Ninja and Ice Queen Arendelle.

Disclaimer : Naruto dan Frozen bukan milik saya.

Summary : Naruto sedang melakukan eksperimen dengan jurus miliknya, tapi itu malah membuat dirinya terlempar ke dimensi lain dan membuat tubuhnya menjadi kecil kembali dan dia bertemu seseorang yang mirip masa kecilnya. sebuah Cerita yang dibuat hanya untuk kepuasan Author.

Warning! Sebuah cerita yang dibuat hanya untuk kepuasan Author.

Rate : T semi M

Shiraki


Naruto duduk diam diatas pohon yang mengarah ke Black Sea yang kini tidak terlalu menyeramkan lagi, ia melihat pemandangan permukaan laut yang tenang, lalu Naruto menolehkan kepalanya untuk melihat ke tepian pantai, lalu tiba-tiba Naruto terkena tetesan air dihidungnya.

'Hujan kah?' batin Naruto sambil melihat keatas langit, awan biru tadi kini mulai berubah menjadi abu-abu pekat. Tak lama kemudian hujan turun dengan deras, laut yang tadi tenang juga mulai bergelora dengan ombak-ombak yang besar.

"Lebih baik aku segera pulang," gumam Naruto yang langsung melompat dari atas pohon, lalu ia mendarat dengan sempurna tanpa suara.

Naruto langsung berlari pelan ke rumah kecilnya, dimana dua malaikat sedang menunggu dirinya. Naruto berlari hingga ia melihat Roh tanah yang sedang berdiri, Naruto langsung melompat kepohon didepannya dan langsung melompat kembali ke bahu raksasa batu itu, raksasa itu sendiri juga melihat Naruto tapi ia tidak menyerang Naruto seperti dulu tapi malah mengangkat tangannya kedepan seolah membuat jalan untuk Naruto berlari. Naruto yang melihat itu langsung tersenyum kecil, lalu ia berlari di lengan raksasa itu dan melompat tepat diujung tangannya.

Naruto melompat cukup tinggi, hingga ia melihat tempat yang dulu adalah bendungan tapi kini berubah menjadi sebuah air terjun karena tidak ada yang menghalangi airnya lagi, dan ia juga melihat sebuah rumah yang cukup sederhana yang tidak terlalu jauh. Lalu tepat saat Naruto akan jatuh ke bawah, tiba-tiba sebuah angin dengan beberapa daun muncul di dekatnya, angin itu adalah Roh angin yang kini sedang bermain-main dengan mengitari tubuh Naruto yang terjun bebas, lalu saat hampir mencapai tanah Naruto melayang tepat beberapa senti diatas tanah.

"Terima kasih, Gale." ucap Naruto kepada Roh angin itu, sedangkan Roh angin itu membalas perkataan Naruto dengan bergerak bebas. Naruto hanya tersenyum tipis, karena persis yang dikatakan Elsa bahwa Gale lebih mirip seperti Olaf yang suka bermain-main.

Naruto berjalan dengan Gale yang mengikutinya, cukup lama mereka berjalan hingga akhirnya mereka melihat sebuah rumah sederhana dengan gaya Jepang, rumah ini adalah rumah Naruto dan keluarga kecilnya, kenapa bergaya Jepang karena Elsa yang ingin rumah ini seperti itu dengan alasan dia ingin merasakan suasana di tempat Naruto. Sedangkan Naruto hanya bisa menuruti keinginan Elsa akan hal itu, jadi sekarang seperti inilah model rumah sederhana Naruto dengan terdiri dari beberapa ruangan dan memiliki lantai dua untuk tempat anaknya.

"Aku masih heran, kenapa Elsa meminta rumah bergaya seperti ini?" gumam Naruto sambil melihat rumahnya, ia tidak mempedulikan hujan yang terus mengguyur tubuhnya itu.

"Kau tidak akan pernah tau isi pikiran wanita, percayalah karena aku sudah melihatnya sendiri." balas Naruto dipikirkan Naruto, sedangkan Naruto sendiri menghela nafasnya lelah. Saat masih asik melamun, tiba-tiba pintu terbuka menunjukkan sosok Elsa yang mengenakan celemek.

Naruto tersenyum, "Hei Elsa! mau ikut?"

Elsa melihat Naruto dengan senyuman manis, tapi Naruto tidak merasakan hawa bersahabat dari senyuman istrinya itu.

"A-Ano..." Naruto mendekat kearah pintu dengan menggaruk kepala bagian belakangnya.

"Naruto..." Elsa memandang suami pirangnya itu dengan mata yang sangat menakutkan bagi Naruto.

"Maafkan aku!"

Tepat setelah dia berada didepan Elsa, Naruto langsung sujud didepan istrinya itu karena melihat senyuman Elsa dan tatapan datarnya, Elsa yang melihat Naruto yang sedang bersujud didepannya hanya bisa memegang dahinya yang entah mengapa tiba-tiba merasakan nyeri.

"Hah~ Naruto..."


Skip Time

Naruto kini duduk di depan perapian, tampaknya ia selesai mandi dan sedang menghangatkan diri didepan perapian.

Sedangkan Elsa ia sedang sibuk di dapur, ia terlihat tengah membuat sesuatu, terlihat dari gerakan tangannya yang lincah. Tampaknya sosok Ratu-ralat mantan Ratu itu sudah sepenuhnya berubah menjadi istri, jika itu Elsa yang dulu ia pasti akan kebingungan. Tapi semua itu sudah berubah semenjak ia melepaskan tahta miliknya dan memilih untuk menikmati hidup bebas dan bersuami.

"Papa sih, kenapa main hujan-hujanan! Mama jadi marah kan?" ucap Serena yang sedang duduk disamping Naruto, sedangkan Naruto yang dimarahi lagi oleh anaknya hanya bisa nyengir.

"Percuma kau nasehati Papa mu itu nak, Papa mu memang nakal." timpal Elsa sambil membawa sebuah mangkuk yang mengeluarkan asap, Serena melihat ke ibunya dan tersenyum.

"Ugh!" Naruto yang dinasehati oleh dua perempuan yang ia sayangi hanya bisa diam, karena biasanya ia yang memberikan nasehat kepada orang lain. Sungguh kenyataan yang lucu, sedangkan Kurama yang di dalam mindscape Naruto hanya menyeringai. Ia sebenarnya kasihan dengan nasib hostnya, tapi dilain sisi ia juga ingin tertawa karena kenyataan yang lucu itu.

"Maafkan aku, tadi aku termenung memikirkan sesuatu hingga tidak sadar bahwa hari mulai hujan." ucap Naruto berusaha untuk membela dirinya, sedangkan Elsa menatap dirinya tidak percaya.

"Jika begitu kenapa kau tidak berteduh dulu? bukannya malah hujan-hujanan?" tanya Elsa membuat Naruto kehabisan kata-kata, Elsa yang melihat kebisuan Naruto tersenyum menang. Naruto berusaha untuk mencari sebuah alasan yang bagus, ia terus berpikir untuk menemukan solusi yang bagus, hingga akhirnya seperti yang orang katakan bahwa usaha tidak akan menghianati hasil.

"Sebenarnya aku khawatir pada kalian, jadi aku menerobos hujan tanpa peduli apapun karena kekhawatiranku padamu, Elsa." ucap Naruto dengan nada yang merayu, dan seperti yang ia duga usaha tidak akan menghianati hasil. Karena ia melihat Elsa yang tampak tersipu malu, sedangkan Serena yang melihat kelakuan kedua orang tuanya hanya diam.

"Mama merah!" teriak Serena sambil menunjuk wajah Elsa, sedangkan yang ditunjuk tambah gelagapan. Naruto menyeringai dengan ekpresi jahil.

"Eh are? Mama benar-benar merah ya Serena? apa Mama juga demam!?"

"Eh? Mama juga demam?"

"Lihatlah Serena, wajahnya merah seperti demam," ucap Naruto sambil menunjuk wajah Elsa, sedangkan Elsa langsung menutupi wajahnya dengan punggung tanganya, tapi karena salah satu tangannya masih memegang sendok jadinya Elsa hanya bisa menutupi area mulut dan hidungnya saja.

Naruto yang melihat ekpresi Elsa hanya terkekeh, "Kau benar-benar merah, Elsa. itu bahkan sangat terang diantara rambut putih milikmu itu." Naruto mengucapkan itu dengan lembut, tapi itu masih berupa ledekan pada Elsa.

"Naruto idiot!" teriak Elsa yang langsung berlari pergi, sedangkan Naruto yang melihat itu malah melakukan tos dengan anaknya karena tujuan untuk membuat Elsa malu berhasil.


Keesokan paginya, tampak Naruto yang sedang berolahraga dengan mengenakan celana panjangnya saja, tapi ada yang berbeda karena diatas tubuh Naruto terdapat Elsa, Serena dan Kurama yang duduk manis, untuk Kurama ia duduk manis dipelukan Serena.

Naruto yang tampaknya tidak merasa kesulitan karena beban tambahannya masih terus melanjutkan Push up miliknya, Elsa dan Serena juga hanya diam melihat Naruto.

"Papa sangat kuat! bahkan papa masih kuat mengangkat aku dan mama." celetuk Serena dengan senyuman, Naruto yang mendengar ucapan putrinya tersenyum.

"Tentu saja! papa harus menjadi kuat untuk melindungi kalian," balas Naruto sambil terus naik turun, lalu tiba-tiba Naruto teringat sesuatu. "Hei Elsa?"

"Hmm?"

"Serena, turunlah sebentar ya." ucap Naruto tiba-tiba, sedangkan Serena yang mendengar itu sempat bingung tapi akhirnya ia turun dari punggung Naruto, Elsa juga berniat turun dari punggung Naruto.

"Elsa, tetaplah duduk." perintah Naruto, Elsa memandang suami pirangnya itu dengan pandangan bingung.

Twitch! Gyutt!

Elsa tanpa peringatan langsung mencubit punggung Naruto dengan keras hingga membuat sang pemilik punggung mengerang kesakitan, tapi tidak berhenti disana, Naruto yang mengerang kesakitan mulai kehilangan keseimbangannya dan tenaganya.

Brukk!

Seperti yang diduga Naruto langsung jatuh, Elsa yang melihat itu hanya memandang suami pirangnya dengan ekpresi datar, lalu dengan tak berperikemanusiaan ia berdiri dan menginjak perut Naruto dengan sengaja.

"Arghh! untuk apa itu!?"

"Jangan pernah menyinggung berat badan pada wanita,"

Elsa langsung berjalan pergi ke belakang, tak lupa ia mengajak Serena yang hanya bingung melihat pertengkaran mereka. Sedangkan Naruto hanya bisa mengeluh kesakitan sambil memegangi tangannya yang nampaknya terkilir.

"Aduuhh..., apa aku salah?"


Naruto kini sedang berada dikamar mandi rumahnya, ia sedang melilitkan perban ke tangan kanannya yang terkilir karena masalah tadi pagi, tampak Naruto menggerutu sambil melilitkan perbannya.

"Kenapa wanita itu marah? padahal aku hanya bicara hal yang jujur." gerutu Naruto sambil melihat kearah cermin didepannya, tampak wajah Naruto yang sudah sangat berbeda dari dirinya yang dulu, wajah yang biasanya kekanak-kanakan kini berubah menjadi lebih tegas, bahkan tatapan matanya sangat tajam hingga membuat sosoknya menjadi sangat dewasa.

Tiba-tiba muncul Kurama disamping Naruto, kini Kurama bisa dengan bebas keluar masuk dari tubuh Naruto yang membuat rubah itu berkeliaran bebas dirumah Naruto, lagipula Kurama terkadang keluar hanya untuk menemui Serena dan bermain dengannya.

'Entah kenapa aku rasa Kurama sering keluar sendiri Akhir-akhir ini,' batin Naruto sambil melihat Kurama.

"Ada apa Kurama?" tanya Naruto, sedangkan Kurama langsung melompat ke pundak Naruto.

"Tidak ada, hanya saja aku sempat terpikirkan sesuatu." balas Kurama ambigu, Naruto yang mendengar itu menaikan alisnya bingung.

"Memangnya apa?"

"Kau itu bodoh permanen kah?" celetuk Kurama tanpa berdosa, Naruto yang mendengar itu tampak langsung emosi, terlihat dengan perempatan dikepalanya yang muncul.

"Apa maksudmu hah!?"

"Tuh kan? kau bodoh lalu juga tidak peka sama sekali, aku jadi kasian dengan Elsa yang harus menikahi mu." ucap Kurama santai, lalu rubah itu lompat turun dari pundak Naruto dan berjalan keluar dari kamar mandi.

"Hoi! bola bulu sialan! apa maksudmu!?" teriak Naruto dengan mengumpat, sedangkan Kurama tetap berjalan menghiraukan Naruto. "Jangan menghiraukan ku sialan!" Lagi-lagi Naruto mengumpat.

Setelah Kurama menghilang dari pandangan Naruto, tiba-tiba suasana menjadi dingin, lalu muncul sosok Elsa yang sedang tersenyum manis kearah Naruto tapi pria itu tau jika dia dalam bahaya, bagaimana tidak jika kau melihat pemandangan didepannya ini.

'Keparat kau bola bulu! '

"Baiklah Elsa, aku minta maaf."

"Aku tidak mendengar kesungguhan dari nadamu."

"I'm sorry My Queen, hamba sungguh menyesal." ucap Naruto sambil berlutut ala ksatria, bahkan Naruto juga menaruh tangannya di dada.

Elsa yang mendengar itu sedikit terkejut, tapi ia tersenyum kecil karena tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala putihnya itu.

"Baiklah, tapi sebagai hukumannya kau harus ke kota untuk membeli bahan-bahan makanan, kita sudah hampir kehabisan stok." kata Elsa kepada Naruto, sedangkan Naruto melihat itu dengan bingung.

"Kenapa aku? biasanya juga kau berangkat sendiri?"

"Hanya saja, aku malas keluar."

"Pantas saja, kau bertambah berat." gumam Naruto pelan.

"Apa?"

"Tidak ada,"


Skip Time.

Naruto sudah kembali dari kota, ia tampak kelelahan itu terlihat dari raut wajahnya yang lesu, ditangan Naruto juga membawa dua kantung belanja yang berisi beranekaragam bahan-bahan pokok dapur.

Naruto berjalan dengan santai, karena sekarang cuaca sedang cerah, jadi ia lebih memilih menikmati angin di musim semi ini, Naruto sesekali bertemu dengan orang-orang dari Kerajaan Arendelle yang mengenalinya menyapa dirinya, tentu saja Naruto membalas sapaan mereka.

Lalu tiba-tiba Naruto melihat sesuatu didepannya, ia memicingkan matanya untuk lebih fokus melihat apa yang sedang bergerak didepannya.

Bwossh!

"Bruni?" ternyata itu adalah Roh api atau bisa dipanggil Bruni, karena Elsa memanggilnya seperti itu.

"Ada apa? hmm? kau mau ikut? baiklah, naiklah." ucap Naruto yang langsung dengan cepat Bruni naik di pundak Naruto, hubungan Naruto dan Bruni sudah membaik bahkan bisa dibilang akrab, Bruni juga terkadang bermain dengan Serena jadi Naruto tidak merasa harus mewaspadai Bruni, ia juga tidak akan melakukan hal berbahaya apapun untuk Bruni, karena jika ia nekat maka ia harus berurusan dengan Istri putihnya itu.

Naruto berjalan dengan santai, ia sesekali berbicara dengan Bruni yang pastinya dengan geraman Bruni yang hanya Elsa dan Naruto yang paham.

Naruto akhirnya sampai didepan rumahnya, ia melihat ada Elsa yang sedang menyirami tanamannya dengan fokus sambil bersenandung ria, bahkan ia tidak sadar dengan kedatangan Naruto yang membuat Naruto menyeringai senang.

Naruto berjalan mengendap-endap, tapi sebelum itu ia menaruh belanjaannya. Elsa yang masih bersenandung tanpa mengetahui Naruto yang berada dibelakangnya.

"I'm Home," Elsa yang mendengar itu terkejut, bahkan ia menjatuhkan penyiram tanaman miliknya, lalu tak lama kemudian ia merasakan sebuah tangan besar dan hangat melingkar di perutnya yang ramping. Elsa yang tau siapa pelakunya hanya menghela nafas panjang, "Jangan terlalu sering melakukan itu, Naruto." lalu ia dengan kekuatannya mengambil penyiram tanamannya dan mengisinya kembali dengan air dari kekuatannya dan melanjutkan acaranya.

Naruto yang melihat Elsa tetap menyiram tanamannya sambil bersenandung membuat Naruto merasa agak kesal, tapi itu sirna karena suara merdu istrinya itu yang menenangkan dirinya, jadi mereka terjebak dalam situasi seperti itu selama beberapa menit. Tapi tak lama kemudian suasana hening itu pecah karena Naruto membuka suara untuk mengawali percakapan.

"Sudah lama sekali rasanya aku tidak mendengarmu menyanyi," celetuk Naruto sambil menaruh dagunya di pundak Elsa, sedangkan Elsa yang mendengar itu menaikan alisnya bingung.

"Hmm? kurasa aku belum pernah bernyanyi didepan mu?" tanya Elsa sambil tetap menyiram tanamannya.

"Hmm memang benar, tapi aku pernah melihatmu bernyanyi." jawab Naruto sambil menguburkan wajahnya di lekukan leher putih istrinya itu, "Seperti saat kau membangun kastil Es atau saat tiba-tiba semua simbol elemen muncul," lanjut Naruto membuat Elsa terkejut, Elsa kira tidak ada yang mendengar itu.

"Suara mu memang selalu merdu, saat bernyanyi atau saat di atas ran-!" ucapan Naruto terhenti karena sebuah tangan yang menutup mulutnya, Naruto melihat Elsa yang awalnya mempunggungi nya kini sudah berhadap-hadapan dengannya.

Naruto melihat wajah Elsa yang merah merona, "H-Hentikan idiot!" bentak Elsa, Naruto yang melihat itu hanya memberikan sebuah Eye Smile andalan gurunya dulu.

Elsa menghela nafasnya pelan, ia berusaha untuk menghilangkan rona merah diwajahnya. Lalu tiba-tiba muncul Bruni yang berada dibahu Naruto, Bruni tampak melihat Elsa dengan tatapan senang, sedangkan Elsa langsung tersenyum melihat roh api itu.

"Hei Bruni," Elsa mengulurkan tangannya kearah Bruni yang langsung meloncat ke tangan Elsa, lalu tiba-tiba keluar sebuah asap yang tampaknya Bruni mendinginkan dirinya.

"Ugh! disini dingin, lebih baik kita masuk saja." celetuk Naruto tiba-tiba, Elsa dan Bruni melihat kearah Naruto yang tampaknya kedinginan.

"Uhmm Baiklah," balas Elsa dengan senyuman kecil, Naruto sendiri langsung mengambil barang belanjaan tadi dan masuk meninggalkan Elsa dan Bruni.


Di ruang tamu tampak ada Elsa dan Naruto yang sedang bersantai, contohnya Elsa yang sedang membaca sebuah buku dilain sisi Naruto sedang tiduran dipaha Elsa sambil melihat langit-langit. Keadaan itu terjadi sampai beberapa menit, tapi keheningan itu membuat Naruto bingung.

"Elsa?" panggil Naruto sambil melihat Elsa yang masih fokus.

"Hmm?" Elsa hanya bergumam sebagai jawaban tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku.

"Kenapa sangat hening disini?"

"Hening?"

"Ya, dimana Serena dan Kurama?"

"Ohh itu, tadi Kristoff kemari dan mengajak Serena keluar dan Kurama mengikuti mereka untuk menjaganya."

"Eh?! kenapa Kristoff berani membawa putri kecil ku!?" kejut Naruto yang langsung bangun dari paha Elsa, sedangkan Elsa yang melihat itu menutup bukunya sambil menaikan alisnya bingung.

"Kau mau kemana?" tanya Elsa sambil menarik ujung baju Naruto untuk menahannya, sedangkan Naruto menoleh kearah Elsa dengan ekpresi yang merenggut.

"Sudah jelas bukan? menjemput putri kecil ku!" balas Naruto dengan sedikit berteriak di akhir, Elsa yang melihat tingkah suaminya itu menepuk kepalanya sambil menghela nafas.

Naruto sendiri mulai melangkah menuju pintu keluar, tapi itu tidak tersampaikan karena tiba-tiba kaki Naruto tidak bisa bergerak sama sekali dan juga ada hawa dingin yang menusuk di kakinya, Naruto melihat kearah kakinya yang ternyata membeku dan pelakunya tidak lain adalah Elsa sendiri.

"Jika kau keluar dari pintu itu, kau akan tidur diluar selama sebulan." peringat Elsa membuat Naruto terhenti, ia sedang dalam dilema dipikirannya. Saat ia masih dilema tiba-tiba Elsa melanjutkan ucapannya, "Itu termasuk jatahmu," ucapan Elsa itu tentu langsung membuat Naruto diam membatu.

Naruto dengan gerakan patah-patah menoleh kearah Elsa yang kembali membaca bukunya, "Elsa kau ternyata bisa becanda juga ya? ahahaha." ucap Naruto sambil tertawa hambar, sedangkan Elsa hanya melirik sebentar lalu kembali membaca bukunya.

"Aku tidak bercanda," balas Elsa membuat Naruto shock kembali, lalu dengan langkah cepat setelah es yang menahan kakinya menghilang, Naruto duduk bersimpuh disamping Elsa.

"Elsa! kumohon jangan melakukan itu."

"Kalo begitu diamlah disini,"

"Ugh!"

TBC :v


Author Note : Yoo apa kbar kalian? apa masih ada yang baca fic ini? kurasa sudah tidak ya? wkwkwk. kalian bingung kenapa ini di update? hmm sebenarnya ini adalah fic pelepas Stress dari fic lainnya, jadi jika ane udah buntek ama fic lainnya ane bakal lari kesini buat pelepas stress wkwk. Untuk Gurei dan HE bakal diupdate dalam waktu dekat, jadi tunggu aja.

Shiraki Out~

Adiue!