.

Akatsuki no Yona milik Mizuho Kusanagi

Cerita dan original character milik author

Selamat menikmati!

.

Gadis bersurai senja itu meletakkan tas punggungnya di samping pohon sembari dirinya duduk di tepi tebing yang berlantaikan derasan sungai. Yona, sang gadis, memberi ruang pada setiap sendi tubuhnya. Dia butuh waktu untuk memanjakan dirinya kapan-kapan.

Beberapa saat dia tersadar. Terdiam sebentar kemudian memperhatikan bekas luka yang ia dapatkan karena berlatih panah dan pedang di tengah malam. Bekas yang mungkin akan melekat di tangan mungilnya yang putih selamanya.

Dia menghela napas.

Jika ditanya mengenai kekuatan, memang dia bukanlah pilihan. Tidak pernah menyentuh pedang, panah, bahkan pisau hingga umur tujuh belas tahun bukan perkara yang dimiliki oleh para ksatria. Berkat ayahnya yang overprotective, Yona memiliki hampir beratus lusin pengawal yang akan menemaninya sekira hanya berjalan di pasar malam untuk melihat festival kembang api. Berkat ayahnya pula, hingga usianya yang menginjak tujuh belas itu, tidak ada satu pun marabahaya yang mengintainya di saat tidur.

Dan ia kehilangan itu semua ketika malam peringatan kelahirannya, Seo Won membunuh ayahnya.

Yona bisa merasakan air matanya yang jatuh di atas punggung tangannya. Digigitnya bibir bawah, menahan isak tangis yang sudah dia tahan sedari tadi. Tangannya mendekap perut, menekan agar decitan kecil dan napasnya yang lirih tidak menggebu. Kuku tangannya terasa menusuk kulit. Dia hanya tidak ingin menangis karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia akan menjadi kuat sehingga bisa melindungi orang-orang yang disayangnya.

Dia menyeka pipinya, lalu kembali termenung ke arah pepohonan rindang di bawah sana.

Hak, salah satu sahabat baiknya juga orang yang berharga untuknya, pernah berkata akan melindungi dirinya di situasi apapun. Yona berpikir. Tentu bisa, bisiknya sendiri. Hak itu kuat, perkara itu mungkin tidak sesusah dirinya yang akan berkata dirinya yang akan melindungi Hak. Hak itu kuat, tidak di pungkiri. Bahkan sampai sekarang menurutnya tidak ada satu pun orang yang sanggup menandingi pemuda mantan ketua klan Angin itu dalam satu lawan satu, atau mungkin empat lawan satu. Dia bisa berpegang teguh kepada keyakinannya tersebut hingga gadis pengembara yang mereka temui, Rie, muncul.

Yona mengubah posisi duduknya. Kini kedua tangannya menopang sebagian besar berat tubuh bagian atasnya.

Rie adalah satu-satunya manusia 'normal' yang bisa disandingkan dengan Hak, selain para naga dengan kekuatan magis. Gadis itu banyak tersenyum dan dia tidak banyak berbicara tentang dirinya. Yona ingat betul ketika pertama kalinya mereka bertemu, gadis itu datang hanya untuk meminjam perapian demi semangkuk dedaunan rebus sebagai makan malam, yang kemudian berakhir bersama mereka dalam beberapa hari.

Rie, gadis yang sangat sungkan, sopan, dan juga baik, yang pastinya tipikal gadis yang lemah dan harus berlindung di belakang punggung lelaki, seperti dirinya. Ketika mereka di serang di hutan barat Kerajaan Api, Yona langsung maju melindungi Rie, berharap percaya kepada hasil berlatihnya selama dua bulan. Siapa sangka? Dia bisa memanah tiga lelaki bongsor, dan menghalau setidaknya lima orang lelaki kurus namun berisi. Namun, keadaan itu tidak akan menjadi momen yang ingin diingatnya saat mereka kembali di serang di Kota Awa oleh para prajurit Kerajaan Kouka yang mengincar Yona dan Hak sebagai pengkhianat kerajaan.

Dia masih ingat ketika Rie menahan lengan pria yang ingin menebasnya menggunakan pedang dengan kedua lengannya yang tersibak jubahnya, memperlihatkan beberapa bekas luka pedang dan perban yang masih basah akan darahnya yang belum mengering, juga mengeluarkan kapak bermata dua dari punggungnya. Hak sampai terdiam tidak percaya, begitu juga dengan Yoon. Yona membeku. Rie bukanlah orang yang harus dilindunginya, justru dirinyalah yang harus dilindungi oleh Rie.

Yona meringis. Bukan salahnya jika dia 'tampak' berlagak sok hebat di depan gadis yang lebih hebat darinya. Jangan salahkan dirinya yang menyimpulkan ketika gadis itu menjatuhkan mangkuk makan mereka dan tidak bisa memasak rebusan yang sedikit rumit dengan hasil dirinya dan gadis ini mirip. Bahkan, peristiwa itu adalah salah satu peristiwa paling memalukan bagi Yona. Untuk beberapa saat dia juga merasa sangat malu hanya dengan berjalan di samping gadis itu.

Rie berbeda dari dirinya.

Yona harus mengakui hal itu.

"Yona? Apa yang kau lakukan di sini?"

Yoon muncul, membuyarkan monolog pikiran Yona.

"Yo-Yoon?"

"Makan malam sudah siap. Yang lain mencarimu kemana-mana."

"Ah, maaf." Yona cepat-cepat berdiri, mengambil tas punggungnya, dan berjalan di samping Yoon menuju perkemahan mereka.

Yoon memerhatikan sebentar. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya sedikit penasaran.

Yona tersenyum kecil. "Tidak ada."

"Tapi kau penuh pikiran begitu." Yoon menyahut. "Maksudku, kau akan menyendiri seperti tadi jika ada masalah selama ini."

Yona mengembuskan napasnya panjang. Yoon kawan lamanya, mana bisa berbohong pada lelaki cantik ini. "Aku... hanya kepikiran tentang Rie."

"Rie? Kenapa dia?" Yoon menaikkan sebelah alisnya. Dia bingung, bahkan thunder beast rasanya bersikap biasa pada gadis itu.

"Maksudku, aku... masih tidak percaya jika dia sangat kuat. Ah, bukan, maksudku," Yona bingung menjelaskannya bagaimana.

"Aku juga, kok." Yoon hampir menginterupsi. "Aku juga masih tidak percaya kemarin di hampir menghajar semua prajurit di Kota Awa. Yah, kukira dia lemah dan hanya gadis pengembara yang kehilangan tempat tinggal, tidak terpikir dia pejuang seperti itu."

Yona sedikit terkejut dengan jawaban Yoon. "I-iya , begitulah."

"Dia pasti telah melewatkan banyak hal di luar sana. Aku lihat tubuhnya penuh bekas luka sayatan pedang dan semacamnya." jelas Yoon.

Yona terkesiap, mukanya merah padam. "Ma-maksudnya, semua... tubuhnya?"

"Iya, semuanya," Yoon menjawab enteng, kemudian merasa ada yang salah. "Ha-hah? Ma-maksudku ya bukan semuanya gitu! Yang punggung lengannya! Bu-bukan hal-hal yang..!" Yoon mengelak dengan muka yang lebih merah. Meski tampangnya cantik, dia tetap lelaki tulen.

"Iya, kok Yoon. Ngerti kok, ngerti." Yona terkekeh kecil.

Mereka pun sampai di perkemahan, disambut oleh omelan Hak pada Yona. Yona meminta maaf pada semuanya karena telah membuat khawatir. Dia kemudian duduk di samping Rie dan mereka semua pun menikmati makan malam.

Yona masih merasa malu duduk di samping Rie. Sedang gadis itu hanya memerhatikan perbincangan ringan yang berlangsung tanpa membalas dengan dialog. Rie, tipikal gadis sederhana dengan sejuta rahasia dibalik senyum di bibirnya yang ranum.

Fin.

.

.

.

Author's note.

Hi, there!

Saya kembali setelah non aktif selama hampir lima tahun dengan fanfiction dari fandom Akatsuki no Yona (Yona of The Dawn)! So, ini fanfic pertama saya di fandom ini dan maaf langsung pakai original character. Saya harap semuanya dapat menikmati fanfiction ini. Hehe.

Review jika berkenan.

Regards,

Tiramisu.