Disclaimer : Naruto dan DxD bukan punya saya.

Rate : T

Genre : Hurt/Comfort, Romance.

Warning : AU/ Alternatif Universe.

Summary : sebuah kisah singkat tentang perpisahan. #Hurt/ComfortFI2020.


Malam yang indah dengan taburan Bintang yang menemani Rembulan, tapi terbanding terbalik dengan hatiku ini saat melihat kau memeluknya dengan kuat, seolah-olah kau tidak ingin dia pergi darimu. kau harus tau bahwa aku lebih mencintai dirimu, walaupun itu tidak mungkin karena kau sudah tenggelam akan perasaanmu pada dirinya.

Akeno..

"Teman-teman aku pergi dulu ya, aku lupa sekarang aku ada kerjaan di kedai." ucapku berbohong karena ingin segera pergi dari tempat itu agar tidak melihat kemesraan kalian, saat aku ingin pergi aku melihat Kiba yang memandang diriku sedih dan memandang kalian dengan tatapan tajam.

Aku memandang Kiba sambil menggelengkan kepalaku dengan pelan, memberi tahu dia bahwa aku tidak apa-apa. Bouchou hanya mengangguk sebagai balasan, aku pergi kesana dengan langkah tertatih karena pertempuran kita melawan Kokabiel itu cukup membuat tenaga ku terkuras.


Sekarang hampir satu minggu pasca serangan Kokabiel dan setelahnya diadakan pertemuan 3 Fraksi disekolah, tapi yang sedang mengganggu diriku bukanlah masalah Fraksi tapi tentang kedekatan yang kau tunjukkan padaku entah sengaja atau tidak yang membuat hatiku sangat perih.

Sekarang adalah kunjungan orang tua tapi aku tidak tertarik akan hal ini, karena aku memang yatim piatu dan tinggal seorang diri di Kuoh jadi tidak ada gunanya aku peduli dengan kunjungan orang tua ini. Aku yakin kau juga mengalami hal yang sama bukan? Akeno? kita sama-sama tidak memiliki wakil yang berada disini untuk kita, tapi kurasa kau bahagia karena bisa bertemu dengan orang tua Issei. kenapa aku bisa tau? karena itu terlihat jelas diwajahmu yang sedang tersenyum, bukan senyuman milikmu biasanya tapi senyuman yang lebih tulus.

Diruang Klub bahkan kau masih menempel padanya dengan erat, tapi sepertinya kau merasa terkalahkan oleh Bouchou dan pergi untuk kini duduk di samping ku, entah kenapa aku senang meskipun kau hanya berada di sebelah ku dan disaat bersamaan pula sebuah rasa sakit langsung terasa dihatiku. seolah aku hanya sebagai pelarian dirimu saja.

"Rias curang, bukan begitu Naruto-kun?" tanyamu padaku, aku hanya diam tanpa ingin menjawab pertanyaanmu dan lebih baik fokus pada kegiatanku membersihkan Kunai.

"Hei Naruto! kau kenapa sih?" tanyamu lagi, aku tidak menjawab dan kali ini memilih pergi keluar dari ruang klub.

"Bouchou! aku pulang dulu, nanti malam aku akan kembali lagi." ucapku lalu berlalu pergi tanpa keinginan menoleh kebelakang, aku tau kau pasti merasa keheranan atas kelakuan ku ini, maaf ini harus kulakukan agar perasaanku padamu hilang.

"Dia kenapa sih?" tanya Akeno saat Naruto sudah keluar dari ruang klub, Kiba yang melihat itu dari tadi hanya memutuskan untuk ikut keluar tapi sebelum itu dia ingin memberikan sebuah fakta pada Akeno.

"Seseorang tidak akan berubah tanpa sebab, seperti pahlawan, dia tidak akan muncul jika tidak ada masalah bukan?" jawab Kiba atas pertanyaan Akeno sambil ikut keluar dari ruang klub.


Dimalam pertemuan 3 Fraksi aku melihat pertempuran Issei sebagai Sekiryuutei dengan rival sejatinya yaitu Hakuryuuko, di pertempuran itu terlihat jelas perbedaan kekuatan Issei yang masih terlalu jauh dari Vali sang Hakuryuuko. Kau melihat dia dengan tatapan kagum dimatamu, sedikit cemas dan khawatir saat dia mendapat sebuah pukulan yang mendarat ditubuhnya.

Aku yang melihat itu hanya bisa diam dan lalu melawan para Majutsu yang berada dilapangan Kuoh, aku bisa mengalahkan mereka semua dengan mudah, tapi karena aku lengah membuat diriku tertusuk tongkat Majutsu hingga menembus tubuhku. sial! ini sangat sakit!

Akhirnya musuh dapat kami kalahkan dan Issei mengalami luka yang cukup parah sama denganku, tapi semua hanya khawatir pada dirinya. aku rasa itu hal yang wajar karena dia adalah Sekiryuutei menjadi kunci harapan mereka.

"Naruto bagaimana keadaan mu?" tanya Kiba padaku, aku hanya tersenyum lemah sebagai jawaban pertanyaan Kiba. kurasa aku harus pergi dari tempat ini sekarang juga, karena jika terlalu lama mungkin aku akan semakin sakit dibagian hati. heh~ ironi yang tidak keren.


Memang mungkin aku harusnya mengalah sekarang, dia bisa menyatukan dirimu dengan orangtua mu lagi, berbeda dengan diriku yang hanya bisa melihat dari belakang tanpa berbuat apa-apa.

Sejak kau bisa menerima keadaan orangtua mu, sekarang kau lebih dekat padanya dan sudah membuat diriku tidak bisa apa-apa untuk menarik dirimu agar melihat diriku. ah memang diriku sangat pengecut sekali.

Menyerah? ya kurasa kali ini benar-benar aku harus menyerah, lebih baik menjadi bayangan untuk melindungi mu dari belakang tanpa harus kau tahu, lagipula jika kau tau mungkin akan sama saja karena kau memang benar-benar mencintai dia.

Sebuah pemandangan yang sangat sakit kini tersaji, dimana kau mencium dia disana dengan sinar kasih sayang yang besar. sudah memang tidak ada harapan lagi sekarang.

Kini kita harus menyelamatkan Asia dari iblis kelas atas yang brengsek itu, kita hampir kalah saat melawan Ratu dan Bishop dari Diodora. tapi hanya karena beberapa kata dari Issei untuk mengajak dirimu berkencan dan kuyakin kau bersemangat karena bisa bermesraan dengan dia bukan? ah mungkin kalian akan berciuman lagi?


'Issei kau pria yang kuat dan sangat beruntung ya?' batin ku saat melihat bagaimana dirimu mengamuk dengan gila, bahkan Hakuryuuko juga kesulitan untuk menenangkan dirimu, hei kau harus cepat sadar Issei karena kau tidak boleh membuat mereka yang mencintaimu menangis bukan? ya kuserahkan orang yang kucinta untuk mu sekarang.

"Akhirnya kau sadar juga Gaki! hehe." kataku sambil terkekeh untuk menyembunyikan perasaan ku saat melihat orang yang kucintai ah maksudnya orang yang pernah kucintai memelukmu dengan erat, sungguh sangat sakit melihat itu meskipun sekarang aku sedang berusaha untuk menghilangkan perasaanku.

"Sekiryuutei kau akan jadi sangat kuat nanti." kata suara seperti gadis kecil tiba-tiba terdengar di pendengaranku, disana aku melihat seorang gadis kecil dengan pakaian gothik dan err sebuah lakban di bagian dada pribadinya yang berbentuk huruf X. lalu tiba-tiba muncul Naga berwarna merah dengan ukuran yang besar lewat dari celah kosong dan menghilang lagi, seolah-olah hanya datang untuk melihat.

"Dan kau! aku merasakan kekuatan yang sangat asing tapi kau memiliki takdir yang mengenaskan." tiba-tiba gadis itu menunjuku dan berkata bahwa aku memiliki takdir yang malang? ah mungkin dia tau tentang perasaan ku? mungkin saja bukan?


Hah tunggu? mana mungkin Issei mati bukan? tapi dari bidak pion yang dipegang Bouchou itu memang milik Issei, sial! lebih baik waktu itu ku halangi saja dia dan ku seret kesini.

Hah~ Issei kau memang sialan! liat kau membuat semua orang disini menangis lagi, terutama Akeno dan Bouchou mereka yang sangat shok kau tau? Akeno kini bahkan seperti boneka, ingin rasanya ku untuk menyemangati mu Akeno tapi aku sadar bahwa kau hanya perlu Issei untuk mengembalikan dirimu.

"Aku bisa membawa Issei kembali." kataku tiba-tiba membuat semua orang melihat kearah ku, aku melihat sekarang wajahmu sudah berbeda lebih cerah, memang sepertinya cara untuk mengembalikan dirimu hanya dengan Issei.

"Bagaimana?"

"Aku bisa, tapi kalian tidak boleh protes atau menghentikan diriku nanti. apakah kalian mampu?"

"Ya kami akan melakukan apapun." katamu dengan sinar harapan yang terpancar dari matamu, ah memang harus kulakukan ya?

"Baiklah, aku mulai."

Kalian memandang diriku dengan senyuman harapan, ah mungkin harusnya ku beritahu saja? tapi itu mungkin akan membuat kalian Shok, jadi lebih baik ku beritahu nanti saja.

"Shiki Fujin!" teriak ku mengeluarkan jurus yang bisa membawa Issei kembali. muncul sosok dewa kematian dibelakang ku yang tentunya membuat kalian terkejut.

"Gaahh! siapa yang memanggilku lagi ini." kata dewa kematian dengan suara yang serak dan berat.

"Aku yang memanggilmu Shinigami-sama."

"Kau! kenapa memanggilku Gaki?"

"Hamba hanya ingin membuat penawaran."

"Apa itu?"

"Bisakah Anda membawa roh teman saya?"

"Hmmm, aku bisa. tapi apa yang kau berikan untuk balasannya Gaki?"

"Nyawa Saya!" kataku sambil memandang Shinigami dengan tatapan, kalian yang mendengar ucapan ku pasti sangat terkejut, ingin sekali aku melihat raut wajahmu Akeno, tapi aku harus fokus untuk menyelamatkan Issei.

"Baiklah Gaki, karena sudah lama aku tidak mendapat perjanjian seperti ini jadi aku akan mengabulkannya." kata Shinigami sambil menyerahkan sebuah kristal berwarna biru padaku, aku menerima kristal yang mungkin adalah wadah dari jiwa Issei.

"Terimakasih, tapi bisakah kau berikan aku waktu sebentar sebelum kau mengambil nyawaku?" tanyaku berharap mendapat sebuah tambahan sisa waktu hidupku, Shinigami hanya menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba menghilang.

"Nah sekarang kita hanya perlu tubuh Issei untuk menaruh roh ini." kataku sambil mengangkat krisis biru itu.

"Aku bisa membawanya dan memberikan tubuh baru untuk Issei." tiba-tiba sebuah suara gadis kecil yang sama saat Issei lepas kendali terdengar diruangan, aku melihat kebawah disana ada anak kecil yang sama sedang memandang diriku dengan tatapan kosong.

"Apa kau bisa dipercaya?" tanyaku kearah gadis itu, dan gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. kurasa aku harus percaya akan hal itu karena aku mulai merasakan bahwa kematian ku semakin dekat, kuberikan kristal itu pada gadis kecil itu dan dia menerimanya dengan tangan kecilnya itu.

"Sudah kuduga kau memang memiliki takdir yang kejam." kata gadis kecil itu lalu menghilang di celah dimensi. aku kini bisa melihat kalian semua, dimulai dari Kiba yang tersenyum tapi dengan air mata yang keluar dari matanya, dan semua teman klub ku juga menangis sesenggukan.

"Hei kenapa kalian menangis seperti itu? harusnya kalian senang karena Issei akan hidup lagi bukan?"

Kulihat dirimu Akeno yang berjalan kearah ku sambil menundukkan kepalamu hingga membuat ekpresi mu tidak keliatan, mungkin saat ini kau sedang senang karena Issei akan hidup lagi, pria yang kalian sayangi akan hidup lagi.

"Kenapa kau melakukan ini?" sebuah pertanyaan keluar dari mulutmu, kenapa kau bertanya? seharusnya kau senang karena pria yang kau cintai akan hidup lagi Akeno.

"Apa maksudmu?" balasku yang penasaran kenapa kau memasang raut wajah itu, ya kesedihan yang terlihat dimatamu yang indah itu sama seperti saat kau kehilangan Issei.

"Kenapa kau mengorbankan dirimu!?"

"Aku... hanya ingin kau dan kalian semua bahagia."

"Tapi tidak perlu mengorbankan nyawamu!"

"Hanya itu caranya, kau sendiri setuju dengan persyaratan untuk tidak menghentikanku bukan?"

"Ta-tapi-"

"Shhh~ karena waktuku sudah tidak lama lagi aku ingin mengucapkan sesuatu padamu, bolehkah? anggap saja keinginan terakhirku."

"..."

"Kuharap itu iya, sebenarnya aku menyukaimu Akeno tapi kulihat kau lebih menyukai Issei jadi aku mengalah dan mengubur perasaanku padamu. kau tau kebahagiaan dirimu itu lebih penting, dan kumohon hadapi semua hal didepanmu nanti dengan kuat dan jangan lupa senyum."

"Hiks~"

"Aku mencintaimu, kuharap jika ada kesempatan kedua untuk kita bertemu lagi meskipun itu dalam kehidupan lain, tapi aku yakin di kesempatan kedua itu aku akan lebih berani dari diriku yang sekarang. Selamat tinggal Akeno, I hope we can meet in another life." kataku dengan menepuk kepalanya.

Cup!

Tanpa kuduga Akeno mencium diriku lalu melepaskan ciuman sepihak itu, kulihat wajahnya yang tersenyum dengan garis bening di pipinya yang mengalir. Manis rasanya manis sudah kuduga, rasanya memang manis seperti dirimu.

"Sampai jumpa di kehidupan lain, tunggu aku ya." kata-kata terakhir Akeno yang kudengar sebelum tubuhku menghilang menjadi abu, aku akan menunggumu, selalu menunggumu.

Aku mulai merasakan kesadaran makin menghilang, tapi aku sedikit senang karena hal yang kulihat terakhir kali adalah senyumanmu.

Sayonara Akeno...

End~


Ahhh akhirnya selesai juga, hah Fic Event memang sulit, tapi jika gk ikut Pak Bos marah-marah di Grup Whatsapp hadehh~ jika pengen ada yang gabung PM aja Akun ya wkwk, mohon dimaafkan kalo jelek karena tidak bisa genre ini hehe.

Adiue!

Shiraki out~


Bonus.

Di sebuah tempat dengan semuanya berwarna hitam didepan Issei, dia melihat ada sedikit Cahaya yang mungkin sebagai jalan keluar dari masalahnya. saat Issei mau menuju kesana Issei merasakan ditarik oleh seseorang untuk menjauh dari cahaya itu.

"Jaga Mereka Issei." ucap Sebuah suara Familiar bagi Issei, disana orang yang menariknya menjauh dari Cahaya adalah salah satu temannya yaitu Naruto yang menunju ke Cahaya itu.

"Oh Iya, jaga Akeno untukku!" kata Naruto sebelum Naruto masuk ke Cahaya putih itu dan membuat Issei seperti terjatuh, tapi dia masih bisa melihat Naruto tersenyum padanya.

'Apa yang terjadi!?'