Pahlawan.

Mereka memanggilnya dengan sebutan itu. Mereka mengelukannya dengan gelar itu. Mereka menaruh kepercayaan dan harapan pada sepenggal kata itu.

Orang yang dulunya mereka hina. Orang yang dulunya mereka jauhi. Orang yang dulunya mereka buang, kini telah berdiri dengan gagah berani. Walau kedua pundaknya seringkali terasa tak sanggup lagi untuk memikul seluruh beban berat dan tanggung jawab yang disematkan kepadanya, ia tetap bertahan.

Ya, ia memilih untuk tetap bertahan di dunia yang busuk dan penuh teror ini.

Mengapa?

Karena iya yakin dan percaya, semangat api yang menggelora di dada akan menghangatkannya ketika tubuhnya menggigil ketakutan. Karena ia yakin dan percaya, semangat api di dada akan selalu melindunginya dari segala cobaan dan rintangan yang menghadang. Karena ia yakin dan percaya, semangat api di dada akan selalu memberinya kekuatan agar ia tetap bisa berdiri tegak untuk menentang ketidakadilan takdir.

Namun, ketika sumbu tak lagi tersisa, bagaimana api itu akan tetap menyala?

.

Semangat Api by Regaliaz

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: Oneshot, Fem!Sasu, Alternate Reality

#Hurt/ComfortFI2020

.

Kawah dan kubangan yang terlihat di mana-mana menjadi bukti betapa dahsyatnya pertarungan yang telah selesai beberapa saat lalu. Mayat manusia berserakan dalam jumlah yang sangat banyak menimbulkan bau busuk yang begitu menyengat, lebih dari cukup untuk membuat setiap tarikan napas terasa begitu menyakitkan.

Sesosok pemuda mendongak ke langit. Surai pirangnya melambai diterpa angin. Ia merupakan salah satu dari sedikit penyintas pada perang ini.

Aneh ...

Padahal kubunya meraih kemenangan, tetapi mengapa hatinya terasa begitu kosong? Ia tidak tahu perasaan apa ini, tetapi satu hal yang ia ketahui: ia tidak menyukai sensasi busuk ini.

Lutunya jatuh bersamaan dengan mentalnya yang hancur berkeping-keping. Isi kepalanya terasa begitu kacau, berbagai macam pikiran melintas di benaknya.

"Pahlawan?" Ia tertawa sinis. "Jangan bercanda, sialan!"

Bahunya bergetar. Perutnya terasa berputar, memaksanya untuk memuntahkan semua yang telah ia makan.

Ia melihat sekelilingnya, lalu mencengkeram kepalanya sendiri. "Maafkan aku!" ucapnya entah kepada siapa. Netranya benar-benar telah kehilangan cahaya harapan, menyisakan lautan keputusasaan.

"Maafkan aku ... maafkan aku maafkan aku maafkan aku maafkan aku maafkan a—"

Seseorang menyentuh bahunya. "Hei, kau tidak apa-apa?"

Ia mengenali suara ini.

"Sasuke," lirihnya tanpa menoleh. "Aku tidak ingin melihat mimpi buruk ini lagi. Persetan dengan tanggung jawab! Orang sepertiku tidak akan pernah bisa menyelamatkan apapun."

Hati Sasuke mencelos melihat kondisi Naruto. Ia belum pernah melihat Naruto yang begitu jatuh seperti ini. Ia bersimpuh di hadapan Naruto dan menatapnya dengan tegas. "Itu tidak benar!"

"Itu benar!" potong Naruto dengan cepat.

Sasuke menyentuh kedua tangan Naruto. "Itu tidak benar ...," ulangnya dengan lembut

"Sudah kubilang itu be—"

"Lalu aku ini apa?!"

Naruto membeku, tidak tahu harus membalas seperti apa.

"Llihat aku! Apa kau tidak menganggapku?"

Mata Naruto membulat, tenggorokannya terasa tercekat. "A-aku tidak bermaksud seperti itu ..."

Sasuke memeluk tangan Naruto di dadanya. "Kau telah menyelamatkanku, kau telah menarikku dari jurang kegelapan, kau akan selalu menjadi pahlawan di hatiku, jadi jangan pernah mengatakan hal menyedihkan seperti itu!

Topeng yang selama ini Naruto pakai telah mencapai batas. Matanya terasa panas, air mata yang selama ini setetespun tidak ia biarkan jatuh telah membasahi pipinya.

Sasuke mendekap kepala Naruto dengan erat. "Aku akan selalu berada di sisimu," bisiknya di telinga Naruto.

.

`.`

.

Meskipun hujan turun semakin deras, Naruto tetap bergeming dari tempatnya. Matanya tertuju pada batu nisan yang berukir nama teman setimnya.

"Naruto, kau bisa sakit jika di sini terus." Sasuke menarik pelan lengan baju Naruto. Namun, tidak ada respon yang ia dapat. "Naruto ..."

"Ini salahku," desis Naruto.

Sejak perang selesai, Naruto terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Sakura. Hal itu membuat Sasuke tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya.

Bagaimana jika Naruto melakukan hal nekat karena merasa bersalah? pikir Sasuke.

Entah sejak kapan Sasuke selalu berpikir berlebihan jika itu menyangkut Naruto. Ia tahu Naruto yang sekarang bukan lagi bocah naif yang ceria dan selalu berkoar-koar akan menjadi hokage. Namun, justru itulah yang membuat Sasuke menjadi sangat khawatir terhadapnya. Jika Naruto tetap terus-terusan menyalahkan dirinya seperti ini, mentalnya akan benar-benar hancur.

Ia harus mengambil tindakan tegas sebelum semuanya terlambat.

"Naruto," hardik Sasuke. "Sudah cukup! Kau tidak bisa terus-terusan bersikap seperti ini." Ia menarik lengan Naruto. Ia tidak peduli jika Naruto akan membencinya. Apapun yang terjadi, kali ini gilirannya untuk menyelamatkan Naruto.

"Sasuke, lepaskan aku!" Naruto berusaha menarik lengannya.

"Tidak akan."

"Lepaskan, jangan paksa aku!"

"Sudah kubilang, tidak akan!"

Rahang Naruto mengeras. "Kenapa kau seperti ini? Apa kau tidak sedih Sakura-chan meninggalkan kita?" Ia sedikit meninggikan suaranya. Namun, Sasuke tidak gentar.

"Tentu saja aku sedih," sanggah Sasuke. "Tetapi bukan berarti kau harus berdiri di depan makamnya selama seharian penuh! Apa kau pikir dia akan senang jika kau jatuh sakit hanya karena kau tidak mau beranjak dari makamnya?"

Mata Naruto membulat. Ia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah. "Hanya karena, kau bilang?"

Kali ini Naruto menarik lengannya dengan kuat hingga membuat Sasuke sedikit terdorong ke depan.

"Apa yang kau tahu?! Mungkin kau memang tidak ada hubungannya, tetapi aku telah gagal melindunginya, aku telah gagal menyelamatkannya!" Kepalan Naruto mengeras. "Pahlawan macam apa yang tidak bisa melindungi orang-orang yang dia sayangi? Perutku mual setiap kalian terus-terusan memanggilku dengan sebutan itu!"

"Kalau begitu berhentilah menjadi pahlawan!" Bibir Sasuke bergetar. "Kau tidak perlu menjadi pahlawan untuk semua orang, kau tidak harus."

Sasuke berjalan mendekati Naruto, lalu memeluknya dengan erat. "Tetapi kumohon, jangan terus-terusan seperti ini. Aku tidak ingin kau hancur." Tangisan Sasuke pecah di dada Naruto.

Naruto tidak tahan melihat Sasuke seperti ini. Ia memang sedih dan depresi, tetapi bukan berarti ia ingin membaginya dengan orang lain. Cukup ia sendiri yang menanggung semua beban ini. Cukup ia sendiri yang memikul semua beban ini. Ya, cukup ia sendiri...

"Berhentilah menanggung semua ini sendirian," bisik Sasuke. "Kumohon ..."

Naruto tidak menjawab maupun menyanggah perkataan Sasuke. Yang ingin ia lakukan saat ini hanyalah membalas pelukannya.

.

`.`

.

Semilir angin terasa begitu menyejukkan, ditambah pemandangan Desa Konoha yang indah dan hijau. Bukit di atas patung hokage memang sejak dulu telah menjadi tempat favoritnya jika sedang ingin menyendiri. Namun, kali ini mungkin bisa disebut menyendua?

"Apakah menurutmu aku harus menerima tawaran itu?" tanya Naruto tanpa menoleh.

"Tentu saja," jelas Sasuke. "Bukankah itu mimpimu sejak kecil?"

Naruto diam mendengar jawaban Sasuke. Ia masih ragu akan pilihannya.

Kali ini ia memutar badannya menghadap Sasuke. "Apakah ... aku pantas setelah semua yang gagal kulindungi?"

Sasuke menghela napas. "Dengar," ucapnya. "Kau tidak gagal, buktinya kita masih melihat Desa Konoha saat ini. Bahkan menurutku tidak ada yang pantas selainmu."

Naruto menggaruk tengkuknya, lalu mengalihkan wajahnya. "Yah mau bagaimana lagi kalau kau memaksa seperti itu."

Sasuke tersenyum kecil. Ia senang Naruto yang dulu telah kembali secara perlahan. Sebuah pikiran iseng melintas di kepalanya.

"Aku tidak memaksamu," sanggahnya. "Jika kau tidak mau, mau bagaimana lagi, aku yang akan menjadi hokage."

Sasuke tidak benar-benar serius mengatakan itu. Ia hanya ingin menjahili Naruto sedikit.

Naruto terkekeh. "Kalau begitu, 'kita' yang akan menjadi hokage."

Mata sasuke membulat. Ia bukan gadis bodoh. Ia betul-betul mengerti apa maksud ucapan Naruto. Namun, entah kenapa ia tidak memiliki keberanian untuk mengalihkan pandangannya ke arah Naruto.

"Kau bilang apa barusan?"

"Entahlah, coba kau tebak."

Wajah Sasuke terasa panas. Kau kira kau menang, huh? batinnya.

Hari itu Naruto terlalu mengendurkan pertahanannya, sampai-sampai ia tidak sadar kalau bibir Sasuke telah menyentuh bibirnya.

.

Jika apimu meredup, pasti selalu ada mereka yang akan berbagi denganmu.

End

A/N: fic ini dibuat dalam rangka mengikuti event #Hurt/ComfortFI2020. Bagi yang mau join, silahkan pm author

Pertanyaan: Mengapa banyak kata yang diulang?

Jawaban: Supaya wordnya keliatan banyak xD