15/Juni/2022


Hero Without Weapon—

By: Abidin Ren

Summary: Naruto yang merupakan seorang murid SMA biasa, harus terpanggil ke dunia lain setelah dirinya menemukan sebuah buku tua. Bukannya disambut dengan baik, dia malah dianggap penyusup dan dijebloskan ke dalam penjara, pada hari pertama dirinya tiba di dunia tersebut. Kehidupan beratnya sebagai Pahlawan Armor pun dimulai saat itu juga.

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto & [Tate no Yuusha no Nariagari] © Aneko Yusagi | Dan Semua Karakter Milik Pengarangnya Masing-masing.

Mini Slight with [Fate Series] © TYPE-MOON.

Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul di dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak mana pun.

This Story Created by Me!

Genre: Isekai, Adventure, Fantasy, Romance(?), Harem

Pair: [Naruto & ?]

Rated: T+ (M untuk adegan kekerasan dan kata-kata kasar!)

Warning: Alternate Reality! (AR!), Martial Arts, OOC(s)(?), Semi-Canon & Out of Canon, And Many More. [Mengambil Sedikit Elemen Kekuatan dari Fate Series]!

.

[—Naruto's PoV!—]

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy It~

Please Like, Favorite, and Review!

.


[Arc I]: Pemanggilan Pahlawan Suci


[Chapter 6]: Budak? Asal Mereka Patuh, maka Aku Tidaklah Keberatan Memilikinya


Opening: MADKID — Rise (Opening dari Anime Tate no Yuusha no Nariagari Season 1 Bagian Pertama)


"Hoaammz~"

Sepertinya aku kekurangan waktu tidur lagi.

Pagi hari yang melelahkan. Aku kembali terjaga sepanjang malam karena Jeanne mengalami mimpi buruk, sama seperti malam-malam sebelumnya.

—Ehmm, sejujurnya aku sendiri bingung harus memulai cerita ini dari mana. Mungkin kalian masih ingat jika kemarin sore aku dan Jeanne diserang oleh sekumpulan Lizardman. Kami bisa selamat pun itu berkat Jeanne, yang entah bagaimana, tiba-tiba saja dia menjadi kuat. Dia membantai empat Lizardman sisanya seorang diri dalam waktu yang singkat, meski yah … setelahnya dia pingsan dan baru siuman pagi ini.

Aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang terjadi padanya kemarin. Kejadiannya berlalu begitu singkat. Bukan cuma itu, aku sempat melihat statistik milik Jeanne, dan semua hal miliknya meningkat begitu pesat! Itu … tidak seperti jika dia masih berada di Lv. 6!

Jadi, karena itulah, tadi aku menanyakan itu padanya, namun …

"Apa yang Anda bicarakan, Goshoujin-sama?"

… begitulah yang dia katakan.

Jeanne tidak ingat apa pun selain saat dia mendapat cakaran di bahunya dan kemudian pingsan karena kehilangan banyak darah.

Yah, percuma memikirkannya. Kami akan mencari tahu apa yang terjadi padanya, tapi sekarang bukanlah waktunya.

"Pagi, Petualang-san. Bagaimana keadaan temanmu?"

"Hm? Pagi juga. Syukurlah, dia sudah sedikit membaik. Terima kasih atas kebaikan kalian."

"Tidak apa-apa, jangan sungkan, jangan sungkan!"

Oh, iya, omong-omong … aku dan Jeanne bermalam di desa Lafan. Desa ini hanya memiliki satu penginapan, pembayarannya pun tak begitu mahal. Warga di sini berbaik hati membantuku mengobati Jeanne, mereka cukup prihatin ketika kemarin melihat gadis itu yang tubuhnya penuh dengan darah.

Sepertinya, warga di sini tidak tahu-menahu soal rumor jelek tentangnya. Aku berharap rumor itu tetap berkumpul di Kota Kastil saja, jangan sampai meluas ke berbagai wilayah sekitarnya. Selain itu, aku pikir mereka tidak tahu-menahu kalau aku adalah Pahlawan Suci yang terpanggil. Malahan, mereka cuma menganggapku sebagai petualang yang sedang menjalankan quest atau semacamnya.

"Ngomong-ngomong, apa mereka itu monster?" Aku bertanya padanya. Dia mengikuti arah yang kutunjuk, yaitu pada gerobak yang sedang ditarik oleh seekor burung yang mirip dengan unta. Kalian paham? Dia punya kaki dan leher yang panjang!

"Ah, benar. Dia jenis monster yang tidak berbahaya, namun sangat merepotkan ketika mereka mengalami stres," begitulah yang dia katakan. "Namanya Fillolial. Apa kau belum pernah melihat mereka?"

"Aku pernah melihatnya, namun … sepertinya namanya sedikit berbeda dengan jenis yang kuketahui." Burung itu cukup mirip dengan burung yang ada di gim yang pernah kumainkan.

Pria itu mengangguk beberapa kali.

"Lalu, bagaimana cara kalian menjinakkannya?" Yang namanya monster, pasti berbahaya, 'kan?

"Pada dasarnya, Fillolial bisa langsung akrab dengan manusia yang membesarkannya dari kecil. Namun, kalau kau memang khawatir jika mereka menyerangmu, kau bisa menggunakan segel budak untuk membuat Fillolial-Fillolial itu patuh."

Ada satu hal yang membuatku tertarik dari perkataannya barusan. "Maaf, tadi kau bilang budak?"

"Iya …? Apa ada yang salah? Kupikir, informasi seperti ini cukup biasa bagi para petualang." Dia menatapku bingung setelah mengatakan hal itu.

"Ah, tidak, bukan apa-apa. Terima kasih karena mau mengobrol denganku."

Sepertinya cukup sampai sini saja mengumpulkan pengetahuan dunia ini. Aku tidak ingin terlihat mencolok di depan penduduk desa ini karena sering terkejut setiap kali mengetahui hal baru. Jadi aku harus bersikap senormal mungkin ketika mendengar hal yang mungkin terlihat umum bagi mereka. Entah bagaimana jadinya kalau mereka tahu jika aku adalah Pahlawan Armor, seseorang yang dianggap kriminal di kerajaan Melromarc ini. Apakah mereka tak 'kan menerimaku lagi di desa mereka?

"Tidak masalah. Semoga harimu menyenangkan!"

Dia berjalan pergi untuk melanjutkan kegiatannya yang mungkin tertunda karena menyapaku, apalagi kuajak berbincang-bincang.

—Tapi aku masih tidak menyangka, ternyata dunia ini memiliki sistem budak yang diberlakukan. Maksudku, budak adalah orang yang bisa dijadikan properti pribadi, memerintah mereka sesuka hati untuk melakukan pekerjaan fisik, dan masih banyak lagi. Juga mereka biasanya akan dicambuki. Begitulah yang terlintas di kepalaku saat mendengar kata budak!

Aku bahkan tidak bisa membayangkan kehidupan keras seperti itu. Haah~

"Etto …."

Sejak kapan Jeanne berdiri di belakangku? Aku tak menyadarinya. "Kau sudah selesai sarapan?"

"Uhm!"

"Bagus, sekarang saatnya menaikkan level lagi." Kami berjalan meninggalkan penginapan.

Kurang dari dua minggu lagi sebelum [Gelombang Bencana] terjadi, semoga saja kami sudah siap saat itu.

"Omong-omong, Goshoujin-sama, apa Anda percaya dengan yang saya katakan pagi tadi?"

Hmm, tiba-tiba membahas itu lagi. Aku pikir kita sudah selesai membicarakannya. "Apa boleh buat kalau kau sendiri tidak mengingatnya, jadi sudahlah."

"Tapi … memangnya Anda tidak takut dengan saya? Anda bilang kalau saya me-membunuh Lizardman itu dengan kejam. Bagaimana jika nanti saya akan membahayakan nyawa Anda?"

"Kau memang terlihat berbeda kemarin. Dan fakta bahwa kau saat itu tidak menyerangku, bahkan kau memanggilku, membuktikan jika kau masih mengenaliku. Kau mengalahkan monster-monster itu dalam keadaan sadar, jadi aku tidak perlu takut padamu."

Aku sempat mengira jika Jeanne memiliki kepribadian ganda atau semacamnya. Tapi, selagi ia masih mengenaliku, tidak ada alasan bagiku untuk khawatir akan diserang olehnya.

"Justru itu masalahnya! Harusnya Anda curiga kepada saya!"

Kenapa jadi kau yang memarahiku? Kalau kupikir-pikir, Jeanne sudah semakin banyak bicara sejak pagi tadi. Apa kejadian kemarin memengaruhinya, atau ini hanya perasaanku saja?

Wajahnya berubah pucat. Sepertinya ia baru sadar dengan apa yang telah dikatakannya. "Ma-Maaf! Saya tidak bermaksud … membentak Anda …."

Kesampingkan saja itu, toh itu hak Jeanne untuk berpendapat. Kami terus berbicara sambil berjalan mencari monster.

Kembali ke topik awal. "Memangnya, kau berniat menipuku?"

Aku yakin dia masih ingat perkataanku. Berbohong padaku berarti pengkhianatan, dan aku tidak akan membawanya bersamaku lagi. Dia akan kutinggalkan saat itu juga.

"Saya tidak ingin berpisah dengan Anda, Tuan …."

"Kalau begitu, berhentilah mengatakan hal aneh!"

"…."

Jeanne kembali diam. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan.

"Anda memang orang yang baik, Goshoujin-sama."

Benarkah? Kau lupa jika aku memanfaatkanmu demi tujuanku sendiri? "Aku ini orang jahat."

Kenapa Jeanne malah senyum-senyum begitu? Kurasa gak ada yang aneh dari kata-kataku.

—Dan begitulah, kami menghabiskan hari-hari berikutnya bersama-sama. Bahkan tanpa kusadari dengan jelas, entah karena Jeanne yang semakin banyak bicara denganku atau gimana, hubungan kami sepertinya jadi lebih akrab. Dia menjadi lebih banyak tersenyum. Aura kematian yang kurasakan di dirinya saat pertama kali aku bicara dengannya saat itu pun, kini sudah hampir menghilang tak bersisa.

Dia benar-benar berubah dalam beberapa hari itu.

.

.

Hero Without Weapon—

.

.

Hmm … aku bisa membuat berbagai hal dari rumput di padang rumput dan pegunungan. Pemilik Apotek di kota membeli obat-obat dariku dengan harga yang bagus. Tetap saja, obat-obat itu menggunakan banyak bahan. Susah untuk tahu apa yang akan kuhasilkan.

[…]

[Anda telah membuat obat!]

[Anda telah membuat obat!]

[Anda telah membuat minuman bernutrisi!]

[Kesalahan peracikan!]

[Anda telah membuat minuman bergizi!]

[…]

[…]

Pada akhirnya, aku berhasil membuat 6 minuman kesehatan, dan lumayan banyak obat. Cukup sulit menciptakan sesuatu yang berkualitas tinggi.

Melakukan hal-hal seperti ini tidaklah mudah. Aku mencoba membuat resep baru di sela-sela istirahat perjalanan. Ada kalanya aku gagal dan hanya membuang-buang bahan. Meracik tanaman di sekitar dan menciptakan hal baru, ini adalah hal yang belum pernah kulakukan di duniaku sebelumnya. Kalian pasti ingat kalau aku hanyalah murid SMA kelas 3, 'kan? Haah~

[Obat:

Kualitas: menengah

Membantu menyembuhkan penyakit. Tidak efektif terhadap penyakit serius.]

[Minuman Bergizi:

Kualitas: rendah

Efektif untuk meringankan kelelahan. Dengan cepat menyegarkan orang yang meminumnya.]

[…]

[…]

Dan masih banyak lagi notifikasi yang muncul di layarku. Aku hanya terlalu malas untuk membaca semuanya.

—Tiga hari ini aku dan Jeanne hanya berkeliling di sekitar desa Lafan. Kami melawan monster, mengumpulkan banyak bahan, dan menaikkan level tanpa kesusahan. Tidak hanya itu, aku juga membuka armor baru setelah membiarkan barang-barang sekitar sini maupun monster terserap ke bola permata.

[…]

[Rope Armor:

Kemampuan belum terbuka.

Bonus Pemakaian: Skill Air Wall

Efek Khusus: Tali]

[Pickaxe Armor:

Kemampuan belum terbuka.

Bonus Pemakaian: Menambang +3]

[Usapill Armor:

Kemampuan belum terbuka.

Bonus Pemakaian: Kecepatan +5]

[…]

[…]

… juga masih banyak lagi.

Aku mungkin beberapa kali membiarkan armorku menyerap obat dan minuman yang kubuat. Dan seperti yang kuduga, armor-armor itu hanya memberiku bonus equip yang gak berguna. Contohnya: efek [Stamina meningkat (ringan)], [Penggunaan stamina berkurang (rendah)], dan [SP meningkat (ringan)].

Itu seperti semua efeknya hanya memberikan pengaruh status kemampuan pada tubuhku.

Aku menutup [Buku Senjata] setelah melihat cukup banyak armor baru terbuka disana. Soal efek khusus di Rope Armor, sepertinya itu sama dengan yang ada di Assassin Armor. Jelas bahwa itu adalah armor kedua yang memberiku skill selain Assassin Armor.Biasanya aku cuma mendapat bonus equip yang berkaitan dengan kerajinan, kalian paham?

Menurut [Buku Panduan], dikatakan bahwa: Efek Khusus adalah sesuatu yang aktif hanya ketika senjata tertentu dipakai. Tidak seperti Bonus Pemakaian, Efek Khusus ini tidak dapat dipelajari dan dipakai terus-menerus. Pakai dan gunakanlah efek itu di saat Anda benar-benar yakin akan berguna.

Sementara skill? Skill bisa aktif hanya dengan meneriakkan namanya. Ada juga skill-skill tertentu yang diaktifkan dengan gerakan tertentu.

—Paling enggak, begitulah kata-kata yang kuingat yang tertulis di [Buku Panduan]. Ngomong-ngomong, baik saat penggunaan skill dan special effect, kedua hal ini akan mengurangi angka pada bar SP-ku.

"Sepertinya cukup dengan ini. Ayo segera kembali ke kota."

Kami butuh uang, jadi aku harus menjual semua benda-benda ini—barang jarahan monster, dan obat-obatan yang kubuat. Jika ingin bertahan di Gelombang Bencana nanti, kami harus meningkatkan equipment terlebih dulu. Pisau besi milik Jeanne juga mulai tumpul karena terlalu sering terkena darah.

"Baik, Goshoujin-sama."

Kami sekarang berada di sisi lain hutan dari arah desa Lafan, tepat di hadapan padang rumput yang mengelilingi Kota Kastil.

Aku berdiri dari duduk di batu besar. Kami sudah cukup beristirahat, jadi ini saatnya melanjutkan perjalanan. Jarak kami sudah dekat, jadi kayaknya gak perlu buru-buru, deh.

"Kau baik-baik saja?"

"Huft, huft. Ahh … iya!"

Apakah tas yang dibawa Jeanne seberat itu? Memang kelihatannya tas itu sedikit lebih besar jika dibandingkan yang biasanya. Semua benda di tas itu penting untuk kami mendapatkan uang, jadi tidak mungkin kami mengurangi beban isinya untuk ditinggalkan.

.

.

.

Tu, Wa, Ga ….

Sudah lima hari aku bersama Jeanne, kami mendapatkan penghasilan sebanyak 28 silver. Jika kutotal dengan uang yang kumiliki saat masih bersama Naofumi …, sekarang kami memiliki 47 silver. Pendapatanku sedikit meningkat dibanding sebelumnya.

"Yo, Bocah Armor, kau datang lagi, ya …."

Aku pergi ke toko senjata setelah mendapatkan uang hasil penjualanku. Seperti biasa, dia langsung menyapaku saat aku memasuki tokonya. "Aku ke mari karena butuh sesuatu."

"Jadi, ada yang bisa kubantu?"

Aku menyuruh Jeanne untuk memperlihatkan pisau besinya kepada Pak Tua. "Bisa kau perbaiki itu?"

Pak Tua mengeceknya sebentar. "Ehm yah, mata pisaunya sudah tumpul, dan kebanyakan bagiannya sudah berkarat. Astaga, kau tidak bisa menjaganya dengan baik, heh, Bocah?"

Aku cuma mengangkat bahu. "Pilihan apa yang kumiliki? Aku tidak pandai dalam hal itu, kau tahu?"

"Ya, ya. Kalau pun diperbaiki, pisau ini cuma punya sedikit waktu sebelum akhirnya benar-benar rusak, lalu dibuang," Seperti itulah yang dia katakan, lalu tagannya mengelus jenggutnya.

"Begitu …."

"Bagaimana kalau ini saatnya kau mencoba hal baru, Nona? Aku merekomendasikan pedang."

Pedang, ya? Sepertinya bagus. Aku melirik Jeanne karena dia terus saja diam. "Kenapa tidak? Kau bisa mencobanya dulu."

"Ba-Baiklah."

Pak Tua kembali setelah menemukan pedang yang menurutnya cocok. Dia memberikan pedang jenis short sword itu pada Jeanne. "Apa perlu kuajari gerakan dasar menggunakannya?"

"Ehm, tidak perlu. Saya sedikit paham menggunakannya, kok."

"Aha! Kau belajar dari para petualang itu, ya? Melihat cara mereka bertarung saat gelombang sebelumnya, hm?" Pak Tua mengatakannya dengan semangat.

"Seperti … itulah." Gadis itu tertawa canggung. Kayaknya Jeanne masih belum terbiasa berinteraksi dengan orang-orang selain aku.

"Kau bisa mulai menggerakkan tanganmu untuk berlatih lebih dulu disana." Kami masih punya banyak waktu luang, jadi lebih baik aku menyuruhnya membiasakan diri dengan senjata barunya, sebelum kami kembali leveling. Aku sendiri ingin membicarakan suatu hal dengan Pak Tua.

Dia menatapku, lalu mengangguk. Jeanne berjalan sedikit menjauh dari kami, ke tengah ruangan toko. Dia menarik bilah short sword dari sarungnya, lalu mulai mengayunkannya ke sana dan ke mari. Dia cukup serius meski hanya berlatih.

"Ngomong-ngomong, Pak Tua, kau tahu sesuatu tentang budak?" Aku menatapnya, dan dia mulai berekspresi bingung.

"Kenapa? Kau ingin membeli budak?"

Seperti yang kuduga, ternyata di kerajaan ini memang jual-beli budak adalah hal yang wajar.

"Tidak, aku sebelumnya hanya pernah mendengar sekilas tentang ini. Di duniaku berasal tidak ada yang namanya budak, jadi yah aku ingin memastikan saja, manusia seperti apa yang biasanya dijadikan budak?"

Mantan tentara yang kehilangan bagian tubuhnya? Anak kecil yang tidak punya orang tua sehingga mereka bisa dijual ke pasar gelap? Masih ada banyak lagi contoh yang terlintas di kepalaku.

"Apa yang kau bicarakan? Raja negeri ini mana mungkin membiarkan manusia untuk dijadikan budak."

"Huh …?"

Aku tidak mengerti. Pak Tua dan aku sama-sama saling menatap kebingungan.

"Begini, Bocah Armor. Kau ingat 'kan, kalau Kerajaan Melromarc adalah tempatnya manusia tinggal? Tentu saja tidak ada budak manusia. Justru sebaliknya, ras seperti Beast maupun Demi-Human, keduanya tidak diperlakukan dengan baik di sini. Jadi … begitulah, budak-budak dari ras mereka akan begitu umum kau temui di kerajaan ini."

Pak Tua memasang ekspresi rumit. Entah aku harus menanggapinya bagaimana. "Aku tidak begitu mengerti perbedaannya, bukankah semua budak sama saja?"

… atau begitulah yang kuketahui dari light novel yang pernah kubaca.

"Yah, di ujung barat kota ini ada tenda besar, kau bisa memeriksanya sendiri ke sana."

"Mereka menjual budak?"

"Ya, benar—ohh! Sial!" Pak Tua tiba-tiba mengusap kasar wajahnya. "Maaf, tolong lupakan saja yang barusan kukatakan."

Kenapa dia jadi berkeringat dingin? "Kenapa harus kulakukan?"

"Oh ayolah, kau tidak akan membeli budak, 'kan? Lagipula, kau itu salah satu Pahlawan Suci, orang-orang akan mencemoohmu jika kau memanfaatkan budak."

Membicarakan orang-orang seperti mereka hanya akan membuat perutku dipenuhi oleh kemarahan.

"Persetan, lah! Mereka sudah membuangku, buat apa aku harus peduli omongan mereka tentangku?" Mereka cuma sekumpulan orang-orang bodoh, terlebih lagi raja negeri ini.

Pak Tua menyerah mendengar argumenku. "Terserah kau saja, lah."

Aku sempat melihat Jeanne, dia berdiri sambil memasang ekspresi khawatir. Entah sejak kapan dia memperhatikan pembicaraan kami. Aku berjalan mendekatinya. "Ayo pergi!"

"B-Baik."

Aku meninggalkan toko dengan perasaan kesal.

Kami sedang di jalanan kota. Seperti biasa, warga kota menyingkir seketika dari depanku sambil menatap takut-takut. Aku sudah tidak peduli lagi dengan itu.

Kruyuuuk~

Aku menatap Jeanne, dan dia menggeleng. "Bukan saya! Saya bersumpah!"

"Itu suara perutku. Ayo cari makan dulu, lalu pikirkan rencana selanjutnya." Terlalu banyak pikiran hanya akan membuatku lapar.

.

.

.

"Woww …"

"Etto, kenapa kita ke sini, Goshoujin-sama?"

"Hanya ingin melihat-lihat sebentar."

Pada akhirnya, aku pergi ke tempat yang dimaksud Pak Tua. Tenda sirkus besar di ujung barat kota. Aku tidak menyangka ada tempat semacam ini.

Aku bisa melihat orang-orang yang tampak berbahaya di sekeliling tempat ini. Semakin mendekati tenda, aku bisa mendengar teriakan agresif dan suara-suara yang rawan pecah hancur. Yang lebih buruk, udaranya dipenuhi oleh aura kematian.

Hal ini mengingatkanku pada Jeanne, dia juga … dulu tidak memiliki aura semangat kehidupan.

"Go-Goshoujin-sama, aku …."

"Tenanglah."

Jeanne terus menarik-narik jubah merahku dari belakang. Aku bisa tahu kalau dia sedang takut.

"Wah, wah, apa yang diinginkan orang penting seperti Anda di tempat seperti ini?"

Dari balik tenda, keluar seorang pria pendek aneh berbadan bulat. Dia memakai pakaian yang cukup mencolok karena menurutku pakaiannya tidak begitu sesuai dengan kerajaan ini. Malahan pakaiannya mirip dengan yang ada di Abad Pertengahan.

"Kau mengenalku?"

"Tentu saja, tidak ada orang di kerajaan ini yang tak mengenal Anda, Yoroi no Yuusha-sama yang terhormat."

Berbicaralah sesukamu, aku tahu betul kau tidak sedang berniat memujiku. "Apa kau pemilik tempat ini? Apa yang ada di dalam sana?"

Aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak salah tempat.

"Barang dagangan saya."

"Kedengarannya cukup berisik."

"Anda tertarik?" Dia berbicara dengan napas menggebu, terlebih lagi jarakmu terlalu dekat!

"Menjauhlah."

"Ehehe …." Pria itu mundur sambil memperbaiki letak kacamatanya. "Anda butuh orang untuk memburu monster? Saya bisa menyediakan apa Anda perlukan."

"Aku tidak begitu yakin."

"Sungguh? Bahkan jika mereka adalah tipe yang tidak akan mengkhianati Anda?" Dia memutar-mutar tongkat jalannya, lalu menghentakkannya ke tanah cukup keras—

"Seorang budak!"

Hmm. Jadi benar, mereka memiliki perdagangan budak di sini. Dunia ini bahkan memiliki sisi gelapnya tersendiri.

"…. Ada apa lagi?"

Aku tidak bisa fokus bicara dengan pria itu karena Jeanne terus menarik-narik jubahku. Tapi lihatlah! Dia cuma diam saja saat aku bertanya.

"Jadi, Okyakku-sama, apa Anda tertarik untuk membeli salah satu barang saya?"

Pria itu kembali bersuara, jadi aku menghadap ke depan.

"Bukankah tujuan Anda ke mari memang untuk itu? Ehehe."

HAH?! Dari mana orang ini tahu?!

"Tenanglah, Tuan, Anda tidak perlu memelototi saya sampai seperti itu. Saya punya jalur informasi dan komunikasi tersendiri, jadi saya tahu betul apa saja yang sedang terjadi di luar sana."

Gezzz. Orang ini pintar bicara juga. "Entahlah, lagipula aku tidak punya banyak uang untuk membeli budak."

"Kenapa Anda tidak lihat-lihat saja dulu? Mumpung sudah ke sini."

"…. Baiklah."

Aku tidak tahu ini keputusan bagus atau bukan, terlebih lagi pria itu terus tersenyum licik sedari tadi.

"Lewat sini, Tuan." Dia membuka kain tenda itu sebagai pintu masuknya.

Jeanne awalnya ragu, tapi pada akhirnya ia tetap mengikutiku masuk karena tidak ingin di luar sendirian bersama orang-orang yang kelihatan berbahaya di matanya.

Hmm. Di dalam sini gelap, udara kematian juga terasa seperti tengah mencekik leherku. Selain itu, ada banyak kurungan di sini, ditumpuk secara rapi. Entah ini cuma perasaanku saja, tapi aku seperti melihat suatu gerakan manusia di dalam kurungan-kurungan ini.

"Jadi, katakan, budak seperti apa yang Anda inginkan?"

"Yang pasti murah, dan bukan barang cacat."

"Kami memiliki berbagai macam budak yang terspesialisasi dalam pertarungan maupun pekerjaan fisik. Atau kalau intuisi saya tepat …."

"Aku tidak melakukannya."

"Heh, heh, yah … terserah. Jadi, tipe seperti apa yang Anda suka?"

"Ini gila! Apapun yang penting bukan budak untuk sex!"

"Jadi, informan saya salah …?"

"—Sudah kubilang, aku gak melakukannya!"

Aku akan mengatakannya sampai kau puas mendengarnya, jika memang itu perlu. Aku tidak pernah melakukan itu! Mereka lah yang menjebakku!

"Baiklah, baiklah. Jadi, jenis kelamin apa yang Anda inginkan pada budak ini?"

"Laki-laki atau perempuan menurutku sama saja. Aku gak benar-benar peduli soal itu."

Dia mengangguk-angguk. "Saya punya beberapa budak yang sesuai dengan kriteria Anda, tapi itu tidak cocok untuk … ehem, kesenangan pribadi."

"Terserah. Tujuanku ingin punya budak bukan karena itu."

Kalau memang para budak ini bisa berguna, maka mereka bisa meringankan beban kami—dia bisa membantu Jeanne, membawa barang-barang, atau hal lain semacamnya. Jika aku beruntung, aku bisa dapat budak yang sanggup bertarung. Itu akan jauh lebih bagus!

"Ho ho ho~ levelnya tidak tinggi, bagaimana?"

"Jika mereka bisa naik level, maka itu sama saja dengan merawat senjata suciku. Pada akhirnya, mereka bisa menjadi kuat, jadi tak masalah."

Budak bukanlah manusia. Mereka tak akan mengkhianati tuannya. Ini sama seperti menaikkan level armorku, aku akan memelihara sesuatu yang tidak memiliki pemikiran untuk menentangku.

"Jawaban yang bagus, Tuan," kata dia sambil menahan tawanya. "Silakan lewat sini."

Pria itu menggiring kami jauh ke bagian dalam tenda besar ini. Tempat ini dipenuhi suara tangisan anak-anak. "Mereka semua manusia?"

"Kami memang memiliki budak manusia, tapi bukan di sini tempat mereka. Ehmm, sejujurnya itu dirahasiakan. Saya memberitahu Anda mengenai ini karena saya yakin Anda akan menjadi mitra bisnis yang menguntungkan kami di masa depan. Heh, heh …."

"Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya."

Dia berdehem sekali. "Maaf mengenai itu. Semua yang ada di bagian sini, mereka adalah budak dari ras Demi-Human."

"Budak apa saja yang kau miliki?"

"Kami juga memiliki monster. Namun, yang paling umum dibeli biasanya adalah Beastman dan Demi-Human."

"Aku paham."

Kalau dari light novel yang kubaca, Beastman (Manusia Hewan) adalah jenis ras binatang yang bisa berjalan dengan dua kaki serta melakukan kegiatan seperti halnya manusia pada umumnya. Yang sering kuketahui, biasanya adalah ras Werewolf. Sementara Demi-Human (Setengah Manusia), mereka adalah manusia yang memiliki sedikit ciri fisik binatang, biasanya terlihat dari telinga dan ekor di belakang tubuh mereka. Jenis kucing dan anjing adalah yang paling umum kulihat dulu.

Begitulah yang kuketahui. Entah mereka yang dimaksud Penjual Budak ini berbeda dengan yang kupikirkan atau tidak.

…. Kami terus berjalan hingga sampai ke area yang sunyi.

"Hanya dialah yang menurut saya sesuai dengan kriteria budak yang Anda katakan sebelumnya."

Di depan kami ada satu kurungan besar. Ada seorang anak kecil di dalamnya. Apa itu telinga rakun? Ekornya kulihat cukup besar. "Berapa harganya?"

"30 silver."

"Kalau levelnya?"

"Masih 1."

Hmm, aku tidak tahu dia berbohong soal harganya atau tidak.

"Tidak tertarik? Atau Anda ingin melihat budak yang lain dulu?"

"Kau yakin mereka tak akan mengkhianatiku, 'kan?"

"Seorang budak memiliki segel kutukan yang membuat mereka tidak bisa melukai tuannya. Bahkan dalam kondisi terburuk, itu akan mengancam nyawa si budak."

"Bagaimana dengan cara kerja kutukannya?"

"Kutukan bisa aktif hanya dengan menjentikkan jari Anda."

"Mudah sekali."

"Atau, bisa juga disesuaikan tanpa melakukan suatu gerakan. Semacam bisa bekerja langsung karena terhubung dengan Status Magic milik Anda. Tentunya, sebuah upacara diperlukan. Informasi si Tuan harus diberikan dan diserap kepada si Budak," begitulah yang dikatakannya.

Jadi, maksudnya adalah, pikiranku dan dia akan saling terhubung.

"Apa harganya memang segini?"

"Percayalah, Yuusha-sama, tipe rakun tidak begitu populer, harga segitu adalah yang terbaik yang dapat saya berikan. Beda halnya jika gadis ini bertipe rubah, saya bisa mengambil keuntungan yang besar darinya! Hahaha!"

Ya, ya, kau yang paling paham karena ini memang pekerjaanmu.

"Selain itu, dia memiliki masalah psikologis. Tuannya yang sebelumnya cukup buruk. Dia mungkin akan berteriak dan menangis saat malam hari. Butuh usaha untuk membuatnya tetap tenang."

Yang benar saja! Jeanne saja sudah membuatku kerepotan tiap malam, dan masalahku akan bertambah jika aku membeli budak ini?!

—Hm? Jeanne lebih banyak diam saja sejak kami memasuki daerah ini. Terlebih lagi, dia menunduk sambil memasang ekspresi cemas. Apa yang dia khawatirkan sih?

"Hei, kau baik-baik saja, Jeanne?" Paling enggak, ngomong sesuatu kek! Aku mana paham kalau kau cuma menggeleng! Gah, terserahlah.

Aku menatap cewek budak itu. Dia melihat ke sana dan ke mari secara ketakutan—Dia sama seperti Jeanne waktu awal-awal mengenalku.

…. Baiklah. Ingat tujuan awalku. Aku ingin budak karena aku tidak bisa membiarkan Jeanne melakukan semua pekerjaan yang ada. Bahkan jika budak rakun ini masih level 1, dia tetap bisa berguna untuk membawa barang bawaan kami, tidak perlu ikut bertarung sampai levelnya cukup tinggi. Stamina Jeanne terlalu sedikit, paling tidak budak ini akan mengurangi bebannya.

"Setuju. Aku akan ambil dia saja."

Jenis kelaminnya perempuan, tapi tak masalah. Meski kurus, dia kelihatan seperti manusia normal. Wajahnya tidak cantik, standar saja menurutku.

"Terima kasih, Anda telah mengurangi beban hidup saya. Sejujurnya, budak ini cukup merepotkan saya belakangan ini." Pria cebol itu mengambil kunci untuk membuka gembok, lalu menarik keluar si budak dari kandangnya. Dia segera meronta-ronta dan berteriak.

Pakaiannya jelek dan kotor. Dia memiliki rantai yang terikat di lehernya. Si Penjual Budak menarik rantainya untuk membawanya ke bagian depan tenda. Aku dan Jeanne segera berjalan mengikutinya.

Penjual Budak itu menghampiriku sambil membawa piring kecil berisikan tinta. "Tolong berikan sedikit darah Anda, Tuan, untuk persiapan upacaranya."

Aku menusukkan pisau kecil ke ujung ibu jariku. Armorku bergetar, itu biasanya akan bereaksi ketika aku akan mendapat serangan lalu melindungiku—tapi armor ini tak menghentikanku meneteskan darah. Sepertinya senjata suci akan acuh jika di luar pertarungan.

Pria itu menjauhiku setelah aku meneteskan beberapa darahku ke piring kecilnya. Lagi-lagi, dia tertawa aneh. Sifatnya membuatku tidak nyaman.

Dia mencelupkan kuasnya pada tinta di piring. Tangannya menarik kasar ujung baju si gadis budak, lalu melukiskan sesuatu di dadanya.

"GaaaAAH! AAAAGHhhhhhh …! Guh! Uhuk!"

Pola di dadanya bersinar, dan gadis itu mulai berteriak kesakitan. Anehnya, aku tidak merasa kasihan padanya. Justru sebaliknya, aku merasakan kepuasan. Sepertinya, meski hanya sesaat, aku membayangkan kalau si Myne—Jalang itu yang menjadi budak. Aku akan senang saat melihat perempuan brengsek itu tersiksa.

"He-Hentikan! Tolong, dia terlihat kesakitan!" Jeanne tiba-tiba berteriak seperti itu. Sepertinya dia tidak tega, aku juga melihat air mengalir jatuh dari sebelah matanya.

"Hei, kau menyakitinya." Aku berniat memanggil si Penjual Budak.

"Tenang saja, Okyakku-sama, itu tanda bahwa budak ini sudah menjadi milik Anda. Sekarang, itu terserah Anda untuk memperlakukannya seperti apa saja. Heh, heh, heh."

Setelah mendengar itu, sebuah jendela pemberitahuan muncul di layar depan mataku.

[Seorang budak telah didapatkan!]

Hmm, persyaratan penggunaan? Ada juga yang seperti itu, ya. Aku mulai membacanya …, tapi tak ada yang benar-benar bisa kuanggap penting. Semua yang tertulis disana hanya hal umum. Juga, dikatakan kalau rasa sakit kutukannya bisa kuatur menjadi seberapa kuat, semuanya tergantung padaku.

Aku memutuskan untuk menambahkannya ke dalam anggota Party-ku, dengan begitu ia akan mendapatkan Exp. point saat kami mengalahkan monster.

[Kelompok Pahlawan Armor:

—Uzumaki Naruto (Pahlawan) Lv. 10

—Jeanne d'Arc Lv. 8

—Budak A Lv. 1]

Hmm, karena aku tidak tahu namanya, jadi yang tertulis disana adalah "Budak A".

Aku memberikan sekantong uang yang berisi 31 silver kepada Penjual Budak.

"Uang Anda kebanyakan, Tuan."

"Untuk pembayaran upacaranya. Kau akan menariknya juga pada akhirnya, kan?"

"Anda tau aja," katanya, lalu tertawa keras. Aku ikut tertawa untuk menanggapinya.

Aku pun mendekati budak yang baru saja kubeli, "Siapa namamu?"

Wajahnya berpaling, ia tak berniat menjawab pertanyaanku. Tapi itu adalah kesalahan untuknya. Melawanku berarti akan membuat segel kutukannya aktif.

—Dan benar saja, tangannya meremas dadanya yang mulai bersinar disertai percikan listrik statis. Ia benar-benar kesakitan.

"Goshoujin-sama! Hentikan, Anda menyakitinya!" Jeanne berteriak di belakangku. Ia berlari menghampiri budak baru kami, tapi percuma saja, tak ada yang bisa Jeanne lakukan.

"Itu salahnya karena tidak menjawab. Jadi, namamu?"

"Raph … Raphtalia …."

Raphtalia, kah? Oke.

Kutukannya mulai reda, dan ia mencoba menormalkan pernapasannya.

"Baiklah, ayo pergi."

Aku berjalan keluar tenda besar itu. Jeanne membantu Raphtalia bangun, dan mereka mengikutiku dari belakang. Gadis kecil itu menatapku, tangannya berpegangan erat pada tangan Jeanne. Ia terlihat sangat ketakutan. Aku mengabaikannya, dan kami terus berjalan ….

.

.

Hero Without Weapon—

.

.

Hari-hari memang berjalan begitu cepat jika tak ada sesuatu yang menarik. Tiga hari berlalu semenjak aku membeli budak, dan kami hanya melakukan kegiatan seperti biasa; meningkatkan level serta mengumpulkan bahan-bahan untuk pembuatan obat.

Selain itu, mengurus Raphtalia cukup merepotkan. Seperti deja vu, aku mengalami hal yang sama seperti saat mengurus Jeanne.

Raphtalia pada awalnya juga tidak mau melawan monster, tapi berkat adanya segel kutukan, ini berlalu lebih mudah. Bagaimana pun, ia adalah budak, Raphtalia tidak akan bisa menentang perintahku kalau dia gak mau kesakitan.

Penjual Budak itu benar, Raphtalia sering kali menangis saat malam hari. Dia terus menyebut-nyebut ayah dan ibunya ketika tidur, jadi aku mengira bahwa ada sesuatu yang buruk telah menimpa kedua orang tuanya. Aku kurang tahu karena gak pernah menanyakannya.

Dan juga, selain masalah psikologisnya, Raphtalia ternyata juga memiliki penyakit batuk. Aku sudah beberapa kali memberinya obat yang kubuat, jadi itu sedikit meringankan batuknya agar tidak bertambah parah. Mana mungkin aku membiarkannya mati begitu saja karena sakit. Paling tidak, modal dari membeli Raphtalia harus kudapatkan biar aku tidak rugi.

"Anda yakin ini tempat yang benar, Goshoujin-sama?"

"Uhuk … uhuk!"

"Yah, begitulah yang dikatakan warga desa Lafan."

Aku pikir, menjual drop item monster dan obat-obatan belum cukup untuk memenuhi kekurangan pendapatan kami. Kami butuh banyak uang untuk membeli equipment yang lebih bagus, jadi karena itulah, sebelumnya aku bertanya kepada orang dari desa Lafan;

"Kenapa kau tidak coba saja pergi ke barat daya dari sini, Petualang-san?"

"Memangnya ada apa disana?"

"Ada yang bilang, kalau di dalam gua itu ada banyak batu bagus. Mungkin saja kau akan mendapat banyak uang dari menjualnya."

"Serius? Aku akan memeriksanya kalau begitu."

—Dan setelah itu, di sini lah kami sekarang berada, di depan sebuah gua besar yang letaknya cukup jauh dari pedesaan.

"Saya pikir, ide buruk untuk kita masuk ke dalam sana." Jeanne terus menatap cemas ke depan.

"Uhuk! Saya setuju. Aura di sekitar sini menakutkan, Goshoujin-sama." Raphtalia juga …?! Dia bahkan bersembunyi di belakang Jeanne. Tidak ada yang kita harapkan dari anak kecil, aku tahu itu.

Yah, aku paham apa yang mereka takuti. Sejujurnya, bulu kudukku terus berdiri, seolah memberitahuku bahwa ada sesuatu yang berbahaya di dalam sana. Mungkinkah ada monster yang bersarang di dalam gua ini? "Tapi, kalau tidak mengeceknya, kita tidak akan tahu, 'kan?"

Mereka berdua cuma diam saja.

"Tenanglah, aku janji akan melindungi kalian. Dan kalau keadaan mulai menjadi buruk, maka kita akan langsung kabur keluar dari gua ini, paham?"

Levelku saat ini adalah 12, Jeanne level 10, sementara Raphtalia level 6. Kalau kami sampai bertemu dengan monster kuat semacam Lizardman seperti waktu itu, maka kami tidak perlu memaksakan diri untuk bertarung. Level kami saat ini belum cukup lah tinggi.

… mereka mengangguk mengerti.

Dengan begitu, aku mulai melangkah masuk ke dalam gua, diikuti Jeanne dan Raphtalia. Aku bisa mencium aura membunuh yang begitu pekat di dalam sini. Meski begitu, kami tetap memaksa masuk ke dalam.

Saat kami sudah cukup lama berjalan, seseorang berteriak,

"Eek! I-Ini …!"

"Ada apa, Raphtalia?"

Aku melihat ke tanah yang disinari Raphtalia menggunakan obor di tangannya. Itu adalah jejak kaki binatang, sesuatu yang berkaki empat. Anjing? Tapi, jejaknya ini cukup besar untuk kuasumsikan sebagai anjing.

"Goshoujin-sama! Di … sana ada …."

Sekarang gantian Jeanne. Sebenarnya ada apa ini?!

"Ghhhrrrr!"

Oh, sial …!

Suara geraman itu menjadi pertanda buruk bagi kami. Dari balik kegelapan gua, muncul bayang-bayang tubuh besar mendekati kami. Tanah bahkan ikut bergetar ketika makhluk itu melangkahkan kakinya. Sepertinya, dia adalah pemilik jejak kaki yang ditemukan Raphtalia.

Tubuhnya sangat besar, dan dipenuhi oleh bulu. Makhluk itu memiliki tanduk panjang di masing-masing kepalanya. Benar, kalian tidak salah mendengar yang barusan kudeskripsikan! Dia memang memiliki lebih dari satu kepala—tepatnya adalah TIGA KEPALA!

"Cerberus …?!"

—Teriakanku menggema di seluruh gua ini.

Bersambung


[A/N]:

Yo! Balik lagi di-update-an ku yang satu ini. Hampir satu tahun ya, aku tidak update chapter baru untuk semua Fic Multichap-ku.

Aku jadi kembali semangat nulis cerita ini setelah nonton Eps terbaru dari season 2 Tate no Yuusha, wkwk. Meski banyak yang berbeda dari LN-nya, adaptasi anime-nya sebenernya masih oke-oke aja untuk ditonton, kok.

Aku gak akan banyak omong di sini, pembahasan serta jawaban dari pertanyaan kalian di kotak review dari chap sebelumnya, akan kujawab aja di author note pas chap 7 ku-update nanti, karena yah semua pokok masalah akan kujabarkan disana.

Update kapan chap 7? Yang pasti sebelum bulan Juni berakhir. Juli nanti kayaknya aku bakal lanjutin fic Zombie-ku, jadi tetap ikuti perkembangan akun ini, ya!

Terima kasih kepada pembaca yang meluangkan waktunya sejenak untuk meninggalkan review kalian di cerita kecil yang kubuat ini.

Sampai jumpa lagi di chapter depan, Brother and Sister!

.

.

.

Tertanda. [Abidin Ren] (15/Juni/2022).