.

.

.


Memento

Disclaimer: Naruto dan High School DxD bukan punya saya.

Rated: T+

Genre: Adventure, (Fail) Comedy, Friendship, Mystery, and a lil bit of Romance (gonna work rly hard for this one).

Warning: Alternate Fact, Alternate Timeline, Out of Character, dan yang paling penting… Elemental Nations Universe!


Chapter 1—Blonde Girl

.

.

.

Tubuh gadis itu dibalut oleh sebuah pakaian putih panjangnya menjuntai panjang sampai lantai. Wajahnya kalem, kedua irisnya berwarna biru cerah, rambut pirangnya pirang panjang. Dia menatap Naruto diam.

Naruto menatapnya menyelidik.

"Siapa kau?" tanya Naruto.

"Umm… biar kuingat-ingat dulu," jawab gadis itu menggantung.

Itu adalah jawaban yang tidak menjawab apapun. Naruto mulai berspekulasi dengan Kurama dalam pikirannya. Mereka menerka-nerka siapa gadis yang satu ini. Dari mana dia dan yang paling penting adalah… apa dia?

"Namaku adalah Gabriel," jelas gadis yang mengaku bernama Gabriel itu. Gadis itu menunjukkan sebuah ekspresi yang cerah. Terlihat bersahabat dan lembut.

Naruto menatapnya dalam diam dan tidak berniat menjawab sama sekali. Spekulasi terus dilakukan bersama Kurama. Saling bertanya apakah masing-masing dari mereka pernah mendengar nama semacam itu selama kehidupannya. Mungkin saja dengan mengetahui nama, mereka bisa melacak atau mengetahui dari mana gadis ini berasal dan dari keluarga mana dia. Tapi mereka menemui jalan buntu. Tidak pernah sekali pun mereka mendengar yang semacam itu.

Sebenarnya, masalah nama bukan sesuatu yang dikhawatirkannya sekarang. Ada di sisi mana gadis ini, adalah hal yang dikhawatirkannya. Kalau gadis ini ada di sisi gelap, akan repot bagi Naruto.

"Dari mana asalmu?" tanya Naruto.

"Sejujurnya, aku sendiri juga tidak tau…" jawab Gabriel pelan.

Bingung adalah reaksi Naruto. Bagaimana bisa seseorang tidak tahu dari mana dia berasal? Itu adalah hal yang konyol. Tunggu… Di dunia penuh misteri ini, itu bukanlah hal yang konyol. Akan lebih tepat jika dikatakan bahwa hal itu adalah sesuatu yang ganjil sebenarnya.

"Aku hampir tidak bisa mengingat apapun. Hanya namaku saja yang kuingat sekarang."

Rasa curiga mulai tumbuh di hati Naruto. Dia tidak bisa memercayai pernyataan Gabriel begitu saja. Tetap ada kemungkinan bahwa gadis itu adalah mata-mata dari kelompok atau pihak yang tidak diketahui.

Naruto mencoba mempelajari ekspresi Gabriel dan mencari kebohongan yang tersirat di iris yang berwarna sama dengannya itu. Sedikit pun kegelapan yang tersimpan pada gadis itu akan terasa seharusnya akan terasa oleh Naruto karena dia adalah tipe sensorik yang bisa mengenali emosi negatif seseorang. Tapi, dia tidak merasakan apapun. Gadis ini tidak berbohong. Benar-benar murni kehilangan ingatannya sendiri.

Itu aneh.

Menggunakan sensornya lagi, Naruto mengulik energi yang menguar dari tubuh gadis ini. Terasa begitu hangat dan terang. Terasa sangat bersahabat dan menenangkan. Sesaat kemudian, aura itu meluruh, menguap di udara. Tidak meninggalkan sisa sama sekali. Menjadikan gadis yang ada di depannya ini seperti warga desa biasa yang tidak memiliki chakra.

'Kurama…'

'Ya. Ini memang aneh sekali. Aku sama sekali tidak bisa merasakan energinya sekarang. Dia tidak lebih dari seorang warga biasa tanpa bakat sebagai shinobi.'

'Lalu apa yang harus kulakukan sekarang, Kurama? Meninggalkannya begitu saja dan melapor kepada Tsunade baa-san?' tanya Naruto meminta solusi.

'Kita tidak bisa melakukan apapun sekarang, Naruto. Masalah ingatan sudah di luar spesialisasi kita sebagai seorang petarung. Bawa gadis ini ke desa adalah pilihan yang bijak. Setelah sampai, kita bisa memberikannya ke unit dari Divisi Intelejen yang dipegang oleh Klan Yamanaka. Biarkan mereka mencari jawabannya dengan jutsu mereka,' jelas Kurama.

Benar, solusi yang diberikan Kurama adalah yang paling masuk akal untuk dilakukan. Sekarang kondisinya terbatasi oleh ketidakmampuannya dalam menggali informasi dalam pikiran. Dia tidak bisa masuk ke dalam ingatan gadis ini secara paksa karena dia tidak menguasai jutsunya.

Selain itu, tidak akan terlalu berbahaya bagi Naruto untuk membawa gadis ini ke Konoha. Bisa apa gadis yang tidak mengingat apapun. Tidak mungkin sekali gadis ini membuat kekacauan ketika tidak mengingat apapun. Kalau pun gadis ini bisa mengingat sesuatu dan akan membuat kekacauan, Naruto pasti bisa mengatasinya dengan mudah. Bukannya sombong atau apapun, tapi Naruto adalah orang yang menduduki posisi pertama dalam tangga kekuatan di dunia ini, bersama dengan Sasuke.

Sebuah faktor yang lainnya lagi, hati nuraninya yang lembut juga meyakinkannya untuk membawa gadis ini ke Konoha.

Sudah diputuskan, Naruto akan membawa gadis ini ke Konoha.

"Etto… Gabriel-san."

"Hmm?" gumam Gabriel pelan. Dia menatap Naruto bingung.

"Karena kau sedang sendirian dan dalam kondisi tidak mengingat apapun, akan berbahaya kalau kau tetap berada di sini. Terlebih kau adalah seorang perempuan," jelas Naruto.

"Umm… Benar juga ya," ucap Gabriel sambil memasang pose berpikir.

"Bagaimana kalau kau ikut denganku ke Konoha?" tawar Naruto. Sebenarnya ini bukanlah tawaran, tapi sebuah permintaan persetujuan. Meskipun nanti gadis ini menolak untuk ikut, Naruto akan tetap menyeretnya ke Konoha secara paksa. Dia tidak akan sampai hati meninggalkan gadis tidak berdaya ini sendirian.

"Konoha?"

"Ya."

"Apa itu?" tanya Gabriel polos.

"Eh?" gumam Naruto heran. Dia sedikit terkejut dengan pertanyaan polos gadis itu. Oh ya, benar juga. Gadis ini kehilangan ingatannya. Bagaimana bisa dia lupa dengan fakta yang satu ini?

"Konohagakure no Satou. Sebuah desa Shinobi yang menjadi pusat kekuatan militer dari Hi no Kuni. Itu adalah tempatku tinggal. Aku bisa membawamu ke sana untuk sementara. Setidaknya sampai ingatanmu kembali dan kau bisa hidup sendiri," ucap Naruto memberikan penjelasan kepada Gabriel.

Gadis itu terlihat menganggukkan kepalanya mengerti. Tapi ekspresinya terlihat ragu. Sepertinya dia juga memikirkan sebuah kemungkinan bahwa mungkin saja dia ditipu oleh pemuda yang entah kenapa menawarkan supaya dirinya ikut dengan pemuda itu. Meskipun dia kehilangan ingatannya, logikanya masih berjalan dengan baik.

Ketika Gabriel melihat ke arah Naruto yang menatapnya dengan tatapan bersahabat, entah kenapa dia yakin bahwa lebih baik dia ikut.

"Umm… Aku mengerti. Kurasa aku mau untuk pergi denganmu. Tapi… apakah boleh?" tanyanya ragu.

"Tentu saja boleh," jawab Naruto lembut. Seperti biasanya, dia akan berubah menjadi seseorang yang lembut dan bersahabat. Jangankan orang yang baik dan sedang tidak berdaya. Dia saja bahkan kadang bersikap sama kepada musuhnya. Ini adalah sebuah sifat alamiahnya.

"Kalau begitu… Mohon bantuannya, err…"

"Uzumaki Naruto. Panggil saja Naruto," ucap Naruto memperkenalkan dirinya. Gabriel tersenyum mendengarnya.

"Mohon bantuannya, Naruto."

.

.

.

Beberapa jam sudah berlalu. Langit yang tadinya masih biru sudah berubah warna menjadi jingga tanda hari sudah semakin sore dan sebentar lagi mungkin matahari akan terbenam.

Tinggal beberapa kilometer lagi, Naruto akan sampai di Konoha.

Karena beberapa hal, wajahnya terlihat bersemu merah. Tubuhnya terasa sedikit kaku dan ekspresinya kikuk.

Wajar saja, dia sedang menggendong seorang gadis cantik di punggungnya. Ini memang bukan kali pertamanya menggendong seorang gadis, tapi entah kenapa dia merasa lebih kaku sekarang. Terlebih lagi, dia merasakan tekanan di punggungnya. Tekanan sepasang benda lembut yang membuatnya merasa melayang tinggi.

Uhh… Memikirkannya saja sudah membuat Naruto semakin memerah dan malu. Dia harus lebih cepat sampai ke gerbang utama Konoha supaya bisa terbebas dari kenikmatan yang menyiksa ini!

Beruntung sekali, dia sudah bisa melihat gerbang yang menandakan bahwa dia memasuki desa di depan sana. Ditambahkannya kecepatan berlarinya agar lebih cepat sampai. Dia sudah tidak sabar lagi pokoknya. Pada satu titik, dia menguatkan pijakannya pada tanah, lalu melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi.

"Kyaaaa! N-Naruto! Ja-Jangan cepat-cepat!" pekik Gabriel takut. Ya siapa yang tidak takut jika kau tidak pernah mengalami kejadian tidak masuk akal seperti melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi seperti ini. Setidaknya itu yang diingatnya dengan ingatan yang terbatas sekarang.

Naruto yang mendengar pekikan itu tidak menurunkan kecepatannya dan berhenti di gerbang. Dia menyengir tidak jelas setelah berhenti.

"Ehehe… Maaf, Gabriel-san," ucap Naruto tidak merasa bersalah. Kenapa juga harus merasa bersalah. Toh nanti Gabriel juga kemungkinan akan merasakan pengalaman melesat dengan kecepatan tinggi lagi. Tidak ada salahnya memberikan sebuah pengalaman pertama dalam hal seperti ini kan.

Gabriel yang baru saja turun dari punggung Naruto langsung mengembungkan kedua pipinya. Dia menatap Naruto sebal. Sama sekali tidak mengerti kalau tatapannya memberikan sebuah damage kepada Naruto.

'Ughh… Kenapa harus melihatku dengan tatapan seperti itu sih,' rutuk Naruto.

"Maaf-maaf… Tidak akan kuulangi lagi. Aku hanya terlalu antusias setelah melihat gerbang desa. Tolong berhenti melihatku seperti itu," ucap Naruto sambil memalingkan pandangannya.

"Huh…"

Naruto dan Gabriel berjalan melewati gerbang ini. Mereka sudah sepenuhnya masuk ke dalam Desa Konoha. Gabriel mengikuti Naruto yang membelokkan tujuannya ke sebuah pos pemeriksaan kecil yang dijaga oleh dua orang pria yang sepertinya sedang berseteru entah karena apa.

"Sudah kubilang Ayame-chan yang lebih cantik!" seru pria yang berambut jabrik dengan aksesoris kain di hidungnya.

"Mana mungkin? Koyuki-sama yang paling cantik oi!" balas pria yang berambut hitam panjang sampai menutupi sebelah matanya tidak terima.

Naruto sweatdrop ketika mendengar perdebatan tidak bermutu dari dua orang yang dikenalinya sejak kecil itu.

"Err… Permisi, Kotetsu-san, Izumo-san," sapa Naruto.

"Apa?!" teriak mereka serempak.

"Hii! Kenapa sih?!" Naruto juga ikut berteriak.

Kedua pria yang tadinya sedang berdebat itu diam ketika melihat Naruto. Mereka merubah ekspresinya dengan cepat. Seolah melupakan perdebatan mereka sebelumnya.

"Oh, Naruto ternyata. Sudah sampai ya? Katanya sedang menjalankan misi tingkat A. Kenapa pulangmu cepat sekali?" tanya Kotetsu.

"Sudah selesai kok. Aku akan segera menemui Hokage-sama untuk melaporkan misiku," jawab Naruto.

Izumo yang dari tadi menyimak percakapan Naruto dan Kotetsu mengalihkan pandangannya kepada seorang gadis yang sepertinya datang dengan Naruto tadi. Pandangannya terpaku dalam diam. Izumo benar-benar terpesona pada gadis pirang ini.

Izumo memberingsut dan merangkul Naruto serta Kotetsu lalu berbisik pelan, "Naruto! Siapa putri cantik ini?! Jelaskan padaku. Kau pasti menculiknya supaya bisa kau monopoli kan?! Iya kan?! Cepet ngaku!"

Naruto mengernyit aneh mendengar pertanyaan serta dugaan tidak berdasar Izumo. Dia hanya diam, sebelum teringat bahwa dia pulang tidaklah sendirian, tapi sambil membawa seorang gadis yang ditemukannya.

"Dia?" tanya Naruto sambil menunjuk Gabriel. Yang ditunjuk hanya memiringkan kepalanya bingung sambil ikut menunjuk wajahnya sendiri dengan wajah menggemaskan. Wajah Kotetsu dan Izumo sontak memerah ketika melihat itu.

Naruto berpikir keras. Bukan sebuah hal yang bijak untuk tiba-tiba mengenalkan seseorang yang identitasnya masih belum diketahui secara pasti. Apalagi dia belum memberikan laporan kepada pemimpin desanya. Naruto tidak boleh mengambil keputusan seenaknya sekarang.

Jadi, hanya ada satu hal yang terpikirkan di dalam kepalanya.

"Dia… adalah bunshinku," jawab Naruto.

"Hah?! Mana mungkin aku percaya pada alasanmu yang ngawur itu?" tolak Kotetsu tegas.

"Hei! Lihat saja ciri fisiknya. Warna rambut dan matanya saja sama denganku!" jelas Naruto logis. Yah, memang benar sih. Warnanya memang sama.

"Err… Iya juga ya," jawab Kotetsu sambil mengangguk setuju. Pandangannya dan Izumo kembali terpaku kepada gadis pirang yang datang bersama dengan Naruto.

"Sudahlah, berbicara dengan kalian memang selalu aneh jatuhnya. Aku akan pergi sekarang."

Naruto memegang tangan Gabriel lalu menghilang menggunakan shunshin miliknya. Meninggalkan Kotetsu dan Izumo yang masih terdiam terpaku pada tempat gadis yang membuat mereka terpesona.

Sedetik kemudian, mereka tersadar bahwa yang mereka lihat sudah menghilang. Selain itu, mereka juga menyadari bahwa Naruto sedang menipunya.

"Narutoooo!"

.

.

.

Beralih ke kantor Hokage, terlihat ada tiga orang yang sedang berdiskusi. Lebih tepatnya, seorang pemuda pirang yang memberikan laporan misi, lalu dua orang perempuan menginterogasinya habis-habisan. Tidak terlihat ada gadis pirang yang dibawa oleh si pemuda pirang tadi sore.

"Jadi, kenapa kau malah pulang cepat dan membawa seorang gadis?" tanya Tsunade menyelidik.

Naruto menghela nafasnya lelah. Setidaknya dia sudah ditanyai pertanyaan yang sepenuhnya sama sebanyak tiga kali dan kali ini dia kembali diberi pertanyaan yang sama.

"Sudah kubilang… Misiku sudah selesai, Baa-san!" jawab Naruto sebal. Tsunade dan Shizune yang sedang di hadapan Naruto menatapnya tidak percaya. Mereka menatap Naruto seolah meminta jawaban lebih.

"Kenapa sih? Telingamu sudah terlalu tua untuk mencerna laporanku tadi? Makanya, kalau sudah usang ya jangan ditutupi pakai jurus! Berhenti saja sana jadi Hokage," gerutu Naruto jengkel.

"Apaaa? Apakah tadi ada yang bilang tua?" tanya Tsunade dengan menekankan kata tua. Dia tersenyum manis kepada Naruto. Tentu saja Naruto melihatnya sebagai sebuah senyuman iblis yang siap membunuhnya kapan saja.

"Err… Mungkin salah dengar kok, Tsunade Baa-san. Hehehe…"

"Hmm… Kurasa memang salah dengar ya?"

"Iya iya! Pasti salah dengar!"

"Telingamu sudah terlalu tua untuk mencerna laporanku tadi?..."

Naruto menegang dan berkeringat dingin ketika mendengar sebuah suara miliknya terulang. Dia menatap Shizune yang juga menatapnya datar. Ada sebuah alat perekam di genggaman tangannya.

Pemuda itu mengalihkan pandangannya takut-takut ke Tsunade yang sudah mengeluarkan aura mengerikan.

"Err… Ehehehe…"

"Kau memang minta dibunuh sekarang juga, Naruto," desis Tsunade kesal.

Bukannya marah-marah seperti biasanya, Tsunade menghela nafasnya lelah. Dia memandang Naruto yang memandangnya takut-takut.

"Dengar, Naruto…"

"Ya?"

"Aku mendengar laporanmu dan memahaminya dengan sangat jelas."

Naruto menatapnya bingung. Biasanya sih dia akan dihajar dulu sebelum diajak bicara. Yah, membicarakan masalah umur dengan seseorang seperti Tsunade memang bukan hal yang bijak. Bijak sih kalau kau adalah seorang masokis.

Pemuda itu menatap Tsunade yang sedang menatapnya dalam-dalam.

"Gadis yang kau bawa akan berada di bawah pengawasanmu mulai detik ini," titah Tsunade.

"Ap-Hah?! Kenapa?!" seru Naruto.

Sebuah tatapan tidak percaya dilayangkan Naruto kepada Tsunade. Apa maksudnya? Mana mungkin dia harus beralih tugas dari seorang ninja spesialis bertarung menjadi pengawas seorang gadis yang hilang ingatan. Ini tidak bisa diterima! Naruto… Naruto mau protes sekarang!

Tsunade bukannya menjawab, malah menatap Naruto dengan tatapan tajamnya yang membuat Naruto langsung merasa ciut.

"Kau yang bawa, kau yang tanggung jawab!" bentak Tsunade.

"Tapi kan… Itu adalah hasil dari misi yang kau berikan. Kenapa jadi aku yang harus bertanggung jawab?!" seru Naruto tidak percaya.

"Perintahku adalah cari dan selidiki. Bukan cari cewek terus karungin!" balas Tsunade tidak terima.

Naruto bersemu merah ketika mendengar sindiran keras. Malu rasanya dia ketika dibalas seperti itu.

Hei! Jangan salahkan dia karena inisiatifnya untuk membawa pulang gadis itu. Dia hanya tidak tega. Lagipula, siapa sih orang jahat yang mau meninggalkan gadis tidak berdaya di tempat yang bahkan tidak bertuan seperti itu. Iya kalau gadisnya kuat dan bisa menjaga dirinya sendiri. Nah ini kasusnya berbeda. Gadis yang satu itu tidak mengingat apapun. Meninggalkannya sendirian adalah sebuah tindakan kejam!

Tapi… Naruto tidak pernah menduga bahwa Tsunade akan memerintahkannya untuk menjaga dan mengawasi gadis ini. Seperti kurang kerjaan saja dia. Seharusnya tugas yang semacam ini diberikan kepada ninja yang lebih sering berada di desa kan? Naruto kan sering keluar.

"Aku tau apa yang kau pikirkan, Naruto. Mau tidak mau kau harus melakukannya. Biar kuingatkan sekali ini saja, otoritasku sebagai seorang Hokage juga meliputi pemberian perintah absolut kepada bawahanku. Kau adalah bawahanku. Sudah bisa menyimpulkan sendiri kan?"

Naruto merengut kesal. Dia berbalik tanpa menjawab penjelasan dari Tsunade. Persetan dengan membalas. Yang penting sekarang dia mau pergi dari sini.

Selepas kepergian Naruto, Tsunade malah tersenyum lembut. Dia tahu bahwa meskipun Naruto tidak memberikan persetujuan, Naruto pasti akan melakukan hal itu.

Dalam hatinya, dia meyakini bahwa keputusannya adalah sesuatu yang tepat. Dia hanya ingin membuat Naruto menjadi pribadi yang lebih terbuka kepada lawan jenisnya.

Naruto terus murung semenjak dulu ketika Perang sedang berlangsung, Duo Hyuuga yang seangkatan dengannya tewas. Benar sekali. Hyuuga Neji serta Hyuuga Hinata tewas dalam perang. Kematian Neji memberikan dampak sebagai seorang sahabat, tetapi bagaimana dengan kematian Hinata? Naruto benar-benar hancur dulu. Ketika melihat gadis yang mencintainya dengan tulus mengorbankan dirinya sendiri untuk melindunginya sekali lagi. Naruto merasa sangat gagal kala itu.

Hari-hari yang sekarang sudah lebih mending. Naruto tidak lagi terlihat termenung dan sedih. Tapi Tsunade tahu bahwa Naruto masih terhitung tertutup. Jadi, dia berpikir bahwa mungkin ini adalah salah satu cara supaya orang yang sudah dianggap sebagai adik kecilnya kembali bangkit.

'Yah… Semoga saja ya.'

.

.

.

Kembali ke Naruto, dia sedang dalam perjalanan menuju ke tempat Divisi Intelejen. Lebih tepatnya di Unit khusus yang dipegang oleh Klan Yamanaka. Dia akan menjemput Gabriel yang tadi dia antarkan ke tempat itu sesaat sebelum dia melapor kepada Tsunade.

Di sinilah dia, sampai di depan sebuah bangunan sederhana yang menjadi tempat tujuannya. Ini adalah tempat dari Divisi Intelejen. Memang terlihat sangat sederhana dan terkesan seperti rumah biasa, tapi di dalamnya terdapat jalan ke bawah tanah. Tempat salah satu instansi terpenting Konoha beroperasi selama setidaknya satu dekade terakhir.

Cklek…

Sebelum sempat Naruto membuka pintu, pintu bangunan sederhana itu sudah terbuka. Memunculkan seorang gadis berambut pirang panjang yang dicari oleh Naruto.

"Ahh! Naruto. Kupikir aku harus menunggu lama sebelum kau datang," ucap Gabriel ceria.

Naruto tersenyum simpul mendengar kalimat Gabriel.

"Tentu tidak. Jadi, bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Naruto kepada Gabriel.

Bukannya menjawab, Gabriel malah memberikan sebuah amplop coklat kepada Naruto. Amplop itu memiliki sebuah stempel khusus dari Divisi Intelejen. Naruto menebak bahwa isi dari amplop itu adalah sebuah print out lengkap hasil pemeriksaan Gabriel.

Naruto menerima lalu membuka amplop itu.

Seolah memang ditujukan kepadanya, isi dari amplop itu malah lebih seperti surat ketimbang hasil dari pemeriksaan.

Kepada Naruto-sama,
Tidak ada yang salah dengan kepala Nona Gabriel. Hilangnya ingatan dari Nona Gabriel ini kami duga bukan disebabkan oleh sebuah jutsu.

Kami menemukan fakta bahwa yang terganggu dan hilang hanya pada bagian ingatan identitas serta masa lalunya. Selain itu, dia mengingat semuanya. Sebagai contoh, logikanya berjalan dengan sangat baik. Bahkan, intelejensi miliknya tergolong tinggi.

Lagipula, sebenarnya akan menjadi pilihan yang lebih bijak jika anda membawanya ke Rumah Sakit dibanding mencari ingatannya secara paksa menggunakan Jutsu Klan Yamanaka.

Bingung serta heran adalah respon dominan dari Naruto. Dia kembali membacanya sampai dua kali supaya dia sendiri tidak salah baca. Takut-takut dia kehilangan satu atau dua poin penting dari laporan yang diberikan.

Gabriel yang melihat Naruto terdiam cukup lama setelah menerima surat itu pun jadi sedikit penasaran. Dia bertanya pada Naruto, "Bagaimana? Tadi sih pemeriksanya bilang aku tidak apa-apa. Apa yang tertulis di kertas itu?"

Naruto terdiam sejenak, lalu memberikan sebuah senyuman kepada gadis itu.

"Bukan apa-apa. Mereka juga bilang kau baik-baik saja," jawab Naruto. Itu bukanlah sebuah kebohongan mengingat Naruto menjawab berdasarkan fakta bahwa Gabriel terhitung baik-baik saja.

Gabriel hanya mengangguk-angguk paham. Kemudian ikut tersenyum simpul.

Pandangan Gabriel teralih kepada langit. Ah, ini sudah gelap. Dia mengalihkan pandangannya ke Naruto yang masih diam dan berpikir.

"Kalau begitu, ayo kita pulang!" seru Gabriel.

Seruan Gabriel membuat pikiran Naruto kembali ke dunia nyata. Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia menatap Gabriel dengan sedikit bingung. Err… gadis itu berkata pulang? Hei! Dia kan tidak punya rumah—maksudnya dia tidak ingat punya rumah kan?!

"Pulang? Kau mau pulang ke mana?" cicit Naruto bingung.

"Apa maksudmu? Tentu saja ke rumahmu!"

Naruto masih mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Gabriel. Pandangannya melebar. Ah—

"Tunggu apa lagi? Ayo!"

-Naruto lupa dia yang bertanggung jawab penuh. Maksudnya, benar-benar secara penuh.

Itu berarti… dia akan tinggal seatap dengan seorang gadis.

'AHHH! TIDAAKK!'

'Berisik ah!'

.

.

.


Chapter 1: Blonde Girl—END


.

Ini adalah sebuah project yang mencoba membuat sebuah reversed crossover di mana universe yang digunakan adalah Elemental Nations. Iya, emang dibalik gitu. Tentang ada apa aja, tentu saja saya tidak akan membocorkannya di chapter satu dong!

Tentang si Gaburiru ini, silahkan menebak-nebak, kenapa dia bisa ada di sini. Selain itu, dia juga tidak memiliki ingatannya di masa lampau. Yang berarti… masih sebuah misteri gitu. Ah, jangan marah ya. Saya emang coba bikin sebuah fiksi dengan sedikit misteri yang ringan-ringan ehehehe…

Ngomong-ngomong, sudah pasti chapter kemarin pendek karena memang sengaja dibuat prolog. Oh iya! Hampir ae lupa. Kalau tadi bacanya teliti, disebutkan bahwa Hinata juga merupakan korban di fic ini. Tentu saja untuk kelancaran plot hehehe...
Informasi lagi, kemungkinan besar saya tidak akan mengganti rating fic ini lebih dari T+ karena memang kontennya tidak mencakup ke M kecuali nanti saya bikin adegan yang mungkin cukup sadis. Tapi, yang pasti saya nggak akan bikin sesuatu seperti lemon. Emang nggak mau aja wkwkwk...

Oh, hei! Benar sekali, bung. Fic ini memang aneh. Muahahaha... Sumpah saya setuju sama review yang satu ini. Ficku memang aneh-aneh wkwkwk...

Terus terus… Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin, temen-temen. Maafin saya ya T.T

Makasih udah mampir. Mau review kah?