hai,hai...

aku oarng baru fandom k

harap maklum kalau ada kesalahan

Saruhiko menatap matahari yang perlahan tenggelam. Samar-samar cakrawala di hiasi warna merah kejinggaan ditemani taburan awan putih menciptakan keindahan alam yang tampak megah dan mempesona.

Saruhiko mendecakkkan lidahnya. Keindahan alam tersebut tak akan membutnya terpesona untuk saat ini.

Di samping Saruhiko, terdapat Hidaka yang berwajah masam sedang menopang dagunya. Tak ada wajah gembira yang selalu dia umbar kesana-kemari untuk saat ini.

" Jadi Saruhiko,sekarang bagaimana? ". Hidaka menatap wajah remaja berkacamata tersebut yang kini dalam mood kurang bagus.

Saruhiko meremas pasir yang dia duduki agak gemas.

" Kau bertanya padaku ? ",dengus Saruhiko geram. Mati-matian ia menahan diri agar tak langsung memukul wajah si rambut cokelat tersebut. " Kau pikir ini salahku! "

" Siapa penyebab semua ini,huh ? "

Hidaka nyengir saat menanggapi ucapan Saruhiko. Dia menggaruk kepalanya agak canggung.

" Maaf, ini memang salahku... Harusnya aku tak mengambil jalan pintas. Harusnya kita tidak nekat..."

" Kita? ",ulang Saruhiko penuh penekanan. " Kau mengatakan itu seakan aku juga bersalah !". Saruhiko berdecak tidak senang.

Hidaka meringis sesaat setelah Saruhiko beteriak nyaring. Dia kehilangan kata-kata dan kini mulai kebingungan.

Mereka saling mendiamkan dan tenggelam dalam pesona matahari terbenam. Tidak, tidak terpesona. Hanya menatap matari tenggelam itu saja.

Hidaka menatap serius matahari tersebut namun matanya bukanlah fokus disana,tapi hanya menatap.

Begitu dalam ia berpikir, mengapa ini semua terjadi? Apakah ini salahnya? Apakah dia terlalu senang karena dapat mengahabiskan waktu bersama Saruhiko yang sudah dia anggap adiknya? Entahlah,dia tidak tahu.

Hidaka menatap Saruhiko disebelahnya yang kini hanya fokus pada pemandangan di depannya.

Ah, Hidaka jadi teringat awal mereka berakhir di tempat ini.

Hidaka bekerja di perusahaan milik ayah Saruhiko. Ayahnya bernama Munakata Reisi. Disanalah dia melihat remaja kurus,culun dan memakai kacamata membuntuti Munakata. Awalnya, Hidaka mengira remaja tersebut adalah pekerja baru,namun dilihat dari fisiknya,dia masih belum cukup umur untuk bekerja di parusahaan.

Hidaka memberanikan diri bertanya dan disitulah awal mereka mulai akrab walau Saruhiko sangat pendiam.

Fushimi Saruhiko namanya, berusia 18 tahun yang kini telah lulus sekolah SMA.

Menghadapi liburan setelah kelulusan Saruhiko, Hidaka mengajak Saruhiko jalan-jalan untuk beberapa hari keluar kota yang tentunya langsung di tanggapi Saruhiko dengan gerutuan dan decakkan lidah penuh kemalasan.

Namun, Munakata mengatakan sesuatu pada remaja tersebut. " Saru...,ada baiknya apa yang Hidaka katakan. Kamu tak selalu dirumah saat liburan. Habiskanlah waktumu keluar untuk menambah wawasan... Ayah akan memberi Hidaka cuti untuk menemanimu selama liburan di luar..."

Dan Hidaka nyaris tertawa mengingat bagaimana lucunya ekspresi wajah Saruhiko saat ingin protes.

Saruhiko memajukan bibirnya khas orang merajuk sambil mendecakkan lidah dan mengatakan dia bukan anak kecil.

Sore harinya, Hidaka mengajak Saruhiko ke cafe terdekat untuk membicarakan ke mana mereka akan berlibur. Tentu saja Hidaka yang paling banyak mengoceh tentang tempat ini-tempat itu sedang Saruhiko hanya mengangguk tanpa minat.

" Hei Saru,apa kau mendengarkanku...? ",tanya Hidaka pada Saruhiko yang kini sedang memainkan es krimnya yang mulai meleleh.

" Iya,tentu saja...",jawab Saruhiko mendecakkan lidahnya pelan sambil bergumam tidak jelas.

" Jadi, tempat apa yang akan kau pilih...? "

" Kurasa aku ingin ke taman hutan raya saja...",ucap Saruhiko tanpa pikir panjang. Sejujurnya,dia lelah mendengar ocehan tak jelas Hidaka. Ia ingin cepat-cepat semuanya selesai lalu tidur.

Hidaka meletakkan tangannya di dagu mempertimbangkan apa yang Saruhiko ucapkan.

" Waaahh...,idemu memang luar biasa ",puji Hidaka sambil mengelus kepala Saruhiko membuat sang empu kepala yang jarang terkena kontak fisik merona malu.

Saruhiko langsung menepis tangan tersebut sambil mendecakkan lidahnya seperti biasa. " Ck,apa-apaan! ",gerutunya tidak senang.

Hidaka terkekeh pelan. " Jadi,besok kita akan kesana oke... Persiapkan dirimu Saru..."

Esoknya, Mereka berdua berangkat dengan menggunakan mobil Munakata sedang yang menyetir adalah Hidaka.

" Jaga dirimu baik-baik, Saru... ",ucap Munakata sambil memeluk Saruhiko yang baru saja ingin masuk ke dalam mobil.

Saruhiko membeku dengan rona merah yang menghiasi pipinya menyebabkannya tidak fokus. Saking tidak fokusnya, Saruhiko tak sadar Munakata Sudah melepaskannya.

" Saru...",panggil Munakata pada Saruhiko yang terdiam tak berkutik.

" E-eh..". Saruhiko gelagapan dan langsung masuk kedalam mobil.

Munakata melambaikan tangannya saat mobil tersebut melaju hingga tak terlihat lagi. Tapi entah mengapa perasaanya kurang tenang saat melepas kepergian sang anak.

" Ah, semoga mereka baik-baik saja..."

.

.

.

Matahari sudah menggantung diatas langit namun mereka masih saja belum sampai di tujuan. Saruhiko yang sudah kelewat bosan terus menggerutu.

" Apakah masih lama Hidaka? ",tanya Saruhiko yang entah mengapa terdengar seperti meregek minta di belikan es krim. Dan hal ini membuat Saruhiko ingin mengutuk mulutnya sendiri karena telah berani mengeluarkan kata dengan ucapan memalukan.

Hidaka tertawa pelan sambil menatap sekilas Saruhiko yang duduk di sampingnya kini sedang menopang dagu membuang muka keluar jendela mobil.

" Wah,ternyata ada yang tidak sabar ya'...". Goda Hidaka membuat Saruhiko mendecakkan lidahnya. Pemuda tersebut terkekeh sebelum kembali fokus pada jalanan.

" Masih cukup jauh. Tapi tampaknya ada jalan pintas walau aku tak yakin... Apa kau ingin mencoba? "

" Terserah...yang penting cepat sampai ",ucap Saruhiko acuh.

" Baiklah. Kita akan melewati hutan kecil dan di hutan tersebut ada jalan berbatu dengan pasir putih. Mungkin mobil ini muat jadi tak masalah. Nah,jalan itulah jalan pintas. Tapi,menurut rumor tempat itu agak angker dan banyak pengendara melewati jalan itu hilang tanpa kabar. Polisi pernah mencari tahu ketempat itu, tapi...malah polisinya juga menghilang. Dan sampai sekarang tak ada kabar tentang mereka". Hidaka mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan," Jadi Saru, kau yakin kita akan melewti jalan pintas? "

Tanpa peduli, Saruhiko menjawab " Terserah kau saja, aku tak peduli..."

Hidaka mengangkat bahu sekilas " Oke,kita akan melewti jalan itu. Lagi pula itu hanya rumor..."

.

.

.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Kini, mereka memasuki jalan yang di samping kiri-kanannya hanya ada pepohonan. Dengan kata lain,mereka telah memasuki area hutan.

Jalan tersebut begitu sepi. Sangat sangat sepi. Saking sepinya, Hidaka dapat mendengar dengkuran halus khas orang sedang tidur di balik suara mesin mobil yang samar.

Tunggu, sepi? Suara dengkuran halus?

Hidaka menolehkan kepalanya kesamping. Dapat ia lihat Saruhiko tertidur lelap dengan damai. Nafasnya teratur dan lambat. Sungguh penampakkan yang langka.

Terkekeh sesaat, Hidaka kembali memfokuskan diri ke jalanan. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat betapa lucunya Saruhiko saat tidur. Dan,itu sebabnya suasana terasa begitu sepi. Tak ada decakkan lidah atau pun gerutuan. Benar-benar damai.

Ia berbelok ke arah jalan berbatu yang di dominasi pasir putih. Jalanan tersebut pas dengan ukuran mobil yang mereka tumpangi. Namun, jika berselisih dengan orang salah satu di antara harus mengalah dan berhenti. Tunggu, mana mungkin jalanan ini di pakai kalau terdengar rumor begitu.

Mobil terus melaju hingga tak sengaja melewati lubang kecil di jalanan. Guncangan kecil terjadi dan itu membut tidur Saruhiko terusik. Matanya perlahan tebuka.

" Apakah sudah sampai? ",tanya Saruhiko menguap kecil.

" Masih belum... Sabar ya Saru...". Hidaka tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

Saruhiko merengut sesaat sebelum akhirnya kembali diam.

" Ckk,menyebalkan! "

Satu perasatu pohon mereka lewati hingga sampai di pesisir pantai yang begitu indah. Andai saja Hidaka lupa tujuan utama mereka,sudah pasti dia berhenti sekarang.

Saruhiko hanya diam sambil menikmati pemandangan sekitar. Ada satu pohon yang membuat saruhiko tertarik yang baru saja mereka lewati. Pohon itu pohon cemara yang batangnya di diikat kain bewarna merah. Sangat mencolok. Tapi ada yang janggal. Entah mengapa,rasanya mereka sudah melewati tempat itu satu kali.

" Hei Hidaka, kau yakin ini jalan pintas. Tadi aku melihat kita melewati pohon cemara yang batangnya di ikat kain merah. Kalau tidak salah kita sudah melewati tempat itu...", ucap Saruhiko agak was-was,khawatir mereka tersesat.

" Ah,yaa...",jawb Hidaka agak ragu.

Tampaknya, apa yang Saruhiko katakan benar. Mereka kembali melewati pohon yang yang di maksud.

Mereka berhenti di dekat pohon tersebut.

" Ck, ini yang ketiga kalinya! ", gerutu Saruhiko saat mengikat syalnya yang berwarna biru untuk membuktikan apakah mereka memang benar-benar tersesat.

Mobil kembali melaju dan cukup mengejutkan saat mereka kembali melewti pohon itu, dibuktikan dengan syal biru milik Saruhiko.

Hidaka tertegun sebelum akhirnya berhenti tepat didekat pohon tersebut. " Ini tidak mungkin. Jangan bilang kita memang..."

" Tersesat... "

'da~ka'

'Hi~da~ka'

" HIDAKA !"

Hidaka terperanjat kaget saat Saruhiko berteriak di samping telinganya. Ia merasa telinganya berdengung tidak nyaman. Habislah sudah lamunannya yang berarti.

" Jika memanggil tidak perlu berteriak... ",dengus Hidaka sambil mengorek-ngorek telinganya.

Saruhiko berdecak pelan , " Aku sudah memanggilmu berkali-kali, kau saja yang tidak mendengar. Jadi,aku terpaka memanggilmu dengan berteriak ",balas Saruhiko acuh. " Dan..., hari mulai gelap. Tampaknya kita harus tidur di dalam mobil malam ini..."

Hidaka menerawang kesekitaran dan baru menyadari hari sudah mulai benar-benar gelap.

Ah, dai berharap mereka akan baik-baik saja.

Bersambung...