Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Don't Like Don't Read :)

.

Sakura's POV

Suara bising dari warga sekitar yang awalnya mengisi keheningan di antara kami bertiga kini sayup-sayup sudah menghilang. Netra hijauku memandang pemandangan daun pintu gerbang yang merupakan tujuan dari perjalananku. Helaan napas berat kukeluarkan.

Kenapa rasanya berat sekali mengantarnya pergi?

Ujung mataku pun melirik pemuda yang berjalan di sebelah kananku. Dia sedari tadi tidak mengucapkan apapun. Sejak 10 menit yang lalu meninggalkan ruangan Hokage, dia tetap belum bersuara.

Seandainya saja Naruto ikut mengantar, mungkin suasananya tidak akan sehening ini-mengingat Kakashi-sensei yang berjalan di belakang pun juga tidak mencoba memecah keheningan.

Jarak dengan pintu gerbang pun semakin dekat. Namun tak jauh dari pintu gerbang, terdapat sebuah bangku yang tengah diduduki dua orang di sana. Walaupun itu bukan lagi bangku yang sama-mengingat serangan Pain di masa lalu, tapi tetap saja aku menganggap bangku itu adalah hal yang spesial di mataku.

Di depan bangku itulah aku mengutarakan perasaanku ke Sasuke-kun, sebelum dia meninggalkan Desa Konoha untuk pergi ke tempat Orochimaru.

Di situ juga dia membisikkan kata terima kasih untukku, walaupun aku tidak tahu maksud sebenarnya dari kata terima kasih itu-mengingat di masa lalu aku banyak merepotkannya.

Di situ pula aku terbangun pada pagi harinya setelah dia memukul tengkukku dan menyebabkan aku kehilangan kesadaran.

Kepalaku menggeleng pelan. Kali ini dia pergi dari Konoha dengan cara yang baik-baik. Walaupun aku ragu kapan lagi dia akan kembali, tapi aku tahu bahwa dia pasti akan kembali.

Tak terasa kami bertiga pun telah sampai di pintu gerbang desa.

Kakashi-sensei kini berdiri di sebelah kananku, sedangkan Sasuke-kun tepat di depanku. Hatiku semakin sesak rasanya. Waktu untuk berpisah dengan Sasuke-kun tidak lama lagi.

"Yah, terus terang saja, seharusnya sekarang kau sudah dipenjara atas pelanggaran yang kaulakukan," Kakashi-sensei memecah keheningan setelah sekian lama kami terdiam. "Tapi, berdasarkan pembelaan dan tindakanmu sampai saat ini, kau telah diampuni. Tindakanmu melepaskan mugen tsukuyomi berperan besar dalam keputusan ini," sambungnya.

Aku mengangguk setuju dalam hati. Walaupun masih banyak yang memandang benci ke Sasuke-kun karena telah dibebaskan dari penjara dan diizinkan untuk pergi berkelana, namun mugen tsukuyomi tidak akan bisa lepas jika dia tidak ada.

"Dan juga kesaksianku sebagai Hokage Keenam, dan Naruto yang menjadi tokoh kunci dalam mengakhiri peran ini, juga berperan besar dalam pembebasanmu. Jangan lupakan itu! Kumohon ke depannya jangan bertindak konyol lagi, soalnya yang bertanggung jawab nanti aku, " Kakashi-sensei kembali menjeleskan dan sambil memberi beberapa petuah kepada Sasuke-kun.

"Ya, maaf merepotkanmu," balas Sasuke-kun.

"Apa kau tetap akan pergi?"

Uh, kalimat itu keluar begitu saja. Aku berharap jawabannya akan berubah.

"Tangan buatan yang dibuat oleh Tsunade-sama dengan bantuan sel Hashirama-sama sebentar lagi selesai," mataku menatap langsung kedua mata yang berbeda warna itu. Nada bicaraku terdengar meyakinkannya untuk tetap tinggal.

"Saat ini aku ingin tahu, bagaimana sudut pandangku pada dunia yang baru ini," balas Sasuke-kun. Dia terdiam sesaat lalu melanjutkan, "Mungkin sekarang aku akan bisa melihat beberapa hal yang tak bisa kulihat sebelumnya. Kalau aku tak pergi, aku takkan bisa memahaminya. Selain itu, ada sesuatu yang kukhawatirkan juga."

Penjelasannya membuatku terdasar bahwa pendiriannya tidak mudah untuk digoyahkan. Tapi, aku semakin berat untuk mengikhlaskannya pergi. Aku bahkan tidak tahu kapan dia akan kembali.

"Kalau kubilang aku juga ingin ikut denganmu bagaimana?" aku kembali bersuara. Mataku bergerak gelisah. Wajahku terasa penas, dan aku yakin pasti pipiku merona saat ini.

Dulu ketika dia ingin pergi ke tempat Orochimaru, aku juga meminta hal yang serupa. Aku tahu bahwa dia bukan lagi pemuda yang berhati dingin dan bermulut pedas. Jadi aku sedikit berharap bahwa dia akan merespon baik permintaaanku.

Sebelum membalas, kudengar Sasuke-kun menghela napasnya. "Perjalanan ini juga sebagai penebusan dosaku. Dosaku tak ada hubungannya denganmu."

Aku tersentak mendengarnya. Uh, ternyata dia masih bermulut pedas seperti dulu.

"Tak ada hubungannya, ya…" gumamku perlahan. Kepalaku menunduk menatap sandalku. Bahuku rasanya seketika lemas.

Emerald-ku pun menangkap kakinya yang berjalan mendekatiku. Kepalaku terangkat perlahan dengan maksud ingin menatapnya, namun yang kulihat adalah dua jari tangannya yang mengarah kepadaku. Lalu-

Tuk!

-dahiku pun diketuknya dengan kedua jari itu.

Napasku tertahan ketika dia melakukannya. Wajahku terasa panas. Mataku yang membulat karena tersentak akibat perbuatannya kini menatapnya. Aku semakin tersentak ketika mendapati ada sebuah senyum tipis dia terbitkan.

"Mata kondo na," aku hanya terdiam ketika dia mengatakannya. Kami tetap saling menatap untuk beberapa detik. "Arigatou,"bisiknya.

Aku kembali tersentak, entah untuk keberapa kalinya akibat perlakuannya. Jantungku berdegup kencang. Aku merasa di bagian perutku ada ribuan kupu-kupu berterbangan di sana. Memori ketika dia mengucapkan terima kasih sewaktu meninggalkan desa pertama kalinya kembali memenuhi kepalaku.

Tanganku pun perlahan memegang bekas ketukannya. Aku yakin bahwa wajahku sangat memerah kali ini. Senyum manis aku tarik sambil menatapnya yang semakin menjauhi gerbang desa.

Aku yakin dia akan kembali.

~O~O~

Sasuke's POV

Angin berembus menggoyangkan dedaunan serta rumput di sekitarku. Bunyi kepakan sayap burung menjadi latar suara di perjalananku yang hening ini. Kakiku melangkah menuju tempat yang telah kutinggalkan setelah dua tahun lebih.

Sebulan yang lalu aku telah menyelesaikan masalah mengenai manusia peledak yang mengancam kedamaian dunia shinobi. Tentu saja aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, mengingat pelaku juga memiliki dendam kepadaku. Setelah membereskan masalah yang ada, aku pun mengirimkan elang pembawa surat untuk melaporkan mengenai kejadiannya kepada Kakashi.

Sewaktu itu elangku kembali membawa surat. Di sana ada surat Kakashi dan juga Naruto. Aku masih mengingat Naruto mengatakan bahwa aku sudah seperti polisi, yang berusaha melindungi kedamaian Konoha, walaupun aku jauh. Surat dari Naruto membuatku teringat akan perkataanku kepada kakakku bertahun-tahun yang lalu.

"Ketika aku dewasa, aku juga akan bergabung kepolisian!"

Dari situlah aku memutuskan untuk kembali mengirimkan elangku ke Kakashi, untuk memberitahukan bahwa aku akan kembali ke Konoha.

Dan, ya. Kini gerbang hijau besar yang sudah lama tidak aku lihat kini kembali tertangkap olehku. Aku sedikit berdebar ketika mulai menginjakkan kaki melewati gerbang tersebut.

Sekarang kakiku kulangkahkan menuju kantor Hokage untuk melaporkan kedatanganku. Aku mengabaikan beberapa manusia yang memberi tatapan aneh untukku. Aku tidak memedulikan tatapan tersebut dan mulai mempercepat langkahku.

Begitu sudah sampai di depan pintu, tanganku mengetuk pintu tersebut. Aku membukanya ketika mendengar balasan dari seseorang di dalam sana.

"Oh, Sasuke!"

Kakashi meletakkan kertas yang tadi dipegangnya di atas meja. Wajah pria itu sama sekali tidak berubah. "Aku terkejut melihatmu, walaupun kau sudah memberitahuku bahwa kau ingin datang," ucapnya. Kakashi lalu meletakkan tangannya di dagu dan menatapku, "Bagaimana perjalananmu?"

"Begitulah," balasku singkat. Tidak banyak yang terjadi selama perjalananku dua tahun lebih ini. Aku mengelilingi berbagai Negara yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Kini ada banyak hal baru telah aku lihat," sambungku.

Kudengar Kakashi hanya bergumam tidak jelas. "Oh iya, apa kau memberitahukan kedatanganmu dengan yang lain?"

Aku menangkap maksud dari pertanyaan Kakashi merujuk ke Naruto dan Sakura. Aku baru ingat bahwa hanya Kakashi dan Naruto lah yang mengirimkan surat padaku setelah insiden manusia peledak itu. Aku sedikit terusik ketika menyadari bahwa gadis itu tidak memberikan surat kepadaku, seperti apa yang dilakukan oleh Kakashi dan Naruto waktu itu.

"Tidak," tanggapku kepada pertanyaan Kakashi.

"Beristirahatlah dengan nyaman di apartemenmu, itu jika kau tidak melupakan letaknya."

Aku mengangguk menanggapi kalimatnya. Terakhir kali aku tinggal di apartemenku memang sudah lama. Namun bukan berarti aku melupakan tempat tinggalku sendiri. Sewaktu aku telah keluar dari penjara, Kakashi memang memberikan apartemen kepadaku, katanya sebagai pengganti atas apartemenku yang telah rusak akibat serangan Pain dulu. Begitu memutuskan untuk pergi berkelana, aku yakin apartemenku pasti penuh akan tumpukan debu.

Kedua mataku yang berbeda warna ini menatap meja Kakashi yang agak berantakan karena tumpukan kertas. Rasanya dia masih memiliki banyak pekerjaan. "Kalau begitu aku pamit."

Aku pun membalikkan badan dan ingin segera keluar dari ruangan agar Kakashi dapat kembali mengerjakan pekerjaannya sebagai Hokage. Setelah aku menarik pintu untu terbuka, suaranya kembali menahan kepergianku.

"Okaeri, Sasuke."

Badanku hanya separuh berbalik dan tersenyum menanggapinya.

"Aah."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-to be continued-

Halo~

Setelah sekian lama, akhirnya upload fanfic di sini lagi huhu

Sebenarnya sih dua bulan ini udah publish beberapa fanfic ke wattpad, tapi ga tau kok rasanya ada aja yang kurang kalo ga aku upload di sini. Karena ya biar bagaimanapun, ini tetep tempat pertamaku berani buat publish cerita. Jadinya, aku publish sini juga wkwk

Mohon maaf jika ada kesalahan, aku terbuka buat kritikan kok.

Jangan lupa ninggalin jejak, ya~

-mbak camellia