Kedua mata birunya memicing tajam. Rahangnya semakin mengeras seiring berjalannya waktu. Kedua tangannya mengepal kuat. Pikirannya terbagi sekarang. Fokusnya terbagi antara harus mengalahkan keempat musuhnya dan mempertanyakan tentang salah satu dari mereka. Lebih tepatnya mempertanyakan eksistensi pengguna Mokuton.

Mokuton.

Sebuah elemen langka yang dikenal sebagai elemen otentik milik Senju Hashirama. Salah satu kekkei genkai paling kuat dan memiliki potensi yang luar biasa. Sejauh ini diketahui hanya ada segelintir shinobi yang dapat menggunakan Mokuton dan semuanya berasal dari Konoha. Nah, yang menjadi pertanyaan terbesar Naruto adalah, bagaimana bisa Mizu no Kuni memiliki shinobi yang dapat menggunakan Mokuton?

Salah satu spekulasi yang paling memungkinkan adalah seseorang dari Mizu, entah dari Kiri atau desa terpencil lainnya, menemukan secuil atau bahkan sebongkah sel dari seorang Senju Hashirama dan ditanamkan kepada seseorang sehingga dia bisa menggunakan Mokuton. Namun, jika mereka melakukan hal itu, seharusnya dipublikasikan kepada seluruh negara yang menjadi aliansi mereka, dan Naruto pasti akan mendengar kabarnya.

Ketika masih berada dalam alam pikirannya, Naruto merasakan bahwa instingnya memperingatkannya tentang sebuah serangan yang mungkin sedang datang.

Sensor Naruto bekerja dengan sempurna ketika sebuah kayu yang berpilin bergerak di bawah tanah. Berusaha menusuk Naruto secara vertikal dari bawah.

Sesaat sebelum kayu itu berhasil mengenainya, Naruto melompat menjauh. Berkali-kali kakinya menapak di tempat yang berbeda-beda dan posisinya semakin ke belakang. Kayu berpilin itu masih terus menerus mengejarnya sampai Naruto sendiri cukup kesal karenanya.

"Tch!" decak Naruto.

Naruto mengambil sebuah napas panjang sembari merapal handseal dengan cepat.

"Fuuton: Kazekiri no Jutsu!"

Tiga buah pedang angin dihembuskan oleh Naruto dari mulutnya. Dua dari tiga pedang angin itu menyasar kayu yang masih berusaha menangkap dan menyerang Naruto. Dengan kecepatan tinggi, kedua pedang angin itu memotong kayu tersebut. Sedangkan pedang angin yang satunya lagi dihembuskan Naruto kepada musuhnya yang sedang berada jauh di depannya.

Keempat orang yang sedang berdiri berjajar itu semakin merapatkan diri mereka. Salah satu dari mereka merapal handseal. Setelah selesai merapalkan handseal, orang tersebut membantingkan kedua telapak tangannya ke tanah sembari berteriak, "Mokuton: Mokujoheki!"

Sebuah dinding kayu setebal dua meter muncul dari tanah. Menghasilkan bentuk seperempat bola dan melindungi keempat orang yang ada di sana. Dinding kayu itu berhasil mematahkan serangan Naruto yang berpotensi membuat tubuh mereka terpotong menjadi dua.

Naruto yang menatapnya hanya menajamkan kedua matanya.

"Mokujoheki ya," ucap Naruto dalam hati.

Lima detik setelah serangan beruntun itu berhenti, dinding kayu yang melindungi keempat musuh Naruto tetap tidak menghilang. Naruto sendiri tidak terlalu mempermasalahkannya karena dalam Sennin Moodonya dia masih merasakan keempat musuhnya berada di balik sana. Bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.

Tunggu dulu.

Mereka tidak bergerak sama sekali. Itu adalah hal yang aneh mengingat dalam sebuah pertempuran hidup dan mati, tidak bergerak adalah hal yang tidak seharusnya dilakukan. Terlebih, dia tidak bisa merasakan chakra sejelas biasanya di dalam Kirigakure no Jutsu. Ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di sini sekarang. Namun, hanya ada satu yang bisa dipikirkan oleh Naruto sekarang.

"Jangan-jangan …."

Kedua kaki Naruto yang menapak di tanah langsung berubah posisi menjadi sebuah ancang-ancang. Dalam sekali hentakan, Naruto melesat dengan kecepatan tinggi ke sana. Semakin dekat dengan targetnya, Naruto merasakan bahwa chakra keempat orang itu berbeda dari sebelumnya. Intensitasnya lebih lemah dan kacau.

Naruto sampai di atas dinding kayu yang diciptakan oleh musuhnya. Dia melihat ke bawah. Tidak ada empat orang yang menggunakan topeng mirip dengan Anbu Kirigakure. Hanya ada empat shinobi yang tubuhnya terikat dan tatapan mata mereka kosong.

Rahang Naruto mengeras.

Keempat musuhnya … kabur.

.

.

.


Memento

Disclaimer: Naruto dan High School DxD bukan punya saya.

Rated: M

Genre: Adventure, (Fail) Comedy, Friendship, Mystery, and a lil bit of Romance (gonna work rly hard for this one).

Warning: Alternate Fact and Reality, Alternate Timeline, Out of Character, dan yang paling penting… Elemental Nations Universe!


Arc Pertama: Conspiracy in Mizu

Chapter 5

.

.

.

Kabut chakra yang disebut Kirigakure no Jutsu sudah sepenuhnya menghilang. Sudah tidak ada lagi hal yang mengganggu sensor chakranya. Di saat ini, Naruto mendapatkan informasi.

Memang ternyata pengguna Kirigakure no Jutsu itu adalah salah satu dari kelima orang yang tadi menyergapnya. Bukan orang yang lain.

Naruto merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya. Memang seharusnya dia mencoba dahulu daripada bergerak dengan patokan sebuah hipotesis yang belum terbukti secara nyata.

"Ahh! Aku memang bodoh!"

"Hmm? Kau baru sadar? Memang kecepatan berpikirmu itu terbelakang," ejek Kurama tiba-tiba. Yah, ejekan ini berhasil menyulut amarah Naruto.

"Kau yang sejak tadi hanya menonton dan tidak melakukan apapun tidak berhak menghakimiku ya!" seru Naruto kesal kepada Kurama.

Lupakan itu semua. Merutuki kebodohan diri sendiri bisa dilakukan lain kali. Yang perlu fokus dipikirkan oleh Naruto sekarang adalah bergerak mencari Shikamaru. Itu adalah poin utama.

Shikamaru adalah pemimpin tim kecil ini. Dia adalah seseorang yang bertanggung jawab atas segala keputusan misi ini. Hal itu menjadikan Shikamaru sebagai pusat dari menara kontrol tim ini alias otak utama. Jika Naruto dan Shikamaru terpisah lebih lama lagi, mereka benar-benar akan dalam kesusahan. Tidak sinkron dalam membuat keputusan karena terpisah secara posisi bisa menjerumuskan mereka dalam sebuah konflik antar negara yang berkepanjangan. Maka dari itu, langkah paling bijak yang bisa diambil oleh Naruto adalah mencari dan bergabung dengan Shikamaru.

Sennin Moodo miliknya masih belum hilang. Dia bisa menggunakan kemampuan sensorik Sennin Moodo untuk mencari letak Shikamaru secara akurat.

Diolahnya kekuatan alam yang sudah diserapnya, Naruto memfokuskan seluruh persepsi individunya untuk mencari dan merasakan dimana Shikamaru berada.

"Hmm… Satu kilometer di timur laut," ucap Naruto dalam hati ketika berhasil menemukan tempat Shikamaru.

"Oke, dia sendirian. Sepertinya baru saja berhasil menyingkirkan salah satu dari mereka. Shikamaru tampaknya cukup kerepotan dalam melawan sehingga harus melarikan diri sejauh itu."

Sensor sudah selesai. Sekarang Naruto bisa langsung pergi ke sana dan berkumpul dengan Shikamaru. Namun, ada sebuah hal yang harus menunda keberangkatannya.

Empat orang yang digunakan sebagai tumbal melarikan diri oleh keempat musuhnya itu masih berada di sini. Dari pelindung kepalanya, Naruto hanya bisa sedikit mengidentifikasi mereka. Hanya terbatas pada dari desa shinobi mana mereka berasal.

Kirigakure no Satou.

Mereka berempat yang sedang diam bagai patung tak bernyawa itu adalah shinobi Kiri. Spekulasi mulai terpikirkan oleh Naruto. Jadi, selama ini ternyata Mizu sudah mengirimkan shinobi untuk menangani kasus ini ya? Bahkan, dilihat dari pakaian mereka yang menggunakan rompi Chuunin khas Kiri.

Yang paling penting sekarang adalah untuk mencari Shikamaru terlebih dahulu. Namun, dia sendiri juga tidak bisa meninggalkan keempat orang ini tidak berdaya begitu saja.

"Kurma-chan, ada saran?" tanya Naruto kepada Kurama melalui telepatinya.

"Kurasa aku jadi ingin memakanmu karena sebutanmu itu, Kuso Gaki."

"Tehee …."

"Hah … Dengar, kita tidak bisa melakukan apapun. Biarkan saja mereka berada di sini dengan bunshinmu. Satu bunshin saja sudah cukup untuk melindungi mereka," jawab Kurama sambil memberikan saran kepada Naruto.

Saran Kurama adalah yang paling masuk akal untuk dilakukan saat ini. Lagi pula, dia tidak bisa membawa empat orang tidak berdaya itu ke tempat yang lebih dalam. Bisa saja mereka benar-benar dihabisi oleh keempat musuh Naruto jika Naruto memaksa untuk membawa keempat orang tersebut bersamanya.

Terlebih lagi, musuh-musuh yang harus dihadapinya bukan seseorang yang terhitung kacangan. Mereka memiliki kekuatan yang jika ditaksir setingkat dengan Anbu serta kerja sama tim mereka benar-benar patut untuk diperhitungkan.

"Kage Bunshin no Jutsu."

Satu orang klon Naruto tercipta dari ketiadaan tepat setelah Naruto merapal sebuah handseal tunggal.

"Tugasmu adalah menjaga para Chuunin Kiri ini,"—telunjuk Naruto mengarah kepada sekelompok orang yang sedang pingsan—"sampai aku kembali," ucap Naruto memberikan arahan kepada klonnya.

"Aku mengerti," jawab klon Naruto sembari menganggukkan kepalanya paham.

Setelah selesai menciptakan bayangan serta memberinya arahan tentang tugas sang bayangan, Naruto mulai melesatkan tubuhnya menuju ke arah dimana dia merasakan keberadaan Shikamaru.

Masih dengan cara melompat dari satu dahan ke dahan yang lain, Naruto mempercepat kecepatannya. Dia tidak ingin terpisah terlalu lama dengan Shikamaru. Ada banyak sekali alasan yang membuatnya harus segera bergabung menjadi tim yang utuh. Salah satunya adalah pengambilan keputusan akan jauh lebih baik jika diserahkan kepada Shikamaru yang merupakan sang otak misi ini.

Jarak yang memisahkan posisi Naruto dan Shikamaru berhasil dipangkas hanya dalam waktu kurang dari lima menit oleh Naruto.

Sesampai di tempat yang ditujunya, Naruto melihat Shikamaru sedang duduk bersandar di sebuah batang pohon. Kepala Shikamaru terlihat mendongak ke atas. Kedua matanya memperhatikan sesuatu yang sedang digantung menggunakan seutas tali tambang tebal.

Seorang manusia.

"Wow! Apa yang baru saja terjadi di sini?" batin Naruto bertanya-tanya.

Kedua manik Shikamaru bergulir, mengubah direksi pandangnya menuju Naruto yang berjalan mendekat sembari menatap seseorang yang sedang tergantung secara terbalik di dahan pohon.

"Kau lama sekali, Naruto," gerutu Shikamaru. Ada sedikit nada kesal yang tebersit di kalimatnya.

Naruto hanya mengulum sebuah senyuman kikuk.

"Maaf, pertarunganku sedikit merepotkan karena aku harus bertarung dengan empat orang yang besar kemungkinan memiliki kekuatan setara dengan Anbu," ucap Naruto meminta maaf serta menjelaskan situasi yang baru saja dihadapinya beberapa saat yang lalu.

"Mereka kabur ..." tambah Naruto.

Siapapun yang memiliki power scale yang jauh di bawah Naruto pasti akan memikirkan berbagai macam cara untuk mengatasi keterpurukan mereka. Banyak dari mereka yang lebih memilih untuk pergi menjauh. Berpikir bahwa menyelamatkan nyawa mereka terlebih dahulu, lalu merencanakan sesuatu untuk mengeksploitasi segala kekurangan Naruto sebelum kembali melancarkan serangan. Itu adalah hal yang tadi dilakukan oleh empat orang yang menyerang Naruto.

Setidaknya itu yang diceritakan oleh Naruto kepada Shikamaru.

Sebenarnya, jika Shikamaru berada di posisi yang sama, dia pasti juga akan mengambil keputusan yang sama dengan musuh Naruto. Skala perbedaan kekuatannya yang terlalu jauh pasti membuat siapa pun berpikir berkali-kali daripada asal adu jotos.

"Bisa kumaklumi mereka mengambil keputusan itu. Mereka mengambil keputusan yang paling tepat," ucap Shikamaru memberikan pendapatnya.

Kepala pirang Naruto mengangguk setuju. Dua detik menatap Shikamaru, atensi Naruto berpindah kepada seseorang yang tergantung secara terbalik di pohon.

"Jadi ... bisa kau jelaskan hal ini, Shika?" tanya Naruto sembari menunjukkan jarinya ke arah yang dimaksudnya.

Shikamaru menolehkan kepalanya lalu menjawab, "Oh, yang ini mengejarku sampai ke tempat ini. Entah bagaimana, dia sepertinya bertindak dengan asumsi bahwa aku adalah penyusun strategi tim kecil kita. Orang ini terus mengejarku pasca terpisah denganmu."

Oke, langkah yang diambil oleh kelompok musuh memang cukup tepat sasaran. Lagi pula, siapa sih yang tidak tahu eksistensi Uzumaki Naruto dan Nara Shikamaru. Jika Naruto telah dikenal secara global akan kekuatan serta ketangguhannya, maka Shikamaru dikenal karena kecerdasan eksepsionalnya.

Yang menjadi pertanyaan utamanya adalah ... bagaimana mereka bisa menghadapi Naruto serta Shikamaru, bahkan sampai sematang ini?

Tingkat kerja sama serta kemampuan individual setiap musuh yang berhadapan dengan Naruto serta Shikamaru sendiri sudah sangat cukup untuk diklasifikasikan dalam tingkatan Top tier Jounin dan berkemungkinan besar tergabung dalam satuan Black Ops Anbu. Semua orang di Dunia Shinobi juga paham betul seberapa kompeten seseorang yang tergabung di dalam satuan tersebut.

"Shika, kurasa kita menghadapi sesuatu yang cukup merepotkan saat ini. Kuceritakan kepadamu, tadi aku berhadapan dengan empat orang dari mereka. Benar sekali aku bisa menghabisi mereka dengan cepat, tapi mereka benar-benar terspesialisasi. Dari cara mereka membuat celah serta umpan satu sama lain, bukan tidak mungkin kita pulang dengan keadaan yang cukup parah nantinya."

Shikamaru mengernyit. Pandangan matanya beralih dari wajah menuju ke tubuh Naruto. Menyapu seluruh bagian tubuh sahabat pirangnya.

"!"

Rasanya ingin sekali Shikamaru mengucek matanya dan meyakinkan dirinya bahwa ini adalah sebuah Genjutsu.

Beberapa bagian baju Naruto sedikit robek dan tersayatnya bagian tubuh. Well, memang pada dasarnya bukan hal yang mustahil untuk melukai Naruto, bahkan Shikamaru saja pasti bisa mencari cara untuk melukai Naruto. Namun, fakta yang didapatnya sekarang cukup mengejutkan Shikamaru. Sekarang pemuda itu yakin dengan ucapan Naruto tentang seberapa kompeten dan terspesialisasinya musuh mereka.

"Sepertinya kau terlalu meremehkan mereka ya tadi. Lihat, kau menyedihkan sekali," ejek Shikamaru.

Tawa kikuk terdengar dari Naruto sebagai balasan atas ejekan Shikamaru.

"Yah, siapa yang tahu bahwa mereka bisa memanfaatkan hal itu? Selain itu, mereka benar-benar berhasil memutarbalikkan kelebihan amplifikasi persepsi Senjutsuku menjadi kelemahan. Kau tahu? Mereka mengontrol hawa membunuh mereka dengan luar biasa baik," jelas Naruto.

Ah, Shikamaru sendiri sudah menduga bahwa akan datang musuh yang bisa dengan bebas mengontrol hawa membunuhnya. Hal itu menjadi sebuah counter attack untuk persepsi Senjutsu yang kelewat peka.

Dengan konsep pelepasan hawa membunuh, siapa pun pasti akan mengejutkan orang yang peka.

Jika seseorang dihadapkan dengan musuh yang berhawa membunuh luar biasa sepanjang waktu, dia pasti akan mencari jalan keluarnya sendiri untuk bisa beradaptasi dengan tekanan tersebut. Sedangkan dalam kasus Naruto, mereka yang bisa mengeluarkannya hanya dalam waktu tertentu, tapi dalam intesintas tinggi pasti seperti memberikan sebuah setruman pada jiwa Naruto. Akan lebih sulit untuk beradaptasi jika berhadapan dengan kasus seperti Naruto. Shikamaru berani bertaruh bahwa itu yang tadi terjadi ketika Naruto bertarung.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk mengatasi hal itu?" tanya Shikamaru.

Naruto terlihat memegang dagunya dan memasang ekspresi berpikir sebelum menjawab, "Akan kupikirkan nanti saja ketika bertarung."

Hela napas lelah keluar dari mulut Shikamaru. Kadang dia memang merasa cukup stres jika harus berhadapan dengan sikap santai Naruto. Contohnya adalah yang baru saja terjadi. Sudah terserangan dan tersayat di sana-sini saja dia masih bisa santai.

"Yang lebih penting, Shika ..."

"Hmm?"

"Ada satu pengguna Mokuton diantara mereka."

"Ap-Apa?!" seru Shikamaru tidak percaya.

"Ya ... Salah satu dari mereka adalah seorang pengguna Mokuton. Dilihat dari caranya memanfaatkan Mokuton, dia sepertinya sudah cukup berpengalaman dan lihai. Saat bertemu nanti, kau harus berhati-hati dengannya, Shika."

Memang eksistensi pengguna Mokuton harus cukup diwaspadai setiap gerak-geriknya. Karena hal itu adalah elemen yang langka, potensinya jadi tidak terlihat secara jelas. Ada berbagai kemungkinan orang tersebut berada di tingkatan yang mungkin setara dengan Obito atau malah lebih. Akan jadi hal yang sangat merepotkan jika orang itu diatas Obito. Pasti Naruto dan Shikamaru akan kelabakan dalam menanganinya.

"Haruskah kita beristirahat sejenak atau langsung menuju ke pusat pulau?" tanya Naruto meminta konfirmasi Shikamaru.

"Tidak perlu buru-buru. Lebih baik beristirahat sejenak sembari memikirkan strategi dalam menangani musuh. Kuyakin mereka juga sedang melakukan hal itu," jawab Shikamaru.

Naruto menganggukkan kepalanya tanda menurut kepada keputusan Shikamaru. Dia melangkah lebih mendekat ke Shikamaru, lalu duduk bersandar di sebuah batang pohon yang tidak jauh dari Shikamaru.

Well, setidaknya memang harus membiarkan mereka beristirahat sebentar saja.

Sebelum badai yang sesungguhnya datang.


Di malam yang sama, kita beralih ke jalanan utama Desa Konoha. erlihat seorang gadis pirang sedang berjalan sendirian. Kedua tangan memeluk sebuah bungkus kertas yang berisi beberapa belanjaan. Sebuah senyuman tipis terlukis indah di wajahnya.

"Gabriel-san!"

Kepalanya menoleh kala mendengar sebuah seruan tertuju kepadanya. Indera pengelihatannya menangkap adanya seorang gadis berambut merah muda sedang berjalan mendekat sembari melambaikan tangan.

"Ah, Haruno-san!" seru Gabriel menjawab sapaan Sakura.

"Jangan kaku begitu. Panggil saja Sakura," pinta Sakura. Sedikitnya dia merasa tidak enak jika harus dipanggil Haruno seperti itu. Soalnya jarang sekali dia dipanggil Haruno ketika sedang berada di Konoha.

Gabriel hanya tertawa kikuk menanggapi permintaan Sakura. Yah, bukan berarti dia tidak mau, tapi rasanya sedikit aneh jika tiba-tiba seseorang memintamu memanggilnya dengan nama belakang, padahal terhitung masih baru kenal. Dalam pikirannya Gabriel berusaha memaklumi hal ini karena mungkin memang sudah jadi kebiasaan warga Konoha sehingga bisa lebih akrab dengan satu sama lain.

"Jadi, apa yang kau lakukan malam-malam begini? Err ... belanja?" tanya Sakura ketika melihat kantong yang dibawa Gabriel.

"Iya. Aku ingin mencoba untuk memasak sesuatu, tapi ketika melihat isi kulkas ternyata tidak ada apa-apa. Ingin menunggu sampai besok, tapi rasanya aku tidak akan mampu menunggu sampai besok. Jadilah di sini malam-malam begini."

"Tapi, Gabriel-san, kenapa sendirian? Kemana Naruto?" tanya Sakura. Gabriel malah mengernyit heran menanggapi pertanyaan Sakura.

Lah. Padahal kemarin-kemarin sebelum berangkat Naruto berkata bahwa akan membicarakan keberangkatan misi kepada Sakura. Sekaligus meminta gadis musim semi itu untuk menemani Gabriel. Jangan-jangan ... dia melupakan hal itu?

"Tunggu dulu, Sakura-san. Naruto tidak menemuimu?"

"Menemuiku? Kenapa?" tanya Sakura heran.

Oke, sekarang sudah jelas dan terbukti hipotesis Gabriel. Jelas sekali Naruto tidak berbicara dengan Sakura. Yang paling mungkin sih dia melupakan hal itu.

Hela napas lelah terdengar dari Gabriel.

"Naruto sedang menjalankan misi. Padahal beberapa hari yang lalu mau membicarakan hal ini denganmu. Katanya sih mau meminta tolong kepadamu untuk menemaniku selama dia jauh dari desa. Namun, dia sepertinya tidak jadi bilang kepadamu, Sakura-san."

"Astaga ... Naruto itu tetap saja orangnya," desah Sakura lelah. Yah, dia sendiri juga ikut merasakan apa yang mungkin sedang dirasakan oleh Gabriel. Dia sudah mengenal Naruto sejak masih kecil dan terbiasa dengan sikap pemuda pirang yang kadang menyebalkan itu.

"Ngomong-ngomong tentang Naruto, Gabriel-san, apakah kau sudah tahu?" tanya Sakura tiba-tiba.

Dahi Gabriel berkerut heran ketika mendengar pertanyaan mendadak Sakura. Dirinya bertanya-tanya dalam hati, kemana pertanyaan itu bermuara nanti.

"Dari responmu, kuanggap itu sebagai jawaban tidak."

"Memangnya ada apa?" tanya Gabriel.

Sakura menatap Gabriel dalam diam. Hanya terpasang ekspresi datar yang terlukis di wajahnya. Tanpa ada yang lainnya.

Bibir Sakura sedikit terbuka sebelum terkatup kembali. Dia mengganti ekspresi datarnya menjadi lebih serius sekarang. Ada sedikit ekspresi sendu di wajahnya. Kedua matanya menatap dalam serta tepat ke iris biru Gabriel.

"Akan kuceritakan secara lengkap. Tentang Naruto ... serta hal yang telah dilaluinya sepanjang hidupnya."


Istirahat Naruto dan Shikamaru tidaklah lama. Hanya memakan waktu sekitar 15 menit sebelum mereka memutuskan untuk melanjutkan misi mereka dan mengakhirinya secepat mungkin.

Sekarang Naruto dan Shikamaru sedang melompati dahan-dahan pohon. Keduanya menuju ke satu tempat yang sama sebagai tujuan, pusat pulau. Tempat yang mereka yakini menjadi pusat peradaban dari pulau yang sedikit terisolir dari pulau utama Mizu no Kuni.

Dahan demi dahan dilompati, kini mereka masuk semakin dalam. Ada sebuah perasaan tidak enak yang kembali menyerang batin Naruto serta Shikamaru. Entah dari mana datangnya perasaan tersebut.

Pandangan kedua pemuda berbeda warna rambut itu menajam seiring mereka memasuki sebuah area baru. Bukan hanya karena mereka semakin waspada, tapi juga karena ada sesuatu yang menghalau mereka.

Kabut yang sebelumnya mengganggu indera pengelihatan Naruto dan Shikamaru kembali terlihat. Masih dalam intensitas yang sama dengan sebelumnya. Hal ini sudah pasti menandakan ada sesuatu yang sedang menunggu mereka tidak jauh dari sini. Satu hal yang sudah dapat dipastikan adalah ... konfrontasi fisik menunggu.

"Biar kuatasi dengan Fuuton," ucap Naruto berinisiatif.

Dia tidak lagi perlu memikirkan banyak pertimbangan lagi sekarang. Dia sudah mengetahui bahwa pasti salah satu dari orang-orang yang dilawannya tadi lah yang menggunakan jutsu ini dan pasti tidak jauh dari sini posisinya. Dia sudah belajar dari kelengahan serta kebodohannya dari pertarungan tadi.

Tangan Naruto merapal segel rumit dengan cepat sembari menghirup udara dalam jumlah banyak melalui mulutnya. Ketika segelnya sudah berhenti dirapal, dia menghembuskan nafasnya kuat-kuat.

"Fuuton: Daitoppa!"

Angin kencang tercipta dari hembusan napas kuat Naruto. Menyapu kabut chakra yang diciptakan oleh salah satu musuhnya.

Sedikit rasa lega tebersit di hati Naruto serta Shikamaru karena pandangan mereka tidak lagi terbatas. Jadi, mereka akan lebih cepat mengetahui apabila ada sesuatu yang berusaha mengusik mereka nanti.

Baru beberapa detik mereka merasa lega, kabut yang sama kembali tercipta. Kembali menutupi seluruh area hutan ini dalam keterbatasan pengelihatan.

"Sial!" umpat Shikamaru kesal. Rasa yang sama juga mendera perasaan Naruto.

Ini adalah hal yang sudah diduga oleh Naruto tadi. Pada saat pertarungan sebelumnya, Naruto sudah mengira bahwa pasti tidak akan mudah untuk menghilangkan kabut ini. Diduganya bahwa sebelum penggunanya dikalahkan, maka teknik ini tidak akan benar-benar terpatahkan.

"Shika, boleh pakai Mode Kyuubi?"

"Tidak! Jangan dulu. Kita masih belum benar-benar terdesak di sini, Naruto. Efek ledakan aura serta chakra Kyuubi pasti akan terasa sampai seantero pulau atau bahkan ke luar. Terlalu riskan!" tolak Shikamaru.

"Berarti hanya Senjutsu ya?" gumam Naruto pelan. Sedikit rasa kesal kembali terasa di hatinya. Perasaan kesal itu karena dia tahu bahwa nantinya keluar musuh merepotkan yang seenaknya bermain hawa. Naruto jadi merutuki kelebihan yang menjadi sebuah kelemahan fundamental Senjutsu sempurnanya.

Dalam lima detik selanjutnya, kelopak mata Naruto berubah warna menjadi jingga. Pupil matanya yang semula berbentuk bulat berubah menjadi tanda minus. Aura di sekeliling tubuhnya pun berubah menjadi lebih kuat dan tenang. Semua itu adalah tanda bahwa Naruto telah memasuki alam Senjutsu untuk memfasilitasinya dalam pertarungan.

"Kalau begitu, sekarang ayo kita selesaikan dengan serius," gumam Naruto.

Naruto mengolah energi alamnya secepat mungkin untuk berganti ke mode sensorik. Hal yang membuat persepsinya teramplifikasi sampai beberapa kali. Fokusnya dirubah total untuk merasakan keberadaan chakra serta aura entitas di sekelilingnya.

Deg!

Jantung Naruto serasa berhenti berdetak dan tubuhnya seolah membeku ketika merasakan adanya sesuatu yang sangat dingin dan mencekam bergerak liar di belakangnya. Melesat dengan kecepatan luar biasa dalam pola acak.

"Shika, awas!" seru Naruto panik.

Dalam satu kedipan mata, sebuah mata pedang perak mengincar leher Shikamaru. Naruto sendiri bahkan tidak sempat bertindak karena sedang melayang di udara dan tidak memiliki pijakan untuk mengganti direksi lompatannya.

Tanpa disangka, refleks Shikamaru jauh lebih tinggi. Dia langsung mengelak dalam posisi melayangnya untuk menghindari tebasan pedang yang berusaha untuk memisahkan tubuh serta kepala jeniusnya. Tangan kanan Shikamaru secepat kilat merogoh kantong ninja miliknya untuk menghunus sebuah pisau chakra peninggalan gurunya. Dialirkannya Chakra Yin pada pisau itu. Warna hitam metalik pun berganti semakin pekat.

Setelah sukses menghindari tebasan pedang, Shikamaru menyabetkan pisau miliknya ke tangan sang musuh. Menghasilkan dampak destruktif yang cukup besar.

Sebuah luka sayatan yang dalam berhasil tersarang sempurna oleh Shikamaru. Alhasil, darah dalam jumlah besar mengucur deras dari bekas sayatan tersebut. Jika dikira-kira, mungkin tebasan itu sudah berhasil memotong salah satu dari dua tulang di tangan musuhnya.

Tidak ada jeritan rasa sakit dari musuhnya. Seolah sudah mati rasa dan terprogam keras untuk tidak berteriak sakit saat terserang. Musuh yang berusaha menebas Shikamaru melepaskan pegangannya dari gagang pedangnya, lalu tangan kirinya menyambar gagang pedang secepat mungkin. Kakinya yang tidak menapak tanah atau dahan bergerak ke depan untuk menendang Shikamaru, lalu tangan kirinya kembali berusaha menebas Shikamaru.

Ketika seluruh atensi terpaku pada Shikamaru dan musuhnya, Naruto sudah berganti direksi lompatan. Sebuah pusaran angin berbentuk bola sudah siap di tangan kanan. Dihantamkannya bola itu ke perut sang musuh.

"Rasengan!"

Serangan tunggal Naruto secara sempurna tersarang. Dentuman terdengar seiring dengan ledakan bola chakra yang berhasil dihantamkan kepada targetnya. Serangan tersebut juga berhasil menggagalkan tebasan yang ditujukan ke Shikamaru.

Musuh yang dihantam Rasengan Naruto meluncur cepat ke sebuah batang pohon, bahkan sampai merubuhkan sepasang pohon.

Segalanya berjalan dengan sangat cepat.

Kini, Naruto dan Shikamaru mendarat di sebuah dahan pohon dengan posisi bersebelahan, tapi menghadap arah yang berlawanan. Saling menjaga sisi buta masing-masing.

"Jangan berpikiran bahwa orang yang kau jatuhkan itu benar-benar jatuh, Naruto. Ada kemungkinan bahwa dia sedang berpura-pura tumbang," tegur Shikamaru. Pemikirannya memang sangat berhati-hati. Dia tidak ingin terkena serangan hanya karena mengabaikan probabilitas kecil ini.

"Aku tahu, Shika," jawab Naruto singkat.

Mereka berdua masih bersiaga. Mengusahakan indera pengelihatan mereka untuk menembus tebalnya kabut chakra yang mengelilingi mereka.

Lagi lagi, persepsi jiwa Naruto seakan tersetrum listrik bertegangan tinggi. Tubuhnya menegang sejenak. Dia tahu perasaan ini. Dengan cepat, dia kembali menguasai dirinya dan melepas belenggu efek pelepasan hawa membunuh tingkat tinggi ini.

"Datang!"

Kabut yang paling dekat dengan Naruto seakan tersibak bagai tirai. Seseorang bertopeng Anbu Kirigakure muncul dan menebaskan pedangnya ke tubuh Naruto. Naruto sendiri memblok serangannya dengan kunai yang sudah dihunuskan tadi.

Bunga api memercik. Suara dentingan baja terdengar.

Musuh Naruto menapakkan kakinya di dahan yang sama dengan Naruto serta Shikamaru. Mencoba untuk saling beradu kekuatan fisik dengan Naruto.

"Siapa kau?" tanya Naruto berusaha untuk mengorek identitas musuhnya.

"Apa matamu sudah buta, Kyuuseishu-sama? Ada lambang Kiri yang terpasang di topengku," jawab sang musuh. Nada mengejek terdengar kental dari setiap kata yang diucapkannya.

Rahang Naruto mengeras ketika mendengar jawaban itu. Ada penolakan terhadap fakta yang diperolehnya saat ini.

"Tidak menutup kemungkinan kau berusaha memfitnah Kiri. Jawabanmu sudah pasti kuragukan," tolak Naruto. Dia tidak memercayai hal itu. Dia mengetahui dengan baik–tidak. Dia tidak mengetahui apa-apa. Mizu adalah negeri yang misterius. Selalu ada rahasia tersembunyi di balik kabut selubung Mizu.

Datang lagi seorang musuh di hadapan Shikamaru secara tiba-tiba. Kedua tangannya saling bertaut membentuk segel Tora.

Kemunculan mendadak ini berhasil mengejutkan Shikamaru yang tidak siap serta tidak mendapat laporan apakah ada musuh yang datang dari Naruto. Dia hanya mengira bahwa satu musuh yang datang dan menyerang Naruto. Shikamaru merutuki kebodohannya sendiri dalam hati.

"Katon: Goukakyuu no Jutsu!"

Sebuah bola api besar disemburkan oleh musuh yang berada di hadapan Shikamaru.

"Gaw–"

Shikamaru langsung melompat menjauh, diikuti oleh Naruto yang secara mendadak juga ikut sadar bahwa ada sesuatu yang dapat membahayakan nyawanya sendiri.

Dentuman keras terdengar. Beberapa pohon dalam area tersebut terbakar dalam api besar. Kawah juga tercipta di tanah akibat dari hantaman bola api yang sampai ke tanah.

Naruto dan Shikamaru sendiri berhasil menghindari serangan tersebut. Namun, Naruto sedikit terkejut dengan fakta bahwa musuhnya dengan berani menggunakan sebuah jutsu penghancur tingkat menengah, bahkan lebih tinggi ke area yang bahkan masih ada rekan se-timnya.

"Mereka sudah gila."

Naruto mengangguk setuju dengan pernyataan Shikamaru.

"Salah satu dari mereka secara implisit berkata bahwa mereka adalah shinobi Kiri, Shika," ucap Naruto secara tiba-tiba.

Sudah diduganya. Kemungkinan ini sangat tinggi. Secara, mereka menggunakan perlengkapan tempur khas Anbu Kiri. Anbu adalah satuan yang sangat rahasia dan memang besar kemungkinan ada hal rahasia yang sedang dilakukan oleh Kiri di tempat ini.

Shikamaru mengumpat dalam hati. Dua hal bertabrakan dalam logikanya. Seharusnya kelima negara adidaya tidak memiliki proyek tersembunyi. Pakta yang dibuat pasca perang sudah jelas menyatakan bahwa setiap negara harus berbagi hal yang berkemungkinan saling mengancam satu sama lain dan berusaha untuk dicari jalan tengahnya supaya tidak tercipta konflik antar negara. Namun, hal yang terjadi tidaklah seperti itu.

Ya, pemikiran yang seperti itu terlalu naif. Seharusnya Shikamaru tidak percaya begitu saja dengan topeng senyuman dan wajah ramah para daimyo serta pimpinan desa shinobi.

Meskipun sudah berpikiran seperti itu, tetap saja Shikamaru berusaha untuk memutar otaknya dengan dampak setiap langkah yang diambilnya.

"Jangan bertindak dengan asumsi mereka dari Kiri, Naruto. Masih ada kemungkinan mereka bukan ninja Kiri," ucap Shikamaru memberi komando. Dia lebih memilih untuk mengambil keputusan yang aman. Yah, meskipun sebenarnya dia sedang berada di dalam situasi yang kompleks.

"Kalau begitu, maka nanti Konoha akan dituduh dengan tindakan spionase karena masuk ke teritorial Mizu dan bahkan mengakibatkan kerusakan lingkungan," jawab Naruto menolak pernyataan Shikamaru.

"Lalu apa? Kau mau dengan seenaknya berasumsi mereka dari Kiri? Mereka malah akan mengira tindakan kita sebagai pengobar api peperangan! Kau gila?!" seru Shikamaru.

Mereka bertentangan dalam pemikiran. Masing-masing memercayai hal yang berbeda. Mengakibatkan perbedaan dalam memilih tindakan yang harusnya dilakukan. Benar adalah hal ambigu di sini. Sejatinya, tidak ada yang pasti dan mereka tahu itu. Namun, tetap saja. Setiap langkah mereka pasti akan bermuara kepada hal yang buruk. Bertindak dengan asumsi bahwa musuh mereka adalah ninja Kiri, maka mereka akan disebut sebagai pencetus perang dua negara. Sedangkan bertindak dengan asumsi mereka mereka bukan ninja Kiri, maka mereka dituduh melakukan tindakan spionase. Dua-duanya berujung pada hal yang sama ...

Perang.

Mau mundur dari misi ini pun juga percuma. Mizu pasti akan memperkarakan kasus ini ke persidangan tertinggi antar negara. Mungkin inilah yang dinamakan dengan, 'Maju kena mundur kena.'

Selagi Naruto dan Shikamaru berperang dengan batin mereka, sebuah tombak kayu yang cukup tebal melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Naruto.

Insting serta persepsi Naruto berteriak keras-keras tentang adanya bahaya yang mendekat. Mengingatkan Naruto untuk segera menghindar atau memblok serangan yang ditujukan padanya.

Namun, bukannya menghindar, Naruto masih tetap berdiri di tempat. Tangannya membentuk sebuah segel tangan. Menciptakan sebuah klon di depannya. Klon tersebut bergerak ke depan dan memasang diri sebagai pagar hidup.

Shikamaru menatap Naruto dengan tatapan yang seakan diartikan sebagai pertanyaan, "Apakah kau bodoh?!". Itu adalah hal yang sungguh sia-si–

Jratss!

Tombak kayu melesat cepat lalu menancap ke tubuh klon Naruto, tapi ternyata tidak berhenti sampai di situ. Tombak itu memunculkan cabang-cabang tajam yang menusuk dari dalam keluar ke berbagai arah secara acak.

Kedua mata Shikamaru melebar tidak percaya. Ini bukanlah sebuah tindakan yang sia-sia seperti dugaannya di awal.

"I–Ini ... Naruto sengaja!"

Ledakan asap tipis tercipta setelah klon Naruto meledak karena terkena serangan fatal.

"Hmm ... jadi begitu. Kau lihat sendiri efek lain dari teknik itu, Shika. Jangan sampai terkena. Aku saja bahkan bisa langsung mati jika terkena serangan itu," ucap Naruto memperingati. Dia seakan sudah melupakan tentang tensi panas karena perbedaan pendapat antara dirinya dengan Shikamaru tadi.

Sebuah senyuman tipis terkembang di wajah Shikamaru. Bersyukur karena sahabatnya masih mengedepankan nilai survival daripada konflik singkat mereka tadi. Benar ... keputusan bisa saja diambil kapan saja. Yang paling penting adalah mereka harus bisa pulang dengan selamat.

Yang menurut Shikamaru benar-benar tidak terduga adalah fakta bahwa Naruto dengan sengaja menciptakan klon untuk memblok serangan musuhnya. Itu adalah hal yang jarang dilakukan oleh Naruto guna mencari informasi kekuatan musuhnya. Cara yang benar-benar efisien tanpa membahayakan kelangsungan hidupnya. Ternyata Naruto bisa pintar juga.

Baiklah, sudah cukup. Mereka harus kembali bersiaga. Musuh masih berkeliaran dengan bebas. Serangan bisa dilancarkan kapan saja tanpa kedua shinobi Konoha ini ketahui.

"Sekarang ... kita harus kembali fokus," gumam Shikamaru.

"Perintahmu, Shika?"

"Bertindak berdasarkan asumsi bahwa mereka bukan Shinobi Kiri. Kita bisa lebih banyak membantah mereka jika dibawa ke tingkat yang lebih tinggi nanti," jawab Shikamaru.

Jawaban Shikamaru membuat Naruto sedikit menyeringai. Bukan. Dia bukan senang, hanya sedikit antusias saja. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang memang harus diungkap di sini. Lagi pula, dia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri supaya tidak menahan diri kepada mereka yang berpotensi menciptakan konfrontasi di Dunia Shinobi. Terlebih antar negara. Dengan ini, Naruto bisa menyerang tanpa harus takut bukan?

"Kalau begitu, ayo kita selesaikan secepat mungkin, Shika!"

"Benar! Aku sudah ingin tidur sekarang. Dengar, tetap bersama. Jangan sampai terpisah lagi karena akan lebih beresiko dalam bertarung nantinya," ucap Shikamaru memaparkan strategi singkatnya.

"Aku mengerti!"

"Kalau begitu, ayo!" seru Shikamaru semangat. Dia melesat maju diikuti oleh Naruto yang juga menampilkan sebuah senyuman tipis.

.

.

.

"Err ... Shika. Musuhnya ternyata kabur lagi."

"Kenapa nggak bilang dari tadi njiirrr?!"

Fix. Ingin hati menampol kepala Naruto.


Yosh! Update lagi ini temen-temen! Maaf kalau rasanya ini fic alurnya lambat banget. Soalnya memang saya pengen sedikit demi sedikit memperlihatkan gimana sih struggle mereka di Mizu. Membahayakan nyawa serta keamanan negara mereka di sini. Ada yang saya tuliskan secara eksplisit tentang perang batin mereka. Haruskah mengambil sebuah keputusan yang mana? Apakah yang ini juga sudah benar? Entahlah.

Lalu, tentang Gab... Maaf, saya mengonfirmasi tentang doi nggak akan sering dimunculkan dalam beberapa chapter ke depan. Lagi pula, yang ini masih panggung utama Naruto supaya nanti bisa merintis ke konflik yang sesungguhnya.

Oke, saya akan mulai menjawab pertanyaan para senpai-tachi!

Pertama, sebenarnya tidak ada alasan khusus kenapa saya hanya membuat two-man team di Arc ini. Memang sebenarnya racikan Tsunade tentang tiga orang dalam satu tim dengan salah satunya adalah Medic-nin itu sangat balanced. Namun, bukan hal yang absolut. Lagi pula, sebenarnya tidak jadi soal juga. Anggap saja ini misi seperti misi Anbu yang secara taktis bergerak tanpa Medic-nin. Dan lagi, sebenarnya kekuatan tempur adalah yang paling utama dalam misi infiltrasi seperti ini. Jadi, pilihan Naruto dan Shikamaru hanya dua orang itu sudah lebih dari cukup.

Oh iya! Senjutsu nggak bikin orang jadi kebal loh, senpai! Senjutsu memang benar meningkatkan kekuatan fisikal, tapi bukan berarti tidak bisa dilukai. Mau tahu contohnya kah? Dulu ada scene tentang Kabuto yang bisa terlukai hanya dengan satu tebasan pedang ketika di dalam gua. Saya lupa yang nebas si Itachi atau Saskeh, tapi scenenya yang itu pokoknya. Nggak salah kalau mau berargumen bahwa Senjutsu Kabuto itu uler. Tapi, pada dasarnya Senjutsu itu sama aja kalau kita bilang advantages dalam aspek kekuatan fisik.

Lalu, yang tentang konsep hawa, itu saya sudah jelaskan kenapa rasanya sedikit berat di Naruto. Lalu, kalau senpai baca teliti, itu sebenernya saya masih nuliskan tentang Naruto yang bisa dengan cepat mengambil alih kesadaran dirinya lagi. Dia memang berada di level yang berbeda. Terus kenapa dia dengan mudahnya kena serang pedang? Well, secara singkat memang kenjutsu itu lemah, tapi beda soal kalau yang pegang seorang ahli. Saya secara tertulis bilang kan para musuh Naruto itu benar-benar terspesialisasi dalam bertempur. Itu juga merujuk ke sana. Terus power scaling musuh Naruto juga udah saya jelaskan. Mereka sudah cukup kuat dan bukan musuh yang benar-benar gampangan.

Ada yang merhatiin nggak ratingnya saya rubah ke M? Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada semua pembaca fiksi dangkal saya. Sebenarnya ada yang luput dari pemahaman serta pandangan saya. Ada sebuah scene di chapter awal tentang interaksi NaruGabu. Seorang senpai mengatakan bahwa itu sebenarnya sudah masuk ke ranah M. Jadi, saya kembali meminta maaf kalau kemarin-kemarin ada yang tersinggung atau kurang nyaman karena penggunaan rating yang tidak tepat klasifikasinya T.T)

Hmm... Saya rasa, itu saja yang bisa saya sampaikan tentang analisa serta konsep kekuatan sejauh ini. Seperti biasa, kalau ada yang mau ditanyakan atau didiskusikan, jangan pernah sungkan untuk melempar pertanyaan ke kolom komentar. Atau kalau mau juga boleh banget kok via PM. Saya akan senang bila ada yang mengajak diskusi atau mungkin mengingatkan saya jika saya sendiri miss.

Terima kasih sudah membaca serta review, fav, foll fiksi sederhana ini, Senpai-tachi! Kalian benar-benar luar biasa lah pokoknya!

Dah~


Dua orang yang menggunakan jubah hitam dan topeng Anbu Kirigakure sedang berdiri di atas dua pohon, sedangkan yang satu duduk di dahan sebuah pohon. Masing-masing dari mereka terlihat terengah-engah. Terlebih salah satu dari mereka.

"Seharusnya kita bisa menahannya lebih lama lagi di sana."

"Tch! Lalu apa? Menyerahkan nyawa kita secara cuma-cuma kepadanya? Jangan gila! Kau tau sendiri seberapa kuat Uzumaki Naruto! Bahkan dengan kelebihan kita dalam mengontrol hawa membunuh untuk melawan balik Senjutsunya saja kontrol tubuhnya masih lebih hebat daripada dugaan kita. Dia berada di level yang berbeda dengan kita!" seru salah satu orang yang tidak setuju dengan opini rekannya.

"Lagi pula, apa kau tidak melihat bahwa satu dari kita sudah benar-benar dihabisi? Dia tidak kembali sampai saat ini! Belum lagi ada yang tangannya hampir putus. Kau gila jika masih memaksa untuk tetap bertarung melawan mereka berdua."

Salah satu dari mereka yang menggunakan sebuah topeng berbeda terlihat berdiri dari duduknya. Topeng rubah. Identitas yang berbeda dari kedua orang yang lainnya.

Dua orang yang sedang berdebat kusir itu mendadak terdiam ketika mengetahui salah satu dari mereka berdiri dari duduknya. Tubuh seseorang bertopeng rubah itu mengeluarkan aura yang lebih superior daripada dua orang yang lainnya. Karisma terpancar jelas dari tubuhnya.

"Tidak perlu terburu-buru. Kita masih punya banyak waktu. Sebagai seorang shinobi kita juga harus bersifat observatif. Setidaknya dengan pertempuran singkat ini kita mendapatkan beberapa informasi tentang Uzumaki Naruto. Kita masih bisa mengeksploitasi kekurangannya untuk kedepannya. Jangan khawatir," ucap seseorang dengan topeng rubah. Nada bicaranya terdengar lebih tenang dan bijaksana.

Kedua rekannya hanya bisa menganggukkan kepalanya dalam diam. Tidak berusaha membantah sama sekali. Entah apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu sehingga membuat ketiga orang itu begitu patuh dengan seseorang bertopeng rubah itu.

"Tahan sedikit hasrat kalian. Kita akan segera sampai kepada tujuan kita."


Chapter 5-END