Wajah Mikasa terlihat berseri-seri sore ini. Senyuman gembira tidak pernah luntur dari wajahnya. Tentu saja senyumannya tidak hilang sama sekali dari wajahnya. Dia baru saja mendapat sebuah hasil yang sangat membahagiakan.

Mikasa lulus tes sebuah universitas ternama di Tokyo.

Itu adalah sebuah prestasi yang cukup untuk membuat semua orang tua di dunia ini melompat kesenangan. Lagipula, siapa yang tidak senang ketika putra atau putrinya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di institusi bersertifikasi internasional?

Mikasa sangat yakin. Kali ini dia akan membuat kedua orang tuanya minimal berteriak senang.

Membayangkan hal itu saja membuat Mikasa semakin melebarkan senyumannya. Dia sangatlah bersemangat untuk menunjukkan sesuatu yang bisa membuat orang tuanya begitu berbangga memilikinya sebagai seorang putri.

.

.

.


Home

Disclaimer: Shingeki no Kyojin sepenuhnya punya Bang Haji yang sukanya bunuh karakter kesukaan kita :(

Rate: T

Genre: Hurt/Comfort

Warning: Alternate Universe, Alternate Reality, etc.


.

.

.

"Tidak berguna."

Hanya dua kata yang terlempar kepadanya dan dengan seketika dunianya hancur begitu saja. Hatinya terasa seperti diiris oleh sebuah pisau berkarat secara perlahan-lahan. Tanpa sadar, air matanya jatuh begitu saja. Perlahan-lahan dan pada akhirnya semakin deras.

Rasanya sakit.

Tepat saat itu juga, Mikasa, berlari sekencang-kencangnya dari rumahnya. Dia tidak peduli dengan hal yang mungkin membuntutinya. Lagipula, dia sudah tidak tahan dengan segala perlakuan yang didapatnya selama ini. Memangnya siapa yang akan kuat jika terus menerus mendapat serangan psikis? Terlebih dari pihak keluarganya sendiri.

Kedua kaki Mikasa berlari semakin jauh dan terus menjauh. Dadanya terasa panas, kepalanya pusing, kedua kakinya sudah lelah, tapi dia tidak berhenti berlari. Dia hanya ingin pergi dari sini.

Waktu berjalan lambat. Entah seperti itu atau Mikasa sudah berlari terlalu lama.

Mikasa sudah tidak tahu lagi dan tidak ingin tahu.

Satu hal yang diinginkan oleh Mikasa hanya pergi. Sendirian. Dia tidak peduli kemana harus pergi dan di sinilah Mikasa berhenti

"Hikss ... Uhh ..."

Sungguh, saat ini Mikasa benar-benar terluka. Rasanya sangat menyakitkan ketika sebuah perjuangan yang didedikasikan sepenuh hati kepada seseorang tidak diapresiasi sama sekali. Bahkan tidak ada kalimat hangat yang normalnya diterima oleh seseorang yang seumurannya atas sebuh pencapaian.

Mikasa hanya ingin menjadi seseorang yang dapat mengeluarkan keluarganya dari permasalahan. Dia sangat tahu bahwa Keluarganya, Ackerman, memiliki sebuah persaingan ketat dengan Keluarga Fritz dalam berbagai bidang. Sejalan dengan hal ini, Mikasa juga berusaha untuk dapat menjadi salah satu hal yang dapat dibanggakan kedua orang tuanya. Ya, memang sesederhana itu motivasinya.

"K-Kalau begitu ... untuk apa? Untuk apa aku berjuang?" rintih Mikasa.

Seluruh pikiran Mikasa didominasi oleh sebuah keputusasaan yang mendalam. Itu bukan hal yang baik, tapi sangat wajar terjadi. Lagipula tidak akan ada orang yang tidak jatuh mentalnya karena serangan dari pihak keluarga.

Tepat saat itu, sebuah syal merah dilingkarkan di lehernya.

Mikasa terkejut. Dia mendongak dan melihat sebuah senyuman yang entah kenapa begitu menenangkan.

Pemuda yang berada di depannya adalah Eren Yeager. Sosok yang menjadi sahabatnya sejak masih berada di sekolah dasar. Seorang pemuda yang menjadi alasannya tetap bisa berdiri tegak meskipun digempur oleh ombak dan badai.

Kedua lengan Eren merengkuh tubuh Mikasa yang rapuh dengan penuh kasih. Tangannya membelai lembut rambut Mikasa secara perlahan.

"Dasar ... kau sudah berusaha dengan baik, Mikasa. Kau sangat keren."

Tangis Mikasa semakin menjadi. Dadanya semakin sakit. Kenapa dia tidak mendapat kalimat itu tadi? Kenapa hanya ada sebuah makian? Dia benar-benar tidak tahu.

Meskipun begitu, ada sebuah perasaan lega yang menghampirinya. Sebuah perasaan hangat yang sampai. Itu adalah sebuah hal yang sangat melegakan untuk Mikasa.

Di sisi lain, Eren berhasil mendapatkan sebuah pelajaran yang dalam dari peristiwa ini. Apresiasi adalah hal sepele yang berdampak masif.

Dengan sebuah senyuman simpul, Eren menjauhkan Mikasa dari pelukannya. Dia membalikkan tubuhnya dan mengangkat Mikasa sehingga dapat naik ke punggungnya. Mikasa sendiri hanya terdiam dan masih sesenggukan meskipun terlihat semburat merah di kedua pipinya.

Eren mulai melangkahkan kakinya.

"K-Kita mau kemana?" tanya Mikasa setelah berhasil mengatur napasnya.

"Pulang."

"Tapi ... rumahku bukan ke arah sana, Eren."

"Rumahmu ke arah sini," jawab Eren.

"T-Tidak ... itu jalan ke rumahmu."

Eren berhenti berjalan dan menoleh ke pundak kirinya. Tempat dimana Mikasa menyandarkan kepalanya. Eren menatap tepat di mata Mikasa. Dia menarik tangan Mikasa sehingga pelukan Mikasa semakin erat.

"Mulai sekarang rumah akan berada persis di ujung jalan ini. Kediaman Yeager."

"Ketahuilah, Mikasa. Rumah adalah tempatmu pulang. Dimana keluargamu berada. Dimana kau bisa berkeluh kesah tanpa takut apapun. Karena itulah sesungguhnya rumah dan keluarga."

Pada saat yang sama, Eren melangkahkan kakinya untuk berjalan ke tempat tujuannya. Rumah yang berada di ujung jalan ini adalah tujuan tersebut.

Rumah untuk pulang.

[END]


Hai! Ya ya ya. Aku tau ini random banget dan asli sampah banget wkwkwkwk... I know I rushed this fic a lot. Sebenernya plotnya punya potensi buat berkembang, tapi aku yang susah eksekusinya. Jadi gini lah.

A lil message I've share this time is to appreciate things. It's just a simple thing, but very impactful. Everyone have the right to be appreciated and have their own value.

Makasih banyak!