Aku merintih. Kepalaku masih terasa perih, dan tubuhku terasa panas seolah mendidih. Ini sudah biasa, tentu saja. Tapi kali ini terasa luar biasa. Luka sebelumnya belum benar-benar pergi, dan seolah aku adalah sosok tak berguna, luka itu bertambah lagi.

Tidak apa, lagi-lagi batinku bertahan. Mereka hanya melampiaskan kemarahan itu padaku. Biarkan saja, aku paham. Meski aku harus menanggungnya, aku tidak apa. Sudahkah kubilang jika aku dapat berperan dengan baik?

Semua ini berlangsung bukan sebentar, sudah sejak lama. Mereka yang seharusnya memberi kehangatan, nyatanya memberiku kekerasan. Ibu yang mendua, ayah yang gila kerja, dan aku anak yang tidak bisa apa-apa. Sedari lama aku berpikir, kenapa tidak berpisah saja? Bukankah menyakitkan bersama dalam keadaan seperti ini. Tapi mereka bungkam, sakit itu dipendam, dan yang keluar hanya kekerasan dalam rumah tangga. Saling terluka, melupakan sejenak kenyataan bahwa kami adalah keluarga. Lantas, siapakah korban sebenarnya?

Karena mereka, aku tidak percaya apa itu cinta. Dulu bahagia tapi berakhir nelangsa. Untuk apa membuang waktu berjuang atas perasaan yang akan pudar? Tapi, itu sebelum aku bertemu dengannya. Seseorang yang membuatku melepas keraguan, dan berharap bahwa cinta itu nyata. Uchiha Sasuke. Kakak kelasku sekaligus ketua OSIS yang merangkap sebagai kekasihku selama satu tahun ini.

Awalnya aku hanya merasa tertarik. Sebatas itu. Dia adalah sosok populer, wajahnya diatas rata-rata, keluarganya pun berkuasa. Bahkan, jika bukan karena masalahku, aku juga tidak yakin akan bisa bersamanya. Tapi itu semua terpatahkan saat dengan lantangnya dia mendekatiku, mencoba meyakinkan dan akhirnya aku tergoda. Satu tahun bersamanya membuatku semakin tak ingin ada perpisahan. Kasus orang tuaku berbeda. Dan aku yakin itu.

Maka, jika rumah adalah neraka, sekolah bagiku adalah nirwana. Tak peduli sesakit apapun diriku, jika aku masih sanggup berjalan, aku akan tetap datang. Setidaknya di sekolah aku akan lupa sejenak permasalahan dan bisa berperan seolah aku adalah gadis ceria tanpa masalah dan hanya dikelilingi kebahagiaan bersama kekasih dan sahabat-sahabatku.

"Kau terlambat hampir setengah jam!" Guru kedisplinan ternyata sudah menungguku di gerbang sekolah yang tertutup.

"Izinkan aku masuk, Bu. Maaf aku kesiangan," dustaku. Berharap guru yang terkenal kejam dalam menghukum ini memberiku kesempatan.

"Larilah keliling lapangan lima kali, dan tulis namamu di sini" titahnya memberikan sebuah buku pelanggaran. Hah, setidaknya aku tetap bisa masuk hari ini.

Napasku berantakan, mataku rasanya berkunang-kunang. Aku sudah tidak enak badan hari ini dan harus melakukan lari keliling lapangan yang lumayan luas ini. Rasanya menyebalkan. Setelah selesai, lantas aku berjalan di koridor menuju ruang kelasku yang berada di lantai tiga. Kehadiranku membuat semua pasang mata memandang, termasuk Orochimaru, guru kimia yang pemarah.

"Kau pikir sekarang pukul berapa, Haruno?!" bentaknya begitu saja di depan kelas. Kulihat saat ini sedang presentasi. Ah, tugas kelompok, dan kelompokku yang sekarang mendapat giliran. Aku melihat Ino, Tenten, dan Kiba di sana.

"Maaf, Pak. Saya terlambat, dan tadi saya juga dihukum di lapangan."

"Itu kesalahanmu. Kau jelas tahu saya tidak menerima keterlambatan sedetikpun."

"Tapi hari ini pengambilan nilai presentasi, bisakah saya ikut bergabung dengan mereka?"

"Namamu bahkan tidak ada dalam presentasi ini, Haruno! Saya tahu, kau tidak ikut membantu dalam pengerjaan tugas, temanmu mengeluhkan ini tadi."

Apa-apaan ini? Aku melihat temanku yang langsung memalingkan muka. Kenapa mereka mengatakan itu? Aku salah apa?

"Tunggu, apa—"

"Saya tidak menerima alasan lain. Kau terlambat dan kau tidak bertanggung jawab dalam tugasmu. Nilaimu kali ini saya kosongkan, sebagai gantinya kerjakan tugas yang akan saya berikan nanti, dan sekarang bersihkan gudang olahraga. Saya tidak menerima penolakan. Atau kau ingin hukuman tambahan?"

Belum sempat aku menolak, sudah dipaksa berhenti duluan, "Baiklah, saya minta maaf, Guru."

Pada akhirnya aku mengalah, melirik sejenak teman-temanku dan berlalu menuju gudang. Aku tak mengerti ada apa sebenarnya, tapi aku tidak boleh marah. Aku akan menanyakan hal ini nanti saat jam istirahat.

Membersihkan gudang olahraga ternyata benar-benar berat, apalagi sendiri. Alat-alat olahraga berserakan, lantainya kotor dan ruangan benar-benar penuh debu. Kesialan apa yang menempel padaku hingga begini? Tenggorokanku terasa sakit, nyatanya panas tubuhku membuat keadaan menjadi semakin buruk.

Bertepatan bel istirahat berbunyi, hukumanku kini juga sudah selesai. Aku mampir ke toilet sebentar untuk memperbaiki penampilan yang berantakan dan dandanan agar tak nampak pucat. Aku tidak ingin terlihat lemah, apalagi jika kesakitanku terlihat.

Aku pergi ke kantin, melihat ke sekeliling untuk menemukan dimana teman-temanku duduk. Aku lantas menghampiri mereka yang diam saja melihat kedatanganku.

"Halo," sapaku dan mereka tetap diam

"Kalian kenapa diam saja? Apa aku mempunyai kesalahan?"

"Pikir sendiri!" Ino dengan ketusnya menjawabku.

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Dan kenapa namaku tidak ada dalam tugas presentasi tadi? Kita bahkan membuatnya bersama."

"Itu balasan untukmu. Bagaimana bisa kau tega pada sahabatmu sendiri."

"Aku? Memangnya apa yang kulakukan?"

"Sakura, kami baru tahu ternyata kau sepintar ini. Kami mengira selama ini kau begitu polos. Nyatanya kau hanya perebut kekasih orang."

Tunggu, apa lagi kali ini—"Tidak mungkin aku melakukan itu! Aku juga memiliki kekasih!" balasku tak terima.

"Masih tidak mau mengaku? Ino dan aku melihatmu kemarin berkencan dengan Neji. Dia adalah kekasihku Sakura!" kali ini Tenten menamparku dengan matanya yang nyalang dan berkilau karena menahan air mata. Sakit.

Aku bahkan di rumah saja seharian kemarin, bagaimana bisa aku berkencan dengan orang lain?

"Kalian salah lihat! Aku kemarin di rumah seharian!"

"Berbohonglah terus, kami melihatmu berdua. Tidak mungkin salah mengira. Aku kecewa padamu, Saku." Ino dan yang lainnya bergegas meninggalkanku sendiri di meja kantin diiringi tatapan penasaran dari murid lain yang mungkin mencuri dengar.

Pikiranku kosong. Sahabat yang dari dulu aku percayai bahkan menuduhku. Kenapa jadi seperti ini. Padahal, mereka salah satu alasanku mampu bertahan.

Bel istirahat selesai sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, dan aku masih menunduk menatap lantai kantin. Aku ingin menangis rasanya, tapi kutahan karena aku kuat. Setidaknya aku masih memiliki sosok yang kucintai. Dia pasti akan percaya dan membantuku. Omong-omong, aku belum melihatnya dari tadi pagi. Sebenarnya sudah dari kemarin dia susah dicari dan tidak menghubungiku.

Aku melangkah gontai menuju kelas. Guru yang mengajar tidak masuk, dan para murid hanya bersikap tidak peduli. Aku berjalan menuju kursiku dan melihat para sahabatku membentuk lingkaran. Entahlah, aku tidak mau tahu. Badanku sakit, dan hatiku lebih sakit lagi.

Jam istirahat kedua berbunyi, aku langsung bergegas untuk mencari Sasuke. Aku ingin bercerita, menumpahkan semua yang terjadi hari ini. Tentu saja selain masalah keluarga, yang tidak satupun orang tahu.

Aku pergi ke kelasnya, dan ia tidak ada. Lalu aku menuju taman sekolah yang terletak di sebelah barat gedung perpustakaan. Samar-samar aku melihat rambut khas kekasihku itu sedang duduk di bawah rindangnya pohon. Aku baru hendak memanggil dan menghampirinya sebelum aku melihat sosok lain di sebelahnya.

Seorang perempuan.

Rambutnya gelap panjang.

Dan aku mengenalnya.

Ia adalah Hyuga Hinata. Salah satu sahabat dekatku yang berbeda kelas.

Mereka tampak akrab jika tidak ingin kusebut mesra. Kakiku terpaku, dan aku hanya bisa diam menatap nanar mereka. Inginku berteriak, tapi bibirku nyatanya hanya terdiam bisu. Keterkejutanku hilang dan aku hendak melangkah ke arah mereka sebelum kulihat wajah itu saling mendekat.

Nyatanya aku tak sanggup. Kakiku otomatis berbalik arah diiringi air mataku yang jatuh bercucuran. Aku berlari menuju atap sekolahanku yang sepi. Tubuhku langsung lemas, dan aku hanya terduduk sembari menyembunyikan wajah pada tekukan kaki. Rasanya kebas. Sakit tubuhku tidak lagi terasa.

Tiap harinya aku selalu percaya, akan ada masa dimana aku akan bahagia. Aku sudah lama menyerah soal keluarga, tapi kehadiran sahabat dan kekasih yang selalu ada di sisiku membuatku bangkit. Luka-luka tambahan akibat diriku sendiri sudah lama tidak kutorehkan. Obat penenang sudah lama juga tidak kukonsumsi. Aku hanya merasa hidup. Dan mereka sekian dari alasan itu.

Tapi, dalam satu hari semua terasa hancur. Bagiku ini bagai puncak. Apa dosaku di masa lalu? Kenapa aku mengalami ini semua? Dari sekian orang di Bumi ini, haruskah aku?

Sesegukanku tak kunjung hilang, bahkan aku tak sadar sudah berapa lama aku di atap. Ponselku bergetar menandakan ada panggilan masuk. Sasuke...

"Kau di mana?"

"Di atap"

"Tunggu aku di sana."

Ah, aku biasanya menanti hal ini. Kedatangannya. Tapi hari ini rasanya aku ingin menghilang saja. Aku tahu apa yang akan ia bicarakan. Lantas aku berdiri, menghapus air mata, walau aku rasa itu percuma.

Langkah kaki seseorang itu terdengar. Kulihat Sasuke menghampiriku dengan tampang datarnya.

"Ada yang ingin kubicarakan."

"Bicaralah, aku mendengarkanmu"

"Aku ingin kita selesai," benarkan dugaanku?

"Kenapa?" aku tahu alasannya, tapi aku hanya ingin dengar itu sebentar untuk melihatnya lebih lama.

" mAku hanya merasa kita sudah tidak cocok."

"Benarkah? Bisakah kau jujur?"

"Aku mencintai orang lain."

"Aa, baiklah. Aku mengerti, Sasuke-kun "

"Hn, aku pergi, Sakura." Sasuke berbalik pergi, dan sebelum ia menyentuh pintu atap, aku memanggilnya.

"Sasuke-kun, kuharap kau bahagia," itu tulus. Sebenci apapun, bagaimanapun juga ia adalah sosok yang berharga dalam hidupku.

Sudah berakhir ya?

Jadi seperti ini. Dulu aku memang merasa kesepian tapi tidak pernah seperti ini. Rasanya jiwaku juga kesepian. Ditinggalkan begini, apalagi yang harus kulakukan?

Keluargaku sudah lama hancur, sahabatku sudah menjauh, dan sekarang kekasih yang kucintai juga pergi. Apakah, ini giliranku yang pergi menjauh? Toh, aku sudah lama hancur.

Aku memandang langit sore. Sepertinya sudah begitu lama aku di sini merenung. Mengambil sesuatu dalam tasku, aku melihatnya sejenak. Tiada ragu lagi, mulai menelan beberapa pil itu berharap ketenangan kudapatkan.

Benda tajam ini sudah lama sekali tersimpan. Dulu aku memang tidak membuangnya, entah kenapa. Kurasa itu untuk hari ini. Mulai menorehkan luka itu lagi, aku hanya diam menatap tetesan merah yang makin banyak mengalir. Lama dan mulai menghiasi lantai atap serta terkena seragamku. Tidak terasa apapun lagi.

Diam-diam, aku mendengar banyak suara langkah menuju atap. Ah, aku bahkan belum selesai dengan ini. Tapi aku tidak peduli.

Pintu itu didobrak bersamaan dengan teriakan mereka kepadaku.

''SELAMAT ULANG TAHUN SAKURA!"

Mereka mendekat membawa kue ulang tahun dan perlengkapan lainnya. Ah, kejutan ya?

Lalu teriakan lain menyusul setelah melihat keadaanku.

"SAKURA! KAU KENAPA!" itu Ino. Kulihat ia berteriak histeris dengan air mata yang seketika jatuh bercucuran.

Satu-persatu mereka lebih mendekat, kulihat sosok mantan kekasihku jalan dengan kaku dan matanya menatapku kaget. Sontak, kue ulang tahun itu jatuh begitu saja. Ia kemudian berlutut di sampingku, "Kenapa?" baru kali ini aku melihatnya seperti ini. Dia sedih ya?

Aku tidak ingat hari ini hari ulang tahunku. Bagiku semua hari sama saja. Aku juga tidak menyangka perlakuan mereka karena ingin memberiku kejutan seperti ini. Tapi, bukankah harusnya aku yang bertanya, kenapa?

Kenapa harus begini? Tidakkah mereka merasa ini keterlaluan? Ini berlebihan. Aku bahkan tidak bisa lagi merasa senang, kendati aku tau semuanya hanya pura-pura. Seharusnya tidak perlu begini. Ada berbagai jenis kejutan yang bisa mereka berikan, kenapa harus yang sesakit ini?

Aku juga manusia biasa. Kecewa lebih dulu kurasa. Sakit kupendam. Luka kudiamkan. Ada hal-hal yang seharusnya dengan wajar mereka lakukan. Tidak semua orang bisa menerima. Ada banyak hal yang kulalui dalam satu hari ini, akibatnya diriku terlanjur patah.

Akhirnya, aku hanya bisa melihat mereka dalam diam. Dalam pandanganku yang mulai buram, aku hanya bisa mengucapkan "Terima kasih", terima kasih atas kejutan yang tiada duanya ini. Dan akhirnya kesadaranku hilang. Terakhir kudengar semua temanku berteriak memanggil, dan Sasuke yang memelukku erat.

Mereka tidak salah, mungkin aku yang salah. Nyatanya, mereka hanya tidak tahu.

END.

Teruntuk yang memberi kejutan. Terkadang ada batas bahkan dalam ngerjain seseorang. Kalian gak tau pribadi dirinya gimana. Niat kalian memang bagus, mau memberi kenangan yang mungkin tak terlupakan. Ya, memang tak terlupakan, bisa jadi dalam artian berbeda.

Jangan berlebihan. Bisa saja satu tindakan malah menghancurkan orang tersebut.

Selesai pada

05.07.2020

p.s ini pernah update di wattpad :)