A Love for My Devil


Disclaimer: Semua tokoh/karakter yang ada dalam cerita punya ownernya masing-masing, saya meminjam untuk pelengkap semata. Ditulis dengan tanpa niat untuk mendapatkan keuntungan materil.


Summary

Cinta adalah keajaiban, yang memperkaya jiwa dan mencerahkan hati. Merupakan elemen terpenting yang ikut mengisi dunia dengan keindahannya yang merona-rona. Tapi, bagaimana jika cinta yang terikat adalah antara iblis dan manusia? Apakah cinta tetap menjadi sebuah keajaiban? Lalu bagaimana cara seorang pemuda pirang memberikan keajaiban cinta kepada gadis iblis ini?


Chapter 1

-1-

Akademi Kuoh merupakan lembaga swasta pendidikan terbesar, termewah dan yang paling terkenal di kota Kuoh; yang hanya menampung murid-murid berbakat, jenius dan berprestasi tinggi. Akademi yang ditempatkan di kontur tinggi ini memiliki gedung-gedung sekolah yang amat besar dan megah-megah. Taman-tamannya sangat luas yang ditambah dengan danau-danau kecil buatan.

Maka tak salah kalau orang-orang mengatakan bahwa bangunan yang mengambil struktur Victoria ini tampak seperti kastil modern dari kejauhan.

Akademi Kuoh adalah surga bila dipandang dari sudut mata sang pria. Kenapa? Akademi inilah alasannya.

Akademi Kuoh dulunya merupakan akademi untuk para gadis sebelum dua tahun yang lalu tiba-tiba entah angin apa yang bertiup sehingga akademi gadis berubah menjadi akademi campuran. Walaupun kebijakan sudah berlaku sejak dua tahun lamanya tetap saja jumlah gadis-gadis tetaplah mendominasi, yang artinya kalau kau memutuskan untuk bersekolah di sini maka kau akan dikelilingi oleh gadis-gadis cantik.

Benar-benar surga bagi para pria, bukan? Tapi itu normal-normal saja sebenarnya mengingat bahwa sudah sewajarnya seorang laki-laki akan menjadi senang kalau dikerubungi oleh gadis-gadis.

Namun dalam hal apapun asalkan itu ada dalam kehidupan, pastinya terdapat hal tidak sederajat yang dinamakan perbedaan. Seperti air dan minyak dalam cair, asap dan angin dalam gas, bebatuan dan pasir dalam padat; perbedaan akan selalu ada tak peduli dalam konteks apapun hal tersebut.

Tersimpan di antara siswa-siswa normal, di Akademi Kuoh terdapat seorang murid laki-laki yang tampak selalu menyendiri; sangat pendiam, pasif dan jarang bersosialisasi dengan siapapun. Namanya Uzumaki Naruto, seorang siswa kelas 2-B yang katakanlah merupakan siswa paling misterius di sekolah. Tak ada seorangpun yang pernah melihat ia berbicara dengan siswa lain; ia tampak selalu menyendiri dan menjauh apabila ada siswa yang mendekatinya seolah-olah ia adalah sesuatu yang tak dapat untuk dicapai oleh siapapun.

Itu bukan berarti kalau pemuda berambut pirang itu adalah seorang bajingan atau apapun, malahan ia adalah definisi dari seorang pemuda yang mendekati kata sempurna. Banyak gadis-gadis di sekolah yang menaruh perhatian untuknya dan berbondong-bondong mencoba mendekati ia tetapi Naruto lebih memilih untuk menjauhi mereka. Ia tumbuh menjadi salah satu laki-laki paling populer tak hanya karena ketampanan dan kesan misteriusnya tetapi juga karena ia merupakan salah satu siswa peringkat teratas di akademi, mendapati nilai tinggi di semua mata pelajaran dan membuat banyak anak laki-laki semakin iri padanya.

Tapi ada satu sisi dari Uzumaki Naruto yang mungkin tidak seorang pun ketahui.

'Hari sudah menjadi sangat petang, kuharap aku tidak terlambat.' Pikir Naruto ketika dia sedang berlari menyusuri jalan-jalan sempit di kota tempatnya tinggal.

Remaja berambut pirang itu mengenakan seragam sekolahnya yang terdiri dari blazer hitam beraksen putih, kameja putih bergaris dengan pita hitam di kerah, celana hitam panjang dan diakhiri dengan sepatu kulit berwarna coklat. Tanpa peduli dengan seragamnya yang agak kusut sekarang, ia terus berlari memacu langkahnya di jalan-jalan.

Naruto akhirnya telah sampai ke tempat yang menjadi tujuannya, yang mana merupakan area tertutup yang tampak lusuh dan kotor di sepanjang mata memandang. Tempat itu umumnya menjadi tempat bagi para pengemis atau orang-orang tidak mampu dan tak terhitung jumlahnya untuk bermukim di malam hari.

Tersenyum, Naruto memperlihatkan senyuman ramah yang sangat jarang ia perlihatkan ketika berada di sekitaran akademi. Lalu ia berjalan pelan menuju orang-orang baik dewasa ataupun anak-anak yang tampak kurus karena kekurangan nutrisi yang sedang duduk di atas potongan karton yang menjadi alas untuk mereka tinggal.

Suara khas terdengar ketika laki-laki pirang itu membuka resleting ransel hitam yang dibawa olehnya yang mana kemudian ia tampak mengeluarkan sesuatu dari ransel itu. Adalah sepotong roti panjang dan besar yang terbungkus oleh bungkusan karton coklat kini berada di tangannya dan satu botol air mineral berukuran sedang.

"Terimalah, paman," Naruto memberikan potongan roti besar itu kepada pria dewasa berpakaian lusuh yang tampak terkejut. "Mungkin ini tidak seberapa tapi aku harap dengan bantuan kecil ini bisa meringankan rasa lapar kamu dan anak istrimu."

"Oh!" teriak pria dewasa itu ketika dia meraih potongan roti dan sebotol air mineral yang Naruto berikan kepadanya. "Aku sangat berterima kasih, anak muda. Ini sudah lebih dari cukup."

Naruto mengangguk kecil dan tersenyum hangat ketika melihat pria itu langsung bergegas membuka karton yang membungkus roti itu dan membagikannya kepada istri dan anaknya yang menangis terharu. Setelah itu, lelaki pirang itu berjalan menjauh dari mereka dan mengarahkan kaki-kakinya untuk melangkah ke tempat keluarga lain.

Ini adalah kegiatannya sehari-hari setelah ia pulang dari akademi tempatnya menuntut ilmu; yakni mengunjungi tempat-tempat terpencil di mana orang-orang tak mampu akan bermukim, ya walaupun populasi orang tak mampu sangat sedikit di kota Kuoh mengingat negara tempatnya tinggal sekarang adalah salah satu negara paling maju di dunia. Naruto sudah lupa kapan ia mulai melakukan hal ini namun yang jelas ia sudah cukup lama melakukannya bahkan sebelum ia pindah ke kota Kuoh ini.

Untuk makanan yang Naruto bawa tidak hanya sekedar potongan roti saja, kalau ada uang lebih ia akan membawa beberapa kotak nasi ataupun buah-buahan yang akan ia bagikan secara merata. Bahkan ia terkadang membawa obat-obatan yang ia beli di apotek-apotek untuk diberikan kepada anak-anak yang seringkali sakit mengingat betapa kotornya tempat mereka tinggal.

Naruto tak mempermasalahkan uangnya yang terbuang, uang yang ia dapat dari kerja paruh waktunya di perpustakaan sudah lebih dari cukup untuk membayar sewa apartemennya yang sederhana dan juga untuk biaya makan satu bulan ke depan. Akhir-akhir ini ia juga diam-diam menjadi seorang penulis novel; novel yang berkisah tentang seorang ninja dan siluman rubah yang ia posting di internet beberapa bulan lalu menjadi sangat ramai sehingga ia memutuskan untuk mengontak penerbit agar novel itu dibukukan, buku novel itu ternyata laris di pasaran sehingga ia mendapatkan uang yang cukup banyak dari sana.

"Terima kasih, anak muda! Tuhan memberkatimu." Tukas seorang wanita dewasa berpakaian lusuh setelah ia mendapatkan seorang lelaki pirang memberikan sepotong roti dan sebotol air mineral kepadanya.

Tersenyum, Naruto kembali mengangguk kecil. 'Tuhan kah? Sejujurnya aku agak meragukan keberadaannya.' Pikirnya dalam hati yang sama sekali tak pernah ia utarakan kepada siapapun sampai sekarang.

Laki-laki pirang itu lalu melirik ke arah dalam ranselnya, tampaknya potongan-potongan roti dan air mineral yang ia bawa telah habis tak bersisa. Naruto menutup resleting ranselnya itu dan kembali menyematkan ransel tersebut ke dalam punggungnya. Ia lalu memandang arloji yang terpasang di tangan kirinya sebentar, mencoba untuk memeriksa waktu sekarang. Selepas itu ia melangkahkan kakinya untuk berjalan keluar dari permukiman kumuh itu mengingat jadwal shift-nya untuk menjaga perpustakaan tidak lama lagi. Tapi Naruto tak akan tergesa-gesa karena tempat ini tak jauh dari tempatnya bekerja; ia hanya memerlukan berjalan beberapa blok untuk sampai ke tempat itu.

Naruto tersenyum simpul karena hari ini berjalan normal seperti biasa.

-2-

Rias Gremory sangat jengkel, kesal dan serasa mati penasaran.

Dalam tiga tahun terakhir ini, Heiress dari bangsawan Gremory tersebut telah memperhatikan dan mengamati kehidupan dari orang-orang di kota Kuoh, sebuah kota kecil di Jepang. Dia telah melihat segala macam keburukan dari makhluk yang bernama Manusia.

Manusia, makhluk hidup ciptaan Tuhan yang katakanlah paling sempurna. Namun di mata Rias Gremory, mereka tak lebih dari sekedar makhluk hidup penuh tipu daya yang tidak lebih baik dari bangsa Rias Gremory. Bahkan ada manusia yang memiliki sifat jauh lebih iblis daripada makhluk bernama iblis itu sendiri. Maka dengan itu, Rias menganggap bahwa manusia merupakan makhluk berlumur dosa yang hanya mengotori dunia ini dengan sifat-sifat menjijikan mereka. Tak heran kalau leluhur dari kaum Rias sampai menentang Tuhan untuk tidak bersujud terhadap manusia tersebut.

Tapi itu agak sedikit berubah.

Semenjak Rias mengenal Uzumaki Naruto sekitar satu tahun lebih yang lalu.

Uzumaki Naruto. Nama dari seorang pemuda berambut pirang yang hampir membuat Rias mati penasaran setiap waktunya.

Satu-satunya sosok manusia yang dapat mengambil perhatian Rias lebih dari apapun.

Rias pertama kali bertemu dengan Naruto ketika memasuki semester ganjil di tahun kedua Rias bersekolah di Akademi Kuoh, sekolah yang secara pribadi didanai oleh keluarga Gremory. Pada awalnya, Uzumaki Naruto sama sekali belum dapat membuat Rias penasaran, akan tetapi hal itu berubah beberapa bulan kemudian; di mana Uzumaki Naruto telah berhasil mengambil perhatian Rias karena sikap acuh tak acuh dan pembawaannya yang misterius benar-benar membuat Rias menjadi tertarik hingga memberikan perhatian ekstra kepada pemuda Uzumaki itu.

Uzumaki Naruto terkenal karena pembawannya yang misterius, singkat dalam biacara namun sangat sopan dan tidak pernah mengganggu orang lain.

Karena ketidaksukaan Rias terhadap manusia, Rias menganggap bahwa itu semua hanyalah topeng untuk menutupi wajah asli pemuda Uzumaki itu. Oleh karena itu, Rias dengan segera meneliti pemuda Uzumaki tersebut untuk membuktikan bahwa setidaknya pemuda itu telah melakukan satu keburukan dalam kesehariannya. Rias bahkan seringkali mengirim familiarnya untuk mengamati bagaimana kehidupan seorang Uzumaki Naruto dengan bertekad untuk mendapatkan kepribadian busuknya.

Berkat tindakannya dalam meneliti kehidupan pribadi Uzumaki Naruto, Rias mendapatkan berbagai data tentang kehidupan pemuda tersebut. Dia menemukan fakta bahwa Naruto itu hidup sendirian dan merupakan seorang yatim piatu sejak lahirnya. Naruto meninggalkan panti asuhan pada saat usianya menginjak empat belas tahun dan pindah di sebuah apartemen kecil di kota Kuoh yang dekat dengan tempatnya bersekolah. Naruto bekerja untuk dirinya sendiri, memasak sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri dan semua pekerjaan rumah dilakukan oleh Naruto sendiri.

Ada satu hal istimewa lagi yang dilakukan oleh pemuda Uzumaki itu.

Entah bagaimana Naruto telah mengunjungi berbagai tempat para pengemis bermukim dan membagikan hasil kerjanya kepada para fakir-fakir miskin itu.

Hal itu membuat Rias menjadi penasaran, sungguh.

Rias tidak mengerti mengapa pemuda itu melakukan hal tersebut.

Apakah ada motif tertentu?

Seperti menyebarkan narkotika atau sebagainya dengan alibi berbuat baik, mungkin?

Tapi tidak. Itu tidak benar.

Uzumaki Naruto tidak melakukan hal seperti itu. Berkat sihirnya, Rias tahu bahwa apa yang Naruto lakukan murni dari hati. Kadang-kadang Rias juga menemukan bahwa Naruto tidak hanya membagikan makanan seadanya, tetapi jikalau ada kesempatan pemuda tersebut membawa sejumlah obat yang ia beli dari apotek untuk dibagikan kepada para fakir miskin itu.

Ini adalah rasa penasaran Rias Gremory tentang seorang pemuda yang membuat dia serasa mati penasaran.

Untuk sekarang, gadis Rias ini sedang memandang dalam ke arah matahari terbenam melalui jendela yang terbuka.

'Mengapa dia begitu sempurna?'

"Kau terlihat murung, Rias," suara feminim yang familiar menginsterupsi telinga gadis Rias ini. "Apa kau mengkhawatirkan Kiba-kun dan Koneko-chan gagal dalam pengawasannya?"

"Bukan itu, Akeno," Rias, gadis berambut merah darah yang mengalir dari kepala hingga ke paha dengan satu rambut yang mencuat ke atas itu menoleh. "Ini tentang dia."

"Fufu~" Akeno, gadis berambut raven yang diikat ekor kuda panjang tersebut tersenyum misterius, seolah dia telah tahu apa yang dimaksud oleh rajanya. "Ternyata Rajaku amat sangat tertarik dengan anak manusia tersebut. Oh, Satan-sama, betapa menggemaskannya!"

Mendengus, Rias yang sedang menyandarkan kedua tangannya di sisi jendela mengalihkan matanya ke arah sinar oranye sang matahari.

"Ini bukan perasaan tertarik, Akeno, tapi hanya sekedar rasa penasaran yang menghantui pikiranku." Ujar Rias yang dibalas kikikan kecil oleh gadis Akeno tersebut.

"Kita telah lama saling kenal, Rias," ujar Akeno. "Aku tahu semua tentangmu, dan aku tahu semua sifatmu. Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku, Rias."

Itu benar.

Rias dan Akeno telah saling kenal sejak mereka kecil; di mana pada saat itu Rias menemukan Akeno kecil tengah tersesat di hutan dan menangis tersedu-sedu. Rias kecil menanyakan apa sebabnya Akeno kecil menangis saat itu dan jawaban yang diberikan membuat Rias kecil terkejut kemudian.

Rias adalah gadis polos, penyayang dan baik hati. Maka dari itu ia menawarkan Akeno kecil untuk menjadi bagian dari kebangsawanan Rias kecil dengan menjadi budak iblis Rias.

Sejak saat itu mereka berteman hingga menjadi sahabat sampai sekarang.

Di saat Rias memutuskan untuk diam dan tidak membalas perkataan dari Akeno membuat gadis raven itu terkikik geli. Akeno berniat untuk menggoda Rajanya lagi.

"Apa warna matahari yang sedang tenggelam itu mengingatkanmu pada anak manusia itu, Rias?" tanya Akeno menggoda. "Warna oranye dan kuning adalah ciri khas dari dia, 'bukan?"

Dan pertanyaan itu sukses menembak urat saraf Rias hingga membuat gadis itu tersentak dan berbalik.

"Akeno!"

Terkikik, Akeno menggeleng-geleng kecil. Senang rasanya bisa menggoda Rajanya ini, begitu kira-kira yang gadis raven ini rasakan.

"Tapi aku benar, 'kan?"

"Tentu saja tidak!"

Dan Akeno pun kembali tertawa, sedangkan Rias hanya mendengus untuk ke sekian kalinya. Setelah cukup puas untuk menggoda sang Raja, gadis Akeno berjalan pelan menuju meja yang tak jauh darinya untuk mengambil sebuah buku di sana. Buku bersampul warna oranye dengan tulisan yang menunujukkan kalimat [The Path of Ninja] sebagai judulnya. Selepas mengambil buku tersebut, Akeno menempatkan dirinya dengan nyaman di sofa dan menyesap secangkir teh sejenak sebelum memutuskan untuk membuka buku yang tersemat di jemari-jemari lentiknya.

Rias yang melihatnya mengerutkan dahi keheranan.

"Akeno, aku baru tahu kalau kau mulai membaca buku seperti itu?" ujar Rias. "Setahuku kau sama sekali tidak menyukainya karena kau pernah mengatakan kalau itu merupakan kegiatan yang membosankan."

Jemari Akeno yang sedang menggenggam pembatas buku yang menandai lembaran terakhir yang ia baca sebelumnya terhenti dan diikuti oleh matanya yang menoleh ke arah Rias.

"Uhm, tapi yang ini adalah suatu pengecualian, Rias-buchou," tukas Akeno. "Entah mengapa setelah melihat Tsubaki-fuku kaichou yang selalu membawa buku ini membuatku penasaran dan memutuskan untuk meminjamnya. Dan hora, ini benar-benar menarik bahkan membuatku tergugah untuk terus membaca kelanjutannya."

"Benarkah? Mendengar kata MENARIK darimu membuatku agak sedikit ragu, kau tahu?" kata Rias yang agak ragu setelah mengingat bahwa gadis Akeno yang menjadi [Queen] dalam [Peerage]-nya itu memiliki sedikit masalah tentang kesadisan.

Bisa saja, hal yang menarik kata Akeno itu ada kaitannya dengan hal-hal berbau sadistik, bukan?

"Oh, Rias, kenapa kau bersikap seperti itu?" tanya Akeno. "Jika kau tidak percaya kau bisa datang kemari dan membacanya secara langsung." Tukas Akeno kemudian sambil mengajak Rias untuk duduk di sebelahnya menggunakan isyarat tangan yang menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.

Rias tersenyum kecil dan mengangkat bahu sebelum melangkah menuju ke tempat Akeno yang tak jauh darinya. Selepas itu ia memposisikan dirinya dengan nyaman di sofa dan melipat kakinya dengan anggun sebelum menoleh ke arah kanan di mana seorang gadis Akeno sedang tersenyum di sana.

"Mana coba kulihat," ujar Rias selagi menjulurkan tangannya. "Tapi jika ini berkaitan dengan hal-hal sadistik, aku akan menghukummu, Akeno."

"Ufufuf~ Aku akan menjaminnya Rias-buchou," tukas Akeno. "Kau pasti akan langsung menyukai novel ini mengingat hobby-mu yang tidak normal untuk hal-hal berbau jejepangan."

Wajah Rias langsung memerah mendengar ucapan tersebut. Harus ia akui, selain keluarganya, Akeno adalah salah satu dari sedikit orang yang mengetahui tentang hobby yang dimiliki oleh Rias sejak kecil.

"Su-sudah-sudah! Cepat berikan saja buku itu."

"Ha'i~ Buchou."

-3-

Sore itu Uzumaki Naruto sedang berjalan menuju ke tempat di mana ia biasa bekerja. Setelah melakukan kegiatan amal tadi, Naruto berjalan dengan tersenyum sesekali melirik ke arah arloji yang terpasang pada pergelangan tangan kirinya.

"Tinggal melewati jembatan ini maka aku akan sampai." Tukas Naruto dengan senyum cerah dan mulai memasuki area jembatan yang melintasi jalanan raya tersebut.

"Kumohon, jadilah pacarku!"

Sebuah suara terdengar menginsterupsi pendengaran Naruto. Sebuah kalimat yang sudah asing di telinga karena sudah banyak yang mengatakan hal itu padanya namun kali ini kalimat itu bukan ditujukan kepada dirinya.

"Umh."

Naruto menghentikan langkahnya dan menatap ke depan. Alisnya terangkat dan dahinya mengkerut. Di depan sana, di garis pandangannya ia bisa melihat seorang gadis berambut hitam tengah membungkuk kepada seorang pemuda yang tidak asing di mata Naruto.

"Hyoudou Issei?" bisik Naruto bertanya. "Apa yang dia lakukan di sini? Dan apakah gadis itu mengutarakan perasaan padanya?"

Mengalihkan pandangannya dari Hyoudou Issei, Naruto lalu menatap ke arah gadis yang sedang menunduk tersebut dengan tatapan yang cukup intens.

'Gadis itu ... Entah mengapa firasatku mengatakan ada yang tidak beres dengannya.'

Naruto tetap diam di tempatnya dan tidak melakukan apapun selain memandang interaksi antara Hyoudou Issei dan gadis yang sekarang ia ketahui bernama Amano Yuuma sedang saling gugup-gugupan, itu dapat terlihat dari wajah keduanya yang sama-sama memerah tapi Naruto juga merasakan adanya aroma kepalsuan dari gadis itu. Naruto juga dapat mendengar tentang rencana kencan mereka di pekan lusa ini. Sebenarnya Naruto agak merasa bersalah karena menguping pembicaraan mereka seperti ini tapi tetap saja itu membuat dirinya menjadi sedikit penasaran mengingat firasat yang berbisik kepadanya tentang gadis itu.

Melihat arloji sejenak, Naruto menghela napas karena hampir telat sekarang. Mengangkat bahu tak peduli, ia pun melangkah melewati jembatan itu dan tidak dapat menghindar untuk tidak melewati kedua sejoli yang sedang bercakap-cakap sembari berpegangan di penahan jembatan tempat mereka berdiri.

"Uhm?"

Gadis yang menyebutkan dirinya sebagai Amano Yuuma menolehkan kepalanya ketika Naruto berjalan melewati dia dan Issei. Matanya yang hitam tidak bisa terlepas dari wajah netral yang pemuda pirang itu perlihatkan ketika melangkah melewatinya. Ada suatu perasaan yang menyentil Yuuma bahwa dia tidak boleh mendekat dengan pemuda itu.

"Umh, bukannya itu si kuning kampret?"

Mendengar sebuah hinaan, Yuuma mengalihkan pandangannya ke arah Issei yang sedang menggerutu.

"Kuning kampret?"

"A-Ah! Maafkan aku karena berbicara kasar, Yuuma-chan!" tukas Issei gelabakan setelah menyadari kesalahannya.

"Umh, tak apa. Adalah suatu kewajaran bagi seorang laki-laki untuk iri ketika melihat laki-laki yang jauh lebih tampan darinya."

"Ugh! Kata-katamu menusuk sekali, Yuuma-chan!"

Melihat ekspresi dari Issei yang seolah terkena anak panah yang tertancap di dadanya membuat Yuuma tertawa kecil.

"Tidak, tidak, tidak, meskipun begitu kau tetaplah yang paling menarik bagiku," tukas Yuuma yang langsung membuat Issei tersenyum cerah. "Tapi, apa kau benar-benar mengenalinya, Issei-kun?"

Diberikan pertanyaan seperti itu membuat Issei langsung berpose bijak sambil menggosok-gosok dagunya menggunakan jempol dan telunjuk tangan kanan.

"Sebenarnya tidak banyak sih, hanya saja yang kutahu dia merupakan salah satu siswa yang paling terkenal di Akademi Kuoh. Dia dikenal pendiam tetapi sopan, ramah dan tidak pernah mengganggu siapapun. Nilainya juga selalu tinggi bahkan dia selalu berada di jajaran peringkat teratas di ujian semester. Dan yang terpenting, dia disukai oleh para gadis-gadis. Kusoyaro! Aku jadi semakin iri padanya."

Yuuma mengangguk kecil mendengar penjelasan dari Issei. "Terima kasih, Issei-kun."

Issei mengangguk dan tersenyum cerah. "Sama-sama, Yuuma-chan!" tukas Issei semangat. "Tapi kalau boleh tahu, kenapa Yumma-chan ingin tahu tentang si kuning itu?" tanya Issei yang membuat Yuuma tersenyum misterius.

"Bukan hal yang penting, Issei-kun," jawab Yuuma yang membuat Issei mengernyit. "Ya sudah, aku akan pulang sekarang. Aku tidak sabar untuk kencan kita lusa besok! Sampai jumpa, Issei-kun!" tukas Yuuma yang berlarian kecil sambil memeluk tas di dadanya.

"Sa-sampai jumpa, Yuuma-chan!" kata Issei sambil melambaikan tangan kanannya. Ia terkekeh sejenak, rasanya ia masih sangat tidak percaya bahwa ia sudah memiliki pacar sekarang. Ia harus memamerkannya pada Matsuda dan Motohama besok! Para kolega bokep-nya itu pasti akan terbakar api cemburu!

Ugh, Issei sudah tidak sabar melihatnya.

Oh ya, ngomong-ngomong soal bokep, kalau tidak salah Issei rasa kalau hari ini DVD dari artis bokep favoritnya akan hadir di pasaran! Sial, dia harus membelinya sekarang sebelum toko yang menjualnya barang berkah itu kehabisan stok!

"Fukada Eimi ... aku datang!"

-4-

Ada banyak hal yang Naruto benci dan hanya ada sedikit yang ia sukai.

Salah satu dari sedikit yang Naruto sukai itu adalah berlatih. Ia tidak terlalu suka dengan bela diri tangan kosong tapi ia sangat menyukai latihan bersenjata seperti kendo dan panahan. Berpedang dan memanah adalah dua hal yang menjadi favoritnya dalam latihan kesehariannya meskipun dia tidak mengikuti klub apapun di sekolah ini.

Seperti yang sedang Naruto lakukan sekarang.

Hari jum'at menjadi sangat nyaman baginya untuk berlatih karena biasanya klub akan sedikit sepi, mungkin karena besok adalah akhir pekan? Maka dari itu Uzumaki Naruto dengan izin dari ketua klub memutuskan untuk mencoba berlatih di klub panahan Jepang yang kebetulan kosong saat ini.

"Umh."

Berada di sebuah tempat area terbuka yang di depannya terbentang halaman yang panjangnya kira-kira lima belas meter, Naruto berdiri dengan tangan kirinya yang menggenggam sebuah busur panah sederhana coklat yang di sana terpasang anak panah yang senarnya ditarik oleh tangan kanan Naruto. Sikapnya benar-benar tegap dan matanya memandang tajam ke depan yang di sana tersimpan beberapa bulatan-bulatan papan sasaran yang terpaku di dinding.

Naruto menarik napas dalam dan memfokuskan matanya dalam-dalam. Setelah menahan napasnya beberapa saat, Naruto dengan tiba-tiba melepaskan tarikannya pada senar busur dan melesatkan anak panahnya ke depan.

Steb!

Tersenyum, Naruto bisa berbangga diri saat melihat anak panah yang ia lesatkan itu menancap dengan tepat di tengah-tengah papan sasaran yang jauh di sana. Meskipun ia belajar secara otodidak sejak SMP dulu tapi tetap saja kemampuan memanahnya tidak bisa dianggap isapan jempol belaka yang membuat ketua klub seringkali menghubungi Naruto dan meminta dia untuk bergabung ke dalam klub panahan ini namun dengan alasan ingin fokus dengan pelajaran Naruto menolaknya. Bukannya apa, hanya saja Naruto itu hidup sendirian, bukan? Ia tidak dapat mengikuti klub manapun karena ia harus bekerja untuk menafkahi kehidupannya.

"Baiklah, aku akan mencoba sekali lagi."

Naruto mengambil satu anak panah yang tergeletak di lantai sebelum menempatkan anak panah itu pada busurnya dan mengambil kuda-kuda memanahnya kemudian. Karena saking fokusnya Naruto tidak menyadari bahwa tak jauh di belakangnya ada seorang gadis yang sedang bersembunyi di balik tembok, gadis itu menatap latihan Naruto dengan raut wajah penasaran.

Steb!

"Wow!"

Naruto terkejut mendengar gumaman kagum itu dan segera membalikan tubuhnya ke belakang. Betapa terkejutnya Naruto menemukan seorang gadis sedang mengintip latihannya dengan raut wajah kagum.

"Kemampuan memanahmu benar-benar luar biasa hebat, Uzumaki-kun," ujar gadis itu memuji. "Lihatlah, bahkan kau bisa mengenai sasaran yang sama dengan yang kau kenai sebelumnya."

Gadis itu lalu mengalihkan matanya dan memandang ke arah papan sasaran yang berada tak jauh di sana. Pada sasaran itu dapat terlihat dengan jelas bahwa anak panah kedua Naruto tepat mengenai sasaran yang sama dengan anak panah pertama tadi, bahkan kedua anak panah itu nampak saling berebutan untuk menempel di pusat-pusat dari sasaran tersebut!

Meski sedikit terkejut pada awalnya, Naruto menarik napas tenang dan mencoba untuk meringankan pernapasannya. Ia tersenyum tipis pada pujian itu.

"Terima kasih, Gremory-senpai," kata Naruto. "Tapi itu bukanlah suatu kehebatan dan merupakan kebetulan semata."

Balasan dari Naruto membuat gadis Heiress Gremory berambut merah panjang ini tersenyum teduh. Rendah hati menjadi salah satu poin plus dari tuan Uzumaki ini, begitu menurut pemikirannya. Tapi bukan hanya itu saja yang membuat gadis ini tertarik dengan Naruto melainkan ada banyak hal lain lagi yang membuatnya serasa sangat penasaran dengan Naruto yang mungkin hanya akan dapat ia temukan jika ia berinteraksi langsung dengan Naruto sendiri.

Ngomong-ngomong ini adalah pertama kalinya Rias berbicara langsung dengan Naruto.

"Tapi itu sudah sangat bagus sekali," kata Rias. "Rasanya tidak mungkin kalau itu tadi hanya kebetulan semata. Mungkin kau memiliki bakat alami dalam panahan, Uzumaki-kun, padahal setahuku kau sama sekali tidak mengikuti klub ini."

Naruto tersenyum ramah.

"Aku sangat senang mendengar pujian dari Gremory-senpai, tapi itu benar-benar hanya kebetulan saja," tukas Naruto. "Kalau boleh tahu, apa gerangan senpai berada di klub panahan ini? Setahuku, senpai bukan anggota klub ini melainkan ketua dari klub Penelitian Ilmu Gaib."

Rias tersenyum tipis, ternyata Naruto tahu tentang klubnya. Rias kira Naruto sama sekali tidak mengetahuinya mengingat Naruto yang sangat jarang berinteraksi dengan murid-murid lain.

"Uhm, aku hanya mampir saja," kata Rias ringan. "Aku cukup terkejut, ternyata kau tahu tentang klubku. Apa kau berniat untuk bergabung ke dalam klubku?"

Disuguhkan oleh pertanyaan semacam itu, Naruto menghela napas namun tetap mempertahankan senyum ramahnya. Ia berjalan sebentar ke arah kanan untuk meletakan busur yang ia pegang ke dalam gantungan yang ada di lemari.

"Maaf Gremory-senpai tapi sayangnya aku tidak bisa. Aku harus fokus dengan belajarku, maka dari itu maaf," tukas Naruto dengan nada menyesal. "Tapi kapan-kapan aku akan mencoba untuk berkunjung ke dalam klub milikmu itu."

Mendengar Naruto yang mungkin akan berkunjung ke dalam klubnya mau tak mau langsung membuat Rias senang. Ini merupakan kemajuan tak terduga! Dengan ini Rias mungkin akan dapat berbicara dengan manusia yang menarik minatnya tersebut. Rias sama sekali tidak memiliki perasaan romantis pada Naruto, hanya saja segala sesuatu yang ada pada pemuda itu membuat ia tertarik.

"Tidak apa-apa karena kau tidak menerimanya, tapi terima kasih karena bersedia untuk mengunjungi klubku. Pintu Penilitian Ilmu Gaib akan senantiasa terbuka untukmu."

Naruto mengangguk kecil, setelah itu ia menatap ke arah arlojinya. Ternyata sudah hampir setengah lima sore! Ia harus segera pulang dan mengunjungi sebuah tempat untuk membagikan rezekinya sebelum berangkat ke tempatnya bekerja.

"Meskipun tidak pasti, setidaknya aku akan sesekali mengunjungi klub milikmu, Gremory-senpai," tukas Naruto ramah. "Maaf, aku harus pamit dulu karena ada hal yang harus aku kerjakan sekarang."

Naruto mengkemas barang-barang miliknya dan berniat akan beranjak dari tempat ini. Rias yang telah mengetahui kegiatan apa yang akan pemuda itu kerjakan setelah ini menarik napasnya dalam dan memejamkan matanya.

'Benar-benar manusia yang menarik.' Ungkap batin Rias tersenyum teduh.

"Baiklah, aku juga ingin segera kembali ke klub," ujar Rias yang siap-siap untuk beranjak pergi. "Semoga kegiatan amalmu berlangsung baik-baik saja dan tidak ada halangan, Uzumaki-kun."

Naruto terkejut dan terkesiap, dengan segera ia mengarahkan pandangannya ke tempat gadis itu tadi berada namun yang ia temukan hanyalah kekosongan karena gadis Rias tadi sudah pergi dari tempat itu.

Naruto merasa bingung, apa gadis ini tahu sesuatu tentang dirinya?

Ah, mana mungkin, bukan? Itu mungkin hanya sekedar ungkapan tanpa sadar saja.

Mengangkat bahunya sejenak, Naruto memanggul tas miliknya dan melangkah ke arah pintu keluar yang mana tempat gadis Rias itu tadi berdiri.

"Gremory, kah?" gumam Naruto bertanya. "Entah kenapa namanya tersebut tertulis di dalam Ars Goetia." Ujar Naruto kemudian.

-5-

Hari minggu merupakan hari yang bebas untuk seorang Uzumaki Naruto. Karena hari ini sekolah akan libur dan jadwal kerjanya juga kosong. Jadi, biasanya Naruto akan menghabiskan waktu akhir pekannya untuk duduk di depan komputer miliknya untuk mengetik lanjutan seri novelnya yang laris di pasaran.

Tapi sepertinya pengecualian untuk hari ini.

Pada hari minggu yang cerah ini Naruto memutuskan untuk berlatih sesuatu yang tidak akan pernah siapapun bayangkan karena dirinya selalu menyembunyikan hal ini dengan sebaik mungkin.

Latihan apakah itu?

Untuk mengetahuinya, mari lihat apa yang sedang ia lakukan sekarang.

Naruto duduk di tengah-tengah ruang tamunya yang kosong dengan hamparan karpet biru yang membentang luas. Nampak kecil sebenarnya ruangan tamu ini dan di sana tidak tersedia sofa, yang tersisa adalah ruangan kecil kosong berdinding abu-abu polos; dan di tengah-tengah ruangan itu Uzumaki Naruto sedang duduk dengan sebongkah mesin penanak nasi modern yang tergeletak di depannya.

Tarik napas, hembuskan.

Tarik napas, hembuskan.

Memasuki konsentrasi yang cukup tinggi, pemuda Naruto ini menjulurkan tangan kanannya ke depan dan menyentuh mesin penanak itu dengan telapak tangannya yang terbuka lebar.

"Konsentrasi."

Naruto bergumam kecil ketika menutup kedua kelopak matanya. Selepas itu garis-garis hijau yang bercahaya tiba-tiba terbayang di benaknya diikuti oleh tangannya yang bergetar sebentar sebelum muncul jugalah garis-garis hijau berkesinambungan tersebut yang terasa menyebar di lengan kanannya. Garis-garis itu dimulai dari bahu Naruto kemudian bergulir perlahan-lahan seperti labirin-labirin yang membentuk cabang-cabang sebelum berakhir di telapak tangannya.

Naruto mengernyit dalam pejamannya ketika garis-garis hijau bercahaya itu secara tiba-tiba menyelimuti mesin penanak nasi yang ia sentuh.

"Menganalisa struktur, selesai. Menentukan unsur, selesai. Membentuk materi, selesai."

Mata birunya terpejam. Naruto dapat merasakan kalau tubuhnya serasa menghangat dan sesuatu yang serasa mengalir di sekujur tubuhnya. Itu adalah Magic Crest, katakanlah merupakan sirkuit sihir yang bisa digunakan untuk membentuk atau menciptakan sebuah keajaiban yang disebut sihir.

Naruto mengetahui hal tersebut dari ibu angkatnya saat ia berada di panti asuhan dahulu.

"Trace On."

Setelah gumaman kecil itu tersuarakan, dalam benak seorang Uzumaki Naruto, terlihat struktur penanak nasi elektronik yang nampak transparant kulitnya sehingga ia bisa melihat bagian mana yang sedang bermasalah di dalam alat tersebut.

Dalam hitungan detik, entah bagaimana ia telah mengetahui bagian yang bermasalah itu.

Naruto tersenyum kecil. "Bagian pemanasnya masih baik tapi ada satu kabel yang putus di sana. Kalau tidak salah kabel merah di bagian papan b hingga suplai listrik yang seharusnya masuk jadi tidak tersampaikan." Tukas Naruto yang kemudian mengambil kotak berupa kotak abu-abu yang tertutup rapat tutupnya.

Maka dibukannyalah kotak abu-abu itu yang memperlihatkan berbagai alat khusus yang biasanya digunakan untuk membongkar peralatan elektronik modern.

"Ah, kira-kira lima belas menit saja ini sudah cukup bagiku untuk memperbaikinya." Ucap Naruto dengan senyum tipis sebelum mengarahkan ujung obeng pada panel yang terpasang di mesin penanak nasi tersebut.

"Selepas itu aku akan pergi ke pusat kota untuk membeli beberapa kebutuhan literasiku yang menggebu-gebu."

-6-

Hyoudou Issei tidak pernah sebahagia ini dalam kehidupannya yang ke enam belas tahun usianya.

Hari ini benar-benar istimewa sekali. Terlepas dari rasa capek dan lelah karena ia terus menerus diinterogasi oleh kedua kolega bokepnya—Matsuda dan Motohama—Issei sekarang benar-benar menikmati saat-saat bersama kekasih barunya ini.

Akhir pekan berdua bersama gadis cantik laksana malaikat dengan kecantikannya yang elegan.

Siapa sih pria yang tidak bahagia dengan hal ini?

Bahkan untuk Issei sendiri kehadiran Amano Yuuma dalam kehidupannya benar-benar sebuah keajaiban yang datangnya seribu tahun sekali. Ah, Issei rasa mulai besok hari ia harus sering-sering berkunjung ke kuil untuk beribadah atas karunia yang diberikan kepada dirinya yang kotor ini.

Tak terasa berjam-jam pun berlalu begitu saja. Issei dan Yuuma datang ke pusat kota pada pukul satu siang tadi dan sekarang sudah setengah lima sore, meskipun langit masih belum menunjukan tanda-tanda akan menjadi gelap tapi suasana hening yang menyelimuti tempat ini membuat Issei gugup setengah mati.

'Sialan! Setelah kupikir-pikir, ternyata payudaranya Yuuma-chan besar juga!' pikir Issei nista ketika mereka berjalan berdua sembari bergandengan tangan menuju pancuran air yang tempatnya berada di sekitar taman kota Kuoh yang biasanya seringkali digunakan oleh para muda-mudi untuk berpacaran.

Setelah beberapa langkah kemudian, sampailah mereka di dekat pancuran air buatan yang terbuat dari keramik dan beton tersebut. Hawa sejuk terasa membelai kulit ketika butiran-butiran air yang terpental mengenai wajah mereka.

Ada sebuah bangku panjang di sekitaran pancuran air tersebut dan Issei berencana untuk membawa Yuuma ke sana namun langkah kaki Issei terhenti ketika tangan kirinya yang digandeng oleh Yuuma sejak tadi kini serasa tertarik ke belakang.

Issei menoleh ke belakang sebentar dan menemukan Yuuma yang sedang menggenggam pergelangan tangannya sedikit erat. Tapi yang membingungkan sampai-sampai membuat Issei mengernyitkan dahinya adalah melihat ekspresi tak terbaca dari Yuuma yang saat ini sebagian wajahnya tertutup oleh poni rambutnya yang agak panjang.

Karena merasa bingung maka Issei pun bertanya.

"Kau kenapa, Yuuma-chan? Apa kakimu serasa kram karena letih berjalan sejak tadi?"

Tapi Issei tidak menemukan jawaban yang memuaskan karena Yuuma hanya diam di tempat dengan ekspresi tak terbaca miliknya. walaupun sekilas Issei dapat melihat kalau Yuuma nampak menggigit kecil bibirnya seolah sedang menahan sesuatu.

"Maafkan aku, Issei-kun."

"Huh?"

Issei menjadi semakin bingung. Apa? Untuk apa gadis ini meminta maaf dengannya? Issei rasa kencan hari ini normal-normal saja, sama seperti kencan yang diperlihatkan anime yang Issei tonton kadang-kadang.

Oh, apakah Yuuma merasa tak nyaman kencan dengannya?

Dengan sedikit perasaan enak, Issei merasa itulah alasan perubahan sikap kekasihnya ini yang menurutnya aneh karena tadi Issei melihat Yuuma tersenyum bahagia seperti kebanyakan gadis lainnya.

"Untuk apa kau minta maaf denganku, Yuuma-chan?" tanya Issei sedikit khawatir. "Kurasa Yuuma-chan tidak melakukan kesalahan apapun." Lanjut Issei yang kini menghadap ke arah Yuuma sepenuhnya.

Yuuma melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Issei. Ia lalu mengangkat sedikit wajahnya, poni panjang yang menutupi matanya tadi kini tersingkap dan menampakan iris hitam legam yang melembut pandangannya.

"Maafkan aku, Issei-kun. Tapi kau harus ... mati."

Dalam sudut mata Issei, gadis yang telah menghabiskan waktu bersamanya selama beberapa jam tadi kini secara perlahan telah berubah penampilannya.

Wajahnya yang anggun dan muda kini serasa menjadi dewasa.

Bajunya yang terdiri dari dress biru-putih tertutup tiba-tiba robek seketika; menampilkan tubuh telanjang Yuuma sementara sebelum tubuh molek itu terselimuti oleh pakaian-pakaian hitam tipis dan kentat yang hanya menutupi bagian intimnya saja.

Sepasang sayap hitam legam seperti sayap burung gagak kini mengepak dari punggungnya; dan itu meninggalkan jejak bulu-bulu hitam yang menyebar jatuh ke tanah seperti dedaunan-dedaunan yang jatuh di musim gugur.

Dan yang paling dapat Issei temukan dari penglihatannya adalah ... payudara Yuuma kini terlihat jauh lebih besar dari yang sebelumnya, astaga!

Issei menunjukan raut wajah terkejut atas perubahan tersebut. Libidonya juga baik sebenarnya namun itu dikalahkan oleh rasa terkejut Issei yang merasa sesuatu sedang membakar perut kanannya. Dengan refleks Issei langsung menggenggam perutnya tersebut.

"Uhuk!"

Issei terbatuk-batuk ketika ia menoleh ke bawah karena rasa sakit yang membakar perut kanannya.

"A-apa ini?!"

Mata Issei melebar. Rasa sakit semakin menjadi ketika noda merah nampak melumuri tangannya yang sedang menggenggam sesuatu yang serasa panas saat ia sentuh. Issei mencoba memfokuskan matanya untuk melihat hal tersebut, ia sadar kalau apa yang ia genggam itu adalah sesuatu seperti bola lampu panjang.

Apa ini?

Issei menjadi semakin bingung. Bersamaan dengan itu Issei merasa kesadarannya semakin menipis bersama dengan darahnya yang terus menetes dari lukanya yang menyakitkan.

"Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi."

Issei mengumpat sesaat sebelum ia terjatuh tersungkur. Ah, kesadarannya jadi semakin menipis; sangat tipis sampai-sampai matanya serasa ngantuk berat. Tenaganya juga hilang seketika, yang bisa ia lakukan hanya menggerakan tangannya. Maka dengan itu Issei kembali menyentuh lukanya yang masih tertancap sesuatu yang tidak ia ketahui itu.

Ah, masih sakit terasa.

Ia menarik kembali tangannya hanya agar ia mampu untuk melihat noda merah yang merupakan darahnya.

Dan, entah kenapa warna itu malah mengingatkan Issei dengan salah satu senpainya di sekolah. Darah adalah rambutnya; itulah yang Issei ingat.

Sesaat sebelum rasa kantuk berat yang tak bisa ia tahan menyerang dirinya, Issei sempat melihat gadis yang menjadi pacarnya—Yuuma—telah terbang dengan sepasang sayap yang mengepak di punggungnya.

Sedangkan Amano Yuuma hanya mengginggit bibirnya keras ketika ia mengepakkan sayapnya kuat-kuat untuk terbang menjauh.

"Maafkan aku, Issei-kun. Tapi salahkan Tuhan karena telah menyimpan benda itu di dalam tubuhmu."

Matanya mengembun; di pelupuk mata Yuuma terkumpul gumpalan yang disebut air mata yang nampak siap tumpah kapan saja.

'Demi bisa menggapai ke langit itu kembali, aku harus melakukan perbuatan kotor ini.'

-7-

Di antara tanaman bunga-bunga yang tumbuh lebat di sekitaran taman, seorang pemuda berambut pirang nampak sedang menyembunyikan dirinya di antara dedaunan lebat yang bertebaran.

Sweater abu-abu terpasang untuk menutupi tubuhnya yang serasa dingin mengingat angin musim semi kerap kali bertiup deras yang membuatnya menggigil kedinginan. Ia juga mengenakan celana jeans hitam panjang dan sepatu kets putih.

Ia adalah Uzumaki Naruto, seorang siswa tingkat atas dari Akademi Kuoh yang sebenarnya dalam perjalanan pulang ke suatu tempat setelah tadi ia membeli beberapa light novel di pusat kota.

Di tangannya tersemat bungkusan putih tempat ia menyimpan tiga buku yang ia beli hari ini. Sebuah ransel hitam tersemat di punggungnya.

"Gadis itu, punya sayap hitam seperti gagak? Apakah ia seorang Malaikat Jatuh yang Okaa-san ceritakan itu?" ucapnya bertanya-tanya. "Ah, nanti langsung kutanyakan pada Okaa-san saja." Ujarnya kemudian.

Sejak kecil Naruto memang mengetahui bahwa bukan hanya manusia saja di dunia ini yang hidup dengan akal di kepala mereka; namun ada banyak ras lagi yang bersembunyi di dalam keheningan. Itu karena ibu angkatnya yang selalu menceritakan kepadanya tentang dunia supranatural kepadanya. Dan dari sang ibu jugalah Naruto bisa menggunakan Magic Crest yang biasanya hanya bisa digunakan oleh para Penyihir.

Dalam garis pandangan Naruto, ia merasa tak enak ketika melihat teman sekelasnya, Hyoudou Issei, sedang sekarat di depan sana. Ah, andai saja ia lebih dahulu tadi sampai di sini, mungkin ia bisa menyelamatkan orang itu. Namun naasnya ia baru sampai setelah melihat Issei sudah jatuh tersungkur dan sang Malaikat Jatuh yang terbang tinggi meninggalkan tubuh tergeletak pemuda berambut coklat jabrik itu.

"Uhm?"

Tiba-tiba dahi Naruto mengernyit ketika melihat sebuah fluktuasi sihir berwarna merah di sana; fluktuasi sihir dengan lambang yang asing bagi pemuda pirang ini.

Dalam beberapa detik, fluktuasi sihir tersebut menampilkan tubuh anggun seorang gadis yang amat Naruto kenal karena gadis itu merupakan seorang primadona sekolah yang kecantikan dan keanggunannya mampu menyihir seluruh pasang mata hanya agar tertuju ke arahnya.

Gadis yang bernama Rias Gremory, sekaligus gadis yang membuat Naruto agak tertarik beberapa waktu lalu karena nama keluarganya yang tertulis dalam Ars Goetia.

"Setelah semuanya, aku sekarang tahu kalau Rias Gremory adalah seorang iblis dari bangsawan Gremory. Pantas saja namanya serasa aneh bahkan untuk seorang berdarah biru sekalipun." Ujar Naruto ketika melihat gadis Rias ini nampak mengeluarkan bidak-bidak catur sebelum kemudian secara ajaib delapan pion masuk ke dalam tubuh Issei yang terbaring di tanah.

Sepasang sayap kelelawar nampak mencuat dari punggung Rias; ini yang meyakinkan Naruto kalau Rias memang benar seorang iblis.

Setelah beberapa waktu, energi kehidupan yang sebelumnya agak padam dari tubuh Issei kini berderak kembali apinya. Menandakan bahwa, Issei telah hidup kembali.

"?!"

Naruto jelas terkejut. Ia baru tahu kalau seorang iblis bisa menghidupkan kembali seseorang yang sudah mati! Ini jelas informasi penting, ia harus mencatatnya segera.

Setelah beberapa waktu, gadis Rias itu nampak membawa Issei dalam sihir teleportasinya. Entah kemana gadis itu akan membawanya, Naruto tidak tahu dan tidak terlalu peduli.

Sekarang yang paling penting baginya adalah...

—Rias Gremory, gadis yang menarik perhatiannya itu adalah sesosok iblis.

Musuh seluruh umat manusia, dan musuh terbesar sang ibu dari Uzumaki Naruto.


To Be Continued


A/N:

Ya-Hallo, sawadikhap, senpai!

Kalau ditanya kenapa malah bikin fanfict baru daripada update chapter baru fanfict sebelumnya maka aku akan jawab ... Mumpung ada ide, senpai, jadi aku rasa akan menuangkan ide ini terlebih dahulu. Dan untuk fanfict lain akan segera ku publish setelah aku sampai di Palangkaraya.

Aku sekarang ada di kampung, jadi susah buat nulis fanfict-nya. Apalagi yang ada adegan uwiwiw-uwiwiw kek King's Incarnation itu, bisa mati aku terciduk sama ortu gahahaha~

Untuk pairing, ini murni single pair NaruRias. Aku serasa ingin ngehidupin pair ini lagi hahaha!

Oh ya, selamat hari raya idul fitri senpai semua! Mohon maaf lahir dan batin, ya. Maafkan kalau terkadang tulisanku ini bisa bikin emosi baik karena typo yang bertebaran atau alurnya yang berantakan, tehehe~ Wajar, aku juga manusia toh.

Sekian saja, babay!