Life or Revenge

Disclaimer : Naruto dan DxD bukan punya saya.

Summary : Naruto seorang murid baru dengan segudang misteri, ia juga memiliki kekuatan yang cukup hebat untuk menggoyangkan para bangsawan elit, tapi tidak ada yang sadar bahwa alasannya berada di Akademi hanya untuk sebuah tujuan yang tidak diketahui.

Warning! : AU, Author baru, Typo dan segala kekurangannya.

Shiraki

Rate : M


Disebuah tempat yang dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran, terlihat dua anak kecil yang sedang bermain bunga disana.

"Nee-Naru! apa yang ingin kau lakukan saat dewasa nanti?" tanya gadis kecil itu kepada bocah laki-laki yang dipanggil Naru.

"Kenapa memangnya?" tanya bocah laki-laki itu, ia sedang membuat sesuatu tanpa mengalihkan perhatiannya.

"Tidak, aku hanya penasaran saja." balas gadis itu kepada bocah itu, sang bocah akhirnya mengalihkan perhatiannya ke arah gadis itu.

"Kalo begitu bagaimana denganmu?" tanya balik bocah laki-laki itu, sedangkan gadis kecil itu sempat terkejut sambil memandang bocah itu, tak lama kemudian sebuah senyuman terukir diwajah imut itu.

"Aku? tentu saja menjadi pengantin, aku sangat kagum dengan pengantin kemarin, ia sangat cantik membuatku kagum." balas gadis itu sambil berdiri menikmati angin yang melambai, gaun putih yang gadis itu kenakan berkibar karena tertiup angin begitu juga rambut pirangnya yang tertiup angin.

Bocah laki-laki itu sempat terdiam beberapa saat, lalu ia berdiri dengan membawa sesuatu ditangannya.

"Jika begitu, maka aku akan menjadi pengantin pria mu!" ucap bocah itu dengan meletakkan mahkota yang ia buat dari rangkaian bunga ke-kepala gadis itu, gadis itu terkejut mendengarnya tapi tak lama kemudian sebuah senyuman kecil terukir diwajahnya.

"Kalo begitu, mohon bantuannya untuk nanti. Danna-sama!" ucap gadis itu kearah bocah laki-laki, sedangkan bocah itu hanya tersenyum lebar dengan ceria.


Sembilan Tahun kemudian

Kerajaan Horizon sebuah Kerajaan yang sangat luas, Kerajaan ini disebut sebagai kerajaan manusia terkuat karena banyaknya manusia yang hebat terlahir dan bisa bersanding dengan semua ras selain manusia, Kerajaan ini dipimpin oleh seorang Raja bernama Aldesia Forn Horizon. Di Dunia ini terdapat banyak ras, mereka semua mempunyai Kerajaan masing-masing, dahulu kala pernah terjadi peperangan antar Kerajaan yang sangat panjang dan berdarah, tapi itu adalah Dunia dulu karena sekarang semua Kerajaan kini bersatu dan merundingkan perdamaian yang terjadi sampai sekarang. Kira-kira seperti itulah Kilas balik dari sejarah Kerajaan.

Sekarang adalah waktu dimana semua anak-anak harus memasuki Akademi untuk mengembangkan kemampuan mereka, merah akan berlatih dengan bimbingan para orang dewasa agar menjadi orang yang hebat nantinya.

Kini tampak sebuah gerbang yang memiliki sebuah simbol tepat ditengahnya berbentuk daun semanggi berdaun empat dan tepat dibawanya ada nama Horizon Akademi, disana juga ada seorang pemuda dengan perawakan berambut pirang dengan baju yang hampir mirip dengan orang disekitarnya, tapi ia lebih memilih untuk membuka kerah kemejanya dan juga melipat lengan kemejanya sampai batas siku, dan juga dasi berwarna biru yang melingkar lehernya.

"Jadi disini kah?" gumam pemuda berambut pirang itu, ia memiliki wajah yang cukup tampan dan tanda lahir yang tampak seperti kumis kucing.

Pemuda itu melangkahkan kakinya masuk ke arah gedung Akademi yang luar biasa megah itu, ia juga sempat menarik perhatian banyak orang karena auranya yang terlihat seram tapi juga keren di mata para perempuan.

Pemuda itu sempat binggung untuk menyari aula yang biasanya digunakan untuk menerima murid baru, ia melihat ke arah sekitarnya yang tiba-tiba sudah sepi yang sepertinya semua orang sudah menuju aula penerimaan murid baru.

Pemuda itu melihat sekitarnya hingga ia melihat seorang gadis yang sedang memungut bukunya, memutuskan untuk mendekatinya untuk bertanya arah.

"Ano? maaf menganggu, tapi apa kau tau arah menuju ke Aula penerimaan murid baru? aku sedikit tersesat disini." ucap pemuda itu kearah gadis berambut coklat atau krem dengan kacamata yang bertengger di wajahnya. "Apa kau baik-baik saja? mau kubantu?"

"A-a-ah... Ti-tidak perlu... A-aku bisa merapikannya se-sendiri," ucap gadis itu gugup, pemuda itu menaikan sebelah alisnya ketika mendengar cara bicara perempuan di depannya.

"Kau yakin? kau tampak kesusahan." balas pemuda itu.

"I-iya aku ba-baik-baik saja!" balas gadis itu dengan cepat mengambil bukunya, lalu saat ia mau mengambil buku terakhir ada sebuah tangan yang terlebih dahulu mengambil bukunya.

"Tak usah takut padaku, aku bukan orang jahat kok." ucap pemuda itu yang langsung membantu gadis itu berdiri, gadis itu sempat ragu untuk menerima uluran tangan pemuda di depannya tapi akhirnya ia menerimanya.

"Naruto, Namikaze Naruto. Kau?" kata pemuda itu yang ternyata bernama Naruto.

"To-touka, Toudou Touka." balas gadis itu dengan gugup, Naruto yang mendengar itu terkekeh kecil.

"Apa kau selalu seperti ini?" tanya Naruto kepada gadis itu, tapi sepertinya itu sebuah kesalahan karena semakin membuat gadis itu gugup sampai memerah.

"A-Ah... Lupakan apa yang aku katakan, maaf jika itu menyinggung mu," ucap Naruto meminta maaf, "benar juga, aku ingin bertanya padamu, apakah kau bisa memberitahuku ke mana arah untuk ke Aula?"

"HEI! TOUKA-SAN!" tiba-tiba ada sebuah suara yang cukup nyaring membuat Naruto dan Touka hari menutup telinga mereka untuk mencegah kerusakan telinga.

Ada sebuah kumpulan debu yang bergerak kearah mereka dengan cepat, Naruto merasakan bahwa ada orang dibalik kabut debu itu. Tanpa ada yang sadar bahwa tangan sebelah kanan Naruto mengeluarkan sesuatu, tapi langsung menghilang begitu saja seolah tidak pernah ada.

"Lee?" kata Touka saat melihat seorang laki-laki dengan rambut model mangkok, Naruto yang melihat bahwa orang ini bukan orang itu hanya diam.

"Apa dia kenalan mu? Toudou-san?" tanya Naruto sambil menunjuk Lee, sedangkan yang ditunjuk langsung mengalihkan pandangannya pada Naruto.

"Siapa kau?" tanya Lee dengan alis terangkat.

"Bukankah tidak sopan menanyakan nama orang lain, sebelum kau mengenalkan dirimu sendiri?" tanya Naruto kepada Lee, sedangkan laki-laki itu yang mendengar ucapan Naruto terlihat tersenyum.

"Ahaha! kau benar! maaf atas ketidak sopannya itu, aku Rock Lee, kau bisa memanggilku Lee!" balas Lee dengan semangat, ia mengulurkan tangannya kearah Naruto yang sempat bingung tapi akhirnya menjabat tangan Lee.

"Naruto, Namikaze Naruto, salam kenal Rock-san." ucap Naruto dengan ramah, Lee langsung menggoyangkan tangan Naruto dengan keras.

"Lee saja! terdengar aneh jika kau memanggilku seperti itu, Naruto-san." kata Lee dengan semangat yang tinggi, Naruto hanya bisa tersenyum canggung.

"Ahaha, baiklah, Lee." balas Naruto membuat Lee tersenyum kearahnya.


Mereka sekarang berada dalam Aula Akademi yang sangat luas, karena Akademi ini adalah Akademi yang bergensi dan memiliki kekayaan yang tidak main-main untuk para murid. Meskipun seperti itu, Akademi ini juga mempunyai sisi gelap.

Terlihat dari banyaknya orang yang berkumpul, anak dari para Klan Bangsawan yang memiliki nama dan reputasi yang bagus terlihat duduk dibangku depan, karena mereka yang duduk di depan adalah mereka yang akan terjamin.

Naruto sedang berjalan dengan santai, ia lalu duduk di salah satu bangku belakang dengan santai, menghiraukan tatapan di sekitarnya ia mengambil sesuatu dari dalam bajunya, terlihat di tangannya terdapat bandul atau kalung dengan bentuk bunga Lily.

Naruto melihat benda itu dengan senyuman kecil. "Aku sudah selangkah lebih dekat lagi," ucapnya pelan, lalu ia memasukkan kembali kalung itu tanpa menyadari bahwa Lee dan Touka memanggilnya.

"Naruto-san! hoi!" teriak Lee tepat disebelah Naruto, posisi duduk mereka saat ini adalah Naruto berada ditengah sedangkan Lee berada di kanannya, Touka berada disebelah kirinya.

"Hmm? ada apa?" tanya Naruto pada Lee, terlihat bahwa Lee itu memang orang yang energik, bahkan karena teriakan itu membuat seseorang di depan mereka menolehkan kepalanya kebelakang.

"Kau melamun?" tanya Lee kepada Naruto.

"Ahh, maaf hanya mengingat masa lalu." Naruto hanya bisa tertawa canggung karena Lee yang terus melihatnya curiga, orang yang berada di depan mereka hanya melihat Naruto dan Lee dengan pandangan biasa tapi bisa terlihat sebuah senyuman tipis yang hampir tidak terlihat. Lalu orang itu kembali menghadap ke depan tapi kali ini dengan senyuman yang terpampang diwajahnya.

Lee tersenyum, "Ohh kukira kau sedang gugup," Lee mengucapkan itu dengan nada terdengar lega, Naruto hanya tersenyum kecil untuk menanggapinya.

"Jika kau berkata tentang gugup, seharusnya kau lihat ke sebelah kiriku." balas Naruto sambil melirik sebelah kirinya, dapat Naruto dan Lee lihat bahwa Touka yang nampak gugup karena terus bergetar. Bahkan kursi Naruto juga ikut bergetar karenanya.

Lee dan Naruto hanya bisa terdiam dengan keringat sebiji jagung dibelakang kepala mereka, Touka juga semakin gugup saat ditatap Naruto dan Lee.

"Apa kau baik-baik saja Touka-san?" tanya Naruto, Touka sendiri hanya bergetar pelan. Naruto memegang pundak Touka, ia menepuk pelan pundak itu dengan lembut membuat Touka menoleh kearahnya.

"A-a-aku ba-baik-baik saja!" kata Touka dengan nada gugup.

Naruto tersenyum, "Kau tau, memang apa yang sedang kau hadapi sekarang memang terlihat menakutkan, tapi kau akan terbiasa nanti, lagipula kau itu kuat, aku bisa melihatnya dari awal pertemuan kita." Nasihat Naruto dengan bijak, Touka yang mendengar itu hanya bisa diam sambil mencerna ucapan Naruto.

Lee yang mendengar ucapan Naruto hanya bisa terkesima, "Kau ternyata cukup bijak juga ya? Naruto-san." kata Lee membuat Naruto melihat kearahnya dengan senyuman kecut, Touka yang sudah sadar dari ucapan Naruto tadi kini melihat kearah dua laki-laki disampingnya, ia melihat Lee yang tersenyum seperti biasanya dan Naruto yang tersenyum kecut, tapi entah kenapa dari penglihatannya ada yang salah tentang teman pirang mereka ini.

Tiba-tiba ruangan aula menjadi gelap gulita, Naruto yang melihat itu hanya bisa bingung, pasalnya aula ini dari yang terlihat memiliki banyak lubang untuk memungkinkan cahaya untuk masuk, cukup lama hingga ia sadar kenapa tempat itu menjadi gelap.

'Kubah pelindung kah? sepertinya mereka memang berhati-hati.' batin Naruto sambil melihat tepat keatas, ia melihat sebuah lingkaran sihir yang hampir transparan.

"Tes! tes! apa kalian dengar? Oke akan aku anggap kalian mendengarnya sekarang." ucap seseorang dengan lantang di podium, mereka semua memperhatikan orang itu yang sedang berbicara, tapi Naruto sendiri sepertinya tidak terlalu tertarik.

"Seperti yang dibilang, bahwa kepala sekolah adalah mantan Grand Wizard." celetuk Touka saat ia juga melihat diagram lingkaran sihir diatas, Naruto yang mendengar celetukan Touka langsung menoleh ke Touka.

Naruto mengangkat alisnya, "Grand Wizard?" beo Naruto bingung.

"Ah i-i-itu bukan apa-apa!" balas Touka dengan gelagapan, Naruto yang sedang bingung malah tambah bingung.

"Oh iya Naruto-san, apa kau akan menjadi Wizard?" tanya Lee tiba-tiba, Naruto cukup terkejut dengan pertanyaan seperti itu.

"Memang kenapa?" tanya Naruto bingung, sedangkan Lee menggaruk belakang kepalanya dengan cengegesan.

"Hanya bertanya saja hehehe!" balas Lee dengan tawa canggung, Naruto yang melihat itu hanya menaikan alisnya bingung.

"Untuk itu aku adalah pengguna senjata Lee," balas Naruto dengan senyuman kecil, Lee dan Touka yang mendengar itu terkejut bukan main, apalagi Lee yang matanya langsung berbinar-binar.

"Ehhh!? berarti kita sama dong!" ucap Lee dengan semangat, sedangkan Naruto makin kebingungan dengan reaksi Lee.

"Apakah kalian juga pengguna senjata?" tanya Naruto kepada Lee, sedangkan yang ditanya mengacungkan jempolnya sebagai jawaban, Naruto yang sedang melihat kearah Lee merasakan tarikan di bajunya yang membuatnya harus menoleh.

"K-Kau pengguna senjata apa? Namikaze-kun?" tanya Touka tiba-tiba disamping Naruto yang terlihat sedikit gugup, tapi matanya memancarkan aura penasaran.

"Ehh..., Aku penguna Pedang, lebih tepatnya Dual Swordsman." jawab Naruto sambil menggaruk pipinya, Touka yang mendengar itu entah kenapa matanya langsung bersemangat. "Kalo begitu apa senjata kalian?" lanjut Naruto bertanya pada Lee dan Touka, Lee langsung melompat kedepan dan langsung melakukan berdiri dengan tangannya.

"Senjata ku adalah tanganku sendiri!" balas Lee dengan senyuman khasnya sembari berdiri terbalik itu, Naruto dan Touka yang melihat itu hanya bisa sweatdrop dengan tingkah Lee.

"Ak-Aku juga seperti mu Namikaze-kun, aku pengguna Pedang juga." balas Touka dengan sedikit gugup, Naruto yang mendengar ucapan Touka entah mengapa terlihat tertarik.

"Begitu kah? berarti kita bisa berlatih bersama, ah kau juga bisa kok Lee." ucap Naruto kepada Touka dan Lee, "Dan juga kau bisa memanggilku dengan namaku Todou-san, aku sangat risih jika terlalu formal." lanjut Naruto sambil tersenyum tipis, Naruto merasa bahwa mereka berdua layak untuk menjadi temannya. Untuk sekarang ia ingin mempercayai mereka terlebih dahulu, karena teringat ucapan gurunya tentang seseorang yang harus ia percayai karena manusia bukanlah mahluk individu melainkan berkelompok.

'Ahh bagaimana dia memberi nasehat seperti itu, saat ia sendiri pria penyendiri didalam hutan hah~' batin Naruto menghela nafas.

"A-Apa bolyeh?" ucap Touka yang secara tidak sengaja mengigit lidahnya, ia langsung menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya dan berusaha meredakan sakit di lidahnya karena tergigit.

'Lidahnya terpeleset.' batin Lee dan Naruto bersamaan.

"Tentu saja, lagipula kalian sudah kuanggap temanku sendiri. Itu akan membuat kita lebih akrab bukan?" balas Naruto kepada Touka.

"Ya kau benar Naruto-san!" sahut Lee dengan jempolnya, "Dan juga Touka-san, kau harus lebih berani, tidak lucu bukan jika lidahmu kepeleset saat dipanggil guru nanti." celetuk Lee yang membuat Touka langsung menundukkan kepalanya, Naruto dan Lee langsung tertawa tanpa bersalah.


Naruto, Lee dan Touka berjalan menyusuri lorong, mereka sedang menuju ke kelas mereka di divisi Knight. Sesekali ada murid divisi Wizard yang juga lewat di sekitar mereka.

"Tidak kusangka kita akan sekelas," ucap Naruto sambil melihat sebuah kartu ditangannya yang menunjukkan kelas miliknya dan kebetulan juga Touka dan Lee memiliki kartu yang sama.

"Sepertinya kita sudah ditakdirkan menjadi sebuah Tim! mari kita lakukan dengan semangat masa muda yang membara!" Lee mengatakan itu disertai imajiner api ditubuhnya, Naruto dan Touka yang melihat itu tersenyum canggung.

"Apa dia memang selalu seperti ini?" bisik Naruto tepat ditelinga Touka, sedangkan yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah lelah.

"Begitulah," jawab Touka dengan nada lelah, Naruto yang mendengar nada Touka entah mengapa merasa sedikit kasihan.

Brukk!

Tiba-tiba dari arah belakang mereka Naruto ditabrak oleh seseorang hingga terjatuh, Touka yang tepat disebelah Naruto juga ikut terjatuh karena ditabrak tubuh Naruto, beruntung untuk Touka ia jatuh tepat diatas tubuh Naruto.

"Kau baik-baik saja Touka-san?" ucap Naruto melihat Touka yang diatas tubuhnya, Touka sendiri mengadu kesakitan karena hidungnya tadi membentur dada Naruto.

"Hei! minggir dari jalan!" marah orang yang menabrak Naruto dan Touka, bukannya minta maaf karena menabrak mereka malah dia marah-marah kepada mereka.

Naruto berdiri dari jatuhnya, tak lupa ia juga membantu Touka. "Apa ini kesopananmu?" tanya Naruto kepada orang itu.

"Hah? apa maksudmu jelata?" tanya orang itu dengan nada mencoba mengintimidasi Naruto, sedangkan Naruto yang tau bahwa orang ini mencoba mengintimidasi dirinya hanya menyeringai. "Apa kau tidak tau siapa aku hah?" lanjut orang itu dengan nada sombong, Naruto yang mendengar itu menaikan alisnya.

"Kau manusia bukan?" balas Naruto dengan polos, entah sengaja atau tidak tapi Naruto menarik pelatuk orang tersebut.

"Kheh! sepertinya kau belum tau siapa aku ya?" tanya orang itu dengan nada sombong, Naruto yang mendengar itu memutar matanya malas. "Aku Riser Phoenix! calon pewaris klan Phoenix yang Agung!" ucap orang itu dengan sombong, Naruto yang mendengar klan Phoenix teringat bahwa klan Phoenix salah satu klan yang ternama dan cukup tua.

"Phoenix!?" kejut Touka kaget, Riser yang mendengar itu menoleh kearah Touka, entah mengapa Naruto merasakan hal buruk sekarang.

"Heh? gadis itu cukup manis juga," ucap Riser yang mendekat kearah Touka, sedangkan Touka dengan yang merasa tidak enak langsung bergerak kebelakang Naruto untuk bersembunyi. "Aku akan melupakan apa yang telah kau lakukan, tapi sebagai gantinya berikan gadis itu padaku." ucap Riser dengan nada sombong, Naruto yang tau persis dengan orang yang memiliki sifat ini entah mengapa tiba-tiba emosinya melunjak, sesuatu yang pernah ia alami dulu.

"Apa maksudnya? kau pikir dia barang?"

"Kheh! kau cukup banyak omong ya jelata!" ucap Riser dengan menarik kerah seragam Naruto mencoba untuk mengintimidasi Naruto, sedangkan Naruto yang diperlakukan itu hanya menatap Riser dengan datar. "Apa kau ingin macam-macam denganku hah?" lanjut Riser, terlihat terdapat formula sihir di tangan Riser yang sepertinya siap untuk menghajar Naruto.

Tapi sebelum benar-benar terjadi pertempuran itu, tiba-tiba.

"Apa yang kalian lakukan dilorong!" sebuah teriakan mengalihkan pandangan mereka, Naruto melihat guru dengan luka yang banyak diwajahnya, apalagi guru itu juga nampak marah, entah mengapa Naruto merasa bahwa guru itu adalah guru Killer.

'Sial! codetnya serem!'

Riser yang melihat itu langsung mendorong Naruto hingga terjatuh, ia lalu berjalan menjauh sambil mendecih kesal. Touka langsung membantu Naruto untuk berdiri, Lee juga mendekati mereka.

"Apa kau tidak apa-apa Naruto-kun?" tanya Touka khawatir, Naruto memberikan senyuman yang menandakan bahwa ia baik-baik saja.

"Kau tidak apa-apa Gaki?" tanya guru itu kepada Naruto, sedangkan Naruto hanya menganggukkan kepalanya. "Hah, lebih baik kalian masuk ke kelas kalian," ucap guru itu yang langsung berjalan meninggalkan mereka.

"Maaf Naruto-san, kau menjadi seperti ini karena ku." ucap Touka menyesal, Naruto yang mendengar ucapan Touka menaikan alisnya bingung.

"Kenapa kau minta maaf? itu tidak perlu, lagipula aku tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi." balas Naruto ambigu, Touka yang kurang paham dengan ucapan terakhir Naruto hanya bisa diam. Lee yang melihat kecanggungan itu.

"Maa ayo kita pergi ke kelas dengan semangat masa muda!" ucap Lee memecah keadaan tapi ia juga berdiri dengan tangannya, Naruto dan Touka yang mendengar itu melihat satu sama lain sebelum tertawa kecil karena tingkah Lee itu.

Mereka berjalan ke kelas hingga akhirnya mereka menemukan ruangan kelas mereka, Naruto membuka pintunya dan dapat ia lihat banyak murid disana yang mengobrol satu sama lain. Naruto berjalan masuk diikuti Touka dan Lee yang sudah berjalan dengan normal, Naruto memilih tempat duduk di belakang sendiri, Lee duduk disebelah Naruto sedangkan Touka didepan mereka.

"Kenapa kalian duduk disini?" tanya Naruto kepala Lee di samping kirinya.

"Ahaha, apa kami mengganggu mu?" tanya Lee canggung.

Naruto mengangkat bahunya, "Hah terserah lah." Lee hanya tersenyum canggung, Naruto mengalihkan perhatiannya pada jendela kelas dan melihat lapangan yang luas.

Keheningan terjadi selama beberapa saat, karena Lee sendiri yang biasanya heboh dengan Olahraga miliknya atau semangat masa mudanya itu duduk diam, sedangkan Touka juga terlihat sedang membaca sebuah buku. Kondisi diantara mereka benar-benar hening, meskipun suasana di kelas cukup berisik.

"Nee Touka-san, kau sedang membaca buku apa?" tanya Naruto saat ia menyadari bahwa Touka sedang membaca buku, Touka yang ditanya oleh Naruto langsung menunjukkan bukunya.

"Ini?" Naruto menganggukkan kepalanya, Touka langsung memutar tubuhnya kearah Naruto. "Ini adalah buku pemberian guruku," ucap Touka dengan senyuman, Naruto yang merasa tertarik mencoba bertanya lagi.

"Tentang apa?"

"Hanya beberapa gerakan pedang,"

"Ehh? berarti kau memiliki aliran atau teknik khusus?" tanya Naruto dengan terkejut, sedangkan Touka hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

"Memang Naruto-kun bukan pengguna aliran khusus?"

"Aku-" ucapan Naruto terpotong dengan pintu kelas yang terbuka, diasana menampilkan seorang pria yang nampak seperti mayat hidup, tapi dari pakaiannya tampak seperti guru, itu terbukti dengan semua orang yang tiba-tiba duduk ditempat mereka masing-masing.

"Perkenalkan aku Gekkou Hayate, wali kelas kalian." ucap guru bernama Hayate itu, tapi semua orang yang mendengar nada guru itu langsung sweatdrop.

'Dia terlihat seperti bosan hidup.' batin semua murid itu sama, sedangkan Hayate yang melihat reaksi muridnya hanya meghela nafas.

"Pertama kalian semua yang disini adalah Divisi Knight, jadi kalian berbeda dari murid Divisi Wizard, karena kalian lebih ke fisik." ucap Hayate memberikan penjelasan, semuanya hanya diam karena mereka juga tau bahwa mereka berbeda dengan Divisi Wizard yang lebih mengandalkan sihir yang rumit. "Sekarang aku ingin kalian mengenalkan diri kalian, dimulai dari kau pirang." lanjut Hayate yang langsung menunjuk Naruto yang sedari tadi melihat kearah jendela, Naruto yang masih asik melihat keluar jendela disenggol oleh Lee.

"Psst! Naruto-san kau dipanggil tuh." bisik Lee membuat Naruto menaikan alisnya, lalu ia melihat kearah Hayate yang menatapnya.

"Mendokusai,"

TBC :v


Author Note : Yoo! ahaha Shiraki disini. apa kabar kalian baik-baik saja? kuharap iya.

Oke pertama ane ingin minta maaf, karena membuat fanfic baru saat memiliki dua fanfic yang masih dalam progres, tapi ane disini mengupload cerita ini karena sudah terlalu numpuk di kepala, jadi ane gk fokus untuk nulis fic lainnya, jadi biar enak ane tulis dan upload biar gk kepikiran. Untuk ada yang gk suka ya silakan pergi, dan juga fic ini belum tentu akan ane update dengan cepat karena masih punya hutang ama satu cerita hehe.

Okelah sekian dulu ngomongnya, Jika tidak suka silakan pergi, jika suka tolong kasih saran.

See You Next Time.

Adiueee!