Kala itu aku berada di bantaran sungai. Tidak ada yang kulakukan. Aku hanya memeluk lututku diam.

Aku sendirian.

Seluruh pikiranku melayang di dalam luasnya semestaku sendiri. Terus meratapi segala hal yang sudah terjadi dalam kehidupanku. Kepalaku mulai menunduk. Aku melepaskan pelukan kepada lututku. Aku berdiri. Sebelum berangkat tadi aku membawanya, jadi kurogoh kantongku, dan aku mengeluarkan sebuah pisau lipat.

Aku akan melakukannya. Sudah tidak ada lagi yang penting di dunia ini. Langsung saja, aku mengangkat tanganku. Berniat untuk menghujam dada dengan pisau itu.

"Hei! Apa yang kau lakukan?!"

Siapa itu? Aku mendengar seruan untukku. Entah kenapa aku tercekat. Tanganku yang sudah bergerak menghujam tiba-tiba berhenti. Tubuhku menegang seluruhnya.

"Apa yang kau lakukan?! Bunuh diri tidak akan menyelesaikan apapun!"

Lalu kenapa? Tidak ada lagi yang bisa dilakukan!

Hidup ini menyakitkan.

Hidup ini siksaan!

"Tidak akan ada gunanya untuk mengakhiri hidup sekarang. Aku tidak tau apa yang sudah terjadi kepadamu, tapi… Move on, boy. Life must go on. Ketahuilah ada ribuan orang yang memohon-mohon untuk memperpanjang hidupnya mereka. Dan kau di sini? Kenapa kau ingin mengakhiri hidupmu?

It's never too late to start again. You're awesome. You're wonderful. The world still need you. Ingat seberapa banyak kenangan menyenangkan yang sudah kau dapat. Gunakan itu sebagai pegangan. Kau hebat…"

Tenggorokanku terasa lebih tercekat. Lidahku kelu. Tubuhku seolah melemas tanpa memiliki tenaga sedikitpun.

Sialan!

.

.

.

Sialan! Kenapa aku begitu bodoh?! Dia benar… Dunia ini bukan tidak adil. Aku hanya tidak bersyukur dengan apa yang sudah kumiliki…

Aku melihat ke arah pisau lipatku yang tergeletak di rumput. Aku mengambilnya lalu membuangnya jauh ke tengah sungai.

Dasar pisau sialan!

Tidak lagi aku melakukan hal itu. Itu hanya akan membuat teman-teman dan seluruh anggota keluargaku yang tersisa sakit. Aku tidak mau seperti itu… Mereka akan kecewa denganku.

Beberapa saat aku terlarut dalam pikiranku, aku teringat sesuatu.

Hei tunggu sebentar. Tadi ada seseorang yang meneriakiku. Aku harus berterima kasih kepadanya. Dia sudah menyelamatkanku dari keterpurukan.

Aku membalikkan tubuhku.

Dia sudah tidak ada.

Aneh, memangnya tadi suara hantu? Hiii… Tidak mungkin. Aku akan naik.

Ketika kulangkahkan kakiku naik ke dataran yang lebih tinggi, aku melihatnya. Seorang perempuan muda. Pasti dia. Lagipula, suara yang tadi adalah suara yang feminim.

"Heii! Terima kasih!"

Ah, dia tidak mendengarkanku ya. Kurasa lain kali aku akan mencari dan berterima kasih langsung kepadanya. Ada sebuah ciri-ciri yang bisa dengan sangat jelas kuingat dari perempuan muda itu. Rambutnya.

.

.

.

Surai perak panjang yang indah.

.

.

.


Haru!

(Musim Semi)

Disclaimer: Naruto maupun High School DxD bukan punya saya!

Rate: T

Genre: Drama, Romance.

Warning: OOC, AU, typo, miss typo, gak jelas, aneh? Mungkin banget


.

.

.

Setahun kemudian

Kuoh Academy, sebuah sekolah setingkat menengah atas yang terletak di Kota Kuoh. Sekolah ini dulunya merupakan sekolah khusus perempuan, tapi beberapa tahun yang lalu dibuka untuk umum atas kebijakan dewan guru dan komite. Ketika peresmian kebijakannya, pendaftar sebagai calon siswa laki-laki tidak langsung berada di jumlah yang tinggi. Ada perbedaan 7:3.

Kuoh Academy, atau biasa disebut KA dikenal karena memiliki kualitas tinggi dalam memberikan berbagai macam pelajaran kepada peserta didiknya. Seluruh tenaga pengajarnya diharuskan memiliki kompetensi yang tinggi untuk menjamin output dari siswa dari sekolah ini. Banyak yang merupakan guru-guru senior, tapi tidak sedikit pula yang masih muda.

Tepat hari ini, KA akan melakukan upacara kelulusan angkatan ke 17. Bukan hanya siswa tahun ketiga yang akan mengikuti upacara ini, tapi juga siswa tahun pertama dan kedua. Mereka para kohai diharapkan datang sebagai tanda penghormatan kepada senpai mereka.

[Seluruh siswa dan tenaga pengajar diharapkan untuk siap di aula dalam waktu 10 menit.]

Sebuah pengumuman diucapkan melalui ceiling sound yang ada di seluruh kelas dan beberapa titik di sekolah. Pengumuman ini didengar oleh seluruh siswa. Banyak siswa mulai merapikan diri mereka sebentar, lalu bersama-sama jalan ke aula yang berada di gedung depan KA.

Begitu juga dengan para yang sedang berada di ruang guru. Terlihat seorang wanita muda berumur 23 tahun sedang duduk di kursi kerjanya. Namanya adalah Grayfia Lucifuge. Dia adalah seorang guru muda yang baru setahun ini mengajar di KA. Grayfia mengajar untuk kelas tahun ketiga. Ilmu sosial adalah mata pelajaran yang menjadi spesialisasinya dalam mengajar.

Grayfia adalah seorang guru muda yang datang dari latar belakang buruk. Dia adalah seorang yatim piatu. Hanya nama dan marganya yang bisa diingatnya sekarang. Umurnya masih terlalu muda untuk bisa mengingat nama dari kedua orang tuanya. Dia bisa mengingat wajah mereka, tapi tidak dengan bagaimana saja mereka. Grayfia dibesarkan oleh keluarga rendah hati yang senang memberikan bantuan.

Bangsawan Gremory. Mereka membesarkan Grayfia tanpa meminta apapun, tapi Grayfia tidak bisa merasa seperti itu. Dia paham dengan dunia yang memiliki sistem, tidak ada yang gratis. Dia memutuskan untuk menjadi pembantu di usia muda, terlepas dari potensi akademiknya yang tinggi. Kepala keluarga Gremory menyadarinya dan memutuskan untuk menyekolahkan Grayfia. Sampai saat ini, dia sudah dilepas oleh keluarga Gremory. Menjadi seorang guru SMA di usia muda.

Sekarang, Grayfia sedang menatap bingung ke sebuah surat putih yang ada di atas mejanya. Lama dia hanya menatap ke surat itu tanpa membukanya. Dia sudah memikirkan beberapa kemungkinan siapa yang memberinya sebuah surat seperti ini. Jangan-jangan ini adalah surat peringatan dari kepala sekolah? Kalau diingat-ingat dia saja tidak pernah melakukan kesalahan fatal selama setahun mengajar di sini. Grayfia mengedikkan bahunya. Dia berniat untuk membukanya saja. Siapa tahu dia bisa mengetahui siapa yang mengiriminya.

Ohayou, Grayfia-sensei.
Kumohon, datanglah ke atap sekolah setelah upacara kelulusan. Saya akan menunggu anda di sana. Akan menjadi sebuah kehormatan untuk saya jika anda berkenan untuk datang.

Grayfia mengernyit heran. Siapa pula yang memintanya untuk datang ini? Dari caranya memanggil, kemungkinan besar pengirimnya adalah seorang siswa. Lagipula, dia sepertinya sedikit familiar dengan tulisan tangan ini.

Dalam hati kecilnya dia berharap bahwa yang memberinya surat adalah orang yang dicintainya. Benar, Grayfia memiliki seseorang yang spesial dalam hidupnya. Itu adalah seseorang yang berharga. Seorang pemuda yang berumur lima tahun lebih muda darinya. Seorang pewaris dari sebuah klan besar. Meskipun begitu bukan warisan yang membuat Grayfia mencintainya. Pemuda itu adalah seseorang yang luar biasa. Seorang pemuda yang bagaikan matahari di musim dingin tanpa akhir. Pemberi kehangatan untuk setiap orang yang ada.

'Ah, paling ini cuma surat iseng yang dikirim untukku. Hari terakhir sekolah pasti membuat siswa ingin melakukan hal-hal usil,' pikir Grayfia mencoba meyakinkan dirinya untuk tidak memikirkan surat ini. Dia kemudian melipatnya kembali, memasukkannya ke dalam kantong jas berwarna biru mudanya.

Wanita muda itu berdiri lalu bergegas menuju ke aula karena dia sudah membuang-buang waktunya selama beberapa menit untuk berdiam diri di sini. Akan gawat kalau dia terlambat datang ke aula. Bisa-bisa dia dicap memberikan contoh buruk kepada murid karena terlambat saat ada acara penting.

'Yah, sudahlah.'

.

.

.

Aula sudah penuh. Karpet merah terpasang anggun di tengah aula, sampai naik ke panggung yang di tengahnya ada sebuah podium. Terlihat tatanan kursi rapi yang dibagi menjadi 13 saf dan 20 banjar. 10 banjar yang terdapat di sebelah kanan karpet merah, diperuntukkan kepada siswa tahun pertama, lalu 10 banjar yang lain terdapat di sebelah kiri karpet untuk siswa tahun kedua.

Di kiri kanan podium, ada tatanan kursi untuk para dewan guru. Di belakangnya masih ada banyak kursi untuk para siswa tahun ketiga. Jika dilihat, beberapa kursi untuk siswa tahun ketiga terlihat kosong.

Bisik-bisik terdengar cukup keras di sini. Menunjukkan siapapun di sini cukup antusias dengan upacara yang hanya dilakukan setahun sekali ini.

KRIEETT…

Pintu aula dibuka.

Terlihat sebuah barisan di sana. Ada seorang siswa yang memegang tongkat. Di ujung tongkat itu terpasang sebuah bendera dengan logo Kuoh Academy. Semua orang mengenalinya sebagai siswa tahun kedua, Issei Hyoudou.

Di belakangnya terlihat seorang pemuda pirang berdiri tegap. Di bagian dada blazernya, terlihat sebuah rantai emas yang tergantung. Itu adalah rantai penghormatan. Dari seluruh siswa yang akan diluluskan, hanya ada satu yang menggunakannya, dan itu adalah dia.

Barisan itu mulai berjalan. Mereka berjalan anggun dan gagah di tengah karpet merah. Menyita atensi seluruh kepala di ruangan ini. Tidak ada bisik-bisik seperti tadi. Hanya tersisa tatapan dan ekspresi kagum yang ditujukan kepada orang-orang itu. Para lulusan dengan prestasi terbaik.

Barisan berhenti ketika sudah sampai di tempat mereka duduk. Issei Hyoudou memisah, lalu naik ke atas panggung untuk menancapkan tongkat bendara itu di wadah yang berada di belakang podium.

"Upacara kelulusan angkatan ke 17 akan segera di mulai. Waktu dan tempat dipersilahkan untuk kepala sekolah."

Kepala sekolah naik ke atas panggung lalu menuju podium. Dia memberikan pidato panjang yang sebenarnya malas didengarkan oleh siswa.

"Sekarang, pidato dari perwakilan angkatan ke 17. Mantan Ketua OSIS mengamanatkannya kepada, Naruto Namikaze."

Pemuda pirang yang tadi menggunakan rantai emas di blazernya berdiri dari tempat duduknya. Dia turun untuk memberikan sebuah penghormatan penuh kepada kepala sekolah. Setelah itu dia naik ke panggung untuk menuju podium.

Wajahnya terlihat kalem hari ini. Melukiskan sebuah senyuman lembut yang membuat siapa saja merasa tenang. Bahkan ada beberapa siswa yang tersipu ketika merasa bahwa dia melakukan kontak mata dengan Naruto.

"Terima kasih atas kesempatan ini. Saya merasa terhormat untuk bisa berada di tempat ini."

Grayfia, yang duduk di barisan seberang tersenyum ketika tipis melihat Naruto. Naruto adalah salah satu murid yang paling dekat dengannya. Seorang pemuda cerdas, yang selalu bermain-main dengan yang namanya sekolah. Tidak pernah sehari pun yang diketahui Grayfia, pemuda itu bisa belajar dengan tenang. Pasti ada saja ulahnya. Meskipun begitu, dia adalah seseorang yang dikenal oleh semua siswa. Tentu saja karena ulahnya.

Naruto berpidato. Seluruh mata tidak ada yang terlepas darinya. Tentu saja dia berhasil menyita perhatian semuanya. Karisma miliknya entah kenapa menguar begitu jelas hari ini. Postur tubuhnya serta cara berbicaranya terlihat sangat berwibawa. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang dia dikenal terlalu santai, selalu membuat masalah, dan kadang beringas dalam menjalani hidup.

Naruto yang dihadapan semua orang hari ini, hampir kebalikan dari Naruto biasanya.

"Kuoh Academy adalah tempat luar biasa bagi para remaja. Ribuan pengalaman berharga bisa didapatkan di sini."

Postur tubuh Naruto terlihat melemas. Dia mulai terlihat rileks. Senyuman lembutnya berubah menjadi yang lebih lebar. Sebuah helaan nafas lelah dibuangnya ke samping sejenak. Kedua safirnya begitu cerah menatap teman-teman seangkatannya.

"Astaga… Tidak kusangka tiga tahun berlalu dengan sangat cepat. Aku memiliki tema- tidak. Sahabat-sahabat hebat disini! Bahkan mungkin harus kukatakan saudara. Ada sebuah ruang yang secara khusus kudedikasikan untuk seluruh saudaraku di Kuoh Academy."

Beberapa orang mulai melihat Naruto dengan berkaca-kaca.

"Kehidupan SMA kita yang luar biasa akan berakhir sesaat setelah kita keluar dari halaman sekolah ini. Apapun yang kalian inginkan segera lakukanlah. Ukirlah kenangan terindah kalian sebelum melangkah keluar menuju dunia yang lebih keras dan kejam."

Sebuah lirikan dilihat dengan jelas oleh Grayfia. Naruto meliriknya dengan tatapan lembutnya. Ah, dia akan merindukan kedua mata biru itu.

Pidato Naruto diteruskan sampai ke kalimat terakhirnya.

"Terima kasih untuk segalanya. Kalian yang terhebat!"

Naruto turun dari podiumnya. Menatap cerah seluruh teman-temannya.

Seluruh orang bertepuk tangan keras-keras. Siapa yang menyangka bocah pembuat onar seperti Naruto bisa berpidato sebagus itu?

Acara dilanjutkan sampai beberapa saat ke depan.

Tidak terasa, upacara itu selesai. Semua orang mulai berhamburan keluar. Ada banyak orang yang berpelukan. Sesama siswa tahun ketiga, siswa tahun ketiga dengan kohai-kohainya.

Grayfia keluar dari aula. Sekumpulan siswa terlihat mengerubunginya. Ada beberapa siswa perempuan memberinya pelukan selamat tinggal. Mereka mulai berbincang-bincang ringan.

"Sial! Aku tidak bisa bertemu dengan Grayfia-chan lagi!" seru seorang pemuda berambut coklat jabrik kurang ajar.

"Tentu saja bisa, Inuzuka-kun. Datang saja ke sini kan bisa," jawab Grayfia kalem.

"Kurasa akan lebih pantas kalau kau mendaftar lagi saja, Kiba. Kan pikiranmu masih seperti anak SMP," celetuk seorang gadis pirang ponytail.

"Ino! Kau menghinaku!"

Tawa pecah di sana. Grayfia menatap murid-muridnya dengan senyuman tipisnya.

"Wah hei! Guru kita yang dingin ini tersenyum loh! Lihat lihat!"

Grayfia semakin melebarkan senyumannya menjadi senyum simpul. Dia melihat mereka satu per satu dengan tatapan dalam. Ada si dingin Uchiha, gadis semangat Haruno, rusa pemalas Nara, Akimichi yang suka makan, Yamanaka si gadis populer, gadis pemalu Hyuuga, pecinta anjing Inuzuka, dan si introvert Aburame. Kok rasanya aneh ya.

Ah!

Grayfia menyadari ada yang kurang dari kelompok ini.

"Dimana Namikaze-kun? Biasanya dia tidak pernah lepas dari kalian," ucap Grayfia.

"Oh, itu sensei. Dia bilang sedang ada urusan, jadi dia pergi," jawab gadis berambut merah muda. Itu adalah Sakura Haruno.

"Tumben sekali," ucap Grayfia heran. Tidak biasanya Naruto mementingkan hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan sahabat-sahabatnya ini.

"Dia bilang, sangat-sangat penting, sensei," ucap Sasuke dengan penekanan di kata sangat.

Grayfia mengernyit heran, lalu entah kenapa dia teringat dengan sesuatu.

"Uhm… Kalau begitu sampaikan salamku untuknya nanti. Kurasa aku harus pergi sekarang," pamit Grayfia.

"Baik, sensei. Terima kasih banyak!"

Wanita muda itu melenggang dari tempat itu.

Pikirannya terpaku pada surat yang secara aneh ada di mejanya di ruang guru tadi sebelum upacara kelulusan. Tentu saja dia merasa bahwa tulisannya familiar. Pasti itu adalah tulisan tangan dari siswa yang sering diajarinya.

Kakinya melangkah naik ke tangga. Tujuannya adalah atap.

Meskipun Grayfia sendiri tidak yakin dengan siapa yang bisa saja muncul di sana nanti, tidak ada salahnya kan mencoba untuk melihat dan memeriksa apakah ada orang di atas sana.

Setelah belokan terakhir, Grayfia melihat pintu yang memisahkan ruangan tangga ini dengan atap. Langsung saja dia membuka pintu itu.

Cklek…

Angin sepoi-sepoi langsung bertiup ketika Grayfia membuka pintu. Membuat rambutnya sedikit berantakan. Grayfia sedikit merapikan poninya sebelum melangkah keluar. Kakinya melangkah sedikit lebih jauh setelah menutup pintu atap itu.

Matanya membulat ketika melihat seseorang yang berdiri membelakanginya. Tidak perlu orang itu berbalik pun Grayfia sudah tahu itu siapa. Rambut ikonik milik orang itu, postur tubuhnya, aura yang menguar.

Dia kenal dengan itu semua.

Merasa diperhatikan, pemuda yang sedang menatap ke bawah itu membalikkan badannya. Senyuman lebar langsung merekah di wajahnya. Rasa senang terasa memenuhi dadanya.

"Hei! Kau datang, sensei."

.

.

.

"Namikaze-kun."

Dia adalah Naruto Namikaze. Siswa yang baru saja secara resmi diluluskan dari sekolah ini. Salah satu siswa pemilik reputasi unik di kalangan siswa. Dia sedang berada di depannya.

Naruto berjalan mendekat ke arah Grayfia, lalu menarik tangannya untuk mengikutinya. Mereka duduk di sebuah kursi panjang yang ada di sana.

Pandangan keduanya berada di titik yang sama. Mereka menatap langit biru yang berawan. Matahari tidak terlihat karena tertutupi awan putih di langit. Membuat yang berada di sini tidak kepanasan. Hanya rasa sejuk dan nyaman yang ada.

"Cepat sekali kan?"

Grayfia diam tidak menjawab. Mungkin mendengar Naruto adalah hal yang paling pas untuk dilakukannya sekarang.

"Kau tau, sensei? Tentang kehidupanku di sekolah ini sebelum kau datang mengajar di sini," tanya Naruto.

Grayfia masih tidak menjawab, tapi mengalihkan pandangannya kepada Naruto. Naruto yang dilihat malah mendongak lagi setelah mereka melakukan kontak mata.

"Aku hanya seorang pemuda pembuat onar. Hampir setiap hari aku masuk ke dalam ruang konsultasi. Tidak banyak orang yang mau menjadi temanku dulunya."

"…"

"Kalau diingat-ingat, itu sebenarnya bukan sesuatu yang menyenangkan."

Benar, masa-masa itu adalah masa yang tidak menyenangkan bagi Naruto. Ada sebuah hal yang melatar belakangi seluruh ulah Naruto. Bukan sesuatu yang sepele.

Senyuman masam terkembang di wajahnya. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku jatuh, sensei…"

"… Apa… Apa yang terjadi?" tanya Grayfia pelan. Sedikit banyak dia cukup penasaran dengan ini.

Naruto menghirup nafas panjang, lalu mengeluarkannya.

"Tepat hari ini, tiga tahun yang lalu adalah hal yang mendasari semuanya."

Grayfia menatap Naruto lebih penasaran. Meskipun begitu, dia tidak berbicara. Membiarkan Naruto mengeluarkan apa yang dipendamnya.

"Ada… sebuah insiden."

Insiden? Insiden apa?

"…"

"Tou-chan… dan Kaa-chan…"

Grayfia mulai mendengar getaran di nada bicara Naruto. Dia bisa melihat dengan jelas bibir Naruto sedikit bergetar. Dia mulai paham dengan jalan cerita ini. Dia tahu apa yang dimaksud Naruto. Grayfia menggigit bibir bawahnya.

'Tidak… Jangan katakan… Jangan katakan…'

"Kecelakaan. Terowongan bawah tanah Kuoh."

'Jangan katakan, Naruto…' mohon Grayfia dalam hati.

"…"

"Mereka… meninggal."

DEG!

Tubuh Grayfia lemas. Dadanya terasa sesak. Hatinya mencelos ketika mendengar dua kata yang diucapkan Naruto. Kedua matanya menatap Naruto tidak percaya. Dia sudah mengerti tanda-tanda awal cerita Naruto, tapi tetap saja terasa sakit ketika mendengarnya.

"Mereka dalam perjalanan untuk mencariku yang sedang kabur dari rumah. Sungguh itu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan… Jika aku tidak pergi… mereka pasti…" isak Naruto menggantung. Air matanya sudah turun.

Grayfia menggerakkan tangannya untuk membelai lembut pundak pemuda di depannya.

"Tidak apa-apa… Sudahlah."

Jadi begitu… Dia paham sekarang.

"Setelah itu aku hanya tidak tau bagaimana caraku melepaskan semua getaran yang ada di dalam tubuhku. Aku tidak tau bagaimana caranya melampiaskan emosiku. Semua sahabatku hanya bisa menyemangati pelan pelan. Mereka juga tidak tau apa yang harus dilakukan," ucap Naruto cepat. Nadanya meninggi.

Tidak pernah disangkanya. Naruto, seseorang yang selalu terlihat ceria disetiap momen, yang tidak pernah menunjukkan ekspresi sedih sekali pun, yang selalu menolong teman-temannya di banyak kesempatan, yang bahkan rela terpuruk untuk semua orang, dia memiliki masa lalu yang seperti ini.

Naruto dengan cepat mengusap sedikit air matanya dengan kasar.

"Tapi itu semua tidak masalah."

"A-Apa maksudmu?"

Naruto menatap Grayfia dalam-dalam. Ekspresi wajah Naruto berubah 180 derajat. Tidak ada lagi aura kesedihan, tidak ada lagi ekspresi muram. Semuanya berganti menjadi sebuah wajah penuh syukur dengan sebuah senyuman lega.

"Ingatkah sensei saat pertama kali bertemu denganku?"

Grayfia bahkan sama sekali tidak ingat. Memangnya bagaimana dia dan Naruto pertama kali bertemu? Seingatnya hanya terjadi biasa saja, di kelas ketika dia mengajar.

"Kuanggap tidak."

Memang tidak.

"Tahun lalu, aku sedang berada di bantaran sungai. Duduk di pinggir. Aku sangat terpuruk saat itu. Aku lelah. Aku muak. Aku ingin membunuh hidupku saat itu juga."

Memangnya pernah terjadi yang seperti itu? Grayfia tidak tahu bahwa Naruto pernah berpikir ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Tunggu sebentar!

"Hei, kau hadir di sana sensei. Aku tidak tau namamu dan begitu pula denganmu. Tapi aku sangat yakin aku bisa mengingatmu dengan jelas."

'Jadi… cowok pirang yang dulu itu dia ya?' batin Grayfia terkejut. Dia tidak terlalu tau karena ketika itu dia hanya berbicara dari belakang Naruto. Dia tidak sempat melihat wajahnya untuk sekedar mengobservasi dan mengingatnya. Ketika dia melihat cowok pirang yang didapatinya hendak mengakhiri hidupnya membuang pisau, dia lega dan memutuskan untuk meninggalkannya. Jadi dia tidak tahu kelanjutannya.

"…"

"Aku masih ingat dengan jelas kau bilang,

"Tidak akan ada gunanya untuk mengakhiri hidup sekarang. Aku tidak tau apa yang sudah terjadi kepadamu, tapi.. Move on, boy. Ketahuilah ada ribuan orang yang memohon-mohon untuk memperpanjang hidupnya mereka. Dan kau di sini? Kenapa kau ingin mengakhiri hidupmu? Life must go on. It's never too late to start again. You're awesome. You're wonderful. The world still need you. Ingat seberapa banyak kenangan menyenangkan yang sudah kau dapat. Gunakan itu sebagai pegangan. Kau hebat…"

…Aku masih mengingatnya. Segar sekali di kepalaku," seru Naruto antusias. Tawanya terpecah begitu saja. Naruto geli sendiri dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Tidak pernah disangkanya dia begitu bodoh dan berniat bunuh diri.

Tawa Naruto terhenti. Dia menatap Grayfia semakin dalam.

"Itu adalah saat dimana sensei menyelamatkanku dari jurang kegelapan yang menelanku. Ribuan rasa bersalah yang ada di dalam dadaku terangkat begitu saja. Aku menyadari kalau kau menarikku secara paksa untuk kembali melangkah. Aku bangkit, membuat relasi sebanyak mungkin, mengukir hidupku dengan kenangan menyenangkan."

Grayfia tersenyum lembut. Setidaknya, dia bersyukur karena sudah berhasil membantu seseorang melewati masa sulitnya. Sungguh, dia merasa bahwa dia memberikan manfaat yang nyata sekarang.

"Arigatou na, sensei!" seru Naruto dengan senyuman lebar. Dia sudah tidak apa-apa sekarang.

"Douitashimashite, Namikaze-kun…"

Naruto tertawa mendengarnya.

Pemuda itu berdiri dari duduknya dan melihat ke arah Grayfia.

"Ayolah, sensei. Jangan kaku begitu. Sudah berapa kali kubilang untuk memangilku Naruto saja," canda Naruto sambil tertawa di akhir kalimat.

Grayfia sedikit terkejut. Dalam hati kecilnya sih dia sangat ingin untuk memangil muridnya yang satu ini seperti itu.

Ada sebuah rahasia kecil yang dimiliki olehnya, hanya disimpan sendiri untuknya.

Pemuda pirang di depannya ini. Yang sedang tersenyum lebar kepadanya, adalah satu-satunya lelaki yang berhasil mencuri seluruh perhatiannya. Tidak hanya itu, dia berhasil mengambil hati Grayfia. Hanya pemuda ini. Tidak ada yang lain.

Seluruh hal yang mereka lalui selama setahun terakhir, meskipun hanya hal-hal sepele membuat Grayfia memiliki sebuah perasaan mendalam kepadanya.

Tapi, dia ingat. Grayfia bukan siapa-siapa. Bahkan dia saja tidak memiliki keluarga. Dia besar sebagai seorang pembantu di sebuah keluarga besar, sebelum dia disekolahkan menuju jenjang yang lebih tinggi atas kerendahan hati majikannya.

"Tidak bisa. Tidak sopan kalau aku memanggil nama kecilmu," tolak Grayfia. Berat sekali dalam hatinya dia mengatakan itu.

Naruto mengernyit heran. Dia tidak puas dengan jawaban yang didapatnya. Sedikitpun tidak!

"Kenapa? Kan aku sendiri yang memintamu."

Tidak ada jawaban yang didapat oleh Naruto. Naruto bisa melihat dengan jelas ketika kepala Grayfia menunduk.

Grayfia tidak mau menjawab. Tidak perlu. Memanggilnya dengan nama kecil hanya akan membuat Grayfia semakin merasa bersalah. Dia sudah cukup merasa bersalah karena memiliki perasaan yang lebih kepada muridnya. Itu bukan sebuah perasaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru.

Tanpa dijawab, Naruto kembali membuka mulutnya untuk berbicara.

"Sensei…

.

.

.

Aishiteiru."

DEGG!

Jantung Grayfia seolah berhenti berdetak.

'Ap-Ehh?!'

Tidak pernah disangkanya kata itu keluar dari mulut seseorang yang selalu berada di dalam pikirannya selama setahun terakhir. Naruto… Dia serius berkata seperti itu kepadanya? Senang. Grayfia sangat senang rasanya. Tapi dia harus kembali mengingat posisinya sebagai seorang guru.

Digigitnya bibir bawah miliknya sampai memerah.

Wanita muda itu tidak menjawab apapun lalu berdiri. Langkah kakinya membawa tubuh rampingnya menjauh dari sana.

"Kau sedang bercanda kan, Namikaze-kun? Kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi bukan. Kalau kau hanya ingin berterima kasih, tentu saja. Adalah sebuah penghormatan bagiku untuk membantu orang lain," ucap Grayfia tanpa berhenti atau sekedar menoleh.

Membuat Naruto langsung berteriak.

"Tidak! Aku serius, sensei!" seru Naruto.

Meskipun begitu, Grayfia tidak berhenti. Gigitannya di bibir semakin menguat. Air mata mulai menumpuk di kelopak matanya. Dia sangat senang mendengar teriakan penuh tekad milik Naruto, tapi dia tidak akan pernah berbalik. Dia tidak mau.

"Kumohon, berhentilah!"

'Sudahlah!' jerit Grayfia dalam hati. Tidak bisa. Dia hanya seseorang yang biasa. Tidak akan pernah bisa disandingkan dengan seseorang berlatar belakang seperti Naruto yang bergelimang harta. Dia tidak berhak atas seseorang yang seperti itu.

"Grayfia!"

'Kalau lebih dari ini… Aku bisa-bisa berbalik, Naruto-kun… Kumohon hentikan…'

Air matanya yang sudah menumpuk mulai turun. Dia tetap tidak menghentikan langkahnya. Jaraknya semakin menjauh dari Naruto. Di depan sana adalah pintu yang membatasinya dengan ruang tangga. Dia harus bisa pergi dari atap sebelum dia meluapkan seluruh perasaannya sendiri.

Tidak pernah disangkanya-

GREPP!

Sepasang lengan mendekap tubuhnya dari belakang.

"Kumohon… Berhentilah."

"Tidak!" jerit Grayfia. Dia bisa merasakan tubuh yang secara sepihak mendekapnya tersentak.

"Aku adalah senseimu, Naruto-kun! Da-"

Tenggorokan Grayfia langsung tercekat ketika dia merasakan dekapan itu mengerat. Dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk meneruskan ucapannya.

"Kamu memanggil namaku."

Lebih banyak air mata jatuh. Tubuhnya semakin melemas. Grayfia menggerakkan tangannya untuk mengusap-usap seluruh air matanya.

"Dengar, aku sudah lulus. Jadi, pada dasarnya aku sudah bukan muridmu lagi. Itu bukan sebuah alasan untuk menolakku."

Kalimat itu terdengar lembut di samping telinga Grayfia.

"Hikss… Meskipun begitu… A-Aku bukan apa-apa, Naruto-kun…" jerit Grayfia.

Sungguh, dia tidak peduli apapun lagi. Yang ingin dia katakan adalah segala hal yang ada di hatinya. Kegundahan hatinya, rasa insecure yang selalu dirasakannya, segalanya. Cuma kepada pemuda ini. Cuma dia.

"A-Aku.. c-cuma seorang yatim piatu… Hikss… Aku dingin… Aku tidak manis seperti gadis-gadis yang lain…" isak Grayfia.

Sebuah senyuman cerah mulai terlukis di wajah Naruto.

"Itukah masalahnya?" tanya Naruto pelan.

"Tentu saja itu masalah! Hikss.." jerit Grayfia sambil membalikkan tubuhnya lalu mendorong Naruto sedikit menjauh. Dia tidak peduli Naruto melihatnya begitu menyedihkan dengan seluruh air matanya.

Rasanya dia semakin tercekat ketika melihat Naruto hanya tersenyum.

"Yatim piatu? Lalu kenapa dengan hal itu? Aku juga sama. Bahkan kamu yang menyelamatkanku. Dingin? Tidak manis? Lalu kenapa?! Apa ada yang salah dengan semua itu? Tidak!" ucap Naruto lantang.

Grayfia tidak bisa berkata-kata lagi.

Naruto mendekat untuk memberikan pelukannya sekali lagi.

"Bahkan kalau kamu tidak manis. Bahkan kalau kamu terus memberiku sikap dinginmu. Bahkan kalau kamu sudah menjadi tua sampai tidak seperti sekarang… Kamu tetaplah kamu. Grayfia Lucifuge. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Ikuti saja alur Tuhan.

Setiap manusia pasti memiliki sisinya sendiri-sendiri. Manusia berbeda-beda dan penuh cela supaya mereka saling melengkapi," ucap Naruto sambil mengelus surai perak Grayfia.

"Lagipula… inilah kamu. Grayfia yang kucintai. Bukan orang lain. Cuma kamu saja."

Deras sekali air mata Grayfia turun. Dia sudah tidak bisa menahannya.

Mendengar seluruh kata yang terucap dari pemuda pirang itu. Membuat Grayfia merasakan ribuan kupu-kupu seolah menari di perutnya. Dia juga merasakan tubuhnya terbang ke langit setinggi yang bisa dia lihat.

Mungkin benar… Dia hanya harus mengikuti alur Tuhan. Ini adalah alur untuknya.

Digerakkannya kedua lengan miliknya untuk membalas pelukan Naruto.

.

.

.

"Arigatou… Naruto-kun."

.

.

.

fin


Kok bisa?! Ini adalah kali pertama nulis romance. Nggak tau feelnya ngena atau nggak. Yang penting coba dulu.

Entah saya dapet inspirasi dari mana, yang jelas saya pengen bikin plot ini. Mungkin karena inget manga domekano sih.

Makasih sudah baca!


.

.

Omake

.

.

Sekarang bulan April. Musim semi sudah tiba di Kuoh.

Kuoh Academy beroperasi seperti biasa. Seluruh kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar. Semua murid antusias, begitu pula para tenaga pengajar.

Meskipun bel pulang sudah terdengar sekitar 20 menit yang lalu, tapi masih ada banyak siswa yang berkeliaran di Kuoh Academy. Para tenaga pengajar juga sebagian besar masih berada di ruang guru. Termasuk seorang wanita muda bersurai perak panjang.

Dia adalah Grayfia.

Kakinya melangkah keluar dari ruang guru setelah mengucapkan salam. Dia sudah selesai dengan segala urusan pekerjaannya. Yang ingin dilakukannya sekarang hanya pulang dan bersantai.

Beberapa kali Grayfia berpapasan dengan muridnya. Mereka semua menyapanya. Tentu saja, banyak dari mereka yang mengidolakan guru mereka yang satu ini. Terlebih yang laki-laki. Siapa yang tidak tertarik dengan guru muda yang cantik, pintar, dan dingin ini? Ada banyak daya tarik darinya.

Grayfia melangkah keluar dari gedung utama. Dia terus melangkah lurus. Di depan Kuoh Academy ada ditanami beberapa Pohon Sakura. Pohon itu sedang bermekaran sekarang karena memang sedang pada waktunya. Grayfia sangat menyukai musim semi. Musim semi memberikan banyak sekali warna dalam hidupnya.

Gumaman dan bisikan bisa didengar oleh Grayfia. Dia menolehkan kepalanya ke arah muridnya yang sedang berbisik-bisik. Mereka melihat ke satu titik yang sama sambil memberikan tatapan memuja. Ada juga beberapa pujian yang keluar dari mulut mereka.

Senyuman tipis terlukis di wajahnya ketika mendengar setiap bisikan mereka. Sampai ada sebuah kalimat yang didengarnya.

"Lihat di sana. Dia tampan bukan?"

"Benar!"

"Eh, kayaknya dia senpai yang lulus tahun lalu kan?"

"Hee benarkah?"

Grayfia mengernyit heran. Sedikit banyak dia jadi penasaran dengan apa yang menarik perhatian sangat banyak muridnya. Terlebih muridnya yang perempuan. Dia menolehkan kepalanya ke deretan pohon sakura yang berjarak tidak terlalu jauh darinya. Ditelitinya setiap sudut. Ketika dia menyadarinya, pandangannya melebar. Ada seorang pemuda sedang bersandar di batang Pohon Sakura. Tatapan lembut pemuda itu di tujukan kepadanya. Itu adalah seseorang yang sangat dirindukannya.

Grayfia melangkah cepat menuju pemuda itu. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang pemuda itu. Pemuda itu kemudian memeluknya.

"Aku merindukanmu… Naruto-kun."

"Dasar… Tidak sabaran. Para kohai melihatmu loh, sensei. Lihat wajah terkejut mereka ketika melihat sensei paling dingin mereka karena memeluk seseorang," goda Naruto.

Kedua pipi putih Grayfia merona merah ketika mendengar itu. Sedikit cubitan kecil diberikannya.

"U-Urusai! Siapa suruh tiba-tiba muncul di sini? Kalau pulang bilang dong!"

"Ara? Bukannya kamu senang dapat kejutan, sensei?"

"Jangan panggil sensei!" rajuk Grayfia.

"Ahahahaha…"

Grayfia mendorong Naruto menjauh. Dia memegang tangan Naruto. Naruto melihatnya dengan tatapan lembut.

"Jalan-jalan dulu saja ya?" tanya Naruto yang membuat Grayfia tersenyum senang dengan wajah merona.

"Tentu, Sayang!"

.

.

Musim semi. Musim bunga bermekaran.

Begitu juga dengan cinta

[END]