Hari sudah semakin larut. Namun, bukan artinya semua orang sudah terlelap.

Terlihat dua orang pemuda yang sedang melesat dalam kecepatan tinggi menuju ke suatu tempat yang lebih dalam di pulau ini.

Jika mengingat kejadian selama beberapa puluh menit atau mungkin satu jam yang lalu, kita akan membicarakan sebuah area yang diselubungi kabut chakra bernama Kirigakure no Jutsu. Pekat, kental, serta membingungkan.

Anehnya, semakin masuk ke dalam pulau, kabut chakranya semakin hilang. Jika ditarik kembali kepada asumsi bahwa mereka sedang berhadapan dengan Silent Killer, maka seharusnya itu adalah pantang untuk dilakukan. Ah, tidak. Bukannya pantang, tetapi akan lebih tepat jika dibilang merugikan diri mereka sendiri.

Akan tetapi, hal ini disinyalir sebagai sesuatu yang patut diwaspadai oleh Shikamaru.

"Tetap fokus kepada sensormu, Naruto. Laporkan jika kau merasakan sesuatu."

Sebuah anggukan konfirmasi dilakukan oleh Naruto. Sekarang, dia lebih menenggelamkan diri dalam fokus sensoriknya. Memindai seluruh area dalam radius sekitar 300 meter dengan benar-benar tajam. Dia bisa merasakan sekecil apapun chakra yang ada di sekitarnya.

"Tidak ada. Aku heran seberapa cepat mereka hingga bisa melesat dalam waktu yang sangat singkat. Memangnya mereka pengguna jutsu teleportasi?" ucap Naruto dalam hati. Well, sebenarnya itu adalah hal yang cukup mungkin mengingat dia masih belum mengetahui peta kekuatan musuhnya secara lengkap.

Sensor Naruto meluas sampai ke seluruh pulau. Seperti yang sudah di duganya, ada peradaban dengan populasi yang cukup banyak di pusat pulau. Dia merasakan intensitas kecil chakra para penduduk. Di beberapa titik desa, Naruto merasakan sesuatu yang familiar. Tiga titik chakra yang menjadi target konfrontasi Naruto dan Shikamaru sedang berkumpul di satu titik yang sama. Sekitar tiga atau empat kilometer dari desa.

"Target ditemukan. Mereka sedang berkumpul," lapor Naruto.

"Bagus. Buat seorang Kage Bunshin. Aku punya sebuah rencana," jawab Shikamaru.

"Aku mengerti. Kage Bunshin no Jutsu!" seru Naruto sembari membentuk sebuah segel tangan tunggal. Terciptalah seorang klon yang serupa dengan Naruto. Klon Naruto itu mengikuti Naruto asli dan Shikamaru untuk melompati dahan-dahan.

Shikamaru mengangguk puas. Dia kemudian menjelaskan rencananya kepada Naruto dan klon Naruto.

Hanya sebuah pengarahan singkat, tetapi menjelaskan seluruh rangkaian rencana.

"Kalian sudah paham bukan?" tanya Shikamaru.

Tidak ada jawaban secara verbal. Hanya anggukan yang diterima oleh Shikamaru tanda konfirmasi Naruto tentang pemahaman rencana yang telah disusun oleh Shikamaru dalam waktu yang sangat singkat.

"Bagus! Sekarang pergilah! Aku akan menyusul nanti," ucap Shikamaru.

Klon Naruto memisahkan diri dari rombongan kecil ini. Sekarang ini, masing-masing akan memegang peranan penting untuk kelanjutan misi beresiko tinggi ini.

Tinggal Naruto dan Shikamaru. Mereka berdua—tidak, hanya Naruto sendiri yang akan langsung menyergap ketiga musuhnya dan mengeksekusinya. Tidak masalah jika nantinya harus dibawa ke pengadilan internasional. Ada cukup banyak fakta untuk memutar balikkan tuduhan serta gugatan Mizu. Well, seperti biasanya, Shikamaru memang selalu memikirkan langkahnya secara matang dan luar biasa.

"Kau yang akan bertugas membereskan mereka terlebih dahulu lalu melanjutkan misi utama kita. Jika nanti kita mendapat fakta bahwa benar mereka kelompok yang bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi, maka kita hanya perlu kembali ke Konoha dan melaporkan bahwa ada kelompok yang berusaha memfitnah Mizu."

"Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan menambah kecepatan, Shika! Ini adalah kesempatan selagi mereka masih beristirahat," ucap Naruto.

"Yosh!"

Keduanya menambah kecepatan lesatan. Shikamaru memisahkan diri dari Naruto untuk menuju posnya sendiri. Sedangkan Naruto menuju ke tempat yang dia yakini sebagai posisi musuh dan akan mengakhiri kelompok yang diyakini sebagai penanggung jawab dari hilangnya orang-orang di pulau ini.

Mereka berdua semakin cepat bergerak. Yang berarti konflik antara tim Naruto dan tim musuh semakin mendekati puncaknya.

.

.

.


Memento

Disclaimer: Naruto dan High School DxD bukan punya saya.

Rated: M

Genre: Adventure, (Fail) Comedy, Friendship, Mystery, and a lil bit of Romance (gonna work rly hard for this one).

Warning: Alternate Fact and Reality, Alternate Timeline, Out of Character, dan yang paling penting … Elemental Nations Universe!


Arc Pertama: Conspiracy in Mizu

Chapter 6

.

.

.

Naruto sudah hampir sampai di tempat yang ditujunya. Tidak perlu berbicara lagi karena dia sudah mengenali mereka hanya berdasarkan dari chakra masing-masing musuhnya.

Dalam lesatan berkecepatan tingginya, Naruto merapal sebuah segel tangan tunggal untuk menciptakan bunshin. Setelah tercipta seorang bunshin, Naruto menengadahkan telapak tangan kanannya di belakang. Bunshin yang diciptakannya langsung mengumpulkan chakra untuk dipadatkan dalam satu titik. Hanya dalam beberapa detik, sebuah bola chakra yang telah dipadatkan berhasil tercipta sempurna.

Secara mendadak, Naruto melompat tinggi dengan harapan tidak diketahui oleh musuhnya ketika sedang mendekat.

Tatapan matanya terkunci pada seorang pria dengan pakaian khas Anbu Kiri yang sedang duduk di atas dahan pohon untuk minum. Ya, dia adalah sasaran pertama.

"Senpou: Rasengan!"

Dentuman terdengar cukup keras di dalam hutan gelap.

Seorang pria berpakaian tempur terlempar lalu tergeletak di tanah dengan zirah kulit yang terpasang di tubuhnya berlubang pada bagian perut. Terlihat dengan jelas bahwa darah mengalir deras dari luka yang diakibatkan oleh sebuah teknik pemadatan chakra dalam bentuk bola tersebut.

Meskipun mendapat sebuah luka yang cukup fatal, tetapi tidak ada teriakan kesakitan yang terdengar. Seperti sudah terprogram untuk seperti itu.

Pria itu melompat menjauh dari kawah yang terhasil dari tabrakannya dengan tanah padat. Kini dia bergabung dengan kedua temannya yang sudah bersiaga karena mendapat serangan mendadak seperti ini.

"Kheh! Kau sepertinya cukup tangguh karena bisa kembali berdiri setelah terkena Rasengan milikku. Dari yang kulihat, kau tidak akan bisa bertempur, Bung," ucap Naruto sedikit memuji ketangguhan musuhnya. Oke, sebuah informasi tambahan telah didapatkan. Musuhnya yang satu itu memiliki tingkat ketangguhan fisik yang jauh diatas rata-rata karena masih bisa berdiri setelah terkena Rasengan. Yah, meskipun harus dengan susah payah.

"Dengan ini, kuanggap kau memang berniat untuk menyerang Mizu. Kami tidak akan segan-segan denganmu serta negara kejammu, Kyūseishu-sama," ucap salah satu dari para Anbu yang menggunakan topeng rubah.

"Kau kira aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu? Tidak mungkin para shinobi bawahan Mei-san melakukan tindakan bodoh seperti yang kalian lakukan. Jangan berpikiran untuk membodohiku," jawab Naruto dingin.

"Kalau begitu, jelaskan kenapa kau kemari! Tidak ada surat pemberitahuan tentang kedatangan dua shinobi berkaliber tinggi dari Konoha. Kau yang seharusnya dipertanyakan di sini!"

Pernyataan yang diucapkan para shinobi musuh Naruto sebenarnya bukan tidak masuk akal. Mereka juga memiliki hak untuk melindungi negara mereka sendiri, dan melihat Naruto sebagai ancaman terhadap negara. Itu pun jika benar mereka adalah seorang shinobi Kiri.

Meskipun begitu, Naruto sendiri juga tidak sepenuhnya salah. Dia datang untuk menyelidiki kasus aneh yang terjadi di Mizu. Kasus ini sudah berlangsung selama beberapa hari, tapi tidak mendapat penanganan pasti dari Kiri yang menjadi basis militer Mizu. Selain itu, ketika tadi Naruto datang kemari, dia sendiri malah langsung disambut dengan sergapan musuh. Jelas dia juga harus melindungi dirinya sendiri.

"Pernyataanmu tidak membenarkan atau menyangkal apapun. Jadi, asumsi yang paling masuk akal untuk kuambil adalah kau bukan seorang ninja Kiri. Kuhajar pun juga tidak masalah bukan?" tanya Naruto yang bersifat retorik.

Naruto tidak memberikan sebuah kesempatan musuhnya bahkan untuk sekadar menjawab ancaman implisit Naruto. Dia langsung melesat kembali dengan kecepatan luar biasa. Tatapannya terpaku kepada salah seorang yang bertopeng khas Anbu Kiri. Dia adalah target yang tadi berhasil kembali berdiri setelah mendapat hantaman Rasengan.

Tangan kanan Naruto ditarik ke belakang untuk membuat sebuah ancang-ancang memukul yang solid. Dia menghantamkan pukulannya tepat di wajah sang musuh yang begitu terkejut dengan kecepatan luar biasa Naruto.

Topeng yang melindungi wajah Anbu tersebut pecah berkeping-keping dan memperlihatkan wajah bersimbah darah.

"Satu ..."

"Keparat!" Seseorang yang mengenakan topeng rubah pun merapal segel dengan cepat sembari melompat menjauh.

"Mokuton: Sashiki no Jutsu!" seru pria bertopeng rubah sembari merapal segelnya. Tercipta sebuah tombak kayu dari telapak tangannya yang bertugas sebagai media pengompres chakra. Tombak kayu yang tercipta itu sedikit demi sedikit keluar dari telapak tangan sampai sepenuhnya berubah menjadi panjang. Ujung runcingnya mungkin bahkan dapat dengan mudah menembus tubuh manusia.

Pria bertopeng rubah itu melemparkan tombak kayu tersebut ke arah Naruto. Ya, dia benar-benar berniat dan berusaha melukai Naruto.

Tepat ketika Naruto melihat tombak runcing itu ditujukan ke arahnya, dia langsung mengenalinya sebagai tombak kayu yang sebelumnya sudah dianalisisnya ketika sedang berbicara dengan Shikamaru tadi. Ini adalah tombak yang bisa bercabang dan cabangnya akan langsung memanjang ketika menyerap chakra musuhnya.

Secepat mungkin Naruto melompat menjauh dari tempatnya guna menghindari serangan itu. Keputusan menghindar memang lah keputusan yang paling tepat untuk dilakukan. Jika Naruto memutuskan untuk menangkis, ada sebuah kemungkinan serangan tombak ini bisa berubah bentuk menjadi ke bentuk yang tidak pernah dibayangkan Naruto. Itu malah akan menyulitkan Naruto sendiri dalam menanganinya. Dalam situasi infiltrasi yang sudah berganti menjadi pertempuran seperti ini, lebih baik bermain aman.

Beberapa tombak kayu kembali diciptakan oleh Si Topeng Rubah guna menyerang Naruto. Dia melemparkan tombaknya dengan harapan bahwa ada salah satunya yang berhasil menyasar sang shinobi pirang dari Konoha.

Satu per satu lemparan tombak tersebut berhasil dihindari oleh Naruto dengan kecepatan tingginya. Meskipun Naruto tidak sedang berada dalam Mode Kyuubi yang meningkatkan kecepatannya bahkan sampai ditingkatan yang benar-benar luar biasa, kecepatan Naruto dalam Sennin Mōdo saja sudah sangat cepat.

Beberapa kali Naruto bermanuver di udara sembari berlarian kesana kemari serta melompat dari satu dahan ke dahan yang lainnya. Semua itu dilakukannya guna menghindari seluruh tombak kayu berbahaya musuhnya.

Sampai pada akhirnya, tombak kayu yang berusaha menyasarnya berhenti dilemparkan. Naruto pun juga ikut berhenti berlarian tepat saat dia menyadarinya. Matanya menyorot tajam pada Si Topeng Rubah. Dia benar-benar terfokus pada pertahanannya saat ini. Dengan adanya sebuah jeda sebentar ini, Naruto berkemungkinan besar akan berhasil menyerang musuhnya.

Seluruh atensinya hanya tertuju pada Si Topeng Rubah.

"Sendirinya bilang akan menghajar kami, tetapi kau sendiri juga yang malah berlarian menghindari seperti tikus. Aku penasaran apakah kau ini sebenarnya rubah atau tikus?!"

Ahh ... ini dia. Sebuah hal fundamental yang terhitung sangat penting dalam memegang dominasi pertarungan.

Provokasi.

Provokasi atau bisa dikatakan sebagai psywar memiliki peranan penting dalam pertarungan. Memainkan emosi musuh juga dapat berarti kemenangan atau kekalahan karena setiap gerak-gerik seseorang dapat dipengaruhi oleh emosi.

Mata Naruto semakin menajam ketika mendengar provokasi murahan musuhnya. Sebuah seringai remeh terkembang di wajahnya.

Tentu saja Naruto tidak akan termakan dalam sebuah provokasi murah–

"Wah, bocil emang banyak cingcong, ya!"

Err ... oke, dia memang sering labil.

Naruto mulai bergerak dari tempatnya berdiri. Sekarang ini tujuannya adalah untuk menghajar seseorang yang entah kenapa berhasil membuatnya emosi.

Tangan Naruto terkepal dan mulai membuat sebuah ancang-ancang memukul yang solid. Seringai maniak di wajahnya semakin lebar. Jarak yang memisahkannya dengan Sang Pengguna Mokuton terpotong dengan cepat. Tinggal lima meter lagi sebelum pukulannya sepenuhnya tersarang.

Deg!

Sebuah sengatan luar biasa tiba-tiba terasa oleh persepsi jiwa Naruto. Hal ini sukses membuat Naruto membeku. Seluruh tubuhnya menegang dan fokusnya pecah. Kedua matanya melebar sempurna ketika dia menyadari bahwa dia sedang lengah ketika sedang bertahan tadi. Seluruh atensinya hanya diberikan kepada seorang musuh dan seluruh serangannya. Dia melupakan fakta bahwa musuhnya masih ada dua!

"Sialan! Dari kanan!" teriak Naruto dalam hatinya sendiri.

Bagaikan sebuah kilat, sesosok siluet menyambar Naruto dalam kecepatan yang tidak main-main. Dia menebaskan pedangnya hampir secara telak ke dada Naruto dari samping.

Tebasan tersebut berhasil tersarang pada tubuh Naruto.

Tubuh Naruto sedikit oleng. Keseimbangannya benar-benar dihancurkan tadi. Serangan yang diterimanya barusan adalah sebuah kekalahan besar untuknya.

Naruto yang masih melayang di udara menciptakan sebuah bunshin dalam sekejap. Dia menggunakan bunshin tersebut sebagai pijakan sehingga dia bisa melompat menjauh dari tempat ini. Dia harus memulihkan tubuh serta pikirannya terlebih dahulu.

Lompatan yang dilakukan Naruto memberikan sebuah jarak beberapa puluh meter dari kedua musuhnya yang masih sepenuhnya siaga.

Rahang Naruto mengeras. Dia menahan sebuah perasaan sakit yang mulai mendera. Rasa perih mendominasi dadanya. Darah merah terlihat merembes dari luka tebasan yang diterima oleh Naruto.

"Ohohoho ... kulihat kau masih bodoh saja, ya, Naruto. Pancingan dan pola menyerang mereka sebenarnya sangat dangkal dan mudah diputar balikkan. Bisa-bisanya kau terkena serangan remeh itu," cibir Kurama melalui telepati.

"Berisik!"

Naruto benci untuk mengakuinya, tetapi seluruh ucapan Kurama tadi benar-benar tepat sasaran. Semua yang baru saja terjadi adalah 100% kesalahannya sendiri. Dia terlalu larut dalam pertahanan dan provokasi musuhnya. Fakta bahwa musuhnya adalah seorang assassin terspesialisasi sudah dilupakannya tadi.

"Kurma-chan, fokuskan dirimu untuk menyembuhkan lukaku. Jika perhitunganku tidak salah, seharusnya bisa sembuh dengan cepat, kan?" tanya Naruto pada Kurama dalam hatinya.

"Kurma-chan matamu! Kau benar-benar mengesalkan. Oke, fokus. Lukamu seharusnya bisa sembuh dalam waktu dua atau dua setengah jam," jawab Kurama.

"Kau bercanda? Rasanya aneh ketika harus bergerak sembari menahan rasa sakit di dada. Sudah seperti patah hati saja rasanya woi!"

"Kau bukanlah Senju Hashirama atau Senju Tsunade yang kemampuan regenerasinya berada di puncak. Dua atau dua setengah jam sudah sangat cepat, Naruto. Lagipula kau ini menggunakan Senjutsu. Seharusnya kau tidak sesakit itu."

"Halah terserah saja. Pokoknya kuserahkan kepadamu, Kurma-chan! Tolong, ya!"

Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Naruto secara sepihak memutuskan perbincangan singkatnya dengan Kurama. Memberikan sebuah permintaan tolong pada partnernya dengan cara yang seperti itu sudahlah cukup.

"Nah ... sekarang waktunya untuk fokus kepada mereka berdua," ucap Naruto dalam hati.

Untuk yang selanjutnya, Naruto tidak boleh lengah lagi. Yah ... memang pada dasarnya Naruto terlalu cepat panas jika terkena pancingan. Kejadian yang tadi adalah sebuah hal yang sebenarnya dapat dimaklumi.

Naruto melompat dari tempatnya. Ya, sudah saatnya untuk bergerak lagi. Meskipun sedang dalam keadaan luka pun Naruto harus tetap bergerak supaya dia tidak terpojokkan.

Sensor Naruto merasakan bahwa kedua musuhnya terletak dalam posisi yang sama dengan sebelumnya. Entah kenapa, padahal Naruto yang baru saja terkena serangan, tetapi perannya masih sama sebagai seorang predator di dalam pertarungan ini.

Bibirnya mengembang menjadi sebuah seringai. Jika sesuai dengan sebuah perhitungannya, kemungkinan dia menang dalam pertarungan ini adalah 100%.

Naruto menciptakan seorang bunshin. Dia mempunyai sebuah rencana.

"Mari langsung kita akhiri!"


Beralih dengan Shikamaru, kini dia berada sekitar tiga atau empat kilometer dari tempat Naruto bertarung dengan musuh-musuhnya. Lebih tepatnya, Shikamaru berada di dalam desa yang mungkin adalah satu-satunya desa di pulau ini.

Shikamaru tidak sendirian, tetapi dengan klon Naruto yang tadi sempat diciptakan guna membantu Shikamaru.

Shikamaru dan Naruto memang berpisah. Mereka memiliki sebuah rencana sederhana yang akan mereka lakukan.

Mungkin terdengar cukup mengesalkan karena Naruto dan Shikamaru masing-masing berfokus pada tugas dalam rencananya, tetapi harus diingat bahwa mereka berdua adalah Shinobi dengan peringkat tinggi dalam segi kompetensi. Terlebih Naruto.

Kembali fokus pada Shikamaru dan Klon Naruto, kini mereka melangkahkan kaki mereka di jalanan utama desa kecil ini. Sesekali mereka melirik kesana-kemari untuk melihat suasana dan mengumpulkan informasi secara visual.

Ada sebuah hal yang membuat keduanya heran dengan desa ini.

"Terlalu sepi dan suram," gumam Klon Naruto pelan.

Shikamaru menganggukkan kepalanya tanda dia setuju dengan opini Klon Naruto.

Desa ini memang terlalu sepi dan suram. Mungkin ini memang sudah larut dan mereka berdua bukan seorang penduduk asli Mizu no Kuni, tetapi mereka cukup menyadari bahwa Mizu no Kuni adalah negara yang cukup besar dan berpenduduk tinggi. Seharusnya setiap pulau yang masuk dalam teritorial Mizu juga masih memiliki penduduk yang cukup padat juga.

Kedua shinobi setingkat Top tier Jounin bisa mengetahui hal itu tadi dengan menggunakan kemampuan sensorik dasar mereka untuk mengetahui jumlah orang yang sedang berada di dekat mereka. Namun, hasilnya begitu sedikit terlepas dari posisi mereka yang berada di pusat desa kecil ini.

Aneh.

Mata Shikamaru melirik ke arah sebuah kedai kecil yang sepertinya masih buka. Itu adalah sebuah tempat yang sangat cocok untuk mencari dan mengumpulkan informasi.

Tanpa memberitahu Klon Naruto, dia langsung melangkahkan kakinya untuk mendahului Klon Naruto. Hal yang seperti ini sama saja seperti menandakan bahwa Shikamaru mengambil alih dan dia pula yang menentukan arah tujuan.

Sebelah alis Klon Naruto terangkat sejenak sebelum dia sepenuhnya menyadari maksud dari Shikamaru. Ketika dia menyadarinya, tanpa bertanya apapun dia langsung mengikuti Shikamaru.

Setelah menghapus jarak mereka dengan kedai tersebut, mereka langsung masuk ke dalam.

Keduanya menyapukan pandangan ke sekeliling. Berusaha melihat siapa saja yang sedang berada di dalam sini dan melihat apakah ada yang berpotensi menyebabkan keributan serta mencari seseorang yang mungkin dapat diajak berbicara. Ketika sedang melihat-lihat, Shikamaru menemukan seorang pria yang sudah memasuki usia senja.

Ya, pria yang itu mungkin bisa diajak untuk berbicara mengenai segala hal yang terjadi di tempat ini berdasarkan dari sudut pandang penduduk desa.

Klon Naruto melihat ke arah pegawai yang sedang berada di balik meja utama kedai yang juga melihat ke arahnya.

"Tolong, sebotol sake," kata Klon Naruto.

Setelah memesan sebotol sake, Naruto dan Shikamaru melangkah menuju meja di mana pria berusia lanjut yang tadi sudah dilihat oleh Shikamaru. Mereka berniat untuk langsung membuka sebuah percakapan. Informasi harus didapatkan secepat mungkin karena situasi yang sedang dihadapi berpotensi untuk memburuk ke titik tertentu.

Baik Klon Naruto dan Shikamaru sangat menyadari mereka dalam posisi yang beresiko tinggi saat ini. Salah langkah barang hanya sedikit dapat berakibat fatal untuk mereka berdua dan Negara Api.

"Permisi, Ojii-san, bolehkah kami bergabung dengan anda?" tanya Naruto sopan.

Pria tua itu menoleh ke Naruto. Melihatnya tepat di mata untuk beberapa saat. Seolah berusaha mencari sesuatu jauh di dalam lautan samudera. Dalam beberapa detik setelahnya, pria itu tersenyum simpul dan menggerakkan tangan kanannya untuk membuat sebuah gestur.

"Tentu, Nak. Duduklah, kalian berdua."

Naruto membalas senyuman pria tersebut dan langsung mengambil posisi duduk di depan pria tersebut diikuti oleh Shikamaru di sampingnya. Setelah mereka duduk, pegawai kedai pun datang dan memberikan sebotol sake yang tadi dipesan oleh Shikamaru dan Naruto. Naruto menuangkan sakenya ke dalam dua buah gelas kecil yang disediakan. Setelah minum seteguk, Naruto dan Shikamaru memfokuskan diri mereka kepada pria tua yang mereka datangi.

"Maafkan kami, Ojii-san. Jika anda berkenan, bisakah kami menanyakan beberapa hal tentang desa ini? Sungguh kami sangat penasaran dengan beberapa hal yang sedang terjadi di tempat ini," ucap Shikamaru membuka percakapan.

"Tentu, tentu. Tanyakan saja, jangan sungkan. Aku tahu kalian tidak berasal dari tempat ini," jawab sang kakek dengan nada bersahabat.

Mendengar konfirmasi dari narasumber, Naruto dan Shikamaru menghela napas lega karena mereka telah memilih orang yang tepat untuk dimintai informasi tentang apa yang telah terjadi di tempat ini. Mereka berpikir bahwa sepertinya mereka cukup beruntung saat ini.

"Apa yang sedang terjadi pada desa ini? Maksud saya, saya merasakan bahwa tempat ini terlalu sepi untuk seukuran desa di Mizu. Apakah belakangan ini terjadi sesuatu yang aneh?" tanya Shikamaru.

"Benar, ada sesuatu yang cukup meresahkan beberapa waktu belakangan ini. Banyak dari penduduk yang tiba-tiba menghilang dari desa ini."

Naruto dan Shikamaru yang memang sudah mengetahui tentang hal ini hanya berpura-pura memasang wajah terkejut. Yah, terkadang diperlukan sedikit akting untuk mengorek informasi dari seseorang. Itu adalah salah satu hal yang pernah diajarkan Morino Ibiki dari Divisi Intelejen dahulu kala. Ekspresi dan respons seseorang dapat dengan mudah meningkatkan emosi dalam diri seseorang untuk membocorkan lebih banyak informasi terhadap mereka. Dalam konteks ini, mereka berharap respons mereka dapat membuat sang kakek semakin semangat bercerita meskipun topiknya cukup sensitif untuk kondisi saat ini.

"Beberapa warga berpikir bahwa ada sesosok siluman yang menculik mereka, sedangkan sisanya berpikir bahwa ada seorang pembunuh berantai dibalik senyuman warga desa ini."

Tepat di titik ini, Shikamaru dan Klon Naruto langsung merasakan atmosfer di sekitar mereka semakin dingin dan panas di saat yang sama. Mereka saling melirik satu sama lain. Setidaknya ada dugaan dari pihak warga desa ini. Namun, tetap saja, ada sesuatu yang aneh dari informasi ini.

"Sampai saat ini berapa total korban yang hilang?" tanya Naruto.

"Cukup banyak. Jika ditotal mungkin sudah 12 orang yang menghilang."

"Lalu kapan pertama kalinya anda dan warga desa menyadari bahwa ada seseorang yang menghilang?"

"11 hari yang lalu. Pada pagi hari kami menyadari bahwa salah satu warga yang paling aktif di desa menghilang. Dari jejaknya sih sepertinya telah menghilang sejak malam hari sebelumnya. Kami tidak tahu secara pasti karena dia tinggal sendirian sehingga tidak ada yang bisa memberikan penjelasan secara detail tentang apa yang sedang terjadi di malam sebelumnya."

"Hari ini, ada yang secara mendadak menghilang?" tanya Shikamaru.

"Tidak ... aku sangat yakin jika tidak ada yang menghilang."

"Seseorang dari kemiliteran datang untuk kasus ini?" tanya Naruto.

"Uhh ... tentu. Ada seorang penyidik pemula yang datang kemari sekitar seminggu yang lalu. Dia sendiri tidak berhasil menemukan indikasi atau sesuatu yang mungkin berhubungan dengan hilangnya warga desa."

"Orang itu, apakah dia sudah kembali ke Kirigakure?"

"... dia menjadi salah satu korban menghilang tepat sehari setelah kedatangannya," jawab sang kakek. Naruto dan Shikamaru sontak terkejut setelah mendengar hal ini. Mereka tidak menyangka bahwa seseorang yang seharusnya bertugas untuk menyelesaikan kasus ini malah menjadi korban. Pantas saja kasus warga yang menghilang ini semakin berlarut-larut dan tidak kunjung menemui akhir.

Secara langsung, Shikamaru memutar otaknya. Jika warga desa menemukannya 11 hari yang lalu di pagi hari, besar kemungkinan kejadian yang sesungguhnya terjadi pada malam sebelumnya. Jadi anggaplah hal tersebut terjadi mulai dari 12 hari yang lalu. 12 hari, 12 orang. Itu berarti setiap hari selalu ada satu orang yang menghilang. Dalam waktu yang singkat selalu ada korban yang menghilang. Kirigakure menyadari kasus ini dan mereka mengirim seseorang untuk menyelesaikan. Namun, setelah itu, kasus ini tidak memiliki perkembangan. Hanya penurunan yang ada karena seiring dengan berjalannya waktu kasus semakin memburuk.

Ada satu hal yang sangat mengganjal di benak Shikamaru tentang pulau ini.

"Apakah ada tempat yang dikeramatkan di sini? Jika ada, pernahkah seseorang pergi ke sana untuk menyelidiki?" tanya Shikamaru.

"Ya, ada."

"Jika boleh mengetahui tempatnya, dimana?"

"Kau tahu, pulau ini tidak terlalu besar, tetapi juga tidak kecil juga. Desa ini berada di pusat pulau. Ketika datang, apakah kau tahu ada sebuah bukit yang cukup tinggi di sebelah utara. Aku sendiri tidak tahu apa yang tersembunyi di balik tempat itu karena sejak kecil pun aku tidak pernah menginjakkan kaki di sana. Para warga desa ini pun juga tidak pernah ke sana karena telah dilarang sejak dahulu kala."

Naruto dan Shikamaru rasa, mereka sudah cukup mendapat informasi tentang tempat ini dan detailnya dari kakek tua di kedai ini. Mungkin, sudah waktunya mereka kembali mengambil tindakan. Mereka juga tidak melupakan tentang tubuh asli Naruto yang sedang bertarung melawan beberapa Jounin yang entah berafiliasi dengan Mizu atau tidak. Yah, mungkin saja pertarungannya sudah selesai sih kalau Naruto tidak sedang berminat untuk main-main sedikit.

Shikamaru pikir, konklusi dari kasus ini akan dapat ditarik jika mereka sudah berada di tempat yang tadi diceritakan oleh orang yang diwawancarainya.

Shikamaru dan Klon Naruto berdiri setelah meletakkan sejumlah uang di meja untuk membayar minumannya dan minuman kakek tadi. Well, sedikit balasan untuk informasi yang sangat berharga untuk mereka lah.

Dua orang Shinobi tingkat tinggi itu pun keluar dari kedai dan langsung melompat ke atap-atap rumah. Shikamaru menoleh ke arah Naruto.

"Dengar, selesaikan urusanmu dengan orang-orang itu dan kita akan langsung berangkat tepat setelah aku sampai di sana," ucap Shikamaru menjelaskan tentang langkah selanjutnya. Tepat setelah itu, Klon Naruto meledakkan diri menjadi asap. Tugasnya sudah selesai sampai di sini.

Mungkin memang terkesan tidak berguna karena setelah mendapat informasi, klon tersebut langsung menghilang. Namun, perlu diketahui bahwa Kagebunshin no Jutsu memiliki sebuah keistimewaan tentang ingatan dari klon yang telah diciptakan. Semua informasi yang diperoleh Naruto dan Shikamaru di kedai akan langsung masuk ke memori dari tubuh asli Naruto. Dengan ini mereka dapat menghemat waktu sehingga tidak perlu memakan waktu lagi untuk menceritakan apa saja yang didapat karena bahkan sedetik pun sangat berharga dan berpengaruh jika sedang berada di dalam misi. Yah, jika semuanya berjalan lancar dan tiada halangan.

Shikamaru mulai melesat ke arah Naruto berada. Dia ingin dengan cepat menyelesaikan tugas ini dan langsung kembali ke Konoha.

Dalam perjalanannya, Shikamaru masih memikirkan tentang setiap penjelasan yang didapatnya. Karena kasus yang dihadapinya berhubungan dengan nyawa dan tempat ini juga memiliki sebuah wilayah yang dikeramatkan, dugaan utama Shikamaru adalah mungkin sekali ada sesuatu yang akan dibangkitkan. Entah apapun itu. Bisa berupa roh dari sesuatu yang kuno atau eksistensi yang bersifat superior dan memiliki kemampuan eksepsional. Dua-duanya bukan sesuatu yang baik jika tidak berada di pihak mereka.

Jika dipikir-pikir, banyak kekuatan dari masa lampau memang tergolong ekstrim jika hal tersebut sampai disegel atau semacamnya. Shikamaru jadi teringat dengan peristiwa yang menjadi ujung dari Perang Dunia Shinobi Keempat. Kala itu eksistensi primordial seperti Ootsutsuki Kaguya sampai dibangkitkan. Tentu saja hal itu akan berakibat sangat fatal jika tidak bisa ditangani oleh Tim Tujuh dan Obito.

Kalau dugaan Shikamaru tentang sesuatu yang disegel atau semacamnya, mereka pasti sedang berhadapan dengan sesuatu yang sangat merepotkan saat ini.

'Hahh ... merepotkan.'

Sekitar lima menit berlalu, Shikamaru sampai di tempat Naruto bertarung. Dia melihat ada beberapa kawah yang tercipta dan beberapa tubuh yang tergeletak di tanah. Naruto sendiri sedang duduk di atas dahan pohon untuk beristirahat.

Seperti yang sudah diduga, Naruto pasti dengan mudah menyelesaikan pertarungan ini. Terlepas dari kekurangannya dalam menghadapinya musuhnya tadi di awal, Naruto pasti dapat dengan mudah mengalahkan musuhnya. Lagipula, Naruto adalah Ninja nomor satu kan.

"Sudah selesai semua?" tanya Shikamaru sembari menyapa Naruto.

"Yo, Shika! Lagi, mereka suka kabur-kaburan. Memangnya kita sedang punya waktu untuk petak umpet ya?" jawab Naruto seraya mencibir. Naruto pun melanjutkan, "mau langsung?

"Bagi minum dulu. Aku juga haus," tukas Shikamaru.

"Kan barusan minum sake, sudah haus lagi?"

"Sudah! Kenapa?!"

Naruto hanya melemparkan botol minumnya sembari menjulurkan lidahnya untuk mencibir Shikamaru. Setelah itu, Naruto menolehkkan kepalanya ke arah langit. Dia memikirkan tentang detail kasus ini dan baru menyadari sesuatu. Kedua matanya terbelalak.

"Shika ..."

"Hmm?"

"Kau pasti tadi berpikir tentang pembangkitan sesuatu, kan?" tanya Naruto retorik. Bahkan tanpa Naruto bertanya pun sendirinya juga paham bahwa Shikamaru pasti berpikir ke arah sana.

"Tentu saja. Kenapa?"

"Aku mengerti kau pasti sudah menganalisis tentang pola atau semacamnya tentang kasus ini. Kita bawa analisisnya sesederhana mungkin karena kita sedang berpacu dengan waktu," ucap Naruto serius. Shikamaru sendiri langsung mengalihkan seluruh atensinya kepada Naruto.

"Kau tahu, kemungkinan besar kasus ini akan berhenti di angka yang ganjil. Jika kita melihat fakta bahwa pertama kalinya kasus terjadi adalah 12 hari yang lalu, maka hari ini adalah hari ketiga belas, kan?"

Benar. Shikamaru juga berpikir hal yang sama dengan Naruto. Dia sudah memikirkan hal ini dan besar kemungkinan hari ini adalah hari terakhir adanya seseorang yang menghilang dan mungkin juga dimulainya ritual yang berhubungan dengan sesuatu yang jahat dan kuno.

"Tapi, kau tahu sendiri jika tidak ada seseorang yang menghilang malam ini. Kita sudah memastikannya tadi, kan?"

"Benar, tapi kurasa ada yang luput dari perkiraanmu, Shika."

Shikamaru tersentak. Pemuda rambut nanas itu langsung berpikir keras setelah mendapat teguran dari Naruto. Benar ... firasatnya mengatakan bahwa masih ada sesuatu yang luput dari pikirannya sehingga perhitungannya terhadap investigasi ini menjadi kabur. Dari segi warga, jawaban dari kakek tua yang tadi dikorek informasinya, dia mengatakan bahwa tidak ada yang menghilang atau mungkin belum. Orang ini memang tidak dikenal sehingga kredibilitasnya dipertanyakan, tetapi seharusnya orang tersebut berkata jujur.

Kalau beg-

"Sialan! Kita bergerak sekarang! Secepat mungkin!" seru Shikamaru panik. Dia baru saja menyadari bahwa memang benar ada sebuah fakta yang dilupakan. Bisa-bisanya dia melupakan fakta ini?! Sungguh Shikamaru mungkin sedikit terpengaruh pikirannya ketika sedang berada di kedai tadi.

Siapa pun yang mendalangi seluruh rangkaian peristiwa culik-menculik warga desa ini tidak akan berhenti begitu saja bahkan ketika dua Shinobi dengan tingkat kekuatan tinggi datang untuk mengganggu rencananya. Dia lebih pintar daripada itu.

"Sial sial sial sial!" umpat Shikamaru berturut-turut.

Jika diingat, tidak ada kalimat yang menjelaskan bahwa korban menghilang haruslah warga desa ini. Penyidik pemula yang dikirim Kirigakure sebelumnya juga bukan dari desa ini, tetapi termasuk ke dalam korban yang menghilang. Hal itu langsung mematahkan kemungkinan seseorang harus dari desa ini untuk dihilangkan.

Benar, mereka baru saja teringat fakta bahwa sesungguhnya satu orang sudah menghilang. Bukan warga desa pulau ini, melainkan rekan mereka sendiri.

ANBU Tora yang seharusnya menjemput mereka tadi, dia menghilang.

.

.

.


Hi! It's been a while since the last time I updated this fic. I've to apologize for it.

Saya minta maaf karena lama nggak up hahaha ... lagipula emang nyari konsistensi untuk nulis memang susah. Mumpung lagi pengen balik ke sini yaudah saya lanjutin ini aja sih. Terlepas dari itu, saya tetap tidak up tepat waktu dan itu bukan hal yang bagus.

Sedikit ulasan tentang chapter ini, benar. Ini chapter tidak terlalu menonjol ke pertarungan dan semacamnya, tetapi ke genre yang satunya. Saya membawa genre mystery sebagai pembahasan utama chapter ini. Seperti yang bisa dilihat. Saya sama sekali nggak jago dalam membuat plot twist atau apalah apalah itu. Apalagi yang bersifat misteri, tapi saya sangat berusaha untuk itu.

Para pembaca pasti sangat merasakan bahwa chapter ini temponya sangat-sangat lambat karena hanya menjelaskan tentang sedikit bagian di cerita. Chapter ini memiliki peranan penting untuk membuka sesuatu yang berguna untuk alur cerita ini. Tapi entahlah, mungkin chapter depan akan lebih cepat temponya atau gimana. Yang jelas saya ingin seperti ini dulu.

Saya rasa tidak ada yang perlu saya katakan lagi. Terima kasih sudah membaca.

Dadah!


.

.

.

Entah berapa waktu yang termakan hanya untuk Naruto dan Shikamaru bergerak kesana-kemari. Mayoritas waktu mereka terhabiskan untuk mengejar sesuatu yang bahkan belum mereka ketahui apa dan siapa. Satu hal yang terus membuat mereka bergerak adalah bahaya yang tidak diketahui di belakangnya. Firasat mereka mengatakan bahwa mereka harus terus bergerak dan sampai secepat mungkin. Dalam beberapa kasus, firasat berperan lebih penting daripada logika. Sedangkan kasus ini, mereka telah didukung oleh logika.

Satu tempat yang wajib mereka kunjungi dalam ekspedisi ke Mizu no Kuni kali ini adalah bukit di pulau ini. Dari semua tempat yang berkemungkinan menjadi muara, puncak bukit inilah yang memiliki kemungkinan terbesar.

Investigasi mereka mungkin saja membawa mereka kepada sebuah ujung yang sama sekali tidak pernah dibayangkan baik oleh Naruto maupun Shikamaru sekalipun. Namun, itu semua tentu saja masihlah sebatas spekulasi karena mereka sendiri bahkan belum mengetahui identitas musuh mereka dan motivasi apa yang membuat mereka melakukan hal meresahkan ini.

Dua remaja dewasa kelahiran Konoha yang sedang mengemban misi itu pun pada akhirnya sampai di tempat tertinggi di pulau ini tepat setelah tengah malam. Ternyata mereka menghabiskan cukup banyak waktu dalam kejadian sebelumnya sehingga baru sekarang mereka sampai.

Masing-masing dari mereka melihat bahwa ada sebuah kuil yang eksteriornya sangat terawat. Kuil itu memiliki aksen Jepang kuno dengan sebuah gerbang merah. Halamannya cukup luas dan terdapat sebuah pusara di tengahnya. Pusara tersebut dibangun lebih tinggi dari halaman sekitar. Seolah menunjukkan bahwa itu adalah sesuatu yang harus diperhatikan atau hal yang ditonjolkan dari tempat ini.

Satu hal yang menjadi perhatian utama Naruto dan Shikamaru adalah, di sekitaran pusara tersebut, ada sebuah pola yang tergambar. Mirip dengan sebuah segel. Mereka sendiri tidak tahu apa arti dari segel tersebut dan apa yang telah tersegel. Namun, satu yang pasti, pola tersebut tergambar dengan menggunakan darah. Tanpa harus bertanya pun Naruto dan Shikamaru tahu dari mana datangnya darah tersebut.

Tidak luput dari pandangan, dua orang yang tersisa dari pertarungan antara Naruto dan para Shinobi misterius sebelumnya terlihat sedang berdiri di atap kuliah dengan beberapa bagian tubuh yang mengeluarkan darah. Menunjukkan mereka baru saja melalui waktu yang cukup berat ketika berhadapan dengan Naruto tadi.

Hal yang sangat mengganggu Naruto dan Shikamaru adalah seseorang yang berdiri di depan pusara. Dia memiliki postur seorang pria dan menggunakan jubah berwarna gelap yang mengingatkan Naruto dan Shikamaru kepada sesuatu yang pernah mereka lihat dulu.

Angin bertiup kencang bersamaan dengan tersingkapnya awan dan cahaya rembulan yang menyinari pria tersebut. Memperlihatkan paras pria tersebut kepada Naruto dan Shikamaru.

Perasaan tidak menyenangkan langsung mendera. Baik Naruto, maupun Shikamaru. Mereka mengerti bahwa kemungkinan seperti ini bisa terjadi, tetapi mereka tidak pernah berani membayangkannya. Rasanya terlalu kejam.

Wajah itu adalah wajah yang pernah dilihatnya dulu. Seseorang yang meninggalkan mereka dengan tersenyum. Seseorang yang selalu dengan bangganya berkata bahwa takdir adalah segalanya dan segalanya telah tertulis dalam suratan takdir.

Seorang sahabat ...

"Neji ..."


CHAPTER 6 -END-