STRONG FATHER

.

Disclaimer

Naruto : Masashi Kishimoto

HighSchoolDxD : Ichie Ishibumi

Dan karakter lainnya dari Disclaimernya masing-masing, saya hanya meminjamnya.

.

Rate : M

Genre : Family, Humor, Romance, Fantasy

Pair :

Naruto U x Big Harem

(Great Red x Kholkikos x Katerea x Serafall x Grayfia x Arturia x Yasaka x Asuna x Mereoleona x Shirahoshi x Albedo x Freya x Hancock x Chisato x Remia x Robin) x (Kalawarner x Izanami x Gabriel x Hestia x Tiamat x Tifa x Lily x Ophis x -)

Menma x Harem

(Kiyohime x Shalter x Evangelin x Raynare x Akeno x -)

(Gray x Kuroka x -) (Vali x Mirajane) (Shiro x Rin) (Natsu x Lucy) (Lambert x Liya) (Minato x Koneko x -)

.

Warning! : Fic ini hasil pemikiran sendiri, banyak kesalahan, kosa kata hancur, Typo, ooc, Gaje, Alur berantakan.)

"Hello," : orang bicara

"Hello,": orang membatin

"Hello,": Monster bicara

"Hello," : Monster membatin

Peringatan sebelum membaca, chapter ini mungkin banyak Typo, kata yang kurang, serta kesalahan ketik banyak terjadi, karena saya terlalu malas untuk meneliti lagi.

.

.

Chapter 62

.

Banyak hal yang Naruto dan Chisato bicarakan dalam pertemuan mereka. Walau kenyataannya percakapan itu dikuasai oleh Chisato yang sangat gemar sekali menceritakan keseharian putrinya setelah diminta oleh Naruto untuk menceritakan tentang Kuroe.

Dalam percakapan tadi, Kuroe dititipkan di tempat jasa penitipan anak untuk saat ini.

Dan sekarang, mereka berdua sedang berjalan bersama menuju tempat Kuroe dititipkan.

Banyak obrolan membuat mereka tidak sadar bahwa mereka telah sampai di tempat penitipan anak.

Di depan bangunan tersebut, Chisato masuk terlebih dahulu melewati pintu pagar bangunan disusul Naruto yang membuntuti.

Terlihat sepi, mungkin anak-anak yang dititipkan sudah dijemput oleh orang tua mereka masing-masing.

"Permisi," Chisato bersuara saat hendak membuka pintu, tapi tidak ada yang menjawabnya.

Chisato memutuskan untuk masuk, Naruto stay mengikuti.

Tak berselang lama mereka masuk, mereka berpapasan dengan seorang perempuan yang sedang mengepel lantai lorong-lorong ruangan.

"Permisi," sekali lagi Chisato bersuara.

Perempuan itu merespons. "Ah, Okaa-sannya Kuroe-Chan ya, dan anda?" pandangan perempuan tersebut tertuju pada Naruto.

"Dia..."

"Aku ayahnya Kuroe-Chan," Naruto memotong ucapan Chisato dengan cepat, mendengar pengakuan tak terduga tersebut membuat Chisato tersipu malu

"Souka..." perempuan tersebut mengangguk paham. "Kuroe-Chan masih di dalam, silahkan masuk," sambungnya menunjuk ruang sebelah yang dikhususkan untuk tempat bermain anak-anak.

"Terima kasih," Naruto tersenyum, Chisato masih tersipu.

Naruto pun langsung menyentil dahi Chisato. "Hey! Kita akan menjemputnya kan?" ucapnya yang membuat Chisato tersentak kaget dan tersadar.

"Ah... Y-ya,"

Dengan gugup Chisato melangkah dahulu menuju ruangan bermain, diikuti Naruto.

Sedangkan perempuan yang sedang mengepel dibuat geleng-geleng kepala atas pasangan tersebut, menebak bahwa ayahnya Kuroe pasti baru saja pulang dari luar Kota atau Negeri setelah sekian lama sehingga membuat Chisato salah tingkah, dan juga mengakui jika ayahnya Kuroe cukup tampan, dia juga sempat terpesona melihatnya.

Tak berselang lama, Chisato dan Naruto masuk ruangan bermain.

Rasanya cukup sedih mengetahui hanya Kuroe yang tersisa di ruangan tersebut, sedang menggambar pada kertas karton dengan pensil warna.

Chisato dan Naruto pun menghampirinya dengan perlahan, hingga sampai pada saat dekat akhirnya mereka mengetahui apa yang digambar oleh Kuroe.

Walaupun terlihat absurd karena gambaran dari anak-anak, mereka sangat jelas memahami maksud dari gambar tersebut.

Gambar yang pernah membuat Chisato sedih setiap kali melihatnya, gambar tersebut juga pernah digambar oleh Kuroe waktu dulu.

Gambaran dari sebuah Keluarga, yang memperlihatkan sosok gambar ayah, ibu, dan anak kecil di antara sosok gambar ayah dan ibu, dan saling berpegangan tangan.

Nampaknya Kuroe merasakan ada seseorang di dekatnya, dia menegakkan kepalanya.

"Kaa-Chan!" seru Kuroe.

Chisato tersenyum, kemudian berjongkok di samping Kuroe. "Gambarnya bagus, Sayang," puji Chisato sambil mengusap rambut Kuroe dengan lembut.

"Hihi... Terima kasih, Kaa-Chan,"

Tiba-tiba Naruto berjongkok di hadapan Kuroe, dan langsung mendapatkan perhatian dari Kuroe.

Naruto tersenyum ketika ditatap bingung oleh Kuroe.

"Eto... Paman siapa?" tanya Kuroe.

Chisato ingin sekali mengatakannya, tapi saat melihat senyuman Naruto membuatnya memilih diam. Menyadari jika Naruto pasti mempunyai cara sendiri untuk menyampaikan sesuatu kepada Kuroe.

"Paman adalah ini," kata Naruto sambil menunjuk gambar sosok ayah pada gambaran Kuroe.

Kuroe memperhatikan gambarnya, kemudian kembali menatap Naruto.

"Tou-Chan?" kata Kuroe sambil memiringkan kepalanya.

Naruto mengangguk, dan masih tersenyum.

Dan itu membuat Kuroe menatap ibunya dengan bingung.

Seketika itu pula Chisato membenamkan Kuroe dalam pelukannya dengan erat, dan sebuah usapan lembut di pucuk rambut Kuroe.

Chisato tidak menjawab 'iya' atau 'tidak' tapi Kuroe mengerti, tindakan ibunya seperti itu membuatnya paham bahwa ibunya tidak menyangkalnya.

Bahwa pria di depannya adalah ayahnya.

Tapi senyuman Naruto tiba-tiba pudar melihat Kuroe semakin membenamkan kepalanya di pelukan Chisato.

Seolah-olah Kuroe merasa takut.

Hal tersebut membuat perhatian Naruto beralih kepada Chisato, dan menatapnya.

"Maaf," kata Chisato yang mengetahui tatapan Naruto kepadanya sambil terus mengusap lembut kepala putrinya. "Aku akan menjelaskan, tapi tidak sekarang,"

Naruto benar-benar ingin tahu penjelasannya, bukan karena Naruto tidak tahu sifat karakter anak-anak, tapi yang dia lihat sekarang dapat dia rasa bahwa itu adalah rasa takut Troumatic Kuroe.

Seenggaknya Naruto harus tahu dan ingin tahu apa yang pernah dialami oleh putrinya ini di masa lalu.

.

.

.

#12A, Kuoh Gakuen...

.

Tidak pernah terpikir oleh Mirajane yang kadang kala bisa ceroboh melupakan barang pribadinya. Entah apa itu, yang jelas itu adalah barang pribadi yang dia sembunyikan dari saudara-saudaranya agar tidak ada yang mengetahuinya.

Dan itu penting, bahkan dia rela kembali lagi ke sekolahan saat sudah di pertengahan jalan pulang untuk mengambil barang miliknya yang tertinggal di kelas.

*Sreeek...!*

Pintu kelas Mirajane buka, dan saat itu pula dia merasa heran saat pandangannya langsung tertuju pada pojok ruangan kelas.

Bahwa di kelas tersebut masih ada penghuninya.

Yaitu Vali, dia duduk diam menopang dagunya, pandangan yang kosong sedang melihat keluar jendela.

Melihatnya membuat Mirajene cuek, dia tidak akan untuk menggubris penghuni lain dan lebih memilih menghampiri tempat duduknya untuk mengambil barang pribadinya di lacinya.

Sebuah buku? Bukan, itu adalah sebuah Manga Romance yang Mirajane ambil dari lacinya, mengambilnya dengan hati-hati dan sembunyi-sembunyi memasukannya ke dalam tas, Mirajane tidak ingin Vali mengetahui dia mengambil sebuah Manga.

Setelah itu Mirajane kembali keluar kelas dengan diam dan acuh seolah mengabaikan penghuni lain di kelas tersebut.

"Aku... Sangat iri kepadamu," Vali bergumam.

Dan itu sukses membuat Mirajane menghentikan langkahnya tepat di depan pintu untuk keluar, merespons sedikit dengan melirik ke arah Vali melalui ekor matanya.

Vali masih tetap memandang keluar jendela.

Dan Mirajane pikir itu hanyalah gurauan angin lalu, sehingga Mirajane kembali melanjutkan niatnya untuk keluar kelas dan pulang.

"Memiliki apa yang tidak aku punya... Sebuah keluarga," Vali kembali bergumam.

Sesaat detak jantung Mirajane terhenti, dia terteguh sebelum memulai melangkah, sebab yang pasti membuatnya terdiam, mata melebar terkejut.

Hanya saja, sepintas Mirajane malah teringat.

Teringat sebuah alur jalan cerita pada sebuah Manga yang terakhir dia baca, lebih tepatnya adalah Manga yang berada di dalam tasnya.

Sebuah Manga yang menceritakan tokoh utama remaja pria yang sombong dan angkuh, tapi sebenarnya rapuh dan kesepian, dan heroinnya memiliki sifat pemarah dan cuek, tapi sebenarnya perhatian dan peduli.

Dalam Manga mereka saling bertengkar, setiap bertemu akan saling cekcok. Sangat bertentangan.

Dan apa hubungannya Manga yang dimaksud dengan saat ini?

Mirajane sangat jelas menyadari, bahwa alur suasana saat ini sama persis dengan halaman terakhir yang dia baca pada Manga tersebut.

Jika memang seperti itu, Mirajane tahu apa tindakan selanjutnya jika mengikuti alur pada Manga yang dia baca.

"Bukankah kita sudah lelah... Untuk terus seperti ini,"

Dan sesuai dugaan Mirajane, setelah ucapannya itu akan terjadi keheningan yang tiba-tiba, maka selanjutnya Mirajane memilih untuk beranjak pergi.

Sambil menahan berbagai hujanan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.

Tapi ada yang tidak Mirajane ketahui pada Manga halaman berikutnya, karena memang belum dia baca.

Bahwa kenyataannya Vali tidak berkata untuk Mirajane, dia berucap untuk sekelompok burung yang bertengger di batang pohon di luar jendela.

Dan nampaknya Vali tidak menyadari kehadiran Mirajane tadi karena dia tidak bergeming sedikit pun pandangannya dari luar jendela.

.

.

.

#Kediaman Uzumaki...

.

Arturia menari sangat indah, bagaikan tarian Burung Bangau di atas Teratai.

Sebagai seseorang wanita yang sudah tidak muda lagi, dia mampu bergerak dengan sangat lincah untuk menghindari berbagai serangan yang dilancarkan oleh Kiba, Xenovia, dan Irina.

*Tring! Tring! Tring!*

Dengan sekali gerakan, Arturia menghalau dengan mudah semua pedang milik mereka, sampai terpental menancap di tanah.

Di halaman belakang ini menjadi saksi tempat berlatih berpedang Kiba, Xenovia, dan Irina setiap sore yang digurui oleh Arturia Pendragon. Tapi sebenarnya masih ada Tomoe Meguri yang seharusnya ikut berlatih, dan dia izin hari ini.

"Haaaaah! Lagi-lagi hanya dalam satu serangan!"

Xenovia mendesah sebal, merasa jengkel karena setiap kali Sparring kerja sama dia dengan Kiba dan Irina melawan Arturia, selalu saja kalah.

Arturia menanggapinya dengan tawa kecil.

"Hmm... Power kalian sudah berkembang kok," kata Arturia.

"Tapi kami masih saja kalah darimu, Arturia-sensei," Irina menyahuti dengan nafas yang kelelahan.

"Yah... Kalian jangan berkecil hati hanya karena kalah, seiring berjalannya waktu, kalian pasti bisa mengalahkan ku dalam kerja sama kalian,"

Hanya anggukan pelan jawaban dari mereka.

Mereka bertiga paham, cukup sadar jika mereka kurang dalam kekompakan. Yang mana itu sangat penting untuk menjaga satu sama lain apabila terjadi sesuatu yang tak terduga.

Setidaknya itu adalah apa yang mereka tangkap dari perkataan Arturia barusan.

"Baiklah... Kita istirahat sebentar, kita akan lanjutkan lagi latihannya setelah kalian sudah siap lagi,"

"Haik, Arturia-sensei," jawab mereka bertiga kompak.

Dengan begitu, Arturia menghilangkan pedang berkilau emas yang barusan dia gunakan untuk beradu pedang dengan murid-muridnya itu.

"Arturia-sensei," tiba-tiba Xenovia berujar, membuat perhatian tertuju padanya, termasuk Arturia. "Aku sedikit penasaran tentang ini," katanya.

"Tentang apa, Xenovia-chan?"

"Lucy adalah putri anda kan? Tapi kenapa dia seperti tidak tertarik dengan ilmu berpedang seperti anda?"

"Ah, soal itu ya," Arturia bergumam.

Dan itu membuat mereka bertiga penasaran saat melihat reaksi tiba-tiba Arturia yang memandang langit sore.

.

.

#Flashback on

.

Siang hari di lorong-lorong istana kerajaan Britania, Arturia sedang memperhatikan setiap sudut ruangan di setiap langkahnya, dia sedang mencari putri manisnya yang sangat Aktif.

Dalam garis miring Aktif, itu adalah kelakuan yang sulit sekali diatur, selalu bertindak sesuka hatinya, dan semangat. Bahasa halus dari kelakuan Nakal dan Bandel untuk seorang anak-anak.

Yang pada saat ini Lucy baru berusia 10 tahun.

"Sayang! Kamu sembunyi dimana!" Arturia tak henti-hentinya untuk memanggil putrinya.

Ini aneh.

Ini tidak seperti biasa Arturia rasakan yang biasanya di bisa dengan mudah menemukan putrinya bersembunyi. Ini sudah waktunya makan siang, dan Arturia belum menemukannya sejak tadi, sejak 2 jam yang lalu.

Waktu yang cukup lama mencari seorang anak-anak di sekitar Istana, dan Arturia sekarang mulai merasa khawatir karena dia sudah bertanya kepada para Maid yang dia temui dan mereka juga tidak mengetahui keberadaa Lucy di mana.

Dalam situasi ini, satu tempat terlintas di benak Arturia.

Ruang pusat pemerintahan kerajaan Britania, tempat ayahnya berkerja mengurus berbagai urusan kerajaan.

Arturia pun melangkah ke sana, hanya berharap semoga putri manisnya sedang bersama kedua orang tuanya di sana.

.

Di sisi lain, ada sebuah bangunan kecil yang jauh di belakang istana, tapi masih dalam lingkungan istana karena berada di dalam pagar istana. Bangunan yang mungkin sudah lama terlantar, bahkan pintunya saja diborgol, serta tulisan [Dilarang Masuk!] tepat menggantung di pintu yang terborgol tersebut.

Akan tetapi jika diperhatikan lebih jelas, di samping kiri bangunan paling sudut ke belakang ada sebuah lubang kecil yang sekiranya itu dapat dilewati oleh seekor kucing dewasa.

Tapi kenyataannya, Lucy Pendragon ada di dalam bangunan tersebut.

Pandangan berbinar tak menghalanginya untuk kagum dengan apa yang baru pertama kali dia lihat di gelap dan kotornya dalam ruangan tersebut.

"Wah...! Pedang ini seperti punya Mama," katanya kagum saat melihat pedang emas bercorak hitam yang menancap pada altar kecil di antara patung prajurit berarmor yang sudah karatan.

Lucy penasaran, dia pun mendekatinya untuk menyentuhnya.

Tapi niat itu Lucy batalkan saat menyadari keanehan yang tiba-tiba terjadi.

Wajahnya pun menjadi pucat, matanya sukses melebar seolah apa yang dia lihat adalah kengerian yang tak ingin dia lihat selamaya.

Bahwa patung prajurit berarmor itu sedang menatapnya dengan mata merah nyalang, ditambah aura hitam yang tiba-tiba muncul dari pedang tersebut membentuk sebuah bayangan hitam dengan mata merah menatap Lucy.

Lucy sejak kecil sering diceritakan sebuah dongeng hantu yang menakutkan untuk anak-anak, dan dia sangat mempercayai itu.

"Ma ma... MAMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

.

Di ruangan kerja sang Raja, lantai teratas.

"Ibu benar-benar tidak tahu?" Arturia bertanya kembali kepada ibunya, Firis Pendragon (Firis : Exos Heroes) yang duduk di sofa empuk yang tersedia di situ, dan Arturia sendiri sedang menghadapnya.

"Kalau ibu tahu, ibu sudah membawanya ke sini untuk membantu pekerjaan ayahmu itu," kata Firis setelah mengecap teh hangatnya.

William Pendragon (John Donk : Exos Heroes) berdenyut mendengar penuturan istrinya. Itu adalah sebuah bencana baginya apabila benar-benar terjadi, bahwa apabila cucunya ada di ruangannya bukan untuk membantunya, melainkan untuk merusuhi pekerjaannya.

Dan itu benar-benar mimpi buruk bagi William.

"Hmm... Lucy kemana ya?" Arturia bingung, mengingat sudut ruangan yang belum dia cari.

"Mamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

Semua yang ada di ruangan tersebut langsung bereaksi, melihat langsung ke arah jendela yang berada di belakang tempat duduk sang Raja.

Tidak perlu dicerna kembali, semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut sudah sangat jelas paham jika teriakkan yang terdengar pelan di telinganya itu adalah suara Lucy.

Kekhawatiran mereka pun melanda, terutama Arturia yang merasa gelisah ketika arah pandanganya menangkap bangunan yang tertutup rimbunan pohon jauh dari tempat dia berada.

"Maaf ayah, aku pinjam jendelanya," Arturia langsung melesat dari jendela menuju tempat yang dia maksud tadi.

Firis menyadari, langsung menatap suaminya yang masih terpaku melihat Arturia yang main melesat saja.

"Sayang, kita harus cepat, itu adalah Bangunan Terlarang," katanya untuk menyadarkan suaminya.

William terkejut. "Apa?... Oh tidak! Cucuku!" William langsung melesat juga keluar jendela menyusul Arturia.

"Dasar, kakek-kakek Tsundere," Firis juga ikut melesat menyusul mereka berdua.

.

Arturia yang panik setelah yakin jika putrinya ada di dalam bangunan tersebut, seketika dia langsung mencoba membuka borgol pintunya, tapi gagal.

"Sial! Tidak bisa dibuka!" umpatnya.

Arturia langsung menciptakan pedang emas miliknya, lalu mengambil ancang-ancang.

*Trang!*

Tebasan pedang Arturia gagal, hanya membentur Barrier transparan saat pedangnya hampir mengenai borgol tersebut.

Arturia menjadi tambah panik.

"Minggir! Ria!" William sudah mengambil ancang-ancang untuk menebas dengan pedang emas yang lebih bercahaya dari milik Arturia.

Arturia pun memberi celah untuk ayahnya.

*Wush!*

*Tring!*

Lagi-lagi gagal, pedang yang jauh lebih kuat daya hancurnya ketimbang milik Arturia hanya membentur Barrier transparan saat hampir mengenai borgol tersebut.

William juga panik mengetahui tebasannya gagal.

Dalam pikiran yang kritis hanya demi untuk menghancurkan Barrier tersebut, William kembali ambil ancang-ancang. Sekarang pedangnya ditambah power yang lebih kuat.

"Hentikan!" Firis langsung mencegah tindakan suaminya itu.

Tapi Arturia mengabaikannya, dia malah ancang-ancang dan menambah power pada pedangnya, tanpa tahu bahwa tindakannya itu membuat ibunya marah dan langsung menghampirinya.

*Plak!*

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi manis Arturia dari Firis, itu adalah peringatan Arturia yang mengabaikan peringatan ibunya untuk berhenti bertindak bodoh.

"Ibu menyuruhmu untuk berhenti!"

Arturia terdiam, wajahnya menyamping. Tapi dia juga marah.

"Ibu! Anakku ada di dalam! Mana mungkin aku diam saja!" Arturia menatap tajam ibunya.

"Ibu tahu, cucuku ada di dalam," tegas Firis. "Tapi kau juga harus berpikir Ria! Kau ingin menghancurkan Barriernya itu sama saja kau akan menghancurkan bangunannya, dan Lucy ada di dalam. Kau seharusnya tahu apa yang akan terjadi apabila bangunannya hancur!"

"Bukan Cuma kamu saja yang khawatir, Ria! ibu juga khawatir mengetahui cucuku sendiri ada di dalam,"

Amarah Firis meluap, memarahi Arturia yang menurutnya ceroboh mengambil tindakan.

Arturia terdiam, keadaan panik membuatnya kalap dan tidak dapat berpikir dengan jernih.

"Ibu sudah menyuruh Gilthunder untuk memanggil Merlin dengan cepat, sebentar lagi dia akan datang untuk melepaskan segel bangunan ini," jelas Firis memberitahu.

*Sring!*

Tiba-tiba Merlin muncul bersama prajurit gagah yang memiliki tampang kalem dan berwibawa tapi tidak sesuai dengan rambutnya yang berwarna pink, yaitu Gilthunder (Gilthunder : Nanatsu no Taizai).

"Apa yang terjadi, yang mulia?" tanya Merlin seketika.

"Merlin! Cepat buka segel bangunan ini, anakku ada di dalam," Arturia langsung menyela dengan cepat tindakan ibunya yang akan memberitahu hal sebenarnya kepada Merlin.

"Apa?!" Merlin terkejut mendengarnya.

Entah apa sebabnya Merlin juga menjadi panik, setidaknya ditutupi dengan ketenangannya.

Merlin tidak perlu menanyakan lagi apa yang sebenarnya terjadi, semuanya sudah jelas dia ketahui seketika.

Merlin langsung mendekati pintu bangunan, menghadap borgol. Kemudian menempelkan jari telunjuknya pada borgol tersebut.

[Dimittas!]

*Cklek!*

Borgol tersebut terbuka dengan mudahnya setelah Merlin melepaskan mantra pelepasan segelnya. Tapi Arturia tidak sabaran, dia sesegera langsung membuka pintu tersebut menyela tindakan Merlin.

Pintu terbuka.

Pandangan mereka langsung menemukan Lucy yang terdiam gemetar menatap pedang yang menancap di altar setelah pintu itu terbuka.

Tapi filling seorang ibu mengatakan bahwa putrinya sedang ketakutan.

Dengan begitu Arturia langsung melesat meraih putrinya, membekap putrinya dalam pelukannya. Saat itu pula Arturia dapat merasakan deru gemetar yang dirasa oleh Lucy.

"Mama ada disini, mama ada disini, sekarang Lucy baik-baik saja," kata Arturia untuk menenangkan putrinya.

Tapi malah membuat Lucy menangis, dan mempererat memeluk Arturia.

"Hiks... Hiks... Hiks... Aku takut, hiks... Hiks..."

Arturia terus memeluk putrinya. kondisi putrinya tidak setabil untuk menanyakan apa yang baru saja dialaminya. Dengan begitu Arturia memutuskan untuk menggendong putrinya dan membawanya keluar bangunan tersebut sambil terus mengusap lembut rambutnya.

Hening terjadi ketika Firis juga ikut pergi dan mengikuti Arturia ke Istana. Kini di dalam bangunan tersebut hanya ada Merlin serta sang Raja, dan Gilthunder stay menunggu di luar bangunan.

"Sepertinya, Raja Roh Bintang telah menemukan tuannya," kata Merlin yang sedang memperhatikan pedang menancap di altar.

William jelas sangat paham maksud perkataan Merlin, dia juga sama memperhatikan pedang tersebut.

"Tapi cucuku masih terlalu dini untuk memikul bebannya," kata William. tiba-tiba dia berbalik badan dan berkata kembali. "Sampai waktunya tiba untuk Lucy, pastikan semuanya aman, aku menyerahkannya kepadamu,"

"Baik, Yang Mulia," jawab Merlin.

William pun beranjak pergi, meninggalkan Merlin yang masih ingin memperhatikan Pedang tersebut, dia tersenyum menatap pedang tersebut. "Hihi... keturunan Namikaze memang tidak terduga,"

.

.

.

#Flashback off

.

"Jadi, Lucy-san ternyata punya pobia terhadap pedang dan cerita hantu?" kata Kiba yang seketika dapat menangkap inti dari kisah yang diceritakan oleh Arturia.

"Yup, kamu benar, Kiba-kun," ucap Arturia membenarkan. "Tapi sekarang sudah jauh lebih baikkan berkat dorongan saudara-saudaranya dan teman-temannya, aku sangat bersyukur sekali,"

Mereka bertiga mengangguk mengerti.

Arturia tersenyum saat tiba-tiba pandangan matanya menangkap sosok putrinya yang berada di teras belakang, Lucy bersama Liya dan Rin sedang merasakan pusing yang berdenyut menghadapi tugas sekolah yang harus mereka kerjakan dalam pengawasan Grandhildr dan Rosweisse.

Pandangan itu tidak berubah membuat Arturia menyadari, jika Lucy yang sewaktu kecil sangat nakal dan bandel, sekarang telah bertranformasi menjadi gadis cantik dan manis.

Seperti dirinya pastinya yang percaya diri.

"Hmm... Aku penasaran, apakah Naru sewaktu kecil juga sama seperti Lucy dulu yang bandel?" batin Arturia bertanya.

.

.

.

#Sore...

.

"Tadaima..."

Naruto baru saja pulang, dia langsung masuk ke dalam rumah tanpa harus menunggu jawaban sapaan dari dalam rumah.

Wajahnya terlihat lesu, itu bukan karena kelelahan, tapi ekspresi bingung Naruto yang sedang memikirkan sesuatu.

Dan itu disadari oleh nyonya besar yang baru saja keluar dari ruang sebelah dan melihat suaminya terduduk lesu di sofa ruang keluarga.

Yasaka pun menghampirinya, berniat untuk mengagetkannya.

Tapi itu pecuma karena Naruto tidak merespons sedikitpun, tetap duduk diam dengan ekspresi bingung.

"Huh..." Yasaka menghela nafas, kemudian duduk di samping suaminya. "Kamu bisa menceritakannya kepadaku apa yang sedang kamu bingungkan,"

"Ada sesuatu yang disembunyikan dari Chisato, sepertinya hal yang rumit,"

"Lalu,"

"Aku sangat yakin jika dia pasti mengalami masa-masa sulit di masa lalu, tapi dia tutupi dengan ekspresinya yang seolah-olah dia berkata aku baik-baik saja dan sudah terbiasa," Naruto terdiam sesaat, memegang kepalanya. "Tapi senyumannya itu membuat perasaanku sakit, apalagi tatapan takut anakku darinya membuatku ingin tahu apa yang pernah mereka alami di masa lalu, pasti peristiwa buruk yang mereka alami," jelas Naruto memberitahu apa yang dia resahkan.

Yasaka terdiam mengerti.

Walaupun dia merasa tidak bisa membantu, tapi saat inilah perannya dibutuhkan.

Meredakan kegundahan hati suaminya yang sedang dilanda kebingungan oleh suatu hal yang sudah jelas dia ketahui.

Yasaka tiba-tiba membekap pipi Naruto, kemudian wajah suaminya ditolehkan kepadanya sehingga mereka saling tatap.

"Aku lebih menyukai suamiku yang tidak gampang menyerah,"

Naruto terdiam, terhanyut dalam tatapan intens Yasaka. Hingga secara tiba-tiba Naruto tersenyum.

"Terima kasih,"

"Um,"

Yasaka balas tersenyum, dia merasa senang karena akhirnya suaminya mendapatkan kembali pendiriannya sebagai seorang yang pantang menyerah.

Naruto sudah merasa lebih baikkan.

Tatapan intens mereka pun sudahi, Naruto kemudian merebahkan punggungnya pada sofa empuknya dan bernafas lega.

Untuk saat ini Naruto tidak ingin memikirkan susuatu yang membuatnya penasaran, dia akan cari tahu sendiri nanti.

"Aku lapar... Hari ini masak apa, Ya-Chan?"

"Entah, para istri Nagamu sedang belajar masak, mungkin masakannya enak,"

"Serius?"

"Um,"

Naruto terdiam, sesaat dia terkejut mengetahui istri-istri Naganya yang tidak suka repot-repot dengan masalah sepele seperti memasak, kini mereka belajar memasak. Mungkin untuk Great Red, Naruto tidak akan terkejut, dia memang bisa menurut Naruto, tapi yang lainnya?.

Naruto seketika langsung beranjak pergi ke dapur.

Dia penasaran bagaimana kondisi di dapur, dan juga terbesit bayangan ketika para istri Naganya yang takut-takut menghadapi kompor.

Terutama Ophis, mungkin terlihat imut ketika mengetahui sedang memakai Ampro dan memegang centong sayur dalam rangka belajar memasak.

Naruto pun akhirnya sampai di dapur.

Dan dugaan Naruto benar sesuai dengan apa yang dia bayangkan, hanya saja ada yang berbeda. Ophis tidak sedang belajar memasak, justru Ophis bersama Great Red malah sedang mengajari Kholkikos dan Tiamat.

Ophis mengajari Kholkikos, dan Great Red mengajari Tiamat.

"Bukan seperti itu, Kholki," Ophis menghentikan laju pisau yang diayunkan oleh Kholkikos untuk memotong daging, kemudian tangan mungil Ophis mengarahkan pisaunya yang sejajar dengan daging. "Kau harus mengirisnya seperti ini," Ophis pun mengarahkannya dengan perlahan.

Kholkikos menganguk mengerti, sekarang dia sudah mulai paham cara mengiris daging yang benar.

Sedangkan di sebelahnya, Tiamat nampak kewalahan untuk membedakan antara garam dan gula setelah pernyataan Great Red yang bilang 'kurang asin' setelah tadi mencicipi masakan belajar Tiamat.

Dan mereka tidak menyadari ada Naruto di ambang pintu dapur, tersenyum sambil menyenderkan bahunya ke samping.

Cukup senang melihat istri Naganya yang memiliki sifat keras kepala bawaan nampak akur sekarang.

*Set...!*

Tiba-tiba Tiamat terpeleset, tapi untung saja Naruto cepat bertindak menangkap tubuh Tiamat dengan kecepatan kilat agar tidak jatuh. Tidak lupa juga menangkap toples berisi garam yang terlepas dari tangan Tiamat.

"Hampir saja," ucap Naruto.

"Naru!" mereka berempat terkejut, segala kegiatan terhenti sesaat.

Mengabaikan hal tersebut, Naruto membantu Tiamat berdiri. "Tadi itu sangat berbahaya sekali, ini tidak seperti dirimu biasanya yang tangkas dan lincah," ucapnya sambil menyerahkan toples garam kepada Great Red, dan di terima.

Kemudian Naruto kembali menatap Tiamat.

"Kamu sedang tidak enak badan, Tia-Chan?"

Tiamat menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja kok, hanya saja akhir-akhir hawaku merasa tidak sabaran ketika melakukan suatu kegiatan, seperti ingin cepat-cepat selesai segala kegiatan aktifitas tersebut," kata Tiamat memberitahu.

"Hmm..." Naruto tidak mengerti.

"Bukankah itu suatu gejala," kata Great Red tiba-tiba membuat semua perhatian tertuju kepadanya.

Semuanya menatap penuh penasaran kepada Great Red, terutama Tiamat. Sedangkan yang ditatap sedang berpikir untuk mengingat sesuatu.

"Tapi aku lupa, hehe," sambung Great Red Watados.

Hening... Mereka menghela nafas kecewa atas jawaban dari Great Red barusan.

"Sudahlah," Naruto berujar, dengan sengaja dia mengusap pucuk rambut Ophis, tapi pandangannya ke arah Great Red, Kholkikos, dan Tiamat. "Tidak dipungkiri jika kalian adalah istri-istriku yang kuat, tapi ada kalanya kecelakaan terjadi dan terkena penyakit, jadi berhati-hatilah saat beraktifitas,"

"Haiiiiiikkkkkk..." mereka menjawab kompak.

Naruto masih stay mengusap rambut Ophis, tanpa dia tahu tindakannya itu membuat Ophis tersipu, dan membuat Great Red, Kholkikos, dan Tiamat cekikikan jahil melihatnya.

"Ophis, kau sakit?" Naruto bertanya ketika mengetahui wajah Ophis memerah.

Ophis tidak menjawab, dia malah menunduk.

Dan itu membuat Naruto yakin jika Ophis sakit, dan langsung diseret keluar. " Aku akan meminta yang lainnya untuk menyembuhkanmu,"

Ophis pasrah, bahkan untuk menyangkal bahwa dirinya tidak sakit, dia tidak bisa mengatakannya, bibirnya terasa kaku entah apa sebabnya.

Mungkin malu...

Karena ini adalah pengalaman baru Ophis yang sudah berstatus Dimiliki, dan dia sedang belajar untuk menyesuaikan keadaan dan situasi.

Di sisi lain, Great Red, Kholkikos, dan Tiamat tidak bisa menyembunyikan cekikikannya saat melihat situasi Ophis saat ini.

Itu adalah momen lucu bagi mereka, melihat wajah tembok Ophis yang datar telah runtuh seketika.

Sedangkan Naruto, dia menyeret Ophis ke ruang tengah.

Pandangannya seketika melihat Gabriel, Hestia, dan Freya yang sedang menuruni tangga membawa keranjang pakaian kering.

"Ah, kalian," Naruto menghentikan laju langkahnya, memanggil mereka. "Kebetulan sekali,"

Mereka bertiga menoleh, kemudian mempercepat langkahnya menuruni tangga dan langsung menghadap Naruto.

"Ada apa, Naru-kun?" tanya Gabriel mewakili Hestia dan Freya.

"Ah begini... Ophis sakit, bisa kalian sembuhkan,"

Mereka bertiga seketika langsung menoleh ke arah Ophis, tidak ada yang aneh menurut mereka.

Tapi saat mengetahui reaksi Ophis yang menunduk dan merona membuat mereka bertiga menghela nafas sambil menepuk jidat mereka sendiri.

"Ada apa? Kenapa kalian seperti itu?" Naruto bingung mendapatkan respons seperti itu dari mereka.

Mereka geleng-geleng kepala atas ketidak pekaanya suami mereka.

Freya mendekati Ophis di samping Naruto. "Ophis-Chan, bisa tolong bawakan ini," ucapnya sambil menyerahkan keranjang pakaian itu.

Ophis mengangguk, dan menerimanya.

"Freya! Ophis sedang sakit," tegas Naruto.

Tapi Freya malah memegang kedua bahu Naruto, lalu diputar seketika. "Ayo mandi, badanmu bau," katanya sambil mendorong Naruto.

"Tapi, tapi..."

"Ophis-Chan baik-baik saja, justru kamu yang tidak baik-baik saja,"

Naruto tak menjawab, mungkin perkataan Freya memang benar baginya. Dan Freya memang tahu jika suaminya ini sedang merasa lelah dan pusing sehingga butuh disegarkan lagi biar tidak Loading kepekaannya.

Pada akhirnya Naruto pasrah, hari ini dia akan mandi dengan Freya.

Dan Ophis kembali ke dapur setelah memberikan keranjang pakaian kering itu kepada Asuna, Shirahoshi dan Remia di ruang tengah yang bertugas melipat pakaian itu.

Hestia dan Gabriel memilih langsung pergi ke halaman depan setelah tugasnya selesai, mereka ingin mengobrol di sana.

.

.

.

#Apartemen no 107 (Malam)

.

Di ruang tamu Apartemennya, Chisato duduk meringkuk memeluk kedua lututnya.

Kegundahan sedang menyelimutinya.

"Maaf, hiks... Hiks... Aku tidak bisa mengatakannya,"

Chisato terisak sedih, dia menyesali atas apa yang tadi terjadi, di ruang ini saat masih ada Naruto yang memintanya untuk menceritakan masa lalunya.

Ada sesuatu yang tidak ingin siapa pun tahu tentang dirinya dan putrinya, sehingga Chisato membohongi Naruto dengan cerita masa lalu yang dia buat-buat.

Dan sekarang dia gundah.

Bingun atas keyakinan yang dia buat, tidak tahu apakah benar atau tidak keputusan yang dia buat tadi.

Yang menolak untuk menjadi bagian Uzumaki.

"Kaa-Chan,"

Tiba-tiba suara Kuroe dari pintu kamar mengintrupsi pendengaran Chisato, seketika itu pula Chisato mengusap matanya dan mencoba untuk sebisa mungkin terlihat biasa saja di mata putrinya.

Detak jantung Chisato sesaat terhenti, mengetahui putrinya menatapnya sedih.

Mengetahui itu Chisato tersenyum. "Kuroe ngak bisa tidur ya,"

"Um," angguk Kuroe.

"Kesini, Sayang, temani Kaa-Chan,"

Kuroe pun melangkah menghampiri ibunya, dia duduk di pangkuan ibunya dan mendapatkan sebuah rangkulan dari ibunya.

Untuk saat ini cukup seperti ini, dengan rangkulan itu Chisato memberitahukan bahwa semuanya akan baik-baik saja, berharap semua yang mengganjal perasaannya cepat sirna dan berlalu.

.

.

.

Di sisi lain tempat, Chisato tidak menyadari jika dirinya menjadi perhatian dua pasang mata dari atap gedung depan bangunan Apartemennya.

Di bawah sinar rembulan, si pria berambut merah panjang melirik ke samping, ke arah pria berpenampilan orang Eropa abad pertengahan melalui ekor matanya.

"Baiklah, aku akan membantumu, jika wanita itu bayarannya," kata si pria berambut merah panjang itu.

Si pria abad pertengahan itu hanya mendengus saja, kemudian berbalik badan.

Lingkaran sihir pun tercipta di sampingnya, dan pria abad pertengahan itu berkata. "Terserah dirimu, yang kuinginkan hanyalah anak itu," katanya yang pada akhirnya menghilang ditelan lingkaran sihir ciptaannya.

Kini tinggal pria berambut merah panjang itu, kembali menoleh ke Apartemen Chisato.

Serigai tampak jelas terlihat di wajahnya.

Dan pada akhirnya pria itu menghilang ditelan lingkaran sihirnya yang tiba-tiba muncul dari permukaan yang dia pijaki.

.

.

.

Tbc

.

.

Arc Everyday Story End! Next Arc Family Role!

.

.

'Anak-anak Naruto'

(1)

Nama : Draig(Human Form 'Rindo Kobayashi' : Sogeking no Souma).

Umur : 207 tahun,(umur 27 tahun untuk bentuk Human Form-nya).

Gender : Perempuan

Ibu : Great Red(Human Form 'Satan' : no Taizai).

(2)

Nama : Albion(Human Form 'Briyhild' : FGO).

Umur : 207 tahun,(umur 27 tahun untuk bentuk Human Form-nya).

Gender : Perempuan

Ibu : Kholkikos(Human Form 'Bellial' : no Taizai).

(3)

Nama : Olive Uzumaki(Fubuki versi rambut kuning dan panjang : OPM).

Umur : 30 tahun(umur 26 tahun sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Perempuan

Ibu : Katerea Leviatan(High School DxD).

(4)

Nama : Menma Uzumaki(Jellal Fernandes versi rambut coklat tanpa tatto : Fairy Tail).

Umur : 27 tahun(umur 24 tahun sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Laki-Laki

Ibu : Katerea Leviathan(High School DxD).

(5)

Nama : Naruko Uzumaki(Female Naruto tanpa kumis kucing di setiap pipinya).

Umur : 21 tahun(umur 18 tahun sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Perempuan

Ibu : Serafall Leviathan(High School DxD).

(6)

Nama : Vivi Uzumaki(Vivi Nefertari versi rambut putih perak : One Piece).

Umur : 21 tahun(umur 18 tahun sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Perempuan

Ibu : Grayfia Lucifuge(High School DxD).

(7)

Nama : Gray Uzumaki(Gray Fulbuster versi rambut kuning : Fairy Tail).

Umur : 19 tahun(umur 18 tahun sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Laki-Laki

Ibu : Grayfia Lucifuge(High School DxD).

(8)

Nama : Mirajane Uzumaki(Mirajane Straus : Fairy Tail).

Umur : 19 tahun(umur 18 sesuai fisik yang terlihat).

Gender : Perempuan

Ibu : Grayfia Lucifuge(High School DxD).

(9)

Nama : Rin Uzumaki(Rin Tohsaka : Fate/Stray Night).

Umur : 19 tahun(umur 18 tahun sesuai fisik yang terlihat.

Gender : Perempuan

Ibu : Serafall Leviathan(High School DxD).

(10)

Nama : Lucy Uzumaki(Lucy Heartfilia : Fairy Tail).

Umur : 17 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Arturia Pendragon(Fate/Stray Night).

(11)

Nama : Minato Uzumaki(Minato Namikaze Chunin versi lebih tinggi : Naruto).

Umur : 17 tahun

Gender : Laki-Laki

Ibu : Yasaka(High School DxD).

(12)

Nama : Liya Uzumaki(Liya : Dragon nest)

Umur : 16 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Asuna(versi Elf Undine : SAO).

(13)

Nama : Leo Uzumaki(Leo Vermillion : Black Clover).

Umur : 14 tahun

Gender : Laki-Laki

Ibu : Mereoleona Vermillion(Black Clover).

(14)

Nama : Kunou Uzumaki(Kunou : High School DxD)

Umur : 12 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Yasaka(High School DxD).

(15)

Nama : Shuna Uzumaki(Meroune Lorelei : Monster Musume no Iru Nichijou).

Umur : 12 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Shirahoshi(One Piece).

(16)

Nama : Sting(Sting : Fairy Tail).

Umur : 11 tahun

Gender : Laki-Laki

Ibu : Freya(Amuryllis Asmodeus versi rambut kuning : Mairimashita! Iruma-kun).

(17)

Nama : Luck Uzumaki,(Black Clover).

Umur : 10 tahun

Gender : Laki-Laki

Ibu : Albedo(Overlord).

(18)

Nama : Luna Uzumaki(OC)

Umur : 10 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Boa Hancock(One Piece)

(19)

Nama : Hinami Uzumaki(Tokyo Ghoul)

Umur : 8 Tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Itori,(Tokyo Ghoul).

(20)

Nama : Kuroe Uzumaki(Kuroe Ningyouhara : C3, CubexCursedxCurious)

Umur : 5 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Chisato Hasegawa(Shinmai Maou no Testament).

(21)

Nama : Myu Uzumaki(Arifureta).

Umur : 4 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Remia(Arifureta).

(22)

Nama : Luffy Uzumaki(One Piece).

Umur : 8 bulan

Gender : Laki-Laki

Ibu : Nico Robin(One Piece setelah Time Skip).

'anak-anak Menma'

(1)

Nama : Koyuki(Lecliss : Brave Nine)

Umur : 12 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Kiyohime(FGO)

(2)

Nama : Staz(Blood Lad, rambut coklat)

Umur : 10 tahun

Gender : Laki-Laki

Ibu : Shalter Bloodfallen(Overlord)

(3)

Nama : Eva(Evangelin A.K Mcdowel : Negima: Magister Negi Magi)

Umur : 8 tahun

Gender : Perempuan

Ibu : Evangelin A.K Mcdowell(UQ Holder)

.

.

.

.

.

See you next chapter...