ROYALTY

by Gyoulight

.

.

.

.

A CHANBAEK FANFICTION

GENRE: Romance, Drama (?)

RATING: T (?)

.

.

.

.


Memandang langit yang sedikit kabut, Chanyeol keluar dari kamarnya. Pandangannya lagi-lagi mengarah pada arsitektur tua yang menghalangi matahari naik ke lintas masa. Berlanjut dengan meminum kopi panas, ditemani hijau rambatan tanaman di sekitar dinding penginapan.

Chanyeol tahu jika semua pemandangan itu tersaji setiap kali ia terbangun. Menyadarkan dirinya sekali lagi bahwa ia tidak akan punya banyak waktu tersisa. Hendak menyelesaikan semua pekerjaan, sesuai dengan rencana. Lalu terserah, apakah ia harus lepas ke New York untuk bersenang-senang atau mungkin perlu tersesat di Point Nemo jika bosan dengan hiruk-pikuk kehidupan.

"Kirimkan mereka hadiah," utusnya pada Junmyeon yang dikejutkan dengan sepotong panggilan tanpa babibu. Sudah lama sekertarisnya tidak mengoceh soal rencana kepulangan. Dan kali ini, pria itu sudah pasti frustasi menghadapi kepulangan bosnya yang harus ditunda.

"Kau berulah lagi?" tanya Junmyeon tepat sasaran. Bukan sesuatu yang baru jika pria itu selalu menyelesaikan permasalahan yang atasannya buat. Junmyeon memang seolah diciptakan untuk itu di mata Chanyeol. "Apa yang sebenarnya kau lakukan?"

Chanyeol meminum sisa kopinya. Mencari sandaran siku di atas batang pembatas, tentu setelah berhasil meletakkan cangkir itu jauh. "Mereka marah karena aku memukulnya."

Dan sudah bisa ditebak jika Junmyeon kesal. Nada bicaranya saja sudah meninggi saat mengerutu. "Siapa lagi kini?"

"Kau tidak mengenalnya─tidak satupun," jawab Chanyeol menikmati keramaian jalan di bawah balkonnya. Mengabsen kegiatan penduduk lokal seperti menonton parade. Yang kebetulan sedikit menarik karena ada pertunjukan musik kecil-kecilan.

"Setelah kau menemukan adikmu kau berubah menjadi aneh."

Chanyeol beralih dari sana. Dengan jujur, ia mulai malas meladeni sekertarisnya yang banyak bicara. "Aku sudah bilang akan mengacau. Jadi diam, dan lakukan tugasmu."

Ada jeda panjang setelah itu. Junmyeon seperti hendak bersembunyi. Seolah berusaha menemukan suatu tempat yang jauh dari keramaian. Karena suaranya yang kecil kini mulai menggema dengan tegas. "Kau tidak akan membunuh adikmu, kan?"

Chanyeol mendadak terdiam. Entah mengapa membahas soal 'adik' ia menjadi risih sendiri. Ia tidak akan lupa bagaimana dirinya gagal memulai rencana matang. Melakukan perlawanan, tapi beralih menyelamatkan target. Bukankah bodoh namanya?

"Bukan urusanmu," balasnya tidak perduli.

Lalu sampai pada ia yang berbalik dengan punggungnya. Samar-samar suara pintu yang terbuka meraup atensi keringnya. Pintu itu tiba-tiba saja terbuka dengan bebas, padahal Chanyeol sudah yakin telah mengunci. Ia pun menemukan sosok pria dengan topinya menyusup masuk. Cukup eksentrik dengan pakaiannya yang bernilai. Serba hitam, dan cukup tahu jika pria paruh baya itu bukanlah orang sembarangan.

"Kau membuatnya datang kemari?"

Chanyeol belum melepas ponselnya dari telinga. Masih tersambung dengan Junmyeon, meski pria dengan pakaian serba hitam itu semakin dalam memasuki kediamannya.

"Siapa maksudmu?"

Mata Chanyeol kian tajam. Menurunkan ponselnya dengan segala praduga, ia hendak bertanya, 'siapa yang memberitahu?', tapi sosok itu berhasil mengawali sesuatu dengan senyum kecil.

"Tentu mudah bagiku menemukanmu," tutur pria itu mengambil duduk tanpa permisi. Chanyeol sendiri sudah diluputi keterkejutan. Tidak habis pikir jika pria itu bisa sampai pada tempat persembunyiannya.

"Duduklah," pinta pria itu sabar. Meletakkan topi hitamnya di pangkuan. Tidak banyak rambutnya yang memutih, menjelaskan sekian lama kisah hidup.

Sementara di luar sana, sosok pemuda tengah berlarian di atas aspal. Menyisir keramaian begitu terburu-buru, lalu masuk ke dalam lobi. Jemarinya menekan tombol lift dengan cepat, masih dengan nafas tersengal. Nyaris hilang. Tujuannya sudah pasti, hendak naik ke lantai teratas untuk menyampaikan sesuatu.

Butuh beberapa menit sampai pintu Chanyeol diketuk. Tidak memikirkan apapun ia segera menoleh pada daun pintu. Menebak seseorang di baliknya meski buntu. Ia batal mengambil duduk, tertarik mendekati pintu. Seperti ayahnya yang ingin tahu dari kursi.

e)(o

Di pagi buta yang dingin Baekhyun menemukan diary tua yang ia bawa pulang hari itu. Pemikirannya terbang tak tercegah pada ia yang tidak kunjung selesai dengan lembarannya. Maka ia mengambil duduk sejenak. Sebab hari libur, ia harusnya bisa menyelesaikan yang tersisa. Baekhyun tidak mungkin membuat Chanyeol menunggu, sementara pria itu akan pergi dalam waktu dekat.

Lantas Baekhyun mencoba untuk duduk di kursinya. Mengambil alat tulisnya dan membuka pembatas halaman yang ia gunakan di dalam benda itu. Mata bulan sabitnya awas membaca dengan teliti. Satu persatu ia terjemahkan dalam baris buku yang lain. Namun yang membuatnya penasaran adalah pada lembaran terakhir. Hal itu berhasil membunuh atensinya seketika.

Selain membuat Baekhyun mengawang, muncul terkaan-terkaan yang terpikirkan. Dan ia meragu untuk menuang jujur paragraf itu ke dalam buku. Ia mungkin harus memberitahu Chanyeol. Karena akan sangat terlambat bagi pria itu menemukan hal ini.

Penasaran, ia membuka kembali halaman-halaman sebelumnya. Membaca dengan teliti, kemudian membaliknya lagi. Lagi dan lagi. Lalu Baekhyun bulat memutuskan untuk berhenti. Punggungnya mundur untuk beberapa alasan. Tidak ada yang terpikirkan olehnya selain beranjak dari kursi.

Mengambil pakaian yang lebih pantas untuk diganti, ia pun kini berlarian menuju lemari. Terlalu buru-buru sampai turun ke badan jalan.

e)(o

Pemikiran Chanyeol tak pernah sampai pada seseorang yang kini menggedor ribut pintunya. Ketukannya terdengar terburu-buru, seakan tidak punya waktu tunggu lebih lama. Kondisi itu membuat dirinya lupa sejenak dengan eksistensi ayahnya. Sedikit terpaksa ia bergegas memutar kunci pintu.

Ia kemudian mendapati Baekhyun kehilangan nafas di luar. Penampilan si pemuda bahkan jauh dari kata wajar menurutnya. Dengan lengan jaket hitam hampir terlepas, belum dipasang dengan benar sampai bahu. Sedangkan rambutnya habis berantakan, belum lagi dengan keringat yang turun dari dahinya.

Sebuah kebetualan mungkin, pemuda itu datang tanpa pemberitahuan. Telebih saat ayahnya datang. Ini seakan seluruh takdir berpihak kepada Chanyeol. Mendukungnya untuk meredakan tekanan perihal kehadiran ayahnya, sekaligus diizinkan melempar selembar kartu AS. Siapa tahu bisa lebih 'mengacau' dari yang Chanyeol rencanakan.

"Ada sesuatu─aku─" bicaranya asal namun tercekat. Baekhyun sulit berbicara akibat pelariannya yang begitu kuat sejak tadi. Nafas terputus pemuda itu bahkan sudah lelah didengar oleh Chanyeol. Terlebih dengan tundukan punggungnya yang melengkung pegal.

Chanyeol kemudian menemukan sebuah ide. Ia tanpa babibu menarik lengan Baekhyun dingin. Membawa pemuda pucat itu masuk dengan tarikan cepat, sampai yang ditariknya terkaget-kaget. Pintu pun sukses tertutup, menyisakan Baekhyun yang membola bisu. Terkejut menemukan sosok asing yang menghuni sofa pekat.

Menghadap ayahnya, Chanyeol menarik bahu Baekhyun mendekat. Membiarkan sosok itu bergeming, tidak menyisakan gurat apapun. Namun bukan Chanyeol jika tidak paham air wajah ayahnya sendiri. Walaupun separuh hidup lebih banyak dihabiskan dekat dengan ibunya, ia tentu tahu bagaimana ayahnya saat tertahan oleh emosi.

"Aku ingin memperkenalkan seseorang pada ayah."

Baekhyun yang berada di sampingnya seketika mendongak. Meminta penjelasan panjang lebar soal sikapnya. Pemuda itu dengan polos berkedip beberapa kali, mencoba menangkap manik dirinya yang jauh terfokus ke depan. Sosok itu tentu diluputi bingung, tidak tahu harus mengatakan apa soal pernyataannya. Maka Chanyeol memberinya sebuah pesan lewat kotak telepati, semakin mengalungkan lengannya pada bahu Baekhyun untuk mencegah pemuda itu bicara.

"Byun Baekhyun, kekasihku─"

Baekhyun berubah tercengang. Kembali mendongak si pemuda meminta ribuan penjelasan. Sementara ayahnya mulai mengambil nafas berat. Pria paruh baya itu terlihat tengah menjerat jemarinya sendiri dalam genggaman, yang entah terpikirkan apa dalam benaknya kini. Namun satu hal yang Chanyeol ketahui, bahwa sosok itu mulai mendapatkan reaksi. Tertekan atas segala pernyataan yang tidak masuk akal.

"Ini pertama kalinya aku memberitahu ayah, bukan?"

Sang ayah bergeming. Masih bertenang hati menatapnya tanpa ragu. "Dan kau baru saja bercerai dari Seyoon."

Senyum miring Chanyeol tercipta. Cukup menggelikan sebenarnya kalimat itu bagi dirinya yang bajingan. Bisa dibilang ini pertama kalinya sosok itu berkomentar soal pernikahannya, padahal menghadiri pernikahan mereka dahulu saja pria itu enggan. Bukankah lucu?

Sementara Baekhyun di lengannya sibuk berpikir ingin melepaskan diri, sudah gelisah tanpa tahu harus melakukan apa. Namun itu justru membuat Chanyeol semakin mendekat. Bahkan menyandarkan pipinya pada helaian rambut coklat milik Baekhyun. Benar-benar tengah menguji seberapa besar kesabaran ayahnya dengan kekacauan yang ia ciptakan kini. "Apa ayah kemari untuk membicarakan itu?"

"C-chanyeol─" Baekhyun terus mencoba melepaskan diri. Sampai pada ia yang diseret ke sofa, dipaksa duduk di samping orang yang mejeratnya dengan sangat tidak nyaman.

"Kapan kau akan pulang?" Pertanyaan yang lain pun sampai. Ayahnya yang lelah menahan diri kini menyentuh topi hitamnya. Menatap benda berdiameter lebar itu tanpa berkomentar soal dirinya dan juga Baekhyun.

Lantas Chanyeol memikirkan hal lain. Ia pun dengan gila meraih dagu Baekhyun menuju wajahnya. Membungkam keributan kepala si pemuda yang kalang kabut, lalu menyentuh pipi halus itu untuk menghadap padanya. "Aku masih merindukannya, apa aku harus pulang?"

Segera ia menemukan getaran sepasang manik hitam Baekhyun. Kebekuannya membuat bibir mungil itu terbuka, hendak mengatakan sesuatu yang rumit. Tapi sayangnya, Chanyeol tidak akan memikirkan Baekhyun saat ini. Karena tujuannya lebih penting, lebih penting membuat ayahnya mengamuk dari pada menjelaskan sesuatu yang tidak akan Baekhyun pahami.

Sang ayah memasang topinya. Hendak beranjak sebentar lagi. Namun sebelum pergi, pria itu meletakkan dua lipatan kertas di atas meja. Sebuah tiket pesawat dan juga note kecil. "Peringatan kematian ibumu─sebentar lagi."

Chanyeol membeku. Menatap keterdiaman ayahnya yang berangsur-angsur pergi. Ia bahkan tidak beranjak sedikitpun saat sosok itu sukses menarik gagang pintu. Keheningan semua orang lantas menghantam sebagian dirinya. Jemarinya pun turun, ada nada kosong yang tidak terisi di relung hatinya. Dan jujur ini menjadi kian membosankan.

"Jadi ayah membiarkan ini?"

Pria bernama Park Jaesoo itu lantas menoleh. Pandangannya begitu lembut dan juga kosong disaat yang sama. Sebuah potret tua, ketika Chanyeol menyelami hazel gelap itu tiap kali peringatan kematian ibunya datang. Selalu hampa. Tidak pernah ada emosi yang berarti.

"Jika kularang, kau pasti akan melakukan yang lebih buruk," tuturnya yang kemudian menghilang. Menyisakan Chanyeol yang membatu, tidak menyangka jika ayahnya tetap maju dengan membiarkan Baekhyun buta persoalannya.

"Kau berhutang banyak penjelasan." Baekhyun kini menegaskan. Memberinya kesadaran penuh. Alih-alih Chanyeol pergi menjauhkan diri. Menyingkir dari radar Baekhyun yang cukup marah dengan semua tindakannya pagi ini.

"Ada yang ingin kau katakan?" Chanyeol pergi mengambil air di dalam kulkas setelah membuka lipatan note yang diberikan sang ayah. Ia menemukan sebuah link dan sandi penyimpanan awan. Dimana kedua hal itu adalah sesuatu yang paling ia butuhkan untuk mengakses dokumen tua yang pernah disetujui perusahaannya dengan beberapa mitra.

"Chanyeol─"

Chanyeol masih tidak perduli. Meminum airnya dengan tenang demi mengabaikan si pemuda yang berantakan. "Pergilah jika kau tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan."

Alis Baekhyun mengerut. Ekspresi heran memenuhinya sampai nada bicara terakhir.

Chanyeol menghela nafas. Tersadar sekali lagi jika perkataannya cukup dingin. Tapi bukankah seharusnya demikian? Ia dan kedua adiknya tentu tidak akan senang jika hadir sosok baru di tengah-tengah keluarga. Sudah seharusnya ia tidak memikirkan perasaan 'orang yang tidak penting'. Bukan sesuatu yang harus ia pikirkan.

Mendapati Baekhyun yang terus berusaha membuatnya bicara, ia lantas berpindah pada sisi meja. Menyudutkan Baekhyun di antara kedua lengannya, sambil memikirkan banyak hal kusut. Penatnya lalu menghimpit Baekhyun, menegaskan sekali lagi perihal dilema topik 'kepercayaan' yang pernah Baekhyun angkat beberapa waktu ini.

"Berkali-kali aku katakan padamu, jangan percaya padaku."

Sosok itu lalu dengan cepat mendorong bahunya. "Aku tidak ingin membahas ini lagi."

"Perlu kutunjukkan?" Wajah Chanyeol perlahan menunduk. Jemarinya mengambil tiap lengan Baekhyun pada bahunya. Mendekat pada wajah pucat Baekhyun yang masih saja diluputi tanda tanya besar. Padahal Chanyeol tidak ingin berbagi cerita. Tidak ada gunanya berbicara pada seseorang yang akan ia singkirkan suatu hari.

"Mau kutunjukkan alasannya?" ulangnya kembali menemukan Baekhyun yang masih berdiri patung. Tidak meresponnya selain menatap ke dalam dua jernih hitamnya. Seolah tengah mencari sesuatu, tapi tidak kunjung ia pahami mengapa harus mencari.

"Jawab, Baekhyun." Chanyeol menuntut. Dan hal itu membuat Baekhyun diluputi gentar dalam bayang-bayangnya. Degup jantung si pemuda bahkan mudah terdengar dari jarak yang melenggang. Sedikit menunduk sosok itu berhasil menghindar darinya.

"Kau sendiri lihat bagaimana aku memperlakukan ayahku. Coba pikir─bagaimana denganmu?"

Raut tak mengerti si pemuda semakin putus asa. Ia bosan dengan keanehan Chanyeol yang tiap kali menerpanya. Namun sorot mata bulan sabit itu kembali menembusnya. Mencari-cari jawaban yang semakin gencar ingin ia buktikan sendiri.

"Kau tidak─"

Manik hitam Chanyeol kini menajam sempurna. Lingkarannya lalu berkilat-kilat tak sabar. Mengantarkan bantahan, terlebih ingin membuat sosok di hadapannya ini menyesal setengah mati karena terus menaruh percaya. Karena baginya semakin melelahkan terasa, ia hanya butuh dibenci untuk membuat sosok itu lenyap. Harusnya begitu.

"Benar. Kenapa harus kau orangnya?" gumam Chanyeol tak terdengar. Hatinya berubah melompong seperti mesin rongsokan. Lalu tanpa sengaja terbesit sesuatu dalam cara pikirnya. Bahwa Chanyeol telah menemukan sebuah jawaban yang hilang. Jawaban utama dari mengapa ia harus berada disini. Tentang tujuannya yang pergi untuk membuat sebuah kekacauan.

Maka dengan cepat ia kembali mendekat pada sosok yang ia jerat. Ia tidak berpikir, tidak pernah berpikir ulang saat semuanya telah diputuskan. Matanya yang tajam lalu membayang sosok Baekhyun yang berdiri kaku di hadapannya. Pemuda itu semakin membeku, bahkan belum menyadari sesuatu yang asing. Hanya sibuk membaca pergerakannya yang lamban. Kian hilang mencari jalan keluar.

Tidak butuh sebuah kalimat untuk membuat Baekhyun tersadar. Tepat ketika lengannya bergerak, Chanyeol mendorong sosoknya mundur hingga jatuh ke atas meja. Ia menekan kuat lengan-lengan kecil itu di permukaan. Sampai mengabaikan ponsel Baekhyun yang terjatuh keras di lantai. Tanpa bicara, Chanyeol meraup belah bibir yang nyaris berteriak itu ke dalam ciumannya yang menuntut. Semakin mengunci lengan-lengan itu bergerak mencegahnya, atau memukulnya dengan keras. Baekhyun terus memberontak, sementara ia sibuk bertaruh dengan seluruh emosinya.

e)(o

Baekhyun merasakan punggungnya terhantam kuat ke atas meja. Sudut kayu yang menempel di tiap sisi meja itu bahkan lebih dahulu menekan pinggangnya. Nyeri terkumpul dalam benaknya yang hilang. Mengaburkan pandangannya jauh, sampai menemukan Chanyeol yang begitu dekat dengannya. Menekannya nyaris begitu kuat sampai kepalanya tertanam permukaan meja.

Ia memberontak. Menggerakkan lengannya sekuat tenaga agar pria itu pergi darinya. Hendak membuat Chanyeol berhenti membuat kacau, atau sesuatu yang lebih buruk akan menimpa. Namun semua yang ia lakukan tidak akan menyadarkan seseorang yang menahan kedua lengannya. Hanya bisa biar bagaimana dirinya jatuh tenggelam. Membiarkan Chanyeol bergerak sesuka hati dalam pahit yang terkumpul dalam dirinya.

Untuk beberapa alasan, Baekhyun tidak pernah ingin menangis dalam hidupnya. Ia mengaku mampu mengatasi semua masalah hidupnya sendiri. Namun hari ini, satu air mata keluar dari pelupuknya. Mengiringi ketidakberdayaannya, menyisakannya seorang diri dalam hening yang ditimpa gelap. Bersama sosok hitam, yang ia harap bukan Park Chanyeol yang selama ini dikenalnya.

Chanyeol berakhir menatap lekat kedua maniknya yang buram. Membiarkannya sesak mengambil sisa pasokan udara di sekitar. Alih-alih pria itu tidak melepaskannya. Menyaksikan kelemahan dirinya, bagai tengah merapal sebuah mantra kutukan. "Kau masih ingin percaya padaku?"

Air mata Baekhyun jatuh sekali lagi, melintasi sudut matanya yang perih menahan panas. Untuk kali ini ia tidak suka mendapati sepasang mata itu berpendar. Tidak bisa menerima Chanyeol yang memperlakukannya sebegini buruk. Bahkan padanya yang telah hidup dengan benar.

Kris berkali-kali mengingatkan untuk menghindari pria-pria bajingan seperti Chanyeol. Pria itu benar soal dirinya yang beresiko menghadapi hal buruk. Pun ia hampir terjatuh ke dalam lubang hitam sekali lagi. Dan ia tidak yakin jika ia bisa mengadu pada Kris. Karena pria itu pasti akan sangat membencinya.

Baekhyun sebenarnya tidak suka dengan perkembangan, serta beberapa konsep kebebasan dalam hal memilih. Ia membencinya. Ia luar biasa tidak bisa memaklumi ketika seluruh lingkungannya begitu dekat dengan segala hal yang menyimpang. Baekhyun berbohong soal ia yang lumrah mendapati pasangan berbeda seperti itu di luar sana.

Lalu kini apa yang dilakukannya selain diam menangisi dirinya? Apa yang salah dari dirinya? Tidak bisakah ia hidup dengan benar, memilih salah satu gadis untuk ia titipkan hatinya, mencium gadis pilihannya seperti Chanyeol memperlakukannya? Tidak bisakah ia hidup seperti itu?

"Kau menarik, Baekhyun."

Sebuah kalimat mati itu seolah mengangkat wajahnya. Membuatnya menyelam, tertelan dalam deru nafas Chanyeol yang terdengar jelas di telinga. Sebuah senyum terlukis di wajah tegas yang Baekhyun kira akan selalu ia puji. Justru menamparnya telak, menggeser tiap ruang hatinya yang retak.

"Kau selalu berhasil menarik perhatianku. Entah dengan kau berbicara atau dengan pemikiran sederhana di kepalamu."

Sebuah tarikan emosi membuat Baekhyun merebut lengannya. Mendorong pria itu jauh darinya dengan sebuah tinju yang kuat. Pria itu mundur, mendapatkan darah yang menggantung di sudut bibir tebalnya. Namun Chanyeol tidak berhenti menyunggingkan senyum. Malah kembali menatapnya, meski ia sibuk mengamati bekas cengkraman yang memerah begitu dalam di kulitnya.

Dengan cepat Baekhyun menjuput ponselnya di lantai. Kembali mengambil langkah panjang untuk membebaskan diri, mencari pintu tangga darurat di ujung yang berbeda. Alih-alih berlarian menuruni banyak anak tangga di bawah sana, atau ia berpikir harus melompati pegangannya?

Dering ponsel kini tak kalah meribut. Memecah atensinya yang sibuk menghitung ribuan anak tangga dari lantai enam. Mendadak kakinya melangkah kacau. Lututnya bergetar hebat. Berdiripun Baekhyun merasa tidak sanggup. Maka ia terhenti di sudut. Menggapai pegangan tangga di sampingnya hingga ia jatuh ke lantai.

Gelap menemukannya. Cahaya ponsel menjadi satu-satunya yang menemani. Jemarinya tanpa ragu menggeser lingkaran hijau di layar. Menempelkan benda itu ke telinga tanpa menduga akan mendengar suara Kris yang berteriak.

"Kris─" panggilnya gemetar. Berdenyut hatinya menahan sakit.

"Baek, kau dimana sekarang?!" suara itu kembali bergema. Berderai bersama hujan yang mulai turun.

"aku harus pergi ke suatu tempat, maaf."

e)(o

Tiga jam menunggu, Kris akhirnya lega setelah mendapati Baekhyun pulang dengan pakaian kering. Setumpuk lelah menghias wajah si pemuda yang mendung. Namun kali ini terasa aneh di matanya ketika Baekhyun tidak kunjung berkomentar soal ia yang terlalu sering datang ke apartemennya. Pemuda itu hanya langsung memasuki kamar. Naik ke atas ranjang lalu menggapai selimut.

Kris bukannya orang yang jahat karena memasuki kamar Baekhyun diam-diam. Ia sering menunggu pemuda itu terlelap. Menemaninya bermain kartu di dalam sana dengan Wendy─yang bahkan satu-satunya perempuan di antara keduanya. Mereka tidak pernah mempermasalahkan soal privasi, tapi kali ini Baekhyun seakan berbicara tidak suka seseorang masuk ke kamarnya. Hanya menutup diri tanpa mau diperdulikan.

Pria dengan rambut hitamnya itu mendekat, sempat menarik kursi untuk ia duduki. Ingin tidak perduli dengan punggung Baekhyun yang tenggelam dalam selimut, padahal sudah jelas sosok itu tengah mencegahnya untuk bertanya. "Ada masalah?"

Baekhyun tidak menjawab. Bergerak kecil lengannya di balik selimut.

"Apa bos tempatmu bekerja membuat masalah?" coba Kris heran. Baekhyun yang ia temukan malam ini terlalu berbeda dari biasanya, dan tentu itu berhasil mengganggu ketenangan. Sungguh. Terlebih ketika pemuda itu bilang akan pergi ke suatu tempat, namun ditemukannya hanya pulang begitu saja.

"Please─" Baekhyun menginterupsinya baik-baik. Benar-benar ingin ditinggalkan seorang diri.

Pun Kris menautkan jemari. Tenggelam dalam racauan pikirannya yang terbang. Ia masih berbalut kemeja rapi, serba hitam pula. Tentu ia ingat bagaimana pertemuan yang batal ia hadiri hari ini hanya untuk membawa Baekhyun ke suatu tempat. Namun apa mau dikata, ia berakhir tidak bisa menghadiri keduanya.

"Kalau aku tahu, aku akan mengajak Wendy sejak awal."

Mendengar itu Baekhyun percaya. Memang bukan rahasia, jika Baekhyun terlalu polos untuk dibohongi siapapun. Kris mengakui itu. Dan karena alasan inilah mengapa ia selalu berada disini. Ia cemas Baekhyun jatuh ke dalam perangkap orang asing.

"Maaf─" ucapnya bergetar.

Alis Kris menyernyit. Ada suatu alasan yang membuatnya diserang khawatir. Dengan segera ia mendekat. Menggapai Baekhyun yang tenggelam di dalam selimutnya. "Baek, kau menangis?"

"Akhh─" Namun sosok itu meringis ketika ia tak sengaja menyentuh pinggangnya. Dan tiba saat Kris ingin bertanya, Baekhyun buru-buru menjelaskan, "Tidak, aku tidak apa-apa." Tengah berusaha untuk tidak menempatkan poin keluhannya.

Hal itu membuat kecurigaan Kris meningkat dua kali lipat. Ia segera menyibak selimut yang digunakan Baekhyun. Cepat-cepat menemukan Baekhyun meringkuk di bawah sana, lengkap dengan mata yang sembab. Tanpa berpikir panjang Kris lalu menarik pakaian yang dikenakan pemuda itu. Menyaksikan sisa garis kemerahan yang membentang di sekitar pinggang rapuh itu, ditambah dengan bekas luka yang belum kering di bagian punggung.

"Baekhyun, apa yang terjadi padamu?!" Kris diluputi panik. Matanya gemetar menaiki ranjang Baekhyun yang dingin.

Baekhyun dengan cepat mendudukkan diri. Membuang lengan Kris dengan cepat lalu membenarkan pakaiannya. "Aku tejatuh di tangga," jawabnya menunduk.

"Tidak, ini tidak seperti itu." Kris mengambil lengan kecil Baekhyun yang bersembunyi di balik hoodie yang dikenakannya. Semakin membuatnya curiga ketika aroma dan ukuran pakaian pemuda itu menjadi lebih asing. Terlebih ketika ia menemukan bekas cengkraman yang hendak hilang di lengan putih itu. "Dan ini bukan pakaianmu."

"Kris, aku baik-baik saja. Ini tidak seperti yang ada di dalam pikiranmu. Aku hanya meminjam pakaian temanku. Aku kehujanan."

Menatap mata yang memerah itu membuat Kris menyimpulkan sendiri jawabannya. Bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi tanpa ia ketahui. Sesuatu yang bisa membuatnya dikatakan lalai oleh seseorang. "Siapa yang meminjamkannya?"

"Kris," Baekhyun kembali memohon. Baru kali ini ia menemukan Baekhyun yang tidak mau berbagi cerita dengannya.

"Jawab aku," tekan Kris geram. "siapa yang meminjamkannya?!"

Sosok itu kemudian menekan keningnya. Memohon pengertian dengan sangat. Sedikit kesal dirinya ketika Kris tidak juga bisa tenang dengan pikirannya sendiri. "Kumohon, Kris, kau berlebihan!"

Baekhyun lalu merebut selimutnya kasar. Mendorongnya untuk menyingkir dari jangkauannya. Maka Kris tidak punya pilihan. Ia segera beranjak dari sana, menutup rapat pintu kamar Baekhyun perlahan dan mencari letak ponselnya.

Kakinya yang panjang memilih melenggang cepat keluar. Menapaki lorong remang di luar, lalu menemukan Wendy yang baru saja kembali. Gadis rambut pendek itu lalu menghampirinya dengan kantung kecil belanjaan.

"Kau akan pulang?" tanyanya ramah.

"Ya," jawab Kris cepat. Sayangnya, ia tidak punya banyak waktu. Ia harus segera kembali untuk mengurus sesuatu. "Bisa kau buatkan dia bubur esok hari?"

Raut khawatir lalu menghias wajah gadis itu. "Baekhyun sakit?"

"Entahlah, aku harus pergi," balas Kris buru-buru. Sudah ia bilang, ia tidak punya banyak waktu. Lantas Wendy tidak ingin bertanya lagi. Paham benar jika ia sudah berlarian masuk ke dalam lift.

Mengambil ponselnya, Kris menekan salah satu nomor yang bisa ia percaya. "Bisa kau laporkan padaku kemana perginya tiga Park itu selama sepekan ini?" tanyanya cepat setelah nada tersambung.

Butuh setengah menit ia menunggu seseorang di seberang sana memeriksa sesuatu. Dan Kris harus terkejut saat seseorang itu menjawab,

"Mereka sedang berada di luar negeri, pak."

e)(o

Baekhyun terbangun saat menemukan matahari menembus jendelanya. Sedikit bergerak, ia menyibak selimut tebalnya. Sebuah lipatan kain basah kemudian jatuh dari dahinya. Lupa jika jam weker di atas nakas tidak berfungsi dengan baik, maka benda itu berbicara bahwa harinya sudah sangat siang. Mata buram Baekhyun lalu segera menyeimbangkan diri dengan cahaya. Sadar benar jika ia sangat terlambat.

Namun sebuah note kecil baru saja ia temukan. Tulisan tangan Wendy tercetak di sana dengan semangkuk bubur dingin. Menyuruhnya untuk tidak pergi bekerja karena ia demam. Tulisnya begitu.

Tidak percaya, Baekhyun menyernyit meraba dahinya sendiri. Dan ia tidak menemukan masalah pada dirinya. Ia pun tidak demam dan juga flu seperti anggapan temannya. Maka ia beranjak dari sana. Mencari letak seragamnya di lemari karena ini adalah hari berat yang akan meramaikan isi restoran. Bosnya pun akan datang untuk kegiatan bulanan, ia tidak mungkin tidak terlihat disana.

Menggeser seluruh pakaiannya yang digantung, Baekhyun berubah resah sendiri. Ia nyaris lupa jika saat di Budapest, ia sempat mengirim seragam kerjanya hari itu. Buru-buru ia mengambil pakaiannya yang berwarna serupa. Berlarian ke kamar mandi demi membasuh wajah. Karena ia telah memutuskan untuk tidak mandi karena ia benar-benar sudah terlambat.

Sesampainya di restoran, Wendy menghampirinya seperti orang kesetanan. Memarahinya karena masuk kerja, padahal sudah diizinkan oleh semua orang, termasuk bosnya. Beruntung gadis itu tidak memukulnya dengan sapu. Bodoh sekali kan kalau dilihat pelanggan yang lain?

"Kau tidak pakai seragam," komentar Wendy menarik luaran seragamnya. Menyerahkan benda itu padanya untuk ia kenakan di belakang sana. "Untung saja bos sudah datang."

"Seragamku belum kembali," keluh Baekhyun segera memakainya. Tidak perlu ke belakang karena ia memutuskan untuk langsung bekerja.

"Benar kau sudah sembuh?" Wendy terus meyakinkannya. Raut cemas masih saja tersemat di wajahnya yang lusuh. Ia baru saja menawarkan antar pulang kalau Baekhyun ingin.

Baekhyun mengangguk senang. Ia beruntung memiliki tetangga apartemen sebaik Wendy. Siapa lagi yang akan membuatkannya─dan juga Kris─makanan kalau tidak bertemu dengan gadis ini? "Terima kasih."

Wendy pun segera melirik ke sekitar sebelum mendekat. Mengarahkan telapak tangannya di dekat rahang ketika ia berbicara. "Tadi pelanggan nomor satu datang. Kami benar-benar tidak tahu seleranya. Jadi dia hanya pesan kopi." Gadis itu menjeda sebentar. Yakin jika pemuda di depannya tahu benar siapa orang yang ia maksud. "Pria itu bahkan tidak tahu menu yang dipesannya setiap kali datang kemari. Dan ia tidak mengambil uang kembalian seperti saat itu─"

"Kau sering bertemu dengan pria itu, kan?"

Sontak keduanya terkejut dengan kehadiran pria berwajah kotak dengan tiba-tiba. Sosoknya masih memeluk nampan di dada. Tersenyum dengan bodoh pada Baekhyun yang masih belum juga mengambil tugas.

"Dasar penguping!" tuduh Wendy menahan kesal. Seperti yang semua orang tahu, Wendy benar-benar tidak suka dengan mulut ember dan kuping gajah milik Jongdae ini.

"Tidakkah kau merasa jika dia menyukaimu?" tanya Jongdae lagi. Tanpa beban, tanpa berpikir dua kali. Sementara Baekhyun sudah bingung dengan sempurna mendengarnya. Bertanya-tanya apakah pertanyaan itu akan ditujukan pada Wendy, karena gadis itu satu-satunya yang memungkinkan disini.

Wendy kembali berdecih. Ia tahu jika pria berwajah kotak itu sedang tidak bicara dengannya. "Yang benar saja, dia sudah punya istri."

"Bagaimana jika tidak lagi?" toleh Jongdae bersandar pada meja kasir. Lalu matanya berkedip bodoh menunjukkan bulu matanya yang lentik seperti unta. "Kau bahkan tahu jika dia hanya tidak berantakan ketika Baekhyun ada disini. Bocah ini selalu membantunya, mengatur pesanannya seperti pelayan pribadi."

"Dengar, Baekhyun bukan orang seperti itu," tekan Wendy berkacak pinggang. Paling tidak terima kalau temannya dicap tidak benar.

"Aku tahu. Tapi kita tidak akan tahu kapan semua kemungkinan di dunia ini berubah." Jongdae kini menatap Baekhyun. Menelisik wajah temannya yang masih saja terdiam menyimak ocehan. Padahal baru kemarin ia menemukan sosok itu menangis kehujanan di rumahnya. "Jadi Baek, aku sarankan kau harus menghindarinya kalau kau tidak ingin. Walaupun kau tidak pernah keberatan berteman denganku sebelumnya."

Untuk sebuah alasan, Baekhyun terdiam sendiri. Mengingat kembali banyak pertemuan mereka yang sepertinya wajar-wajar saja. Dan cukup masuk akal sebenarnya pertemuan mereka jika bertujuan semata karena urusan pekerjaan. Chanyeol juga orang yang profesional, jadi soal anggapan Jongdae, tidak mungkin pria itu menyukainya. Terlebih Chanyeol adalah orang straight, dia beristri. Tapi dalam semalam segalanya terasa membingungkan, kenapa pula pria itu menciumnya? Ada apa sebenarnya?

"Menurutmu─"

"Kau tidak tahu?" Jongdae yang merasa senior dalam bidang ini, buru-buru meletakkan nampannya di meja Wendy. Membuat gadis itu mengerang kesal, tidak berpikir ia mendorong nampan itu sampai nyaris terjatuh ke lantai. "Hanya dengan melihatnya menatapmu saja aku segera tahu jika dia adalah orang yang berbeda."

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Maaf, aku baru lanjutin ini sekarang. Sudah satu bulan aku hilang, dan saat mencoba untuk lanjut, ini tiba-tiba jadi sulit. Sebelum aku menulis chap. 8, aku butuh dua hari untuk membaca ulang ceritanya.

Aku ingin menyelesaikan ini. Semoga kalian masih ingat.

Terima kasih karena masih menunggu cerita ini.