disclaimer © Jeffrey Reddick
warning (berusaha untuk) canon-based FD 2, salah genre, miss EBI, typo(s), diksi menyedihkan, death chara(s), plotless. Mungkin bisa dikatakan studi karakter?


Rory Peters adalah salah satu di antara sekian banyak manusia yang tak pernah memikirkan soal kematian. Kehidupan bebas di New York membuat pola pikirnya ikut bebas juga, dalam artian dia bisa melakukan apa saja tanpa siapa pun yang menghalangi, menikmati seisi dunia penuh tawaran menggiurkan. Pornografi, kriminalitas, seks, obat-obatan, pergaulan menyimpang, selama masih bisa menikmatinya, mengapa dia harus khawatir? Toh dia tidak akan mendapatkan itu semua setelah mati.

Setidaknya itu yang Rory pikirkan sebelum insiden Rute 23 datang, mengubah keseluruhan hidupnya.

Bersama korban selamat dari tragedi, katakanlah Rory adalah salah satu orang yang masih saja skeptis dengan konteks kematian, yang dikemukakan oleh Kimberly si cenayang sembari mengaitkannya dengan kutukan Penerbangan 180. Maut mengincar mereka? Hah, yang benar saja! Jelas-jelas dia dan mereka semua baru saja diselamatkan dari kecelakaan besar tersebut, dan kini Maut mau membunuh mereka semua? Ada pria Afro-Amerika yang bernasib sama pun sama sepertinya, menganggap itu adalah sebuah lelucon belaka.

Setidaknya itu yang Rory pikirkan dalam kondisi tak dipengaruhi obat-obatan terlarang, sebelum berita mengenai seorang pemenang lotre meninggal dalam kondisi mengerikan—bisa kaubayangkan matamu tertusuk tangga?—dan yang membuat Rory semakin takut adalah, Evan Lewis—nama pemuda calon miliuner itu—merupakan salah satu korban selamat dari bencana Rute 23, membenarkan soal Maut yang ingin menjemput mereka satu per satu.

Semua itu berlangsung hanya dalam satu hari. Mungkin Tuhan menghukumnya bersama kejahatan yang dia lakukan; mengkhianati kepercayaan ibunya.

Jika gadis itu benar, berarti waktunya takkan lama lagi. Rory tahu dia harus mengakui dosanya sebelum terlambat, namun dia tak bisa. Bisa dikatakan dia tak percaya surga ataupun neraka, tetapi bukan itu yang membuatnya diam-diam gelisah. Melihat wajah sedih dan kecewa ibunya adalah hal paling menyakitkan untuknya, terlebih lagi Rory sudah sadar dengan sendirinya bahwa dia adalah alasan untuk itu. Rasa sakitnya jauh melebihi momen-momen sakau yang pernah Rory rasakan.

Telepon seluler hanya sebatas dalam genggaman. Rory tidak pernah siap untuk hal-hal terburuk dalam hidupnya, tidak akan pernah.

Mereka semua—para korban selamat—dipertemukan sekali lagi di apartemen petugas polisi. Rasanya seperti masuk ke kandang harimau, setelah selama ini polisi adalah hal nomor satu yang paling Rory hindari, namun kelihatannya Petugas Burke tidak lagi peduli dengan kasus apa pun, selain tulah yang dijatuhkan pada mereka semua pascatragedi.

Pertemuan di sana hanya sebentar, tapi itu sudah cukup untuk membuat Rory peka dengan kematian.

Pria Afro-Amerika yang sempat satu pemikiran dengannya pun berusaha untuk bunuh diri, meski gagal. Keadaan makin pelik, dan Rory tahu itu. Belum lagi wanita bernama Nora sedang dalam kondisi depresi setelah anaknya tewas, menangis sambil mengungkap asa bahwa sebaiknya dia mati saja. Melihat Nora mengingatkan Rory dengan ibunya. Akankah ibunya menangis dan berharap mati saja seperti Nora jika dia seandainya benar-benar tewas? Apa reaksi ibunya jika perbuatan laknat menyakitkan ini terkuak?

Di momen itu, Rory merasa bahwa dia adalah seorang pendosa busuk.

"Coba kalian lihat ini." Rory menunjuk bayangan yang terbentuk di sebuah permukaan usai Eugene dan Nora memutuskan untuk pulang. Bisa dikatakan Rory mulai bisa memahami permainan Maut pada mereka, dan percaya akan murkanya Maut karena mereka telah mempermainkan kematian. "Tidakkah itu terlihat seperti ... tanda?"

Kedua gadis yang ada di belakangnya buru-buru turun, berusaha menyelamatkan seseorang meski sudah sangat terlambat. Petugas Burke sempat menghubungi orang yang sama. Semuanya membiarkan Rory menatap bayang yang terus menari, bergerak-gerak menghantui, mengundang sekelebat pertanyaan berkunjung dan mengetuk pintu benak—dan hatinya.

Sebenarnya itu pertanda kematian Nora ... atau dirinya sendiri?


Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya Rory mendapatkan jawabannya.

Setelah memutuskan untuk mengejar seseorang yang bisa membantu mereka terlepas dari belenggu teror, mobil yang mereka pakai mengalami masalah hingga memasuki area pertanian. Di kala itu, Rory merasakan waktu yang semakin menipis. Maut telah repot-repot menyiapkan skenario kematian luar biasa untuk mereka semua, lengkap dengan senarai nama yang telah berani-beraninya mengecoh Dia.

Seorang anak pemilik pertanian datang dan mencoba untuk menolong, sebelum akhirnya memutuskan untuk memanggil ayahnya guna mencari bantuan. Saat itulah, sebuah van reporter nyaris saja membunuh si anak, kalau saja Rory tak segera menarik tangan pemuda itu, menyeretnya menyingkir dari garis takdir dengan tujuan kematian.

"Oh, Bung! Berhati-hatilah!" seru Rory mengingatkan.

"Terima kasih," ucap anak itu.

Detik itu juga, Rory benar-benar tahu bahwa kematian adalah sesuatu yang sangat tidak bisa diprediksi. Maka dari itu, dia harus mengakhiri segalanya.

Akan tetapi, kesangsian merayapi hatinya. Sekali lagi, dia tak mampu jika harus melihat ibunya dirundung elegi. Wanita itu telah berjasa melahirkan dan membesarkannya. Beliau tidak akan bisa memaafkan perbuatannya yang seperti ini—jangankan ibunya, setelah sekian lama pun Rory masih tak bisa memaafkan dirinya sendiri.

"Hei, uh ...," tegur Rory pada Kimberly. "Menurutmu, apa kematian itu menyakitkan?"

Kimberly melipat tangan di depan dada. Wajahnya tampak gusar. Menggelengkan kepalanya, Kimberly beberapa kali menghempaskan tawa berat. Telapak tangan kanan yang bersembunyi dalam lengan kirinya memunculkan diri beserta endikkan bahu, menekankan jawaban, "Aku tidak tahu."

"Kau mati setelah aku, 'kan?" tanya Rory lagi. "Berdasarkan urutan, kematianmu berada di akhir setelah Petugas Burke ... benar?"

"A-Aku pikir begitu," jawab Kimberly. Air mukanya begitu kusut, Rory menyadarinya namun memutuskan untuk tidak peduli. Pikirnya, dia telah kehabisan waktu. Sejak awal, Maut tak pernah bisa menunggu siapa pun, apalagi menerima bahwa ada manusia-manusia yang bisa mengacaukan alur kematian. Setidaknya, Rory berterima kasih atas karunia itu, sebab sekalipun tak sepenuhnya bisa dia wujudkan, dia diberikan kesempatan untuk memperbaiki dosa-dosanya sebelum mati.

Terdengar konyol, ya? Rory mengakui hal itu, dia tak pernah menyangka akan begini jadinya.

"D-Dengarkan aku …." Rory mengeluarkan kunci dan dompetnya. "Bisakah kau menerima ini?"

Kimberly tak mengeluarkan sepatah kata pun, meski sorot matanya tampak kebingungan dan bertanya-tanya. Rory pun sebenarnya tak akan pernah menyangka, bahwa takdir bisa mengarahkannya hingga ke titik ini. Walau Kimberly tidak mengerti dengan apa kemauan Rory, gadis cantik itu tetap menerima dua benda yang disodorkan padanya.

"Ka-Kalau aku mati, um ...," Sial, lelaki tak sepantasnya bersuara gemetar seperti ini. Benar-benar pecundang—tunggu, bukankah sejak awal dengan tunduk pada narkoba sudah menjadi bukti betapa pecundangnya dia? "maukah kau membuang narkoba ... persediaanku ... uh ... juga barang-barang porno milikku ... semua, kautahu, semua ... yang bisa membuat hati ibuku terluka ..."

Pelupuk mata Rory basah—

"... kumohon?"

karena Rory sadar bahwa dia takkan mampu mewujudkan keinginannya seorang diri.


tamat


~himmedelweiss 28/05/2020