ROYALTY

by Gyoulight

.

.

.

.

A CHANBAEK FANFICTION

GENRE: Romance, Drama (?)

RATING: T (?)

.

.

.

.


Dokumen tebal dengan cover bening baru saja sampai di meja. Dengan tidak sabaran pria tinggi dengan jasnya itu menarik kursi. Menyambar dokumen seharga hidup dan matinya itu cepat, lalu membuka lembaran pertengahan. Sementara sekertarisnya yang baik hati meletakkan lagi dua dokumen tambahan di sisi lain. Menjadi yang paling dipusingkan karena harus menyeleksi berkas penyimpanan bulanan mereka─sesuai permintaan. Tapi sudah tabiat sang Managing Director, selalu tidak mau tahu. Bahkan jika seluruh karyawan di divisi utama sudah mendapatkan jadwal lembur beberapa menit yang lalu.

"Cornel telah merilis pernyataan. Bisa kita simpulkan, mereka menang," coba Junmyeon menyampaikan informasi. Sekedar memberi saran agar direkturnya itu berhenti berlarian meributkan ide putus asa. Karena seingatnya, sebuah pemikiran yang tajam kadang bisa memberi angin segar untuk atasan tingginya itu, tapi kali ini rasanya sulit. Direkturnya sudah terpukul cukup keras, sebab kasus desain yang dijual secara ilegal.

Gurat jenuh sang direktur lalu semakin terpancar jelas. Tanpa bicara, pria tinggi itu membanting dokumen di tangannya. Menggenggam tiap jemarinya untuk ia terkam dalam kesal. Beranjak, pria bernama Park Chanyeol itu melupakan sekertarisnya yang terserang lelah. Kalau bisa ia ingin segera menendang kursi, tapi ponselnya kini lebih dahulu meraung minta diperhatikan.

"Berengsek," umpatnya bersungut marah. Dan dengan alasan terbiasa, sekertarisnya itu sudah memasang wajah ingin tuli di hadapannya. "Apa yang kau lakukan dengan desainku?" Ia berkata tenang namun memiliki poin-poin tegas setelah ponsel tipis itu menempel di telinga.

"Hadiah karena kau merilis skandal keempatku," balas seseorang di seberang sana terkekeh puas. Menertawakannya sesuka pemikiran licik yang selalu pria itu kesalkan. "Kau suka?"

Diraihnya papan nama miliknya yang menganggur di atas meja. Menggenggamnya erat sebelum ia lempar habis ke dinding. Junmyeon yang melihat saja merasa harus menepuk jidad, menyerah dengan semua keputusan yang dibuatnya. Meski akan mengganti papan nama itu sampai yang ke-10 kalinya.

"Kau cari mati denganku. Kau tidak tahu berapa lama perusahaanku mengerjakannya?!"

"Jongin sialan itu juga tahu kau selalu bekerja keras membuat kapal eksklusif. Jadi tenang, itu tidak akan merugikan 30% perusahaan ayah meski ku jual pada Cornel."

MD Arial Corp. itu mengerang. Genggaman jemarinya kini menghantam kuat kayu meja miliknya dalam gebrakan kasar. "Tunggu saja sampai aku merilis berita kencanmu."

Yang mendengar di seberang sana lalu kembali tertawa licik. Mengabaikan peringatannya yang berapi-api, ia berujar, "Coba saja lakukan, atau kau kehilangan semua miniatur kapalmu di rumah."

Lalu tidak ada suara apapun yang didengar Chanyeol di ponselnya. Panggilan itu diputus sepihak. Sedangkan sekertarisnya hanya bisa mengendikkan bahu, mengiring umpatan kedua bosnya yang berhasil disuarakan.

"Berengsek!"

Melupakan telinga direkturnya yang berasap, Junmyeon mendekat. Menarik batang pen dari sudut ponselnya untuk mencatat sesuatu di layar. "Jadi anda ingin merilis pembaruan untuk HTS?"

Pria tinggi dengan dasi kusutnya itu sibuk mengatur nafas. Melepas ikatan dasinya cepat, dan membuka dua kancing teratasnya. Chanyeol sebenarnya tidak pernah suka dengan mengelola sesuatu yang sudah usang, ia selalu butuh terobosan baru. Pikirnya harus mendapatkan proyek baru tahun ini demi menaikkan angka saham. Namun apa yang bisa ia lakukan jika tidak punya opsi lain, selain memperbaharui beberapa komponen yang usang dan menjadikannya main point yang diharapkan?

"Kita tidak punya pilihan," ujarnya kemudian.

"Oke," angguk sekertarisnya paham. Untuk melakukan beberapa pembaruan sebenarnya tidak buruk karena beberapa putusan rapat beberapa waktu lalu sudah menjamin sesuatu yang bisa menyelamatkan reputasi perusahaan sebagai opsi kedua. Asal tidak terlalu mengada-ngada dan jatuh pada lubang yang sama. Junmyeon tentu ingat bagaimana satu tahun yang lalu mereka menerima banyak komplain terkait dengan pelayanan unggulan mereka. Belum lagi dengan beberapa kecelakaan kecil yang membuat klien mengeluh.

Menatap jam tangannya, pria yang lebih pendek itu kini menyusul keluar dari ruangan. Mengekori atasan tingginya dengan hati sabar dan─tentu─tidak mau ambil pusing. "Anda punya jadwal pribadi 20 menit lagi."

Alis si tinggi berubah menukik tajam. Terdengar dengan baik bagaimana jadwal itu melantun dari sekertaris andalannya. "Ambil alih rapat hari ini. Aku tidak akan kembali sampai semuanya siap."

Namun tidak sampai satu menit ia menunggu pintu lift terbuka, mereka sudah melihat bayangan seseorang dengan ketukan heelsnya di ujung sana. Dress motif bunga-bunga merah di lututnya juga ikut menari tiap kali wanita itu melangkah. Sesampainya di hadapan Chanyeol, kacamata hitam besarnya diturunkan, terlipat, lalu diberikan pada seorang wanita di sebelahnya.

Junmyeon yang sudah meramalkan hal ini akan terjadi, memilih mundur beberapa langkah dari keduanya. Sekali lagi, ia tidak ingin ambil pusing dengan masalah direkturnya. Sekalipun yang di hadapannya itu adalah seorang aktris ternama di negeri ini, ia tidak berminat sama sekali untuk ikut campur.

Si wanita dengan lipstick merah mengibaskan rambutnya sebentar. Mengambil nafas dengan baik sebelum ia berbicara. Ia rupanya tengah menahan emosi karena ditatap tidak minat oleh orang yang diharapkan. "Apa tujuanmu mengajukan perceraian?"

Chanyeol hampir mengutuk hidupnya yang akhir-akhir ini batal berjalan mulus. Apa sebenarnya yang pernah ia perbuat di masa lalu, sampai ia harus menemukan hidup yang sebegini rumit? Sementara ia mengaku yakin telah hidup dengan baik. Istrinya pun luar biasa cantik, karirnya di layar kaca juga selalu sempurna─lebih baik dari pada image Sehun yang kontroversial. Tapi anehnya, ia selalu merasa butuh hiburan acap kali melihat wajah istrinya ini.

"Pernikahan itu tidak mendatangkan keuntungan untukku," jawab Chanyeol santai. Tidak ingin mengamuk pada seorang wanita karena ia tahu benar undang-undang Negara soal mereka. "See, selama ini hanya kau yang diuntungkan."

Pintu lift yang ditunggu Chanyeol kini terbuka lebar. Dengan sigap Junmyeon yang baik hati masuk ke dalam sana untuk menahan pintu. Sekaligus menonton drama rumah tangga dadakan yang nyaris aktris Seyoon dan direkturnya itu perankan.

Seyoon terkikik geli. Semakin mendekat pada Chanyeol, lalu menusuk dada pria itu dengan jari telunjuknya. "Kau tidak bisa bermain-main denganku, Chanyeol. Aku harus melakukan syuting pertamaku hari ini."

Dahi Chanyeol kembali berkerut. Kesal sekali menyaksikan Junmyeon yang seakan bermain-main dengan pintu lift yang tertutup dan terbuka berkali-kali. "Apa urusannya denganku?"

Wanita yang dinikahi Chanyeol delapan bulan lalu itu lantas mendongak menatapnya tajam. Paras cantik yang selalu dipuja penggemarnya bahkan sudah mencapai kata pudar dibuatnya. Dan Chanyeol sudah tahu itu sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Karena bagi Chanyeol, Seyoon sama busuknya dengan wanita-wanita yang ia temui di club malam.

Sebuah tamparan melayang setelah Junmyeon menekan sekali lagi tombol pintu lift yang dikontrolnya. Pria pendek itu bersumpah ingin tertawa menyaksikan direkturnya ditampar oleh sang istri tercinta. Andai Junmyeon tidak sibuk, ia mungkin sudah merekam aksi Seyoon yang masih bersungut marah itu lalu mengirimnya dengan gratis ke media.

"Kau pasti sudah gila." Chanyeol berubah marah. Sungguh pipinya terasa berdenyut kali ini. Harga dirinya pun ikut terluka, belum lagi dengan beberapa karyawan yang tidak sengaja memergokinya. Ia pastikan, setelah ini dirinya akan menjadi bahan gosip baru di toilet wanita.

"Aku tidak akan pernah menandatangani dokumen perceraian kita," putus Seyoon yang kemudian pergi setelah melempar lembaran-lembaran perceraian mereka di wajah Chanyeol.

Chanyeol berdecak kesal. Ingin menarik rambut istrinya sampai botak kalau ia bisa. Namun lengannya segera ditarik oleh Junmyeon untuk masuk ke dalam lift. Mencegahnya menghancurkan wibawa direktur yang seharusnya ia pegang. Tapi Chanyeol merasa benar-benar tidak perduli, hampir kalap ia keluar dari sana.

Pegangan di lengan Chanyeol semakin mengerat. Sekertarisnya dengan sekuat tenaga benar-benar menghalanginya keluar dari sana. Sambil menjuput lembaran perceraian direkturnya, Junmyeon berkata, "Karyawan menonton."

"Aku benar-benar ingin menjambak rambutnya sampai botak," jawab Chanyeol marah. Persis seperti singa lapar yang tengah dilempari batu.

Serius. Chanyeol sebenarnya bukanlah sosok yang konyol seperti ini sebelumnya. Ia adalah direktur dengan segudang pencapaian. Satu-satunya putra kebangaan Ketua Park yang dipercaya untuk menangani salah satu jaring perusahaannya. Tapi hanya karena ayahnya hari itu mengatakan ingin memiliki pewaris yang sempurna─tidak berorientasi menyimpang─ia seperti dibombardir oleh targetnya sendiri. Ia bahkan ikut masuk ke dalam permainan adik-adiknya, sampai gila memutuskan untuk menikahi seorang wanita.

"Tunda keinginan untuk menjambak rambut atau memukulnya itu. Pertemuan dengan Ketua jauh lebih penting," saran Junmyeon yang kewalahan. Sudah hampir gila dirinya menghadapi perubahan drastis Chanyeol beberapa minggu ini.

Chanyeol menyugar surainya sekali lagi. Tidak perduli dengan tatanan rambutnya yang sudah berantakan seperti rambut singa. "Aku benar-benar tidak bisa membiarkan ini."

Junmyeon mendesah lelah. Tengkuknya bahkan sudah terasa sangat pegal hari ini. "Melihat peluang, mungkin Jongin lebih dari memungkinkan."

Chanyeol melirik lewat ekor matanya. "Tapi dia gay."

Si sekertaris menyernyit. "Memang apa masalahnya menjadi gay?"

Maka Chanyeol menatap sekertarisnya sinis, menusuk kalbu Junmyeon tanpa sengaja. Sisi dirinya lelah berteriak tidak suka untuk menjelaskan sesuatu yang berulang.

Tapi benar. Jika dahulu Junmyeon bukan seseorang yang 'menyimpang', pria itu tidak mungkin diterima menjadi sekertaris direkturnya itu. Ya, anggap saja Chanyeol sangat alergi dengan wanita. "Baiklah, semua dari kita adalah gay. Mungkin karena itu Ketua bosan, terlalu banyak gay di sekitarnya?"

Mendengar itu Chanyeol semakin pusing. Ia beralih bersandar di dinding. Menekan kepalanya sekali lagi demi menghalau frustasi yang didera. "Kepalaku mendadak ingin pecah hanya karena pembahasan orientasi."

"Biar saya sarankan sesuatu," bisik Junmyeon sedikit serius. "orientasi anda butuh hiburan sedikit." Dan Chanyeol berakhir menatap Junmyeon dengan umpatan 'bodoh'.

e)(o

Mansion yang Chanyeol masuki sekarang bukan satu-satunya yang ayahnya punya. Air mancur megah di tengah halaman depan juga bukan satu-satunya aset. Di dalam terdapat banyak guci dan lukisan mahal luar negeri. Yang setengahnya adalah hasil lelang dari kelana semasa hidup ayahnya. Chanyeol sebenarnya tidak mau sombong kalau ayahnya itu punya segala hal. Kekayaannya bertumpuk tak terhitung. Bahkan jika ayahnya akan membagi rata seluruh hartanya, ketiga putranya mungkin bisa tidak khawatir selama tujuh turunan. Namun kekurangan pria tua itu hanya satu. Tidak akan percaya sembarang orang. Bahkan pada putranya sekalipun.

Sejak istrinya meninggal, Ketua Park berubah menjadi orang yang keras kepala seperti sekarang. Saat muda pun, Chanyeol sebagai putra pertamanya, sudah dididik untuk mencari penghasilan sendiri, termasuk kedua adiknya yang kini sudah beranjak dewasa. Mereka bertiga hidup dengan didikan keras, tidak sempat merasakan kasih sayang ibu. Dan mungkin karena semua itu Chanyeol dan kedua adiknya menjadi orang yang tidak bersahabat.

Menuju ruang makan, Chanyeol dikawal seorang pelayan yang mengambil jasnya. Penampilan kusutnya entah sejak kapan sudah rapi. Berkat Junmyeon yang cerewet di mobil barang kali. Sekertaris pintarnya itu bahkan dengan sabar memberikan tips untuk menyisir rambutnya. Sungguh beruntung Chanyeol memiliki sekertaris seperti Junmyeon.

Di ujung meja, Ketua Park sudah duduk ditemani asisten tingginya. Pria dengan gurat tegas, setegas ayahnya itu selalu berdiri setia di belakang. Selalu seperti itu sampai ayahnya memerintahkan sesuatu. Pun Chanyeol kadang diluputi penasaran bagaimana awal cerita pria asing itu menjadi kepercayaan ayahnya. Karena tentu, mendapatkan kepercayaan ayahnya adalah hal yang diidamkan oleh banyak orang, termasuk dirinya.

Chanyeol tidak bicara saat mengambil kursi yang selalu menjadi tempatnya. Ayahnya pun tak kalah diam, malah sibuk dengan ponsel. Seolah dirinya adalah angin yang tidak penting untuk diketahui kapan datang dan perginya. Lantas ia sendiri pun diserang malas. Berbicara dengan ayahnya adalah hal yang paling membosankan baginya.

Tak lama Sehun datang dengan saudara kembar nonidentiknya. Memasuki ruang makan dengan siulan paling kurang ajar. Berbeda halnya dengan Jongin yang hanya diam, menyusul duduk di seberang meja kakaknya tanpa bicara. Kedua makhluk kembar itu mungkin selalu tampak seperti dua sisi koin. Tidak ada identiknya. Paras Sehun yang pucat dan Jongin yang cenderung gelap. Sikap Sehun yang lincah seperti anjing dan Jongin yang tenang seperti beruang coklat. Mereka berdua selalu bertolak belakang, bahkan untuk soal jajak pendapat.

"Hi, ayah," sapa Sehun meribut. Duduk dengan tumpuan tangan di meja, menunggu respon ayahnya yang dahulu pernah sangat memanjakannya.

Sedangkan Jongin sibuk menatap arlojinya. Satu-satunya yang lebih mirip dengan Chanyeol. Pria itu begitu serius menimbang banyak hal, sebelum sampai disini karena benar-benar tidak bisa meninggalkan kesibukan. "Aku punya setengah jam sebelum bertemu dengan beberapa investor."

Ayah mereka lalu memasang fokus. Mengambil garpu dan pisaunya untuk memulai makan siang─yang lagi-lagi tanpa kata. Chanyeol bahkan ingin mengeluh karena ia sudah jauh-jauh datang kemari, tapi sampai disini hanya bisa melihat ayahnya makan.

"Ada yang ingin ayah katakan?" tanya Chanyeol akhirnya. Dan ia bukanlah satu-satunya yang menunggu. Karena benar jika mereka semua tidak pernah seteori dengan pembicaraan orang soal definisi keluarga. Mereka asing. Mereka selalu begitu ketika bertemu.

"Ayah sudah memutuskan," kata ayahnya to the point. Masih sibuk memotong daging di piring. Tidak pula menatap ketiga putranya yang tidak berselera di meja makan.

Sehun menatap kakak tertuanya kemudian. Menyunggingkan senyum remehnya, yang demi Tuhan ingin Chanyeol penggal kepala anak itu sejak pagi tadi. "Tolong katakan jika bukan Chanyeol orangnya."

Jongin mendadak mulai tertarik dengan makanan. Ia akhirnya menarik jatah makan siangnya yang dingin. Tenggelam dalam menyantap makanan tanpa memperdulikan perdebatan dua saudara kandungnya. Lebih tidak ingin tahu, tepatnya tidak ingin perduli.

"Dan sudah pasti itu bukan kau," balas Chanyeol tidak mau kalah, lalu mengabaikan apapun soal Jongin. Sedikit tenang dirinya, karena Jongin benar-benar tidak tertarik dengan harta warisan. Chanyeol bahkan berhutang terima kasih pada adiknya itu, karena telah membiarkannya sibuk berduel dengan Sehun yang berisik. "Kau mencuri dan menjual desain kapalku."

"Kau juga hampir menghancukan karirku." Sehun bersungut marah. Pria itu bahkan sudah berniat hendak berdiri dari kursinya. "Dimana kau mendapatkan foto-fotoku?"

"Kau terlalu bodoh sampai tidak tahu sesaeng fan mendapatkan foto clubbing-mu."

"Termasuk kau. Berhentilah pergi ke club untuk membodohi dirimu." Sehun menunjuk sang kakak dengan telunjuk kirinya. Benar-benar seperti manusia tidak berpendidikan, padahal adiknya itu punya gelar master di ujung namanya. "Sekali gay, kau akan tetap menjadi gay!"

Kali ini Chanyeol melempar sendoknya ke arah Sehun. Membiarkan benda logam itu menghantam kepala bodoh dan kurang ajar adiknya tanpa ampun. "Aku bukan gay. Aku bahkan menikahi lawan main filmmu."

Bukannya menyerah, Sehun malah semakin melotot. Ia beranjak dari kursinya, mengancam akan melempar piring kalau kakaknya kembali berulah. "Menikah? Memangnya kau sudah pernah tidur dengannya?"

Bunyi ribut ketukan piring kini terdengar mendengung berkali-kali. Jongin yang jenuh kini memukul piringnya untuk memecah gaduh. Kepalanya pun mendadak sakit, kalau bisa ia pulang saja dari pada berdiri di antara dua saudaranya itu. "Pembicaraan kalian benar-benar membuat selera makanku hilang."

"Oh, kau mulai alergi dengan gay?" Sehun berkacak pinggang. Mendekati kursi Jongin dengan menantang kembarannya itu bermain tinju. "Padahal kau adalah gay, super gay!" tekannya sekali lagi.

"Bajingan," umpat Jongin menghempas garpunya ke atas meja. Pria itu benar-benar jadi tidak perduli lagi dengan sopan santun. Persetan dengan jamuan makan.

"Ayah, pokoknya penjudi ini tidak bisa mendapatkan warisan ayah."

"Penjudi katamu?!" Jongin melotot, diraihnya kerah kemeja kembarannya itu geram.. Ia tidak pernah toleran jika bisnis Bar dan Casino elit miliknya disamakan dengan kelas ladang judi. Walaupun benar adanya, tapi Jongin berhasil menjadikan hasil kerja kerasnya menjadi yang paling bernilai seantero Tiongkok. "Kau tidak tahu apa-apa soal bisnis!"

Dor!

Ruangan itu seketika dikerubungi suasana mencekam. Tembakan demi tembakan kini meledak memenuhi meja makan. Vas bunga pecah, gelas tinggi Jongin terguling ke lantai, dan dessert kesukaan Chanyeol bahkan sudah tumpah di atas isian piringnya. Sedangkan ayah mereka masih bisa makan dengan tenang di ujung meja, masih mengunyah tanpa perduli asistennya memborbardir seluruh peralatan makan di sisi yang lain.

Sehun yang hampir berguling di bawah kursi untuk berlindung, kini menatap tajam pria tinggi di belakang ayahnya. Memberikan peringatan kasar jika peluru itu bisa saja meleset tepat ke arah kepala. "Kau─"

"Bajingan!" Jongin mengumpat berkali-kali. Demi daya tahan jantungnya yang malang, pria itu kembali mengumpat. Benar-benar tidak habis pikir jika ia bisa dihujani tembakan mematikan di kediaman ayahnya sendiri.

Sementara Chanyeol menyaksikan dengan wajah datar. Menunggu respon ayahnya seperti tidak terkejut sama sekali. Dan Chanyeol rupanya lebih dahulu tahu tabiat ayahnya yang begitu berbahaya. "Ayah mengizinkan dia memakai pistol sekarang?"

Pria tinggi di belakang ayahnya kini kembali mengacungkan pistol ke arahnya. Bersiap dengan tembakan selanjutnya jika ketiga putra Park itu tidak berhenti mengoceh. Sedangkan sang ayah dengan tenang mengambil gelasnya. Namun dalam hati, pria paruh baya itu selalu mengutuk, merasa menyesal karena pernah mendapatkan anak seberengsek ketiganya.

"Ayah sudah memutuskan, jadi dengarkan baik-baik."

"Itu aku, kan?" Buru-buru Sehun beranjak. Tidak takut sama sekali mengambil kursi, untuk ia lanjutkan rasa penasarannya. Namun sayang, ayahnya menggeleng, tidak membenarkan kalimatnya.

"Lalu─Chanyeol?"

Ayahnya menggeleng lagi,

"Jadi si hitam ini?" tunjuknya pada wajah Jongin yang masih dihias pucat. Masih penuh waspada jika tembakan lainnya dilepas, karena Sehun 'sialan' itu kembali memancing kesabaran ayahnya.

"Tidak," jawab ayahnya meletakkan garpu dan pisaunya. Mengaku telah selesai mengurus dirinya sendiri. Terlebih bosan dengan ocehan Sehun soal ini dan itu.

"Lalu siapa?" tanya Sehun penasaran.

"Tidak untuk semua orang yang berada disini," jawab sang ayah tenang. Meletakkan serbet di samping piringnya dengan sangat elegan. "tapi adik kalian."

Lantas ketiga putranya berubah menyernyit. Terlalu terkejut. Tidak akan pernah menyangka jika mereka punya saudara tambahan. Rahasia pula?

Jongin kini berubah ikut campur. Bukan tertarik dengan masalah pembagian harta. Ia hanya sulit percaya jika ayahnya memiliki anak selain mereka di luar sana. Dan kepalanya mungkin harus menjadi tanggal, hanya karena memikirkan jumlah genap wanita simpanan ayahnya. "Ayah pasti bercanda. Wanita yang mana lagi kini?!"

Namun ayahnya beranjak. Meninggalkan ketiga putranya begitu saja bersama asistennya di belakang. "Kalian akan segera bertemu dengannya."

"Ayah, ini tidak masuk akal." Chanyeol lalu merasa diperlakukan tidak adil. Ia seharusnya mendapatkan warisan ayahnya. Ia merasa sudah bekerja terlalu keras mengurusi salah satu perusahaan ayahnya. Bukankah seharusnya ia yang terpilih? Ia jauh memiliki banyak pengalaman bisnis dibandingkan dengan kedua adiknya.

"Ayah sudah bilang, ini keputusan ayah," tekan ayahnya tidak mau tahu. Keputusan sudah bulat, sudah tidak bisa diganggu gugat.

Lantas ketika punggung itu semakin pergi, Chanyeol menyerah mengejarnya sepi. "Aku sudah bekerja keras untuk ayah."

"Aku juga sudah bekerja keras," seru Sehun ikut menyusul, ingin didengar ayahnya yang hampir menghilang.

Sedangkan Jongin berakhir menekan kepalanya di kursi. Merasa vertigonya mulai kambuh, dan mempertimbangkan jadwal pertemuannya beberapa menit lagi. "Kau tidak melakukan apapun, Sehun. Kau hanya muncul dan membohongi acara TV."

Sesaat Chanyeol membereskan penampilannya. Mengambil jasnya lalu bersiap dengan sesuatu. Tiba-tiba saja pikirannya bekerja dengan baik untuk pertama kalinya.

"Apa kalian tidak ingin bekerja sama?" Cegah Sehun menghalangi langkah kakaknya yang seakan dikejar kesempatan. Dan Sehun mengaku sangat mengenal Chanyeol dengan baik. Kakaknya itu genius walau kadang bodoh di beberapa waktu. Tapi untuk hal-hal seperti ini, bekerja sama dengan Chanyeol dapat menguntungkan baginya. "Kita harus melenyapkan adik kita."

Namun Chanyeol terlanjur membenci Sehun. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana adiknya itu dengan tega menjual aset berharganya. "Setelah semua yang kau lakukan, aku jadi semakin tidak sudi bekerja sama denganmu."

Sehun berakhir terkekeh. Seperti orang sinting pria itu tertawa di hadapannya. Chanyeol sampai menggeleng-geleng menghadapi saudara bungsunya itu. Jongin yang terlalu banyak diam pun ikut mengutuk. Tidak tahan dirinya mendengar Sehun tertawa pada hal yang sama sekali tidak lucu.

"Aku selalu berharap kita bukan keluarga," gumam Jongin yang terdengar jelas di telinga Chanyeol. Pria itu lalu pergi mendahului. Mencari letak mobilnya yang sudah disiapkan sang supir.

Mendengar itu Chanyeol jadi tidak mau kalah ingin terkikik. Ia sempat ingin memikirkan keluarganya. Sehancur itukah? Secacat itukah mereka karena sebuah didikan ayah?

e)(o

"Ini bukan waktu yang tepat untuk melarikan diri."

Kalimat-kalimat Junmyeon terngiang di telinga. Sekertarisnya itu sibuk mengejarnya yang pergi. Mencoba memohon pengertian untuk tetap tinggal disaat perusahaan mengalami penurunan akibat kasus rumit yang dilakukan Sehun.

Namun Chanyeol sudah berada pada titik jenuhnya. Ia baru saja memindahkan seluruh uangnya ke dalam rekening pribadi. Menyimpan uangnya dengan baik di bank-bank Rusia, dimana ayahnya tidak akan mungkin mengganggu.

Mungkin ia menjadi satu-satunya yang berpikiran pendek seperti ini dibandingkan dengan kedua saudaranya. Lebih dahulu, Jongin sudah terbang ke China untuk masalah bisnis miliknya, sedangkan Sehun sudah kembali ke jadwal panjangnya. Chanyeol sendiri tidak ingin dibodohi ayahnya. Tidak ada gunanya ia tetap bekerja dengan pria tua itu. Toh, ia tetap tidak akan mendapatkan seperser pun dari ayahnya.

"Anda tidak bisa meninggalkan ini begitu saja." Kini Junmyeon menghalanginya masuk ke dalam mobil. Pria itu bahkan dengan lancang sudah merebut kunci mobilnya. Mencegahnya menjadi sinting untuk memesan tiket ke New York seorang diri─tanpa ingin tahu bagaimana rusuhnya perusahaan yang dipimpinnya.

Chanyeol menghela nafasnya berat. Ia mungkin sudah terlalu terikat dengan Arial sampai berat kakinya melangkah. Ia mungkin bisa saja pergi tanpa memberitahu siapapun, termasuk Junmyeon. Tapi entah mengapa rasanya begitu sulit untuk seharipun tidak memikirkan perusahaan.

"Sampaikan keluhanmu pada ayahku, mungkin dia akan memberimu direktur yang baru."

Maka Junmyeon menegaskan dengan setengah berteriak. Pria itu sungguh marah padanya. "Tidak bisa! Pemikiranmu terlalu sempit soal ini."

Mendengar Junmyeon berteriak padanya, Chanyeol berakhir menggaruk tengkuknya. Kepalanya mendadak pusing. Ingin segera pergi dari Korea kalau bisa. "Dengan menikahi wanita saja hati ayahku tidak tergerak, lantas apalagi yang harus aku lakukan?"

"Jadi kau menyerah begitu saja?!" Hilang sudah sopan-santun Junmyeon dalam berbicara. Lagi pula mereka tengah berada di basement, tidak akan ada yang dengar kalau ia mau berbicara informal dengan temannya.

"Aku belum menyerah," balas Chanyeol menggebu-gebu. Entah bagaimana kelanjutan rencananya. Ia sendiri jatuh bingung memutuskan untuk kabur atau tetap mengurusi perusahaan ayahnya yang tanpa dihargai. "Aku hanya ingin membuat ayahku sadar, bahwa perusahaan ini tidak akan bisa apa-apa tanpa diriku."

"Tapi kau membuat beban kerjaku naik dua kali lipat. Kau gila!" tegas sekertarisnya melotot kesal.

"Kacaukan saja perusahaan ini, apa urusannya denganmu?!"

Kini Junmyeon menghela nafasnya kasar. Pun menyugar surainya sembarangan, menyisakan helaian rambutnya yang naik berantakan. Sungguh, tidak pernah Chanyeol melihat pria itu sefrustasi ini sebelumnya. "Pekerjaanku ini penting. Semua orang disini menganggap pekerjaan mereka sama pentingnya. Berbeda denganmu yang bisa berkelana sesukamu tanpa khawatir soal uang dan pekerjaan."

Chanyeol terhenyuh. Sekali lagi kepalanya terasa terbuka mendengar penuturan sekertarisnya. Menelik dirinya sendiri, Chanyeol rupanya sudah melupakan segalanya hanya karena sebuah harta warisan. Bagaimana mungkin ia bisa berubah bodoh begini?

"Oh, kepalaku pusing sekali," komentar Junmyeon menyerah. Pria itu menyerahkan kembali kunci mobil direkturnya. Dengan lunglai, ia lebih memilih meninggalkan Chanyeol dari basement. Baginya terserah pada Chanyeol, mau seperti apa keputusannya kelak. Toh, ia tidak bisa melarang. Hak siapa baginya melarang?

"Jadi aku harus mengecek HTS?" Chanyeol bergumam sendiri. Menatap kunci hitam di tangannya lekat, sampai pemikirannya tiba-tiba saja bisa berubah yakin. "Aku bisa meninjaunya sendiri di kantor pusat─tapi dengan satu syarat."

Junmyeon berbalik. Kembali mengamati Chanyeol dengan banyak keluhan di kepala. Sungguh kacau dirinya karena marah. "Kau pasti tengah memikirkan cara balas dendam, kan?"

Chanyeol lalu bersandar punggung pada mobilnya. Ia pun membenarkan kalimat Junmyeon, lebih pada ingin bisa menertawakan dirinya sendiri. Menertawakan dirinya yang tidak berdaya, menjadi pria bodoh yang naif karena ayahnya.

e)(o

Terbangun di bawah langit pagi Barcelona, mungkin menjadi sesuatu yang menakjubkan oleh beberapa turis asing. Pemandangan arsitektur warna-warni yang tampak dari jendela terlihat begitu rapi. Begitu bebas dari jalanan macet seperti di Asia yang padat polusi. Banyak pejalan kaki berlomba-lomba mengejar sosok matahari. Membuka lembaran baru dengan rutinitas sekolah atau yang lebih sering adalah bekerja.

Barcelona mungkin salah satu kota besar yang berada di dekat laut. Walaupun terkenal karena seni dan arsitekturnya, Barcelona juga dikenal karena daerah bisnis yang luar biasa di Eropa. Semua penduduk jauh dari keterpurukan, hidup dengan serba berkecukupan. Tapi tidak jarang pula ditemukan kriminalitas.

Di Barcelona, Baekhyun lebih sering mendengar bel sepedah yang nyaring. Pria pengantar koran bahkan punya satu untuk berkeliling. Dan Baekhyun memutuskan untuk membelinya tiga bulan yang lalu. Sebelum ia mengeluh pergi ke tempat kerja dengan berjalan kaki yang membutuhkan waktu 15 menit.

Mengayuh sepedahnya, Baekhyun menelusuri tiap jalanan kecil yang di kiri dan kanannya dipenuhi kesibukan. Nyaris sama sebenarnya dengan tempat kelahirannya di Korea. Mereka tetap menatap pada ponsel, beberapa ada yang menunggu kereta di stasiun, lalu sisanya memilih membuat antrian panjang di depan toko. Diskon katanya. Baekhyun bahkan pernah beberapa kali ikut dan selalu kalah cepat.

Namun apa mungkin karena Baekhyun sudah terbiasa, sehingga semua yang dilihatnya kini berubah menjadi tidak menarik dibandingkan dengan hari pertamanya datang?

Baekhyun berharap kata tidak, tapi titik jenuh yang lain datang ketika Baekhyun menyapa pegawai yang selalu menemaninya di restoran. Hanya tiga wanita lainnya, dan empat pria, termasuk koki. Buru-buru ia berganti penampilan, menyusul dengan beberapa kain lap. Ikut membersihkan setiap sudut resto sebelum pintu masuk resmi dibuka.

Tapi lonceng di atas pintu lebih dahulu menginterupsi. Dan mereka tidak bisa menolak jika kedatangan tamu pertama lebih awal.

Baekhyun tidak mau berdiam diri seperti yang lainnya, ia memutuskan untuk tetap melayani tamu dengan mengantar pria tinggi itu pada meja yang sudah yakin ia bersihkan. Pertama, dia mengambil buku menu. Menawarkan beberapa menu pembuka sebelum semuanya siap.

Pria itu lantas menerima buku menunya. Meletakkan mantelnya di kursi sebelah untuk melegakan kemeja. Baekhyun menunggu sementara pria itu berakhir sibuk dengan deretan menu andalan. Para koki sudah masuk dengan banyak persiapan. Persediaan dapur juga sudah selesai dimasukkan ke dalam ruang pendingin. Tinggal menunggu si pelanggan menyebutkan pesanannya, kemudian sang koki akan bergerak dengan pisaunya.

"Berikan aku yang terbaik," ujarnya kemudian. Menutup habis buku menunya dengan tidak mau ambil pusing. Tidak sampai lima detik pria itu meminjam buku menunya.

Baekhyun berakhir tidak mencatat apapun dalam notenya, sibuk mencerna sesuatu yang penting di kepala. Bukan karena pria itu terlalu modis untuk masuk ke dalam restoran kecil mereka. Terlebih ketika pria itu mengeluarkan tabnya, menyingsingkan lengan kemejanya kasual dengan beberapa lipatan, cukup bagi Baekhyun untuk menyebut pria itu sangat berkelas.

Hanya saja, lirikan itu lantas membuat Baekhyun segera tersadar. Ia terlalu larut berdiri di hadapan pelanggannya. Terlalu lama mengamati mode yang dikenakan pria itu, sampai-sampai si pria menurunkan kaca matanya.

"Ada sesuatu yang ingin kau katakan?" Pria itu bertanya dengan suara beratnya. Dilihat dengan caranya bicara, pria itu bukan pria sembarangan bagi Baekhyun. Dia dingin, berwibawa dan juga─luar biasa.

Tapi siapa yang tahu kehidupan seseorang? Wajah kita mungkin boleh tampan dan juga cantik, hidup luar biasa dengan investasi, atau mungkin duduk manis menikmati hasil. Bisa jadi semua kesempurnaan yang diperlihatkan hanyalah topeng. Karena apapun yang sempurna di dunia, belum tentu tidak punya kurang.

"Maaf," maka jawab Baekhyun canggung. Segera menghilang dari sana dengan membawa beberapa kabar untuk kokinya.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Udah lebaran, jadi aku balik sama judul baru. Hehe

Lagi gabut tapi kayaknya ini bakalan sedikit berat/? Banyak kata kurang pantas dan slow update?

Untukmu yg menemukan ff ini wajib ninggalin jejak review ya. Aku butuh banyak tanggapan untuk kedepannya. Jangan lupa tekan follow dan favorite untuk menemukan update.

Thank you,