A Love for My Devil


Chapter 8

-1-

Riser Phenex benar-benar marah.

Apaan sih?

Kenapa manusia sialan ini berani ikut camput urusan pribadinya. Dia pikir dia itu siapa heh?

"Apaan kau ini?!" tukas Riser, "Orang asing yang sok ikut campur urusan antar tunangan, hah?!"

Terkejut. Naruto yang sedang menahan bahu Riser mengedipkan matanya berkali-kali mencoba untuk menyaring informasi yang baru saja ia dengar.

"Maksudmu?"

"Gadis ini milikku! Dia adalah tunanganku." ucap Riser.

Naruto menghela napas pelan lalu menoleh sebentar ke belakang untuk melihat keadaan Rias. Gadis Gremory itu terlihat menunduk dan sedikit menggigil tubuhnya.

"Apa itu benar, senpai?"

"I-itu benar," tukas Rias. Pelan sekali suaranya. Sampai-sampai siapapun yang mendengarnya akan tahu bahwa ia benar-benar tertekan saat ini.

"Begitu," Menghela napas kecil, Naruto lalu menatap ke arah Riser kembali. "Baiklah. Kurasa aku terlalu jauh bertindak. Aku akan pergi sekarang." Ujarnya lalu melepaskan telapak tangannya dari bahu Riser.

Mau bagaimana pun ia tidak mungkin masuk ke dalam ranah ini. Semua tentang hubungan pribadi antar keluarga seperti perjodohan atau pertunanganan benar-benar diluar jangkauannya. Meski ada secercah harap di hatinya tentang ia yang tidak ingin Rias bertunangan dengan bedebah seperti pria di depannya ini.

Dengan berat hati Naruto memutuskan untuk meninggalkan ranah ini.

Baru saja Naruto berniat untuk mengambil langkah menjauh, tiba-tiba ia merasakan ada tarikan kecil pada belakang blazzernya.

"Jangan pergi."

"…"

"Kumohon."

"…"

Lirih sekali suaranya. Sampai-sampai membuat Naruto tertegun sebentar dan menoleh ke belakang kemudian.

Apa yang mata biru itu temukan adalah sosok gadis yang rapuh.

Seperti kupu-kupu yang begitu indah dengan segala warna-warninya namun begitu menyedihkan dengan segala kerapuhannya.

Jujur. Ini kali pertamanya Naruto melihat sosok Rias seperti ini.

Terlihat hancur lebur.

Sehingga membuat Naruto bertanya-tanya, bukankah seseorang seharusnya bahagia jika bertemu dengan kekasihnya?

Tapi setelah melihat kelakuan bajingan Riser tadi membuat Naruto sadar kalau sebenarnya sepasang kekasih tidak sepantasnya melakukan hal tersebut. Lagian lelaki mana yang rela memukul kekasihnya dengan tega seperti yang bedebah Riser ini lakukan tadi, bukan?

"Maafkan aku, senpai. Bukanlah urusanku untuk ikut campur dengan hal seperti ini," kata Naruto tersenyum lembut sebelum segera mengalihkan tatapannya ke arah Riser. "Dan untukmu, tunangannya Gremory-senpai. Anda sebaiknya jangan memukul wanita seperti itu. Terlebih orang yang anda pukul adalah tunangan anda sendiri." Lanjutnya dengan nada sedikit dingin.

Mendengarnya membuat Riser menyeringai tipis.

"Oh, dan apa hak mu untuk menceramahiku, huh?"

"Setiap orang memiliki hak untuk menceramahi orang lain ketika melihat orang melakukan kesalahan."

Balasan cepat tersebut membuat Riser sedikit kesal.

"Masa bodoh!" tukas Riser. "Dia adalah tunanganku, jadi aku memiliki hak untuk memperlakukannya semauku."

"Tapi tidak dengan mengasarinya," ujar Naruto. "Meskipun kau adalah tunangannya sekalipun itu tidak dapat dibenarkan."

Mata biru itu bersinar tajam. Memberikan sedikit ancaman dalam setiap kata dan tatapannya. Namun hal tersebut justru membuat Riser menjadi tersenyum senang. Tidak, tapi membuat Riser menyeringai dan menatap nyalang Naruto.

Pemuda yang mengenakan jas merah marun itu menarik keras kerah seragam Naruto dan mendekatkan wajahnya. Tatapan keji yang menjanjikan rasa sakit ia berikan pada Uzumaki pirang itu.

"Kau! Kebetulan aku belum menghajar orang akhir-akhir ini," tukas Riser yang menarik lengan kanannya kemudian menyiapkan satu kepalan kuat. "Kurasa kau dengan mulut sok mu itu akan baik-baik saja menerima pukulan ini, ha!"

Dengan menumpukan seluruh berat badannya ke dalam pukulan yang ia luncurkan, Riser benar-benar berniat untuk menghancurkan wajah Naruto. Sedangkan Naruto hanya menatap datar saja hal tersebut.

"Uzumaki-kun!"

Swush

"?!"

Tepat sebelum pukulan telak itu mengenai Naruto, Riser merasakan ada sesuatu yang bahaya yang mengincar nyawanya. Dengan segera ia menarik kembali pukulannya tersebut dan melompat ke belakang kemudian.

"Sialan! Apa itu tadi? Hawa tadi benar-benar terasa mengerikan. Ini kali pertama aku merasakannya."

Berkeringat dingin, Riser lalu mengedarkan pandangannya di sekitar Naruto mencoba untuk menemukan sesuatu yang janggal—sesuatu yang tadi serasa mengancam nyawanya. Namun ia tidak menemukan apapun selain Naruto yang hanya menatap dirinya datar namun dengan tangan kanan yang membentuk replika pistol yang tadi mengarah tepat ke arah jantungnya.

Samar-samar Riser dapat melihat bekas cahaya biru di sana. Cahaya biru yang pecah menjadi butiran-butiran debu partikel biru.

"Hmh, sepertinya kau bukan manusia rendahan biasa, ya?" tukas Riser sambil menjaga jarak dari Naruto.

"Entahlah."

Dan itu adalah jawaban singkat yang pemuda Uzumaki itu berikan sebagai balasannya.

Sedangkan Rias benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba saja ia melihat wajah Riser berkeringat dingin ketika hendak menampar Naruto seolah-olah pemuda itu sedang melihat kematiannya sendiri.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Mengapa ia tidak bisa memahami ini bahkan setelah Riser mengungkapkan tentang ketidakbiasaan identitas Naruto sebagai seorang manusia biasa.

Angin sore bertiup.

Dalam kesenjangan hening yang terjadi tiba-tiba entah darimana seorang perempuan berambut perak yang mengenakan pakaian pelayan muncul di belakang Riser yang membuat pria itu mendesah pelan setelah merasakan kehadirannya. Sedangkan Rias tampak mendesah lega.

"Maafkan saya Phenex-sama. Tapi anda sebaiknya memberitahu kepada keluarga Gremory jika ingin mengunjungi Rias-sama di kediamannya," Ujar wanita tersebut dengan nada sopannya. "Dan karena anda telah mengunjunginya tanpa izin dari keluarga Gremory saya terpaksa membawa anda pulang."

"Tsk. Dan kenapa aku harus menuruti kemauan kalian, huh?"

"Maafkan saya Phenex-sama. Saya diizinkan keluarga anda untuk menggunakan kekerasan jika anda tidak mau pulang dan mempertanggung jawabkan kelakuan anda."

Riser seketika bergidik ngeri namun tetap mempertahankan tampang bajingannya. Jujur ia tidak ingin berurusan dengan seseorang yang bisa memadamkan apinya bahkan sebelum ia sempat menyalakan apinya tersebut.

"Baiklah, baiklah. Semua tentang aturan ini benar-benar menyebalkan," ujarnya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Naruto yang masih setia berdiri di sana. "Dan kau, siapa namamu?"

"Uzumaki Naruto."

"Hn, kau beruntung kali ini. Lain kali aku akan memukulmu dua kali lebih cepat."

Riser menyeringai tipis. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa ia akan selalu mengingat nama seorang manusia yang merupakan makhluk hina baginya. Kemudian ia mengalihkan tatapannya ke arah Rias.

"Dan untukmu, Riasku terkasih," tukas Riser. "Aku akan menantikan malam panas penuh gairah kita kelak. Ufufuf."

Selepas itu Riser mengambil langkah dan berjalan menjauh dari tempat ini. Meninggalkan tiga orang yang hanya saling pandang di sana.

Merasa orang paling menyebalkan tadi sudah pergi, Naruto kembali menenangkan tatapannya dan berbalik ke arah Rias. Ia tersenyum hangat dan berusaha membantu memeriksa wajah bekas tamparan tadi. Dengan telaten ia mengambil sapu tangan dari sakunya dan menumpahkan sedikit air minum untuk membuat sapu tangan tersebut basah. Setelah itu ia menempelkan sapu tangan basah itu ke wajah Rias yang tampak berwarna kemerah-merahan.

"Apa masih sakit, senpai?" tanya Naruto sesekali mengelap pelan untuk memberikan stimulasi dingin agar rasa sakitnya cepat ternetralisirkan.

"Agh, ugh, uguuuu."

"M-maaf. Apa aku terlalu keras mengelapnya?" tukas Naruto dengan nada khawatir dan sedikit bersalah.

Tersenyum hangat, Rias yang agaknya tersipu tipis menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak. Itu sudah pas," kata Rias. "Maaf karena telah melibatkamu, okay. Aku enggak tahu kalau dia bakalan datang hari ini."

Naruto terkekeh pelan.

"Tak apa." Ucapnya lembut yang mau tak mau semakin membuat Rias menjadi merona dan mengalihkan tatapannya ke arah lain.

Tak jauh dari mereka, sosok wanita yang mengenakan pakaian pelayan berjalan menghampiri keduanya dan berdehem sebentar untuk mengambil perhatian.

"Maaf Rias-sama. Kami benar-benar tidak menyangka kalau Riser Phenex-sama memutuskan untuk mengunjungi anda secepat ini bahkan dia menyakiti anda. Ini benar-benar di luar kesepakatan."

Rias mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Tak apa, Grayfia. Lagian ini sudah terlanjur terjadi," kata Rias. "Lain kali biarkan aku yang akan menampar wajah bajingannya itu."

Dan Rias sendiri pun tak tahu darimana keberanian tersebut datang.

Wanita yang dipanggil Grayfia tersebut mengangguk kecil sebelum menatap ke arah Naruto yang masih setia menempelkan sapu tangan basah ke wajah Rias.

Grayfia memperhatikan Naruto dengan tatapan yang sedikit menyipit.

"Pemuda ini ... sepertinya rumor tentang Project Avalon itu benar-benar nyata. Aku harus melaporkan ke Lucifer-sama. Pemuda itu terlalu berharga dan terlalu berbahaya jika jika berada di pihak yang salah."

-2-

Malam yang damai menyelimuti gelapnya kota Kuoh. Meskipun tidak begitu damai bagi pemuda pirang ini setelah sedikit masalah yang ia temui ketika mengantar senpai merahnya pulang saat sore tadi. Untung saja tante berambut perak berbaju pelayan tadi hadir untuk meredakan semuanya. Jika tidak, ia yakin kalau masalahnya bisa menyebar bahkan berakhir sangat buruk.

Juga, ia sedikit khawatir dengan kondisi Rias yang terlihat begitu tertekan tadi. Jika bisa, ia benar-benar ingin tahu keadaannya sekarang dan menanyakan kabarnya. Tapi itu tidak mungkin mengingat dirinya bukanlah siapa-siapa. Ia hanya sebatas siswa biasa yang kebetulan memiliki hubungan sedikit spesial dengan gadis paling tersohor di tempatnya bersekolah tersebut.

Ah, mungkin ia harus menemuinya besok.

Ngomong-ngomong tak terasa setelah sekian menit berjalan melintasi jalanan kota Kuoh, kini ia telah sampai di depan pintu apartemennya yang sederhana.

Ia menghela napas kecil sebentar sebelum mengetuk pintu berbahan kayu di hadapannya.

"Aku pulang." Ujarnya pelan namun ia tak menemukan jawaban sehingga ia segera meletakan tangannya di knop pintu dan membuka pintu itu kemudian.

Setelah melepaskan sepatunya dan menggantikannya dengan sendal rumahan, ia lalu memasuki ruang apartemennya dengan santai yang mana ketika ia sampai di ruang tamu ada sosok gadis berambut hitam legam yang tengah tidur lelap di atas sofa di sana.

Gadis itu mengenakan kaos putih yang tampak kebesaran untuknya. Ia tertidur pulas sekali. Agaknya terlihat letih ketika sinar rembulan yang melewati gorden-gorden mengenai wajah cantiknya.

Melihatnya mau tak mau membuat Naruto menarik senyum tipis. Ia mengambil langkah pelan berusaha sebisa mungkin tak mengganggu tidur sang gadis tersebut.

Namun baru beberapa langkah yang ia ambil, gadis itu memperlihatkan tanda-tanda kehidupan.

"Hoamh."

Menguap lalu melenguh kecil. Gadis itu terbangun dan segera mendudukan dirinya. Lalu matanya mengerjap beberapa kali untuk memberikan titik fokus pada netranya.

"Hai." kata Naruto, menyapa lembut dan menghampiri gadis itu kemudian.

Gadis tersebut tersentak kecil dan langsung meningkatkan kewaspadaannya.

"Oh, kau …" ucapnya pelan.

Tersenyum lembut, pemuda pirang itu dengan segera mendudukan dirinya di sebelah gadis tersebut yang mana membuat gadis ini agak canggung dibuatnya.

"Bagaimana kabarmu, Malaikat Raynare?"

"A, uuu, umh. Raynare saja cukup."

"Baiklah," kata Naruto. "Bagaimana kabarmu sekarang, Raynare-san?"

Raynare pun menjawab dengan senyum ketir.

"Kurasa baik-baik saja untuk sekarang," ujarnya. "Tapi mungkin ini tak berlangsung lama. Mereka—para malaikat jatuh bawahan Kokabiel-sama pasti diperintahkan untuk mencariku."

Suara Raynare terdengar sedih yang dicampuri dengan rasa takut. Itu benar. Raynare tahu sendiri kalau ia pasti akan diincar oleh bawahan Kokabiel tak peduli dimana pun ia bersembunyi. Mau bagaimanapun, ia mengetahui salah satu rahasia Kokabiel yang membuat dirinya menjadi buronan.

"Aku … aku benar-benar berterima kasih karena kau telah menyelamatkanku, Uzumaki-san," tukas Raynare. "Namun aku harus segera pergi dari sini. Mereka pasti sedang mencari dan memburuku saat ini." Lanjutnya yang lalu ingin segera beranjak dari sofa namun itu terhenti ketika ia merasakan sesuatu yang menyentuhnya.

Adalah telapak tangan Naruto yang saat ini sedang membelai pelan pucuk kepalanya. Disertai dengan senyum lembut yang pemuda itu perlihatkan membuat Raynare sedikit tertegun.

"Tak apa," ujar Naruto lembut, penuh perhatian. "Kau bisa tinggal di tempatku ini, Raynare-san."

Hal tersebut membuat Raynare menjadi terkejut.

"Tapi itu tidak mungkin, Uzumaki-san," kata Raynare. "Mereka mungkin kini sedang memburuku, aku tak ingin melibatkanmu dan membahayakanmu!"

Memang. Meskipun Raynare tahu kalau pemuda di depannya ini memiliki sesuatu yang spesial tapi ia yakin mau bagaimanapun manusia tidak akan pernah bisa menang melawan makhluk supernatural. Dan ia tetap berisikeras untuk pergi agar tidak membahayakan pemuda yang telah menyelamatkan hidupnya ini.

"Heh, tak perlu khawatir soal itu, Raynare-san. Aku memiliki cara tersendiri untuk dapat bertarung melindungi diriku sekaligus melindungi diri kamu." Ucap Naruto lembut yang berhasil membuat Raynare menjadi luluh.

"Tapi mengapa?" bisik Raynare pelan, "Mengapa kau berisikeras untuk menolongku. Padahal aku ini buruk. Aku ini malaikat yang busuk."

Entah apa yang menggerakannya, Naruto tiba-tiba menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

"Kau tahu? Kebaikan yang sebenarnya ialah orang yang sendirian bersama mereka yang dianggap buruk." Ucap Naruto sambal mengelus lembut belakang kepala gadis itu mencoba untuk memberikannya kenyamanan.

"Maksudmu?"

"Maksudku, tidak semua orang yang terlihat baik itu benar-benar baik lho, dan tidak semua orang yang terlihat jahat itu benar-benar jahat," ujar Naruto. "Terkadang kau bisa menemukan kebaikan dalam kejahatan itu sendiri. Jadi berhenti menyebut dirimu buruk, okay. Aku tahu kalau kau itu baik kok."

Raynare hanya diam mendengar ucapan tersebut. Ia juga diam merasakan pelukan hangat tersebut dan ia juga diam merasakan setiap belaian lembut tersebut.

Hangat sekali.

Tentram.

Hal ini membuatnya merasa seperti ketika berada di rumah. Sama seperti ketika ia berada di Surga.

"Kau tahu? Aku sebenarnya tidak tahu alasan mengapa aku melakukan ini. Hanya saja melihat orang sebaik kamu membuatku tergerak untuk melindungimu. Jadi tetap di sini, okay, aku akan melindungi dan menjagamu kok."

Dan Raynare pun mengeratkan pelukannya dengan pemuda pirang itu. Menyembunyikan wajah cantiknya pada dada bidang pemuda pirang itu. Ia mendengarnya; detak jantungnya yang berdetak pelan. Terdengar seperti lantunan irama merdu yang syarat akan kenyamanan dan kehangatan.

"Janji?"

"Iya."

"Kau harus menepatinya, okay," kata Raynare dengan semburat merah di pipinya yang ia sembunyikan dalam pelukannya. "Tentu saja ini bukan karena aku ingin tinggal bersamamu!"

Naruto terkekeh pelan dibuatnya.

"Hehehe, baik, baik. Aku paham," kata Naruto. "Uhm, ngomong-ngomong maaf ya, kurasa malam ini kita enggak bisa pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaianmu."

Raynare hanya menggeleng kecil sebagai jawaban.

"Umu! Tak apa."

"Apa benaran tak apa?" tanya Naruto. "Lagian apa kau merasa nyaman saja tidak mengenakan celana dan dalaman seperti ini?"

"B-baka!"

Dan malam pun diakhiri dengan satu pukulan keras yang mengenai pipi Uzumaki muda.


To Be Continued


A/N:

Agh. Maaf kalau aku sudah membuat kalian semua menunggu. Hehe. Aku benar-benar sempat kehilangan motivasi untuk mengetik fanfiksi ini. Tapi entah mengapa aku tiba-tiba mendapatkan motivasi lagi setelah sekian lama tidak mengetik cerita lagi.

Dan ugh. Ini adalah coretan pendek yang mampu ku tulis setelah sekian lama enggak nulis hehe. Jadi maafkan kalau banyak kekurangan dan jumlah wordsnya yang amat sangat sedikit.

EH! BTW TEAM RAYNARE POREPAH!