Kunikida hanya bisa terdiam, menatap kosong tangan yang sudah kehilangan fungsinya. Ia tak lagi bisa mengerjakan dokumen, tak lagi bisa mencatat jadwal, dan tak lagi bisa menggunakan kemampuannya.

Bahkan Kunikida ... tak lagi bisa menggapai idealismenya.

Idealisme. Suatu hal yang selama ini selalu diagung-agungkan Kunikida, suatu hal yang Kunikida jadikan pedoman dan penopang hidupnya, menjadi alasan Kunikida dapat bertahan hingga sekarang.

Jika ia tak lagi bisa menggapainya, apa yang harus Kunikida lakukan sekarang?

Entah berguna atau tidak, Kunikida mengingat masa-masa dimana ia menjadi guru matematika.

Walaupun, tangan itu tak bisa lagi melakukan apa-apa.

Mungkin bisa dibilang ingatan Kunikida tidak begitu bagus, ia tidak begitu ingat sejak kapan dirinya mengagungkan sebuah idealisme konyol itu.

Yang Kunikida tahu, mendapatkan idealisme itu sama sulitnya untuk mempertahankannya.

Mungkin saat Kunikida gagal melindungi murid-muridnya dari kematian? Ah, benar ... sejak itulah Kunikida memegang idealisme yang kokoh dan rapuh secara bersamaan.

Disaat ia gagal menyelamatkan 25 murid yang terkena bom bunuh diri, kejadian yang berhasil mengguncang mentalnya. Padahal ... Kunikida memiliki kemampuan untuk menyelamatkan semuanya.

Ia bahkan sama sekali tak bisa tidur untuk beberapa minggu, terus dihantui oleh bayang-bayang mereka yang gagal Kunikida selamatkan.

Pekerjaan yang awalnya disukai Kunikida, menjadi begitu berat untuk melakukannya. Kunikida putus asa, jika ia bahkan tak bisa mengendalikan dirinya seperti ini. Bagaimana ia bisa menggapai tujuannya yang ingin mencerdaskan semua orang?

'Kamu boleh memilih antara melindungi dirimu sendiri, tetap bersembunyi, atau menyelamatkan.' -Ary Yulistana.

Kata-kata yang pernah Kunikida baca di sebuah buku itu, membuat Kunikida dengan yakin mengubah idealismenya.

Kunikida akan menyelamatkan semua orang, ia takkan membiarkan orang mati dihadapannya.

Tapi, setelah diingat-ingat, idealisme Kunikida hanyalah menghancurkan sekitarnya. Mengapa? Mengapa Kunikida begitu naif, hingga begitu mudah percaya akan keyakinannya sendiri?

Padahal, semua yang terjadi pun karena idealismenya. Kunikida kehilangan segala hal, semuanya.

Bahkan tangannya sendiri.

Entah mengapa dulu Kunikida hendak menggapai idealismenya ini? Tidak akan membiarkan orang mati didepan matanya? Semua orang akan mati!

Ia tak pernah begini, ia tak pernah meragukan kepercayaannya sejauh ini. Walaupun sudah dihadapi dengan berbagai kematian, Kunikida masih dapat berucap dengan lantang bahwa ia akan menggapai idealismenya.

Lalu, mengapa sekarang ia ragu?

Ini bukan karena Kunikida kehilangan kedua tangannya. Jika Kunikida hendak membuang idealismenya, lalu ... apa alasan agar ia masih bisa bertahan?

Kunikida yang mengganti idealismenya, dari ingin mencerdaskan semua anak menjadi ingin menyelamatkan semua orang(sekarang seakan bingung pada dirinya sendiri)

Dan apa yang mendorongnya? Kematian 25 muridnyalah yang mendorongnya.

Kunikida tak memiliki alasan hidup lagi jika ia membuang idealismenya sekarang.

Itulah yang sejak tadi Kunikida lamunkan, ia masih terduduk di atas ranjang. Iris jade green itu terlihat kosong, tak ada lagi mata penuh tekad seperti dulu.

Kunikida mengingat ucapan Dazai, idealismenya akan membakarnya, dan membakar setiap orang disekitarnya.

"Kunikida-kun, idealismemu itu akan membakar dirimu, dan juga orang disekitarmu."

"Walaupun begitu! Walaupun begitu aku-"

"Akan tetap mengikuti idealismeku. Jangan remehkan idealismeku itu ... kan?"

Dulu Kunikida dengan lantang dan yakin mengatakannya, tapi sekarang, semua keraguan hinggap di dadanya.

"Mengapa ... aku begitu lemah? Hingga tidak dapat menyelamatkan siapapun. Sekarang bahkan, aku benar-benar tak bisa melakukan apa-apa. Apa ini karma? Apa ini yang kalian inginkan? Bagaimana? Kalian senang bukan melihatku hancur seperti ini."

"Tenang saja, toh sebentar lagi, kita akan bertemu. Bertemu di alam baka yang tidak ada siapapun yang tahu tempatnya."

Karena cukup dua kali saja Kunikida kehilangan pegangan untuk hidupnya.

Penyesalan itu, terlambat untuk dirasakan. Tunggu, apa ... yang harus Kunikida sesalkan?

Yang harus Kunikida sesalkan adalah ia yang memegang idealisme rapuh dan bodoh. Idealisme yang berhasil 'membakar'nya dan 'menghancurkan'nya

.

.

.

.

Penyesalan

Story by KunikidaDerai

Request by Synstropezia-san

Bungou Stray Dogs by Kafka Asagiri and Sango Harukawa

I know this is not a good story, but I hope you enjoy it!

.

.

.

.

Anggap saya tidak ada /hilang

ini apa? /banting hp