23/Juli/2020


Hero Without Weapon—

By: Abidin Ren

Summary: Naruto yang merupakan seorang murid SMA biasa, harus terpanggil ke dunia lain setelah dirinya menemukan sebuah buku tua. Bukannya disambut dengan baik, dia malah dianggap penyusup dan dijebloskan ke dalam penjara, pada hari pertama dirinya tiba di dunia tersebut. Kehidupan beratnya pun dimulai saat itu juga.

Disclaimer: [Naruto] Masashi Kishimoto [Tate no Yuusha no Nariagari] Aneko Yusagi.

Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikitpun untuk merugikan pihak manapun.

This Story Created by Me

Genre: Isekai — Adventure — Fantasy — Romance(?).

Pair: [Naruto ?]

Rated: T

Warning: Alternate-Reality! (AR!), Magic-Game-World-System! SPECIAL-POWER! Martial-Arts(?), OOC(s)(?), Semi-Canon Out of Canon, And Many More.

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy it~

Please Like, Favorite, and Comment!

.


[Prologue]


[Chapter 1: Bangkitnya Seorang Pahlawan Tanpa Senjata


Opening: MADKID — Rise (Opening dari Anime Tate no Yuusha no Nariagari Season 1 Bagian Pertama)


.

.

.

Pik!

Kedua mataku terbuka. Sejauh yang dapat kulihat hanya ada tanah lapang hijau yang membentang luas di depan sana. Aku memutar tubuhku sambil mengamati daerah sekitar yang ternyata dipenuhi oleh rumput-rumput hijau setinggi lutut. Juga ada beberapa pohon berukuran kecil maupun besar. Angin berembus tenang di sini, membuatku merasa nyaman ketika mereka menerpa pori-pori kulitku. Ya, tempat ini sangat indah, namun …

DHUUAARH …!

… semua keindahan ini lenyap begitu saja kala muncul banyak sekali ledakan di mana-mana.

Gah! Telingaku sakit! Ada suara keras berdengung, asalnya dari atas sana! Entah karena apa, ada sesuatu yang sepertinya sedang terjadi.

Langit di atasku tadi yang awalnya cerah, kini telah berubah akibat terjadi adanya campuran berbagai macam warna disana. Merah gelap. Itulah warna langit saat ini. Udara di sekitar tiba-tiba saja menurun, membuatku merasa sangat tidak nyaman karena perasaan aneh saat ini yang bagaikan sedang menusuk-nusuk punggung belakangku.

Tak lama setelahnya, muncul berbagai macam retakan warna-warni di langit dengan ukuran yang berbeda-beda. Tunggu, bentuknya seperti … cangkang kura-kura? Ah, entahlah. Aku sendiri kurang bisa menjelaskannya. Dari dalam retakan itu, keluar berbagai macam makhluk yang tidak bisa ku-nalar sama sekali. Terlihat aneh, tetapi juga menakutkan di saat yang bersamaan.

—Lebah dan kelabang berukuran raksasa. Ada juga tengkorak berjalan, bahkan zombie …? Mereka aneh, tetapi juga menyeramkan.

…. Itulah sedikit dari banyaknya makhluk yang keluar dari retakan tadi. Disana, masih banyak makhluk yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Dan jika diperhatikan lebih lanjut, mereka malah lebih mirip seperti monster-monster dalam video game yang pernah kumainkan dulu. Aaaah …! Semua ini membuat kepalaku terasa pusing! Apa yang sebenarnya sedang terjadi?!

Tapi itu tidak penting, yang terpenting saat ini adalah …, mereka semua bergerak ke arahku dengan sangat cepat!

Tunggu-tunggu-tunggu! Aku bahkan tidak membawa apa-apa saat ini! Bagaimana aku bisa melawan mereka?!

Drap drap drap ….

Aku dapat mendengar suara langkah kaki yang sangat cepat dari arah belakangku—mungkin bisa dibilang kalau ini adalah suara sesuatu yang sedang berlari. Menoleh ke belakang, dan kudapati ada banyak sekali manusia ber-armor serta bersenjata lengkap disana. Pedang, tombak, busur, tongkat, perisai, dan masih banyak lagi. Bahkan, disana ada juga orang yang berpakaian layaknya seorang petualang dalam dunia game. Aku hanya menatap dengan tampang bodoh ke arah mereka semua. Kenapa ada orang-orang yang berpakaian seperti itu di sini?!

Ketika aku sibuk memikirkan semua itu, aku baru sadar kalau kedua belah pihak sudah semakin dekat untuk saling bertabrakan. Tidak ada celah bagiku untuk kabur. Di saat-saat terakhir, aku cuma bisa pasrah menerima keadaanku yang mungkin menjadi sasaran pertama kali mereka semua.

Aku segera menutup kedua mataku, tapi … tak peduli seberapa lama aku menunggu, aku tidak merasakan apapun. Huh?

Aku kembali melihat sekitar, dan akhirnya menyadari bahwa sepertinya baik kubu manusia maupun kubu monster, tak ada satu pun dari mereka yang menyadari kehadiranku. Bahkan, beberapa dari mereka kulihat dapat bergerak melewati tubuhku seakan aku ini cuma jiwa spiritual tanpa bentuk fisik. Benarkah yang kulihat ini? Jadi, aku semacam hantu bagi mereka? Tapi tetap saja ini aneh. Lagipula, sejak kapan aku mati?!

Mengabaikan keadaan yang sangat membingungkanku ini, aku memutuskan untuk berjalan. Terus melangkah, melewati bangkai manusia ataupun monster yang bergeletakan di tanah, aku mengabaikan semua itu. Kini semua fokusku terambil alih oleh satu objek, seseorang berambut pirang panjang yang tengah berdiri di depan sana dengan segala cairan merah gelap yang mengguyurnya bagaikan air hujan.

Aku cuma bisa melihat punggungnya, tidak dapat mengetahui wajahnya. Proporsi tubuhnya sangat jelas menggambarkan bahwa dia adalah perempuan. Aku yakin itu.

"Hei—!"

Ketika aku berniat memanggilnya, tiba-tiba saja semua hal di sekelilingku tertelan ke dalam kegelapan. Hanya ada satu cahaya yang tersisa, yaitu tempat perempuan itu berdiri di depanku. Aku mulai berlari untuk menggapainya, namun entah mengapa aku malah merasa jika cahaya itu menjauhiku.

Aku beberapa kali juga berteriak memanggilnya, namun sepertinya perempuan itu tak bisa mendengarku.

Tidak peduli seberapa cepat aku berlari, semakin cepat pula cahaya itu bergerak pergi. Pada akhirnya, aku tidak dapat melihat lagi cahaya serta perempuan tadi. Sekarang hanya tersisa aku seorang diri di sini, terus berlari di tempat yang hanya berisi kegelapan sejauh mataku memandang.

"Apa tidak ada seseorang pun di sini …?!"

.

.

.

.

.

"HAAAAHH …!"

Aku terlonjak bangun dengan keringat dingin membasahi seluruh bagian tubuhku. Napasku tak beraturan. Satu tetes keringat dapat kurasakan mengalir jatuh menuju daguku.

Melirik sekitar, aku baru menyadari kalau ternyata ini adalah kamarku. Kulihat jam kecil di atas sebuah meja sudah menunjukkan pukul 06:19. "Haah~ mimpi itu lagi."

Sejujurnya, aku dalam beberapa hari terakhir ini selalu memimpikan hal yang sama. Ya, aku berada di dunia yang sungguh aneh, semacam dunia game gitulah.

Beranjak dari kasur, aku kemudian mulai berjalan menuju gorden kamarku untuk membukanya, membiarkan sinar matahari pagi memasuki ruangan ini. "Ah, silau sekali …."

Kedua mataku menyipit saat melihat cahaya terang itu, dan yang bisa kulakukan hanyalah menutupi kedua alat pandangku ini menggunakan sebelah tanganku.

Aku menatap beberapa orang di bawah sana lewat jendela kamar, lalu bergumam sendiri, "Hmm, satu lagi hari lain … untuk kehidupan yang biasa ini."

Aku segera mandi tanpa lama-lama, lalu segera berganti seragam sekolah. Aku mulai berjalan meninggalkan kamarku untuk melakukan rutinitas harian seperti biasa, sebelum berangkat menuju sekolah. Ya, seperti inilah kegiatanku setiap hari; pergi ke sekolah, berkerja paruh waktu, juga kadang membeli beberapa kebutuhan harian, ataupun membeli sesuatu seperti manga dan light novel. Hal seperti itulah keseharianku.

Ya, aku memang bukan seorang otaku. Kegiatan ini kulakukan juga hanya karena sekedar hobi, dan untuk mengisi waktu luang saja. Ini bermula sejak awal aku berada di kelas 2 SMP, dan masih berlanjut sampai sekarang, yaitu kelas 3 SMA. Membeli manga, light novel, bahkan action figure, adalah hal umum yang biasa kulakukan beberapa kali dalam satu bulan. Bahkan, aku juga kadang membeli video game dan memainkannya hampir seharian, jika aku tidak memiliki kegiatan apapun tentunya.

Dari mana uang yang kupakai untuk membeli semua itu? Asal kalian tahu, memenangkan beberapa perlombaan seni beladiri adalah hal biasa untukku, dan ... dari sana-lah uang itu berasal. Yah, lagipula … kedua orang tuaku tidak terlalu memper-masalah-kannya, asalkan aku menggunakannya tidak terlalu berlebihan dalam membelanjakan uangku, sih.

Ya, meskipun beberapa kali aku sering melakukan hal ini, itu tetap tidak mengubah keseharianku sama sekali. Aku tetap bisa membagi waktu antara hobi dan juga kebutuhan harian. Lagipula, aku kadang juga harus sibuk dengan kegiatan ekstra sekolah ataupun klub, jadi tidak selalu melulu aku menghabiskan waktuku untuk melakukan hobiku tadi.

—Seperti itulah keseharianku. Hmm, sangat monoton, bukan? Tapi, memang seperti inilah kehidupanku.

Aku berjalan menuju meja makan, dan disana sudah ada sebuah tudung saji di atas meja. Aku mengedarkan pandangan. "Tidak ada siapa-siapa di sini?"

Aku hanya berkata dengan heran saat tidak melihat kedua orang tuaku. Padahal biasanya mereka sudah bangun di jam segini.

"Hm?"

Fokusku kini teralih pada sesuatu di atas meja. Kubuka tudung saji tersebut, dan dapat kulihat bahwa ada makanan yang sudah tertata rapi, juga sepucuk kertas disana. Sebuah surat, kah?

Yah, mari kita lihat apa isinya ….

Karena hari ini di kantor ada rapat dadakan, jadi Ibu dan Ayah harus berangkat pagi-pagi. Maaf, karena kami tidak bisa menemanimu sarapan untuk hari ini. Ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu, jadi tolong dimakan, ya—ttebane. Ibu dan Ayah menyayangimu, Naruto.

Penuh Cinta,

Ibu.

Aku menghela napas melihat isi kertas itu. "Bukankah kalian berdua terlalu keras dalam bekerja?" Yah, aku mengerti kalau semua yang mereka lakukan adalah untukku, tapi … tidak bisakah mereka berdua untuk tidak terlalu memaksakan diri?

—Oke, maaf sebelumnya ..., mari kita berkenalan terlebih dahulu. Namaku adalah Naruto, Namikaze Naruto tepatnya. Umurku saat ini adalah 17 tahun dan sebentar lagi akan menginjak yang ke-18. Aku merupakan seorang murid SMA biasa di tahun ketiga. Tidak ada yang istimewa dariku. Mungkin, satu-satunya hal yang paling menonjol dariku hanyalah ilmu seni beladiri yang kumiliki. Seperti itulah.

Oh, iya, yang menulis surat tadi adalah Ibuku, namanya Uzumaki Kushina, sedangkan Ayahku bernama Namikaze Minato. Ya, sebenarnya sudah sering mereka pergi pagi-pagi sekali karena urusan pekerjaan, jadi aku sudah biasa dengan keadaan seperti ini.

Mengeluh? Tentu saja. Dulu, aku sering melakukannya, tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai mengerti dengan keadaan orang tuaku. Hanya memiliki anak tunggal, pasti membuat semua orang tua ingin sekali memberikan yang terbaik bagi anaknya, bukan? Dan … itulah yang pasti ingin dilakukan oleh kedua orang tuaku. Jadi, aku berusaha untuk tidak mempermasalahkan lagi hal ini.

Yup, begitulah menurutku. Melirik pada jam tanganku, disana sudah menunjukkan pukul 06:42. "Wah, aku harus cepat-cepat, kalau tidak ... aku akan terlambat!"

Baiklah, saatnya sarapan, lalu pergi ke sekolah!

.

.

Hero Without Weapon—

.

.

Aku sudah ada di rumah sejak tadi. Hari ini di sekolah tidak ada kegiatan ekstra, dan klub ilmu seni beladiri yang ku-ikuti sedang diliburkan. Yah, sekali-kali … kita memang butuh istirahat, bukan? Lagipula, kami sudah berjuang keras di pertandingan persahabatan melawan SMA dari kota sebelah minggu lalu.

Pemenangnya? Jujur saja, kalau hanya pertandingan seperti ini …, aku tidak terlalu memikirkan siapa yang akan menang dan yang kalah. Asalkan kami bertarung secara sportif, juga karena sukses menjalin persahabatan, itu sudah membuatku senang. Yup, tentu saja. Lagipula, lewat seni beladiri itulah yang berhasil membuat kami menjalin hubungan pertemanan. Ya, kurang lebih seperti itulah yang kurasakan.

"Jam tujuh malam." Aku bergumam setelah melihat waktu di jam dinding.

Di waktu seperti ini, kedua orang tuaku memang masih sibuk bekerja, sudah biasa juga mereka pulang larut malam setiap hari, apalagi kalau sudah lembur. Tidak, mereka bukannya orang penting atau semacamnya. Kedua orang tuaku hanyalah pekerja kantoran biasa. Ya, biasa, begitupula dengan keluargaku ini, tidak ada yang istimewa. Kami hanyalah keluarga normal yang hidup di dalam padatnya masyarakat Jepang, di Kota Kyoto lebih tepatnya.

Aku memandang sebuah pigura besar yang menempel di dinding. Di dalamnya terdapat sebuah foto yang berisi tiga orang. Aku beserta kedua orang tuaku. Ya, itu adalah foto yang diambil kurang-lebih dua tahun lalu, saat aku selesai memenangkan pertandingan Taekwondo tingkat nasional, dan menjadi juara peringkat pertama. Semua perasaanku terasa sangat senang sekali kala itu. Dan saat itu juga, merupakan momen yang paling tidak bisa aku lupakan. Ya, benar-benar momen emas dalam hidupku selama ini.

Oh, ya, selain Taekwondo, aku juga belajar beberapa ilmu seni beladiri yang lain. Yah, sebenarnya ini baru kumulai saat memasuki bangku SMA, yaitu Kyoto Arts Senior Highschool. Sekolah tersebut adalah salah satu sekolah yang terkenal akan ilmu seni beladiri-nya. Tentu saja bersekolah disana memerlukan uang yang tidak sedikit. Ya, biayanya sangat mahal.

Aku dulu pernah menolak saat disuruh oleh kedua orang tuaku untuk bersekolah disana, tentu saja alasannya karena pembayarannya. Aku sadar seberapa besar keuangan keluargaku. Tapi, karena kesungguhan ayah dan ibu yang mau mendukungku dalam bidang seni beladiri, akhirnya aku pun menerima tawaran mereka berdua untuk bersekolah di Kyoto Arts Senior Highschool.

Semakin waktu berjalan ke depan, maka kebutuhan kita juga akan semakin meningkat. Begitupula yang terjadi pada pengeluaran uangku. Hal ini terasa sangat jelas saat aku mulai menginjakkan kaki di bangku SMA. Dan untuk mengurangi beban ini, beberapa bulan setelah memasuki SMA tahun pertama, aku mulai melakukan kerja paruh waktu di sebuah toko buku. Memang hanya pekerjaan kecil, dan bayarannya pun tidak seberapa, tetapi paling tidak, hal ini bisa sedikit meringankan beban kedua orang tuaku, bukan?

Oh, iya, kalian tahu bagaimana reaksi kedua orang tuaku kala itu? Ya, marah, terutama Ibuku. Mereka berpikir, bahwa apa yang kulakukan saat itu karena merasa kekurangan uang. Tentu saja aku menyangkalnya. Aku hanya ingin meringankan beban mereka berdua. Itu saja. Tidak kurang, dan tidak lebih!

Setelah berdebat panjang, aku pun mencari jalan tengah dengan berjanji pada mereka, bahwa pekerjaan paruh waktuku tidak akan memengaruhi sekolahku. Lagipula, ini hanya seperti saat aku melakukan kegiatan di waktu SMP dulu, yaitu sering membaca light novel di waktu luang, ataupun bermain video game. Yah, meskipun sampai sekarang sebenarnya aku juga masih melakukannya, sih.

Oh, iya, ngomong-omong soal light novel, aku jadi teringat sesuatu.

Aku pun bangkit dari acara tiduranku di ranjang milikku, kemudian berjalan menuju meja belajar. Disana, terdapat sebuah buku yang terlihat tua sekali. Sampulnya berwarna merah tua, dan terdapat semacam pola rumit yang menghiasi bagian depan buku tersebut. Aku mengambil buku itu, kemudian membawanya ke atas ranjang.

Buku ini kudapatkan secara tidak sengaja, sesaat setelah aku hampir saja dirampok oleh dua orang sehabis aku pulang dari tempatku bekerja paruh waktu. Beruntung, aku tidak kenapa-napa akibat itu. Yah, ketika aku ingin berjalan untuk meninggalkan keduanya, saat itulah buku ini tiba-tiba jatuh tepat di atas kepalaku! Sungguh, aku benar-benar marah kala itu kepada orang yang dengan tidak sopannya menimpuk kepala orang lain tanpa permisi!

"Haah …, percuma saja memikirkan orang seperti dia." Aku mendesah pelan, bersamaan dengan tangan kanan yang memijit pelipisku. Sudahlah, lagipula …, aku beruntung mendapat buku gratis ini.

Ya-Yah, orang itu sudah m-membuangnya, jadi … ini sudah menjadi mi-milikku, 'kan?! Iya 'kan?! Be-Benar 'kan …?!

Aku memandang buku merah tua tersebut. Aku belum sempat mengeceknya tadi, karena langsung kubawa begitu saja. Jadi, entahlah apa isi buku ini.

"Baiklah, mari kita lihat buku apa ini sebenarnya."

Hmm …, judul bukunya adalah "The Record of the Five Holy Weapons". Seperti itulah judul buku yang tertulis disana. Kalau dilihat sekilas …, buku ini memang hampir mirip seperti light novel.

Aku pun mulai membaca isi buku tersebut ….

Di sini dimulai dengan penjelasan mengenai sejarah dunia tersebut, atau sesuatu semacam itulah. Cerita pembukanya terlalu biasa.

Lalu, di sini dijelaskan, bahwa untuk melindungi dunia dari Wave of Calamity yang akan terjadi, dipanggillah lima pahlawan dari dunia lain. Kelima pahlawan tersebut memiliki senjata yang berbeda-beda, yaitu pedang, tombak, busur, dan yang terakhir adalah perisai.

"—Eh …, tidak, tidak. Perisai bukan senjata, tetapi untuk pelindung, 'kan? Dan lagi, kenapa cuma empat saja yang disebutkan senjatanya? Bukankah harusnya ada lima pahlawan di cerita ini?"

Hmm, apa penulis buku ini lupa menyebutkan senjata terakhir? Yah, terserahlah. Mungkin nanti aku juga akan tahu sendiri saat aku selesai membaca buku ini.

Aku pun terus melanjutkan membacanya ….

"Heroine-nya tidak disebutkan, ya? Lalu, Putri dari kerajaan ini hanya digambarkan sebagai wanita jalang …."

Diceritakan, kalau Putri Jalang ini sangat manipulatif. Dia selalu memanfaatkan setiap pahlawan, dan saling mengadu domba mereka. Menurutku aneh saja, karena Putri Kerajaan ini selalu menggoda setiap pahlawan yang disukainya. Maksudku, kenapa dia tidak memilih salah satu di antara para pahlawan itu? Dasar Jalang ini …!

Oke, aku akan mengabaikan perilaku putri tadi. Aku meneruskan membaca ….

Hmm, cukup menarik. Setiap pahlawan juga diceritakan secara sendiri-sendiri di buku ini, mereka semua punya bagian masing-masing di dalam cerita. Mereka punya kelebihan dan kehebatan yang berbeda-beda. Bahkan, para pahlawan itu terkenal di bidangnya masing-masing.

Pahlawan Pedang memiliki kemampuan hebat dan tidak memiliki rasa takut. Pahlawan Tombak sangat menghargai teman-temannya. Pahlawan Busur … selalu menjunjung tinggi rasa keadilan. Lalu, Pahlawan Perisai, dia banyak sekali membantu orang-orang yang kesusahan.

"Heeh~ mereka pasti orang-orang yang hebat."

Aku benar-benar kagum pada mereka. Sepertinya, para pahlawan di cerita ini menjalankan kewajiban mereka dengan benar. Padahal … itu bukan dunia mereka sendiri, namun mereka tetap menyelamatkannya dengan kesungguhan hati. "Yah, sepertinya, memasuki isekai memang menyenangkan. Kalau saja aku juga bisa masuk ke isekai … itu pasti keren."

Aku mengangguk dengan mantap beberapa kali setelah mengatakan itu.

"Ahaha …."

Apa sih, yang kupikirkan? Tentu saja itu tidak mungkin terjadi. Lagipula, ini kehidupan nyata, bukan kehidupan seperti di anime-anime ataupun light novel. Entah kenapa aku merasa geli sendiri mengingat perkataanku tadi.

Aku menggeleng pelan, mencoba menghilangkan pikiran tadi. Mungkin, ini akibat yang muncul karena aku terlalu sering membaca light novel maupun nonton anime, hingga membuatku memiliki keinginan seperti tadi. Yah, memang tidak salah memiliki pemikiran dan keinginan seperti itu, tetapi kita juga harus bisa membedakan mana yang merupakan realita dan mana yang cuma khayalan, bukan?

"Oh? Cerita mereka berempat sudah habis. Sekarang, giliran menceritakan pahlawan terakhir."

Hmm …? Tunggu—

"Apa?!"

Aku berteriak cukup keras untuk mengekspresikan kekejutanku.

Kenapa pahlawan terakhir tidak ada namanya? Seorang pahlawan tanpa nama? Bukankah itu malah terdengar aneh? Dan lagi, kenapa tidak ada disebutkan senjatanya? Aku merasa, penulis buku ini memang sangat-lain-daripada-yang-lain! Ya, aku yakin itu!

"—Eh?!"

Sepertinya, penulis buku ini benar-benar berhasil menarik keterkejutanku berulang kali! Setelah tadi dia tidak menyebutkan senjata legenda terakhir, dan merahasiakan nama dari pahlawan terakhir …, dia kini juga malah membuat buku ini kosong! Aku ulangi …, buku ini benar-benar "KOSONG" pada bagian belakang! Tidak ada sesuatu apa pun yang tertulis di lembar kertas setelah buku ini menceritakan sang Pahlawan Perisai!

"Aku heran …, entah ini kesalahan si Penulis, atau orang yang mencetak buku ini."

Haah, mungkin karena ini juga, pemilik sebelumnya membuang buku ini. Bahkan, tepat mengenai kepalaku pula.

Aku melihat kembali buku kosong tersebut.

"Hmm?"

Entah ini cuma perasaanku, atau memang buku ini terlihat mulai bercahaya. Tunggu dulu—

"Waaakh!"

Aku terkejut ketika kertas dari buku itu membalik sendiri! Halaman per halaman terus terbalik menuju ke bagian belakang buku! Cahaya yang terpancar dari buku itu juga semakin terang! Dan juga, dapat kurasakan kalau ada sesuatu tak kasat mata yang seperti sedang menarik tubuhku saat ini!

"Woaah …! Apa yang sebenarnya terjadi?!"

Ruangan kamarku tiba-tiba berubah. Seperti … semua benda, dinding, dan segala hal lain yang ada di dalam sini berubah menjadi memanjang! Lalu, di sekitarku, secara perlahan muncul berbagai macam warna yang saling bercampur, dan mereka mengelilingiku! Apakah ini semacam mimpiku?!

"—Apa-apaan ini?!"

Pikiranku benar-benar akan menjadi gila jika hal ini terus terjadi!

Tubuhku terasa seperti jatuh ke dalam sebuah lubang. Dan sebelum aku menyadari apa saja yang terjadi selanjutnya, kedua mata safirku ini mulai menggelap, kesadaranku mulai menipis, hingga akhirnya … aku hanya bisa merasakan kegelapan tanpa dasar.

Waktu itu, tanpa kusadari, aku ternyata sudah dipindahkan ke dunia lain.

.

.

Hero Without Weapon—

.

.

"Aaaah ...! Apa itu tadi?"

Aku segera menatap sekeliling setelah kedua mataku terbuka. Ini sepertinya bukanlah kamarku, 'kan …?

Aku menatap lantai yang ada di bawahku. Ugh, lantainya sangat aneh sekali. Bukannya apa, hanya saja … lantai ini seperti bisa memantulakan cahaya, kalian memgerti? Dan lagi, ada semacam altar di sini, dan tepat di atasnya terdapat satu pola besar berbentuk pentagram aneh, seperti pola untuk melakukan sebuah ritual-ritual kuno atau semacamnya yang ada di anime-anime, gitulah. Yah, kurang lebih sesuatu yang semacam itu.

Kepalaku tiba-tiba terasa pusing sekali, jadi aku memegangnya. "Aduh …, tadi itu apa, sih?"

Hanya gumaman itulah yang menggambarkan pertanda kebingunganku saat ini. Aku mendudukkan diri di lantai ini, "Tunggu dulu! Apa ini …?!"

Aku tentu terkejut kala tanganku mengusap bagian dadaku sendiri.

Disana, terdapat semacam armor berwarna perak yang hanya menutupi bagian dada atasku saja, sementara bagian tubuh yang lain tidak ada apa-apanya. Di bagian tengah-tengah armor ini terdapat semacam batu permata bundar berwarna putih. Juga, ada semacam garis berwarna hitam memanjang yang menghiasi setiap tepi-lekukan armor ini.

Sebenarnya apa ini, sih?! Armor ini tidak bisa kulepaskan! Sial. Mencoba seberapa keras pun, benda ini memang tidak bisa terlepas dari tubuhku. Haah~ terserahlah. Ngomong-ngomong, benda ini terasa ringan seperti bulu, aku bahkan tidak merasakan sedikit pun berat saat aku bergerak.

Aku kembali mengedarkan pandangan ke sekililing. Tempat ini memiliki dinding yang terbuat dari batu bata, dan aku benar-benar yalin … kalau ini bukanlah kamarku! Oi, oi, di mana ini sebenarnya?! Tunggu, tunggu, tunggu, mari kita ingat kembali apa saja yang sudah terjadi padaku sebelumnya.

Hmm, hari ini aku menjalani kegiatan seperti biasa, pergi ke sekolah dan langsung pulang karena tidak ada kegiatan ekstra yang lain. Setelah itu, aku bekerja paruh waktu di toko buku sampai malam hari, lalu membeli beberapa barang kebutuhan harian di minimarket saat pulang dari tempat kerjaku. Hmm, ya … tidak ada yang aneh sampai saat ini.

Oke, setelah itu … ah, iya. Uangku hampir dirampok oleh dua orang, tetapi dapat kuselesaikan masalah itu dengan mudah. Saat ingin pergi meninggalkan keduanya, aku menemukan sebuah buku tua—maaf sedikit ralat, buku tua itu yang menemukanku lebih tepatnya. Karena tidak punya waktu, jadi kubawa saja buku itu dan kuputuskan untuk mengeceknya saat tiba di rumah saja. Yah, seperti itulah.

Oke, setelah melakukan ini, itu, dan segala hal lain, saat itu pun aku yang sedang berada di kamar, berniat melihat buku yang kubawa barusan. Kemudian … ah! Benar!

Tubuhku tersentak. Aku baru saja mengingat apa yang telah terjadi. "Hmm, ini masih perkiraanku sih, tapi jika memang benar itu kenyataannya ..., kalau begitu sekarang aku ada di … ah, lebih baik langsung mengeceknya saja."

Aku ingat, kalau aku seperti telah melewati hal di luar nalarku akibat menemukan buku tua itu—sekaligus membacanya. Di pikiranku tadi sempat terlintas, kalau aku seperti sudah terkirim ke dunia lain. Bukannya apa, tapi kejadian di kamarku tadilah yang membuatku berpikir demikian. Lagipula, memangnya ada penjelasan yang lebih masuk akal tentang dirimu yang sedang terbang melayang di lorong dengan segala campuran cahaya sebagai dindingnya? Tidak ada. Jadi, itulah perkiraanku saat ini, yaitu aku ... telah masuk ke Isekai!

Aku berdiri, lalu berjalan menuju pintu yang ada di depan sana. Hmm, hanya ada lorong dan beberapa jendela, serta tidak ada siapa-siapa di sini. Melihat ke kanan dan ke kiri sebentar, aku pun memilih jalan yang kanan. Terus berjalan sambil sesekali melihat sekitar, juga melihat ke luar jendela, aku hanya bisa bergumam kagum akan arsitektur tempat ini.

Kebanyakkan arsitekturnya hampir mirip seperti bangunan yang ada di Eropa. Yah, aku memang belum pernah pergi ke sana secara langsung, dan hanya sering melihatnya lewat jaringan internet saja, jadi aku sedikit ingat bagaimana gaya bangunan dari orang-orang di Eropa. Hmm, kurang lebih seperti itulah.

Swuushh~

"Oh? Udara di sini sejuk juga …."

Aku bergumam pelan saat merasakan embusan udara tadi. Rasanya sangat nyaman.

Tak lama berjalan, saat sampai pada persimpangan lorong, aku melihat satu orang di depan sana. Dia memakai atribut lengkap sama seperti seorang prajurit pada umumnya. Pedang, perisai, baju baja lengkap, bahkan helm terpasang sempurna di kepalanya. Woah, terlihat sangat keren, kau tahu?

Senyum lebar mengembang di bibirku ini. Akhirnya aku menemukan seseorang di sini! Aku bisa bertanya sesuatu padanya tentang di mana ini berada.

Langkahku yang tadinya cepat untuk mendekatinya, kini kian melambat saat mataku melihat adanya gelagat aneh muncul dari orang itu. Entah mengapa …, aku merasakan firasat buruk akan datang darinya. Tidak, ini hanya seperti intuisi dalam diriku saja, kalian paham? Dan aku yakin sekali …, kalau orang disana memiliki niat buruk padaku saat ini.

Aku berhenti bergerak kala orang itu mulai berjalan ke arahku dengan pedang teracung ke depan, tepat padaku. Wajahnya benar-benar menunjukkan raut yang tidak bersahabat sama sekali. Sudah kubilang, 'kan?! Ini benar-benar buruk! Terkadang …, aku juga sangat membenci intuisiku sendiri yang selalu benar! Arrgh …! Sial!

Aku berniat berputar ke belakang dan berlari menjauhinya. Tapi, baru satu langkah saja bergerak, kedua kakiku ini langsung berhenti, ketika kedua mata safirku melihat di depan sana muncul tiga prajurit yang sama seperti prajurit di belakangku.

Sedikit menoleh ke belakang, dapat kulihat disana muncul tiga prajurit lainnya. Sial, aku sudah terkepung oleh tujuh orang dari depan dan belakang. Selain itu, tidak ada jalan lain karena ini adalah lorong satu arah! Dan yang lebih menyebalkannya adalah, mereka semua memasang raut wajah yang sama, ekspresi yang tidak punya niat bersahabat denganku! Sudah pasti artinya buruk, 'kan?!

Aku hanya bisa terdiam. Sekarang mereka sudah mengerubungiku dari berbagai arah. Mengembuskan napas dengan pelan, aku mencoba untuk bersikap setenang mungkin. Yah, siapa tahu ini bisa dibicarakan dengan baik-baik, 'kan? Oke, mari kita mulai pembicaraan ini …

"Ah, halo—"

"Diam kau, Penyusup!"

… atau mungkin tidak.

Satu keringat dingin mengalir jatuh melewati pelipisku. "Sebenarnya begini—"

WAAAA …! Oi, oi, oi, itu sangat berbahaya, kau tahu?! Bisa kau singkirkan benda tajam itu dari leherku, hah?!

"Cepat bawa Penyusup ini!"

"Hai'!"

Tunggu, ap—oi!

"Singkirkan tangan kalian dariku!" Aku hanya bisa memberontak saat kedua tanganku dikunci dengan paksa oleh dua orang prajurit tersebut. "Tunggu dulu. Kita bisa membicarakan hal ini baik-baik, 'kan?!"

"Kau hanya perlu diam, dan ikuti saja kami, Penyusup!"

Apa-apaan itu?! Penyusup dari mana?! Aku yang terdampar di sini, Brengsek! Aku saja tidak tahu di mana dan apa nama tempat ini, tetapi mereka seenaknya menuduhku!

Sial, tenaga mereka berdua besar sekali. Padahal aku sangat yakin bisa melepaskan kuncian mereka dengan mudah. Bagiku, ini merupakan hal remeh seperti biasanya, namun ... apa ini?! Aku bahkan seperti tidak bisa merasakan kekuatanku sendiri saat ini! Arrgh …! Kuso …!

Percuma saja. Aku hanya bisa mengikuti mereka semua yang terus menggiringku entah ke mana.

Tap tap tap ….

Mereka mau membawaku ke mana, sih?! Dari tadi jalan terus. Belok sana, belok sini. Seperti tidak ada ujungnya saja tempat ini. Aku benar-benar berusaha untuk tidak mengumpat pada mereka!

'Eh, tunggu sebentar …, apa itu?'

Pintu besar yang ada di depanku cukup menarik perhatianku. Kami berhenti tepat di depannya. Salah satu prajurit tadi masuk ke dalam ruangan di balik pintu, meninggalkanku bersama enam prajurit lainnya di luar sini.

"Pembicaraannya sudah selesai. Baiklah, Para Pahlawan, aku ingin memastikan status kalian."

"Eh, 'status' … itu apa?"

"Etto …."

"Apa maksud kalian? Setelah memasuki dunia ini, harusnya kalian sudah menyadarinya, 'kan?"

"..."

"Apa di depan kalian terlihat suatu icon?"

"Benar, ada."

"Kalian hanya tinggal memusatkan kesadaran kalian pada icon tersebut."

Aku dapat mendengar sayup-sayup suara di dalam ruangan sana, yang sedang membicarakan tentang status, level, pahlawan, dan segala hal lainnya. Hmm, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius …, atau mungkin sesuatu yang sangat aneh? Entahlah, aku sendiri tidak terlalu mengerti apa yang sedang terjadi di dalam.

Perhatianku teralihkan pada prajurit tadi yang baru saja kembali. Sekarang, apa yang harus aku lakukan …?

"Bawa dia masuk. Raja Aultcray ingin melihat wajah penyusup ini terlebih dahulu."

Tunggu dulu …, dia tadi bilang ... raja?! Woah, aku beruntung sekali! Dengan bagini, aku bisa sedikit tenang karena tidak perlu repot-repot mencari bantuan. Pasti raja inj bisa membantuku. Ya, tentu saja, memang seperti itulah tugas seorang raja, bukan? Mencari jalan keluar bagi orang-orang yang kesusahan.

Kami pun mulai memasuki ruangan itu. Aku melihat sekeliling. Hmm, tak kusangka di sini ramai sekali. Ada banyak orang dengan pakaian mewah, tentunya mereka terlihat sangat berkelas. Juga ada beberapa prajurit beratribut lengkap disana. Err …, ini hanya perasaanku, atau memang tatapan mereka semua sepertinya sedang terfokus padaku?

"Eh? Mereka …?"

Empat orang yang sedang berdiri di tengah ruangan mulai menarik fokusku. Masing-masing dari mereka membawa sesuatu di tangan mereka. Aku urutkan mulai dari kiri ke kanan;

Pertama, seorang pemuda dengan rambut bergelombang berwarna pirang gelap. Sepertinya dia seumuran denganku, yaitu 17 tahun. Kalau kulihat-lihat, dia ini seperti orang yang selalu bersikap serius dalam segala hal. Dia membawa sebuah busur berhiaskan permata kuning.

Kedua, seorang pemuda dengan rambut hitam panjang, bahkan memiliki jambang yang menutupi kedua telinganya. Dia kelihatan masih muda, mungkin ... dialah yang paling muda di antara mereka berempat? Melihat tatapan matanya, kalian mungkin akan langsung menyadari, bahwa laki-laki ini adalah seseorang yang selalu bersikap dingin. Dia membawa sebuah pedang berhiaskan permata biru.

Ketiga, seorang pemuda dengan rambut panjang berwarna pirang yang dikuncir ke atas. Hanya dengan sekali lihat, kau mungkin akan langsung setuju bahwa laki-laki ini adalah tipe orang seperti kakak yang baik hati. Dia membawa sebuah tombak berhiaskan permata merah.

Keempat, seorang pemuda dengan rambut hitam yang acak-acakkan. Hm, bagaimana aku menjelaskannya, ya? Lelaki ini hanya terlihat seperti orang biasa lainnya. Aku bahkan seperti tidak melihat sedikitpun kharisma dari dalam dirinya. Dia membawa … perisai? Emm, yah … sama seperti yang lain, perisainya juga memiliki permata, tetapi yang ini berwarna hijau.

Aku sedikit bingung dengan pakaian mereka berempat yang terlihat berbeda dengan orang-orang di sini. Justru sebaliknya, pakaian mereka malah hampir mirip seperti yang ada di tempatku berasal. Memang tidak terlalu mirip sih, tetapi sedikit mendakati-lah. Yah, kurang lebih seperti itu.

"Namaku adalah Aultcray Melromarc XXXII, raja dari negeri ini. Berani sekali kau menyusup ke kastilku ini, Anak Muda."

Perhatianku teralihkan pada seseorang yang sedang duduk di sebuah singgahsana. Dia memiliki perawakan orang tua dengan rambut keseluruhan berwarna putih. Sebuah mahkota tepat berada di atas kepalanya. Ekspresinya nampak seperti … tidak suka? Tapi, karena apa? Aku tidak tahu, mungkin karena suatu hal tadi yang baru saja mereka bicarakan atau apa.

"Siapa namamu?"

"Emm, nama saya adalah Namikaze Naruto."

Oke, melihat di mana posisinya saat ini, sepertinya dia raja di sini. Baiklah, kalau begitu ….

"Sebenarnya, saya—"

"Apa kau tidak tahu, kalau kami sedang berdiskusi bersama Empat Pahlawan Suci untuk melawan Gelombang Kehancuran yang akan datang sebentar lagi?"

Tunggu, bukankah tidak baik memotong perkataan orang lain, meskipun jika kau itu merupakan seorang raja sekalipun? Dan lagi, apa maksud dari Gelombang Kehancuran? Aku tidak mengerti sama sekali!

"Aku tak punya waktu untuk mengurusi seorang penyusup saat ini. Jadi, Penjaga, langsung bawa saja dia ke penjara!"

"Tunggu, ini terdapat kesalahpahaman! Saya bukan penyusup! Justru saya malah tersesat. Saya tidak tahu mengapa, namun saya tadi tiba-tiba muncul di tempat ini!"

"Apa maksudmu?"

Ini merepotkan. Bagaimana aku menjelaskannya pada mereka, ya? Ah, siapa peduli. Lebih baik aku menceritakannya saja pada mereka dari awal.

Setelah itu, aku pun mulai menceritakan segala hal yang terjadi sampai akhirnya tiba di sini. Dimulai dari menemukan buku aneh, muncul di ruangan yang seperti tempat untuk ritual, sampai akhirnya ditangkap oleh para penjaga karena aku dikira seorang penyusup. Aku mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada yang dikurangi, ataupun yang kutambahi. Semua kukatakan dengan jujur, karena ini nantinya yang juga akan menentukan nasibku, bukan?

Setelah aku selesai bercerita, dapat kudengar segala bisikan dengan nada tidak percaya dari orang-orang, bahkan sang raja juga menampakkan raut wajah sama seperti mereka semua. Memangnya ada yang salah dari perkataanku tadi? Aneh sekali reaksi mereka.

"Jadi, tempatnya muncul tadi adalah tempat yang sama, dengan tempat pemanggilan Empat Pahlawan Suci?"

Aku hanya diam sambil melihat raja yang sedang berbicara dengan seseorang, yang sepertinya merupakan orang kepercayaannya. Biarlah, yang penting … aku sudah menjelaskan semua kebenarannya. Sekarang tinggal menunggu keputusannya.

Yah, saat ini ... aku ada di dunia milik orang lain, bukan duniaku sendiri. Jadi, aku tidak boleh melakukan sesuatu yang mencurigakan dan akhirnya malah akan merugikan diriku sendiri.

Selain itu, aku masih memikirkan semua yang dikatakan oleh orang-orang yang ada di sini tadi. Ya, setelah mendengar beberapa penjelasan dari mereka, aku mulai mengerti situasi dunia ini;

Intinya, dunia ini akan dihantam oleh banyak sekali [Gelombang Bencana]. Dan untuk mengatasi masalah itu, mereka melakukan ritual kuno untuk memanggil [Empat Pahlawan Suci] dari dunia lain, yang masing-masing akan memegang salah satu dari [Empat Senjata Legendaris]. Keempat orang itu akan ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia ini dari kehancuran.

Entah kenapa, ceritanya hampir mirip seperti cerita di buku yang belum lama ini kutemukan. Meskipun, perbedaannya hanya terletak pada banyaknya pahlawan yang dipanggil, sih. Baiklah, aku semakin yakin … kalau aku dan keempat orang itu benar-benar sudah masuk ke Isekai! Yah, seperti yang sudah aku duga dari awal, kalau aku memang benar-benar masuk ke Isekai. Meskipun, aku pada awalnya juga ragu soal masalah ini, sih.

"Dengar, Anak muda …" aku memperhatikan sang raja yang mulai berbicara, "… meskipun kau tadi berkata, kalau kau terseret ke dunia ini dan merupakan salah satu dari Pahlawan Suci, kami belum bisa memercayainya."

Tunggu dulu, apa maksudnya ini?! Bukankah tadi sudah jelas kukatakan, kalau aku juga termasuk salah satu pahlawan yang dipanggil? Ya-Yah, kurang lebih seperti itulah isi dari buku yang kubaca, sih. Terlepas dari benar atau tidaknya, aku sendiri juga kurang yakin sebenarnya.

Tapi pokoknya …! Aku hanya mengatakan apa saja yang ada di buku tadi! Terserah mau buku tua itu benar atau tidak. Lagipula, aku juga sudah terlanjur masuk ke dunia kalian, bukan?! Apa ini juga belum cukup menjadi bukti?! Terus sekarang, apa yang akan kalian lakukan terhadapku, hah?!

"Ada dua alasan yang menguatkan hal ini. Pertama, kau bahkan tidak memiliki Senjata Legendaris."

"—Senjata Legendaris …?"

Memang benar, kalau aku tidak memilikinya seperti empat orang itu saat tiba di dunia ini, dan hanya armor perak inilah yang kumiliki. Apa ini juga bisa dikatakan sebagai sebuah senjata? Entahlah, ini lebih mirip pelindung bagiku. Tapi tetap saja, salah satu orang disana juga hanya memiliki perisai kecil di tangannya, yang bisa kuanggap sebagai pelindung ketimbang senjata. Lalu untuk diriku, hanya karena masalah armor-ku ini dianggap termasuk sebagai senjata atau bukan, tentu ini tidak bisa dijadikan sebuah alasan kuat jika aku bukanlah seorang pahlawan yang dipanggil, 'kan?!

"Dan yang kedua …"

Mataku melebar saat mendengar lanjutan dari perkataan sang raja,

"… legenda kami hanya mengatakan, bahwa kami hanya bisa memanggil Empat Pahlawan Suci saja ke dunia kami."

Tidak mungkin ….

Ini pasti bohong ….

Aku tidak bisa menerima perkataannya …!

"Karena itulah, aku akan menahanmu di penjara untuk sementara ini, sampai semua yang kau katakan terbukti benar. Kau akan ditahan, dengan dasar tuduhan, 'Menyusup ke kerajaan dan menyamar menjadi salah satu Pahlawan Suci'!"

Aku pasti bermimpi saat ini!

Bersambung


[Author Note:

Hm, hm, aku kembali membuat fic baru, kali ini dengan tema isekai. Yah, hitung-hitung untuk meramaikan fandom Tate no Yuusha no Nariagari. Kulihat di bagian crossover anime ini dengan anime Naruto cuma ada 11 kalau gak salah kemarin aku cek. Dan itu pun yang bahasa indonesia cuma ada 2.

Yah, maaf kalau semisal ceritanya jelek. Aku gak begitu jago buat cerita menggunakan sudut pandang orang pertama sih.

Lalu, aku ingin berterima kasih untuk Author Purple'sSky69. Terima kasih atas kritiknya kemarin di fic event Hurt/Comfort milikku tentang keefektifan PoV1 soal kata "aku/-ku/ku-", dalam satu paragraf yang hanya boleh tiga saja. Yah, sudah aku coba sebenernya, tetapi susah juga, ahaha. Jadi, mungkin aku gak bakal bisa buat cerita cuma terbatas pada penggunaan tiga kata "aku" dalam satu paragraf. Tapi, mungkin akan aku coba untuk me-minimalisir-nya. Thanks sekali lagi.

Juga, aku ingin berterima kasih untuk Author Acies Adam. Terima kasih atas penjelasan mengenai berbagai macam PoV-nya. Lalu, makasih untuk masukan dan juga sarannya. Ya, kita memang tidak bisa terpaku hanya pada penulisan kata "aku" saja dalam pembuatan cerita menggunakan PoV1, yang mana malah membuat kita sendiri mengalami kesulitan, ahaha. Yah, jujur aja sih, aku kemarin juga mengalami stuck beberapa kali saat memikirkan masalah penggunaan kata "aku" ini, ahaha ….

Yah, seperti yang Author Acies Adam bilang, "Gaya dalam menulis itu sesuatu yang sangat abstrak, bukan ilmu pasti yang bisa diatur dengan aturan-aturan yang sangat mengikat." Jadi, aku akan mencoba untuk mencari gaya kepenulisanku sendiri yang enaknya bagaimana. Thanks atas pemberian ilmunya untukku.

Intinya, aku senang sekali jika ada orang lain yang memberiku kritikan, karena ini juga akan membuatku bisa lebih belajar dari kesalahanku sebelumnya. Aku sadar, bahwa aku juga belum bisa menciptakan karya bagus seperti penulis lain di Fanfiction. Jadi, aku masih butuh belajar lebih banyak lagi menulis sebuah karya tulis di sini.

Terima kasih juga kepada para author-author senior dan para reader lainnya, yang juga sudah mau mendukungku. Tanpa kalian, entah aku masih bisa bertahan menjadi author di fanfiction apa enggak.

Akhir kata-kata dariku, "Terima kasih atas semuanya."

Tertanda. [FI. Abidin Ren]. (23/Juli/2020).