Chapter 16:

Mikoto telah melahirkan Itachi, dan dia belum genap setahun. Tanggal sepuluh Oktober, Kushina akan melahirkan anak pertamanya yang diketahui berjenis kelamin, perempuan. Dia di bawa oleh istri dari Hokage ketiga ke sebuah tempat dimana tak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Naruto bersama Mikoto ikut bersama, sementara Itachi mereka titipkan pada kakek dan neneknya.

Naruto menyuruh Mikoto untuk menjaga Kushina, dan dia akan menjaga di pintu masuk tempat mereka berada. Status Kushina sebagai seorang Jinchuriki hanya diketahui oleh beberapa orang saja, dan Naruto juga sudah mengutus beberapa Anbu untuk menjaga di luar, serta Nagato untuk mengantisipasi orang yang mencurigakan, dia juga menugaskan Kakashi dan Obito untuk menjaga Desa, kala Naruto berada di tempat yang aman.

Hiruzen sudah dia beritahu untuk menjaga Desa bilamana ada sesuatu yang terjadi.

"Bagaimana Mikoto?"

"Kepalanya sudah mulai keluar, kau tenang saja sayang."

"Uhhhhh, akan aku bunuh kau Naruto!"

Pria Uchiha itu tersenyum kaku mendengar umpatan Kushina.

"Sensei!" Nagato berteriak dari luar Goa, Naruto segera berlari ke depan untuk melihat apa yang terjadi.

"Ada apa?"

"Lihatlah!" Nagato menunjuk ke seseorang yang berdiri dengan jubah hitam di depan mulut Goa, para Anbu bersiap untuk bertarung melawannya, Nagato serta Naruto juga mulai bersiap.

Naruto menyipitkan kedua matanya, sharingan miliknya sudah aktif saat pria itu berjalan mendekatinya. "Siapa kau?"

"Uchiha...Madara..."

Suara serak Naruto dengar saat pria itu membuka suaranya. "Nagato, kebelakang ku!" Nagato mengangguk, dia berjalan ke belakang Naruto, pemuda itu kemudian membuat sebuah kekkai untuk melindungi mulut goa tersebut.

Naruto langsung berlari kencang untuk menerjang pria tersebut, dia mengambil Kunai yang ada di tas pinggangnya.

Sebuah sulur-sulur keluar dari balik jubah tersebut, mencoba untuk menyerang Naruto. Pria itu menghindari serangan tersebut dengan mudah karena dia memiliki Sharingan, namun pria berjubah itu menggunakan sebuah rantai untuk menyerang Naruto. Sulur-sulur itu hanyalah pengalihan baginya.

"Mati..."

Dengan cepat Naruto berpindah posisi menggunakan Hiraishin, dia berdiri tak jauh dari pria tersebut. Pria itu memakai sebuah topeng polos dengan sebuah lubang di sana, Naruto menyipitkan matanya melihat pria tersebut. Sebuah sharingan menyala dari balik topeng tersebut. "Seorang Uchiha... Tapi kau bukan Madara..."

'Di dalam tas ninja ada lima buah Kunai Hiraishin,...' Naruto menghindar saat dia akan membuka sebuah rencana, dia melompat mundur, kemudian melempar Kunai miliknya ke arah pria bertopeng tersebut.

Kunainya menempus kepala pria tersebut, Naruto mengerutkan dahinya. 'Padahal hanya Obito yang bisa'

Namun, Naruto tak kehilangan akal, dia kembali melempar Kunai Hiraishin miliknya, kali ini dia melempar lima buah Kunai pada pria bertopeng.

Naruto menciptakan sebuah Rasengan di tangannya, dan bersiap untuk menyerang pria tersebut, dia mengeluarkan napasnya serta menyiapkan sebuah segel tangan.

"Kau akan mati, Naruto Uchiha!"

Pria tersebut melesat kencang pada Naruto, bersamaan dengan kunai-kunai Naruto yang terlempar. Di saat kunai itu menembus tubuh pria bertopeng, dia langsung meneleportkan dirinya ke atas Pria itu dan menyerangnya menggunakan Rasengan.

"Uagghhh!"

Pria itu terlihat kesakitan saat Naruto menyerang punggugnya, pria Uchiha itu langsung berteleport tak jauh dari pria bertopeng, dia juga tak lupa untuk memberikan sebuah kanji pada pungggung itu.

"Kau berniat untuk melepas Kyuubi saat istriku melahirkan?"

Pria bertopeng itu mencoba untuk berdiri. "Itu bukan urusanmu!"

"Bukan urusanku?! Dia istriku, dan di dalamnya ada Bijuu, kau gila apa?!"

Pria tersebut tertawa keras mendengar balasan Naruto. "Rencanaku gagal karena kau! Tapi tak apa, tunggu saja pembalasanku!"

Pria itu menghilang seolah di sedot oleh sebuah dimensi. Naruto berusaha untuk tak mengejarnya, dia membiarkan pria itu pergi karena dirinya akan bertemu lagi suatu saat nanti.

"Sensei!" Naruto melihat Nagato yang berlari ke arah dirinya. "Kau tak apa?"

"Aku tak apa-apa, kita kembali!"

"Ha'i!"

Naruto dan Nagato kembali, mereka masih melihat para Anbu yang berjaga di sekitar mulut goa, mereka menundukkan kepalanya pada Naruto. Pria itu bersama Nagato masuk ke dalam, dia ingin melihat bagaimana keadaan dari Kushina.

"Ah, Naruto, bayinya telah lahir." Ujar Kushina, dia saat ini sedang menyusui bayi tersebut. "Dia perempuan, rambutnya merah."

"Mirip sepertimu Kushina."

Mikoto yang ada dibelakang Naruto tersenyum melihat bayi Kushina yang sudah lahir.

"Kita namakan siapa?"

"Naruko? Natsumi?"

Mikoto langsung mencubit pubggul Naruto. "Aku lebih suka Natsumi daripada Naruko."

Kushina tertawa kecil mendengar gerutuan Mikoto. "Baik, Natsumi saja."

Naruto hanya tersenyum melihatnya.

-o0o-

Sebelas tahun kemudian, Mikoto melahirkan satu anak lagi, dan itu adalah perempuan, Naruto memberikan nama Satsuki pada anaknya yang kedua. Tentu saja, Itachi dan Natsumi senang karena mereka kedatangan keluarga baru.

Dan seperti biasa, Naruto berkutat dengan kertas di kantor Hokage. Dia masih memikirkan apa yang terjadi sebelas tahun yang lalu saat pria bertopeng itu menyerangnya, dia mempunyai Sharingan di mata kanannya, serta dia bukanlah Obito.

"Selamat pagi, Hokage-sama."

Orang dia pikirkan pun berdiri di depan. Naruto melihat Obito, Kakashi, serta Guy masuk ke dalam kantornya, kebetulan juga dia sedang makan ramen instan yang baru saja dia beli.

"Kalian mengganggu saja." Naruto menggerutu kesal, dia mengucapkannya sambil menyeruput ramennya. "Ada apa?"

"Err, tidak ada sih, kami hanya ingin bertemu saja." Kakasih hanya menggaruk tengkuknya melihat kelakuan temannya yang satu ini, sementara Guy yang ada di paling ujung hanya mengatakan 'masa muda' yang selalu dia banggakan. "Ah, iya Sensei, Itachi berkembang pesat."

"Ohhhh, dia benar-benar hebat." Naruto tak terkejut dengan perkembangan dari Itachi, anak itu benar-benar pintar dibandingkan dengan yang lainnya, terlebih dia lulus di usia yang masih terbilang sangat muda, lalu naik pangkat menjadi seorang Chunin di usianya yang sudah sepuluh tahun. "Jenius yang lahir seribu tahun sekali."

"Kau benar Sensei, terlebih dia sudah mulai bisa menggunakan mangekyou."

Naruto mengangkat kedua alisnya mendengar penjelasan Obito barusan. "Mangekyou kah?" Dia tersenyum di dalam hati mendengar Itachi berhasil membuka tahap berikutnya dari Sharingan. "Obito, aku harap kau dan Shisui bisa melatih Itachi kedepannya."

"Aku dan Itachi akan berusaha, Sensei."

"Ah, aku lupa dengan ini," Naruto mengambil sebuah tabung berisi bola mata yang ada di dalamnya. "Aku harap kau menerima ini, tahapan Sharingan memang Mangekyou, tetapi ada yang lebih kuat lagi daripada itu."

"Apa itu?" Ketiga Jounin di depan Naruto bertanya penasaran.

"Eternal Mangekyou Sharingan, tahapan paling kuat yang ada di Sharingan, namun kau harus mengorbankan seseorang dari keluargamu, atau bisa dibilang, mengambil mata Sharingannya setelah kau mendapatkan Mangekyou." Naruto menunjukan Eternal Mangekyou miliknya, namun Naruto sadar jika matanya itu pemberian dari Rikudo, lebih tepatnya milik Sasuke. "Aku pengguna Eternal Mangekyou Sharingan."

Ketiga orang itu terkejut mendengar perkataan Naruto. Hokage mereka mengambil mata dari salah seorang keluarganya.

-o0o-

Kagami dan Mikoto saat ini berada di ruang rahasia klan Uchiha, keduanya melihat prasasti yang sudah ada di tempat itu sejak lama. Keduanya terus menatap batu prasasti itu, suasana di dalam tempat rahasia itu sangat sunyi, tak adabyang mengetahui ruangan itu kecuali orang-orang tertentu saja.

"Ayah."

"Ya, aku tahu. Naruto berkata jika batu prasasti Uchiha ini telah di ubah oleh seseorang." Kagami menyentuh batu prasasti itu. "Memang benar jika prasasti ini memberikan informasi tentang Sharingan serta tahapannya. Namun, aku eebagai ketua klan masih belum percaya, ada beberapa tulisan yang membuatku ragu akan kebenaran batu ini."

"Tapi Naruto juga bilang, jika topeng Dewa Kematian di kuil Uzumaki bisa memanggil sang Dewa jika dibawa kemari."

Kagami tersenyum tipis. "Pengalamannya melebihi kita yang sudah veteran ini," ujar Kagami, dia membayangkan bagaimana Konoha kedepannya. "Terlebih, sektor-sektor dari Konoha sudah mulai maju sekarang, para Shinobi berkembang, aku tak menyangka semua rencananya bakal menjadi seperti ini."

"Naruto-kun, memang punya misi untuk memajukan Desa Konoha, terlebih dia juga tak lupa akan klan Uchiha ini."

"Tapi sayang sekali, Klan Senju sudah punah dan hanya menyisakan Nona Tsunade saja, itupun dia pergi dari Desa karena tak ingin tenggelam di dalam kesedihannya." Kagami kembali mengulas sebuah senyuman di wajah tuanya. "Senju, Uchiha, Uzumaki dan Hyuuga, keempat Klan yang saling berhubungan. Konoha sudah sangat kuat dengan dua Jinchuriki, Hokage yang kuat, serta Shinobi spesial yang sangat bisa di andalkan. Hashirama-sama, dan Tobirama-sensei akan sangat senang mendengar ini."

"Kau benar Ayah."

Kagami pun berbalik. "Lebih baik kita kembali."

"Baiklah Ayah."

-o0o-

Konoha memasuki era yang baru, sebuah era dimana Naruto dengan serius membangun Desa Ninja itu menjadi sebuah Desa yang disegani, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memajukan Desa.

Naruto sedang memandangi Desa Konoha yang sudah maju itu. "Ini kah Deaa Konoha yang aku pimpin sekarang?" Dia bermonolog sembari terus menatap para penduduk yang sedang melakukan aktifitas, di umurnya yang sudah menginjak kepala tiga ini, Naruto menikmati kehidupannya yang kedua.

Banyak dari delegasi Desa kecil di sekitar Konoha yang menginginkan aliansi dengan Konoha, dia ingat jika Sunagakure juga membuat aliansi dengan Konoha.

Namun ada hal yang membuat dirinya penasaran.

Akatsuki, apakah organisasi itu terbentuk atau tidak, karena Obito sendiri ada di Konoha, begitu juga dengan Nagato dan Konan.

Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Naruto, dia menyuruh orang yang mengetuk pintu kantor Hokage untuk masuk ke dalam.

"Permisi, saya ingin menyampaikan informasi."

"Ada apa?"

Ninja itu membuat gestur serius saat Naruto membalikkan badannya. "Ada sebuah grup teroris yang bernama Akatsuki."

"Akatsuki?" Kebetulan yang sangat pas, Naruto tengah memikirkan organisasi tersebut. "Lanjutkan!"

"Jiraiya-sama tengah menyelidiki organisasi tersebut, beliau berkata jika organisasi itu akan merekrut ninja dengan rank S atau yang bisa kita katakan, nuke-nin kelas atas."

"Mereka organisasi yang kuat." Komentar Naruto, dia menghela napas panjang, tebakannya memang benar, akan ada organisasi teroris seperti Akatsuki di dunia ini.

"Itu saja yang bisa saya sampaikan dari Jiraiya-sama."

"Lalu sekarang, dimana Jiraiya?"

"Beliau sedang meneliti."

Naruto menepuk dahinya, Jiraiya benar-benar tak berubah, mau di dunianya atau di dunia ini. Sama-sama mesum. "Baiklah, kau boleh pergi." Ninja itu mengangguk, kemudian pergi dari kantor Hokage.

Naruto kembali menatap para warga yang sedang beraktifitas, wajahnya mulai menegang saat dia melihat sosok gadis berambut merah sedang berlari ke dalam gedung Hokage.

"Fak!"

Pintu kantor Hokage di terjang oleh gadis itu. "Ayah aku kembali!"

"Na-natsumi!?"

"Hai Ayah! Misiku sudah selesai di laksanakan, apa ada misi lainnya?"

Natsumi Uchiha, terkadang dia memperkenalkan diri sebagai Natsumi Uzumaki, gadis setengah Uchiha dan Uzumaki. Mata berwarna hitam kelam, wajah putih dengan bentuknya wajahnya yang mirip dengan sang Ibu, Kushina.

Dia adalah salah satu kebanggaan Naruto sama seperti Itachi.

"Natsumi, jangan seperti anak kecil di depan Ayah."

"Kau nggak asyik Itachi."

Itachi Uchiha, remaja yang berumur sama seperti Natsumi, serta mempunyai sifat yang tenang, tak seperti Natsumi yang sifatnya menurun dari sang Ibu.

Keduanya memiliki Sharingan, namun Sharingan milik Itachi sudah berubah menjadi Mangekyou, seperti yang dikatakan oleh Obito.

"Itachi, aku dengar kau sudah mendapatkan Mangekyou?" Itachi mengangguk kecil mengiyakan pertanyaan Naruto. "Obito dan pamanmu akan mengajarimu nanti."

"Aku mengerti ayah."

"Lalu Natsumi."

"Ya?!"

Naruto mendekati Natsumi, dia menatap putrinya itu. "Belajar Sharingan bersama Kakashi."

"Tentu!"

Mereka berdua adalah genin spesial yang lulus dari akademi pada usia tujuh tahun, keduanya di tempatkan di dalam satu team yang berisikan mereka berdua, adapula pengawas dari keduanya yaitu Kakashi, dia menjadi guru pembimbing bagi kedua anak Naruto itu.

"Oke, sekarang kalian laporkan misi nya."

Natsumi tersenyum lebar menatap sang ayah. Sementara Itachi mencari tempat untuk dia duduk.

...

..

.

TBC

...

..

...

Di sebuah tempat yang gelap, suasana di dalam sana sangat mencekam, terlebih ada beberapa orang yang sedang berdiri di tempat itu.

Suara langkah kaki menggema di dalam tempat gelap tersebut, sosok itu menggunakan sebuah jubah yang menutupi seluruh tubuhnya. Hanya sebuah mata berwarna merah yang terlihat darinya.

Sebuah mata Sharingan yang terpancar dari balik topeng yang dia gunakan.

"Nagato bergabung dengan Konoha, namun kita masih bisa mengincarnya."

"..."

"Target utama kita adalah para Jinchuriki, dan kita masih perlu menunggu beberapa tahun lagi untuk memulihkan diriku."

Orang itu pun menatap sosok pria yang berdiri mengenakan sebuah topeng bermotif rubah, tubuhnya juga ditutupi oleh jubah bermotif awan merah.

"Sepertinya kau tak sabar untuk membunuh targetmu?"

"Ya, aku ingin sekali membalas semua yang dia perbuat padaku selama ini."

Orang itu tertawa keras mendengar tujuannya. "Aku tahu, kau dan aku sama, tujuan kita sama. Serta tujuan kita yang lain adalah membuat sebuah dunia yang ideal bagi kita."

"Kau benar."

Tawa pun menggema di dalam tempat itu. "Kita masih perlu merekrut orang untuk menambah daya tempur."

"Baik, aku akan merekrut beberapa orang."

Pria itu menyeringai dibalik topengnya. "Bubar!"

Mereka semua menghilang di dalam kegelapan, meninggalkan sosok tersebut. Sosok yang pernah menyerang Naruto saat Kushina akan melahirkan anak pertamanya.

Sosok yang ingin mengambil Kyuubi dari dalam tubuh Kushina.

Di lain sisi, tatapan Naruto berubah tajam, firasatnya mengatakan jika di masa depan akan ada peristiwa yang membuat dirinya terpaksa menyatukan kelima desa.

"Sialan kau! Madara, Zetsu hitam!"

Umpat Naruto pada kedua sosok yang akan menjadi biang keladi kelak.