Aku adalah sang rembulan, dia adalah sang mentari.

Aku adalah gelapnya malam, dia adalah sang fajar.

Perang, kekuatan, dan konfrontasi sudah mendarah daging kepadaku. Sedangkan kedamaian dan cinta tercampur dalam setiap napas dan langkah kakinya.

Bak air dan minyak yang tidak pernah bersatu bahkan dalam satu wadah yang sama, kami selalu bermusuhan dan bertempur bahkan sudah digariskan dalam takdir.

Aku adalah perwujudan sejati dari kehancuran dan pedihnya perang. Dia adalah perwujudan dari perdamaian itu sendiri.

Sang Penyelamat.

Itu adalah panggilan yang ditujukan kepadanya.

Kheh! Menggelikan. Sungguh aku langsung mendengus geli ketika pertama kali mendengar dua kata itu. Bocah bodoh seperti dia dipanggil penyelamat oleh seluruh dunia. Kala itu aku hanya mencibir dan memakinya.

Sang Penyelamat.

Sebuah titel menggelikan, tapi menjadi titel paling sempurna untuk menjelaskan segala sifatnya. Sifat cinta damai, ketulusan hatinya, begitu terangnya auranya. Semuanya begitu cocok. Menjadi kebalikan mutlak dariku yang selalu membawa kerusuhan dan kehancuran.

Perang sudah berlalu dua tahun yang lalu. Aku masih hidup sebagai seorang pelarian. Mengelana kesana kemari untuk mencari inti dari kehidupan. Meskipun begitu, dia tetap mencariku. Mengejarku bahkan sampai ke pelosok terpencil dunia.

Setelah apa yang sudah kulakukan padanya, memberikan seribu satu kehancuran dan rasa sakit untuknya, dia tetap menganggapku. Seolah tidak terpengaruh dengan segala luka yang sudah kutorehkan kepada hatinya yang sangat lembut.

Pada akhirnya, dia tetaplah seseorang yang menganggapku sebagai seorang teman terdekat, bukan seorang kriminal atau buronan dan pembunuh. Kami saling berbagi rasa sakit karena memang empatinya yang begitu tinggi, dia selalu mengerti isi hatiku yang sudah terkontaminasi oleh racun dunia. Dia adalah orang yang memberiku kasih sebesar kakakku.

Dia adalah penyesalan terbesarku. Satu-satunya latar belakang segala penyesalan yang hinggap di hatiku.

Menyesal karena memperlakukannya dengan buruk. Menyesal karena memandangnya rendah. Menyesal karena tidak pernah menganggapnya sebagai seorang teman ketika Naruto menganggapku saudara. Menyesal karena melukai tubuhnya dan menghujamkan luka di hatinya yang serapuh kaca. Dia adalah penyesalan nomor satuku.

Jika diberi sebuah kesempatan, aku ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepadanya. Bahkan memberikan nyawaku sendiri sebagai persembahan permintaan maaf kepadanya pun aku rela.

Ya, hanya dia.

Hanya kepada Uzumaki Naruto.

.

.

.


The Moon and The Sun

Disclaimer: Naruto sepenuhnya milik Kishimoto-sensei dan saya tidak mengambil sedikit pun keuntungan materiil dari karya ini.

Rated: T

Genre: Friendship, Hurt/Comfort, FriendlyRomance(?)

Warning: FemaleSasuke!, gender switch, Post PDS4, Alternate Fact and Reality, dan beberapa typo yang lolos dari pandangan saya.

Enjoy!


.

.

.

Di tengah kegelapan hutan, terlihat seorang berperawakan pendek sedang berjalan sendirian. Orang itu menggunakan sebuah jubah hitam bertudung yang membungkus seluruh tubuh dan kepalanya. Menyembunyikan seluruh ciri fisik dan identitasnya. Kaki kecilnya melangkah dengan kecepatan normal menuju sebuah ke sebuah tempat di selatan.

Setelah beberapa saat berjalan, dia berhenti. Entah kenapa kepalanya terasa gerah. Yah, jika dipikir-pikir dia sudah berjalan selama setidaknya lima jam dan tidak sedikit pun membuka tudungnya. Wajar sekali dia merasa gerah. Segera dibukalah tudung yang menutupi kepalanya itu. Membuka tabir penutup identitasnya.

Dia adalah seorang gadis. Rambut hitamnya terlihat begitu halus dan menenangkan ketika dilihat. Terlihat cukup berantakan tapi begitu indah. Menjuntai kalem sampai sedikit melewati bahunya. Membingkai wajah ayunya dengan sempurna. Jangan lupakan juga sebuah poni yang menutupi seluruh mata kirinya.

Namanya adalah Sasuke. Seorang gadis 18 tahun yang terlahir sebagai seorang anggota klan Uchiha dan juga reikarnasi Indra di masa sekarang. Sasuke adalah salah satu buronan paling dicari di seluruh benua utama Dunia Shinobi. Ada setumpuk catatan kriminal yang dimilikinya sejak empat tahun terakhir. Memang kriminalitasnya tidak bertambah satu pun pasca perang, tapi statusnya sebagai Nukenin masihlah belum hilang. Meskipun Sasuke adalah Nukenin, tapi dia tidak dikejar oleh para Anbu Konoha selama dua tahun terakhir.

Sasuke sendiri juga merupakan salah satu pahlawan paling dikenali ketika perang besar yang terjadi dua tahun silam. Sumbangsihnya begitu besar di dalam perang. Dia juga merupakan sebuah kunci kemenangan kuat selain Naruto, sang reinkarnasi Asura.

Berbicara tentang Naruto, Sasuke jadi terpikirkan sesuatu.

Hari ini adalah sehari sebelum peringatan ke dua tahun setelah perang berakhir. Tanggal 9 Oktober. Itu berarti besok adalah tepat dua tahun peringatan kemenangan dunia atas perang melawan Madara dan Obito serta sesosok entitas primodial, Ootsutsuki Kaguya, dan juga hari ulang tahun Naruto yang ke 18. Abaikan peringatan perang. Sasuke tidak peduli dengan hal itu. Hari ulang tahun Naruto adalah fokus utamanya.

Ingin rasanya Sasuke pergi ke Konoha bahkan hanya untuk memberikannya sebuah ucapan selamat tahun kepada sahabat pirangnya. Namun, resiko yang harus dihadapinya terlalu besar. Dia tidak siap jika harus berhadapan dengan seluruh desa karena mereka pasti akan masuk ke dalam mode perang ketika kedatangan seorang kriminal dengan tingkat kekuatan yang setara dengan Uzumaki Naruto yang berada di puncak tangga kekuatan.

Mungkin memang cukup dia mendoakannya saja terlepas dari keinginan dan dorongan kuat Sasuke untuk mampir ke Konoha. Entah kenapa, sekarang Sasuke jadi sedikit merindukan tingkah laku random dari satu-satunya orang yang bisa disebutnya sebagai sahabat itu.

Karena terlalu fokus kepada pikirannya, Sasuke tidak menyadari ketika dia keluar dari rimbunnya hutan. Dia berdiri di sebuah hamparan padang rumput setinggi betis. Ketika sadar pun sebenarnya tidak ada perubahan yang berarti di wajahnya. Tetap datar dan tidak menyiratkan sedikit pun emosi di sana. Kedua matanya terus memandang kosong ke depan.

Sasuke kenal dengan tempat ini.

Ini adalah sebuah sabana di tengah rimbunnya hutan Hi no Kuni. Berjarak tidak terlalu jauh dari Konoha.

Benar, dengan ini Sasuke sangat yakin bahwa dia sudah berada di Hi no Kuni. Negara kelahirannya. Kampung halamannya. Tempat tercetaknya ribuan kenangan manis dan pahit yang tersimpan rapi dalam memorinya.

Sendirinya cukup terkejut karena dia tidak merencanakan untuk ke Hi no Kuni. Kakinya hanya melangkah berdasarkan intuisi. Tidak mengetahui bahwa dia berjalan ke dalam teritorial negara yang secara logis akan memburunya akibat telah merusak nama baik mereka karena menciptakan seorang Nukenin.

Terlepas dari pemikiran itu, kepala Sasuke mendongak. Kedua matanya menatap takjub sebuah lukisan alamiah luar biasa yang disebut langit malam. Ada ribuan atau bahkan jutaan bintang yang menunjukkan pendar redupnya. Bertaburan di seluruh angkasa. Memberikan sebuah kesan yang sangat dalam bagi siapa pun yang melihatnya. Terlebih untuk Sasuke. Dia merasa sangat terikat secara batin dengan pemandangan ini.

Iris onyx Sasuke menangkap sebuah cahaya yang bergerak dari satu titik ke titik lainnya diikuti dengan sebuah jejak cahaya di lintasannya.

Itu adalah sebuah bintang jatuh.

Sasuke menutup kedua matanya.

Konon katanya, ketika seseorang berharap sesuatu ketika melihat sebuah bintang jatuh, maka harapannya akan menjadi sebuah kenyataan.

Itu adalah hal yang konyol untuk seorang Uchiha Sasuke. Dulu, ingin sekali dia menertawakan seluruh orang yang memiliki kepercayaan dangkal itu. Namun, untuk kali ini saja, hanya sekali ini saja dia mengharapkan sesuatu. Bukan untuknya, tapi untuk seseorang yang memiliki tempat tersendiri di dalam hati terdalamnya. Seorang teman. Seorang sahabat. Seorang saudara yang bahkan tidak sedarah.

'Semoga Naruto mendapatkan kebahagiaannya,' pinta Sasuke.

Hanya sebuah harapan dan permintaan yang teramat sederhana ketika seseorang bisa mengharapkan yang lebih besar.

Permintaannya memang sederhana, tapi itu adalah hal yang penting dan fundamental. Lagipula, apa lagi yang bisa dia harapkan terjadi kepada Naruto? Sebuah kebahagiaan akan menjadi hadiah paling sempurna untuknya.

Jika ditilik selama setidaknya 15 tahun ke belakang, Naruto melewati kehidupan yang begitu keras. Sangat tidak masuk akal untuk seukuran bocah tidak bersalah. Mulai dari cacian dan makian hampir seluruh warga desanya sendiri, tidak memiliki satu pun teman semasa kecilnya, tidak mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya pula. Jangankan mendapatkan kasih sayang. Kedua orang tuanya bahkan meninggal ketika hari kelahirannya. Bertambah lagi kerasnya kehidupannya ketika menginjak usia remaja. Mulai dari perpecahan antara dirinya dan Sasuke, lalu bertarung mati-matian melawan seorang penjahat berkompetensi luar biasa hingga melawan seorang entitas primodial yang berdiri di level yang berbeda.

Seluruh hidup Naruto hanya dihabiskan untuk menanggung seluruh kebencian orang-orang yang tersesat di jalan kegelapan. Gelapnya kebencian dan pedihnya siksaan luka batin yang tidak seharusnya ditanggung oleh seorang remaja tanggung seumurannya.

Ya… Sasuke semakin mengokohkan permintaan dan pengharapannya.

'Hanya itu. Kebahagiaan Naruto,' pinta Sasuke sekali lagi.

Tepat setelah Sasuke menyelesaikan permintaan sederhananya, dia membuka kedua matanya secara perlahan. Dia begitu terkejut.

Seluruh tubuhnya menegang seketika. Jantungnya berdetak begitu kencang. Napasnya memburu. Kedua matanya melebar sempurna dan hanya tertuju pada satu titik di depan. Lidahnya kelu dan tenggorokannya terasa kering. Bibirnya bergetar pelan. Kedua bahunya pun juga terdampak getaran pelan. Cukup untuk menunjukkan seberapa terkejutnya Sasuke sekarang.

Dalam jarak sekitar 10 meter, seseorang yang sangat-sangat Sasuke kenali sedang berdiri di depan sana. Rambut pirang itu masih sepanjang yang bisa diingat Sasuke sejak terakhir kali bertemu dengannya. Wajahnya melukiskan ekspresi lembut. Mata yang sebiru lautan itu—yang menyiratkan segudang kasih—menatapnya dalam-dalam. Seolah berusaha menarik Sasuke untuk tenggelam kepada keindahan itu. Senyum tulus juga ikut menyempurnakan ekspresi wajahnya.

Itu dia.

Uzumaki Naruto.

Dia di sana. Tepat di depan Sasuke terlepas dari jarak yang memisahkan mereka.

Harapan yang terpikirkan olehnya tidak pernah terwujud. Harapannya tentang kebahagiaan Naruto hanya angan. Berkebalikan dengan harapannya tadi, Sasuke dihadapkan dengan sebuah fakta bahwa dia berpotensi besar akan menambah sebuah kepedihan dan rasa sakit yang teramat sangat. Jauh dari harapannya tadi.

Namun, entah kenapa kedua mata Sasuke sekarang terasa panas. Kolam perasaan yang berada di dalam hatinya begitu membuncah sampai-sampai membuat Sasuke ingin berteriak hanya untuk meredakan perasaannya yang memberontak ingin dilampiaskan. Dia berada di titik paling rapuhnya sekarang. Ya, pada akhirnya Sasuke hanya seorang gadis. Perasaannya tetap lebih dominan dari seluruh logikanya, dan ini adalah salah satu momen dimana dia dikuasai oleh perasaan daripada pikirannya.

Sasuke melihat Naruto membentangkan kedua tangannya rendah. Memperlihatkan sebuah postur yang mengindikasikan sebuah hal.

Mata Sasuke menyorot Naruto dengan tatapan yang tidak dapat diartikan sama sekali. Sasuke bukanlah sebuah gadis bodoh. Dia mengerti maksud dari Naruto. Di kondisi normal, dia tidak akan terpengaruh dengan hal ini. Namun tidak untuk sekarang. Tidak dalam keadaan melankolisnya.

Ingin sekali Sasuke berlari sekarang juga dan menenggelamkan kepalanya di dada sang pemuda. Namun dia tahu diri. Dia hanya seorang yang hina. Dia tidak akan pernah pantas untuk mendapatkan sebuah pelukan penuh kasih dari seseorang yang sebegitu mulia seperti Naruto. Meskipun begitu, hati kecilnya hanya membutuhkan itu. Dia hanya membutuhkan satu-satunya orang yang mau menerimanya terlepas dari apapun yang pernah dilakukannya.

Grep…

Dalam satu kedipan mata, tubuh ramping Sasuke terkurung dalam rangkulan Naruto. Sebuah pelukan yang begitu erat. Seolah tidak menginginkan siapapun untuk merebut Sasuke dari sisinya.

Di sisi lain, Sasuke semakin bergetar. Pikirannya seolah menumpul dan melupakan bahwa Naruto adalah orang dengan stok kejutan paling banyak di antara semua orang yang hidup di dunia ini. Yang seperti ini, seharusnya bukan sebuah kejutan. Sasuke tahu dengan pasti bahwa Naruto akan melakukan hal yang ini.

"Kalau kamu tidak mau datang, tentu aku yang akan mendatangimu, Sasuke."

Dia merindukannya. Suara lembut yang kental akan kasih. Suara bariton yang begitu kontras dengan suara milik Sasuke.

"Sampai kapan pun aku akan terus mendatangimu ketika kamu menolak kehadiranku. Di sini, di ujung dunia, bahkan di kehidupan yang lain. Aku akan terus dan terus mendatangimu."

Sasuke sudah tidak kuat lagi. Suara itu memberikan efek dahsyat untuknya. Bendungan terhadap air matanya tidak tertahankan lagi. Seluruh perasaan yang membuncah di dalam hatinya memberontak semakin keras dan hanya menunggu waktu sebelum benar-benar keluar dari sana.

"Karena pada akhirnya, kamu adalah satu-satunya alasanku hidup di dunia yang kejam ini."

Tangisan Sasuke pecah.

Pada dasarnya dia hanya seorang gadis yang haus akan kasih sayang. Seluruh kata yang diucapkan dan ditujukan kepadanya adalah rangkaian kalimat yang bisa menebas rantai kebencian dan rasa sakit yang membelenggu hatinya. Kalimat yang sarat akan kasih sayang dan cinta.

Seiring dengan pecah tangisannya, Sasuke menggerakkan kedua tangannya cepat untuk membalas pelukan Naruto. Mencengkeram baju hitam bercorak oranye itu kuat-kuat sampai buku-buku tangannya memucat.

"Aaaaahhh!"

Sebuah teriakan penuh perasaan terdengar sangat keras. Suara parau teriakan sarat akan kepedihan, rasa sakit, penyesalan, serta keputusasaan. Namun di saat yang sama juga menyiratkan kerinduan, haus akan kasih sayang, serta kelegaan. Akhirnya, seluruh perasaan yang disimpan rapat-rapat di dalam hatinya keluar dengan derasnya.

Naruto sendiri hampir tidak bisa melakukan apapun. Lidahnya yang kelu memaksanya untuk tetap diam. Dia hanya bisa tersenyum masam sembari mengeratkan pelukannya. Air mata juga mengalir deras dari kedua matanya yang sewarna safir. Naruto menangkap seluruh perasaan yang dikeluarkan oleh Sasuke dengan derasnya. Dia merasakannya dengan kuat. Hatinya terasa sangat sakit ketika mendengar teriakan Sasuke. Seolah ada sebuah pisau berkarat yang menggores hatinya secara perlahan. Menorehkan sebuah luka yang lebar lagi dalam.

"Sudah tidak apa-apa. Aku di sini. Kau di sini. Sudah tidak apa-apa," bisik Naruto pelan. Suaranya parau dan bergetar. Seolah ikut menyerap seluruh perasaan yang sedang dikeluarkan oleh gadis yang berada di dalam pelukannya. Tangannya mengelus kepala gadis itu perlahan. Berusaha memberikan rasa tenang dan nyaman kepada sang gadis.

Sasuke semakin mengeratkan pelukannya. Suara teriakannya berhenti. Bukan karena sudah puas, tapi karena suaranya tidak bisa keluar. Dia berteriak terlalu keras sampai tenggorokannya terasa sakit dan melewati batasan yang bisa ditanggungnya. Mulutnya terus terbuka lebar. Berteriak dalam diam.

Mereka berdua mempertahankan posisi mereka selama beberapa saat. Saling membagi rasa sakit dan mencurahkan segenap perasaan yang tersimpan di dalam hati mereka melalui sentuhan ini. Tidak perlu kalimat bagi mereka untuk menunjukkan apa yang sedang mereka rasakan. Cukup dengan sentuhan ringan seperti ini maka seluruh perasaan mereka akan tersampaikan sendirinya.

Tangisan Sasuke mereda meskipun masih sesenggukan. Tubuhnya biasanya penuh tenaga dan begitu kuat, kini terasa lemas dan tidak berdaya. Mungkin jika rengkuhan Naruto dilepas, maka detik itu pula dia akan merosot di tanah.

Naruto merasakan dan mengetahui tangisan Sasuke mereda. Dia melepaskan pelukannya secara perlahan meskipun yang dipeluknya terlihat enggan. Naruto sedikit menjauhkan tubuhnya dan memposisikan wajahnya setara dengan Sasuke. Kedua matanya memandang lekat-lekat wajah ayu Sasuke.

Tangan kasar Naruto bergerak perlahan untuk menghapus dua aliran air di pipi Sasuke sebelum menghapus miliknya sendiri. Kemudian dia kembali menggerakkan tangannya untuk menangkup kedua pipi Sasuke. Secara perlahan, senyuman lebar terkembang di wajah Naruto.

"Selamat datang, Sasuke."

Sasuke enggan mendengar kalimat itu.

Sasuke ragu bahkan hanya untuk bergumam membalas.

Dia merasa malu. Tidak lain dan tidak bukan karena dia adalah seseorang yang mengkhianati negaranya dan kepercayaan seluruh orang yang menjalin sebuah ikatan dengannya.

Meskipun enggan untuk membalas, nuraninya berteriak keras-keras membantah.

Bibir Sasuke bergerak perlahan.

"Aku pulang, Naruto…"

.


Pada akhirnya, setiap kegelapan hati akan selalu terhapus dengan cahaya ketulusan.


.

Seorang pemuda sedang berjalan ditengah hutan. Langit sudah berubah warna. Kegelapan tak berujungnya bercorak jingga di horizon. Tanda matahari akan terbit tidak lama lagi.

Di balik punggung pemuda itu tergendong seorang gadis cantik yang terlihat tidak berdaya. Badannya lemas dan kedua matanya sayu. Namun berkebalikan dengan itu, wajahnya menunjukkan ekspresi lega yang teramat sangat.

Mereka berjalan semakin dalam. Menuju ke sebuah tempat yang terletak di selatan mereka. Tempat yang mereka tuju tidak jauh lagi. Bahkan netra mereka berdua sudah melihat tempat tujuan mereka. Di depan sana, adalah Konohagakure. Desa kelahiran mereka. Basis operasi mereka. Tempat kenangan mereka. Rumah mereka.

"Kita benar-benar akan ke sana?"

Sebuah pertanyaan retorik meluncur dari bibir mungil Sasuke. Suaranya lemah. Faktanya dia hampir tidak kuat berbicara. Tenaganya seolah terkuras habis setelah pertemuannya dengan Naruto.

"Hmm? Kenapa bertanya sesuatu yang sudah jelas?"

"A-Aku hanya tidak siap."

Tanpa berhenti berjalan, Naruto menolehkan kepalanya ke samping. Kedua matanya menatap tepat kepada onyx Sasuke yang sayu. Tatapannya seperti biasa selalu tegas dan teguh.

"Mau siap atau tidak siap, kamu harus tetap pulang. Bukan di luar sana tempatmu seharusnya menghabiskan seluruh hidupmu. Menjelajahi seluruh tempat ketika bahkan kamu tidak memerlukannya. Di sinilah tempatmu. Rumahmu yang sesungguhnya."

Itu benar, tapi juga salah di saat yang sama. Sasuke tidak sepenuhnya setuju dengan seluruh kalimat itu. Dalam hati kecilnya, Konoha memanglah rumahnya. Namun jika diulas lagi, rumahnya bukanlah Konoha, tetapi Naruto.

Rumah bukanlah tempatmu tidur dan beraktivitas sehari-hari. Arti rumah lebih dalam dari itu. Hakikat sebuah rumah adalah tempatmu pulang dan membagi seluruh keluh kesah dan suka citamu. Tempat dimana kau menuliskan sakit, kecewa, muak, begitu pula dengan kasih sayang, cinta, nyaman, dan damai.

"Kalau kamu takut ada sebuah perlakuan tidak mengenakkan di dalam sana, itu tidak akan pernah terjadi."

"Kenapa aku harus percaya dengan kalimatmu?" tanya Sasuke.

"Karena itu bukan cara yang tepat untuk menyambut seseorang pulang ke rumah. Lagipula, kalau mereka punya niatan seperti itu, aku tidak akan pernah membiarkannya terjadi."

Sasuke hanya mendengus pelan. Bukan karena jijik, tapi geli. Dia masih tetap tidak terbiasa dengan sifat naif seorang Naruto. Memang benar dia mengenal betul Naruto selama 18 tahun kehidupannya ini. Namun masih saja dia geli dengan hal ini. Memang benar Naruto adalah pribadi yang terlewat lembut dan tulus.

Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Tidak butuh waktu lama sebelum mereka berdiri tepat di depan sebuah gerbang desa yang tertutup rapat. Aneh pikir Sasuke. Dia saja jarang sekali melihat gerbang desa ditutup. Apalagi ketika pagi.

Matahari yang sebelumnya masih terbit sedikit, kini sudah semakin meninggi. Langit yang beberapa waktu yang lalu masih didominasi oleh kegelapan, kini sudah beralih menjadi terang. Begitu cerah dan hanya ada sedikit awan tipis yang menghiasi.

Berhenti berjalan dan hanya berdiri menatap ke depan seperti ini membuat Sasuke sedikit bingung. Kenapa juga Naruto berhenti? Dia yang merupakan seorang shinobi tentu saja bisa dengan mudah masuk ke dalam sana kan? Cukup lompati saja dinding tebal di hadapannya maka terselesaikan sudah masalahnya. Namun itu semua hanya menjadi pemikiran Sasuke. Naruto tetap berdiri tenang di sini.

Grrkk…

Tanah bergetar pelan, seiring dengan suara pintu yang terbuka.

"Kuucapkan kembali, Sasuke. Selamat datang kembali…"

Pintu sepenuhnya terbuka. Menampilkan Konoha dan seluruh isinya, ditambah dengan beberapa hal khusus.

"… di Konoha."

Kedua mata Sasuke lagi-lagi terasa memanas. Jantungnya berdegup begitu kencang. Bibirnya kembali bergetar. Di depan sana adalah pemandangan yang begitu mengejutkannya.

Seluruh orang yang menjadi rekan seangkatan Sasuke sedang berdiri di sana. Berjejer rapi dengan ekspresi yang berbeda-beda. Semuanya yang dikenalnya. Sakura, Ino, Chouji, Shikamaru, Kiba, Hinata, Shino, Lee, dan Tenten. Hanya kurang Neji karena memang dia gugur ketika perang. Tambahan lagi ada Sai yang pernah ditemuinya dulu di salah satu gua Orochimaru. Mengesampingkan itu, dia fokus kepada fakta yang didapatnya. Mereka semua ada di sana. Seolah memang sedang menunggunya pulang.

Mereka menampilkan ekspresi yang berbeda dan dia bisa melihatnya dengan jelas. Ada ekspresi senang, cuek, datar, tidak peduli, dan bahkan sinis. Sasuke hanya bisa tersenyum miris ketika melihat itu.

"Ayo, mulai sekarang," ucap Sakura memberikan sebuah komando.

"Ah, merepotkan sekali…" desah Shikamaru.

"Kalau Naruto tidak meminta aku sih tidak mau," ucap Kiba ketus.

"Oh, sudahlah!" tegur Ino.

Mereka terlihat mengambil napas bersama-sama. Ekspresi mereka semua berubah menjadi lembut. Sorotan mata setiap orang yang berbaris di sana… itu adalah sorotan senang, antusias, juga rindu. Setiap pasang mata di sana menyiratkan hal itu.

"1, 2, 3."

"Selamat datang kembali, Sasuke!"

Air mata haru turun dengan cepat setelah satu kalimat sederhana diucapkan secara bersamaan kepada Sasuke. Sederhana, tapi mengena. Sederhana, tapi begitu dalam. Untuknya yang sudah membunuh perasaan tentang rekan, ini seperti seluruh perasaan yang dengan mati-matian dibuangnya dipaksa untuk kembali dan direkatkan menggunakan lem paling kuat di seluruh dunia.

Ini adalah ikatan.

Ikatan yang dulu dibuangnya jauh-jauh ketika mencari sebuah kekuatan untuk obsesinya membunuh sang kakak. Ikatan yang secara tidak sadar telah menjadi sesuatu yang begitu penting untuk hidupnya, dan sekarang sudah berevolusi menjadi sesuatu yang berbeda. Ini adalah sebuah persahabatan yang diberikan kepadanya. Memang cukup bertentangan dengan hipotesisnya tadi. Dia selalu berpikir bahwa mereka semua akan membencinya, dan itu adalah hal yang wajar adanya. Adalah hak mereka semua untuk membenci Sasuke dan itu adalah sesuatu yang paling logis.

Naruto pasti memang yang berada di balik semua ini. Sasuke sangat yakin tentang hal itu.

"Sudah kubilang kan? Tidak akan ada yang menerimamu dengan buruk."

"Hikss..."

"Berterima kasihlah pada mereka," ucap Naruto.

"Tidak, kau seharusnya berterima kasihnya kepada Naruto. Dia yang mau repot-repot menemui satu persatu dari kami di rumah pagi-pagi buta sebelum menghilang dengan Hiraishinnya itu," cerocos Kiba cuek dan dihadiahi delikan tajam Naruto.

Nah, seluruh hipotesis Sasuke sudah sepenuhnya terjawab. Memang sudah pasti hanya Naruto yang mau bersusah payah meyakinkan semua orang untuk datang ke sini.

"Terima kasih, Naruto."

Sasuke tersenyum penuh makna di sana. Sebuah senyuman yang entah kapan terakhir kali diperlihatkannya.

Dia senang.

Dia bahagia.


Ikatan.

Tertumpang dan tersamarkan, tapi tidak pernah hilang.

.

fin


Hey yo!

Apa kabar? Saya harap sih baik-baik aja ya. Kalau ada yang lagi nggak enak badan, semoga cepet sembuh.

Nah, yang barusan anda sekalian baca ini, adalah sebuah ide konyol yang mampir di pikiran saya sebelum akhirnya dirubah menjadi bentuk tulisan. Benar sekali, dangkal dan tidak berkesan pasti. Ide ini sendiri adalah pemanfaatan dari bonding Naruto dan Sasuke di canon. Mereka punya ikatan yang kuat bahkan ketika mereka sendiri bak air dan minyak. Masing-masing dari mereka memahami perasaan satu sama lain. Menempatkan diri mereka di posisi satu sama lain. Itu adalah dasaran dari fiksi ini. Nah, karena di canon mereka cowok semua, jadi di sini saya bikin deh si sasu jadi cewek wkwkwk... jadinya kan bisa dimanfaatin ikatan antara mereka yang begitu kuat. Gitu sih.

Ngomong-ngomong, feelnya nyampe nggak sih? Atau malah nggak kerasa sama sekali ya? Saya cukup skeptis sebenernya sama permainan feeling fic ini. Kerasa cepet sih sepertinya. Ya emang setiap nulis pasti saya ngerasa gitu sih wkwk

Sebuah nilai yang saya sampaikan secara tersirat di sini adalah tentang setting waktunya. Malam dan pagi serta lingkungannya. Tersirat samar, tapi kalau ada yang sadar dan bisa mengartikan boleh banget dibreakdown di kolom review ya!

Sedikit update, saya rasa saya lebih memilih untuk memberikan tag completed untuk fiksi ini. Saya sangat berterima kasih atas semua support dan responsnya :)