taksi online

naruto (c) masashi kishimoto

story by chesee-ssu

rate t

prompt: love trip

for SIFD - ShikaIno Fan Days #SIFD2020

tak ada keuntungan apapun dalam pembuatan fanfiksi kecuali kepuasan batin.


happy reading ...


Perjalanan Ino terasa membosankan.

Ia terus menatap pemandangan di luar jendela. Taksi online yang ia sewa hanya memutar lagu-lagu lawas yang ia hapal di luar kepala. Supirnya pun tak banyak bicara, sesekali menanyakan arah dan menanyakan hal-hal remeh agar suasana tidak terlalu canggung.

Sakura sendiri tidak bisa menemaninya. Pun Hinata, Tenten, dan Temari karena mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sebal, sih, tapi ya bagaimana lagi, dia bisa berada di taksi online ini juga karena mereka berempat.

Ya, mereka berempat yang tiba-tiba mendobrak kamar Ino, kecuali Hinata, tentu saja, dia hanya memerhatikan ketiga temannya yang barbar menghajar pintu kosnya habis-habisan. Setelahnya, ia diseret untuk mandi dan ke luar. Mereka jalan-jalan seharian waktu itu, mulai dari mal, pecinan, taman, semua mereka kunjungi. Setelah Ino merasa lebih baik, keempat gadis itu memberi tiket pesawat dan amplop yang cukup tebal. Tentu Ino mengernyit heran, kenapa tiba-tiba memberinya tiket dan amplop?

"Kaubutuh rehat," sahabat merah mudanya tersenyum sembari menggenggam tangan Ino.

Ketiga gadis lainnya pun mengangguk mantap. Tentu Ino sudah mau menolak, tapi dia kalah cepat ketika Tenten menepuk pundaknya dan berkata, "Tenang saja, semua sudah diatur oleh kita. Kita sudah minta agar kau cuti kepada Naruto. Kautinggal berangkat saja."

"Terus, cepatlah lupakan si lelaki sialan itu," ujar Temari, "aku tidak mau kaugila begini gara-gara diputusin oleh si manusia tanpa emosi itu."

"Namanya Sas—"

"Ino-chan!" mereka berempat kaget ketika Hinata menyela, tumben sekali si lembut ini menyela ucapan orang. "Jangan sebut nama dia lagi. Pamali."

"Benar! Sekarang dia seperti antagonis di Harry Potter, orang yang tidak boleh disebut namanya."

Tenten mengangguk. "Benar kata Sakura. Pokoknya, pulang nanti setidaknya, ingatan tentang si tengik itu sudah hilang separuh. Lebih bagus lagi hilang semuanya."

Ino menatap teman-temannya satu persatu. Ia mau menangis. Teman-temannya baik sekali.

"Kalian ikut juga, 'kan?" ujar Ino. Kalau mereka ikut tentu Ino bisa melupakan Sasuke dengan cepat.

"Sayangnya tidak," ucapan Temari membuat raut wajah Ino berubah seketika, "maaf, Ino, kami tidak bisa menemanimu. Naruto maklum tentangmu karena kausedang kacau, jadi dia bisa memberimu cuti."

"Lagipula Ino, kalau Naruto sendiri yang mengurus perusahaan, aku yakin dalam waktu semalam perusahaan kita akan kolaps."

Kini mereka semua tertawa. Sakura memang tahu kekasihnya luar dalam, ucapan Sakura meski gurauan tapi bisa jadi kenyataan. Ino menghela napas, binar matanya masih mengharapkan teman-temannya bisa ikut bersamanya.

"Kalau Sakura tidak bisa, aku tidak apa, aku paham. Namun, kalian bertiga? Masa tidak bisa juga?"

"Tidak bisa, Ino-chan. Sudah perjanjian dengan Naruto-kun begitu."

Ino tersenyum tipis mendengar penjelasan Hinata. Ya, mau bagaimana lagi ... ia tidak bisa memaksa mereka ikut. Dapat cuti panjang dari Naruto saja sudah suatu kenikmatan. Akhirnya, Ino menjawil gemas pipi gadis berdarah Jepang itu lalu mengucapkan terima kasih.

Ingatannya berakhir ketika lagu Sheila on 7 muncul dan melantunkan lagu Lapang Dada. Mendadak memori lama tentangnya dan Sasuke meluap begitu saja. Ino menangis tanpa sadar.

"Mbak kalau mau tisu ada di kantong kursi sebelah kiri, ya."

Ino terdiam sejenak, mata birunya menatap rambut nanas yang mencuat di depannya masih santai menyetir seolah tak ada apa-apa. Ino mengambil tisu di kantung kursi sebelah kiri lalu menyeka air matanya. Semburat merah hadir manakala mengetahui kalau ia menangis tanpa ia sadari dan dilihat oleh sang supir.

"Maaf saya tiba-tiba menangis."

"Nggak apa, Mbak. Lagunya mau saya ganti saja apa?"

Ino mengedip beberapa kali. Ia takjub mendengar pertanyaan lelaki di depannya. Lelaki itu tahu Ino menangis karena lagu yang diputar. Darimana dia tahu?

"Mbak daritadi kelihatan murung. Cukup butuh waktu dan sesuatu yang mendorong sisi emosional mbak agar bisa menangis dan ... lagu ini adalah faktor pendorong mbak menangis," ujar sang supir, "merepotkan, sih, tapi sepertinya mbak lagi patah hati."

Oke, laki-laki ini benar-benar mengerikan.

Kini lagu berganti, Ino masih memerhatikan kepala nanas dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Akhirnya Ino menghela napas. "Iya, Mas. Saya habis diputusin pacar saya. Maaf tadi saya—"

"Sudah sampai, Mbak."

Ino kaget bukan main ketika mobil terhenti dan bangunan tinggi menjulang sudah berada di samping kirinya. Ino terdiam, bisa-bisanya ketika dia mau cerita tahu-tahu sudah sampai. Mata birunya menatap supirnya cukup lama, sampai akhirnya ia mengeluarkan dompet dan menyodorkan uang oleh sang supir.

"Terima kasih, Mbak," ujar sang supir, "Saran saja, lain kali tolong jangan gampang cerita terkait privasi. Tak semua orang baik, Mbak."

Ino memerhatikan mata cokelat itu sebelum turun dan membawa kopernya. Setelah turun ia memerhatikan taksi online itu melaju sampai menghilang.

Orang aneh, pikir Ino.

Xxx

Mereka berdua bertemu lagi.

Ya, tepat ketika Ino memesan taksi online lagi entah bagaimana ia dapat orang itu lagi. Ino memerhatikan namanya, Shikamaru, nama yang aneh. Kalau dipikir-pikir segala hal tentang lelaki itu ia rasa aneh sekali, mulai dari gaya rambut nanas yang mencuat, mata malas kecokelatan yang anehnya menyimpan sesuatu yang menurutnya luar biasa, serta namanya sendiri. Ino sendiri tidak ambil pusing, ia tak mau memikirkan hal tersebut lebih jauh.

"Aku tidak menyangka kita bertemu lagi," ujar Ino, mencoba basa-basi walaupun tentu saja ucapannya sangat basi.

"Saya juga," ujar Shikamaru kalem.

Setelahnya percakapan itu mati. Ino juga ikutan mati. Ia bingung sekali mau bicara apalagi karena ia tak bisa basa-basi, selain itu juga ia teringat saran Shikamaru kalau tak boleh bicara privasi dengan orang tak dikenal.

"Mbaknya sudah baikan?"

Ino mengerjap, tak percaya apa yang didengarnya. Bukannya kemarin Shikamaru yang bilang kalau jangan terlalu terbuka dengan orang asing? Kenapa dengan kasualnya menanyakan keadaannya?

Shikamaru melirik ekspresi Ino dari kaca, lalu tersenyum tipis. "Saya sudah tahu mbak kemarin, jadi menurut saya kita bukan orang asing lagi."

"Kau aneh."

Tak ada raut wajah terkejut ketika Ino berujar demikian. Shikamaru masih anteng mengemudi. "Banyak yang bilang saya aneh, mbak bukan orang pertama yang bilang ini."

"Jangan panggil mbak, panggil Ino saja," ujar Ino, "dan ya ... aku sudah baikan, kurasa."

"Kurasa?"

"Ya mau bagaimana lagi. Aku baru putus beberapa hari yang lalu. Memulihkan perasaanku tentu nggak gampang."

"Aku tahu," ujar Shikamaru, "tapi destinasimu ini ... menurutku malah makin susah membuatmu move on."

Ino memerhatikan destinasinya di layar handphone, tertulis Pantai Pasir Putih di layar handphone dengan huruf kapital. Lelaki itu benar, destinasinya saat ini pasti membuatnya makin susah move on.

"Bagaimana kautahu? Kau cenayang?"

"Biasanya orang patah hati suka begitu, datang ke tempat yang membekas di ingatan mereka ketika masih pacaran."

"Kaupintar sekali, kenapa tidak jadi pengajar saja?"

"Aku juga pengajar kok," ujar Shikamaru, "ini hanya pekerjaan sampingan saja."

"Heee," Ino mengulas senyum, "kalau begitu, apa ada rekomendasi, Pak Guru? Destinasi yang bisa membuatku move on dengan cepat!"

Shikamaru mengedikkan bahu. "Cepat tidaknya move on tergantung kemauanmu. Omong-omong, jangan tiba-tiba ganti destinasi, itu merepotkan."

"Kautakut bintangmu turun?"

"Itu juga, tapi yang utama adalah aku malas putar baliknya."

Ino terkekeh. "Dasar. Ya sudah nanti berhenti di pantai dulu lalu kita jalan lagi."

"Kaumasih mau pakai jasaku?"

"Tentu donggg. Yang menyarankanku untuk berganti tujuan kan kau," kata Ino dengan riang, "nah, jadi ... kutanya sekali lagi padaku pak guru, apa kaupunya rekomendasi?"

Xxx

Rekomendasi Shikamaru adalah Lembah Hijau, sebuah tempat wisata yang menyajikan pemandangan hijau alam dan rekreasi. Ino mengangguk-angguk, memuji dalam hati pilihan Shikamaru. Ino terkejut ketika Shikamaru mendadak berhenti di depan pintu masuk.

"Kenapa berhenti?"

"Sudah sampai tentu saja berhenti."

"Nggak sampai masuk ke dalam?"

"Sampai masuk ke dalam nanti bayar parkir. Aku hanya mengantarmu sampai sini."

"Ih, nggak asik sekali," ujar Ino, "aku mau pakai jasamu seharian ini. Sekarang sana turun dan parkir mobilmu lalu ikut aku jalan-jalan."

"Tapi—"

"Aku akan bayar lima kali lipat. Bagaimana?"

Shikamaru menghela napas, menatap Ino dari kaca mobilnya. "Kau merepotkan sekali."

Ino tersenyum. "Baiklah, kuanggap tadi kauterima tawaranku. Jadi, ayo turun ke bawah, Shika!"

Shikamaru menghela napas, costumernya yang satu ini benar-benar merepotkan.

Xxx

"Wahh."

Ino menatap ke sekeliling. Kiri kanan penuh dengan binatang yang dibatasi oleh pagar kayu tinggi. Mulai dari rusa, gajah, dan hewan berkaki empat lainnya. Khusus untuk hewan bertaring dan dirasa buas, diberikan kandang kaca tebal. Ino mengamati hewan-hewan di sana dengan pandangan riang, sesekali ia mengajak Shikamaru berbincang seperti teman lama. Shikamaru sendiri menjawab seadanya, ia selalu ditarik Ino karena berjalan di belakangnya.

"Kaubukan pengawalku jadi tak usah berjalan di belakang."

Shikamaru hanya mengeluh ringan sampai akhirnya menyerah ketika tangannya dipegang Ino. Kini mereka berdua bersisian, Shikamaru menatap sekitar dengan tidak peduli sembari menguap, sedangkan perempuan yang penuh energi itu masih mengagumi hewan-hewan yang berada di sekitar mereka.

Ketika mereka masuk ke area reptil, langkah Ino mendadak terhenti. Shikamaru yang cuek bebek akhirnya menoleh dan melihat Ino yang wajahnya murung. Kenapa mendadak perempuan kelebihan energi ini jadi lesu begini? Apa dia takut hewan reptil?

"... Mantanku dulu suka ular."

Shikamaru terdiam. Ah, karena mantannya rupanya.

"Ooh," ujar Shikamaru, "mantanmu cocok sekali dengan ular kalau begitu. Berdarah dingin."

"Hahaha, bercandamu nggak lucu."

"Kalau nggak lucu kenapa ketawa?"

Ino mengendikkan bahunya. "Entahlah, pikir saja sendiri."

Shikamaru lalu menatap lurus Ino. "Terus ini bagaimana? Mau lanjut saja atau ke area lain?"

Ino tersenyum mantap. "Lanjut saja."

Shikamaru menaikkan sebelah alisnya. "Yakin? Nanti kaunangis, loh?"

"Ya nggak, lah. Aku janji nggak bakal nangis."

Shikamaru menghela napas. "Terserahlah."

Akhirnya mereka berdua menapaki area reptil.

Xxx

Ino duduk di bangku dengan hidung memerah. Matanya bengkak dan berlembar-lembar tisu kini menjadi gumpalan yang berada di sampingnya. Ino mengembuskan hidungnya kuat-kuat sampai beberapa orang meliriknya. Air matanya kembali mengalir tiba-tiba.

Shikamaru tiba dari arah sebelah kanan Ino, membawa gelas plastik berisi teh hangat dan roti bakar. Ia singkirkan gumpalan tisu dan membuangnya di tempat sampah terdekat lalu duduk di sebelah Ino. Ia berikan teh hangat pada Ino yang langsung diminum dalam sekali tegukan.

"HAH! PANASHHH!"

Shikamaru geleng-geleng kepala, ia merogoh tasnya dan mengambil botol minumnya. Ia berikan langsung pada Ino agar rasa terbakar pada lidahnya bisa terobati sebentar.

Shikamaru memangku kepalanya di tangan, memandangi Ino yang minum dengan tergesa. Shikamaru yakin seratus persen air dalam botolnya tandas. Benar saja, ketika Ino memberikan lagi botol minumnya, terasa ringan.

"Makan dulu, tuh," mata Shikamaru melirik roti bakar hangat yang berada di tengah-tengah mereka, Ino pun mengikuti arah pandang Shikamaru.

Gadis itu akhirnya memakan roti bakar isi cokelat yang dipesan Shikamaru. Tentu Shikamaru berkata untuk memakannya pelan-pelan, ia tidak mau melihat adegan Ino tersedak dan kepanasan untuk kedua kalinya. Shikamaru pun ikut mengambil dan memakan roti bakarnya.

"Sudah kubilang, kan, kalau nggak bagus ke area reptil." Shikamaru melirik dari ekor matanya, wajah Ino tak berubah, ia masih fokus mengunyah makanannya.

"H-habis ... mana aku tahu ada ular putih ... hiks. S-Sasuke ... dia dulu suka sekali ular putih ... sampai punya juga ..."

Shikamaru menghela napas. Astaga, betapa merepotkannya menenangkan orang yang sedang patah hati. Andai saja dia tadi tidak menyarankan ke sini, mungkin Ino tidak menangis separah ini.

"Maaf, aku nggak tahu mantanmu suka ular putih."

Ino menoleh cepat, mata birunya bergetar panik. "Nggak, kok! Ini bukan salahmu. Aku juga yang tiba-tiba minta rekomendasi. Sumpah bukan salahmu."

"Begitukah?"

Ino mengangguk mantap. "Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Malah harusnya aku berterima kasih, kalau tidak ada kau mungkin aku tak bisa menikmati perjalanan ini," senyum Ino mengembang. "Fase patah hati memang begini. Memang merepotkan, tapi aku akan melupakan Sasuke pelan-pelan."

"Syukurlah, aku senang kalau kau seoptimis itu."

Ino menatap Shikamaru lurus. "Karena kausudah terlibat denganku sampai sejauh ini. Mulai hari ini dan seterusnya kautemani aku jalan-jalan, ya?"

"HAH!? MANA BISA—"

"Tentu bisa, lagipula kita teman sekarang," Shikamaru terdiam ketika melihat Ino tersenyum manis, "terus ... apa kautega membiarkan aku berkeliaran sendirian di kota yang tidak kuketahui? Apalagi perempuan secantik aku?"

"Wah ... percaya diri sendiri."

"Tentu, dong. Perlu kauketahui percaya diri juga salah satu aspek penting dalam memegang kendali dunia."

Shikamaru mendengkus sebelum tersenyum tipis. Benar-benar, deh, baru kali ini ia bertemu dengan costumer yang banyak mau dan merepotkan begini.

"Aku mau kalau kau bayar aku sepuluh kali lipat."

Senyum menantang Shikamaru dibalas senyum manis oleh Ino. "Hanya sepuluh kali saja? Kau meremehkanku? Kauminta tigapuluh kali lipat saja aku oke saja."

"Kau sekaya itu?"

"Kau mau tahu?" Shikamaru mendecih pelan melihat pandangan Ino, pandangan itu seolah merayunya, mengajaknya agar lebih penasaran tentang si gadis bermata biru.

"Aku tidak peduli soal bayaran," ujar Shikamaru, "aku yakin kautipe gadis yang keras kepala. Kau akan mengejarku kalau aku menolak permintaanmu. Kautipe gadis merepotkan dan keras kepala, jadi ... aku berubah pikiran."

"YES!" ujar Ino penuh semangat, "oke, besok temani aku ke mal! Aku mau belanja. Kauluang jam berapa? Sini beri nomor WA -mu!"

Percakapan mereka pun berlanjut ke arah yang lain. Keduanya berbincang hangat dan Ino sepertinya sudah mulai lupa tragedi ular putih. Buktinya sekarang gadis pirang bermata biru ini kembali ceria.

Meski melupakan Sasuke itu berat, tapi ia rasa Shikamaru bisa membantunya. Membantu menghapus dan menenggelamkan kepingan memori bersama Sasuke dan membantu membuat kenangan baru tentang mereka berdua.


a.n: saya kehabisan energi nulis dan ... bakal jadi panjang banget nanti saya gamau nulis panjang-panjang /tabok. Makasih yang sudah baca, lop yu.