikirkan itu. Setidaknya jika ada Keroro-Bokegaeru, ia memiliki hiburan tersendiri. Dan mungkin ada alasan untuk meluapkan amarahnya. Yah, walaupun Natsumi tidak akan sampai hati untuk menghajar Keroro habis-habisan. Keroro tak pernah benar-benar belajar dari kesalahannya, namun ia selalu gigih memperjuangkan keinginannya.

Dan jika dipikir-pikir, Keroro memang bodoh. Tetapi dia lebih beruntung ketimbang Natsumi. Keroro selalu memiliki Angol Mois disampingnya, yang tidak akan pernah meninggalkan dirinya dalam keadaan apapun. Yang selalu percaya dan mendukung setiap langkah. Angol Mois tak pernah melepaskan tangannya dari Keroro.

Natsumi mungkin makhluk paling kuat di Pekopon, tetapi tidak paling beruntung.

Natsumi memeluk dirinya semakin erat. Ia memejamkan mata diiringi air mata yang terus mengalir deras. Hujan telah menyamarjan air matanya. Jadi tidak ada yang melihatnya menangis sendiri. Orang-orang mungkin menilai ia gadis gila. Tetapi Natsumi tidak lagi peduli. Ia hanya benar-benar ingin tenang.

Natsumi mendongak ketika menyadari tak ada hujan yang mengguyur tubuhnya. Ia menatap kearah bangku depannya, tetapi hujan terus turun. Bahkan ia bisa mendengar petir yang menyambar dibeberapa tempat. Aneh. Karena disekelilingnya berhenti.

"Hey," suara berat menggannggu Natsumi.

Sontak Natsumi menoleh ke sebelahnya. Masih ada ruang diatas bangku taman itu. Kini, seseorang telah duduk disana dengan membawa payung berwarna merah muda. Ia memiliki kaki kecil mungil, dengan tubuh berwarna merah. Perangainya tenang, meski hatinya berdesir luar biasa.

"Gi-Giroro?" Natsumi memanggil. Ia tak menduga siapa yang datang. Itu jelas diluar dugaannya. "Apa yang kau lakukan disini?"

Ia menggeleng seraya duduk disamping Natsumi. "Aku mendengar suaramu," katanya. "Pepatah tua Keron mengatakan, 'ketika hujan tiba-tiba turun saat pergantian tahun, berarti seorang gadis sedang patah hati untuk yang pertama kalinya."

Itu...entah Giroro mendapatkan ide itu darimana. Tak ada kata-kata semacam itu di Keron. Ia langsung mengutuk diri.

Natsumi menunduk tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis seakan-akan setuju dengan ucapan Giroro. Red Daruma menatap perlahan kearah Natsumi, mendapati air mata Natsumi masih menetes. Meski sudah agak berkurang. Tangannya mengepal, tak suka melihat Natsumi bersedih

"Saburo, ya?" Katanya. Ia membuang muka lalu berdiri. "That son of a bitch! Apa yang dia lakukan padamu?" Ia memberanikan diri untuk bertanya, tanpa memandang wajah Natsumi sedikitpun. Mata kelabunya semakin kelam.

"Bukan suatu masalah besar, Giroro," katanya. Natsumi memaksakan senyuman, jelas agar Giroro tidak khawatir padanya.

"Natsumi." Ia bersuara tegas.

Gadis itu tak punya pilihan lain selain menceritakan keadaannya yang sesungguhnya. Sebenci apapun Giroro melihat Natsumi menangis, ia harus tahu apa dan kenapa. Ia harus tahu siapa yang membuat gadisnya menangis. Tidak ada yang boleh melakukan ini. Tidak selama Giroro masih hidup.

Natsumi mendesah. Ia tahu hanya Giroro yang dia miliki saat ini. Bisikan didalam hatinya terus mengatakan jika ia harus jujur. "Malam ini kami mempunyai rencana untuk menonton kembang api bersama-sama di kota. Tetapi," katanya tersedak air matanya. "Tetapi aku melihatnya bersama perempuan lain. Melody Honey," katanya.

"Bajingan!" Batinnya.

Melody Honey..

Giroro tahu siapa dia. Ia beberapa kali harus berhadapan dengannya saat kontes di pantai bersama Keroro Platoon. Tentu saja. Giroro harusnya tahu. Saburo dengan Melody Honey tampak dekat. Pada beberapa kesempatan Saburo selalu meminta tolong kepada Melody untuk memenangkan gundam untuknya.

Selain itu, Saburo memang misterius. Ia tak tahu apa-apa tentang sosok itu. Namun Giroro juga tidak punya waktu untuk menyelidiki siapa dan bagaimana asal-usul pria itu. Walaupun sebagian waktu Giroro hanya membersihkan senjata.

Ia menyerahkan payung itu pada Natsumi seraya ia mencoba untuk turun dari bangku taman. Tangannya sudah memengang plasma riffle yang selalu ia bawa kemanapun ia melangkah. Bahkan portable wing-nya sudah siap untuk digunakan. "Akan ku habisi bajingan itu!" Giroro mengutuk. Ia telah siap meninggalkan Natsumi untuk menghabisi Saburo.

Tepat setelah Giroro berada setengah meter diatas tanah yang ia injak, Natsumi mencegah langkah Giroro. Tangannya menggenggam erat tangan kecil Giroro. Tangan Natsumi menggenggam tangan Giroro dengan lemah meski getaran yang dialirkan begitu kuat diantara mereka. Kulit basahnya menjamah Giroro, seperti siang menjamah petang.

Giroro masih disana. Diam, tak bergerak. Ia memalingkan wajahnya dari Natsumi agar rona merah di pipinya tak terlihat. Hatinya berdesir hebat.

"Ikanaide—Jangan pergi," kata Natsumi. Ia menunduk, sama-sama tak berani memberikan pandangan balik. "Jangan tinggalkan aku, Giroro."

Natsumi…

Giroro takkan menolak permintaan Natsumi. Terutama detik ini, dimana ia sedang hancur dan sendirian. Ia tentu tahu ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk meningkatkan hubungannya dengan Natsumi pada tingkat yang lebih tinggi. Ia tidak ingin berharap meskipun mimpinya begitu menjulang setinggi angkasa. Yang ia tahu, bagi Natsumi dirinya tidak lebih dari sekedar seorang alien penjajah yang sewaktu-waktu bisa menginvasi bumi dengan rencana jahat.

Ya, itu benar tentang invasi. Tapi dengan cara jahat? Giroro tidak merasa demikian. Meski persenjataan militer Keron begitu mengerikan.

Tentu ada saat-saat dimana mereka mendapatkan momentum bersama. Terlebih dalam medan pertempuran, ketika dirinya ber-partner dengan Natsumi. Mereka terlihat kompak, dan solid seakan-akan telah menjadi partner selama bertahun-tahun. Ada masa-masa dimana mereka saling menangisi satu sama lain, juga saling mentertawakan. Mereka seperti…diciptakan satu sama lain.

Sayangnya mereka tidak merasa demikian. Tapi bagi yang melihat mereka sehari-hari, akan mengatakan hal yang sama jika Giroro dan Natsumi memiliki sesuatu yang disebut chemistry. Bagi Dororo, Natsumi dan Giroro seakan diikat oleh benang merah yang saling menghubungkan satu sama lain. Tak peduli kemana satu akan pergi, maka pada akhirnya mereka akan saling menemukan satu sama lain.

Giroro akhirnya membawa Natsumi ke tempat yang kering dimana mereka bisa berteduh dari derasnya hujan. Amat disayangkan Giroro tak membawa Setelan Pekopon maupun makanan yang bisa mereka makan. Ia tak menduga hal ini akan terjadi. Tetapi bukankah kadang, kebetulan itu indah?

Mereka hanya diam. Natsumi melamun, tangannya belum melepaskan tangan Giroro sejak tadi. Giroro sendiri tak yakin harus berkata apa. Ia hanya bisa mendengarkan dan menemani Natsumi. Giroro tahu, pasti berat bagi Natsumi harus melewati ini sendiri dengan posisi jauh dari keluarga. Adalah sebuah sambaran dari keberuntungan Natsumi tidak sendiri.

"Aku tidak mengerti," kata Natsumi tiba-tiba. Giroro mendongak dan mendengarkan dengan sabar. Mata kelabunya menatap Natsumi tanpa ekspresi. Gadis dengan rambut pink itu menatap tanah yang basah. "Setelah apa yang ku lakukan, ia memperlakukanku seperti ini. Ku pikir dia baik seperti yang selalu ku bayangkan. Tapi.." katanya. Natsumi lagi-lagi menahan air mata.

"Natsumi, kadang pikiran kita adalah penipu paling hebat.." Ia berkata. Terlalu pelan untuk bisa didengar oleh Natsumi.

"Katakan, Giroro," katanya. Ia menatap mata Giroro tajam menuntut sebuah kepastian. "Apa salahku?"

"Kesalahanmu?" Tanya Giroro dengan tegas. Natsumi menatap dengan tatapan menghanyutkan. Giroro membuang pandangannya, tak tahan dengan tatapan Natsumi. Dadanya terasa sesak. "Kesalahanmu adalah membiarkan dia menang atas dirimu," katanya. Giroro tiba-tiba menjadi tegas.

"Apa maksudmu?" Natsumi setengah tidak mengerti.

"Tch!" Giroro berdecak. "Kau membiarkan dirimu hancur demi seseorang yang bahkan tak mempedulikanmu. Kau adalah Natsumi Hinata, makhluk paling kuat di Pekopon. Idola universal. Kau tak pantas disakiti, Natsumi. Kau berhak mendapatkan semua cinta di alam semesta. Natsumi, kau lebih dari yang kau kira. Jangan biarkan satu orang menghancurkan siapa dirimu yang sesungguhnya," kata Giroro.

Itu benar.

"Giroro.." Natsumi tak bisa mengatakan apapun.

"Tidak ada yang boleh menyakitimu, Natsumi. Tidak selama aku masih hidup!" tegas Giroro pada Natsumi.

"Dia tidak pantas mendapatkanmu. Meski aku tak yakin jika diriku sendiri pantas," batin Red Demon of the Battlefield. Giroro tidak yakin apakah Natsumi mendengarnya.

Berbicara mengenai pelindung, sebuah rentetan kereta pikiran menyeruak masuk kedalam otak Natsumi. Ia tak mengatakan apapun kecuali menatap Giroro dengan pandangan penuh tanda tanya. Dan itu, membuat ingatan Natsumi kembali pada tahun-tahun saat ia masih dirumah bertahun-tahun lalu. Dimana mereka sering menghabiskan waktu bersama.

Ia berpikir dan menyatukan semua ingatannya menjadi satu garis. Dengan satu kesimpilan, selama ini yang selalu ada untuknya adalah Giroro.

Ketika Natsumi sedang sedih, Giroro selalu melakukan sesuatu untuk membuat Natsumi tersenyum lagi. Entah merelakan dirinya menjadi kelinci percobaan teman-teman satu peletonnya atau atas inisiatif sendiri.

Ketika Natsumi dalam bahaya, Giroro yang selalu datang dan menyelamatkannya. Ini bahkan lebih tak terhitung dari apapun. Giroro tak pernah membiarkan bahaya mendekati Natsumi meski ia adalah gadis paling kuat di Pekopon.

Lalu ketika Natsumi menjadi objek eksperimen Kururu maupun Keroro, adalah Giroro yang selalu menggagalkan rencana teman-teman satu peletonnya demi menyelamatkan Natsumi. Secara tidak langsung Giroro telah membelotkan tujuan menginvasi Bumi dan malah menyelamatkan korban yang harusnya diinvasi.

Lalu saat Natsumi menunjukkan sedikit afeksinya kepada Giroro, kopral itu selalu salah tingkah. Bahkan detik ini saat tangannya tanpa sadar menggenggam tangan Giroro. Natsumi bisa melihat kucuran keringat dan nafas yang berat. Natsumi mempererat genggaman tangannya, kali ini agak naik kearah nadi Giroro. Ia memejamkan mata dan berusaha membaca ritmenya.

Kini, sebuah tangan kenyataan datang seperti tamparan yang membuka mata Natsumi. Denyut nadinya kuat...dan cepat. Ia seperti dikejar-kejar hantu. Selain itu wajahnya menjadi pucat dan ucapanna terbata-bata.

Ia ingin tahu kenapa Giroro melakukan semua itu. Ia ingin tahu kenapa Giroro selalu mendampinginya dalam keadaan apapun. Ia ingin tahu kenapa Giroro tidak selalu mengikuti ide teman-temannya dalam menjahili dirinya dalam percobaan invasi.

Kemudian pada beberapa lalu, Giroro secara tidak langsung menyatakan jika ia berhasil menginvasi Bumi, maka yang pertama dijajahnya adalah Natsumi. Apa artinya itu?

Apakah Giroro memendam rasa padanya?

Tapi bagaimana mungkin, ia manusia dan Giroro adalah alien?

Bagaimana mungkin, karena Giroro adalah penjajah dan Natsumi adalah yang (seharusnya) dijajah?

Lalu, perasaan bergetar apa ini?

"Giroro…" Natsumi memangil.

"Ah, ya?" jawabnya tenang.

Hujan sudah reda. Baik Natsumi maupun Giroro memandang langit. Rintik-rintik hujan sudah tidak lagi membasahi flying board Giroro.

"Terima kasih, ya," Ujarnya dengan senyum.

Giroro wajahnya menjadi semerah tomat. Ia selalu meleleh saat Natsumi tersenyum seperti itu. Rasanya, hati yang keras itu menjadi luluh. Dan itu membawa kedamaian didalam dada Giroro.

"Ah, itu bukan masalah. Itu gunanya teman," kata Giroro.

"Teman," batin mereka membuat penegasan yang sama.

Giroro berdiri. Ia menatap langit lalu menadahkan tangannya pada Natsumi. Gadis itu melihat kepada lawan bicara sebelum menyentuh tangan kecil itu lagi. Pandangan Giroro lagi-lagi datar. Ia tampak marah, walaupun sebenarnya dia tidak pernah marah. Ia hanya memiliki sumbu pendek.

"Ikutlah denganku," kata Giroro.

Natsumi tidak bertanya kemana Giroro akan membawanya. Tetapi Natsumi cukup percaya jika Giroro tidak akan membawanya ketempat yang aneh-aneh. Dibandingkan dengan teman-teman yang lain, Giroro itu berbeda. Ia mungkin pemarah dan kadang sedikit bar-bar, tetapi dibalik semua itu tersimpan hati yang baik dan jiwa yang lembut.

Natsumi naik keatas flying board dan duduk dibelakang Giroro. Alien merah itu mengaktifkan anti-barrier berbentuk tengkorak dikepalanya agar tidak terlihat oleh orang-orang disana. Kemudian ia memberikan satu kepada Natsumi untuk digunakan. Gadis itu menempelkannya di pundaknya. Dengan begini mereka bisa pergi leluasa tanpa ada yang melihat.

Gps Giroro mengarah menuju suatu tempat yang cukup jauh dari lokasi mereka yang sebelumnya. Tidak ada kata diantara mereka namun Natsumi tampak terpana melihat pemandangan lampu-lampu kota berhias kembang api yang menyala berwarna-warni. Natsumi seakan lupa dengan rasa sakitnya malam ini.

Natsumi tidak tahu kemana Giroro akan membawanya tetapi firasatnya mengatakan bahwa Giroro membawanya berkeliling mengitari Jepang-tidak, mengelilingi Bumi. Dengan teknologi Keron, mengelilingi Bumi tidak akan memakan waktu yang lama. Meski rasanya sangat egois, Giroro menggunakan fasilitas yang diberikan padanya untuk membuat gadisnya bahagia. Well, setidaknya ia tidak menggunakan anggaran invasi untuk membeli gundam plastik.

Disebuah kota di Perancis, Giroro mendaratkan flying boardnya. Tak jauh dari kursi umum. Jalanan tidak begitu ramai. Tetapi banyak orang-orang yang telah berkumpul untuk merayakan tahun baru di sebuah lapangan yang menyelenggarakan festifal. Giroro menarik kontak flying board nya, kemudian turun diikuti Natsumi.

Mereka berjalan menjauh dari kursi publik lalu melihat ada jajaran toko toko brand besar yang biasa ia lihat di film Hollywood. Natsumi, matanya bersinar seperti bintang malam.

"Giroro, apa ini benar-benar Paris?"

"Ya, ini Perancis. Aku tahu kau selalu ingin kemari," kata Giroro. Ia mengaktifkan anti-barrier nya.

"Mengagumkan!" Natsumi berteriak.

"Sepertinya kembang apinya belum dimulai. Sebaiknya kita mencari makanan untukmu. Aku tahu kau lapar," kata Giroro.

Mendengar kata lapar, perut Natsumi berbunyi. Ia tersenyum malu dan meminta maaf atas ketidaksopanan itu. Giroro hanya tertawa. Lagi pula, dirinya sendiri juga kelaparan karena ia hanya minum sake saat pesta. Dan kini dengan udara dingin dan perut lapar menyerang, ia akan menghabiskan sedikit waktu bersama Natsumi di Perancis. Ia takkan keberatan jika harus kelaparan selama ada Natsumi disisinya.

"Tapi aku tidak memiliki uang Euro.."

"Kau tidak perlu khawatir soal itu. Semua anggota Platoon Keroro telah diberikan fasilitas kartu ini," katanya. Giroro menunjukkan sebuah kartu dari kantongnya. "Ini memudahkan kami untuk bertransaksi di negara mana pun di Bumi. Jadi meski pun kau tidak memiliki Euro, bukan masalah."

"Hebaaat!"

"Tapi aku mungkin butuh sedikit bantuan. Aku tidak membawa setelan Pekopon ku," katanya.

Natsumi tertawa kecil. "Serahkan padaku," katanya.

Satu jam berlalu dan mereka duduk di atas sebuah gedung yang menghadap kearah Eifel Tower. Gemerlap cahaya malam di Paris menghiasi wajah mereka dengan kilau kilau suka cita. Dua kotak pizza bertabur keju ditemani dua kaleng soda mendampingi Natsumi dan Giroro.

Natsumi mendengarkan cerita Giroro tentang masa kecilnya dimana ia sering menjahili Dororo. Natsumi beberapa kali terlihat tertawa lepas. Tampaknya Giroro memang payah membuat lelucon sampai setiap guyonannya begitu garing. Natsumi menyadari benar guyonan kacang itu, tetapi ada rasa didalam hatinya yang ingin keluar. Maka ia mengekspresikannya melalui tawa.

"Lalu apa yang dikatakan Joriri tentang perbuatan jahil kalian kepada Dororo?"

"'Itu artinya, semangkuk ramen tidak akan lengkap tanpa wasabi dan cabe. Tapi pada akhirnya ramen akan selalu menjadi ramen'. Itu yang dia katakan." Giroro mengambil nafas panjang. "Kurasa sekarang aku mulai memahami nasihat-nasihat Joriri. Ia mungkin kadang tidak masuk akal tapi ketika ku pikir lagi, kami lebih tidak masuk akal," kata Giroro.

Tak lama ia kemudian tertawa hingga taringnya terlihat. Melihat itu, Natsumi tersenyum manis.