Kembali datang dengan oneshoot pendek! Hehehehe.

Please do enjoy :3


.

Title: Takes Two to Tango

Pairing: Chanyeol x Baekhyun [Chanbaek]

Rating: Teenagers [t]

Disclaimer: All the characters here are not mine. They belong to god, and I wish he bless us all.

Warning: boys-love at its finest. If this what you're looking for, then you may proceed.

.


Byun Baekhyun menggerutu jengkel.

Adalah kakaknya, Byun Baekbom, yang menjadi pelaku kekesalannya pada sore hari ini. Lelaki yang tiga tahun lebih tua darinya itu meminta Baekhyun untuk menjemput Hyeyeong di tempat penitipan anak dengan dalih dirinya baru saja memperoleh mobil baru. Sangat aneh dan tidak masuk akal sama sekali, bukan? Siapa yang jadi orangtua, siapa pula yang diminta untuk menjemput. Mobil baru Baekhyun cuma jadi korban di sini.

Masalah jadi jauh lebih pelik karena Baekhyun baru saja menikmati jatah libur sehari perbulan yang diberikan oleh perusahaan. Dia sedang asik minum-minum di flat, ditemani oleh pizza rasa hawaian dan siaran televisi yang sedang menampilkan ragam hiburan yang lumayan lucu.

Sangat, amat, super, duper nyaman. Betapa keji orang yang berani-beraninya mengganggu.

Tahu seratus persen tabiat pemalas adiknya, Baekbom mengancam akan memberi tahu Ibu mereka perihal insiden dua bulan lalu yang hampir melibatkan kepolisian. Karena enggan—ia memang pemalas tapi ia sayang Ibu dan enggan membuat beliau khawatir—maka dengan secepat kilat si dua puluh delapan tahun langsung menyambar kontak mobil barunya.

Dan lima belas menit kemudian, Baekhyun sudah berdiri di depan rumah sederhana dengan plang bertuliskan 'Honeybee Daycare', dengan beberapa bunga dan boneka di ujung penanda tersebut seolah menegaskan aksen anak-anak.

Seorang anak perempuan baru saja keluar, digandeng oleh seseorang yang cukup berumur. Mungkin ibunya? Entahlah. Baekhyun memutuskan untuk tidak peduli. Ia masuk melalui pintu dengan kikuk. Um…lantas bagaimana ya? Ini pertama kalinya ia datang dan menjemput Hyeyeong.

"Halo?" ujar Baekhyun ragu, seperti diminta menjawab berapa akar tujuh puluh dalam waktu tiga detik. "Aku mau menjemput keponakanku."

"Selamat sore!" staf yang berjaga di belakang meja resepsionis menyapa dengan kelewat ramah. Anak-anak itu mempengaruhinya dengan baik, batin Baekhyun. "Siapa nama keponakanmu?"

"Hyeyeong—Byun Hyeyeong."

Wanita itu, yang kemudian Baekhyun dapati bernama Kang Seulgi berdasarkan label nama di dadanya, memintanya untuk menunggu sebentar sementara ia melakukan sesuatu dengan ponselnya. Apakah ini prosedur keamanan? Apakah wajahnya cukup meragukan sehingga wanita itu meminta referensi dan memastikan langsung ke Baekbom? Apakah ia perlu menyebutkan usia, tempat lahir, nama sekolah, hobi, serta nama teman yang dimiliki Hyeyeong—matilah saja, mana ia tahu kalau yang ini.

Setelah sekitar dua menit, Seulgi kembali berbicara, "Oh, Hyeyeong tidak mau pulang sebelum ia menyelesaikan kegiatan mewarnainya. Mungkin kau ingin masuk?"

Baekhyun membuka mulut, ingin menolak dan kembali ke mobil saja. Pelayanan staf resepsionis ini eksepsional, jadi seharusnya tidak keberatan untuk mengantarkan keponakannya ke mobil ketika kegiatannya sudah usai.

"Ada di ruang empat. Kau bisa berjalan lurus ke lorong. Ruangannya ada di ujung." Seulgi kembali melanjutkan sebelum Baekhyun sempat menolak.

Mulutnya kembali mengatup. Coret. Pelayanannya tidak eksepsional. Ini adalah bentuk pemaksaan dan nirhumanis.

"Oh…oke." Jawabnya keki.

Lorong ini serupa dengan bangsal anak di rumah sakit pusat kota, kecuali lebih sempit saja. Warnanya biru langit dengan berbagai lukisan sederhana. Pada tiap-tiap pintu tertempel beberapa stiker hewan; mulai dari gajah, panda, alpaca, hingga ular yang telah dimodifikasi sehingga terlihat ramah dan tidak menakutkan.

Baekhyun menghela napas panjang, mempersiapkan diri. Ia mengetuk pintu pelan dan melongok masuk, matanya mengitar ke penjuru ruangan. Sepi. Efek telat tiga puluh menit dari jam pulang. Ada Hyeyeong yang ia kenali dari punggung anak itu, ada juga seseorang yang Baekhyun percaya adalah perawat, sedang duduk bersimpuh di lantai melihat kegiatan yang dilakukan keponakannya.

Perawat itu menoleh, dan kaki Baekhyun berubah menjadi jeli ketika ditatap dengan mata bulat besar itu. Kenapa perawat Hyeyeong laki-laki?

Bola mata itu telah kembali ke diameter normal, kini yang bertambah lebar adalah senyum di bibirnya, meskipun menyiratkan pertanyaan 'ada-yang-bisa-kubantu'. Pertanyaan di otak Baekhyun bertambah. Kenapa pula ia harus tampan?

"Halo, ada yang bisa kubantu?"

Suara dalam dan menyenangkan menyapu gendang telinga Baekhyun. Keinginan untuk mendengarkan playlist Jang Kiha telah terhenti, berganti dengan keinginan untuk merekam suara cowok di hadapannya untuk menjadi pengantar tidur.

"Em…" Baekhyun lupa diri. Ayo berpikir. "Hendak…" Ia hendak apa? Hendak memelukmu, apakah kau lowong dan bersedia? "…menjemput Hyeyeong."

"Dia sedang menyelesaikan gambarnya, kau adalah—"

"Aku Byun Baekhyun, dia keponakanku!"

"Begitu rupanya," cowok itu tertawa kecil. "Aku Park Chanyeol, perawat di ruangan ini. Maaf, aku belum pernah melihatmu menjemput Hyeyeong."

Tawa canggung keluar dari mulut Baekhyun. Lelaki bernama Chanyeol itu menatapnya selama beberapa detik—aduh, mau mati rasanya. Ia tidak mungkin salah ataupun ge-er karena jarak mereka terlampau dekat dan cowok itu (ia percaya) tidak juling.

Chanyeol berdehem. "Kau mau masuk? Mungkin kau bisa membujuk Hyeyeong untuk pulang."

Mau tidak mau Baekhyun mengangguk, tidak mungkin juga mereka hanya berdiri saling berhadapan di pintu seperti ini. Maka ia melepas sandal yang ia kenakan dan masuk ke ruangan yang didominasi oleh warna putih dengan berbagai dekorasi dan hiasan dinding. Begitu ramai dan tak terstruktur. Begitu anak-anak.

Hyeyeong pasti mendengarnya masuk karena konsentrasi anak itu terpecah. Ia menoleh dan matanya berbinar melihat kedatangan langka Baekhyun. "Paman? Paman Baekhyun menjemput Hyeyeong!"

Baekhyun tertawa kecil, memberi pelukan ringan pada anak berusia lima tahun itu sebelum mengintip apa gerangan mahakarya yang sedang berusaha untuk diproduksi. Rupanya, yang tersaji di depan matanya adalah kertas putih berisi coretan warna-warni yang tidak ia pahami.

"Maukah paman menunggu? Aku hampir selesai. Satu menit lagi." Jari telunjuk dan jari tengah muncul.

Wajah Baekhyun jenaka, menunjukkan ekspresi pura-pura berpikir. "Em, bagaimana ya?"

"Satu menit saja. Paman bisa berbicara dengan Kak Chanyeol lalu kalian berdua bisa berteman. Soalnya kata Ayah paman kesepian."

Memang kurang ajar benar kakaknya yang satu itu. Berusaha untuk terlihat santai dan rileks, ia tertawa sumbang dan mundur ke karpet berbulu bergambar larva dan duduk. Dari ekor matanya, Baekhyun bisa melihat Chanyeol nyengir lebar. Huh, hancur sudah reputasi baik yang berusaha ia bangun dengan perlahan-lahan.

"Mahasiswa?"

Baekhyun menoleh, kehilangan rasa dongkol yang sebelumnya menyergap karena kini ia bisa melihat senyum lebar Chanyeol dengan jelas. Apalagi ditambah bonus lesung pipit, siapa pula yang berani menolak. Cowok itu duduk bersila dan menyamankan diri di samping Baekhyun sembari matanya tetap mengawasi Hyeyeong.

"Tidak, tidak." Diam-diam ia merasa tersanjung dan bersyukur. Dokumen bejibun yang ia proses ternyata tidak membuat wajahnya cepat bertambah tua. "Aku sudah bekerja. Kelahiran '92."

Chanyeol menoleh, terlihat terkejut. "Oh ya? Aku juga."

"Taurus?"

"Sagitarius."

Mereka berdua tertawa secara spontan. Sebuah kebetulan yang mengejutkan. Cowok di sampingnya adalah definisi berjalan dari anomali. Tingginya menjulang—mungkin sekitar seratus delapan puluh atau sembilan puluhan, tapi wajahnya (terutama matanya) begitu menggemaskan. Suaranya dalam, tapi coba lihat pekerjaannya, mengasuh anak-anak.

Kini, Baekhyun merasa terpukau. Apakah memungkinkan bagi manusia untuk menciptakan medan magnet? Ia merasakan tarikan yang begitu dahsyat untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan Chanyeol.

Tanpa kehilangan jeda, Baekhyun kembali memulai sesi kuis. "Suka ayam goreng?"

"Tentu, siapa yang tidak menyukainya. Suka bermusik?"

"Aku suka menyanyi."

"Sama, dong. Aku juga memainkan beberapa instrumen."

Pertanyaannya terhadap ilmu eksakta bertambah. Apakah mungkin bagi manusia untuk meleleh?

"Kau bercanda."

"Ngapain juga," Chanyeol tertawa kecil. "Tanyakan saja pada Hyeyeong. Kadang aku bermain gitar di jam bebas."

Baekhyun kesulitan untuk mengontrol proporsi senyum di wajahnya. Pasti ia terlihat konyol sekarang. Psikologisnya jauh lebih parah. Di dalam sana, entah di mana pastinya ia sendiri tidak tahu, timbul perasaan meledak-ledak yang membuatnya khawatir apakah ia akan baik-baik saja.

"Apakah kau—"

"Paman Baekhyun! Aku sudah selesai!" Hyeyeong memotong ucapannya dan menghampiri Baekhyun. Lengan mungil itu bersarang di leher Baekhyun sesaat sebelum ia menguap panjang. "Ayo pulang, paman. Aku capek."

Mengapa cepat sekali, gerutuan itu spontan muncul.

"Sudah?" Baekhyun berusaha untuk tidak terdengar begitu kecewa ketika mengatakannya.

Hyeyeong mengangguk antusias, melompat sekali sebelum menarik lengan Baekhyun untuk segera bangkit dan enyah dari ruangan itu. Enyah dari pandangan Chanyeol.

Deheman pelan kembali diproduksi. "Em, kalau begitu aku dan Hyeyeong pamit dulu. Terima kasih sudah menjaganya, Chanyeol."

Senyum disertai lesung pipit itu kembali malu-malu muncul. "Tidak masalah."

"Sampai jumpa, Kak Chanyeol!"

"Ya, sampai jumpa Hyeyeong yang manis…dan Baekhyun. Hati-hati di jalan."

"…oke."

Lorong itu terasa begitu panjang, terlepas dari Hyeyeong yang terus menerus menariknya supaya mempercepat langkah. Chanyeol mengantarkan mereka hingga ke pintu depan ruangan, meninggalkan satu senyuman tipis dan juga sorot mata yang hangat. Kaki Baekhyun terasa terpaku di tanah, enggak bergerak maupun beranjak.

"Ayo paman! Ayo!"

Baekhyun menoleh dan memberikan satu senyuman tipis sebelum mengikuti langkah kecil penuh antusiasme Hyeyeong. Di meja resepsionis, ia berpapasan dengan Seulgi dan mengucapkan terima kasih. Sungguh, ini adalah ucapan terima kasih paling tulus yang pernah ia katakan selama dua puluh delapan tahun ia hidup di dunia ini. Seulgi adalah MVP hari ini. Ia berdoa semoga wanita itu mendapatkan kenaikan gaji dan penghidupan yang stabil.

Ponsel di sakunya berdering ketika Baekhyun mencapai mobil. Nama kakaknya tertera dengan tidak eloknya, berkelip-kelip mati nyala setiap dua detik.

"Halo—ya? Aku sudah bersama Hyeyeong—ini sudah di sampingku—tidak ada masalah, kok—dia selamat, jangan paranoid begitu—aku tidak akan melakukan apapun, bodoh—ups, maaf, aku tidak bermaksud menghardik." Baekhyun nyengir menatap keponakannya dari kaca depan. "Hyeyeong, tutup telingamu, paman sedang membicarakan hal dewasa dengan ayahmu—kami akan pulang sebentar lagi, oke? Cepat siapkan tangsuyuk dan jjajangmyun untukku."

Telepon itu hendak ditutup, namun urung.

"Oh, ya. Kau sok sibuk saja terus. Aku akan meluangkan waktuku dan sering-sering menjemputnya ke tempat ini."

.


fin


Halooo!

Nemu lagi di otak nggak tau kenapa.

Betewe aku mau tanya deh, udah nggak banyak yang main ke ffn ya sekarang? Kok kesannya kaya jadi sepi gitu. Dulu waktu aku masih jadi hhs rame bangeet soalnya. Penasaran aja sih :")

Eniwei terima kasih banyak udah baca. Sangat menerima kritik dan saran. Paipaiii~