Disclaimer : Naruto dan DxD bukan milik saya.

Rate : T

Genre : Hurt, Comfort, Drama, Romance, Supranatural, Angst.

Warning : AU/Alternatif Universe.

Pairing : Naruto x Gabriel.

Summary : Disaat aku sudah mulai menyerah pada Kehidupan, seseorang muncul membawa warna padaku seperti Malaikat.


Naruto Po'v

Ruangan putih dengan bau obat-obatan yang khas terasa di indra penciumanku, langit-langit putih dan dinding putih yang terlihat menyilaukan pandanganku. Aku mendengar suara dari pintu dan dapat kulihat bahwa seorang dokter dengan pakaian putih khasnya, ia mendatangiku untuk memberikan ku Obat.

"Bagaimana kabarmu Naruto-san? apa kau baik-baik saja?" tanya dokter itu dengan senyuman ramah, aku yang melihat itu hanya mampu tersenyum sebagai balasannya.

"Kurasa sedikit membaik? hehe...," aku menjawab dengan riang, meskipun sebenarnya aku sedang merasakan kesakitan yang amat luar biasa.

Dokter berbicara tentang beberapa hal denganku, meskipun itu obrolan yang menarik tapi entah kenapa aku merasa tidak tertarik sama sekali. Lalu dokter itu pergi meninggalkan ruangan khusus untukku, aku melihat-lihat tempat itu dan pandanganku beralih pada langit yang terlihat indah.

Aku memutuskan untuk pergi keatap untuk melihat-lihat awan, aku berjalan menuju atap dengan alat bantu jalan karena sebagian besar saraf-saraf milikku sudah mulai lumpuh karena penyakit yang kuderita, aku melihat banyak pasien yang didatangi oleh keluarga mereka.

"Keluarga kah?" gumamku sambil tetap melangkah, aku bertemu beberapa suster yang bertanya-tanya aku akan kemana, aku hanya menjawab untuk menuju atap dan beberapa suster bersedia untuk mengantarkan diriku tapi kutolak semua itu.

Oh iya, aku lupa mengenalkan diriku sendiri eheheh, baiklah Namaku adalah Uzumaki Naruto, seorang pria berumur 25 tahun yang memiliki kehidupan sedikit tidak beruntung, aku berada dirumah sakit karena aku mengalami sebuah penyakit yang sedikit serius, jadi aku harus menjalani rawat inap untuk kesembuhanku. Sekian dari perkenalan ini.

Aku akhirnya sampai di atap rumah sakit yang luas, aku menoleh untuk memastikan tidak ada orang lain disini, tapi sepertinya aku sudah keduluan seseorang, disana seorang wanita berambut kuning duduk mempunggungiku, mah kurasa tidak apa karena ini adalah tempat umum jadi aku tidak bisa berharap bahwa tempat ini akan kosong.

Aku duduk di kursi yang disediakan disana, aku duduk sedikit jauh dari tempat wanita itu. Sedikit aneh melihat seorang wanita berada diatap, tapi kurasa selera orang-orang berbeda.

"Langitnya indah bukan?"

"..."

"Hei! aku berbicara denganmu!"

"Ohh? maaf kukira kau berbicara sendiri." balasku santai, "Tapi itu memang indah." lanjutku dengan menatap langit biru,

"Aku Gabriel, kau siapa?" tanya wanita itu yang kini sudah disampingku, ini aneh kapan wanita ini pindah?

"Naruto, Uzumaki Naruto." balasku yang sedikit menggeser tubuhku.

"Salam kenal Naruto-san!" kata wanita itu dengan senyuman manis, aku sedikit terpana melihat itu dan aku yakin bahwa wajah ku pasti Memerah sekarang.

"Ya," balasku berusaha untuk tetap tenang.

Terjadi keheningan beberapa saat, Naruto sendiri lebih memilih untuk melihat langit.

"Naruto-san? apa kau pasien disini?" tanya Gabriel tiba-tiba, aku sedikit terkejut.

"Ya, kau sendiri? menjenguk seseorang?"

"Hmm, aku sedang menunggu seseorang."

"Ohh begitu? apa itu saudara atau temanmu?"

Ia tidak menjawabnya melainkan tersenyum manis kearahku, sepertinya ia tidak mau memberitahukannya. Ya memang itu hal yang wajar, bagaimana bisa kau mempercayai seseorang yang barusan kau temui.

"Naruto-san sendiri? apa tidak ada keluargamu yang menjenguk?" tanyanya dengan memiringkan kepalanya, aku melirik Gabriel sebentar lalu kembali mengarahkan pandanganku kearah depan.

"Tidak, aku tidak punya keluarga." balasku dengan nada datar, ini aneh? kenapa aku bisa mengatakan ini padanya? kenapa aku tidak bisa menolak keinginannya?

"Begitu? apa kau sedang bertengkar dengan keluargamu?" tanyanya yang makin pribadi, takut untuk berbicara lebih jauh aku memutuskan untuk kembali keruangan ku.

"Maaf Gabriel-san, tapi aku harus kembali." kataku berusaha untuk pergi, Gabriel melihatku dengan pandangan yang cukup rumit untuk kubaca.

Aku pergi kearah pintu keluar yang juga pintu masuk, lalu turun dan sedikit menoleh kebelakang dimana Gabriel sedang melambaikan tangannya padaku.

Sesaat setelah pintu tertutup, Gabriel masih memandangi pintu itu dengan pandangan sedih.

"Kau lelaki yang kuat, Naruto-kun."

End Po'v


Sudah seminggu setelah pertemuan Naruto dan Gabriel diatap, dan seminggu pula Naruto hanya bisa terdiam diruangan miliknya.

Ia membaca buku dengan kacamata yang bertengger dihidungnya, Naruto kini lebih menghabiskan waktunya didalam kamarnya karena kondisinya kini makin memburuk.

"Ahh, aku tidak percaya bahwa manusia dan malaikat bisa jatuh cinta. Tapi ini adalah imajinasi penulisnya jadi aku tidak bisa memprotesnya." kata Naruto sambil menutup buku atau novel itu.

"Tapi apa kau percaya bahwa Malaikat nyata?" sebuah suara lembut terdengar.

Naruto yang mendengar suara itu sedikit terkejut, pasalnya diruangan ini hanya ada ia sendiri, lalu ia mengalihkan pandangannya kearah kiri dan disana terdapat sosok yang tidak asing bagi dirinya.

"Gabriel-san?!" kejut Naruto dengan memundurkan tubuhnya, tapi ia lupa bahwa ia sedang di ranjang hingga membuatnya hampir terjatuh jika tidak dipegangi oleh Gabriel.

"Hei, bagaimana kabarmu Naruto-san?" tanya Gabriel dengan senyuman manis yang selalu menghiasi wajah cantik itu, Naruto hanya memandang Gabriel dengan pandangan aneh.

"Bagaimana dia ada disini? bahkan aku tidak menyadari keberadaannya." batin Naruto dengan heran, Gabriel yang melihat Naruto melamun sedikit kesal lalu memutuskan untuk menggoyang pelan tubuh itu untuk mendapatkan perhatian.

"Mou! Naruto-san! jangan diam saja!" kata Gabriel dan tetap menggoyang pelan tubuh laki-laki itu, Naruto akhirnya tersentak dan melihat kearah Gabriel.

"Ahh maaf, tapi kau mengejutkanku." kata Naruto dengan menganggaruk kepalanya meskipun tidak gatal.

"Itu karena kau terlalu fokus, hihi." balas Gabriel dengan imut dan diakhiri tawa kecilnya yang terlihat imut dimata Naruto.

"Benarkah?"

"Hu'um!"

"Tapi kapan kau kesini? dan bagaimana kau tau ruanganku?" tanya Naruto yang masih bingung kapan Gabriel memasuki ruangannya.

"Itu mudah, aku kesini sekitar 15 menit yang lalu dan untuk menemukan ruanganmu aku cukup bertanya pada suster tempat Uzumaki Naruto dirawat." balas Gabriel dengan nada sombong, Naruto yang mendengar itu menatap Gabriel dengan pandangan datar.

"Bagaimana dia bisa mengatakan itu dengan bangga?"

Naruto menghela nafas lelah, ia melihat kearah jam yang menunjukkan angka 10 pagi, sebentar lagi suster akan memberinya obat, karena tidak ingin ada kesalah pahaman Naruto berniat untuk menyuruh Gabriel pergi-

"Aku akan disini, mungkin aku akan membantumu meminum obat nanti."

-Atau tidak.

Naruto menyentuh pangkal hidungnya yang entah mengapa menjadi sakit, tak lama kemudian suster datang membawa obat-obatan untuknya.

"Naruto-san, aku membawakan obat and-" ucapan Suster itu terhenti saat melihat sosok Gabriel disebelah Naruto, Gabriel berjalan maju untuk mengambil obat ditangan suster itu.

"Biar saya saja suster, anda bisa kembali bekerja." kata Gabriel dengan mengambil obat itu, suster itu sempat terdiam tapi akhirnya ia menundukan kepalanya dan keluar dari ruangan itu.

"Ini merepotkan."


Sudah dua minggu kini Gabriel selalu mengunjungi Naruto, awalnya Naruto masih menyuruh Gabriel untuk tidak sering mengunjunginya tapi wanita itu tetap datang bagaimanapun caranya hingga Naruto sendiri sudah lelah dan memilih membiarkan Gabriel bertindak sesukanya. Seperti sekarang, Gabriel sedang mengupas Apel untuknya dengan bersenandung kecil, Naruto sendiri lebih memilih untuk membaca buku karena hanya ini yang bisa ia lakukan.

"Naruto-kun, Aahh?" kata Gabriel menyodorkan Apel kearah Naruto, sedangkan Naruto sendiri malah sedikit salah tingkah karena Gabriel yang ingin menyuapi dirinya.

"A-aku bisa sendiri." kata Naruto dengan mengambil apel itu dan langsung memakannya, Gabriel tersenyum kecil melihat tingkah Naruto.

"Naruto-kun? kau akan menjalani Operasi kan?"

"Ya? itu akan dilakukan sekitar dua minggu lagi, memangnya kenapa?"

"Tidak ada,"

"Ngomong-ngomong, bukannya kau sedang menunggu seseorang? apa dia masih belum keluar dari rumah sakit?" tanya Naruto dengan melirik Gabriel, sedangkan wanita itu malah memasang wajah yang tidak bisa ditebak.

"Sebentar lagi," jawab Gabriel pelan, ia tersenyum kecil kearah Naruto.

Naruto yang mendengar itu entah mengapa merasakan sesuatu saat melihat raut wajah Gabriel, ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman. "Apa mungkin aku menyukai Gabriel-san? tidak-tidak ini pasti hanya perasaanku saja." batin Naruto sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"to..."

"Ruto..."

"Naruto!"

Naruto sedikit terkejut dan melihat kearah Gabriel yang sedang menatap dirinya dengan pandangan kesal, tapi alih-alih terlihat seram itu malah terlihat lucu dimata Naruto.

"Ada apa?" tanya Naruto dengan bingung, Gabriel yang sepertinya kesal malah memalingkan wajahnya dengan 'hmph!' khas wanita.

"Ahaha, maaf-maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu." kata Naruto dengan tawa canggung.

"Hmph!"

"Oi? ayolah? aku sudah minta maaf bukan?"

"..."

"Baiklah, aku akan melakukan apapun agar mendapatkan maafmu."

"Sungguh?"

"Tentu, janji." kata Naruto membuat gerakan tanda janji, Gabriel langsung tersenyum senang. "Cepat sekali perubahan sikapnya, memang wanita susah dimengerti." lanjut batin Naruto melihat kearah Gabriel.


Naruto Po'v

Naruto kini sedang duduk dengan santai menikmati pagi, tiba-tiba ia merasa ingin buang air kecil. Melihat bahwa tidak ada suster yang membantunya, ia langsung berusaha berjalan sendiri.

Ia turun dari ranjangnya, mengambil langkah pertama, lalu kedua hingga ia merasa bahwa ia bisa berjalan sendiri

Brukk!

Eh? kenapa? aku... tidak bisa merasakan kakiku lagi? kenapa ini!?

Aku melihat kakiku dengan pandangan datar, apa ini sudah hampir berakhir? sial! bergeraklah! ayo! aku memukul kakiku dengan kuat, aku tidak peduli dengan cairan infus ditanganku yang hampir lepas, karena sekarang aku harus bisa menggerakkan kakiku!

"Sial! ayo berdiri! kenapa!? harusnya masih bisa bukan?!" aku terus memaki-maki sambil memukul kakiku.

"Naruto-kun!?"

Aku menoleh ke sumber suara, Gabriel? kenapa kau selalu datang diwaktu yang seperti ini?

"Gabriel-san?"

"Apa yang kau lakukan disana!?"

"Aku hanya ingin kekamar kecil, lalu terjatuh..., hehe."

"Kenapa kau tidak minta bantuan seseorang!?"

"Aku hanya berpikir untuk tetap menggerakkan tubuhku sendiri,"

"Diamlah, aku akan panggil dokter sekarang."

Gabriel membantuku untuk bangun dan kembali di ranjangku, lalu ia keluar untuk memanggil dokter. Aku hanya melihat punggung kecil yang menghilang begitu pintu tertutup, aku tersenyum kecil hingga aku merasakan hidungku yang menghangat, lalu aku merasa ada cairan hangat yang keluar pelan dari hidungku.

"Darah?"

Ya cairan hangat itu ternyata adalah darahku, aku merasa bahwa darahku keluar dengan banyak, bukankah masih ada waktu? ini hanya seminggu lagi untuk menjalani operasiku. Bertahan lah tubuhku.

End Po'v


Naruto kini duduk di kursi roda dengan Gabriel yang mendorongnya, mereka mengelilingi taman rumah sakit untuk meredakan tekanan pada Naruto.

"Jadi besok kau di operasi ya?"

"Ya, besok adalah penentuannya."

"..."

"Gabriel?"

"Ahh maaf, aku juga ingin bilang karena ini juga hari terakhirku untuk mengunjungi rumah sakit."

"Apa seseorang itu akan keluar?"

"Ya, besok semuanya akan menjadi lebih baik."

Obrolan mereka terhenti karena Naruto yang tidak mau memulai percakapan, Gabriel juga nampaknya sedang dalam keadaan cukup rumit.

Mereka duduk di kursi taman dengan dikelilingi banyak anak kecil, Gabriel bermain dengan anak-anak. Naruto yang melihat pemandangan itu cukup terkejut dan terpana, karena ia dapat melihat senyuman Gabriel dan tawanya yang begitu lepas. Hingga tanpa sadar Naruto tersenyum melihat itu.

Waktu terus berlalu, hingga sore tiba, Gabriel mengantarkan Naruto kembali ke ruangan itu, tapi baru beberapa langkah...

"Paman! ambil bunga ini, ini akan membuat paman merasa lebih baik." seorang gadis kecil berambut pink, memberikan Naruto bunga-bunga yang indah.

Naruto yang melihat itu sedikit tersenyum, lalu ia mengambil bunga itu dan mencium bau harum bunga, Naruto lalu meletakkan bunga itu di pangkuannya.

"Terima kasih, Ojou-chan." kata Naruto sambil mrngelus rambut gadis kecil itu lembut, Gabriel yang melihat itu hanya tersenyum manis melihat Naruto yang sedikit ceria.

Gabriel langsung mendorong kursi roda Naruto menuju ruangannya, sempat bertemu dengan beberapa orang yang memberikan Naruto dukungan dan hanya dibalas senyuman canggung.

Mereka sampai di ruangan Naruto, Gabriel membantu Naruto untuk tiduran di ranjang miliknya.

"Kau tidak pergi? Gabriel?" tanya Naruto yang melihat Gabriel malah duduk di kursi samping ranjang, wanita itu memberikan senyuman kecil kearah Naruto.

"Tidak, aku akan pergi nanti setelah kau tertidur Naruto-kun." balas Gabriel yang menggenggam tangan Naruto yang terpasang infus, ia meremas pelan tangan kokoh yang terlihat rapuh itu.

Naruto hanya tersenyum dan memejamkan matanya untuk memasuki alam mimpi, ia sempat membuka matanya sebentar untuk melihat apa Gabriel masih disampingnya.

"Kau tau Gabriel, aku sudah siap untuk apapun yang terjadi besok."

"Aku tau, kau pria yang kuat Naruto-kun."

Lalu tak lama kemudian Naruto sudah terlelap, nafasnya yang teratur menandakan bahwa ia benar-benar tidur.

Gabriel masih menggenggam tangan lemah Naruto, ia mengelus surai pirang itu dengan lembut. Gabriel melihat keluar jendela yang sudah mulai malam, lalu kembali memandang wajah damai Naruto.

"Semuanya akan berakhir, tapi itulah kebahagiaan yang sesungguhnya."

Tak lama kemudian ruangan Naruto menyisakan sang pirang yang tertidur, tapi di sebelahnya tampak bulu merpati berwarna putih cerah dan indah. Lalu bulu itu terbang pelan ke atas wajah Naruto yang tertidur, lalu pergi tertiup angin hingga keluar jendela dan menghilang.


Naruto Po'v

Aku melihat ruangan putih dengan beberapa orang yang tampak panik, mereka berusaha begitu keras hingga tak segan membentak orang lain.

"Hei! cepatlah!"

"Dokter! nadinya melemah!"

"Cepatlah! kita harus melakukan sekuat tenaga!"

Suara-suara yang begitu panik dan gelisah terdengar di telingaku, aku melihat beberapa dokter dan suster yang sedang mengoperasi pasien, hingga aku sadar bahwa itu adalah aku. Lalu tiba-tiba seorang suster berjalan ke arahku, aku menutup mukaku untuk menghindari tabrakan, Tapi...

"Sebentar! aku akan mengambilnya!"

Suster itu menembus tubuhku, aku melihat ketubuhku yang memakai pakaian pasien, tapi bisa kulihat bahwa tubuhku transparan.

"Apa aku sudah mati?" tanyaku pelan, aku mencoba untuk menyentuh tembok di sebelahku. Tanganku menembus tembok seolah dinding dengan lapisan marmer itu tidak ada.

Gabriel!

Aku harus mencarinya! jika benar sekarang aku sudah mati, maka biarkan aku untuk melihat ia untuk terakhir kalinya.

Aku keluar lewat pintu ruang operasi, langsung menembus dan melewatinya tanpa pikir panjang.

Aku berjalan berkeliling rumah sakit, aku masuki setiap kamar pasien, tapi hasilnya nihil, aku tidak menemukannya sama sekali, lalu kucoba untuk mencari ke taman siapa tau ia sedang bermain di sana.

Aku berlari, perasaan yang tidak pernah kurasakan beberapa bulan, aku terus berpacu meskipun aku tau bahwa jantungku sekarang sudah berhenti berdetak, tapi hasilnya sama saja, aku tidak menemukannya.

Aku berjalan menuju bangku taman, tubuhku menembus orang-orang tanpa mereka sadari, aku baru sadar bagaimana rasanya menjadi hantu. Atau ini adalah arwahku?

Aku duduk di bangku kosong, memandang bunga-bunga yang bermekaran, tanpa sadar aku tersenyum melihat itu. Lalu aku alihkan pandangan ku ke arah atas, melihat awan-awan yang bergerak mengikuti angin, ah ini mengingatkanku dengan pertemuan pertama ku dengan Gabriel, kami duduk di atap untuk menikmati pemandangan, sungguh kebetulan tidak terduga bisa bertemu Gabriel yang sudah memberikan sedikit warna di hidupku.

Aku tetap diam sambil melihat awan-awan, hingga aku tersadar satu hal.

"Atap!?"

Tunggu, bukannya aku masih belum mengecek tempat itu. Ah mungkin ia berada di sana.

Aku berdiri dan langsung berlari menuju atap, aku bulu merpati yang terbang disekelilingku, bulu itu sangat indah karena berwarna putih yang sangat bersih. Aku tidak tau entah kenapa itu menarik perhatianku, tapi bulu itu langsung terbang entah kemana, aku langsung mengikutinya tanpa pikir panjang.

Ternyata bulu itu juga mengarah ke atap, aku menaiki tangga itu dengan pelan, berharap dia ada di sana. Langkah demi langkah terasa semakin berat, hatiku seolah-olah takut jika dia tidak ada di sana.

Aku membuka pintu itu,

"Gabriel."

Wanita itu ada di sana, di tempat duduk awal pertemuan kita, aku melangkah dengan pelan untuk melihat wajahnya, karena ia sedang mempunggungiku.

Wajah cantik itu menatap lurus ke depan, sinar kebahagiaan terpancar dari sorot matanya."Apa orang yang ia tunggu benar-benar spesial untuknya?" batinku pelan, entah mengapa itu sedikit menyakitkan, mungkin aku benar-benar sudah terjatuh akan pesonanya.

Aku memutuskan untuk duduk disebelahnya, meskipun aku tau bahwa ia tidak akan menyadari keberadaanku.

"Langitnya indah ya?" kataku pelan, entah mengapa sekarang terlihat aku yang seperti berada di posisinya saat awal bertemu.

"Tentu," Aku terkejut saat ia menjawabnya, apa itu cuma kebetulan? mana mungkin ia bisa mendengar ucapanku.

"Aku sempat kaget, kukira kau menjawabnya, tapi itu mungkin kebetulan bukan?"

"Tidak, itu bukan kebetulan..., Naruto-kun."

Aku langsung menoleh ke arahnya, aku bisa melihat bahwa ia sedang menatap ke tempatku? mungkin kah ia esper?

"Aku bukan Esper tau,"

"Gabriel?! kau bisa mendengarku?"

"Ya dengan jelas, bahkan aku bisa

melihatmu."

"Bagaimana mungkin!?"

"Itu mungkin saja Naruto-kun, karena aku-"

Bwusssh!

"-Malaikat."

Aku terpana melihat sayap putih seperti merpati, aku bersumpah bahwa ini adalah hal teraneh yang pernah kualami.

"Aku rasa jika aku masih hidup maka aku akan mengalami serangan jantung." kataku sambil tetap melihat Gabriel, sedangkan wanita atau Malaikat itu hanya tersenyum tipis.

"Hihi, tapi sekarang kau hanyalah Roh Suci dan polos Naruto-kun."

"Benarkah?"

"Hu'um,"

"Begitukah? jadi apa kau akan membimbingku ke surga atau neraka?"

"Tentunya surga,"

"Benarkah? kupikir aku akan masuk neraka."

"Mungkin saja itu terjadi, tapi kau terhindar dari itu karena tidak jadi bunuh diri."

"Bagaimana kau tau?"

"Tentu saja, aku seorang Malaikat."

"..."

"Hihi, becanda. aku sudah lama menunggumu, meskipun sedikit sedih jika kamu mati."

"Jadi orang yang kau tunggu itu..., Aku?" tanyaku sambil menujukk diriku sendiri, Gabriel memberikan senyuman manisnya ke arahku.

"Tentu, dan sekarang mari kita bersama selamanya!" kata Gabriel lalu menggenggam tanganku dan perlahan terbang, aku sedikit terkejut tapi itu tidak terlalu menyedihkan.

"Gabriel, aku mencintaimu."

"Aku juga, jadi mari kita hidup bersama di surga! Darling!"

End~


Author Note : Yooo! apa kabar kalian semua? saya disini hadir untuk memberikan sebuah kisah One-shoot kepada kalian dengan. Bagaimana menurut kalian? jelek kah? kalo iya maafkan saja karena saya hanya Author baru yang tidak terlalu bisa menguasai genre ini. hehehe.

Untuk yang menunggu Gureihiro, Ninja and Ice Queen Arendelle dan Has Ended, dimohon bersabar karena Author akan mengalami Hiatus selama sebulan hehe. Maaf soalnya ada keperluan yang tidak bisa ditinggal atau ditunda.

Oke Akhir Kata, See you Next Time.

Adiue!