Disclaimer: Naruto belongs Masashi Kishimoto

Genre: Hurt/Comfort

Rate: T

Pairing: Naruhina

Warning: Typo, OOC, AU, Etc.

Cover: Image from pinterest.

Summary:

Naruto cat hitam, dan Hinata cat putih.

Hinata adalah cahaya dan Naruto adalah bayangan.

Hinata membuat rencana dan Naruto mengacaukan nya.

"kita tidak akan berhasil, ayo akhiri saja." -Naruto

#Hurt/ComfortFI2020

Hidung mancungnya seolah mati rasa dengan sekitar, aroma nikotin dan alhokol yang menyeruat seperti sudah menjadi hal biasa baginya.

Dihisapnya tembakau filter yang sudah lebih pendek dari kelingkingnya itu, membiarkan gumpalan asap rokok berada di paru-parunya untuk sesaat, sebelum akhirnya kembali ia hembuskan secara perlahan.

Entah sadar atau tidak, Naruto sudah menghabiskan hampir dua lusin benda sejenis ini. Bibirnya sudah menghitam, kerongkongannya kering bersamaan dengan dada yang mulai terasa nyeri.

Tapi ia sama sekali tak ada niatan untuk berhenti, seolah semua rasa sakit yang kini ia rasakan memang adalah tujuan pria 24 tahun itu.

Dreet... Dreet...

Sebuah getaran dari ponsel mengalihkan atensinya.

Naruto membuang tembakau filter yang sudah terasa pahit itu asal. Meraih benda hitam pipih tersebut dalam kantung jaket denimnya. Decakan samar adalah respon pertama yang pria itu tunjukan begitu melihat nama kontak yang memanggilnya saat itu.

My lavender has calling you.

"Kenapa nelepon, sudah kubilang, aku ingin sendiri dulu!"

"Maaf"

"Ganggu tau gak! "

"Kenapa kamu marah, ini udah tiga hari. Setidaknya cerita padaku kenapa kamu menjauh."

Gadis itu mulai terisak.

"Sekarang kamu dimana, kamu ga kumpul sama temen-temen motor kamu kan? Enggak ngerokok lagi kan? Enggak minum—

"Ga usah tanya tanya dulu bisa gak!"

"Maaf... "

"Aku khawatir, seenggaknya tolong kasih kabar aku..."

Mereka sama-sama terdiam. Hanya Isakan Hinata dan suara kendaraan lewat dari tempat Naruto saja yang kini terdengar.

"Kita udahan aja."

"Enggak, aku ga bermaksud gitu. Aku cuma—"

"Dari pada kamu ribet sendiri coba!"

"Maaf... "

"Tapi aku khawatir sama kamu, itu aja. Aku bener bener sayang sa—"

Tut...

Panggilan telepon terputus, tidak. Naruto sendiri lah yang mematikan panggilan secara sepihak. Brengsek memang, tak hanya satu dua orang yang mengatakan hal demikian. Banyak, bahkan ayahnya sendiri menyebut pria itu sampah tak berguna.

Semua orang merendahkannya, kecuali satu. Kekasihnya itu, Hinata.

"Pria yang tak punya masa depan seperti kamu, tidak pantas bersanding dengan anak saya!"

Naruto menundukan kepalanya. Kalimat menyakitkan itu kembali terngiang bergitu saja, membuat dadanya kembali terasa sakit. Setelah mengakhiri telepon Hinata secara sepihak, Naruto langsung berlalu pergi dari sana. Meninggalkan teman-teman sesama brengseknya begitu saja tanpa berpamitan.

Meninggalkan motor gedenya di sebuah minimarket. Naruto memilih berjalan sendiri, tanpa ditemani payung atau apapun yang bisa melindunginya dari rintikan hujan langit malam.

Berjalan dengan tatapan kosongnya, Naruto menelusuri jalanan Prefektur Tokyo yang terlihat lenggang karna hujan sudah mulai turun dengan deras. Terlihat beberapa orang yang berlarian sembari menutupi kepalanya, mencari tempat berteduh.

Tanpa mempedulikan seluruh tubuhnya yang kini sudah basah, Naruto terus melangkah. Entah hanya kebetulan atau bagaimana. Tanpa ia sadari, kakinya seolah menarik Naruto pergi ke jembatan Ni-ju. Tempat dimana ia menyatakan perasaannya pada Hinata, sang kekasih. Ralat, mantan kekasih maksudnya.

Dengan terlahang reling dan tembok setinggi perutnya, Naruto melihat indahnya bentangan sungai Chiyoda yang dijatuhi air hujan.

"Jangan pernah berani menginjakkan kembali kakimu di rumah saya!"

"Tinggalkan Hinata, anak saya pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik darimu!"

Ketika pria itu kembali menudukan kepala, air matanya jatuh dengan bebas. Ia sudah berusaha menahan diri untuk tak menangis. Tapi semua kalimat hinaan padanya waktu itu terus saja menggerogoti kepalanya, rasa sakitnya menjalar sampai dada dan membuatnya merasa sesak.

Saat itu ia sama sekali tak melawan. Toh, semua kalimat hinaan yang dilayangkan pada Naruto itu memang benar adanya, Ia tak pantas untuk Hinata.

Hinata gadis dari keluarga utuh dan terpandang. Belum lagi kekayaan yang dimiliki keluarga keturunan asli bangsawan itu, sungguh tak terhitung.

Hinata gadis pintar, baik, dan memiliki pendidikan yang jelas. Menjadi mahasiswa S2 di usia 23 tahun tentu saja membuat gadis itu terkenal dengan sebutan jenius.

Hahaha, sungguh berbanding terbalik dengan dirinya.

Naruto hanyalah anak dari keluarga yang bercerai. Perselingkuhan ayahnya dengan sekertaris pria itu di kantor pada akhirnya terbongkar oleh Kushina. Membuat ayah dan ibunya memilih bercerai disaat Naruto yang saat itu masih menduduki bangku SMP.

Tinggal bersama pria yang suka bermain wanita sungguh membuat mental Naruto tak terkendali. Ayahnya sama sekali tak memperhatikan dirinya, pria itu hanya memberinya sekedar uang untuk makan dan sekolah.

Dan kutukan nakal anak brokenhome sungguh tak bisa Naruto sangkal. Ia benar-benar menjadi tak terkendali, Pergaulan bebas. Dari sanalah rokok dan alkohol mulai menjadi pelarian gelap Naruto dari dunia yang mengutuknya.

Jangankan Hiashi, ayah dari Hinata. Naruto pribadi saja, sangat benci dengan dirinya sendiri.

"Naruto... "

Suara panggilan itu cukup membuat Naruto tercekat di tempat. Isakannya seketika terhenti, ia kemudian menoleh dan mendapati seorang gadis yang memandangnya dengan tatapan khawatir.

"Hi-Hinata?" Naruto tentu terkejut dengan kedatangan Hinata. Di tambah saat melihat keadaan gadis itu yang sama dengannya. Tidak, bahkan lebih buruk. Selain seluruh tubuhnya yang basah karna air hujan, Naruto juga melihat dada Hinata yang berderu naik turun. Sepertinya ia sejak tadi berlarian tanpa henti.

"Kamu ngapain kesini!" Naruto melepas jaket denim birunya, kemudian menaungkannya pada tubuh kecil Hinata.

Hinata menelan ludah sejenak, sepertinya gadis itu masih berusaha menormalkan nafas dan detak jantungnya. "Kamu kenapa bilang putus sama aku..."

Hinata menarik nafas panjang, berusaha untuk tak terisak.

Naruto tersenyum kecil, kemudian kembali menunduk. "Kita gak akan berhasil, Hinata." Ucapnya lemah.

Hinata sadar, alasan kenapa beberapa hari ini pria itu menjauhi darinya. Naruto tentu sakit hati saat mendapati ayahnya yang sungguh menentang hubungan mereka. Lebih buruk nya tanpa Hinata duga sebelumnya, ayahnya itu akan langsung meminta ia meninggalkan Naruto, tepat di hadapan pria itu sendiri.

"Jangan gitu, kita udah sejauh ini."

"Apa kamu udah gak sayang lagi—"

"Apa aku terlihat udah gak sayang lagi sama kamu Nat!" Naruto kembali mendongkap dan menatap wajah Hinata.

Pandangan mereka beradu. Dapat Hinata lihat betapa frustasinya Naruto, sorot matanya menyiratkan ketulusan dan rasa lelah disaat yang sama.

"Aku sayang sama kamu, Hinata. Sangat... "

"Tapi ayah kamu juga benar, kamu gak akan bisa bahagia kalau sama aku. Hidup kamu akan suram jika bersanding dengan pria gagal sepertiku."

Gerakan tangan Hinata selanjutnya sungguh menyita perhatian Naruto. Kedua tangan putih gadis itu menangkup pipi Naruto, menepuknya pelan beberapa kali, "kamu tau dari mana aku ga bakal bahagia kalau sama kamu?" tanyanya lembut.

Naruto menggigit bawah bibirnya khawatir sebelum akhirnya kembali bersuara, "aku gak bisa apa-apa Nat. aku orang gagal, Aku bahkan ga lulus kuliah. Kamu akan susah kalau hidup sama aku, kamu bakal—"

"itu kan kata ayah... " potong Hinata.

"Naru menurut aku, bahagia aku itu ada pada kamu, " Hinata berjinjit lalu mendenkatkan wajahnya dengan Naruto, hingga kedua kening mereka saling bersentuhan, "aku sayang sama kamu, sangat. Mau kamu nyebut diri kamu orang gagal atau apapun, aku tetep sayang sama kamu. Kamu ga perlu mikirin semua sendirian, ada aku. Kamu juga bisa andelin aku. Kita lewati semua bersama, hemm."

Gadis bersurai gelap itu kemudian memeluknya, berharap bisa memberikan rasa nyaman dan sedikit kehangatan di antara dinginnya deras hujan dan angin malam.

Semua tindakan dan pernyataan panjang Hinata sontak membuat Naruto bungkam seketika, Ia tak tau harus bicara apa lagi.

Betapa brengseknya pria itu, setelah semua kekacauan dan rasa sakit yang ia berikan pada Hinata. Masih saja pria itu menginginkan Hinata menjadi miliknya, seutuhnya.

Naruto menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Hinata. Membalas pelukan gadis itu dengan nafas naik turun, pria itu menangis tanpa suara. Tapi telinga kecil Hinata dapat mendengar samar isakan pria itu yang teredam oleh suara deras hujan.

"Hinata, jika aku ajak kamu pergi jauh dari sini... apa kamu mau?"

FIN...

One-Shoot ini layak dibuatin Sequel gak?

Fict ini disediakan untuk event Grup FI.

Buat yang mau join bisa PM aku yah, disana kita bisa berbagi tips kepenulisan, dan sering juga membicangkan Karya milik masing-masing.

and Event seperti ini juga adalah kegiatan yang rajin kami adakan. So, kalau tertarik jangan sungkan buat PM Yups :D

Btw dah lama aku ga up fict di FFN wkwkw, aku selama ini aktif di sebelah.

But mulai sekarang aku juga mau aktif kembali nulis disini juga :)

See U