"Namikaze Naruto, aku menantangmu untuk bertarung!"

Ucap Arturia sambil menunjuk Naruto.

"UWOOOOH!" Suara para penonton di sekitar arena bergemuruh memenuhi seisi arena, seakan mendukung keinginan sang putri Raja.

Naruto sendiri, dia hanya menatap datar gadis pirang yang berdiri tidak jauh di hadapannya.

Dalam benaknya, Naruto bertanya-tanya

Ada apa sih dengan pikiran gadis ini?

Naruto sudah menyerah dan otomatis dia kalah.

Namun, entah kenapa, gadis ini malah menantangnya dirinya bertarung.

Naruto menghela napas.

"Merepotkan!"

Di sisi lain, Arturia, garis pirang itu tersenyum percaya diri.

"Akhirnya hari yang kutunggu-tunggu telah tiba. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa bertarung dengannya. Namikaze Naruto, pemuda yang menempati posisi kedua terkuat di Akademi setelah aku," katanya.

Awalnya Arturia sangat terkejut saat Naruto malah menyerah sebelum bertarung dengannya.

Padahal Arturia sudah sangat ingin bertarung dengan pemuda pirang yang satu ini.

Karena tidak ada pilihan lain, Arturia pun menantang Naruto berduel yang tentu tidak bisa ditolak oleh si pemuda pirang.

Naruto sulit menolaknya. Karena ini adalah permintaan pribadi dari Arturia sendiri, sang putri Raja.

Jika Naruto menolaknya, Naruto akan mendapat perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarnya. Menolak duel ini, sama seperti dia menghina Arturia dan hal itu membuat orang-orang yang sangat menghormati keluarga kerajaan akan membenci Naruto.

"Hahh... perempuan ini, dia memanfaatkan kesempatan itu," batin Naruto sambil menatap Arturia yang sedang tersenyum senang, seolah ia mendapat apa yang ia mau.

Namun...

Arturia bukanlah temannya.

Arturia tidak punya hubungan apapun dengan Naruto. Tidak pernah bertemu, dan tidak pernah berbicara. Arturia tidak tahu kalau Naruto sering melakukan sesuatu di luar dugaan semua orang. Naruto pun menatap Arturia serius.

"Aku menolak." Begitu katanya.

Belum mencerna ucapan Naruto, Arturia hanya mengerdipkan matanya beberapa kali.

Butuh beberapa saat, sampai kata-kata Naruto pun masuk ke pikirannya.

Senyum di wajah cantiknya pun menghilang dalam sekejap.

"Eh?"

"Aku menolak, aku tidak ingin bertarung denganmu," kata Naruto.

Tanpa peduli reaksinya, Naruto langsung berbalik dan berjalan menuju sisi arena.

Seketika, Arturia menjadi panik.

"Tu-tunggu...!"

Arturia mencoba untuk memanggil Naruto, tapi si pemuda pirang malah mengabaikannya.

"Tunggu sebentar, Namikaze Naruto. Apa kamu yakin menolak duelku? Jika kamu melakukannya, hal buruk bisa terjadi," Arturia berusaha membujuk Naruto.

Namun...

"Dia mengabaikanku?" Arturia ingin menangis pada saat itu juga."Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" Arturia pun mencoba berpikir tenang, mencari jalan keluar untuk menahan Naruto. Namun melihat Naruto yang semakin menjauh, pikiran si gadis pirang ini tidak karuan.

"!"

Sampai Arturia tersentak...

Ketika menemukan satu cara.

Namun, Arturia menundukan kepalanya. Tangannya mengepal. Ada penolakan dari 'cara: yang ada di pikirannya. "Ini tidak pantas dengan jiwa seorang kesatria," batin gadis pirang ini.

Tapi...

Arturia menggigit bibirnya. "Tapi... Aku sudah sangat ingin bertarung dengannya. Aku sudah menunggu ini sejak lama. Dan kapan lagi aku bisa mendapat kesempatan seperti ini?"

Berbekal dengan rasa tidak sabaran, Arturia mengangkat kepalanya dengan sorot penuh keteguhan.

Dia sudah menguatkan tekadnya!

"Aku akan bertarung!"

Beralih ke sisi Naruto...

Saat ini Naruto sudah hampir keluar arena. Tinggal sedikit lagi.

Naruto menatap langit di atasnya.

Sebentar lagi kehidupannya akan berubah dan Naruto sudah siap untuk itu.

Di tribun penonton, tampak seorang pemuda berambut coklat dengan model nanas, tersenyum menyeringai menatap Naruto. "Sayang sekali kau tidak bisa lari dari ini, Naruto."

Beralih ke Naruto lagi...

Tinggal enam langkah lagi, Naruto bisa keluar dari arena. Namun, ketika ia melangkah kembali, Naruto tiba-tiba tersentak, dia langsung berhenti ketika instingnya merasakan sesuatu 'berbahaya' mendekat dengan cepat menuju ke arahnya.

Penuh dengan kekuatan.

Naruto merinding saat merasakannya. Reflek, dia langsung menurunkan tubuhnya dengan cepat.

Swush~~

Hembusan angin dingin menerpa punggungnya saat sesuatu yang mendekatinya itu berhasil ia hindari. Namun, Naruto langsung menjauhkan dirinya karena masih merasakan perasaan bahaya di belakangnya.

Spontan, ia melompat ke samping kiri, bersalto-salto dan menapakan kaki di tempat yang cukup jauh dari tempat dirinya berdiri barusan.

Naruto lalu mendongak, ia menatap ke tempat barusan.

Matanya tertuju pada gadis seperti sedang melakukan gerakan ayunan. Di tangannya ada sebuah pedang.

Naruto melihat pedang yang dipegang gadis itu itu, ia merasa takut dengan pedang yang Naruto tahu adalah sesuatu 'berbahaya' yang mendekatinya barusan.

Melupakan pedang itu, Naruto lalu melihat gadis itu. Dia adalah seorang gadis yang terlihat seumuran dengannya, memiliki rambut pirang disanggul. Dia memakai pakaian berupa gaun armor berwarna biru.

Tentu saja, Naruto sangat tahu siapa gadis ini.

Dia adalah orang yang memiliki pengaruh besar di kerajaan ini dan yang menjadi lawannya di turnamen saat ini.

Arturia Pendragon, sang putri Raja.

Naruto menatap tajam Arturia.

"Apa maksudnya ini?" tanya Naruto.

Naruto sudah menolak untuk bertarung, tapi kenapa perempuan ini malah menyerangnya?

"Apa ini jiwa kesatria yang kau bilang?" kata Naruto tajam. Tentunya ia marah, karena ia bisa sana mati barusan gara-gara serangan barusan.

Apalagi Arturia sepertinya menyerangnya dengan bersungguh-sungguh. Untung saja ia berhasil menghindari serangan itu dengan refleknya dan insting yang sudah terlatih.

Kalau tidak...

Arturia melunakan posisinya. Dia menurunkan pedangnya, lalu memutar tubuhnya menghadap Naruto dengan wajah menunduk. Arturia diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Sampai...

"Ini salahmu," kata Arturia.

"Ha, apa maksudmu?" Naruto terlihat kebingungan.

"Ini salahmu! Andai saja kau menuruti, aku tidak akan menggunakan cara seperti ini. Aku tidak punya cara lain selain cara 'ini' agar kau mau bertarung denganku," kata Arturia masih nunduk.

Naruto mengerutkan keningnya. "Cara ini? Memang cara seperti apa ...?"

Arturia lalu mengangkat wajahnya, menatap Naruto dengan sorot tekad kuat.

"Aku akan memaksamu untuk bertarung!

He?

Sejenak Naruto memikirkan kata-kata Arturia.

Pikirannya masih belum ngeh dengan maksudnya.

Memaksanya... bertarung?

Ha? bentar.

Memaksa?

MEMAKSA BERTARUNG?!

Naruto sekarang mulai paham.

Arturia akan memaksa dirinya agar bertarung. Maksudnya, Arturia akan menyerangnya dan memaksa Naruto agar mau menyerang juga karena ia tidak bisa terus menghindar yang apalagi Arturia pasti menyerangnya tidak akan main-main.

Tapi...

Naruto tersenyum. "Tapi cara itu tidak berguna karena aku bisa melarikan diri..."

Naruto mencoba melihat sekitar.

Dan, senyumnya langsung lenyap.

"..."

Di sekeliling arena kini sedang dilingkupi oleh sebuah penghalang tak kasat mata. Gekko Hayate, orang yang bertanggung jawab membuat penghalang ini.

Kalau begini...

BAGAIMANA CARANYA IA KABUR?

Yang bisa Naruto lakukan cuma berteriak dalam hatinya.

"KUSO KONOYARO!"

Bersambung...


Fate Stay Night belongs to Kinoko Nasu.