Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Don't Like Don't Read :)

.

Satu per satu barang yang sebelumnya terbungkus oleh tumpukan debu kini menghilang. Alat makan di dapur, vas bunga di ruang tengah, alat tulis di kamar, serta peralatan kecil lainnya tak luput dari kegiatan bersih-bersihnya. Menghabiskan waktu selama dua jam untuk membersihkan apartemen yang tak berpenghuni selama dua tahun itu membuat tenaganya agak terkuras.

Tubuh tegapnya disandarkan pada sebuah sofa berwarna hitam. Sembari membiarkan pikirannya melayang, tangan kanannya mengusap rambutnya yang agak basah. Dua tahun tak menginjakkan kaki di Konoha, ternyata desa kelahirannya ini tak banyak berubah. Hanya saja terdapat beberapa gedung yang kini terlihat semakin modern, seperti rumah sakit misalnya.

Seingat Uchiha Sasuke, dulu rumah sakit itu terlihat sederhana, terdiri dari tiga lantai, serta dengan cat bangunan yang sudah agak mengelupas. Namun, ketika pemuda berumur 19 tahun itu melewati rumah sakit—saat dia menuju kantor Hokage tadi—, kini bangunan rumah sakit itu terdiri dari empat lantai, dilapisi oleh cat berwarna putih gading, dan di gerbang rumah sakit itu tertulis 'Rumah Sakit Konoha'.

Dua tahun lalu, sebelum dia dimasukkan ke dalam sel, dia sempat dirawat di sana selama beberapa hari. Berperang melawan Dewa Shinobi tentu saja membuat dirinya babak belur. Belum lagi tangan kirinya yang terluka—yang kini hanya tersisa hingga lengan atas—, akibat pertarungan hebat melawan sahabatnya. Fasilitas rumah sakit sudah sangat memadai waktu itu—Sasuke yakin bahwa sekarang semuanya semakin canggih—dan juga para tenaga kesehatan yang merawatnya dengan telaten.

Walaupun mereka terlihat serius dalam merawat lukanya, namun dia tahu, sangatlah tahu, bahwasanya mereka masih menyimpan kebencian kepadanya. Dia mengerti apa yang mereka lakukan terhadapnya merupakan konsekuensi dari perilakunya di masa lalu, jadinya dia tak ingin ambil pusing dengan tatapan kebencian mereka semua kepadanya.

Ah, tidak.

Ada satu orang yang tulus dalam menyembuhkan lukanya.

Gerakan mengeringkan rambut pun dihentikan oleh Sasuke. Pikirannya mendadak terarah kepada orang itu. Seseorang yang memiliki kepribadian sehangat musim semi, mata hijau yang berkilauan, serta rambut merah muda khas yang dimilikinya. Seseorang yang telah lama dikenalnya sejak bungsu Uchiha itu masih di akademi.

Haruno Sakura.

Seorang gadis yang menunjukkan banyak perubahan di dalam dirinya. Dulu gadis itu seringkali berada di bawah perlindungannya dan Naruto, namun kini pemuda bermata kelam itu yakin bahwa mantan rekan setimnya sudah mampu —sangatlah mampu— untuk melindungi dirinya sendiri. Salah satu buktinya adalah ketika sebuah insiden beberapa bulan lalu yang terjadi di Konoha, ada seseorang yang menyamar sebagai dirinya dan menculik Sakura. Sasuke yang saat itu sedang berada di Negara Api, tak jauh dari Desa Konoha, tentu saja mendengarkan mengenai kabar tersebut.

Walaupun dia sangat memercayai bahwa Sakura mampu menangani semuanya, namun Sasuke tidak tahu perasaan apa yang mendorongnya untuk pergi bergegas balik ke kampung halamannya kala itu. Ketika dalam perjalanan, Sasuke mendengar dari beberapa orang yang berpapasan dengannya dan sedang mengenakan pakaian anbu Konoha. Sekolompok orang itu membicarakan mengenai kekalahan ketuanya dari seorang gadis merah muda—tentu saja Sasuke sadar gadis yang dimaksud adalah Sakura—, sehingga rencana mereka untuk membuat obat illegal pun gagal.

Sasuke paham bahwa mereka adalah komplotan dari orang yang membuat masalah di dalam desa. Oleh karena itulah, dia pun menghentikan langkahnya menuju Konoha, dan menghabisi para orang-orang yang berusaha kabur tersebut. Setelah memberikan mereka beberapa jutsu seperti Katon: Goukakyuu no Jutsu hingga genjutsu, kemenangan pun diraih oleh pemuda yang memiliki tinggi 181 cm itu.

Selain memiliki kemampuan bertarung yang semakin meningkat, kemampuan ninjtsu medis gadis itu juga semakin membaik. Saat sehabis perang dua tahun lalu, Sakura langsung turun tangan untuk memberi pertolongan kepada semua ninja yang sedang terluka, padahal kala itu dia belum pulih sepenuhnya, akibat bersama-sama melawan Ootsutsuki Kaguya.

Handuk putih yang sedari tadi hanya terdiam di atas rambut ravennya, kini diletakkan secara kasar di atas sofa. Sasuke menghirup napas panjang, lalu mengembuskannya pelan—sebuah upaya untuk menghilangkan perasaan aneh yang mendadak kini menyusup ke dalam dirinya. Otak jeniusnya terlalu lama menggali kenangan mengenai mantan rekan setimnya itu.

Selalu saja seperti ini. Ketika dia membiarkan pikirannya melayang ke gadis itu, ada sebuah perasaan berdebar yang menghampiri dirinya. Perasaan yang sudah lama diabaikannya sejak masa genin, namun kembali menguat kala gadis itu berusaha menyembuhkan dirinya dan Naruto di Lembah Kematian. Perasaan aneh apa pun itu, Uchiha Sasuke tidak mengerti mengenai hal tersebut.

Badan Sasuke lalu berdiri. Kedua kakinya kini melangkah menuju pintu apartemen. Terlalu lama berpikir membuatnya tak sadar bahwa dia belum makan apapun sejak tiba di Desa Konoha. Setelah memastikan bahwa apartemennya terkunci, Sasuke pun membawa dirinya ke lautan manusia yang tak jauh dari tempat tinggalnya, yaitu pasar.

~O~O~

"Sakura-senpai, ini catatan mengenai tanaman herbal yang telah tersedia."

Haruno Sakura mengulurkan tangan kanannya untuk meraih selembar kertas yang berisikan coretan catatan penting, lalu mengarahkan matanya membaca setiap detail yang tertulis di sana.

"Jadi, kita hanya kekurangan satu tanaman herbal lagi, kan, Ryu?" Sakura mengalihkan tatapannya kepada pemuda yang terpaut dua tahun di bawahnya tersebut.

Ketika iris emerald dari gadis itu bertubrukan dengan iris hazel miliknya, membuat pemuda itu tersentak. Dia berdehem sesaat agar kegugupan yang mendatanginya bisa menghilang. "Ya, senpai."

Mahkota merah muda Sakura bergoyang kala kepalanya mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu, aku yang akan mencarinya sebentar. Sepertinya toko langgananku memiliki yang kita cari," ujarnya.

"Aku tak enak hati kalau kau mengambil alih tugasku, senpai," balas pemuda berumur 17 tahun tersebut. Lalu, dia pun melanjutkan, "Bagaimana jika aku ikut menemanimu sebentar?"

"Tak apa, aku juga kebetulan ingin pergi ke pasar."

"Tidak, senpai. Aku tak enak merepotkanmu!"

Sakura tersenyum tipis. "Baiklah, jam lima sore nanti kita akan pergi, oke?"

"Siap, Dokter Haruno Sakura-senpai!" Tangan kanan Ryu maju ke depan, lalu mengacungkan jempol kepada seniornya. "Kalau begitu, aku permisi, senpai," pamitnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu lalu hilang di balik daun pintu tersebut.

Kedua mata Sakura menatap pintu tersebut selama tiga detik—setelah juniornya keluar dari ruangannya, lalu mendengus. Kemudian dia pun melanjutkan aktivitasnya sebelum pemuda tersebut memasuki ruangannya: membaca buku.

Buku yang bertebalkan lima cm tersebut kini terbuka pada halaman ke-78 dan ke-79. Pada halaman ke-78, hanya tergambar tubuh manusia beserta bagian-bagiannya, sedangkan pada halaman ke-79 berisikan kata-kata penjelas mengenai gambar tersebut. Jemari kanannya yang lentik pun menelusuri kalimat per kalimat yang tertera di buku mengikuti bacaannya.

Otak cerdasnya berusaha menyerap segala informasi penting yang ditangkap oleh matanya. Bibirnya sesekali menggumamkan kata yang kurang dimengertinya. Jari-jari kirinya bergantian mengetuk meja kerjanya, hingga menghasilkan nada yang sama dalam beberapa menit.

Hal seperti inilah yang akan terjadi jika seorang Haruno Sakura tenggelam dengan dunianya sendiri. Akan tetapi, dunia kecilnya itu pun terganggu kala pintu ruangannya dibuka dengan tidak santainya oleh seorang gadis berambut pirang.

"Sakura~"

Gadis berambut pirang, atau yang sering disapa Ino itu menutup pintu lalu mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia di dalam ruangan yang berukuran 4x3 meter tesebut. "Aku bosan di ruanganku," keluhnya. Tangan Ino lalu menarik kursi tersebut agar berpindah ke sebelah kiri Sakura. "Kau sedang baca apa?"

Mata Sakura masih terkunci dengan dunia kecilnya. Dia sudah terbiasa dengan gangguan seperti ini, apalagi dari sahabatnya. "Hanya sebuah bacaan ringan," sahutnya. Lembaran buku pun di balik ke halaman selanjutnya.

"Buku yang bertebalkan kurang lebih limacm,dan kau hanya bilang bacaan ringan?Buku itu bahkan bisa menjadi sebuah bantal, Jidat," ketus Ino. Dia tak tentu saja tak akan kaget dari mana otak cerdas sahabatnya itu berasal, jika membaca sebuah buku setebal itu tergolong dalam bacaan ringan.

Melihat Sakura yang terdiam dan masih mengunci atensi terhadap buku tersebut, Ino kembali berbicara, "Sebenarnya aku ada gosip terbaru." Ino kembali menggeser kursi tersebut, agar jarak antar kedua semakin terkikis—seakan hal yang disampaikannya nanti adalah hal yang sangat rahasia. "Sasuke-kun telah kembali."

"..."

"..."

"..."

"..."

"HAH?"

Kepala Sakura menoleh ke kiri untuk menatap Ino. Sepertinya kemampuan mengelolah informasinya tadi agak sedikit lambat, sehingga dia membutuhkan waktu untuk memahami apa yang Ino katakan.

"Kau bilang apa tadi, Ino?"

"Sasuke-kun telah kembali ke Konoha," ucapnya menggebu-gebu. Dia lalu melanjutkan, "Sai bertemu dengannya—lebih tepatnya dia melihat Sasuke-kun sekitar dua jam yang lalu. Saat itu, Sasuke-kun sedang berjalan menuju ke kantor Hokage."

"Apa dia Sasuke-kun sungguhan? Kau pasti paham maksudku." Jari telunjuk kanan Sakura sedikit melipat ujung buku, lalu menutup buku tersebut.

Kekasih Sai itu mengangguk. Kejadian tujuh bulan lalu, saat seseorang bernama Kido yang menyamar sebagai Sasuke masih jelas di ingatannya. Dia sangat paham dengan kekhawatiran yang dirasakan oleh Sakura. "Aku yakin dia Sasuke-kun. Dia tadi bahkan menuju ke kantor Hokage," balasnya.

Helaan napas panjang lolos dari bibir mantan anggota tujuh tersebut. Kepalanya lalu menengadah untuk menatap langit-langit. Hanya putih yang tertangkap oleh pandangannya. Pikirannya langsung tertuju ke pemuda tersebut.

Selama kepergian pemuda itu, tak sehari pun pikirannya libur untuk menyelipkan nama Uchiha Sasuke di sana. Namun, dia hanya tidak menduga bahwa cinta pertamanya itu kini menginjakkan tanah di desa yang sama. Dia belum mempersiapkan dirinya. Hatinya belum siap.

Siap untuk apa?

Ino menatap Sakura yang tenggelam dalam lamunannya. "Jadi, apa yang akan kaulakukan, Sakura?" tanya gadis Yamanaka tersebut, hingga membuat Sakura kembali fokus kepadanya.

"Maksudmu?"

"Apakah kau akan menemuinya?"

"Tentu saja, mau bagaimana pun, dia tetaplah mantan rekan setimku."

"Tidak, bukan itu maksudku, Sakura," Ino menggelengkan kepalanya. "Apa kau akan meminta kejelasan darinya?" sambungnya.

Sakura lalu meletakkan tangan kanannya di atas meja, lalu membiarkan dagunya menopang di sana. Dia menangkap maksud dari kata kejelasan yang diucapkan oleh Ino; sebuah janji sederhana —Sakura mengganggap itu adalah janji—yang diucapkan pemuda itu dua tahun lalu sebelum dia pergi berkelana; dan sebuah ketukan di dahinya kala mengucapkan janji tersebut. Dia sama sekali tidak paham maksud dari semua perlakuan Sasuke kepadanya saat itu, namun dia menggunakan itu semua sebagai alasan untuk tetap bertahan dalam ketidakpastian perjalanan cintanya.

Badan Ino yang sedari tadi menegak, kini dia sandarkan pada sandaran kursi. Dia membiarkan sahabatnya itu bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia paham bahwa rekan seperguruannya itu kini membutuhkan waktu untuk mencerna semua ini.

~O~O~

Sudah sepuluh menit berlalu sejak Sasuke menutup pintu apartemennya, kini langkah kaki pemuda itu sedang membawanya menuju ke arah segerombolan manusia yang berjarak 20 meter darinya. Walaupun malas berada di tengah keramaian, namun kebutuhan fisiologisnya lebih mendesak.

Sejak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, iris matanya yang berbeda warna tersebut tidak menangkap satu pun manusia yang dikenalnya—terkecuali Hatake Kakashi. Dia memang tidak mengabarkan kepulangannya kepada siapapun selain Hokage Keenam, jadi dia dapat memakluminya. Mungkin esok hari dia dapat bertemu dengan beberapa teman akrabnya.

Ah, tidak.

Ternyata Tuhan telah mempertemukannya dengan salah satu manusia yang akrab dengannya.

Tidak jauh darinya, ada seorang pemuda yang memiliki tinggi sekitar 178 cm. Iris sapphire pemuda itu memberinya tatapan horor. Kedua mulutnya bahkan terbuka saking terkejutnya. Semakin Sasuke memperpendek jarak di antara mereka, semakin membulat kedua bola mata pemuda itu.

"Apa-apaan tatapanmu itu, Naruto?" Tangan kanan Sasuke masuk ke dalam sakunya.

Naruto meneguk ludanya. Dia lalu memukul pelan kedua pipinya—berusaha mengumpulkan kesadarannya. Wajah datar dan nada bicara yang menjengkelkan, sudah dua tahun dia tidak melihat serta mendengar hal tersebut.

"KAU BETULAN SASUKE, KAN?"

Suara berisik dari Naruto membuat beberapa orang memberi perhatian kepada mereka berdua, padahal mereka kini sedang di tengah jalan. "Walaupun telah menikah, kau masih saja berisik, eh?"

Naruto tak mengindahkan perkataan Sasuke. Dia kemudian merangkul sahabatnya itu dengan tangan kiri, dan tangan kanannya mengusap rambut navy Sasuke dengan penuh tekanan. "Aku sangat merindukanmu!"

"Hentikan perlakuan bodohmu," Sasuke menyingkirkan tangan sahabatnya itu dari tubuhnya. "Kau terlalu menarik perhatian orang-orang," tambahnya.

Kepala Naruto lalu bergerak, dan matanya bergulir ke sembarang arah. Perkataan Sasuke benar adanya, kini beberapa pasang mata sedang memberi perhatian kepada mereka berdua. "Maaf," Naruto hanya cengengesan. Tangan kanannya lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal—salah tingkah.

Seorang wanita berambut sepunggung perlahan-lahan menghampiri mereka. Kedua tangannya membawa masing-masing satu kantong penuh bahan makanan. "Naruto-kun, belanjaannya telah lengkap. Sebaiknya kita pul-," wanita itu tidak menyelesaikan kalimatnya, akibat terkejut karena mendapati sosok pemuda yang berada di samping suaminya. "Sasuke-kun?"

"Hn," balas Sasuke seadanya.

Naruto kini menghampiri istri yang telah dinikahinya tiga bulan lalu itu. "Jadi, kita pulang?"

Hinata menatap Naruto yang tepat berada di hadapannya, lalu menerbitkan senyum manisnya. "Tak apa, Naruto-kun, aku akan pulang sendiri. Kalian berdua sudah lama tidak bertemu, bukan?"

Tangan kanan yang penuh lilitan perban itu naik mengusap pelan rambut kebiruan istrinya. "Baiklah, aku tak akan pulang larut. Terima kasih, Hinata, " ujarnya sambil menarik kedua ujung bibirnya hingga deretan giginya terlihat.

Warna merah perlahan merambat ke wajah Hinata. Walaupun telah menikah, dia masih malu-malu saat suaminya menunjukkan bentuk kasih sayangnya—bahkan saat ini mereka sedang di jalanan. "K-Kalau begitu, a-aku pamit," sisi dirinya yang penuh kegugupan seperti di masa lalu kembali menghampirinya.

Kekehan kecil dikeluarkan Naruto. Dia masih setia menatap kepergian istrinya, hingga wanita yang dicintainya itu hilang di belokan jalan. Iris kebiruannya lalu berganti objek, kini menatap Sasuke yang masih tenang berdiri di tempatnya. "Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat, Ichiraku Ramenmisalnya?"

Sasuke menghela napas diam-diam. Meskipun dua tahun berlalu, ternyata kecintaan laki-laki di sampingnya ini terhadap ramen masih tidak berubah. Perutnya yang meronta minta diisi, mau tak mau membuatnya pasrah mengikuti mantan rekan setimnya itu. Dia melangkahkan kakinya pelan seperti biasanya—tidak terburu-buru, juga tidak lambat—, dan sahabatnya turut mengikuti irama langkah kakinya, sehingga mereka kini berjalan berdampingan.

"Jadi apa saja yang kaulakukan selama dua tahun ini, Sasuke?" Naruto membuka suara. Di dalam perjalanan mereka, pemuda berambut kuning itu sesekali melempar senyum kepada warga desa yang menyapanya.

"Mengelilingi beberapa Negara dan juga desa yang belum kukunjungi atau pun yang telah kukunjungi sebelumnya," ujarnya. Iris onyx dan keunguan miliknya memandang datar ke depan. "Lalu memberi bantuan jika mereka butuh," lanjutnya.

"Apa kau puas dengan hal yang kaulakukan?"

Selama mengelilingi dunia, Sasuke telah melewati beratus desa, baik itu desa ninja atau pun bukan. Pemuda itu akan memberikan pertolongan jika desa yang kebetulan dikunjunginya dirundung masalah. Ketika pertama kali melakukan hal tersebut, masih jelas terasa perasaan hangat menyusup kedalam diri Sasuke ketika para warga desa tersenyum penuh syukur kepadanya. Hal kecil seperti inilah yang telah diabaikannya ketika dia ditelan oleh kegelapan.

"Tentu," ujarnya sembari mengulas senyum tipis.

Ekor mata Naruto menangkap senyum sahabatnya itu. Uzumaki Naruto mengangguk paham. Dia senang dengan perubahan yang dialami sahabatnya itu. "Lalu, bagaimana jika kita berbincang mengenai masalah gadis?"

"Maksudmu? Kau sudah menikah, wahai-pria-yang-telah-beristri."

Naruto memutar kepalanya ke arah kanannya—ke Sasuke, lalu memandangnya dengan wajah cemberut. "Aku menyinggung mengenaimu, teme!" Tangan kanan Naruto memukul punggung Sasuke, hingga sang empunya melemparkan tatapan tajam kepadanya. "Sakura-chan tidak mungkin bisa menunggumu selamanya."

Sasuke diam membisu. Dia tahu bahwa salah satu pahlawan itu akan melanjutkan perkataannya.

"Dia tergolong gadis yang popular di desa ini, Sasuke. Jika dia ingin, Sakura-chan telah lama memiliki kekasih," sahut Naruto.

"Lalu, apa hubungannya denganku?"

Naruto menahan geramannya terhadap Sasuke. Iris ebiruannya berkilat menatap Sasuke. "Aku tahu kalau kau tertarik dengannya, dan pergerakanmu untuk mendekatinya terlalu lambat! Bukan tidak mungkin kini Sakura-chan sedang didekati oleh seorang laki-laki lain, teme!"

Kedua bahu Sasuke naik ke atas—tidak memedulikan ucapan dari Naruto. Langkah kakinya pun dipercepatnya, sehingga meninggalkan Naruto yang berada di belakangnya. Akan tetapi, perlahan namun pasti, langkahnya kini berhenti sepenuhnya, hingga pemuda berambut kuning itu kembali berada di sampingnya.

Naruto melempar tatapan bingung kepada Sasuke yang terdiam. Matanya pun berusaha mencari objek yang berada dalam pandangan pemuda itu, dan kini iris sapphire-nya menangkap sepasang laki-laki dan perempuan yang terlihat tertawa bersama-sama. Laki-laki dengan rambut hitam, sedangkan sang gadis bersurai merah muda.

Eh, merah muda?

Seriangaian tercetak di wajah pemuda rubah tersebut. Dia mengerti mengapa sahabatnya berperilaku seperti itu. Gadis yang sedang tertawa di sana adalah seseorang yang sangat amat dikenalnya. Dengan rambut merah muda yang menjadi khasnya, serta tanda byakugou yang tercetak di dahinya.

"SAKURA-CHAN~~~" panggilan, atau yang lebih pantas disebut sebagai teriakan dari Naruto membuat orang-orang di sekitar memberi atensi mereka kepadanya. Sasuke hanya mampu berdecak melihat tingkah jinchuriki kyuubi tersebut.

Sakura menolehkan kepalanya ke kanan, menuju sumber suara, dan didapatinya dua orang mantan rekan setimnya sedang berdiri tak jauh darinya saat ini. Perasaan berdebar menghampirinya kala iris emerald-nya bertubrukan dengan sepasang mata yang telah lama tak dilihatnya. Cinta pertamanya. Seseorang yang masih memenuhi relung hatinya. Uchiha Sasuke.

Gadis medic nin itulah yang pertama kali memutuskan kontak mata antara mereka berdua. Semakin lama menatap mata itu, perasannya semakin tak karuan. Kepalanya kini menoleh ke arah kiri, dan melihat pemuda yang mengamati beberapa tanaman obat. "Ryu, aku ke sana dulu, ya."

Ryu melempar senyumnya sambil mengacungkan jempol kanannya. "Siap, senpai."

Sakura lalu membalikkan badannya, dan mulai membiarkan kakinya melangkah menuju Naruto dan Sasuke. Dalam hati, gadis musim semi itu berusaha menguatkan dirinya agar dapat bersikap biasa terhadap pemuda Uchiha itu. Ketika tepat berada di hadapan mereka berdua, Sakura pun memaksakan senyum simpul tercetak di wajahnya, namun yang terlihat malah senyum kikuk. Matanya mencoba menatap pemuda dingin itu.

"Halo, Sasuke-kun," sapanya. Dia diam-diam menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan, "Kapan kau tiba?"

"Sekitar tiga jam yang lalu," balasnya.

Suara baritone yang telah lama dia rindukan kini kembali memenuhi indera pendengarannya. Dia bersyukur dia masih dapat mendengarnya. "Kau tak terluka saat dalam perjalanan, kan?"

Sasuke membalas pertanyaan gadis itu dengan anggukan singkat.

"Syukurlah," Sakura melempar senyum hangat kepada pemuda itu. Sasuke terpaku ketika mendapat senyum itu. Dia bahkan tidak tahu bahwa sebuah senyum dapat menyusupkan perasaan tergelitik ke dalam dirinya.

"Aah," Sasuke turut menerbitkan sebuah senyum tipis kepada gadis itu.

Haruno Sakura lalu memalingkan wajahnya—dia tak ingin Sasuke mendapati rona wajah yang muncul di kedua pipinya—ke Naruto yang terdiam mengamati mereka; padahal sedari tadi suami Hinata itu tertawa dalam hati melihat keduanya. "Jadi, kalian ingin ke mana?"

"Ayo ikut dengan kami, Sakura-chan. Kami ingin ke Ichiraku Ramen," ajak Naruto.

Sakura mempertimbangkannya sesaat, lalu mengangguk. Meskipun kini dia sedang keluar dengan Ryu, namun tujuan utama mereka telah selesai. Mereka tadi hanya melihat-lihat tanaman herbal lainnya yang terlihat menarik di keduanya. "Baiklah, tapi aku pamit dulu dengan juniorku."

Naruto mencondongkan sedikit kepala kuningnya ke arah Sakura. "Kukira dia kekasihmu~" kekehnya.

Tangan kanan Sakura terkepal, lalu kepalan itu mendarat di kepala Naruto hingga membuatnya merintih kesakitan. "Jangan asal ngomong," sinisnya lalu membalikkan badan dan berjalan menuju laki-laki yang masih setia di posisinya sejak 15 menit lalu.

Pemuda yang bercita-cita sebagai Hokage itu mengusap bagian tubuhnya yang kesakitan. Dia lalu menolehkan kepalanya ke Sasuke. "Sudah kubilang, bukan? Jika kau lamban, pria lainlah yang akan mendekatinya."

Uchiha Sasuke mengunci rapat mulutnya. Dia membiarkan pernyataan Naruto terlewati begitu saja di indera pendengarannya. Matanya kini menaruh atensi pada gadis merah muda yang berjarak 10 meter darinya. Dia kembali melihat tawa terbit di sana. Keduanya terlihat akrab—setidaknya itulah yang ditangkap oleh adik Uchiha Itachi ini.

Lagi-lagi, sebuah perasaan aneh menyusup ke dalam dirinya; bukan perasaan berdebar ketika gadis itu singgah di dalam pikirannya; bukan perasaan tergelitik ketika mendapat sebuah senyum hangat dari mantan rekan setimnya itu. Kali ini, perasaan aneh itu terasa agak menyakitkan untuknya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-to be continued-

Balasan Review(s):

-MadaSaku_L: Kemarin cuma prolog, jadinya dikit hihihi terima kasih semangatnya~

-Nomin JJ: Kalo rencana sih, sepertinya akan lumayan panjang wkwkwk iya, ini headcanon. Terima kasih semangatnya~

-Zaidah: Iya nih, aku juga agak sedih lihat archive sssk jadi semakin sepi :( kalo soal jubah Boruto, itu bukan jubah Sasuke kok. Jubah Boruto dalemnya warna merah, sedangkan Sasuke biru agak kehitaman gitu. Aku juga masih belajar buat headcanon, semoga aja feelnya dapet :" terima kasih semangatnya~

-Mirzaa: Iya, prolognya cuma dikit kemarin hihihi terima kasih yaa~

*Ryu adalah karakter buatanku.

Ternyata buat fanfic canon sesulit ini ya~ :" mempertahankan karakter Sasuke agar tidak ooc lumayan memutar otak :( tapi semoga kalian puas hehe

Ini saking lamanya aku ga publish cerita di sini, aku bahkan lupa kasih disclaimer dll X'D

Kalau ada hal yang salah atau pun luput, mohon koreksinya, ya. Aku sangat terbuka untuk sebuah kritikan.

Jangan lupa meninggalkan jejak, ya~~

-mbak camellia