Regression

Disclaimer: Kimetsu no Yaiba sepenuhnya milik Gotouge-sensei.

Rated: T

Genre: Hurt/Comfort

Warning: Alternate Fact and Reality.


.

.

.

Pertarungan akhir dengan Muzan dan Upper Moon Demon sudah berakhir. Dampak yang dirasakan oleh umat manusia begitu besar. Sebuah contoh sederhananya adalah gugurnya lima orang Hashira pada pertarungan akhir dan ratusan atau bahkan ribuan anggota Kisatsutai.

Sakit rasanya jika kita harus menghadapi fakta pengorbanan yang harus dibayar begitu mahal. Hanya untuk menghabisi enam iblis paling berbahaya di seluruh daratan Jepang, nyawa yang harus berpindah dari dunia fana ke alam baka begitu banyak. Meskipun begitu, itu bukanlah sesuatu yang sia-sia. Kemenangan mutlak didapatkan oleh umat manusia.

Malam ini adalah tepat setengah tahun setelah pertarungan dengan Muzan dan seluruh bawahannya. Umat manusia membuat sebuah festival besar untuk merayakan kemenangan ini.

Sorak sorai terdengar di sana-sini, canda tawa para anak kecil yang pada akhirnya tidak perlu takut pergi keluar, ledakan bunga api di angkasa.

Coba tengok ke sebelah sana. Terlihat anak-anak berlarian membawa mainan, para orang tua yang meneriakkan peringatan kepada anak mereka. Semuanya begitu hidup. Tidak terlihat ada sedikit pun raut wajah sedih dan menyesal di sini. Semuanya sangat antusias.

Situasi ini begitu riuh. Ada seribu satu sukacita yang tersebar di sini. Memberikan sebuah kesan nyaman, senang, dan damai kepada seluruh insan yang berdiri di tempat ini.

Terlepas dari seluruh hal tersebut, ada satu orang yang berbeda dengan mayoritas orang.

Dia adalah seorang pemuda. Pemuda tersebut hanya duduk di sebuah taman yang cukup terisolir dari keramaian festival. Kedua matanya menyorot kosong pada kegelapan malam. Seolah menerawang jauh ke gugusan bintang yang berada jauh di luar angkasa. Tatapannya terasa pedih. Menyiratkan seribu satu rasa sakit dan kerinduan yang begitu mendalam bagi siapa pun yang melihatnya.

Namanya adalah Kamado Tanjiro.

Salah satu veteran perang yang berhasil hidup pasca pertarungan hidup dan mati melawan Muzan sang iblis pertama dan yang utama. Salah satu kunci kemenangan umat manusia yang begitu bersinar pada kalanya dulu.

Coba tarik dulu ke satu tahun yang lalu. Tanjiro adalah salah satu orang yang memiliki sebuah perkembangan luar biasa dalam hal teknik serta pola bertarung. Dia juga selalu dikenal sebagai sosok yang begitu hangat, optimis, dan penuh kasih sayang oleh seluruh anggota Kisatsutai. Namun, coba lihat dia sekarang ini.

Rambutnya kusut, tangannya terkulai lemas di samping badan, dan bahunya merosot ke bawah. Tidak memperlihatkan kesan tegap dan gagah layaknya seorang lelaki pada umumnya. Kedua matanya bahkan tidak terlihat bersinar seperti dulu.

Ya … dampak dari pertempuran itu begitu dahsyat. Tanjiro yang dulu merupakan seorang pemuda luar biasa bisa berubah 180.

Tidak ada lagi Tanjiro yang hebat. Tidak ada lagi Tanjiro yang selalu memberikan dukungan moral kepada rekan-rekannya. Tidak ada lagi Tanjiro yang selalu berteriak penuh semangat. Tidak ada lagi.

Tanjiro hancur. Baik secara fisik maupun psikis.

Seluruh tubuhnya sudah berubah menjadi seperti kakek-kakek yang tua renta. Tidak bertenaga dan menyedihkan. Lihat saja seberapa banyak bekas luka yang tertoreh di tubuhnya. Mulai dari kepala sampai ke ujung kaki pun pasti selalu ada bekas luka baik yang sepele maupun yang fatal.

Meskipun begitu, itu bukanlah sebuah luka yang sesungguhnya. Apa yang benar-benar membuat Tanjiro sampai seolah ingin mati saja adalah karena luka batin yang diterimanya.

Tentang satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa. Seseorang yang selalu diperjuangkannya selama setidaknya empat tahun terakhir. Seseorang yang selalu digendongnya kemana pun dia melangkah menebas kejamnya para makhluk nokturnal perenggut nyawa.

Ada sebuah nama yang tebersit di pikirannya.

Tatapan Tanjiro langsung menyendu ketika dia mengingat sebuah nama yang memberikan dampak mendalam baginya. Air mata terkumpul di ujung kedua netranya.

Giginya bergemeletuk kesal. Tangannya mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Pundaknya bergetar pelan. Emosinya benar-benar memuncak sekarang.

Dia marah.

Tanjiro marah!

Ya! Dia begitu marah pada dirinya sendiri. Jika saja dulu dia cukup kuat untuk menggenggam kuasa atas dirinya sendiri, hal yang seperti ini pasti tidak akan pernah terjadi.

Air mata sarat akan penyesalan turun begitu deras dari sudut matanya. Isakan tangis mulai terdengar pelan sebelum pada akhirnya mengeras.

Pikirannya melayang jauh. Memutar kembali seluruh memori yang pernah dilaluinya semasa hidupnya. 17 tahun hidupnya ini, dia hanya ingin mengingat seluruh hal yang pernah dilakukannya. Bukan yang dilakukannya sendiri, tetapi yang sudah dilaluinya bersama sang adik tercinta beserta seluruh anggota keluarganya yang lain.

Kini seluruh atensi pikirannya terfokus pada satu hal.

Jika saja Si Keparat Muzan tidak memberikan sebuah segel kutukan iblis kepada diri Tanjiro, hal yang seperti ini tidak akan pernah terjadi. Tanjiro tidak akan pernah menggila lalu menyerang secara membabi buta. Tidak akan ada hal yang nyaris membuat Tanjiro gila.

Memori pedih perlahan terputar. Ini adalah tentang pertarungan akhirnya dengan Muzan.

Kala itu, tepat setelah Tanjiro menusukkan bilah pedangnya di jantung iblis pertama, Muzan mewariskan darah serta seluruh kemampuannya kepada Tanjiro. Harapan Muzan adalah supaya jika dia sebagai 'Yang Pertama Dikutuk' tidak berhasil menaklukkan dunia maka ada seseorang yang berhasil menggantikan perannya. Tanjiro adalah pilihan prioritasnya.

Kutukan Muzan berhasil diturunkan kepada Tanjiro. Pemuda berambut merah gelap itu dengan cepat bermutasi menjadi entitas berbahaya yang tidak berakal. Tanjiro menggila. Dia memasuki sebuah ranah terlarang ketika para iblis sudah dalam emosi tertingginya, Berserk.

Tiga buah ekor tulang mencuat dari belakang tubuhnya. Mengibas kesana-kemari dengan potensi bahaya yang mengerikan.

Empat orang yang berada di dekat tubuhnya tewas karena tebasan ekor tajam Tanjiro.

Empat orang anggota Kisatsutai yang mendedikasikan segenap jiwa raganya demi kemenangan umat manusia dalam melawan kejinya para iblis.

Dari empat orang yang terkena tebasan itu, ada satu gadis yang secara sengaja mendekat kepadanya dan memeluknya dengan penuh kasih. Gadis itu tidak peduli bahwa Tanjiro sudah memasuki tingkatan yang sepenuhnya berbeda dari Tanjiro yang biasanya.

Alhasil, salah satu ekor Tanjiro menusuk tubuh gadis tersebut.

Tepat saat itu, langit yang sudah mendung, meloloskan butiran airnya.

Nezuko … gugur.

Secara ajaib, Tanjiro membeku dan kehilangan kesadarannya sendiri. Ada satu hal yang sangat pasti. Dalam pingsannya, Tanjiro menangis. Begitu pula semesta yang menangis karena kematian Nezuko. Menurunkan hujan yang begitu deras dengan kesedihan yang turut serta dalam setiap tetesan airnya.

Kini Tanjiro merasakan air matanya semakin deras turun dari kedua netra miliknya. Dadanya kini serasa dihujam pedang berkarat yang ditarik sangat pelan. Memberikan rasa yang begitu menyakitkan dan menyiksa raga dan sukma.

Jika saja dia tidak terkena kutukan, maka Nezuko tetap akan ada di dunia ini. Meskipun begitu, tetap saja dia yang telah membunuh adiknya sendiri meskipun tanpa disadarinya.

Sudahlah … Tanjiro ini mengakhiri hal ini secepatnya. Dia lelah. Dia kesal. Dia hancur.

Dia ingin mati saja!

Sebuah kalimat yang selalu menghantui pikirannya kini kembali menerjang bagai badai kehancuran.

"Nezuko meninggal dan itu adalah fakta."

Mutlak dan tidak terbantahkan.

"Aaarrghh!"

Lengkingan teriakan terdengar begitu keras. Seluruh emosi yang membuncah di dalam dadanya kini seperti berlomba-lomba untuk keluar dari kekangan.

Emosinya benar-benar berada di titik tertinggi sekarang. Tanjiro marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga kelangsungan hidup adiknya. Dia benar-benar ingin pergi ke alam sana untuk menemui Nezuko dan meminta pengampunan sebesar-besarnya. Bahkan jika sang adik ingin menghujamkan pedangnya kepada Tanjiro sendiri dia rela. Jika itu dilakukan untuk menebus dosanya sendiri, maka Tanjiro tidak ragu untuk memohon kepada Shinigami.

Pikirannya kalut. Tanjiro tidak bisa berpikir jernih sekarang.

Mati.

Mati.

Mati.

Kumohon biarkan aku mati saja, Sialan!

Itu adalah satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya. Dia begitu terpuruk. Tidak diragukan lagi bahwa mentalnya masih sangat terguncang bahkan setelah enam bulan berlalu.

Tepat di detik disaat Tanjiro berpikir bahwa dia ingin mati ini, ada sebuah hal yang menerjang tubuhnya.

Perasaan ini, bau harum ini … entah kenapa terasa begitu familiar. Terasa sama dengan aroma dan nyaman pelukan Nezuko.

"Sudah tidak apa-apa, Tanjiro."

Persetan dengan itu semua! Dia benar-benar lelah. Tidak ada lagi obat untuk luka batinnya. Sudah terlalu dalam dan tak tersembuhkan.

Jiwanya sudah rusak sekarang.

Tanjiro merasakan rengkuhan pada tubuhnya semakin mengerat. Seolah berusaha membagi seluruh perasaan sedih dan terpuruk yang sedang membumbung tinggi. Hal ini entah kenapa membuat tubuh Tanjiro melemas. Air matanya semakin deras mengalir. Rasa bersalah tentang kematian adiknya kini semakin tinggi. Begitu frustrasi rasanya. Begitu putus asa.

"Tanjiro, aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kumohon, jangan pernah melakukan segala hal yang kau pikirkan itu." Dua kalimat itu mengalun begitu lembut. Sarat akan kasih dan cinta.

"Ke-Kenapa …? Semuanya memang salahku! Jika saja … Jika saj—"

"Sudahlah. Semua yang sudah terjadi bukanlah salahmu. Apa yang telah terjadi sepenuhnya berada di luar kuasamu. Sekeras apapun kamu mencoba, tidak akan ada hal yang berbeda. Percayalah kepadaku."

Rahang Tanjiro kembali mengeras. Dia menggerakkan kedua tangannya untuk mendorong paksa tubuh mungil gadis yang sedang memeluknya. Tanjiro mengunci tatapannya dengan sepasang iris ungu yang menatapnya terkejut.

"Bukan salahku?! Faktanya, Nezuko benar-benar terbunuh karena ekorku! Bukan salahku kau bilang?! Katakan dimana letak kebenaranku! Katakan, Kanao!" pekik Tanjiro histeris. Kedua iris merah gelapnya terlihat sedih, marah, dan begitu tersiksa. Ada seribu penyesalan yang terproyeksi di dalamnya.

"Lalu kenapa? Apa yang mau kamu lakukan?" jawab Kanao dengan sebuah pertanyaan. Tatapannya yang semula terlihat terkejut, kini sudah berganti menjadi lebih tegas. Bahkan lebih condong ke arah marah.

Tanjiro terdiam.

"Kamu mau bunuh diri? Kurasa otakmu benar-benar sudah rusak, Tanjiro. Kamu pikir hanya dengan kematian maka seluruh permasalahanmu akan terselesaikan?" tanya Kanao sinis. Dia benar-benar tidak paham lagi dengan pola pikir Tanjiro.

"…"

"Jawab aku, Tanjiro!"

"Lalu apa lagi?! Kumohon … katakan padaku … apa lagi yang bisa kulakukan?"

Balasan cepat Tanjiro dengan nada tinggi berangsur-angsur melemah. Suaranya begitu parau. Sangat cukup untuk menjelaskan bahwa dia sudah berada pada batasannya. Dia kehilangan arahnya sendiri. Benar-benar tersesat dalam kabut penyesalan.

Kedua tangan Kanao bergerak menuju ke pipi Tanjiro. Dia menangkupkan kedua telapak tangan mungilnya guna membingkai wajah Tanjiro.

"Aku tahu seberapa frustrasinya engkau. Ingatlah bahwa aku juga kehilangan Shinobu Nee-san dalam pertarungan kemarin. Aku juga kehilangan Kanae Nee-san beberapa tahun silam. Meskipun begitu, aku tidak pernah berpikiran untuk segera menyusul mereka di alam selanjutnya. Aku memahami betapa hancurnya hatimu karena mendapat realita bahwa adikmu terbunuh oleh tanganmu sendiri yang seharusnya melindunginya. Namun, itu bukan membuatmu harus memilih jalan untuk mengakhiri hidupmu sendiri," ucap Kanao lembut.

"…"

"Kau tahu, meskipun aku belum pernah berbicara secara langsung dengan Nezuko, tetapi ketika melihatnya menghampirimu di pertarungan akhir, aku menyadari sesuatu. Nezuko adalah gadis yang baik. Seluruh kasih sayangnya hanya ditujukan kepadamu seorang. Dia bukan seorang pendendam, Tanjiro. Biar kutanya satu hal padamu sekarang. Kira-kira, ekspresi apa yang akan terpasang di wajah Nezuko ketika melihatmu mengakhiri hidupmu sendiri?"

Tubuh Tanjiro tersentak.

Dia benar-benar tidak terpikir oleh hal itu. Memorinya kembali ke masa ketika dia masih hidup dengan keluarganya secara lengkap.

Ketika dia melakukan kesalahan apapun, Nezuko tidak pernah memarahinya. Dia hanya tersenyum dan memberikan sebuah nasihat dan solusi kecil yang mungkin tidak pernah dipikirkannya.

Tanjiro tidak bisa membayangkan betapa kecewanya Nezuko dan seluruh anggota keluarganya nanti ketika bertemu dengannya di alam sana jika Tanjiro menyusul dengan cara yang memalukan seperti membunuh dirinya sendiri.

Kepala Tanjiro menunduk. Kedua pegangannya kepada bahu Kanao mengendur.

"Sudah saatnya melangkah, Tanjiro. Masa lalu akan selalu ada, tetapi bukan sebagai penghalang kita dalam melangkah maju. Jadikan hal tersebut sebagai pelajaran dalam pendewasaan diri kita sendiri."

Ya, itu benar. Apa yang dikatakan oleh Kanao tadi sepenuhnya benar. Tidak seharusnya Tanjiro berlarut-larut dalam kesedihan yang telah berlalu. Lagi pula, segala hal yang terjadi memang diluar kuasanya. Tidak ada yang bisa dia lakukan terhadap hal itu. Nezuko pun pasti juga memahaminya. Apa yang dilakukan oleh Nezuko dapat dipastikan merupakan niatnya untuk menyelamatkan Tanjiro meskipun bergantung pada mukjizat dengan prosentase kemungkinan yang nyaris nol.

Kanao memegang kedua tangan Tanjiro. Dia menarik Tanjiro sehingga sekarang Tanjiro berdiri sepenuhnya.

Tanjiro menatap Kanao dalam. Kini dia berdiri dalam diam. Secara mental, maka dia dipaksa untuk berdiri dari posisinya tersungkur dalam kubangan penyesalan.

Sudah saatnya dia melangkah menuju kehidupan yang baru. Penyesalan yang menghinggapi hatinya secara perlahan terkikis.

Sebuah senyuman manis terlukis di wajah cantiknya.

"Ke festival?"

Tidak ada jawaban verbal. Tanjiro hanya menatap dengan mata yang masih memerah. Meskipun begitu, entah kenapa Kanao seperti mendapat sebuah jawaban 'iya'.

"Kalau begitu, pegangan yang erat ya! Di depan sana ramai lho!" seru Kanao dengan nada ceria.

Mereka melangkah ke depan. Bersamaan dengan Tanjiro yang juga melangkah meninggalkan seluruh perasaan menyesalnya di bangku taman yang didudukinya tadi. Seluruh perasaan terpuruk, sedih, dan segalanya yang semacam itu ditinggalkannya.

Bertepatan dengan ini, dia melangkah kepada kehidupannya yang baru. Kehidupan Kamado Tanjiro tanpa Kamado Nezuko.

Kepala Tanjiro menengok ke belakang untuk melihat kursi yang didudukinya tadi.

Kedua matanya melebar dan tubuhnya menegang.

Seorang gadis berambut hitam duduk di sana dengan senyuman merekah. Tangannya melambai kalem pada Tanjiro. Seolah menyuarakan perpisahan yang bahagia.

Air mata Tanjiro kembali turun. Dia begitu merindukan wajah itu. Begitu cantik dan anggun. Wajah seorang adik yang dikasihinya sepenuh hati. Kamado Nezuko.

Tanjiro menutup matanya dan tersenyum. Kepalanya menoleh ke depan. Mengikuti arus yang dibawa oleh Kanao sang penyelamat jiwanya.

"Terima kasih, Nezuko. Maafkan aku."

Dengan ini selubung penyesalan yang membungkus jiwa Tanjiro tersingkap.

Dia siap untuk hidupnya yang baru.


END—


Halo semuanya! Sylvathein di sini. Karena saya baru di fandom ini, maka salam kenal!

Ini adalah kali pertamanya saya keluar dari zona nyaman fandom NaruDxD yang sudah jadi fandom andalan selama setidaknya empat tahun terakhir.

Ngomong-ngomong, maafkan saya karena membunuh Nezuko tercinta demi kelancaran fiksi ini T.T)

.

Oke, curhatnya sampai sini saja.

Fiksi ini dibuat untuk ikut meramaikan event #Hurt/ComfortFI2020.

Hei! Apa sih FI itu? FI adalah singkatan dari Fanfiction Indonesia. Sebuah wadah yang menampung para reader maupun author dunia biru FFn untuk berdiskusi dan saling berbagi pikiran. Fanfiction Indonesia sendiri berupa sebuah group chat di media sosial Whatsapp yang dibentuk oleh Author FI. BijiBapakMu.

Well, FI sendiri beranggotakan banyak penulis dan pembaca yang cukup aktif dan selalu ribut dalam berdiskusi. Ada sebuah kesan yang unik dalam grup ini. Mulai dari penulis yang dikira sudah meninggal lantaran tak kunjung update, para sepuh yang udah berpengalaman, penulis pemula seperti saya, bahkan yang masih berstatus sebagai pembaca dan berusaha naik tingkat menjadi penulis.

Berminat untuk bergabung? Silahkan PM bapak founder narsis kami, FI. BijiBapakMu. Hilangkan tanda spasi antara FI. dengan pennamenya ya. Saya tulis demikian karena setiap saya nulis tanpa ada spasinya selalu ilang sih soalnya :"

Terima kasih!