THE PACIFIER IS FRAGILE

Disclaimer

Naruto : masashi kishimoto

Highschooldxd : ichie ishibumi

Rate : M

Genre : romansa, friendship, humor

Pair : nanti saja

.

Peringatan sebelum membaca, ffn ini mungkin banyak typo, kata yang kurang dan kesalahan ketik banyak terjadi (alur berantakan, typo, gaje, ooc dan lain sebagainya)

.

.

CHAPTER 18

.

Pagi...

"Ehhhhhzzzzzz...!"

Naruto mengerang cukup panjang, rasanya sangat tidak ingin untuk membuka matanya hari ini, ingin terus menikmati belaian kasur empuknya dan guling yang... Tiba-tiba saja alis Naruto berkedut, hidungnya merasakan sensasi yang sangat tidak enak, ini bukan bau minyak wangi ataupun perempuan yang habis mandi, tapi ini benar-benar bau busuk.

Naruto seketika membuka matanya dengan cepat.

Dan seketika itu pula Naruto benar-benar merasa jengkel karena pandangannya mendapati sebuah telapak kaki, iya benar telapak kaki. Saat Naruto telusuri dengan melirikkan matanya ke bawah, sudah jelas itu adalah telapak kaki milik Garou.

Kekesalan pun di ujung taraf maksimal.

Dengan sekali tindakan, Naruto langsung mendorong Garou dengan kakinya sampai terjungkal dari kasur yang dia tiduri.

*DUBRAK!*

"Danchok!" Garou langsung terbangun, kepalanya cukup sakit setelah mencium lantai. Dengan pandangan kesal, Garou langsung menoleh ke tempat tidur, tapi dia langsung terdiam ketika melihat Naruto duduk di pinggiran ranjang sambil menatapnya tajam.

"Apa?"

"Tidak apa-apa,"

Garou hanya bisa meratapi nasibnya yang sudah sakit habis perkelahian kemarin, di tambah mencium lantai barusan, apalagi saat dia mengetahui jika Naruto adalah tuan rumahnya membuat Garou tak mampu berbuat apa-apa.

Mengabaikan hal yang terjadi, Naruto langsung beranjak keluar dari kamarnya, dia tidak berencana untuk berangkat sekolah hari ini saat mengetahui jam sudah hampir siang, di tambah badannya masih merasa pegal-pegal karena efek berkelahi dengan Garou kemarin.

Sudah menjadi kebiasaan Naruto, apabila keluar kamarnya dia akan langsung menuju kamar mandi di samping dapur, hanya sekedar untuk mencuci mukanya saja.

*Cklek!*

Pintu kamar mandi Naruto buka, tapi saat mengetahui apa yang ada di dalam kamar mandi membuat Naruto terdiam sesaat, mata telanjangnya melihat Kurenai sedang mandi, Kurenai juga terdiam melihat Naruto berada di ambang pintu kamar mandi.

Hingga beberapa detik kemudian mereka tersadar atas apa yang sedang terjadi, Naruto langsung kembali menutup pintu kamar mandi dan berucap "Maaf, aku tidak tau ada kau disitu," ucapnya dari balik pintu kamar mandi.

Dan Kurenai langsung merendamkan seluruh tubuhnya di bak kecuali kepalanya untuk menyembunyikan tubuh telanjangnya tadi, Kurenai sangat malu, wajahnya memerah. "Aku juga minta maaf karena lupa mengunci pintunya," ucapnya membalas ucapan Naruto dari balik pintu.

Kemudian mereka pun memilih untuk diam.

Untuk menghilangkan bosan menunggu Kurenai selesai mandi, Naruto memilih untuk membuat minuman hangat, tapi tidak disangka ketika Naruto selesai membuat segelas kopi hangat, pintu kamar mandi terbuka, nampaknya Kurenai telah selesai mandi.

"Maaf menunggu lama," kata Kurenai.

Wajah Kurenai masih memerah malu karena kejadian tadi, bahkan dapat diperhatikan karena saking malunya tadi membuat Kurenai lupa mengeringkan tubuhnya pakai handuk. Hal tersebut membuat Naruto memalingkan wajahnya saat memasuki kamar mandi, Naruto tidak ingin ada Setan yang tiba-tiba merasukinya ketika sudah sangat jelas bahwa Naruto dapat melihat lekukan tubuh Kurenai yang menjiplak dari balik baju basahnya itu.

Menyadari hal tersebut, Kurenai memandang ke bawah dan saat itu pula wajahnya langsung memerah padam ditambah berasap. Selain sangat malu, Kurenai juga merutuki kebodohannya yang ceroboh.

Skip time...

Naruto sedang sarapan hasil masakan Kurenai, nampaknya Naruto telah melupakan kejadian tadi di kamar mandi, begitu juga Kurenai yang nampaknya sudah menjadi seperti biasanya. Sedangkan Garou sedang mandi, Mirai terlalu menikmati menonton kartun di Tv, Itachi sudah pasti berangkat sekolah.

Ngomong-ngomong soal sekolah, Naruto tak ambil pusing memikirkannya, Kurenai sudah mengatakan jika dia dan Garou akan di beri penjelasan izin sakit oleh Kushina dan Mikoto.

Mengabaikan hal tersebut, jauh dalam perhatian Naruto, dia merasakan suatu kejanggalan yang baru saja dia sadari, jika sejak pertama Kurenai bekerja menjadi ART Apartemennya, Kurenai tak pernah ganti pakaian. Pakaian yang Kurenai kenakan terlihat itu-itu saja sejak kemarin-kemarinnya di mata Naruto.

"Apakah kau tak punya pakaian ganti, Kurenai-san?"

"Mmm..." Kurenai terlihat ragu untuk menjawab, bahkan pertanyaan Naruto membuatnya terhenti sesaat pekerjaan menyapunya, tapi setelah itu Kurenai malah tersenyum tipis. "Aku pun..."

"Kau tak perlu membohongiku dengan senyumanmu itu,"

Kurenai hanya bisa menunduk ketika ucapannya dipotong dengan cepat oleh Naruto. "Maaf, hanya pakaian ini yang masih bisa aku pakai," ucapnya lirih.

Hanya baju putih lengan panjang dan rok merah selutut, itu pun terlihat kekecilan di tubuh Kurenai. Di mata Naruto itu bukanlah pakaian yang layak, apalagi hanya itu dan itu terus tak ada yang lain yang dapat di pakai.

"Glek! Glek! Ah...!"

Akhirnya Naruto selesai makan di akhiri dengan minum 1 gelas air putih, kemudian Naruto beranjak dari duduknya. "Sudahi pekerjaanmu, ikut aku keluar," katanya singkat yang kemudian langsung melangkah ke kamar.

Kurenai seketika terbengong, tidak tau harus berbuat apa karena terlalu lambat memproses ucapan Naruto, bahkan sampai Naruto keluar dari kamar dan sudah memakai jaket dan menenteng jaket, Kurenai masih terbengong.

"Pakai ini," Naruto memberikan salah satu jaketnya kepada Kurenai, dan Kurenai yang terbengong menerimanya dengan gugup. Setelah itu Naruto menoleh ke arah Mirai. "Mirai, mau ikut Nii-san?" ajaknya.

"Kemana, Nii-san?" tanya Mirai setelah menoleh ke arah Naruto.

"Keluar, jalan-jalan," balas Naruto sambil tersenyum.

Seketika itu pula Mirai langsung beranjak berdiri, sangat semeringah mendengar ajakan Naruto. "Ikut! Ikut! Ikut!" Mirai langsung memegang tangan Naruto senang dengan menunjukkan senyum lebarnya.

Kurenai masih terdiam, dan itu membuat Naruto merasa heran melihatnya.

"Kenapa kau masih diam di situ?"

"Ah... Ma-maaf," Kurenai tersentak kaget.

"Taruh sapu itu, pakai jaket itu, ayo keluar," tegas Naruto kepada Kurenai, setelah itu Naruto beranjak keluar Apartemennya dengan Mirai yang memegangi tangannya. "Garou! Titip tempat ini!" Naruto berteriak di sela-sela langkahnya keluar Apartemen.

"Ya!" Garou membalasnya dari kamar mandi.

Dan setelah itu Naruto keluar, Kurenai yang bingung sejak tadi langsung memakai jaket pemberian Naruto dan langsung menyusul Naruto keluar Apartemen.

.

.

.

#Skip time...

.

Hanya memerlukan waktu 1 jam berjalan kaki, tujuan Naruto membawa Kurenai dan Mirai adalah ke Mall di pusat kota Kuoh, walaupun Mall tersebut tak begitu besar seperti di kota-kota besar semisal Tokyo dan Hokaido, tapi Mall ini juga terbilang lengkap menyediakan segala kebutuhan orang-orang.

Mereka bertiga sudah berada di dalam Mall, menuju lantai 3 Mall tempat segala pakaian berada.

"Na Naruto-san, kurasa ini terlalu berlebihan untukku,"

Kurenai merasa tidak enak hati saat tiba-tiba tuan majikannya memutuskan untuk membelanjakan segala sandang yang dia inginkan, apalagi saat tadi di jalan Naruto mengatakan bahwa semua yang akan dia beli untuk kebutuhannya tidak memotong gaji nantinya.

Naruto yang mendengarnya menghela nafas tanpa menghentikan langkahnya yang beriringan dengan Mirai. "Huh... Sudah berapa kali aku katakan sejak tadi untuk jangan menolak. Kau tahu, aku... Sangat risih sekali melihat berpakaian seperti itu-itu terus," ucapnya yang terdengar pedas pada akhir kalimatnya.

Tapi Naruto tidak peduli jika perkataannya menyinggung Kurenai.

Hal tersebut membuat Kurenai menunduk, memperhatikan pakaiannya yang dia kenakan di balik jaket milik Naruto yang dia pakai.

"Tapi ini ter..."

"Atau mau aku pecat,"

Kurenai langsung terdiam ketika ucapannya dipotong cepat oleh Naruto.

Sebenarnya bukan masalah jika pun Kurenai menjawab 'Baiklah, aku berhenti bekerja' karena Kurenai pikir sekarang ini dia bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan lain setelah tahu jika teman-temannya berada di kota ini, akan tetapi ada perasaan lain yang mendorongnya untuk berpikir 'Aku ingin selalu bekerja dengannya' sehingga Kurenai hanya mampu untuk menunduk.

"Maaf," hanya kata itu yang mampu Kurenai ucapkan setelah dia pikir panjang kembali.

Mereka pun saling diam, hingga sesaat kemudian akhirnya mereka sampai pada tempat sederet pakaian-pakaian wanita yang mungkin cocok untuk Kurenai gunakan.

Mereka pun menghentikan langkahnya di situ.

"Kau boleh memilih pakaianmu 4 stel," jelas Naruto, dan dijawab anggukan pelan oleh Kurenai.

Itu sudah lebih dari cukup bagi Kurenai, walau hanya empat stel, Kurenai sangat bersyukur memiliki majikan yang sangat baik seperti itu mau membelikannya pakaian untuknya secara Cuma-Cuma tanpa dipotong gaji nanti. Dengan demikian Kurenai akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik dengan mengambil baju tidur, baju santai serba guna, dan baju yang cocok untuk dipakai saat kerja, dan satu stel lagi akan dia gunakan untuk membeli pakaian dalam.

Pastinya Kurenai mengambil pakaian yang dia inginkan dengan harga yang paling murah, setidaknya dia menghargai pemberian majikannya itu, cukup segitu tak mau lebih dari itu.

Sambil menunggu Kurenai memilah pilih pakaian yang dia inginkan, Naruto menunggu di dekat kasir. Sedangkan Mirai malah ikut menemani ibunya memilih pakaian.

.

Selang 30 menit, nampaknya Kurenai telah selesai memilih pakaian yang dia pilih. Tapi ada yang aneh ketika melihat reaksi Kurenai yang bersemu merah ditutupi dengan menunduk, pakaian yang dia pilih digenggam dengan erat di tangannya.

Di sisi lain, Karyawan perempuan yang sempat membatu Kurenai memilih pakaian melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar kepada Kurenai.

"Sudah?" tanya Naruto ketika Kurenai sudah berada di depannya.

"Um," Kurenai mengangguk.

Setelah itu barang yang tadi diambil oleh Kurenai diberikan kepada kasir perempuan untuk mengecek total semua harga barang tersebut.

Saat sang kasir mengecek barang, tiba-tiba sang kasir tersenyum yang seketika membuat Kurenai tambah tersipu dan menunduk ketika menyadari senyuman sang kasir tersebut.

"Semuanya sekian, Tuan," kata sang kasir setelah selesai mengecek semua barang tadi, dan masih tersenyum.

Naruto terdiam sesaat, alisnya dinaikkan sebelah, rasanya cukup aneh mendengar panggilan dari sang kasir kepadanya. Tapi Naruto tidak suka berpikir panjang untuk memikirkan hal sepele seperti itu, Naruto kemudian mengambil uang pas di dompet dan langsung membayar barang milik Kurenai.

"ini,"

"Terima kasih, Tuan,"

Setelah itu Naruto beranjak pergi dari toko pakaian diikuti Kurenai dan Mirai di belakangnya, urusan di situ sudah selesai.

.

.

"Aku heran, kenapa kasir tadi memanggilku seperti itu tadi? Aku tidak terlihat tua kan, Kurenai?"

Naruto bertanya di sela langkahnya menuju lantai 2, berharap Kurenai mengetahui pertanyaannya. Tapi nyatanya Kurenai malah meremas kantong berisi pakaian yang tadi dibeli, dan juga menunduk.

"A-aku tidak tahu," balas Kurenai gagap, dan pada akhirnya membuat Naruto menghela nafas kecewa.

Tapi sebenarnya, Kurenai malah terbayang sesuatu oleh percakapan tadi dengan karyawan yang membantunya memilih baju yang dia ambil. Bayangan itu menampilkan jika Naruto akan melihatnya tanpa berkedip ketika nanti dia mengenakan baju tidur warna merah bercorak kuning kotak-kotak dan sangat tipis sehingga memperlihatkan pakaian dalamnya, membayangkan hal tersebut membuat Kurenai tersipu.

"Kyaaaaaaaa! Kenapa aku malah membayangkan hal seperti itu!" batinnya menjerit histeris, dan seketika langsung menghapus bayangan dikepalanya yang tidak terduga itu dengan cepat.

.

.

.

#Skip time...

.

Cukup sebentar untuk mampir di restourant di lantai 2, mereka tidak memakan makanan di sana, hanya saja Mirai menginginkan makanan di restourant tersebut. Akhirnya Naruto memesan beberapa makanan dari Restourant tersebut untuk Mirai bawa pulang.

Mereka sekarang sudah berada di lantai 1 Mall, bergegas untuk kembali pulang.

Dan rencananya akan mampir terlebih dahulu di stasiun untuk memesan tiket ke Tokyo, karena alasan tertentu Naruto ingin pergi ke Tokyo nanti sore dan akan mengajak Garou.

Tapi saat pandangan jauh keluar Mall, perhatian Naruto tertuju pada sebuah kerumunan di dalam Mall.

"Kau tahu ada apa di sana, Kurenai?" Naruto bertanya sambil menunjuk kerumunan di sana.

Kurenai dengan sekali toleh langsung memfokuskan penglihatannya. "Aku tidak tahu, Naru," ucapnya yang nampaknya tidak tahu penyebab kerumunan tersebut.

Tanpa disadari, Kurenai memanggil Naruto tanpa embel-embel 'San' seolah dia mengenal dekat Naruto.

Naruto tak memperhatikan embel-embel itu, perhatian Naruto masih fokus ke kerumunan tersebut, hingga pada akhirnya Naruto memilih untuk menghampiri kerumunan tersebut untuk mengetahui apa penyebabnya yang membuatnya penasaran.

Tak berselang lama, mereka sudah berada di kerumunan tersebut. Naruto tersenyum melihatnya, itu adalah Panggung Outdoor yang sering Naruto lihat, terkadang juga ada berada di Alun-alun kota.

Melihat hal tersebut membuat Naruto bernostalgia, bahwa dia dulu pernah seperti itu.

Rasanya cukup tergugah untuk mencoba kembali, dengan begini Naruto akan menunggu 2 gadis itu memainkan panggung, setelah itu dia ingin mencobanya.

Dan tepat baru beberapa menit permainan panggung telah selesai, 2 gadis itu mendapatkan banyak tepuk tangan dari para penonton di sekitarnya, termasuk Naruto juga.

Dan juga banyak yang memberikan sejumlah uang ke dalam kotak gitar yang memang sudah tersedia, sebagai ungkapan apresiasi mereka yang menikmati lagu yang dibawakan olehnya.

Naruto melangkah maju, memasukkan beberapa lembar uang ke dalam kotak gitar yang cukup banyak dibandingkan dengan orang lain.

Yang itu membuat 2 pemain panggung itu sedikit terkejut, dan Naruto menampilkan sebuah senyum sambil menghampirinya.

"Terima kasih, pemuda-san," kata gadis yang tadi bernyanyi, sedikit membungkuk diikuti temannya yang memegang gitar.

"Sama-sama," balas Naruto, kemudian dilanjutkan "Boleh aku mencobanya, Nona?"

Mungkin ini agak aneh, 2 gadis itu saling pandang mendengar ucapan Naruto barusan, lalu sang gadis vokal kembali menatap Naruto.

"Apakah anda yakin?"

"Tentu, kenapa tidak,"

"Ah bukan seperti itu, hanya saja setiap kali kami membuka Panggung Outdoor, yang kulihat hannyalah penikmat musik, mungkin mereka tidak pede untuk berperan bernyanyi,"

Naruto tersenyum mendengar pengakuan gadis vokal tersebut, memakluminya yang mungkin mereka belum tahu jika dirinya pernah seperti mereka berdua saat ini, waktu dulu.

"Mungkin kau ada benarnya, tapi aku ingin mencobanya," kata Naruto.

"Ba-baiklah," gadis vokal itu sedikit meragukan kepedean Naruto saat ini, tapi Naruto tetap tersenyum menanggapinya.

Mic diberikan kepada Naruto.

"Boleh aku tahu namamu, Nona?"

"Natasha," kata gadis vokal itu memperkenalkan namanya Natasha (Knight Chronicle).

"Baiklah Natasha-san, kuberi satu tips sebelum memulai konser panggungnya, yaitu lihat sekelilingmu terlebih dahulu, seperti apa orang-orang di sekitarmu,"

Natasha merasa bingung tiba-tiba Naruto berkata seperti itu, apalagi saat melihat gelagat Naruto yang sedang memperhatikan sekitar.

"Hmm kebanyakan orang-orang adalah pasangan muda," kata Naruto setelah melihat sekeliling dan mengetahu jika orang-orang sekitar adalah sepasang muda-mudi, pasangan remaja kuliahan, bukan pasangan remaja sekolah SMA atau pun SMP.

Jadi Naruto memutuskan untuk menyanyikan sebuah lagu yang mungkin cocok untuk orang-orang sekitar. Naruto pun menoleh ke arah gadis gitar.

"Namamu siapa, Nona?"

"Tasha," gadis gitar itu memberitahukan namanya Tasha (Knight Chronicle).

"Dia Imotou-ku," timpal Natasha menambahkan.

Naruto mengangguk mengerti.

"Baiklah Tasha-san, mainkan gitarnya sekarang,"

Tasha dengan gugup langsung memainkan gitarnya, hingga beberapa saat Naruto belum bernyanyi, dia masih menunggu momentum genjrengan gitar yang pas dari Tasha.

Hingga tiba-tiba Naruto menarik nafas tenang, menghadap ke para orang-orang sekitar. Dia sudah cukup pede untuk mulai bernyanyi.

~Musik by Lilyo : Pandangan Pertama~

.

.

.

#Skip time...

#Distrik Utara Kuoh...

.

Waktu telah menunjukkan siang hari, setelah menyuruh Kurenai untuk pulang duluan sekarang Naruto berjalan menuju Stasiun untuk membeli tiket.

Berbagai Gang telah dia lewati untuk mempersingkat jarak.

Tepat saat melewati belakang GOR, Naruto melihat sesuatu yang sering dia temui.

Pemalakan dan penindasan yang sering terjadi.

Di situ, terlihat seseorang remaja berwajah sangar sedang menodongkan sebuah pisau kepada remaja kaya.

Seperti biasa, Naruto akan menghentikan itu.

"Hey! Aku memiliki uang banyak, kenapa tidak memalakku saja," kata Naruto sambil berjalan menghampiri dengan menunjukkan dompetnya.

Mereka merespons.

Tadinya si pemalak tidak ingin menggubrisnya, tapi saat Naruto memperlihatkan beberapa lembar uang di dalam dompet membuat matanya langsung hijau, dan langsung menyingkirkan remaja tersebut.

Si pemalak langsung beralih mengacungkan pisau kepada Naruto sambil melangkah mendekat.

"Kau memang sangat tahu apa yang kumau," kata si pemalak. "Serahkan semua uangmu, maka kau tidak akan terluka,"

"Ambillah,"

*Tak!*

Naruto menjatuhkan dompetnya 1 meter dari hadapannya, dan si pemalak menjadi bodoh karena demi uang pada dompet tersebut membuatnya langsung cepat-cepat mengambilnya.

Si pemalak tidak sadar, jika itu memang disengaja oleh Naruto untuk mendapatkan kelengahannya.

"Oi,"

Tepat satu jengkal si pemalak hampir mendapatkan dompet itu, si pemalak merespons panggilan Naruto.

Akan tetapi tidak sampai satu detik kemudian pandangan si pemalak menjadi gelap dan mendapatkan rasa sakit luar biasa di kepalanya karena efek tendangan keras Naruto di kepala samping, ditambah membentur tembok akibat terpental oleh tendangan tersebut.

Naruto tidak akan memberikan celah.

Tanpa harus menunggu si pemalak berusaha berdiri, Naruto telah mencekal tengkuknya dan menariknya ke belakang.

Dengan ancang-ancang yang mantap, Naruto menghadap tembok.

*DUAGH!*

Si pemalak langsung tersungkur ambruk tak berdaya setelah kepalanya dibenturkan dengan keras ke tembok oleh Naruto.

Darah pun mengalir di dahinya.

"Huh..." akhirnya Naruto dapat bernafas lega. Akan tetapi Naruto menaikkan sebelah alisnya ketika mengetahui pakaian yang di pakai oleh si pemalak tersebut. " Sei-Gakuen?" pandangan heran setelah mengetahui itu adalah seragam suatu sekolahan dari distrik Utara Kuoh.

"Ano..." si remaja kaya berujar membuat Naruto menoleh ke arahnya. "Apakah perlu aku hubungi polisi?" katanya.

"Tidak perlu, biarkan orang ini menjadi urusanku,"

"Baiklah, dan terima kasih untuk pertolongannya tadi,"

"Ya, sama-sama,"

"Aku pergi,"

"Ya,"

Si remaja kaya itu langsung pergi terburu-buru sambil bergumam 'Telat' dan juga 'Harus cepat'. Mungkin Naruto pikir si remaja kaya itu sedang mengejar waktu karena kepentingan yang dia miliki,

Kini Naruto berjongkok di hadapan si pemalak yang tepar dengan dihiasi darah di dahinya setelah mengambil dompetnya kembali, kemudian mengangkatnya, membawanya seperti karung beras.

"Berkunjung sesekali bukan ide yang buruk, lagi pula stasiun juga dekat dari sana,"

Naruto bergumam, mengubah rencana tujuannya dengan mengunjungi suatu tempat yang sudah dalam pikirannya terlebih dahulu sebelum ke stasiun.

.

.

.

Next...

.

.

.